Anda di halaman 1dari 2

Proses Keperawatan dalam Keperawatan Jiwa

LAPORAN PENDAHULUAN STRATEGI PELAKSANAAN


TINDAKAN KEPERAWATAN (SP 1)
Rabu, 9 Nopember 2022
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien:
Bapak D mendengar suara-suara yang memaki-maki dirinya, ekspresi wajah tampak tegang,
gelisah, dan mulut komat-kamit.
2. Diagnosis/Masalah Keperawatan: Gangguan sensori persepsi: halusinasi
3. Tujuan:
TUM : Klien tidak mencederai, diri, orang lain, dan lingkunganTuk 1 : Klien dapat membina
hubungan saling percayaTuk 2 : Klien dapat mengenal halusinasinyaTuk 3 : Klien dapat
mengontrol halusinasi
4. Tindakan keperawatan.
a. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik :
b. Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya dan diskusikan dengan klien
mengenai isi, waktu, frekuensi halusinasi, situasi yang menimbulkan halusinasi, hal yang
dirasakan jika berhalusinasi, hal yang dilakukan untuk mengatasi, serta dampak yang
dialaminya.
c. Identifikasi bersama klien cara atau tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi.
d. Diskusikan cara baru untuk memutus/mengontrol timbulnya halusinasi.
e. Bantu klien memilih satu cara yang sudah dianjurkan dan latih untuk mencobanya.
B. Strategi Pelaksanaan
Orientasi:
“Selamat pagi pak, nama saya Rizki, nama Bapak siapa? Senang dipanggil apa?”
“Bagaimana perasaan Bapak hari ini? Bagaimana dengan tidurnya semalam?”
“ Tidak bisa tidur? Apa yang menyebabkan Bapak tidak bisa tidur?”
“Baiklah, bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang suara yang membuat bapak tidak bisa
tidur? Di mana kita duduk? Di ruang tamu? Berapa lama? Bagaimana kalau 20 menit”
Kerja:
“Bapak D mendengar suara tanpa ada wujud?Apa yang dikatakan suara itu?”
“ Apakah terus-menerus terdengar atau sewaktu-waktu? Kapan yang paling sering Bapak D
dengar suara? Berapa kali sehari Bapak D alami? Pada keadaan apa suara itu terdengar?”
“Saya mengerti Bapak D mendengar suara itu tapi saya sendiri tidak mendengarnya”. “Apa
yang bapak D rasakan pada saat mendengar suara itu?” “Apa yang Bapak D lakukan saat
mendengar suara itu? Apakah dengan cara itu suara-suara itu hilang? Bagaimana kalau kita
belajar cara-cara untuk mencegah suara-suara itu muncul?”
“Bapak D, ada empat cara untuk mencegah suara-suara itu muncul. Pertama, dengan
menghardik suara tersebut. Kedua, dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain. Ketiga,
melakukan kegiatan yang sudah terjadwal, dan yang keempat minum obat dengan teratur.”
“Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu, yaitu dengan menghardik”.
“Caranya yaitu saat suara-suara itu muncul, langsung Bapak D bilang, ‘Pergi saya tidak mau
dengar, … Saya tidak mau dengar. Kamu suara palsu’. Begitu diulang-ulang sampai suara itu
tak terdengar lagi. Coba bapak D peragakan! Nah begitu, … bagus! "Coba lagi!" "Ya bagus
Bapak D sudah bisa”.
“Sekarang cara yang sudah Bapak bisa itu kita masukkan ke dalam jadwal yah Pak?”
“Jam berapa saja Bapak D mau latihan?” “Selain jam 11 jam berapa lagi?" "Yah jam 4 sore ya
Pak, bagaimana kalau malam hari juga, karena Bapak D dengar suara itu malam hari, baiklah
jam berapa Bapak D mau latihan untuk yang malam hari?” "Jam 9 malam yah Bapak D? Saya
tulis disini Bapak D”.
Terminasi
“Bagaimana perasaan Bapak D setelah latihan tadi? Bisa Bapak D ulang lagi cara apa saja
yang bisa Bapak D lakukan untuk mengurangi suara-suara itu?" "Bagus sekali, Bapak D bisa
peragakan kembali satu cara yang sudah kita praktikkan?" "Bagus ya Bapak D. Kalau Bapak
lihat jadwal ini jam berapa saja Bapak D harus latihan?" "Bagus Bapak D, jadi nanti jangan
lupa di jam itu Bapak D harus latihan ya!” "Bagaimana kalau kita bertemu lagi untuk belajar
dan latihan mengendalikan suara-suara dengan cara yang kedua? Jam berapa Bapak D?
Bagaimana kalau satu jam lagi? Berapa lama kita akan bicara? Di mana tempatnya. Sampai
ketemu nanti ya Pak, selamat pagi Bapak D?”

Anda mungkin juga menyukai