Anda di halaman 1dari 2

Commentary 6 SP5106.

Pembiayaan Sektor Publik


Rian Fahminuddin (24019003)

Budgeting for Revenue : Transaction-Based


Revenue Source

Pada bab ini dibahas beberapa sumber pendapatan pemerintah selain dari pajak pendapatan ataupun
kekayaan, yakni adalah pajak atas transaksi individu. Bab ini memberikan gambaran bahwa ternyata ada
berbagai macam alternatif dapat dilakukan pemerintah dalam rangka memperoleh pendapatan. Diantara
sumber pendapatan negara selain dari pajak pendapatan dan kekayaan diantaranya pajak penjualan umum dan
spesifik, retribusi dan pendapatan yang diperoleh dari permainan lottery atau judi. Sumber pendapatan ini
memiliki karakteristik yang sama, yaitu dipungut atas dasar sukarela. Dalam hal ini setiap individu dihadapkan
pada pilihan apakah mereka memilih tak terlibat dalam transaksi atau terlibat dengan dengan membayar pajak.
Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah memberikan wewenang sepenuhnya kepada setiap individu, apakah
dia hendak menikmati barang-barang yang diinginkan, namun dengan syarat individu harus membayarkan
sejumlah pajak kepada pemerintah, atau memilih tak menikmatinya sehingga tak dibebankan pajak. Disinilah
win-win solution yang pemerintah harapkan, pada satu sisi individu menikmati kepuasan akan benda yang
diinginkan, di sisi lain pemerintah juga mendapatkan pemasukan dari pajak yang dibayarkan.
Selektive sales taxes biasa disebut sebagai pajak cukai, memiliki tiga kategori umum, yaitu: luxury
excises (cukai mewah), sumptuary excises (cukai sumptuary), and benefit-based excises (cukai berbasis
manfaat). Ketiganya memiliki perbedaan menurut jenis penjualan tertentu yang dikenakan pajak dan untuk
tujuan fiskal atau sosial pajak. Pada cukai mewah, merupakan hal yang wajar jika negara memberlakukan
kebijakan ini. Negara pastinya sudah memikirkan bahwa hanya individu yang memiliki kemampuan
membayar luar biasa yang dengan kerelaannya membayarkan cukai atas kepuasan dari barang yang dibelinya,
sehingga cukai ini tidak akan membebani bagi mereka yang tak mampu membayar, itu semua kembali pada
pilihan masing-masing individu.
Yang menjadi perhatian adalah tentang cukai sumptuary. Cukai ini sering disebut sebagai ‘pajak dosa’.
Pengenaan cukai ini seolah-olah memiliki tujuan untuk mencegah konsumsi barang-barang yang dianggap
menyebabkan kerugian baik bagi individu yang mengkonsumsi dan masyarakat secara keseluruhan, sebagai
contoh adalah rokok dan minuman keras. Hal ini nampak menjadi ironi, ketika negara tetap memberikan ijin
atas barang-barang tersebut untuk beredar dipasar, padahal jelas-jelas memiliki dampak negatif bagi pengguna
maupun masyarakat disekitarnya. Pada titik ini sepertinya seolah negara menutup mata terhadap dampak dari
barang-barang ini apabila tetap beredar dimasyarakat. Meskipun dengan pengenaan cukai ini bisa saja menjadi
‘bukti’ bahwa negara telah mencegah atas konsumsi barang-barang tersebut, namun pencegahan itu hanya
terkesan sebagai alibi pemerintah. Apabila barang-barang ini tetap diijinkan untuk beredar akan muncul
berbagai dampak negatif yang ditimbulkan bagi individu dan masyarakat secara keseluruhan, namun disisi lain
apabila ijin beredar barang tersebut dihentikan, negara akan kehilangan potensi sumber pemasukan bagi
negara yang cukup besar. Sehingga pilihan ini menjadikan negara seolah dihadapkan dengan ‘buah
simalakama’, hingga akhirnya pada titik ini keuntungan secara finansial yang menjadi pilihan pemerintah,
yaitu tetap membiarkan barang-barang berisiko ini beredar dimasyarakat dengan pengenaan cukai dengan
besaran tertentu. Berbeda dengan cukai sumptuary, cukai berbasis manfaat merupakan harga kuasi yang
dikenakan pada wajib pajak, dan kemudian menggunakan hasil dari pajak-pajak itu untuk membiayai manfaat
yang digunakan oleh wajib pajak tertentu yang dikenakan pajak. Hal ini menjadikan sebuah sinergi bagi
negara dan wajib pajak yang memang seharusnya terjadi dalam sebuah negara.
Commentary 6 SP5106. Pembiayaan Sektor Publik
Rian Fahminuddin (24019003)

Pertanyaan :
1. Pada pajak penjualan umum, dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang ada semakin
dipertanyakan kelayakannya. Sebagai contoh dengan adanya teknologi internet, transaksi dengan
konsumen vendor jarak jauh menjadi semakin marak. Transaksi semacam ini terkadang menjadikan
penjualan terbebas dari pajak yang seharusnya dikenakan. Apa yang sebaiknya dilakukan pemerintah
ketika menghadapi permasalahan ini, dengan kondisi perkembangan teknologi yang semakin pesat?

2. Telah dijelaskan bahwa cukai sumptuary merupakan cukai yang diterapkan pemerintah yang seolah-olah
bertujuan untuk mencegah konsumsi dari barang-barang yang berpotensi menimbukan kerugian bagi
individu maupun masyarakat secara keseluruhan. Pemberlakukan cukai ini, secara tidak langsung berarti
pemerintah mebiarkan barang-barang yang berpotensi menimbulkan kerugian tetap beredar di masyarakat.
Sebagai contoh, di Indonesia telah nampak dampak negatif dengan tetap beredarnya rokok dan minuman
keras. Tetap saja hal ini menjadi sebuah dilema yang seharusnya menjadi perhatian semua pihak, karena di
titik ini seolah pemerintah menutup mata tentang dampak-dampak negatif yang ditimbulkan. Yang
menjadi pertanyaan, adakah solusi alternatif dalam menyelesaikan permasalahan ini dan siapa yang
seharusnya bertanggung jawab akan kerugian-kerugian yang terjadi, dengan tidak memungkiri bahwa
pemerintah juga membutuhkan pemasukan untuk operasional pemerintahannya?