Anda di halaman 1dari 28

ANALISIS ETIS TERHADAP PENYELENGGARAAN PELAYANAN PUBLIK

DI LINGKUNGAN KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM


DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Tugas UAS
Etika dalam Pembangunan
(SP5103)

Dosen: Indah Widiastuti, S.T., M.T., Ph.D

Disusun oleh :
Rian Fahminuddin (24019003)

MAGISTER STUDI PEMBANGUNAN


SEKOLAH ARSITEKTUR, PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2019

0
ABSTRAK

ANALISIS ETIS TERHADAP PENYELENGGARAAN PELAYANAN PUBLIK


DI LINGKUNGAN KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Oleh :
Rian Fahminuddin
24019003

Instansi pemerintah merupakan sebutan kolektif meliputi satuan kerja/satuan organisasi


kementerian/departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, kesekretariatan lembaga tinggi negara,
dan instansi pemerintah lainnya, baik pusat maupun daerah, termasuk Badan Usaha Milik Negara, Badan
Hukum Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah. Salah satu tugas dan fungsi dari Instansi
Pemerintah adalah menyelenggarakan pelayanan publik dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang
dimiliki sebagai aktor pelaksana pelayanan publik. PNS diharapkan mampu menggerakkan serta
melancarkan tugas-tugas pemerintahan dalam pembangunan, termasuk di dalamnya melayani masyarakat.
Sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat PNS dituntut mampu menggunakan dan mengelola waktu
dengan benar dalam unjuk kerja atau kinerja mereka dan dituntut untuk mampu bersaing dan bersikap
profesional dalam bekerja sebagai konsekuensi dari meningkatnya tuntutan pekerjaan mereka. Akhir-
akhir ini banyak keluhan dari masyarakat terkait kinerja dari PNS terutama menyangkut masalah yang
berhubungan dengan pelayanan, misalnya menunda waktu-waktu pelayanan yang semestinya. Telah
banyak beredar di media juga tentang rendahnya disiplin kerja dan berbagai macam pelanggaran disiplin
PNS. Hal ini menjadi kontras dengan yang terjadi pada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM
D.I. Yogyakarta yang salah satu tugas dan fungsinya adalah penyelenggaraan pelayanan publik.
Berdasarkan data yang diperoleh dari website Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta
(jogja.kemenkumham.go.id) tercatat Indeks Kepuasan Masyarakat dalam pelayanan publik pada bulan
Mei hingga September 2019 menunjukkan hasil Sangat Memuaskan dengan rata-rata Indeks 92,8 dari
skala 0-100. Tentu saja terdapat berbagai macam faktor dibalik fenomena tersebut. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui bagaimana analisis etis terhadap penyelenggaraan pelayanan publik di
lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia D.I. Yogyakarta. Penelitian ini
dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analitis, yang diharapkan dapat memberikan gambaran
sejauh mana etika memiliki peranan dalam penyelenggaraan pelayanan publik dan menjadi referensi
dalam mengatasi permasalahan penyelenggaran pelayanan publik pada instansi lainnya.

Kata kunci : etika, instansi pemerintah, pelayanan publik, pegawai negeri sipil

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia, sebagai negara yang mempunya cita-cita untuk mewujudkan tujuan
nasional seperti yang telah diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
yaitu mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur, merata dan berkesinambungan
baik materiil maupun spirituil yang berdasarkan pada Pancasila di dalam wadah Negara
Kesatuan Republik Indonesia maka diperlukan adanya pembangunan yang bertahap,
berencana dan berkesinambungan.
Kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan untuk mencapai tujuan
nasional, sangat dipengaruhi oleh kinerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam menjalankan
tugas pokok dan fungsi. Dalam ketentuan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974
tentang Pokok-pokok Kepegawaian, agar Pegawai Negeri Sipil (PNS) mampu melaksanakan
tugasnya sebagaimana tersebut di atas secara berdaya guna dan berhasil guna, diperlukan
pembinaan secara terus menerus dan berkesinambungan. Pembinaan PNS akan berhasil
dengan baik apabila diikuti dengan pelaksanaan dan penerapan etika dan kode etik dalam
melaksanakan tugas dan kehidupan sehari-hari.
Instansi Pemerintah memiliki tugas dan fungsi salah satunya menyelenggarakan
pelayanan publik dengan PNS yang dimiliki sebagai aktor pelaksana pelayanan publik.
Menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, pelayanan
publik didefinisikan sebagai kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan
kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara
dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh
penyelenggara pelayanan publik.
Salah satu Instansi pemerintah yang menjalankan pelayanan publik adalah Kantor
Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Daerah Istimewa Yogyakarta
(Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta). Berdasarkan informasi yang diperoleh dari
website Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta (jogja.kemenkumham.go.id), nampak
Indeks Kepuasan Masyarakat dalam hal penyelenggaraan layanan publik dari bulan Mei
hingga September 2019 menunjukkan hasil Sangat Memuaskan. Hal tersebut tentu
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Sebagai asumsi awal, bahwa fenomena yang terjadi pada
Kanwil Kemenkumham tersebut salah satunya dipengaruhi etika yang diterapkan dalam
penyelenggaraan pelayanan publik di Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta. Hal ini
menjadi sesuatu hal yang menarik untuk dikaji, yang mendorong penulis untuk melakukan
penelitian untuk disusun menjadi makalah dalam rangka memenuhi tugas Ujian Akhir
Semester (UAS) Mata Kuliah Etika dalam Pembangunan Magister Studi Pembangunan
Institut Teknologi Bandung Tahun 2019.

2
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini sebagai
berikut :
1. Bagaimana Wujud Penyelenggaran Pelayanan Publik di Lingkungan Kanwil
Kemenkumham D.I. Yogyakarta?
2. Bagaimana Analisis Etis terhadap Penyelenggaraan Pelayanan Publik di Lingkungan
Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta?

C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui wujud pelayanan publik di lingkungan Kanwil Kemenkumham D.I.
Yogyakarta.
2. Mengetahui analisis etis penyelenggaraan pelayanan publik di Lingkungan Kanwil
Kemenkumham D.I. Yogyakarta.
3. Memenuhi tugas Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Etika dalam Pembangunan
Magister Studi Pembangunan Institut Teknologi Bandung Tahun 2019.

D. Manfaat Penelitian
1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pengembangan ilmu
berkenaan dengan etika dalam pembangunan.
2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bahan masukan bagi
Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta dalam implementasi kebijakan etika PNS dalam
rangka peningkatan kualitas pelayanan publik.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Etika
Kata etika dalam bahasa Inggris disebut “ethics”. Secara etimologis kata etika (ethics)
berasal dari bahasa Yunani Kuno “ethos” yang berarti pagar pembatas ternak agar ternak tersebut
tidak berkeliaran seenaknya. Walaupun pintu pagar tidak dikunci tetapi ternak yang berada
dalam lingkaran pagar tidak berani keluar pagar. Dengan kata lain, ternak tersebut sudah terbiasa
untuk memperhatikan batas yang telah ditentukan (Saefullah Djadja, 2012). Dalam bahasa latin
kata etika disebut “ethicus” yang berarti kebiasaan, adat atau akhlak dan watak, atau kesediaan
jiwa akan kesusilaan (Solomon, 1997).
Bertens (2000) menggambarkan konsep etika dengan beberapa arti, salah satu
diantaranya dan biasa digunakan orang adalah kebiasaan, adat atau akhlak dan watak. Filsuf
besar Aristoteles, kata Bertens telah menggunakan kata etika ini dalam menggambarkan filsafat
moral, yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Dengan
memperhatikan beberapa sumber di atas, Bertens berkesimpulan bahwa ada tiga arti penting
etika, yaitu etika sebagai: 1) nilai-nilai moral dan norma-norma moral yang menjadi pegangan
bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya, atau disebut “sistem
nilai”; 2) kumpulan asas atau nilai moral yang sering dikenal dengan “kode etik”; 3) sebagai
ilmu tentang yang baik atau buruk, yang acapkali disebut “filsafat moral”.
Etika menggambarkan suatu kode perilaku yang berkaitan dengan nilai tentang mana
yang benar dan mana yang salah yang berlaku secara obyektif dalam masyarakat. Dengan
demikian, etika dapat diartikan sebagai perilaku individu dalam berinteraksi dengan
lingkungannya yang merupakan dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan atau tidak
melakukan sesuatu (Tansiha, 2015).
Etika diartikan sebagai nilai-nilai normatif atau pola perilaku seseorang atau
badan/lembaga/organisasi sebagai suatu kelaziman yang dapat diterima umum dalam interaksi
dengan lingkungannya. Dalam berorganisasi, etika tidak mungkin lagi dapat dibesar-besarkan.
Organisasi tidak mungkin berfungsi secara bertanggung jawab tanpa memiliki etika ketika
menjalankan urusan keseharian setiap organisasi, baik publik maupun swasta. Etika berkaitan
dengan baik dan buruk, benar dan salah, betul dan tidak, bohong dan jujur. Dalam berinteraksi
dengan lingkungannya orang-orang dapat menunjukkan perilaku yang dinilai baik atau buruk,
benar atau salah ketika melakukan suatu tindakan. Hal tersebut sangat bergantung kepada nilai-
nilai yang berlaku dalam lingkungan di mana orang-orang berfungsi, yang tidak jarang terdapat
penilaian yang berbeda terhadap suatu perilaku dalam lingkungan yang berbeda.
Pada teori keadilan (Faiz, 2009: 140), secara spesifik Rawls mengembangkan gagasan
mengenai prinsip-prinsip keadilan dengan menggunakan konsep “posisi asali” (original position)
dan “selubung ketidaktahuan (veil of ignorance). Dirinya berusaha untuk memosisikan adanya
situasi yang sama dan setara antara tiap-tiap orang di dalam masyarakat serta tidak ada pihak
yang memiliki posisi lebih tinggi antara satu dengan yang lainnya, seperti misalnya kedudukan,
status sosial, tingkat kecerdasan, kemampuan, keuatan, dan lain sebagainya. Sehingga, orang-
orang tersebut dapat melakukan kesepakatan dengan pihak lainnya secara seimbang. Kondisi
4
inilah yang di maksud Rawls sebagai “posisi asali” yang bertumpu pada ekuilibrium reflektif
dengan didasari oleh ciri rasionalitas (rationality), kebebasan (freedom), dan persamaan
(equality). Sementara itu, konsep “selubung ketidaktahuan” diterjemahkan oleh Rawls bahwa
setiap orang dihadapkan pada tertutupnya seluruh fakta dan keadaan tentang dirinya sendiri,
termasuk posisi sosial dan doktrin tertentu, sehingga membutakan adanya konsep atau
pengetahuan tentang keadilan yang tengah berkembang. Melalui dua teori tersebut, Rawls
mencoba menggiring masyarakat untuk memperoleh prinsip kesamaan yang adil.
Rawls menjelaskan bahwa para pihak di dalam posisi asali masing-masing akan
mengadopsi dua prinsip keadilan utama. Pertama, setiap orang memiliki hak yang sama atas
kebebasan-kebebasan dasar yang paling luas dan kompatibel dengan kebebasan-kebebasan
sejenis bagi orang lain. Kedua, ketidaksamaan sosial dan ekonomi diatur sedemikian rupa,
sehinga: (a) diperoleh manfaat sebesar-besarnya bagi anggota masyarakat yang paling tidak
diuntungkan, dan (b) jabatan-jabatan dan posisi-posisi harus dibuka bagi semua orang dalam
keadaan dimana adanya persamaan kesempatan yang adil.
Ada dua tujuan dari teori keadilan menurut John Rawls (1973), yaitu: Pertama, teori ini
mau mengartikulasikan sederet prinsip-prinsip umum keadilan yang mendasari dan menerangkan
berbagai keputusan moral yang sungguh-sungguh dipertimbangkan dalam keadaan-keadaan
khusus kita. Yang dia maksudkan dengan “keputusan moral” adalah sederet evaluasi moral yang
telah kita buat dan sekiranya menyebabkan tindakan sosial kita. Keputusan moral yang sungguh
dipertimbangkan menunjuk pada evaluasi moral yang kita buat secara refleksif.
Kedua, Rawls hendak mengembangkan suatu teori keadilan sosial yang lebih unggul atas
teori utilitarianisme. Maksudnya adalah bahwa institusi sosial dikatakan adil jika disediakan
untuk memaksimalisasi keuntungan dan kegunaan. Sedang utilitarianisme rata-rata memuat
pandangan bahwa institusi sosial dikatakan adil jika hanya diabdikan untuk memaksimalisasi
keuntungan rata-rata perkapita. Untuk kedua versi utilitarianisme tersebut “keuntungan”
didefinisikan sebagai kepuasan atau keuntungan yang terjadi melalui pilihan-pilihan. Rawls
mengatakan bahwa dasar kebenaran teorinya membuat pandangannya lebih unggul dibandingkan
dengan kedua versi utilitarianisme tersebut. Prinsip-prinsip keadilan yang ia kemukakan lebih
unggul dalam menjelaskan keputusan moral etis atas keadilan sosial (Fattah, 2013: 32-33)
Menurut Prawironegoro menunjukkan teori etika terdiri atas lima jenis yaitu (Banasuru,
2014: 132): 1) Utilitarianisme, yaitu suatu tindakan dianggap benar dan baik jika tindakan
tersebut bermanfaat bagi dirinya dan orang lain; 2) Deontologi, yaitu suatu tindakan dianggap
benar dan baik jika tindakan itu didasarkan pada suatu kewajiban; 3) Teori hak, yaitu suatu
tindakan dianggap benar dan baik jika didasarkan martabat manusia, dimana setiap kewajiban
terdapat hak; 4) Teori keutamaan, yaitu suatu tindakan dianggap benar dan jika didasarkan pada
kejujuran, kewajaran, kepercayaan dan keuletan.

5
Konsep dan Kebijakan Etika Pegawai Negeri Sipil
Menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian, Pegawai Negeri adalah setiap
warga Negara Republik Indonesia yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkatt
pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara
lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Berdasarkan pengertian tersebut maka etika pejabat publik berhubungan dengan
perbuatan seseorang yang memegang jabatan tertentu, baik dalam jam kerja maupun di luar jam
kerja dan dalam kehidupannya sehari-hari. Pendapat ini tidak jauh berbeda dengan perndapat
Fadillah (dalam Dwiyanto, 2000). Etika PNS dikenal juga dengan sebutan etika birokrasi, yang
merupakan bagian dari etika pemerintahan. Seperangkat nilai dalam etika birokrasi yang dapat
digunakan sebagai acuan, referensi, penuntun bagi birokrasi publik dalam melaksanakan tugas
dan kewenangannnya antara lain adalah: 1) efisiensi; 2) membedakan milik pribadi dan milik
kantor; 3) impersonal; 4) merytal system, nilai ini berkaitan dengan rekrutmen dan promosi
pegawai atau promosi pegawai tidak di dasarkan atas kekerabatan, namun berdasarkan
pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), sikap (attitude), kemampuan (capability), dan
pengalaman (experience), sehingga menjadikan yang bersangkutan cakap dan profesional dalam
menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dan bukan spoil system (sebaliknya); 5)
responsibility; 6) accontability; 7) responsiveness.
Prinsip-prinsip etika (kode etik) bagi Pegawai Negeri Sipil, adalah: 1) memberikan
pelayanan publik secara simpatik, efisien, cepan dan tidak diskriminatif; 2) memanfaatkan dana
publik secara tepat, efektif, dan efisien; 3) dilarang menyalahgunakan jabatan dan kedudukannya
atau informasi yang dimilikinya dalam kaitan tugasnya untuk kepentingan pribadinya atau
kelompoknya; 4) dilarang menerima keuntungan dalam bentuk apapun dari pihak ketiga yang
dapat dipandang sebagai kolusi; 5) memegang teguh kerahasiaan negara dan pemerintah dari
segala ancaman yang merugikan baik secara ekonomi maupun politis; 6) menjungjung tinggi
nilai kebenaran, kejujuran dan kehalusan budi pekerti.
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2004 juga mengatur tentang penegakan etika/kode
etik, yaitu : 1) PNS yang melakukan pelanggaran kode etik dikenakan sanksi moral; 2) Sanksi
moral dibuat tertulis dan dinyatakan oleh pejabat pembina kepegawaian; 3) Sanksi moral berupa:
pernyataan secara tertutup dan pernyataan secara terbuka; 4) PNS yang melakukan pelanggaran
kode etik selain dikenakan sanksi moral, dapat dikenakan tindakan administratif sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan.
Dari uraian tentang konsep dan kebijakan etika PNS di atas dapat disimpulkan bahwa
etika pegawai negeri sipil mengandung nilai-nilai yang merupakan pedoman sikap, tingkah laku
dan perbuatan yang berlaku bagi PNS baik dalam kehidupan bernegara, diri sendiri,
berorganisasi, bermasyarakat, dan bergaul dengan sesama PNS. Etika PNS akan berfungsi
sebagai pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan di dalam melaksanakan tugasnya.

6
Konsep Pelayanan Publik
Dalam arti sempit, pelayanan publik adalah suatu tindakan pemberian barang dan jasa
kepada masyarakat oleh pemerintah dalam rangka tanggung jawabnya kepada publik, baik
diberikan secara langsung maupun melalui kemitraan dengan swasta dan masyarakat,
berdasarkan jenis dan intensitas kebutuhan masyarakat, kemampuan masyarakat dan pasar.
Konsep ini lebih menekankan bagaimana pelayanan publik berhasil diberikan melalui suatu
delivery system yang sehat. Pelayan publik ini dapat dilihat sehari-hari di berbagai bidang,
diantaranya administrasi, keamanan, kesehatan, pendidikan, perumahan, air bersih,
telekomunikasi, transportasi, perbankan, dan sebagainya.
Sedangkan dalam arti yang luas, konsep pelayanan publik identik dengan public
administration yaitu berkorban atas nama orang lain dalam mencapai kepentingan publik. Dalam
konteks ini pelayanan publik lebih dititikberatkan kepada bagaimana elemen-elemen
administrasi publik seperti policy making, desain organisasi, dan proses manajemen
dimanfaatkan untuk mensukseskan pemberian pelayanan publik, di mana pemerintah merupakan
pihak provider yang diberi tanggungjawab (Keban dalam Djumara, dkk, 2009: 16).
Pelayanan publik menurut Agung Kurniawan (2005: 6) adalah pemberian pelayanan
(melayani) keperluan orang lain atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi
itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah di tetapkan. Lembaga Administrasi
Negara (1998) mengartikan pelayanan publik sebagai segala bentuk kegiatan pelayanan umum
yang dilaksanakan oleh instansi pemerintahan di pusat, di daerah, dan di lingkungan Badan
Usaha Milik Negara/Daerah dalam bentuk barang dan atau jasa, baik dalam rangka upaya
pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Sementara Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik,
mendefinisikan pelayanan publik sebagai kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka
pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundangundangan bagi setiap warga
negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh
penyelenggara pelayanan publik.
Mengacu kepada definisi-definisi tersebut di atas, maka pelayanan publik tentunya tidak
lepas dari kepentingan publik. Masyarakat berharap bahwa pelayanan publik dapat melayani
dengan kejujuran, pengelolaan anggaran secara tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada
publik. Pada dasarnya terdapat 4 (empat) unsur penting dalam proses pelayanan publik, yaitu
(Barata, 2004: 11):
1. Penyedia layanan, yaitu pihak yang memberikan suatu layanan tertentu kepada konsumen,
baik berupa layanan dalam bentuk penyediaan dan penyerahan barang atau jasa;
2. Penerima layanan, yaitu mereka yang disebut sebagai konsumen atau pelanggan yang
menerima berbagai layanan dari penyedia layanan;
3. Jenis layanan, yaitu layanan yang dapat diberikan oleh penyedia layanan kepada pihak yang
membutuhkan layanan;
4. Kepuasan pelanggan, dalam memberikan layanan penyedia layanan harus mengacu pada
tujuan utama pelayanan, yaitu kepuasan pelanggan.

7
Ruang lingkup pelayanan publik dalam pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 25
Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik meliputi pelayanan barang publik dan jasa publik serta
pelayanan administratif yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Pasal 5 ayat (3)
Pelayanan barang publik meliputi:
1. Pengadaan dan penyaluran barang publik yang dilakukan oleh instansi pemerintah yang
sebagian atau seluruh dananya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara
dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah;
2. Pengadaan dan penyaluran barang publik yang dilakukan oleh suatu badan usaha yang modal
pendiriannya sebagian atau seluruhnya bersumber dari kekayaan negara dan/atau kekayaan
daerah yang dipisahkan;
3. Pengadaan dan penyaluran barang publik yang pembiayaannya tidak bersumber dari
anggaran pendapatan dan belanja negara atau anggaran pendapatan dan belanja daerah atau
badan usaha yang modal pendiriannya sebagian atau seluruhnya bersumber dari kekayaan
negara dan/atau kekayaan daerah yang dipisahkan, tetapi ketersediaannya menjadi misi
negara yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.
Sementara itu, Pasal 5 ayat (4) pelayanan atas jasa publik meliputi:
1. Penyediaan jasa publik oleh instransi pemerintah yang sebagian atau seluruh dananya
bersumber darri anggran pendapatan dan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan dan
belanja daerah;
2. Penyediaan jasa publik oleh suatu badan usaha yang modal pendiriannya sebagian atau
seluruhnya bersumber dari kekayaan negara dan/atau kekayaan daerah yang dipisahkan;
3. Penyediaan jasa publik yang pembiayaannya tidak bersumber dari anggaran pendapatan dan
belanja negara atau anggaran pendapatan dan belanja daerah atau badan usaha yang modal
pendiriannya sebagian atau seluruhnya bersumber dari kekayaan negara dan/atau kekayaan
daerah yang dipisahkan, tetapi ketersediaannya menjadi misi negara yang ditetapkan dalam
peraturan perundang-undangan.
Selanjutnya pada pasal 5 ayat (7) pelayanan administrasi meliputi:
1. Tindakan administratif pemerintah yang diwajibkan oleh negara dan diatur dalam peraturan
peundang-undangan dalam rangka mewujudkan perlindungan pribadi, keluarga, kehormatan,
martabat, dan harta benda;
2. Tindakan administratif oleh instansi nonpemerintah yang diwajibkan oleh negara dan diatur
dalam peraturan perundang-undangan serta diterapkan berdasarkan perjanjian dengan
penerima layanan.
Dalam hal institusi pemerintah memberikan pelayanan, maka yang terpenting adalah
bagaimana memberikan bantuan dan kemudahan kepada masyarakat dalam rangka memenuhi
kebutuhan dan kepentingannya. Suatu pelayanan bermutu yang diberikan kepada masyarakat
menuntut adanya upaya dari seluruh pegawai, dan bukan hanya dari petugas di front office. Jadi,
upaya itu tidak hanya dituntut dari mereka yang berhadapan langsung dengan masyaraakt dalam
menghasilkan pelayanan yang mencerminkan kualitas sikap pegawai tersebut, tetapi juga dari
para pegawai di back office yang menghasilkan layanan di belakang layar yang tidak kelihatan
oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan tugas apa saja yang dilakukan oleh setiap pegawai
mengandung unsur pelayanan yang pada gilirannya akan mempengaruhi mutu pelayanan jasa
8
produk dari instansi dimana pegawai tersebut bekerja yang diterima oleh masyarakat
(Taufiqurokhman, Satispi, E., 2018: 90).
Begitu pentingnya profesionalisasi pelayanan publik ini bagi setiap lini organisasi
pemerintahan di Indonesia, pemerintah melalui Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
telah mengeluarkan suatu kebijakan Nomor 81 Tahun 1993 tentang Pedoman Tatalaksana
Pelayanan Umum yang perlu dipedomani oleh setiap birokrasi publik dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat berdasar prinsip-prinsip pelayanan sebagai berikut :
1. Kesederhanaan - dalam arti bahwa prosedur dan tata cara pelayanan perlu ditetapkan dan
dilaksanakan secara mudah, lancar, cepat, tepat, tidak berbelitbelit, mudah dipahami dan
mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang meminta pelayanan.
2. Kejelasan dan Kepastian - dalam arti adanya kejelasan dan kepastian dalam hal prosedur dan
tata cara pelayanan, persyaratan pelayanan baik teknis maupun administratif, unit kerja
pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam meberikan pelayanan, rincian biaya
atau tarif pelayanan dan tata cara pembayaran, dan jangka waktu penyelesaian pelayanan.
3. Keamanan - dalam arti adanya proses dan produk hasil pelayanan yang dapat memberikan
keamanan, kenyamanan dan kepastian hukum bagi masyarakat.
4. Keterbukaan - dalam arti bahwa prosedur dan tata cara pelayanan, persyaratan, unit kerja
pejabat penanggung jawab pemberi pelayanan, waktu penyelesaian, rincian biaya atau tarif
serta hal-hal lain yang berkaitan dengan proses pelayanan wajib diinformasikan secara
terbuka agar mudah diketahui dan dipahami oleh masyarakat, baik diminta maupun tidak
diminta.
5. Efesiensi - dalam arti bahwa persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal- hal yang
berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tetap memperhatikan
keterpaduan antara persyaratan dengan produk pelayanan.
6. Ekonomis - dalam arti bahwa pengenaan biaya atau tarif pelayanan harus ditetapkan secara
wajar dengan memperhatikan: nilai barang dan jasa pelayanan, kemampuan masyarakat
untuk membayar, dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
7. Keadilan dan Pemerataan - yang dimaksudkan agar jangkauan pelayanan diusahakan seluas
mungkin dengan distribusi yang merata dan adil bagi seluruh lapisan masyarakat.
8. Ketepatan Waktu - pelaksanaan pelayanan harus dapat diselesaikan tepat pada waktu yang
telah ditentukan.

Konsep Etika Pelayanan Publik


Setiap birokrasi pelayan publik wajib memiliki sikap mental dan perilaku yang
mencerminkan keunggulanwatak, keluharan budi, dan asas etis. Ia wajib mengembangkan diri
sehingga sungguh-sungguh memahami, menghayati, dan menerapkan berbagai asas etis yang
bersumber pada kebajikan-kebajikan moral khususnya keadilan dalam tindakan jabatannya.
Secara umum nilai-nilai moral terlihat dari enam nilai besar atau yang dikenal dengan ‘six great
ideas’ yaitu nilai kebenaran (truth), kebaikan (goodness), keindahan (beauty), kebebasan
(liberty), kesamaan (equality), dan keadilan (justice). Dalam kehidupan bermasyarakat,
seseorang sering dinilai dari tutur katanya, sikap dan perilakunya sejalan dengan nilai-nilai
tersebut atau tidak.
9
Begitu pula dalam pemberian pelayanan publik, tutur kata, sikap dan perilaku para
pemberi pelayanan seringkali dijadikan obyek penilaian di mana nilainilai besar tersebut
dijadikan ukurannya. Di samping nilai-nilai dasar tersebut, mungkin ada juga nilai-nilai lain yang
dianggap penting untuk mensukseskan pemberian pelayanan, yang dari waktu ke waktu terus
dinilai, dikembangkan dan dipromosikan. Nilai-nilai tersebut sering dilihat sebagai ‘muatan
lokal’ yang wajib diikuti seperti keteladanan yang baik, rasa empati yang tinggi, memiliki agama
yang jelas, bertaqwa, dan sebagainya. (Taufiqurokhman, Satispi, E., 2018: 154).
Dalam dunia pelayanan publik, etika diartikan sebagai filsafat moral atau nilai, dan
disebut dengan ‘profesional standars’ (kode etik) atau ‘right rules of conduct’ (aturan perilaku
yang benar) yang seharusnya dipatuhi oleh pemberi pelayanan publik. Sebuah kode etik
merumuskan berbagai tindakan apa, kelakuan mana, dan sikap bagaimana yang wajib dijalankan
atau dihindari oleh para pemberi pelayanan. Aplikasi etika dan moral dalam praktek dapat dilihat
dari kode etik yang dimiliki oleh birokrasi publik.
Untuk membantu menerapkan prinsip-prinsip etika dan moral di Indonesia, pengalaman
negara-negara lain perlu ditimba. Etika perumusan kebijakan, etika pelaksana kebijakan, etika
evaluator kebijakan, etika administrasi publik/birokrasi publik/pelayanan publik, etika
perencanaan publik, etika PNS, dan sebagainya, harus diprakarsai dan mulai diterapkan sebelum
berkembangnya budaya yang bertentangan dengan moral dan etika. Prinsip-prinsip etika
pelayanan publik yang dikembangkan oleh Institute Josephson America dapat digunakan sebagai
rujukan atau referensi bagi para birokrasi publik dalam memberikan pelayanan, antara lain
adalah sebagai berikut:
1. Jujur, dapat dipercaya, tidak berbohong, tidak menipu, mencuri, curang, dan berbelit-belit;
2. Integritas, berprinsip, terhormat, tidak mengorbankan prinsip moral, dan tidak bermuka dua;
3. Memegang janji. Memenuhi janji serta mematuhi jiwa perjanjian sebagaimana isinya dan
tidak menafsirkan isi perjanjian itu secara sepihak;
4. Setia, loyal, dan taat pada kewajiban yang semestinya harus dikerjakan;
5. Adil. Memperlakukan orang dengan sama, bertoleransi dan menerima perbedaan serta
berpikiran terbuka;
6. Perhatian. Memperhatikan kesejahteraan orang lain dengan kasih sayang, memberikan
kebaikan dalam pelayanan;
7. Hormat. Orang yang etis memberikan penghormatan terhadap martabat manusia privasi dan
hak menentukan nasib bagi setiap orang;
8. Kewarganegaraan, kaum profesional sektor publik mempunyai tanggungjawab untuk
menghormati dan menghargai serta mendorong pembuatan keputusan yang demokratis;
9. Keunggulan. Orang yang etis memperhatikan kualitas pekerjaannya, dan seorang profesional
publik harus berpengetahuan dan siap melaksanakan wewenang publik (The Liang Gie.
2006. Etika Administrasi Pemerintahan. Jakarta: Universitas Terbuka).
10. Akuntabilitas. Orang yang etis menerima tanggungjawab atas keputusan, konsekuensi yang
diduga dari dan kepastian mereka, dan memberi contoh kepada orang lain;
11. Menjaga kepercayaan publik. Orang-orang yang berada di sektor publik mempunyai
kewajiban khusus untuk mempelopori dengan cara mencontohkan untuk menjaga dan
meningkatkan integritas dan reputasi proses legislatif
10
Para administrator negara tidak hanya terlibat untuk mencegah hal yang salah, tetapi juga
untuk mengusahakan hal yang benar melalui pelaksanaan tanggungjawab engan penuh dan tepat
pada waktunya. Nilai-nilai etika di atas dapat digunakan sebagai rujukan bagi birokrasi publik
dalam bersikap, bertindak, dan berperilaku dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,
sekaligus dapat digunakan standar untuk menilai, apakah sikap, tindakan, perilaku dan pelayanan
yang diberikannya itu dinilai baik atau buruk oleh publik. Sejalan dengan penilaian tersebut
Jabbra dan Dwivedi mengatakan bahwa untuk menjamin kinerja pegawai sesuai dengan standard
dan untuk meminimalkan penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat pemerintah, maka aparat harus
mampu mengembangkan 5 macam akuntabilitas, yaitu (Taufiqurokhman, Satispi, E., 2018: 159):
1. Pertama - akuntabilitas administratif (organisasional). Dalam akuntabilitas ini, diperlukan
adanya hubungan hirarkhis yang tegas di antara pusat-pusat pertanggungjawaban dengan
unit-unit di bawahnya. Hubungan-hubungan hirarkhis ini biasanya telah ditetapkan dengan
jelas baik dalam aturanaturan organisasi yang disampaikan secara formal ataupun dalam
bentuk hubungan jaringan informal. Prioritas pertanggungjawaban lebih diutamakan pada
jenjang pimpinan atas dan diikuti terus ke bawah, dan pengawasan dilakukan secara intensif
agar aparat tetap menuruti perintah yang diberikan. Pelanggaran terhadap perintah akan
diberikan peringatan mulai dari yang paling ringan sampai pemecatan.
2. Kedua - akuntabilitas legal. Ini adalah bentuk pertanggungjawaban setiap tindakan
administratif dari aparat pemerintah di badan legislatif dan/ atau di depan makamah. Dalam
hal pelanggaran kewajiban-kewajiban hukum ataupun ketidakmampuannya memenuhi
keinginan legislatif, maka pertanggungjawaban aparat atas tindakan-tindakannya dapat
dilakukan di depan pengadilan ataupun lewat proses revisi peraturan yang dianggap
bertentangan dengan undang-undang (judicial review).
3. Ketiga - akuntabilitas politik. Para administrator yang terkait dengan kewajiban menjalankan
tugas-tugasnya mengikuti adanya kewenangan pemegang kekuasaan politik untuk mengatur,
menetapkan prioritas dan pendistribusian sumber-sumber dan menjamin adanya kepatuhan
pelaksanaan perintahperintahnya. Para pejabat politik itu juga harus menerima
tanggungjawab administratif dan legal karena mereka punya kewajiban untuk menjalankan
tugas-tugasnya dengan baik.
4. Keempat - akuntabilitas profesional. Sehubungan dengan semakin meluasnya
profesionalisme di organisasi publik, para aparat profesional (seperti dokter, insinyur,
pengacara, ekonom, akuntan, pekerja sosial dan sebagainya) mengharap dapat memperoleh
kebebasan yang lebih besar dalam melaksanakan tugas-tugasnya dan dalam menetapkan
kepentingan publik. Kalaupun mereka tidak dapat menjalankan tugasnya mereka
mengharapkan mememperoleh masukan untuk perbaikan. Mereka harus dapat
menyeimbangkan antara kode etik profesinya dengan kepentingan publik, dan dalam hal
kesulitan mempertemukan keduanya maka mereka harus lebih mengutamakan
akuntabilitasnya kepada kepentingan publik.
5. Kelima - akuntabilitas moral. Telah banyak diterima bahwa pemerintah memang selayaknya
bertanggungjawab secara moral atas tindakantindakannya. Landasan bagi setiap tindakan
pegawai pemerintah seharusnya diletakan pada prinsip-prinsip moral dan etika sebagaimana

11
diakui konstitusi dan peraturan-peraturan lainnya serta diterima oleh publik sebagai norma
dan perilaku sosial yang telah mapan.
Harbani mengatakan bahwa untuk menilai baik buruknya suatu pelayanan publik yang
diberikan oleh birokrasi publik dapat dilihat dari baik buruknya penerapan nilai-nilai sebagai
berikut: 1) Pertama - efesiensi, yaitu para birokrat tidak boros dalam melaksanakan tugas-tugas
pelayanan kepada masyarakat. Dalam artian bahwa para birokrat secara berhati-hati agar
memberikan hasil yang sebesar-besarnya kepada publik. Dengan demikian nilai efesiensi lebih
mengarah pada penggunaan sumber daya yang dimiliki secara cepat dan tepat, tidak boros dan
dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Jadi dapat dikatakan baik (etis) jika birokrasi
publik menjalankan tugas dan kewenangannya secara efesien. 2) Kedua - efektivitas, yaitu pada
birokrat dalam melaksanakan tugas-tugas pelayanan kepada publik harus baik (etis) apabila
memenuhi target atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya tercapai. Tujuan yang dimaksud
adalah tujuan publik dalam mencapai tujuannya, bukan tujuan pemberi pelayanan (birokrasi
publik). 3) Ketiga - kualitas layanan, yaitu kualitas pelayanan yang diberikan oleh pada birokrat
kepada publik harus memberikan kepuasan kepada yang dilayani. Dalam artian bahwa baik (etis)
tidaknya pelayanan yang diberikan birokrat kepada publik ditentukan oleh kualitas pelayanan. 4)
Keempat - responsivitas, yaitu berkaitan dengan tanggung jawab birokrat dalam merespon
kebutuhan publik yang sangat mendesak. Birokrat dalam menjalankan tugasnya dinilai baik (etis)
jika responsibel dan memiliki profesional atau kompetensi yang sangat tinggi. 5) Kelima -
akuntabilitas, yaitu berkaitan dengan pertanggungjawaban dalam melaksanakan tugas dan
kewenangan pelayanan publik. Birokrat yang baik (etis) adalah birokrat yang akuntabel dalam
melaksanakan tugas dan kewenangannya.
Modal sosial (Social Capital) dalam pelayanan publik juga perlu dibangun untuk
menghasilkan pelayanan publik yang sesuai dengan harapan penerima layanan. Modal sosial
didefinisikan sebagai praktik-praktik sosial yang merujuk pada koneksitas antar-individu,
jaringan sosial, norma-norma kesalinghubungan dan kesaling-percayaan yang terbangun antar
individu, sehingga terjalin kerjasama yang saling menguntungkan, untuk mencapai tujuan
bersama. Modal sosial juga dipahami sebagai pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki
bersama oleh komunitas, serta pola hubungan yang memungkinkan sekelompok individu
melakukan satu kegiatan yang produktif. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh
Bank Dunia, yang memaknai modal sosial sebagai praktik sosial yang melibatkan aspek jaringan
sosial untuk memediasi peluang-peluang dan hasil-hasil pembangunan (Taufiqurokhman, Satispi,
E., 2018: 252).
Modal sosial, dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pelayanan publik, mengacu
kepada usaha-usaha pemupukan hubungan dan interaksi sosial antar warga masyarakat maupun
antara warga dengan aparat pelayanan publik. Dalam hal ini, jalinan dan jaringan sosial antar
warga diperlukan untuk memberikan kontrol pada pelayanan publik yang diselenggarakan
pemerintah. Organisasiorganisasi sosial, menurut Robert Putnam merupakan pemunculan dari
modal sosial yang memfasilitasi masyarakat untuk bekerja mencapai tujuan bersama. Social
capital is the social glue that helps people, organisations and communities to work together
towards shared goals. It comes from everyday contact between people, as a result of their
forming social connections and networks based on trust, sharedvalues, and reciprocity or take
12
and. (Modal sosial merupakan perekat sosial yang membantu masyarakat, dan organisasi untuk
bekerja bersama menuju tujuan bersama. Modal sosial muncul dari hubungan antar orang setiap
hari sebagai hasil dari koneksitas dan jejaring sosial berlandaskan kepercayaan nilai-nilai
bersama dan saling memberi-menerima).
Perekat sosial, terlahir dari interaksi sosial dan ikatan-ikatan emosional yang menyatukan
orang untuk mencapai tujuan bersama (shared goals), yang kemudian menumbuhkan
kepercayaan yang tumbuh dari relasi tersebut. Dengan demikian, rasa saling percaya, kepatuhan
pada norma-norma sosial serta jejaring sosial yang mampu meningkatkan efisiensi kinerja
masyarakat, merupakan elemen penting modal sosial yang ada dalam berbagai organisasi
kemasyarakatan. Kondisi ini terjadi pada interaksi sosial yang berlangsung dalam waktu yang
cukup lama. Jalinan dan jaringan kerjasama sosial ini semakin berfungsi jika terdapat ruang
publik yang menjamin terjadinya interaksi sosial dan dialog antar warga maupun antara warga
dengan aparat pelayanan publik, untuk merumuskan secara bersama-sama pelayanan publik yang
diharapkan warga (baca: sub bahasan Civil Society dan Ruang Publik).
Dalam konteks penyelenggaraan pelayanan publik yang baik dan berintegritas, pelayanan
publik semestinya didialogkan atau dikonsultasikan kepada public (masyarakat) melalui jalinan
kerjasama sosial bersama warga. Dan warga pun menyambut melalui jalinan komunikasi-aksi
yang seimbang. Elemen modal sosial inilah yang bersambut dengan apa yang disebut oleh Jurgen
Habermas sebagai public-sphere (ruang publik) dan deliberative public policy (kebijakan publik
yang dikonsultasikan kepada publik) dalam kerangka communicative action.

13
BAB III
PEMBAHASAN

Profil Kanwil Kementerian Hukum dan HAM D.I. Yogyakarta


Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Daerah Istimewa
Yogyakarta (Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta) merupakan instansi vertikal sebagai
pelaksana program dan tugas-tugas serta kebijakan dari Kementerian Hukum dan HAM
Republik Indonesia di daerah. Beralamat di Jalan Gedongkuning No. 146 Yogyakarta, Kanwil
Kemenkumham D.I. Yogyakarta mempunyai peran strategis terutama di bidang hukum dan hak
asasi manusia. Sebagian kegiatannya berupa Pembinaan, Pengendalian dan Pengawasan terhadap
pelaksanaan tugas dari Unit Pemasyarakatan, Unit Imigrasi, dan kegiatan Administrasi serta
Pelayanan Jasa Hukum dan HAM di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
Nomor 7 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Hukum dan HAM Tahun 2015-
2019 telah dirumuskan visi dan misi Kementerian Hukum dan HAM sebagai kerangka dasar
serta arah pelaksanaan kebijakan dan kegiatan prioritas pelaksanaan tugas dan fungsi, yakni:
Visi : Masyarakat Memperoleh Kepastian Hukum
Misi :
a. Mewujudkan Peraturan Perundang-Undangan yang berkualitas;
b. Mewujudkan Pelayanan Hukum yang Berkualitas;
c. Mewujudkan Penegakan Hukum yang Berkualitas;
d. Mewujudkan Penghormatan, Pemenuhan dan Perlindungan HAM;
e. Mewujudkan Layanan Manajemen Administrasi Kementerian Hukum dan HAM; serta
f. Mewujudkan Aparatur Kementerian Hukum dan HAM yang Profesional dan Berintegritas.
Selain itu Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM D.I. Yogyakarta memiliki Tata
Nilai yang menjadi pedoman dalam mewujudkan visi dan misi, yaitu “JOGJA PASTI
ISTIMEWA” (Profesional, Akuntabel, Sinergi, Transparan, Inovatif, Integritas, Santun, Tertib,
Inspiratif, Melayani, Empati, Wibawa dan Amanah).
Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta mempunyai tugas melaksanakan tugas dan
fungsi Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia dalam wilayah Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta berdasarkan kebijakan Menteri Hukum dan HAM dan ketentuan
perundang-undangan. Untuk melaksanakan tugas tersebut, kantor wilayah menyelenggarakan
fungsi antara lain:
a. Pengkoordinasian, perencanaan, pengendalian program dan pelaporan;
b. Pelaksanaan pelayanan di bidang administrasi hukum umum, kekayaan intelektual, dan
pemberian informasi hukum;
c. Pelaksanaan fasilitas perancangan produk hukum daerah dan pengembangan budaya hukum
serta penyuluhan, konsultasi dan bantuan hukum;
d. Pengordinasian pelaksanaan operasional Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Kementerian
Hukum dan HAM di bidang keimigrasian dan bidang pemasyarakatan;
e. Penguatan dan pelayanan hak asasi manusia dalam rangka mewujudkan penghormatan,
pemenuhan, pemajuan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia; dan
14
f. Pelaksanaan urusan administrasi di lingkungan kantor wilayah.
Berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor 30 Tahun
2018, tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia, Kantor Wilayah dipimpin oleh seorang kepala kantor wilayah dan
mengkoordinasikan tugas para kepala divisi. Terdapat empat divisi pada Kanwil Kemenkumham
D.I. Yogyakarta di bawah koordinasi kepala kantor wilayah, yaitu Divisi Admistrasi, Divisi
Pemayarakatan, Divisi Keimigrasian dan Divisi Pelayanan Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Divisi Administrasi memiliki tugas melaksanakan sebagaian tugas kantor wilayah di
bidang pembinaan dan dukungan administrasi di lingkungan kantor wilayah berdasarkan
peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang ditetapkan oleh Sekretaris Jenderal. Untuk
melaksanakan tugas tersebut, Divisi Administrasi menyelenggarakan fungsi:
a. Pengoordinasian kegiatan di lingkungan kantor wilayah;
b. Pengoordinasian dan penyusunan rencana, program, kegiatan dan anggaran, serta evaluasi
dan pelaporan;
c. Pengoordinasian fasilitasi penataan organisasi, tata laksana dan reformasi birokrasi;
d. Penggordinasian dan pelaksanaan urusan kepegawaian, pengelolaan keuangan, dan barang
milik negara;
e. Pengoordinasian dan pelaksanaan pengaduan, dan pengolaan teknologi informasi;
f. Pengoordinasian pengelolaan pengembangan kompetensi sumber daya manusia di
lingkungan kantor wilayah; dan
g. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga di lingkungan kantor wilayah.
Divisi Pemasyarakatan mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Direktorat
Jenderal Pemasyarakatan di wilayah. Untuk melaksanakan tugasnya, Divisi Pemasyarakatan
menyelenggarakan fungsi:
a. Pembinaan dan pengendalian pelaksanaan tugas teknis di bidang pembinaan narapidana dan
latihan kerja produksi, bimbingan kemasyarakatan dan pengentasan anak, teknologi
informasi dan kerja sama, pelayanan tahanan, perawatan kesehatan dan rehabilitasi,
pengelolaan benda sitaan dan barang rampasan negara, serta keamanan dan ketertiban;
b. Pelaksanaan kerja sama, pemantauan, evaluasi, dan penyusunan laporan pelaksananaan tugas
teknis di bidang pembinaan narapidana dan latihan kerja produksi, bimbingan
kemasyarakatan dan pengentasan anak, teknologi informasi dan kerja sama, pelayanan
tahanan, perawatan kesehatan dan rehabilitasi, pengelolaan benda sitaan dan barang
rampasan negara, serta keamanan dan ketertiban;
c. Penyusunan rencana, program, kegiatan, dan anggaran di lingkungan Divisi Pemasyarakatan;
dan
d. Pengoordinasian perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan sumber daya manusia, sarana dan
prasarana, serta administrasi keuangan di lingkungan Unit Pelaksana Teknis Direktorat
Jenderal Pemasyarakatan berkoordinasi dengan Divisi Administrasi.
Divisi Keimigrasian mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Direktorat Jenderal
Imigrasi di wilayah. Untuk melaksanakan tugas tersebut, Divisi Keimigrasian menyelenggarakan
fungsi:

15
a. Pembinaan, pengendalian dan pengawasan pelaksanaan tugas teknis di bidang perizinan,
pemberian persetujuan perizinan, sistem dan teknologi informasi, intelijen, pengawasan,
penindakan keimigrasian;
b. Pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan penyusunan laporan pelaksanaan tugas teknis di
bidang perizinan, pemberian persetujuan perizinan, sistem teknologi informasi, intelijen,
pengawasan, dan penindakan keimigrasian;
c. Penyusunan rencana, program, kegiatan, dan anggaran di lingkungan Divisi Keimigrasian;
dan
d. Pengoordinasian perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan sumber daya manusia, sarana
dan prasarana, serta administrasi keuangan di lingkungan Unit Pelaksana Teknis Direktorat
Jenderal Imigrasi berkoordinasi dengan Divisi Administrasi.
Divisi Pelayanan Hukum dan Hak Asasi Manusia mempunyai tugas melaksanakan
sebagian tugas Direktorat Jenderal dan Badang yang bersangkutan di wilayah. Untuk
melaksanakan tugasnya, Divisi Pelayanan Hukum dan Hak Asasi Manusia menyelenggarakan
fungsi:
a. Pembinaan dan pengendalian pelaksanaan tugas teknis di bidang pelayanan administrasi
hukum umum dan kekayaan intelektual, pelaksanaan pembinaan hukum, fasilitasi
pembentukan produk hukum daerah, fasilitasi analisis dan evaluasi hukum di daerah,
pengoordinasian pemajuan hak asasi manusia di wilayah, pengoordinasian pengkajian,
penelitian, dan pengembangan di bidang hukum dan hak asasi manusia, dan pemantauan
pelaksanaan tugas Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Administrasi
Hukum Umum, sereta pembinaan, pengembangan, dan pengendalian pelaksanaan tugas
perancang peraturan perundang-undangan, penyuluh hukum, peneliti, serta pejabat
fungsional tertentu lainnya;
b. Pelaksanaan kerja sama, pemantauan, evaluasi, dan penyusunan laporan pelaksanaan tugas
teknis di bidang pelayanan administrasi hukum umum dan kekayaan intelektual,
pelaksanaan pembinaan hukum, fasilistasi pembentukan produk hukum daerah, fasilitasi
analisis dan evaluasi hukum di daerah, pengoordinasian pemajuan hak asasi manusia di
wilayah, pengoordinasian pengkajian, penelitian, dan pengembangan di bidang hukum dan
hak asasi manusia, dan pemantauan pelaksanaan tugas Unit Pelaksana Teknis di lingkungan
Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, serta pembinaan, pengembangan, dan
pengendalian pelaksanaan tugas perancang peraturan perundang-undangan, penyuluh
hukum, peneliti, serta pejabat fungsional tertentu lainnya;
c. Penyusunan rencana, program, kegiatan, dan anggaran di lingkungan Divisi Pelayanan
Hukum dan Hak Asasi Manusia; dan
d. Pengoordinasian perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan sumber daya manusia, sarana
dan prasarana, serta administrasi keuangan di lingkungan Unit Pelaksana Teknis di
lingkungan Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum berkoordinasi dengan Divisi
Administrasi.
Sesuai dengan yang tercantum pada tugas dan fungsi di atas, Kantor wilayah memiliki
tugas untuk mengkoordinasikan Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berada di bawahnya, baik
UPT Pemasyarakatan maupun Keimigrasian. Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta memiliki
16
sebanyak 1 unit pelaksana teknis keimigrasian dan 15 UPT pemasyarakatan 4 unit Lembaga
Pemasyarakatan (Lapas), 1 unit Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), 4 unit Rumah
Tahanan Negara (Rutan), 4 unit Rupbasan (Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara), dan 2
unit Balai Pemasyarakatan (Bapas), dengan rincian sebagai berikut: 1) Kantor Imigrasi Kelas I
TPI Yogyakarta, 2) Lapas Kelas II A Yogyakarta, 3) Lapas Narkotika Kelas II A Yogyakarta, 4)
Lapas Kelas II B Sleman, 5) Lapas Perempuan Kelas II B Yogyakarta, 6) Lembaga Pembinaan
Khusus Anak Kelas II Yogyakarta, 7) Rutan Kelas II A Yogyakarta, 8) Rutan Kelas II B Bantul,
9) Rutan Kelas II B Wonosari, 10) Rutan Kelas II B Wates, 11) Rupbasan Kelas I Yogyakarta,
12) Rupbasan Kelas II Bantul, 13) Rupbasan Kelas II Wonosari, 14) Rupbasan Kelas II Wates,
15) Bapas Kelas I Yogyakarta, 16) Bapas Kelas II Wonosari.
Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta hingga pada bulan Oktober 2019 tercatat
memiliki sebanyak 184 Pegawai. Jumlah pegawai tersebut terdiri dari kepala kantor wilayah,
pejabat struktural dan staf yang terbagi dalam 4 divisi, dengan perincian sebagai berikut: 1)
Divisi Administrasi terdapat 52 pegawai yang terdiri dari 7 pejabat struktural dan 45 staf; 2)
Divisi Pemasyarakatan terdapat 28 pegawai yang terdiri dari 5 pejabat struktural dan 23 staf;
Divisi Keimigrasian terdapat 15 pegawai yang terdiri dari 5 pejabat struktural dan 10 staf; dan 4)
Divisi Pelayanan Hukum terdapat 88 pegawai yang terdiri dari 10 pejabat struktural dan 78 staf.

Pelayanan Publik Kanwil Kementerian Hukum dan HAM D.I. Yogyakarta


Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta, sebagai instansi vertikal di bawah Kementerian
Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia yang memiliki cakupan wilayah kerja di
Daerah Istimewa Yogyakarta, menyelenggarakan berbagai macam bentuk layanan publik.
Sebagai penyelenggara layanan publik, jajaran Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta telah
menyusun Maklumat Layanan Publik Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta, yang berisikan 6
poin komitmen pelayanan publik, yaitu: 1) Memberikan pelayanan yang cepat, sederhana,
transparan, akuntabel dan mudah sesuai dengan ketentuan; 2) Memberikan pelayanan yang adil,
tidak diskriminatif dan berperilaku sopan dan santun; 3) Memberikan pelayanan yang
semaksimal mungkin memanfaatkan teknologi informasi sehingga mudah diakses oleh
masyarakat; 4) Memberikan pelayanan dengan penuh integritas tidak melakukan pungutan liar;
5) Memberikan pelayanan dengan jujur, ikhlas dan penuh semangat; 6) Apabila tidak menepati
maklumat tersebut, siap menerima sanksi sesuai peraturan perundangan-undangan yang berlaku.
Teks Maklumat tersebut dalam bentuk visual dapat ditemukan dan diakses di beberapa titik
ruang pelayanan publik, website dan juga media sosial kantor wilayah.
Selain dokumen maklumat pelayanan publik, Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta
menyusun Dokumen Standar Pelayanan Publik. Yang mana dokumen tersebut diantaranya
berisikan tentang persyaratan pelayanan, Standar Operasional Prosedur (SOP), mekanisme,
jangka waktu penyelesaian, biaya/tarif, produk pelayanan, saranan prasarana dan fasilitas,
kompetensi petugas, pengawasan internal, penanganan pengaduan, jaminan pelayanan, jaminan
keamanan dan keselamatan pelayanan serta evaluasi kinerja pelaksana. Dokumen tersebut
ditandatangani oleh Kepala Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta, disusun satu kali dalam
satu tahun.

17
Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta
terbagi dalam empat divisi, yaitu Divisi Administrasi, Divisi Pemasyarakatan, Divisi
Keimigrasian dan Divisi Pelayanan Hukum dan HAM yang mana masing-masing divisi memiliki
turunan bentuk pelayanan publik yang diberikan. Divisi Administrasi menyediakan pelayanan
publik berupa Layanan Pengaduan Masyarakat, Whistle Blowing System, Ijin Penelitian,
Penyediaan Data dan Informasi, dan Layanan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM). Divisi
Pemasyarakatan memberikan pelayanan publik berupa Informasi Remisi Online, Cuti Bersyarat
(CB) Online, CMB (Cuti Menjelang Bebas), Kunjungan UPT, Ijin Penelitian Pemasyarakatan,
dan Informasi Pemasyarakatan lainnya. Divisi Keimigrasian menyediakan layanan publik berupa
Informasi Keimigrasian, Pengawasan Orang Asing, dan Ijin Tinggal Keimigrasian. Divisi
Pelayanan Hukum dan HAM menyediakan pelayanan publik berupa Permohonan Merk,
Permohonan Paten, Permohonan Desain Industri, Fidusia, Kewarganegaraan, Bantuan Hukum,
dan Penyuluhan Hukum. Adapun dari berbagai bentuk pelayanan publik tersebut, terdapat 5
bentuk pelayanan yang dijadikan layanan unggulan Tahun 2019 Kanwil Kemenkumham D.I.
Yogyakarta, yaitu Layanan Pendaftaran Desain Industri, Layanan Pendaftaran Merk, Layanan
Pendaftaran Paten, Layanan Izin Penelitian Pemasyarakatan, dan Layanan Izin Tinggal
Keimigrasian.
Dalam menjalankan fungsi pelayanan publik tersebut, Kanwil Kemenkumham DIY
memiliki Pusat Pelayanan Terpadu, di mana berbagai macam bentuk layanan publik yang
merupakan gabungan dari pelayanan pemasyarakatan, pelayanan keimigrasian dan pelayanan
hukum dan HAM tersedia dalam satu ruangan yang dapat dengan mudah diakses masyarakat.
Pusat Pelayanan Terpadu tersebut memiliki beberapa fasilitas penunjang pelayanan publik,
antara lain mesin antrian, ruang tunggu, kudapan dan minuman untuk publik, toilet,
perpustakaan, tempat bermain anak dan ruang laktasi.
Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DIY telah menerapkan konsep
Electronic Government (E-Gov), yaitu memanfaatkan Teknologi Informasi dengan penggunaan
beberapa aplikasi stand alone maupun berbasis website dalam kegiatan administasi pemerintahan
dan penyelenggaraan pelayanan publik. Kegiatan bidang administrasi, manajemen, dan
kepegawaian diakomodir dengan beberapa aplikasi stand alone dan berbasis website
diantaranya: Administrasi Surat Masuk dan Keluar (SISUMAKER), e-Office penomoran surat,
aplikasi Pengukuran Kinerja e-Perfomance, Aplikasi Penjadwalan Kegiatan (JALINANMIN),
Monitoring Anggaran e-Monev Bappenas, Monitoring Anggaran Smart DJA, Aplikasi Target
Kinerja, Sistem Pelaporan, Aplikasi Pengelola Keuangan (GPP, POK, SAS, SAIBA, SIMAK,
RKAKL), Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian (SIMPEG), dan lain-lain.
Dalam bidang pelayanan terhadap masyarakat beberapa aplikasi yang digunakan antara
lain: Aplikasi Pengawasan Orang Asing (APOA), Aplikasi Pendaftaran Antrian Paspor Online
(APAPO), Sistem Database Pemasyarakatan (SDP), SMS Gateway, Layanan Administrasi
Hukum Umum, Sistem Informasi Elektronik Monitoring Notaris (SiEMON), Layanan Kekayaan
Intelektual (permohonan Merek, permohonan Paten, permohonan Hak Cipta, permohonan
Desain Industri, permohonan Indikasi Geografis). Sedangkan untuk menampung aspirasi dan
pengaduan masyarakat digunakan Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (LAPOR),

18
Unit Pelaporan Gratifikasi dan Whistle Blowing System pada laman Kementerian Hukum dan
HAM DIY.
Selain itu pada Tahun 2019 Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta juga membangun
aplikasi sistem terpadu yang menggabungkan beberapa pelayanan dari lintas divisi dalam satu
aplikasi online yang dapat diakses seluruh masyarakat, yaitu Aplikasi Sistem Informasi
Pelayanan Publik Terpadu. Aplikasi ini mengakomodir berbagai layanan yang sebelumnya
terpencar. Beberapa layanan yang tercakup dalam aplikasi ini antara lain :
1. Pelayanan Informasi Keimigrasian
Dalam layanan ini mencakup beberap menu yaitu: Pelacakan Layanan Keimigrasian dengan
memasukkan nomor permohonan, Aplikasi Pelaporan Orang Asing, dan Ijin Tinggal
Terbatas bagi WNA.
2. Pelayanan Pemasyarakatan
Dalam layanan ini mencakup beberapa menu yaitu: Informasi Pemasyarakatan, SDP, Ijin
Penelitian Online, dan Konsultasi terkait Pemasyarakatan.
3. Pelayanan Hukum dan HAM
Dalam layanan inPi mencakup beberapa menu yaitu: Sistem Informasi Elektronik Monitoring
Notaris (SiEMON), Layanan Kekayaan Intelektual (Permohonan Merk, Permohonan Paten,
Permohonan Hak Cipta, Permohonan Desain Industri, Permohonan Indikasi Geografis), dan
Layanan Administrasi Hukum Umum.
4. Pelayanan Aspirasi dan Pengaduan Masyarakat
Dalam aplikasi ini mencakup Aspirasi dan Pengaduan dari masyarakat terhadap pelaksanaan
pelayanan publik di Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta.
5. Layanan Antrian Online
Dalam aplikasi Antrian Online ini masyarakat sebagai pengguna layanan dapat menggunakan
aplikasi ini untuk mendapatkan nomor antrian pelayanan melalui aplikasi berbasis internet.
6. Indeks Kepuasan Masyarakat
Aplikasi ini memuat menu yang mana pengguna layanan dapat memberikan nilai terhadap
pelayanan yang diberikan oleh Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta. Yang mana hasil
dapat dilakukan rekapitulasi berkala, baik mingguan, bulanan maupun tahunan. Hal ini
menjadi tolok ukur dan menjadi feedback sejauh mana kualitas pelayanan publik yang
diselenggarakan di Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta.
Di Tahun 2019 ini Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta dalam proses pembangunan
Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan
Melayani (WBBM). Zona Integritas (ZI) di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM adalah
predikat yang diberikan kepada satuan kerja Kementerian Hukum dan HAM yang mempunyai
komitmen untuk mewujudkan WBK dan WBBM melalui reformasi birokrasi, khususnya dalam
hal pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Proses pembangunan ZI
merupakan tindak lanjut perancangan Zona Integritas yang difokuskan pada penerapan program
pada 6 (enam) area perubahan, yaitu: Manajemen Perubahan, Penataan Tatalaksana, Penataan
Manajemen SDM, Penguatan Pengawasan, Penguatan Akuntabilitas Kinerja, dan Peningkatan
Kualitas Pelayanan Publik yang bersifat konkrit.

19
Pembangunan Zona Integritas pada Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta dimulai
dengan penyusunan Tim Kerja. Tim Kerja ini dibentuk untuk melaksanakan proses perubahan
melalui program, kegiatan dan inovasi di 6 (enam) area perubahan. Tim Kerja terdiri dari
pejabat/pimpinan dan staf. Penentuan tim selain pimpinan, dipilih melalui seleksi yang dilakukan
oleh pejabat Eselon II, dengan mempertimbangkan: 1) kompetensi; 2) mamahami tugas dan
fungsi: 3) berdedikasi; 4) tidak bermasalah; 5) tidak pernah melakukan tindak pidana serta
pelanggaran kode etik dan disiplin.
Salah satu tim kerja yang dibentuk dalam proses pembangunan Zona Integritas adalah
Tim Kerja Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik.. Tim ini memastikan bahwa peningkatan
kualitas pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. Target yang ingin
dicapai melalui program peningkatan kualitas pelayanan publik ini adalah: 1) meningkatknya
kualitas pelayanan publik (lebih cepat, lebih murah, lebih aman, dan lebih mudah dijangkau); 2)
meningkatnya jumlah unit pelayanan yang memperoleh standardisasi pelayanan internasional; 3)
meningkatnya indeks kepuasan masyarakat terhadap penyelenggaraan pelayanan publik. Dengan
kata lain, Tim Kerja Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik ini bertugas melakukan monitor
secara internal dan merancang program, kegiatan dan inovasi terkait peningkatan pelayanan
publik yang diselenggarakan.
Dalam kaitannya dalam mendukung peningkatan penyelenggaraan pelayanan publik,
Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta melakukan sosialisasi dan pelatihan dalam upaya
penerapan budaya pelayanan prima kepada pegawai dan seluruh petugas pelayanan publik di
lingkungan Kanwil Kemenkumhan D.I. Yogyakarta. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan
mengundang narasumber salah satunya dari hotel yang berada di wilayah D.I. Yogyakarta. Dari
dokumen laporan pelaksanaan kegiatan tersebut, dengan kegiatan sosialisasi dan pelatihan
tersebut dilaksanakan untuk mewujudkan: 1) Integritas dan komitmen pegawai dalam
melaksanakan tugas selalu terjaga; 2) Peningkatan kualitas pelayanan publik yang bebas dari
KKN dan penyalahgunaan wewenang; 3) Tunas pengayoman (CPNS Kemenkumham D.I.
Yogyakarta) sebagai generasi penerus di Lingkungan Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta
memiliki profesionalisme, integritas dan komitmen dalam melaksanakan tugas dan fungsinya; 4)
Perubahan mindset dan culture set pada pegawai dari comfort zone menjadi competitive zone.
Selain sosialisasi dan pelatihan kepada pegawai, dilakukan juga kegiatan briefing kepada petugas
security/satpam oleh Ketua Tim Kerja Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik pada kanwil
kemenkumham D.I. Yogyakarta. Penerapan budaya pelayanan prima juga disampaikan secara
berkala oleh pembina apel pada pelaksanaan apel pegawai.
Sistem Reward dan Punishment juga diterapkan bagi seluruh pegawai terutama sebagai
bentuk peningkatan disiplin pegawai dan sebagai penunjang peningkatan kualitas pelayanan
publik. Kriteria Reward yang diberikan adalah sebagai berikut: 1) Mematuhi kerja; 2) Mengisi
jurnal harian dan tidak pernah mendapat nilai 1 dan 0 dari atasannya; 3) Mengikuti apel pagi dan
sore kecuali dinas luar/cuti; 4) Tidak pernah ijin; 5) Tidak pernah masuk dalam barisan koreksi,
pembinaan dan daftar Wasdal (pengawasan dan pengendalian). Reward yang diberikan adalah
sebagai berikut: 1) 1 (satu) bulan ke depan, foto dipasang sebagai pegawai teladan pada papan
informasi; 2) 3 (tiga) bulan berturut-turut mendapat fasilitas parkir kendaraan di area kantor

20
wilayah selama 2 (dua) minggu berturut-turut; 3) 4 (empat) bulan berturut-turut mendapatkan
piagam penghargaan dari Kepala Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta.
Sedangkan kriteria punishment terbagi dalam tiga kategori. Kategori pertama yaitu
Punishment Kumulatif dengan kriteria sebagai berikut: 1) 5 (lima) kali tidak mengikuti apel pagi
bukan karena DL, Cuti, Sakit; 2) 1 (satu) minggu tidak mengisi jurnal harian; 3) 1 (satu) bulan
nilai pada jurnal harian ada 1 dan atau 0 sebanyak 7 kali; 4) Masuk barisan koreksi atau
terlambat atau masuk dalam daftar pelanggaran dari Wasdal sebanyak 5 kali. Kategori kedua
yaitu Punishmet Tunggal (Barisan Koreksi) dengan kriteria: 1) Tidak berseragam dan beratribut
lengkap; 2) Terlambat Apel. Kriteria ketiga Punishment Tunggal (tayang di monitor) dengan
kriteria: 1) Tidak membuat jurnal harian; 2) Termasuk 10 besar akumulasi terlambat setiap
bulan.
Terdapat bentuk-bentuk layanan yang merupakan inovasi yang dilakukan pada tahun
2019. Inovasi dalam hal ini adalah sesuatu yang belum ada sebelumnya, dan merupakan
perbaikan layanan yang dianggap menuju ke arah lebih baik. Kegiatan inovasi khususnya dalam
hal pelayanan publik, dirancang dan direncanakan oleh tim kerja peningkatan kualitas pelayanan
publik berkoordinasi dengan divisi-divisi terkait dengan persetujuan kepala kantor wilayah.
Bentuk-bentuk inovasi yang dilakukan pada tahun 2019 antara lain: 1) tersedianya lahan parkir
khusus bagi pegawai yang terpisah dengan pengunjung; 2) tersedianya ruang pelayanan terpadu;
3) dibentuknya aplikasi SIEMON (Sistem Informasi Elektronik Monitoring Notaris); 4) Adanya
aplikasi layanan terpadu online yang berisikan layanan-layanan publik dari 4 (empat) divisi yang
tersedia dalam satu portal; 5) adanya etalase yang berisikan produk unggulan hasil karya
narapidana di ruang pelayanan publik; 6) tersedianya meja pelayanan Pemasyarakatan dan
Keimigrasian pada ruang pelayanan terpadu; 7) perbaikan ruang laktasi dengan aksen vinnyl, dan
dengan pencahayaan yang cukup; 8) dibentuknya pembatas antara ruang pelayanan terpadu
dengan ruang bagian bagian umum; 9) disediakannya toilet dan jalur khusus untuk penyandang
disabilitas.
Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta juga melakukan melakukan survei kepuasan
masyarakat terhadap pelayanan publik yang diberikan yang mana hasil surveinya dapat diakses
secara terbuka oleh publik. Berdasarkan laporan evaluasi yang disusun Kanwil Kemenkumham
D.I. Yogyakarta, dilakukannya survei kepuasan masyarakat ini bertujuan untuk: 1) Untuk
memperoleh gambaran secara objektif mengenai kepuasan masyarakat terhadap pelayanan
Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta; 2) Sebagai dasar pijakan untuk terus meningkatkan
kualitas pelayanan; 3) Menjadi sumber informasi bagi Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta
mengenai kebutuhan dan keinginan masyarakat atas jasa pelayanan yang telah diberikan.
Suvei kepuasan masyarakat terhadap pelayanan di Kanwil Kemenkumham D.I.
Yogyakarta tersebut dilakukan pelaporan satu kali setiap bulan dengan yang bersumber dari hasil
survei kepada pengguna layanan secara online dan realtime. Survei menggunakan pendekatan
kualitatif berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Nomor 14 Tahun 2017, dengan pengukuran Skala Likert yaitu skala prikometrik yang
umum digunakan dalam kuisioner dan merupakan skala yang paling banyak digunakan dalam
survei. Bentuk skoring, angka indeks yang didapatkan merupakan angka persepsi masyarakat
terhadap layanan dari pemerintah yang mengukur tingkat kualitas pelayanan. Kategori jawaban
21
terdiri dari empat tingkat dari tingkat tidak baik diberi nilai 1 (satu) sampai dengan tingkat sangat
baik dan diber nilai 4 (empat).
Nilai Interval Indeks
Nilai Interval Konversi Kinerja Unit
Kepuasan Masyarakatn Mutu Pelayanan
IKM Pelayanan
(IKM)

1,00 – 1,75 25 – 43,75 D Tidak Baik


1,76 – 2,50 43,76 – 62,50 C Kurang Baik
2,51 – 3,25 62,51 – 81,25 B Baik
3,26 – 4,00 81,26 – 100,00 A Sangat Baik

Tabel 1. Kategori Mutu Pelayanan


Berdasarkan Peraturan Menteri dimaksud telah ditetapkan 9 (sembilan) unsur kriteria
penilaian, diperbolehkan juga untuk menambahkan unsur penilaian sesuai dengan karakteristik
layanan di unit pelayanan terkait, dalam hal ini Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta. Survei
tersebut menggunakan alat bantu berupa kuesioner yang ditujukan kepada masyarakat pengguna
layanan sebagai responden secara langsung. Dalam survei tersebut pertanyaan kuesioner meliputi
9 (sembilan) unsur, yaitu:
1. Persyaratan, adalah syarat yang harus dipenuhi dalam pengurusan suatu jenis pelayanan, baik
persyaratan teknis maupun administratif;
2. Prosedur, adalah tata cara pelayanan yang dibakukan bagi pemberi dan penerima pelayanan,
termasuk pengaduan;
3. Waktu Pelayanan, adalah jangka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh proses
pelayanan dari setiap jenis pelayanan;
4. Biaya/Tarif, adalah ongkos yang dikenakan kepada penerima layanan dalam mengurus
dan/atau memperoleh pelayanan dari penyelenggara yang besarnya ditetapkan berdasarkan
kesepakatan antara penyelenggara dan masyarakat;
5. Produk Spesifikasi Jenis Pelayanan adalah hasil pelayanan yang diberikan dan diterima
sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Produk pelayanan ini merupakan hasil dari
setiap spesifikasi jenis pelayanan;
6. Kompetensi Pelaksana adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh pelaksana meliputi
pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan pengalaman;
7. Perilaku Pelaksana adalah sikap petugas dalam memberikan pelayanan;
8. Maklumat Pelayanan, adalah suatu pernyataan kesanggupan dan kewajiban pihak
penyelenggara untuk dapat melaksanakan pelayanannya sesuai dengan standar tertentu;
9. Penanganan Pengaduan, Saran dan Masukan adalah tata cara pelaksanaan penanganan
pengaduan dan tindak lanjut.
Aplikasi survey kepuasan masyarakat offline dengan icon smiley yang diterapkan
sebelumnya dirasa kurang mengenai sasaran, karena dari ke-9 (sembilan) pertanyaan tersebut
diwujudkan dalam 1 (satu) icon smiley saja sehingga sangat sulit untuk dilakukan analisa di
bagian pelayanan mana yang dirasa masih kurang. Aplikasi secara offline tersebut kemudian
dilakukan inovasi dengan diberlakukannya secara online, mulai pada bulan Mei 2019 dan model

22
pertanyaan berbasi icon smiley tidak lagi dipergunakan. Aplikasi survei kepuasan masyarakat
tersebut dapat diakses melalui laman http://jogja-terpadu.kemenkumham.go.id/sipuas/.
Berdasarkan hasil survei, diperoleh data Indeks Kepuasan Mayarakat (2019) dari bulan Mei
hingga September 2019 didapatkan data sebagai berikut:
1. IKM Bulan Mei 2019 Kualitas Pelayanan Sangat Baik dengan nilai 93,5 (A) dengan total
responden sebanyak 335 orang.
2. IKM Bulan Juni 2019 Kualitas Pelayanan Sangat Baik dengan nilai 92,25 (A) dengan total
responden sebanyak 134 orang.
3. IKM Bulan Juli 2019 Kualitas Pelayanan Sangat Baik dengan nilai 92,5 (A) dengan total
responden sebanyak 212 orang.
4. IKM Bulan Agustus 2019 Kualitas Pelayanan Sangat Baik dengan nilai 93 (A) dengan total
responden sebanyak 249 orang.
5. IKM Bulan September 2019 Kualitas Pelayanan Sangat Baik dengan nilai 92,75 (A) dengan
total responden sebanyak 330 orang.

Analisis Etis Terkait Pelayanan Publik Kanwil Kementerian Hukum dan HAM D.I.
Yogyakarta
Dari beberapa teori tentang etika, hakikatnya menjelaskan tindakan-tindakan dapat
dipandang dari dua sudut yaitu benar salah atau adil tidak adil. Pada penyelenggaraan publik
Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta analisis dilakukan dengan melakukan tinjauan tentang
prinsip-prinsip etika pelayanan publik yang dielaborasi dengan data dan informasi tentang
pelayanan publik yang diterapkan pada Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta.
Prinsip etika pelayanan publik yang pertama adalah kejujuran. Jujur dalam hal ini
memuat unsur dapat dipercaya, tidak menipu, mencuri, curang maupun berbelit-belit. Jika dilihat
dari pelayanan publik yang dilakukan Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta, prinsip ini dapat
dilihat mulai dari maklumat pelayanan publik yang dibuat. Prinsip kejujuran ini termuat dalam
beberapa poin maklumat, yaitu poin 1, 4 dan 5, yang berbunyi: 1) Memberikan pelayanan yang
cepat, sederhana, transparan, akuntabel dan mudah sesuai dengan ketentuan, 4) Memberikan
pelayanan dengan penuh integritas tidak melakukan pungutan liar, 5) Memberikan pelayanan
dengan jujur, ikhlas dan penuh semangat. Dengan maklumat tersebut, Kanwil Kemenkumham
D.I. Yogyakarta telah berusaha menerapkan kejujuran dalam pelayanan yang dilakukan kepada
masyarakat. Yang mana berusaha menerapkan pelayanan publik secara transparan dan akuntabel,
penuh integritas dengan tidak melakukan pungutan liar. Pelayanan juga menjadi efisien dan tidak
berbelit-belit dengan adanya pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam
penyelenggaraan pelayanan publik. Hal ini memberikan kemudahan bagi publik untuk
mengakses beberapa layanan yang ada hanya dalam satu portal website.
Prinsip selanjutnya yaitu integritas, dalam hal ini memiliki prinsip, terhormat, tidak
mengorbankan prinsip moral dan tidak bermuka dua. Penerapan prinsip ini juga dapat dilihat
pada Maklumat Layanan Publik poin 4, yang berbunyi “Memberikan pelayanan dengan penuh
integritas tidak melakukan pungutan liar”. Selain itu pelaksanaan proses pembangunan ZI
Menuju WBK dan WBBM pada Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta menunjukkan bahwa
prinsip Integritas telah berusaha diterapkan dalam pelayanan publik. Dengan berprosesnya dalam
23
pembangunan ZI Menuju WBK WBBM tersebut menunjukkan adanya komitmen dalam hal
pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan publik.
Selanjutnya adalah prinsip keadilan, dalam hal ini bagaimana pelayanan dilakukan
dengan memperlakukan orang dengan sama, bertoleransi dan menerima perbedaan serta
berpikiran terbuka. Prinsip ini juga termuat dalam Maklumat Layanan pada poin 2, yang
berbunyi “Memberikan pelayanan yang adil, tidak diskriminatif dan berperilaku sopan dan
santun”. Dari maklumat tersebut, Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta telah berusaha
melakukan komitmen untuk memberikan pelayanan yang tidak membeda-bedakan antara satu
orang dengan yang lainnya dan menjunjung sikap sopan santun. Komitmen ini semakin nampak
nyata dengan tersedianya toilet dan jalur khusus untuk penyandang disabilitas. Dengan
penyediaan sarana tersebut, menjadikan para penyandang disabilitas tidak mendapat perlakuan
diskriminatif dan memiliki hak untuk mendapatkan kemudahan akses mendapatkan layanan
seperti pengguna layanan lainnya.
Selanjutnya berkaitan dengan prinsip Perhatian. Perhatian dalam hal ini adalah
memperhatikan kesejahteraan orang lain dengan kasih sayang, memberikan kebaikan dalam
pelayanan. Penyediaan fasilitas-fasilitas pendukung yang ada seperti ruang tunggu yang nyaman,
penyediaan kudapan dan minuman untuk publik, perpustakaan, tempat bermain untuk anak dan
ruang laktasi menjadi wujud bahwa Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta telah berusaha
memberikan perhatian yang lebih kepada publik. Ruang laktasi yang tertutup, nyaman dan
dengan pencahayaan yang cukup, dan masih berada di area ruang pelayanan terpadu, membuat
pengguna layanan seorang ibu yang sedang menyusui tak lagi kesulitan untuk mencari tempat
untuk menyusui bayinya, maupun melakukan pumping.
Analisis berikutnya yakni terkait dengan prinsip hormat. Prinsip ini menyatakan bahwa
orang yang etis memberikan penghormatan terhadap martabat manusia, privasi dan hak
menentukan nasib bagi setiap orang. Apabila dikaitkan dengan pelayanan publik yang
diselenggarakan pada Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta bisa dikatakan bahwa instansi
tersebut telah mencoba menerapkan ini terhadap pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.
Salah satu contoh misalnya, penghormatan terhadap martabat dan privasi dapat diketahui dari
ketika awal pengguna layanan masuk di dalam area kantor, akan disapa oleh satpam dengan
penerapan 3 S (salam, senyum dan sapa), selanjutnya pengguna layanan yang menggunakan
kendaraan pribadi diarahkan ke tempat parkir yang disediakan khusus untuk pengguna layanan.
Setelah itu ketika masuk ruang pelayanan terpadu akan disapa oleh duta pelayanan yang
diposisikan di dekat pintu masuk ruang pelayanan terpadu dengan dan ditanyakan keperluannya
untuk selanjutnya ditunjukkan ke mana pengunjung harus memposisikan dirinya. Tak lupa pula
duta layanan juga menawarkan kudapan selama menunggu antrian layanan. Bagi pengunjung
yang membawa bayi dan dalam kondisi masih menyusui, tidak akan khawatir untuk mencari
tempat yang aman untuk menyusui bayinya, karena telah disediakan ruang laktasi yang masih
berada satu lokasi dengan ruang layanan terpadu dengan ruang ruang tertutup, nyaman, dan
pencahayaan yang cukup. Bagi pengunjung disabilitas juga tak perlu khawatir karena fasilitas
pelayanan juga telah di buat sedemikian rupa ramah disabilitas. Dari beberapa informasi tersebut,
nampak bahwa para petugas baik dari satpam hingga petugas pelayanan tidak mengabaikan
pengguna layanan, dan berusaha bagaimana agar pengunjung tidak merasa kebingungan dalam
24
hal keperluan untuk mendapatkan layanan serta menghormati privasi pengunjung. Ini
menunjukkan bahwa sistem yang telah dibangun tidak mengabaikan martabat pengunjung
sebagai manusia, yang mana pengunjung berhak mendapatkan haknya sebagai manusia untuk
mendapatkan informasi yang akurat dan perlakuan yang sebagaimana dilakukan kepada manusia.
Poin selanjutnya terkait dengan prinsip keunggulan. Dalam prinsip ini dikatakan bahwa
orang yang etis memperhatikan kualitas pekerjaannya, dan seorang profesional publik harus
berpengetahuan dan siap melaksanakan wewenang publik. Meninjau dari apa yang telah
dilakukan Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta, prinsip ini telah berusaha diterapkan. Salah
satunya dapat dilihat dari maklumat yang dibuat, yakni pada poin 3 yang berbunyi “Memberikan
pelayanan yang semaksimal mungkin, memanfaatkan teknologi informasi sehingga mudah
diakses oleh masyarakat. Dari maklumat tersebut nampak bahwa Kanwil Kemenkumham D.I.
Yogyakarta, berusaha memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat, dengan
kompetensi dan profesionalitas dari para petugas pelayanan publik dan juga dengan
memanfaatkan teknologi informasi untuk memaksimal kepuasan pengguna layanan. Prinsip ini
juga dibuktikan dengan diadakannya sosialisasi dan pelatihan dalam upaya penerapan budaya
pelayanan prima kepada pegawai dan seluruh petugas pelayanan publik. Sosialisasi dan pelatihan
tersebut tentu akan menjadi pendorong peningkatan kompetensi dari petugas pelayanan publik
dan juga peningkatan kualitas pelayanan publik yang diberikan. Selain itu dengan adanya seleksi
tim kerja, yang salah satunya menangani tentang peningkatan pelayanan publik dipilih dengan
beberapa indikator yang dijadikan pertimbangan pimpinan untuk menentukan siapa yang pantas
untuk diberi kepercayaan melaksanakan tugas tersebut, indikator-indikator tersebut antara lain
kompetensi, memahami tugas dan fungsi, berdedikasi tidak bermasalah dan tidak pernah
melakukan tindak pidana serta pelanggaran kode etik disiplin.
Berikutnya tentang prinsip a1kuntabilitas. Pada prinsip ini dikatakan bahwa orang yang
etis adalah orang yang bersedia menerima tanggung jawab atas keputusan dan memberi contoh
kepada orang lain. Hal ini termuat dalam maklumat layanan Kanwil Kemenkumham D.I.
Yogyakarta poin 1 yang berbunyi, “Memberikan pelayanan yang cepat, serderhana, transparan,
akuntabel dan mudah sesuai dengan ketentuan”. Maklumat tersebut dibuktikan dengan pelayanan
yang diberikan kepada publik, yakni dengan adanya pengawasan internal dan jaminan pelayanan.
Penggunan layanan juga bisa melakukan pengaduan apabila pelayanan yang diberikan tidak
sesuai dengan standar operasional prosedur ataupun melanggar ketentuan yang ada. Hal ini
menjadi wujud penyelenggara layanan bersedia untuk bertanggung jawab sepenuhnya terhadap
layanan yang diselenggarakan, dalam hal ini Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta.

25
PENUTUP
Kesimpulan
Instansi pemerintah merupakan sebutan kolektif meliputi satuan kerja/satuan organisasi
kementerian/departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, kesekretariatan lembaga tinggi
negara, dan instansi pemerintah lainnya, baik pusat maupun daerah, termasuk Badan Usaha
Milik Negara, Badan Hukum Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah. Salah satu tugas
dan fungsi dari Instansi Pemerintah adalah menyelenggarakan pelayanan publik dengan Aparatur
Sipil Negara (ASN) yang dimiliki sebagai aktor pelaksana pelayanan publik.
Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM D.I. Yogyakarta yang salah satu tugas
dan fungsinya adalah penyelenggaraan pelayanan publik. Berdasarkan data yang diperoleh dari
website Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta (jogja.kemenkumham.go.id) tercatat Indeks
Kepuasan Masyarakat dalam pelayanan publik pada bulan Mei hingga September 2019
menunjukkan hasil Sangat Memuaskan dengan rata-rata Indeks 92,8 dari skala 0-100.
Teori tentang etika, hakikatnya menjelaskan tindakan-tindakan dapat dipandang dari
dua sudut yaitu benar salah atau adil tidak adil. Dalam dunia pelayanan publik, etika diartikan
sebagai filsafat moral atau nilai, dan disebut dengan ‘profesional standars’ (kode etik) atau ‘right
rules of conduct’ (aturan perilaku yang benar) yang seharusnya dipatuhi oleh pemberi pelayanan
publik. Sebuah kode etik merumuskan berbagai tindakan apa, kelakuan mana, dan sikap
bagaimana yang wajib dijalankan atau dihindari oleh para pemberi pelayanan.
Berdasarkan analisis etis yang dilakukan terhadap pelayanan publik yang
diselenggarakan pada Kanwil Kemenkumham D.I. Yogyakarta, dapat disimpulkan bahwa
pelayanan publik yang diberikan telah memenuhi prinsip-prinsip etis pelayanan publik. Prinsip-
prinsip tersebut antara lain kejujuran, integritas, keadilan, perhatian, hormat, keunggulan dan
akuntab ilitas. Dari pemenuhan prinsip-prinsip tersebut, maka menjadi wajar apabila Kanwil
Kemenkumham D.I. Yogyakarta mendapatkan predikat Sangat Baik dalam hal pelayanan publik.

Saran
Meskipun penyelenggaraan pelayanan publik pada Kanwil Kemenkumham D.I.
Yogyakarta telah mendapatkan predikat Sangat Baik, namun perbaikan dan inovasi terhadap
pelayanan yang diberikan hendaknya terus dilakukan. Dengan perkembangan Teknologi
Informasi yang begitu pesat, tidak menutup kemungkinan tuntutan dari penggunan layanan juga
cepat berubah. Survey Kepuasan Masyarakat menjadi elemen penting dalam peningkatan
kualitas pelayanan publik.

26
DAFTAR PUSTAKA

Banasuru, A. (2014): Filsafat dan Filsafat Ilmu Dari Hakikat ke Tanggung Jawab. Bandung:
Alfabeta

Faiz, P. M. (2009): Teori keadilan john rawls. Jurnal Konstitusi Vol. 6 No. 1, 136-149

Fattah, D. (2013): Teori keadilan menurut john rawls. Jurnal TAPIs Vol. 9 No.2, 32-45

Djumara, N. dkk., (2009): Standar Pelayanan Publik. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara

Keraf, S. (1998): Etika Bisnis Tuntutan dan Relevansinya. Yogyakarta: Kanisius

Rawls, J. (1999): A Theory of Justice. USA: Harvard University Press

Taufiqurokhman, Satispi, E. (2018): Teori Perkembangan Manajemen Pelayanan Publik.


Tangerang Selatan: UMJ Press

Regulasi:
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik

Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8


Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian

Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai
Negeri Sipil

Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor 7 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis
Kementerian Hukum dan HAM RI Tahun 2015-2019

Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor 30 Tahun 2018 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM RI

Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara 81 Tahun 1993 tentang Pedoman


Tatalaksana Pelayanan Umum

Sumber dari internet:


https://jogja.kemenkumham.go.id

http://jogja-terpadu.kemenkumham.go.id/

https://id.wikipedia.org/wiki/Instansi_pemerintah

27