Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak tergantung pada
macamnya zat terlarut tetapi semata-mata hanya ditentukan oleh banyaknya zat
terlarut (konsentrasi zat terlarut). Sifat koligatif larutan terdiri dari dua jenis, yaitu
sifat koligatif larutan elektrolit dan sifat koligatif larutan non elektrolit.

Sifat koligatif meliputi:


1. Penurunan Tekanan Uap Jenuh Larutan
2. Kenaikan Titik Didih
3. Penurunan Titik Beku
4. Tekanan Osmotik

Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh konsentrasi larutan dan


sifat larutan itu sendiri. Jumlah partikel dalam larutan non elektrolit tidak sama
dengan jumlah partikel dalam larutan elektrolit, walaupun konsentrasi keduanya
sama. Hal ini dikarenakan larutan elektrolit terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan
larutan non elektrolit tidak terurai menjadi ion-ion.

Meskipun sifat koligatif melibatkan larutan, sifat koligatif tidak bergantung


pada interaksi antara molekul pelarut dan zat terlarut, tetapi bergantung pada jumlah
zat terlarut yang larut pada suatu larutan.

Sifat koligatif berhubungan erat dengan dunia farmasi. Misalnya pada infus,
tekanan osmosis berbanding lurus dengan konsentrasi infus karena
mempertimbangkan tekanan osmosis. Konsep ini penting dalam penggantian cairan
tubuh atau bahan makanan yang tidak bisa dimasukkan melalui pembuluh darah. Oleh
karena itu cairan infus harus isotonis dengan cairan darah. Jika tidak, maka akan
terjadi kerusakan pada sel darah. Penerepan lainnya yaitu pada cairan fisiologis
seperti obat tetes mata, yang harus isotonis dengan tubuh kita sehingga konsentrasinya
perlu disesuaikan. Selain itu juga digunakan dalam menentukan jumlah zat yang
dibutuhkan untuk pembuatan obat.

B. Maksud dan Tujuan


1. Maksud percobaan
Mengetahui dan memahami sifat-sifat koligatif larutan
2. Tujuan Percobaan
a. Menunjukkan pengaruh titik beku dan memperoleh konstanta titik beku.
b. Menunjukkan pengaruh tonisitas pada sel

C. Prinsip Percobaan
a. Penentuan pengaruh tonisitas pada sel darah merah, daun bawang, wortel, dengan
menggunakan aquades, larutan NaCl 0,89 M, larutan Glukosa 0,1 M dan 0,5 M,
diamati dengan mata telanjang dan dengan menggunakan mikroskop.
b. Penentuan penurunan titik beku dan memperoleh konstanta panurunan titik beku
dengan menggunakan asam laurat dan asam laurat + asam benzoat (sampel) yang
dipanaskan dengan bunsen dan diamati ketika terdapat gelembung.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum
Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak tergantung pada
macamnya zat terlarut tetapi semata-mata hanya ditentukan oleh banyaknya zat
terlarut (konsentrasi zat terlarut). Apabila suatu pelarut ditambah dengan sedikit zat
terlarut, maka akan didapat suatu larutan yang mengalami:
1. Penurunan Tekanan Uap Jenuh
2. Kenaikan Titik Didih
3. Penurunan Titik Beku
4. Tekanan Osmosis

Hukum Raoult merupakan dasar bagi empat sifat larutan encer yang disebut
sifat koligatif (dari bahasa latin Colligate “mengumpul bersama”) sebab sifat-sifat itu
bergantung pada efek kolektif jumlah partikel zat terlarut, bukan pada sifat partikel
yang terlibat keempat tersebut. Sifat itu ialah: penurunan tekanan uap larutan relatif
terhadap tekanan uap murni, peningkatan titik didih, penurunan titik beku dan gejala
tekanan osmotik.
(Oxtoby,dkk.Prinsip-prinsip Kimia Modern)

Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh konsentrasi larutan itu


sendiri. Jumlah partikel dalam larutan non elektrolit tidak sama dengan jumlah
partikel dalam larutan elektrolit, walaupun konsentrasi keduanya sama. Hal ini
dikarenakan larutan elektrolit terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan non
elektrolit tidak terurai menjadi ion-ion. Dengan demikian sifat koligatif larutan
dibedakan atas sifat koligatif larutan non elektrolit dan sifat koligatif larutan elektrolit.
Meskipun sifat koligatif melibatkan larutan, sifat koligatif tidak bergantung pada
interaksi antara molekul pelarut dan zat terlarut, tetapi bergantung pada jumlah zat
terlarut yang larut pada suatu larutan.

1. Penurunan Tekanan Uap


Molekul-molekul zat cair yang meninggalkan permukaan menyebabkan
adanya tekanan uap zat cair. Semakin mudah molekul-molekul zat cair berubah
menjadi uap, makin tinggi pula tekanan uap zat cair. Apabila tekanan zat cair
tersebut dilarutkan oleh zat terlarut yang tidak menguap, maka partikel-partikel
zat terlarut ini akan mengurangi penguapan molekul-molekul zat cair. Laut mati
adalah contoh dari terjadinya penurunan tekanan uap pelarut oleh zat terlarut yang
tidak mudah menguap. Air berkadar garam sangat tinggi ini terletak didaerah
gurun yang sangat panas dan kering, Serta tidak berhubungan dengan laut bebas,
sehingga konsentrasi zat terlarutnya semakin tinggi. Persamaan penurunan
tekanan uap dapat ditulis:
∆p = p0 – p
p0 › p

ket:
p0 = Tekanan Uap Zat Cair Murni
p = Tekanan Uap Larutan

Pada tahun 1808, Marie Francois Raoult seorang kimiawan asal Prancis
melakukan percobaan mengenai tekanan uap jenuh larutan, sehingga ia
menyimpulkan tekanan uap jenuh larutan sama dengan fraksi mol pelarut
dikalikan dengan tekanan uap jenuh pelarut murni. Persamaan penurunan tekanan
uap dapat ditulis. Kesimpulan ini dikenal dengan Hukum Raoult dan dirumuskan
dengan persamaan penurunan tekanan uap dapat ditulis:
P = P0 x XP
∆P = P0 x Xt
Ket:
P = Tekanan uap jenuh larutan
P0 = Tekanan uap jenuh pelarut murni
XP = Fraksi mol zat pelarut
Xt = Fraksi mol zat terlarut
(Sutresna,Nana.Cerdas Belajar Kimia)

2. Kenaikan titik Didih


Titik didih zat cair adalah suhu tetap pada saat zat cair mendidih. Pada suhu
ini, tekanan uap zat cair sama dengan tekanan udara disekitarnya. Hal ini
menyebabkan terjadinya penguapan diseluruh bagian zat cair. Titik didih zat cair
diukur pada tekanan 1 atmosfer. Dari hasil penelitian, ternyata titik didih larutan
selalu lebih tinggi dari titik didih pelarut murninya. Hal ini disebabkan adanya
partikel-partikel zat terlarut dalam suatu larutan menghalangi peristiwa penguapan
partikel-partikel pelarut. Oleh karena itu, penguapan partikel-partikel pelarut
membutuhkan energi yang lebih besar. Perbedaan titik didih larutan dengan titik
didih pelarut murni disebut kenaikan titik didih yang dinyatakan dengan (∆Tb).
Persamaannya dapat ditulis:
∆Tb = Kb x m
g 1000
∆Tb = Kb x x
Mr P
∆Tb = Tblarutan - Tbpelarut
Ket:
∆Tb = kenaikan titik didih
Kb = Tetapan kenaikan titik didih molal
m = massa zat terlarut
Mr = Massa molekul relatif

Tabel ketetapan kenaikan Titik Didih (Kb) beberapa pelarut

Pelarut Titik Didih Tetapan (Kb)


Aseton 56,2 1,71
Benzena 80,1 02,53
Kamfer 204,0 05,61
Karbon tetraklorida 76,5 04,95
Sikloheksana 80,7 02,79
Naftalena 217,7 05,80
Fenol 182 03,04
Air 100 00,52
(Imam,Rahayu.Praktis Belajar Kimia)

3. Penurunan Titik beku


Penurunan titik beku larutan mendeskripsikan bahwa titik beku suatu pelarut
murni akan mengalami penurunan jika kita menambahkan zat terlarut didalamnya.
Sebagai contoh air murni membeku pada suhu 0© C akan tetapi jika kita
melarutkan contohnya sirup atau gula didalamnya maka titik bekunya akan
menjadi dibawah 0© C.
Penurunan titik beku larutan adalah salah satu sifat koligatif larutan. Untuk
mengukur besarnya titik beku larutan kita membutuhkan dua hal berikut:
a. Konsentrasi molal suatu larutan dalam molalitas
b. Konstanta penurunan titik beku pelarut atau Kf

Adanya zat terlarut dalam larutan akan mengakibatkan titik beku larutan lebih
kecil daripada titik beku pelarutnya. Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut:
∆Tf = Penurunan titik beku
g 1000
∆Tf = Kf x x
Mr P
∆Tf = Tfpelarut - Tflarutan
Ket:
∆Tf = Penurunan titik beku
Kf = Penurunan titik beku molal
m = Massa zat terlarut
Mr = Massa molekul relatif

Tabel Penurunan Titik Beku (Kf) Beberapa Pelarut

Pelarut Titik Beku Tetapan (Kf)


Aseton -95,35 2,40
Benzena 5,45 5,12
Kamfer 179,8 39,7
Karbon tetraklorida -23 29,8
Sikloheksana 6,5 20,1
Naftalena 80,5 6,94
Fenol 43 7,27
Air 0 1,86
(Suyanto, Praktis Beelajar Kimia)

4. Tekanan Osmotik
Tekanan osmotik adalah gaya yang diperlukan untuk mengimbangi desakan
zat pelarut yang melalui selaput semipermeabel kedalam larutan. Membran
semipermeabel adalah suatu selaput yang dapat dilalui molekul-molekul pelarut
dan tidak dapat dilalui oleh zat terlarut.
(Suyanto. Praktis Belajar kimia)

Tekanan osmosis adalah tekanan yang diberikan pada larutan yang dapat
menghentikan perpindahan molekul-molekul pelarut kedalam larutan melalui
selaput semipermeabel (proses osmosis). Menurut Van’t Hoff tekanan osmosis
mengikuti hukum gas ideal:
Pv = nRT
Karena tekanan osmosis = π, maka:
π© = n/VRT = CRT
ket:
π© = Tekanan Osmosis (atmosfer)
C = Konstanta larutan (M)
R = Tetapan gas universal = 0,082 L.atm/mol k
T = Suhu mutlak (K)

Larutan yang mempunyai tekanan osmosis lebih rendah dari yang lain disebut
larutan hipotonis. Larutan yang mempunyai tekanan lebih tinggi dari yang lain
disebut larutan hipertonis. Larutan yang mempunyai tekanan osmosis sama
disebut larutan isotonis.
(Ratna,dkk.Sifat Koligatif Larutan)

B. Uraian Bahan
1. Aquades (Dirjen POM.1979:96)
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama lain : Air suling
Rumus molekul : H2O
Berat molekul : 18,02
Rumus bangun : H-O-H
Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, tidak
mempunyai rasa.
Kelarutan :-
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Zat pelarut

2. Glukosa (Dirjen POM.1979:268)


Nama resmi : GLUCOSUM
Nama lain : Glukosa
Rumus molekul : C6H12O6.H2O
Berat molekul : 198,17
Rumus bangun :

OH

Pemerian : Hablur tidak berwarna, tidak berbau, rasa manis


Kelarutan : Mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air
mendidih, sukar larut dalam etanol (95%) P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai sampel

3. NaCl (Dirjen POM.1979:403)


Nama resmi : NATRII CHLORIDUM
Nama lain : Natrium klorida
Rumus molekul : NaCl
Berat molekul : 58,44
Pemerian :Hablur heksahedral tidak berwarna atau serbuk hablur
putih, tidak berbau, rasa asin
Kelarutan :Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air
mendidih dan dalam lebih kurang 10 bagian gliserol P,
sukar larut dalam etanol (95%) P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pereaksi

4. Asam Benzoat (Dirjen POM.1979:49)


Nama resmi : ACIDUM BENZOICUM
Nama lain : Asam Benzoat
Rumus molekul : C7H6O2
Berat molekul : 122,12
Rumus bangun :

Pemerian : Hablur halus dan ringan, tidak berwarna, tidak berbau


Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 350 bagian air, dalam lebih
kurang 3 bagian etanol (95%) P, dalam 8 bagian
kloroform P dan dalam 3 bagian eter P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sumber ion klorida dan ion natrium

5. Asam Laurat (wikipedia)


Nama resmi : ASAM LAURAT
Nama lain : Asam dodekanoat
Rumus molekul : CH3(CH2)10 COOH
Berat molekul : 200,3 g mol-1

Rumus bangun :

Pemerian : Pada suhu ruang berwujud padatan berwarna putih,


akan mudah mencair jika dipanaskan
Kelarutan : Larut dalam pelarut polar, misalnya air, juga larut
dalam lemak karena gugus hidrokarbon (metil) disatu
ujung dan gugus karboksil diujung lain.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup

6. Asam Stearat (Dirjen POM.1979:57-58)


Nama resmi : ACIDUM STEARICUM
Nama lain : Asam stearat
Rumus molekul : C18H36O2
Berat molekul :
Rumus bangun :
Pemerian : Zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan
hablur putih atau kuning pucat, mirip lemak lilin.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 20 bagian
etanol (95%) P, dalam 2 bagian kloroform P dan
dalam 3 bagian eter P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai sampel untuk penurunan titik beku

C. Prosedur Kerja
Pengaruh Tonisitas Larutan Terhadap Sel
1. Ambil tabung reaksi yang bersih, berikan label a,b,c,d dan e.
2. Masukkan 2 ml larutan berikut ini sesuai label masing-masing:
a) Aquades
b) Glukosa 0,1 M
c) Glukosa 0,5 M
d) NaCl 0,89%
e) NaCl 3%
3. Untuk setiap tabung reaksi tambahkan irisan wortel tipis (sekitar 0,5 mm) yang
segar, daun bawang dan seledri.
4. Masukkan tabung reaksi dirak tabung dan tunggu sampai Anda menyelesaikan
semua percobaan yang lain.
5. Perhatikan tampilan dengan mata telanjang dan juga dibawah mikroskop.
6. Ulangi langkah no.1 dan langkah no.2 menggunakan set baru lima tabung reaksi
yang bersih.
7. Dengan menggunakan pipet, tambahkan lima tetes darah sapi segar secara
keseluruhan untuk setiap tabung uji. Miringkan bagian bawah tabung reaksi untuk
menjamin pencampuran yang tepat.
8. Amati warna dan penampilan dari larutan setelah 20 menit, baik oleh mata
telanjang dan juga dibawah mikroskop. Untuk penanganan dan pembuangan
sampel darah, baca petunjuk pada lampiran, Exp. 19.
Pengukuran Penurunan Titik Beku
1. Rakit alat pengukuran titik beku (titik lebur) sederhana. Beker gelas akan
berfungsi sebagai water bath. Sebuah plat pemanas dari pembakar bunsen akan
berfungsi sebagai sumber panas. Sebuah tabung reaksi akan berfungsi sebagai
water bath sekunder dimana termometer dicelupkan.
2. Campuran asam benzoat asam laurat disiapkan sebagai berikut (atau sebagai
alternatif instruktur dapat mempersiapkan terlebih dahulu):
Timbang 3 g asam laurat dan masukkan dalam sebuah gelas kimia 250 ml.
Timbang 0,6 g asam benzoat. Panaskan asam laurat perlahan-lahan diatas hot
plate sampai meleleh (50©C). Tambahkan asam benzoat kedalam gelas. Aduk
secara menyeluruh hingga diperoleh larutan homogen. Dinginkan gelas kimia
dalam air dingin untuk mendapatkan sampel yang padat. Gerus sampai menjadi
serbuk halus dalam mortar.
3. Setiap praktikan menyiapkan empat tabung leleh kapiler untuk sampel: (a) asam
laurat, (b) tiga tabung dengan asam benzoat 17%.
4. Susun tabung leleh sebagai berikut:
a. Ambil sejumlah kecil sampel kedalam tabung leleh kapiler dengan
menekankan ujung tabung yang terbuka secara vertikal kedalam sampel.
b. Balikkan tabung kapiler. Usap kapiler dengan suatu lembaran yang
memungkinkan padatan masuk dibagian bawah kapiler. Anda hanya
memerlukan 1-5 mm sampel dalam tabung kapiler.
5. Ikat tabung kapiler dengan termometer menggunakan karet gelang kecil dekat
dengan ujung atas tabung. Pastikan untuk menyesuaikan ujung kapiler dengan
ujung termometer.
6. Ukur titik leleh sampel sebagai berikut:
Jepit termometer dengan tabung kapiler yang melekat dan rendam dalam termostat
sekunder diisi dengan air. Turunkan termostat sekunder kedalam gelas berisi air
dan memulai proses pemanasan. Perhatikan titik leleh setiap sampel dan catat.
Pelelehan terjadi ketika Anda mengamati penyusutan pertama dalam sampel atau
munculnya gelembung kecil. (jangan menunggu sampai seluruh sampel dikapiler
menjadi bening). Setelah mengambil titik lebur sampel pertama, biarkan termostat
mendingin hingga suhu ruang dengan menambahkan air dingin. Anda harus
memulai proses pemanasan untuk mengamati titik leleh sampel kedua hanya
setelah air ditermostat primer dan sekunder telah mencapai suhu kamar.

BAB III

METODE PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan


1. Alat yang Digunakan
a. Pengaruh Tonisitas Larutan Terhadap Sel
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah batang pengaduk,
Bunsen, dek gelas, gelas kimia, gelas ukur 100 ml, mikroskop, objek gelas, pipet tetes,
rak tabung, silet serta tabung reaksi.

b. Pengukuran Penurunan Titik Beku


Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah statif, klem, gelas kimia,
tabung reaksi, pipa kapiler, termometer, lumpang dan alu, kaki tiga dan bunsen.

2. Bahan yang Digunakan


a. Pengaruh Tonisitas Larutan Terhadap Sel
Bahan yang dipergunakan dalam percobaan ini adalah aquades, darah ayam
segar, daun bawang, glukosa 0,1 M, glukosa 0,5 M, NaCl 0,89 %, NaCl 3 % serta
wortel.

b. Pengukuran Penurunan Titik Beku


Bahan yang digunakan yaitu asam stearat dan asam benzoat

B. Cara Kerja

Pembuatan Larutan:
Glukosa 0,1 M
1. Ditimbang glukosa 1,02 g, masukkan dalam gelas kimia 250 ml.
2. Ditambahkan aquadest 100 ml dengan menggunakan gelas ukur.
3. Dituang aquades keddalam gelas kimia yang berisi glukosa kemudian diaduk.

Glukosa 0,5 M
1. Ditimbang Glukosa 4,8 g, dimasukkan kedalam gelas kimia 250 ml.
2. Ditambahkan aquades 50 ml dengan menggunakan gelas ukur .
3. Dituang aquades dari gelas ukur kedalam gelas kimia kemudian diaduk.

NaCl 0,89 %
1. Ditimbang NaCl 0,45 g, dimasukkan kedal;am gelas kimia 250 ml.
2. Ditambahkan aquades 100 ml dengan menggunakan gelas ukur.
3. Dituang aquades kedalam gelas kimia yang berisi NaCl, kemudian diaduk.

NaCl 3 %
1. Ditimbang NaCl 0,45 g, dimasukkan kedalam gelas kimia 250 ml.
2. Ditambahkan aquades 100 ml dengan menggunakan gelas ukur.
3. Dituang aquades 100 ml kedalam gelas kimia yang berisi NaCl kemudian diaduk.
Pengaruh Tonisitas Larutan Terhadap Sel
1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan.
2. Masing-masing bahan ditimbang dan dilarutkan dalam aquades.
3. Masing-masing larutan dimasukkan dalam tabung reaksi dan diberikan label.
4. Dimasukkan sampel (wortel, daun bawang, dan 5 tetes darah ayam segar) pada tabung
reaksi.
5. Didiamkan hingga 20 menit.
6. Diamati dengan mata telanjang.
7. Irisan wortel dan daun bawang diangkat dan diletakkan pada dek gelas yang berbeda.
8. Ditetesi irisan wortel dan daun bawang dengan larutan kloralhidrat sebanyak 2 tetes.
9. Difiksasi irisan wortel dan daun bawang.
10. Diamati menggunakan mikroskop.
11. Untuk darah, diambil 2 tetes, ditetesi pada dek gelas dan langsung diamati menggunakan
mikroskop tanpa difiksasi terlebih dahulu.
12. Digambar hasil pengamatan.
Pengukuran Penurunan Titik Beku
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Ditimbang 3 g asam stearat, dimasukkan dalam gelas kimia
3. Dipanaskan diatas api bunsen hingga suhu 50©C
4. Ditimbang 0,6 g asam benzoat lalu ditambahkan kedalam gelas kimia yang berisi asam
stearat yang telah dipanaskan
5. Diaduk hingga homogen
6. Didinginkan, lalu dugerus dengan mortar
7. Diambil empat buah pipa kapiler untuk pipa kapiler pertama ditotolkan dengan asam
stearat, dan pipa kedua, ketiga dan keempat ditotolkan dengan campuran asam stearat dan
asam benzoat yang telah digerus
8. Setelah ditotolkan dengan sampel, masing-masing tabung diikat sejajar dengan bagian
bawah termometer
9. Dirangkai alat dengan cara tabung reaksi dipasang pada klem (sebagai tabung primer)
dimasukkan sampel dan termometer yang diikat bersama dan dipasang gelas kimia 250
ml yang berisi air,(sebagai tabung sekunder) dengan tabung reaksi dan gelas kimia sejajar
10. Dinyalakan pembakar spiritus
11. Diamati gelembung yang terbentuk pada pipa kapiler
12. Dicatat suhu yang diperoleh

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

A. Tabel Pengamatan

Pengaruh Tonisitas Larutan Terhadap Sel

No. Larutan Daun Bawang Wortel Darah


1. Aquades Tidak terjadi Warnanya menjadi Warnanya
perubahan orange pucat memudar dan
mengendap
dibagian bawah
2. Glukosa 0,1 M Warnanya putih Warnanya Warnanya
bening memudar memudar
3. Glukosa 0,5 M Tidak ada Putih pudar Agak jernih
perubahan
4. NaCl 0,89 % Putih pudar Memudar Merah maroon
5. NaCl 3 % Putih pudar Orange kecoklatan Memudar
(coklat)

Penurunan Titik Beku


No. Sampel Suhu
1. Asam Stearat 35©C
2. Asam Stearat + Asam Benzoat 49©C
3. Asam Stearat + Asam Benzoat 49©C
4. Asam Stearat + Asam Benzoat 50©C

Hasil pengamatan dengan menggunakan mikrokop


a. Aquades
 Aquades + Daun Bawang

 Aquades + Wortel
 Aquades + Darah

b. Glukosa 0,1 M
 Glukosa 0,1 M + Daun Bawang

 Glukosa 0,1 M + Wortel


 Glukosa 0,1 M + Darah

c. Glukosa 0,5 M
 Glukosa 0,5 M + Daun Bawang

 Glukosa 0,5 M + Wortel


 Glukosa 0,5 M + Darah

d. NaCl 0, 89%
 NaCl 0,89% + Daun Bawang

 NaCl 0,89% + Wortel


e. NaCl 3%
 NaCl 3% + Daun Bawang

 NaCl 3% + Wortel

 NaCl 3% + Darah
B. Perhitungan
1. Massa Glukosa 0,1 M
g 1000
m= x
Mr P

g 1000
0,1= x
198 50

990
g=
1000

= 0,99

2. Massa Glukosa 0,5 M

g 1000
m= x
Mr P

g 1000
0,5= x
198 50

4950
g=
1000

= 4,95 g

3. Massa NaCl 0,89%


0,89 g
massa= x 50 ml
100 ml

= 0,445 g

4. Massa NaCl 3%

3g
massa= x 50 ml
100 ml

= 1,5 g

5. Aquades 50 ml

Perhitungan Titik Beku Larutan

m asam stearat = 3 gram

m asam benzoat = 0,6 gram

1. ∆Tf1 = T1 – T2
= 35 – 50
= - 15 ©C
∆Tf = Kf.m
g 1000
15 = kf. x
Mr P
3 1000
15 = Kf. x
284 0,6
3000
15 = Kf.
170,4
2556 = kf.3000
2556
kf =
3000
kf = 0,852© c/m

2. ∆Tf2 = T1 – T3
= 35 – 49
= - 14 ©C
∆Tf = Kf.m
g 1000
14 = kf. x
Mr P

3 1000
14 = Kf. x
284 0,6

3000
14 = Kf.
170,4

2385,6= kf.3000
2385,6
kf =
3000

kf = 0,7952© c/m

3. ∆Tf3 = T1 – T3
= 35 – 49
= - 14 ©C
∆Tf = Kf.m
g 1000
14 = kf. x
Mr P
3 1000
14 = Kf. x
284 0,6
3000
14 = Kf.
170,4
2385,6= kf.3000
2385,6
kf =
3000
kf = 0,7952© c/m

kf 1+ kf 2+kf 3
kf =
3
0,7952+ 0,7952+ 0,852
=
3
2,4424
=
3
= 0,8141© c/m

Tf 1+Tf 2+ Tf 3
Tf =
3
(−14 ) + (−14 ) +(−15)
=
3
−43
=
3
= -14,33© c/m
BAB V
PEMBAHASAN

Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang bergantung pada banyaknya partikel
zat terlarut dalam larutan dan tidak bergantung pada jenis partikel zat terlarutt. Ada empat
sifat yang berhubungan dengan sifat koligatif larutan yaitu : penurunan tekanan uap,
kenaikan titik didih, penurunan titik beku dan tekanan osmotic.

Tekanan osmotik adalah gaya yang diperlukan untuk mengimbangi desakan zat
pelarut yang melalui selaput semipermeabel kedalam larutan. Membran
semipermeabel adalah suatu selaput yang dapat dilalui molekul-molekul pelarut dan
tidak dapat dilalui oleh zat terlarut.

Hemolisis yaitu keadaan dimana sel darah pecah karena perbedaan konsentrasi atau
kadar zat didalam dan diluar sel. Krenasi yaitu keadaan sel yang mengkerut diakibatkan
oleh keluarnya cairan didalam sel. Hipertinik yaitu keadaan ketika konsentrasi zat diluar
sel lebih tinggi disbanding konsentrasi didalam sel. Hipotonik yaitu keadaan ketika
konsentrasi zat diluar sel lebih rendah dari konsentrasi didalam sel. Isotonis yaitu larutan
dengan tekanan osmosis yang sama, atau dengan kata lain konsentrasi zat diluar dan
didalam sel sama.

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menunjukkan pengaruh tonisitas pada sel.
Adapun bahan yang digunakan seperti daun bawang, wortel dan darah ayam segar. Untuk
mengamati perubahan tonisitas dari sel, pertama-tama yaitu dengan membuat larutan
glukosa 0,1 M dan 0,5 M dan larutan NaCl 0,89 % dan 3 % serta aquades. Kemudian
masing-masing larutan dimasukkan dalam tiga tabung reaksi dengan tabung pertama
diberikan irisan wortel, tabung kedua irisan daun bawang dan tabung ketiga diberikan 5
tetes darah ayam segar. Setelah itu, tabung diamati dengan mata telanjang dan didiamkan
sekitar 20 menit kemudian sampel diangkat dan diletakkan diatas dek gelas, ditetesi
dengan 2 tetes kloralhidrat, difiksasi dan diamati dengan menggunakan mikroskop.

Dari ketiga sampel seperti daun bawang, wortel dan darah, diperoleh hasil : daun
bawang yang dicampur aquades tidak mengalami perubahan, wortel yang dicampur
aquades warnanya menjadi orange pucat, darah yang dicampur larutan aquades warnanya
menjadi pudar. Daun bawang yang dicampur Glukosa 0,1 M warnanya putih bening,
wortel yang dicampur Glukosa 0,1 M warnanya memudar, darah yang dicampur larutan
Glukosa 0,1 M warnanya memudar. Daun bawang yang dicampur larutan Glikosa 0,5 M
tidak terjadi perubahan, wortel yang dicampur larutan Glukosa 0,5 M warnanya putih
pudar, darah yang dicampur larutan Glukosa 0,5 M warnanya agak jernih. Daun bawang
yang dicampur larutan NaCl 0,89% warnanya menjadi putih pudar, wortel yang dicampur
larutan NaCl 0,89% warnanya memudar, darah yang dicampur larutan NaCl 0,89%
warnanya menjadi merah maroon. Daun bawang yang dicampur larutan NaCl 3%
warnanya menjadi putih pudar, wortel yang dicampur larutan NaCl 3% warnanya menjadi
orange kecoklatan, darah yang dicampur larutan NaCl 3% warnanya menjadi pudar
(coklat).

Adapun perlakuan khusus seperti difiksasi dan ditetesi larutan kloralhidrat pada
sampel daun bawang dan wortel adalah untuk memperjelas bentuk /struktur sel pada saat
diamati pada mikroskop.

Penurunan titik beku mendeskripsikan bahwa titik beku pelarut murni akan
mengalami penurunan jika kita menambahkan zat terlarut didalamnya. Sebagai contoh,
air murni membeku pada suhu 0©C akan tetapi jika kita melarutkan contohnya sirup atau
gula didalamnya maka titik bekunya akan menjadi dibawah 0©C.

Tujuan dari percobaan kedua ini adalah untuk menunjukkan penurunan titik beku
dan memperoleh konstanta titik beku. Adapun bahan yang digunakan yaitu asam stearat
dan asam benzoat. Untuk mengamati penurunan titik beku pertama-tama asam stearat
sebanyak 3 g dimasukkan dalam beker gelas kemudian dipanaskan sampai suhu 50©C.
setelah melebur, tambahkan 0,6 g asam benzoat, dihomogenkan kemudian didinginkan.
Setelah dingin, digerus hingga halus dengan menggunakan lumpang dan alu. Setelah
halus, diambil empat buah pipa kapiler, pipa kapiler pertama ditotolkan asam stearat dan
pipa kapiler lainnya ditotolkan campuran asam stearat dan asam benzoat. Setelah
ditotolkan, kemudian diikat sejajar dengan bagian bawah termometer, setelah itu,
dirangkai alat statif, letakkan beker gelas diatas kaki tiga kemudian tabung reaksi
dicelupkan dibeker gelas yang berisi air, yang sebelumnya tabung reaksi diisi air.
Letakkan termometer didalam tabung reaksi, dan jangan sampai menempel pada dinding
tabung. Setelah itu dinyalakan bunsen, diamati apabila muncul gelembung, catat suhunya.
Lakukan sampai pipa kapiler keempat.

Dari percobaan yang dilakukan, diperoleh hasil: suhu asam stearat adalah 35©C,
asam stearat + asam benzoat pada pipa kapiler kedua adalah 49©C, asam stearat + asam
benzoat pada pipa kapiler ketiga adalah 49©C dan asam stearat + asam benzoat pada pipa
kapiler keempat adalah 50©C.

Adapun faktor kesalahan yang terjadi pada saat praktikum yaitu :


1. Jatuhnya dek gelas yang berisi sampel akibat ketidak hati-hatian praktikan yang
menyebabkan sampel NaCl 0,89% + wortel jatuh dan tidak jadi diamati.
2. Irisan sampel yang agak tebal sehingga sulit untuk diamati struktur selnya.
3. Terjadi kesalahan dalam pembuatan larutan.

BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan :
1. Perbedaan konsentrasi larutan antara Glukosa 0,1 M dan 0,5 M dapat pula
berbeda pada hasilnya, begitupun dengan NaCl 0,89% dan 3%.
2. Pengaruh tonisitas pada sel disebabkan oleh factor konsentrasi larutan.
3. Tekanan osmotik darah apabila dimasukkan sel tumbuhan, sehingga tekanan
osmotik keduanya sama (isotonik).
4. Tekanan osmotik darah sama dengan tekanan osmotik NaCl 0,89%.
5. Titik beku adalah suhu pada nilai tekanan tertentu, saat terjadi perubahan
wujud dari zat cair menjadi padat.
6. Penurunan titik beku larutan adalah selisih antara titik beku pelarut dan titik
beku larutan.
7. Konstanta penurunan titik beku yaitu:
a) Sampel kedua Kf = 0,7952 ©c/m
b) Sampel ketiga Kf = 0,7952 ©c/m
c) Sampel keempat Kf = 0,852 ©c/m

Hasil Percobaan
1. Aquadest + daun Bawang : tidak terjadi perubahan
2. Aquades + Wortel : warnanya menjadi orange pucat
3. Aquades + Darah : warnanya memudar
4. Glukosa 0,1 M + Daun Bawang : warnanya putih bening
5. Glukosa 0,1 M + Wortel : warnanya memudar
6. Glukosa 0,1 M + Darah : warnanya memudar
7. Glukosa 0,5 M + Daun Bawang : tidak ada perubahan
8. Glukosa 0,5 M + Wortel : putih pudar
9. Glukosa 0,5 M + Darah : agak jernih
10. NaCl 0,89% + Daun Bawang : putih pudar
11. NaCl 0,89% + Wortel : memudar
12. NaCl 0,89% + Darah : merah maroon
13. NaCl 3% + Daun Bawang : putih pudar
14. NaCl 3% + Wortel : orange kecoklatan
15. NaCl 3% + Darah : memudar (coklat)

B. Saran
Laboratorium : peralatan seperti mikroskop perlu diganti.

Asisten : selalu tersenyum pada semua praktikan

DAFTAR PUSTAKA

Dirjen POM.1979.Farmakope Indonesia Edisi Ke-3.Jakarta:DEPKES RI

HTTP://www.wikipedia.com

Imam,Rahayu.2003.Praktis Belajar Kimia.Jakarta:Grafindo

Oxtoby,dkk.2001.Prinsip-Prinsip Kimia Modern.jakarta:Erlangga

Sutresna,Nana.2006.Cerdas belajar Kimia.Jakarta:Grafindo

Suyanto.2004.Praktis Belajar Kimia.Jakarta.Grafindo


SKEMA KERJA

1. Pengaruh Tonisitas Terhadap Sel

1. Aquades 100 ml
2. Glukosa 0,1 M + aquades 100 ml
3. Glukosa 0,5 M + aquades 50 ml
4. Nacl 0,49% + aquades 50 ml
5. Nacl 3% + aquades 100 ml

Aquades + wortel Aquades + Daun bawang Aquades + darah


Glukosa 0,1 M + Wortel Glukosa 0,1 M + Daun Glukosa 0,1 M +
Glukosa 0,5 M + Wortel bawang darah
NaCl 0,49% + Wortel Glukosa 0,5 M + Daun Glukosa 0,5 M +
NaCl 3% + Wortel bawang darah
NaCl 0,49% + Daun bawang NaCl 0,49% + darah
NaCl 3% + Daun bawang NaCl 3% + darah

Amati selama 20 menit dengan


mata telanjang

Setelah 20 menit keluarkan


sampel dari larutan

Simpan sampel pada dek gelas

Tetesi dengan 2 tetes


klorahidrat dan tutup dek gelas

Sampel di Fiksasi

Amati dibawah mikroskop

Catat hasil pengamatan


terhadap sampel
2. Penurunan Titik Beku

Asam Stearat 3 g
masukkan
Gelas kimia
panaskan

Bunsen

Sampai meleleh
tambahkan

Asam benzoat 0,6 g

Dinginkan
Gerus

Mortal dan alu

Empat pipa kapiler

ll I = Asam Stearat
ll II = Asam Stearat + Asam Benzoat
ll III = Asam Stearat + Asam Benzoat
ll IV = Asam Stearat + Asam Benzoat

Termometer

Tabung reaksi

Gelas kimia
panaskan

Bunsen

BIOGRAFI PENULIS
Abdul Roni, yang biasa dipanggil Roni
merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Putra dari pasangan Satria Djudin dan
Sahnim Willa Candra. Lahir disalah satu kota yang dijuluki Hongkong ke-2 atau lebih
tepatnya dikota Luwuk, Sulawesi tengah pada tanggal 9 Mei 1992. Memulai pendidikan
formal di SD Negeri Unjulan pada tahun 1998 selama 6 tahun, kemudian melanjutkan ke
Sekolah Menengah Pertama pada tahun 2004 di SMP Negeri 6 Luwuk yang merupakan
SMP Unggulan. Setelah itu, Ia melanjutkan sekolahnya di SMA Negeri 3 Luwuk atau
yang lebih dikenal dengan nama SMANTIL pada tahun 2007. Dia harus menyesuaikan
dirinya dengan seabrak peraturan yang ada disekolah tersebut.
Dengan penuh perjuangan, akhirnya Ia mampu menyelesaikan pendidikan selama 3 tahun
di SMA pada tahun 2010.
Setelah lulus SMA dia meneruskan pendidikan dibangku kuliah. Berharap agar dapat
kuliah di Universitas favorit, namun nasib berkata lain dan keberuntungan belum
berpihak padanya. Sempat timbul rasa putus asa dalam hati, namun semua dapat teratasi
dengan pengumuman penerimaan mahasiswa jalur SNMPTN di UIN Alauddin Makassar
jurusan Farmasi Angkatan 2010. Tertarik pada dunia obat-obatan, sehingga farmasi pun
menjadi pilihan utamanya, karena ingin menjadi Seorang Apoteker yang berkualitas dan
professional, selain itu karena adanya dukungan dari orang tua tersayang terutama Ibu
dan keluarga.