Sejarah dan Prinsip Triage Medis
Sejarah dan Prinsip Triage Medis
Hery Wibowo,S.Kep.,Ns.,M.Kep
http://www.free-powerpoint-emplates-design.com
http://www.free-powerpoint-emplates-design.com
Tujuan
Delayed 3 Green
Black
Dead 0
Triage Labelling
Prioritas 1 (emergency)
• Pasien dengan kondisi mengancam
nyawa memerlukan evaluasi dan
intervensi segera
• Pasien dibawa keruang resusitasi
• Waktu tunggu nol
Priority 1 (Immediate)
Prioritas 2 (urgent)
• Pasien dengan penyakit akut
• Mungkin membutuhkan trolley, kursi
roda atau jalan kaki
• Waktu tunggu 30 menit
• Area critical care
Triage Priorities
Priority 1. Priority 2.
Immediate Category Urgent Category
Priority 3.
Delayed Category
27
Prioritas 4 / 0
(Kasus kematian /expectant)
30
3 kategori system triage
Format asli triage
p1 p2 p3
Triage Protocol (START)
Simple Triage And Rapid Treatment
4 system kategori
Merupakan pengembangan
Prioritas Tinggi P1
Sekunder, Class 2,
Sedang, Urgent Prioritas tertinggi
Segera, Class 1, Berat,
P2 Emergency
Meninggal
Mungkin meninggal,
Class 0 (harus benar
benar dievaluasi). P3
Prioritas rendah
Dapat ditunda, Class 3,
ringan, non urgent.
P4
Prioritas 1
Kasus Berat
Example
• Perdarahan hebat
• Asfiksia, cedera cervical, cedera pada maxilla
• Trauma kepala dengan koma dan proses shock
yang cepat
• Fraktur terbuka dengan dan fraktur compound
• Luka bakar >30% /extensive burn
• Crush injury
• Shock tipe apapun
Prioritas 2
Kasus Sedang
Example
• Trauma Thorax non asfiksia
• Fraktur tertutup pada tulang panjang
• Luka bakar terbatas (<30% TWB)
• Cedera pada bagian jaringan lunak
Prioritas 3
Kasus Ringan
Example
• Minor injury
• Seluruh kasus-kasus pasien rawat jalan
Prioritas 4
Expectant, Bisa juga disebut p0
Example
• Tidak ada respon pada semua rangsangan
• Tidak ada respirasi spontan
• Tidak ada bukti aktivitas jantung
• Hilangnya respon pupil terhadap cahaya
Thank you
Konsep Dasar
Keperawatan
Gawat Darurat
Our topic
Konsep Proses
Keperawatan
Keperawatan SPGDT
& Pola
Darurat Pengkajian
2
1.
Konsep
Keperawatan
Darurat
Keperawatan
Gawat Darurat ?
Asuhan perawatan
Yg diberikan pada individu dari seluruh
rentang usia yang mengalami gangguan
Kesehatan yg bersifat aktual/gawat/
mengancam nyawa.
4
Setting praktik?
✗ IGD
✗ Militer
✗ Urgent care center
✗ Klinik kesehatan
✗ Pelayanan rawat jalan
✗ Sekolah/ universitas
✗ Perusahaan
✗ Lembaga pemasyarakatan
✗ Klinik kesehatan kerja
✗ Dll.
5
HUKUMnya bagaimana?
UU no.38 tahun 2014 tentang Keperawatan
✗ Dalam keadaan darurat u/ memberikan
pertolongan 1 perawat dapat melakukan tindakan
medis & pemberian obat sesuai dg kompetensi
✗ Bertujuan u/ menyelamatkan nyawa klien &
mencegah kecacatan lebih lanjut
✗ Keadaan darurat: keadaan yg mengancam nyawa/
kecacatan klien
✗ Keadaan darurat ditetapkan oleh perawat sesuai dg
hasil evaluasi berdasarkan keilmuannya
6
Peran & Fungsi
Perawat Gawat Darurat
Direct care provider (pemberi
pelayanan Kesehatan)
Leadership (manajer klinis)
Educator (pendidik)
Researcher (peneliti)
Collaborative practice (praktik
kolaboratif
7
Standar Praktik Keperawatan
Gawat Darurat
8
Standar Praktik Keperawatan
Gawat Darurat
9
Standar Praktik Keperawatan
Gawat Darurat
10
2.
Proses
Keperawatan &
Pola Pengkajian
✗ Assessment
Primary survey
Secondary survey
• History
• Vital sign
• Clinical examination
✗ Investigations
✗ Identification of problems
✗ Nursing interventions
✗ Re-assessment
Emergency Nursing Association,
2007
12
Assessment (primary survey)
Danger Response Airway
Pastikan lingkungan aman bagi Kaji respon pasien. Kaji airway paten/tidak.
pasien/penolong sebelum Menentukan kesadaran (AVPU) • Jika Ya + responsive: beri
memberikan pertolongan pertolongan u/ membebaskan jalan
napas
• Jika Ya + unresponsive: head tilt &
Breathing Circulation chin lift
Cek pernapasan, ventilasi Kaji nadi adekuat/tidak, CRT
• Pertimbangkan: C-spine,
immobilisasi, suctions, ETT
adekuat/tidak Pertimbangkan: defibrilasi; RJP,
kontrol perdarahan; elevasi kaki
(kec.spinal injury), IV akses.
Queensland Ambulance Service,
2016
13
Assessment (primary survey)
Airway Breathing Circulation
Kaji jalan napas dari sumbatan & Kaji ada tidaknya distress Kaji nadi adekuat/tidak, adanya
lakukan pembebasan jalan napas dg pernapasan & lakukan pemberian perdarahan dan kondisi perfusi.
memperhatikan cervical pasien oksigen Kontrol perdarahan; elevasi kaki
(kec.spinal injury), IV akses, RJP,
defibrilasi.
Disability Exposure
Kaji singkat trama neurologis, cek Kaji pasien head to toe,
kemampuan gerak ekstremitas, cek lepaskankan pakaian pasien jika
GCS, laterasi pupil/refleks pupil: diperlukan, untuk mencari
isokor, refleks cahaya, dilatasi. trauma di tempat lain. Cegah
Lakukan stabilisasi kehilangan panas tubuh Emergency Nursing Association,
2007
14
Secondary survey
Riwayat kesehatan Vital sign Pemeriksaan fisik
Signs/symtoms Kaji ulang denyut nadi, Kaji ulang head to toe (kepala,
pernapasan, tekanan darah, leher, dada, perut, panggul,
Allergies
suhu tubuh, dan saturasi ekstremitas atas, dan
Medications oksigen. ekstremitas bawah.
Pertinent past medical history Pertimbangkan: saturasi
Last oral intake, + last oksigen, GCS, EKG 12 lead,
gula darah.
menstruation (for mowan)
Events leading to the ilness or
injury
15
Investigasi & Analisis
Identifikasi ketersediaan:
✗ Hasil diagnostik
✗ Hasil laboratorium
16
Identifikasi Masalah
Proses identifikasi dan analisa data dilakukan untuk
kategorisasi data sehingga dapat diidentifikasi masalah
kesehatan/kebutuhan pasien dan prioritas intervensi yg
harus dilakukan.
17
Intervensi keperawatan
✗ Intervensi independen
✗ Intervensi dependen
✗ Intervensi interdependen
18
Re-assessment/
Evaluasi
Re-assessment dilakukan scara
terus-menerus (on-going
assessment) sesuai dg tingkat
kegawatdaruratan pasien.
19
Komunikasi
Identification
Situation
Background
Assessment
Recommendation
20
SPGDT
Sistem Penanggulangan Gawat
Darurat Terpadu
22
Latar Belakang SPGDT
Tingginya angka Kematian di IGD/ kurang 24 jam :12,2 per
seribu termasuk angka death on arrival
Respon time layanan ambulance lebih dari 1 jam dan belum
dilayani tenaga kompeten (dokter dan perawat yang terlatih)
Fakta: 3 besar penyebab kematian dan kecacatan di IGD:
Stroke, KLL, serangan jantung
Belum terintegrasi/ terorganisasinya unsur-unsur pemberi
pelayanan pra dan antar RS
Indonesia terletak di ring of fire, kejadian bencana baik alam,
non alam maupun bencana sosial
23
Tujuan
24
Penyelenggara SPGDT
25
Tupoksi dalam Komunikasi
✗ National Command Center (NCC) 119 Kementerian Kesehatan
• Pemberi informasi dan panduan terhadap penanganan
kasus kegawatdaruratan
✗ Public Safety Center (PSC) di Dinkes kabupaten kota, RS atau
lokasi lain sesuai ketetapan Pemda
• Pemberi pelayanan korban/pasien gawat darurat dan/atau
pelapor melalui proses triase (pemilahan kondisi
korban/pasien gawat darurat);
• Pemandu pertolongan pertama (first aid);
• Pengevakuasi korban/pasien gawat darurat; dan
• Pengoordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan.
✗ Fasilitas Pelayanan Kesehatan
26
Deskripsi Kegiatan
✗ National Command Center (NCC) 119
Memilah panggilan darurat/non gawat darurat;
Meneruskan panggilan ke PSC; dan
Dokumentasi, monitoring, pelaporan dan evaluasi.
✗ Public Safety Center (PSC)
• Melaksanakan pelayanan kegawatdaruratan dengan menggunakan
algoritme kegawatdaruratan;
• Memberikan layanan ambulans;
• Memberikan informasi tentang fasilitas pelayanan kesehatan; dan
• Memberikan informasi tentang ketersediaan tempat tidur di rumah
sakit.
✗ Fasilitas Pelayanan Kesehatan
• Melakukan pelayanan kesehatan sesuai dengan kemampuannya
27
Public Safety Center (PSC)
Dapat berupa unit kerja sebagai wadah koordinasi untuk
memberikan pelayanan gawat darurat secara cepat,
tepat, dan cermat bagi masyarakat
119
Diselenggarakan 24 (dua puluh empat) jam sehari secara
terus menerus
Dapat dilaksanakan secara bersama-sama dengan unit
teknis lainnya di luar bidang kesehatan seperti kepolisian
dan pemadam kebakaran tergantung kekhususan dan
kebutuhan daerah
28
Ketenagaan PSC
✗ Koordinator;
✗ Tenaga kesehatan;
✗ Operator call center; dan
✗ Tenaga lain.
29
Penanganan Korban/Pasien
Gawat Darurat
30
Prafasilitas Pelayanan
Kesehatan
Tindakan pertolongan terhadap korban/pasien gawat
darurat yang cepat dan tepat di tempat kejadian
sebelum mendapatkan tindakan di fasilitas pelayanan
kesehatan
Harus memperhatikan kecepatan penanganan
korban/pasien gawat darurat.
Pemberian pertolongan terhadap korban/pasien gawat
darurat oleh masyarakat hanya dapat diberikan dengan
panduan operator call center sebelum tenaga
kesehatan tiba di tempat kejadian
31
Intrafasilitas Pelayanan
Kesehatan
32
Antarfasilitas Pelayanan
Kesehatan
33
Sistem Transportasi Gawat
Darurat
34
Pelaporan
35
Monitoring dan Evaluasi
36
37
38
39
PSC Banjarbaru
Call/wa
08115039119
40
Thanks!
Any questions?
41
“You have inspired so many
emergency nurses because
of your caring, mentoring,
passion, advocacy, support,
and friendship.”
42
ACUTE CORONARY
SYNDROME
HERY WIBOWO,NS,M.KEP
ACUTE CORONARY SYNDROME
1. Pengertian ACS.
2. Faktor Resiko Yang menyebabkan ACS
3. Patofisiologi terjadinya ACS
4. Manifestasi Klinis dari ACS
5. Penatalaksanaan ACS
6. Asuhan Keperawatan ACS
02 04
Risk Factor Manifestasi Klinis
CONTENTS
Faktor Resiko Yang Manifestasi Klinis dari
menyebabkan ACS ACS
06
Asuhan Keperawatan
01 03 05 Asuhan Keperawatan
ACS
Definition Patofisiologi Penatalaksanaan
Pengertian, apa itu ACS Patofisiologi terjadinya Penatalaksanaan ACS
ACS
01
DEFENISI
Background, Pengertian, apa itu ACS
BACKGROUND
● Cardiovascular Disease is the
number 1 cause of mortality
Worldwide due to Coronary
Artery Disease
● Acute Coronary Syndrome
time-based management
(based on latest guideline)
ACUTE CORONARY SYNDROME
● ~Heart Attack
● any group of clinical symptoms
compatible with acute
myocardial ischemia
● “there isn’t enough blood flow
to the heart”
● spectrum of clinical conditions
ranging from unstable angina
(UA) to NSTEMI to STEMI
Heart 2000;83:361–366;
Clinical
Subclinical
(2017 ESC Guidelines for themanagement of acute myocardial infarction in patients presenting with ST-segment elevation)
(2020 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes in patients presenting without persistent ST-segment elevation)
BASIC EVALUATION
● Frequently unremarkable
● Evaluate for Acute Complication
○ Cardiac Arrest
○ Cardiogenic Shock
○ Mechanical Complication
○ Pericardial Complication
● Precipitating Factors
● Differential Diagnoses
ECG in ACS STEMI
(2017 ESC Guidelines for themanagement of acute myocardial infarction in patients presenting with ST-segment elevation)
ECG in ACUTE CORONARY
SYNDROMES STEMI
(2017 ESC Guidelines for themanagement of acute myocardial infarction in patients presenting with ST-segment elevation)
ECG in ACUTE CORONARY
SYNDROMES
NSTE-ACS
(2020 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes in patients presenting without persistent ST-segment elevation)
Differential Diagnoses
©ESC
2020 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes in patients presenting without
www.escardio.org/guidelines
persistent ST-segment elevation (European Heart Journal 2020 - doi/10.1093/eurheartj/ehaa575)
(2015 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes in patients presenting without persistent ST-segment elevation)
klasifikasi
1. Anamnesa
Menggunakan format pengkajian PQRST
2. Laboratorium
Hasil troponin dan CK-MB
3. EKG
05
PENATALAKSANAAN ACS
INITIAL TREATMENT OF
ACUTE CORONARY SYNDROME
2017 ESC Guidelines for the management of acute myocardial infarction in patients presenting with ST-segment elevation
Reperfusion according
time from symptoms
FIBRINOLYSIS
TINDAKAN STABILISASI
Dikutip dari buku standar pelayanan medik PJNHK ( dr Irmalita at al, 2009 ) penanganan kegawatdaruratan adalah:
a) Diagnosis dini
1) Riwayat nyeri dada atau perasaan tidak nyaman.
2) Elevasi segmen ST > 1 mm pada 2 sandapan prekordial atau ektremitas yang berhubungan, juga LBBB yang dianggap
baru.
3) Peningkatan enzim jantung ( CK-MB dan Troponin T )
4) Ekokardiografi dapat membantu adanya infark miokard akut
b) Tatalaksana awal
1) Oksigen, 4 liter / menit (saturasi O2 dipertahankan >90 %).
2) Nitrogliserin untuk memperbaiki pengiriman oksigen ke miokard dan menurunkan kebutuhan oksigen di miokard.
3) Aspirin untuk dikunyah bila tidak ada kontra indikasi, untuk menghambat agregasi platelet dan mencegah konstriksi
arterial.
4) Morphin untuk mengurangi kecemasan dan kegelisahan
5) Clopidogrel
NSTE-ACS
● Risk Stratification
● Invasive Strategy (Immediate/Early/Invasive/Non-Invasive)
RISK STRATIFICATION
(2015 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes in patients presenting without persistent ST-segment elevation)
INVASIVE MANAGEMENT
(2015 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes in patients presenting without persistent ST-segment elevation)
(2020 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes in patients presenting without persistent ST-segment elevation)
06
ASUHAN KEPERAWATAN
Nursing Management
The nursing management involved in ACS is critical
and systematic, and efficiency is needed to
implement the care for a patient with ACS
Nursing Assessment
One of the most important aspects of care of the patient with ACS is the
assessment.
● Assess for chest pain not relieved by rest or medications.
● Monitor vital signs, especially the blood pressure and pulse rate.
● Assess for presence of shortness of breath, dyspnea, tachypnea, and
crackles.
● Assess for nausea and vomiting
● Assess for decreased urinary output.
● Assess for the history of illnesses.
● Perform a precise and complete physical assessment to detect
complications and changes in the patient’s status.
● Assess IV sites frequently.
Diagnosis
Based on the clinical
manifestations, history, and
diagnostic assessment data,
major nursing diagnoses may
include.
● Ineffective cardiac tissue
perfusion related to reduced
coronary blood flow.
● Risk for ineffective peripheral
tissue perfusion related
to decreased cardiac
output from left ventricular
dysfunction.
● Deficient knowledge related to
post-ACS self-care.
To establish a plan of care, the focus should be
on the following:
● Relief of pain or ischemic signs and symptoms.
● Prevention of myocardial damage.
● Absence of respiratory dysfunction.
● Maintenance or attainment of adequate tissue perfusion.
● Reduced anxiety.
● Absence or early detection of complications.
● Chest pain absent/controlled.
● Heart rate/rhythm sufficient to sustain adequate cardiac
output/tissue perfusion.
● Achievement of activity level sufficient for basic self-care.
● Anxiety reduced/managed.
● Disease process, treatment plan, and prognosis understood.
● Plan in place to meet needs after discharge
Nursing Priorities
● Relieve pain, anxiety.
● Reduce myocardial workload.
● Prevent/detect and assist in treatment of life-threatening
dysrhythmias or complications.
● Promote cardiac health, self-care.
Nursing Interventions
Nursing interventions should be anchored on the goals in the nursing care plan.
● Administer oxygen along with medication therapy to assist with relief of symptoms.
● Encourage bed rest with the back rest elevated to help decrease chest discomfort
and dyspnea.
● Encourage changing of positions frequently to help keep fluid from pooling in the
bases of the lungss.
● Check skin temperature and peripheral pulses frequently to monitor tissue perfusion.
● Provide information in an honest and supportive manner.
● Monitor the patient closely for changes in cardiac rate and rhythm, heart sounds,
blood pressure, chest pain, respiratory status, urinary output, changes in skin color,
and laboratory
Evaluation
● After the implementation of the interventions within the time specified, the nurse should
check if:
● There is an absence of pain or ischemic signs and symptoms.
● Myocardial damage is prevented.
● Absence of respiratory dysfunction.
● Adequate tissue perfusion maintained.
● Anxiety is reduced.
CONCLUSIONS
● STEMI Reperfusion Strategy is
decided according CV risk,
Hospital Readiness
● NSTE-ACS Reappraisal of
Diagnosis according High
Troponins
● Focus Nursing Priorities in ACS
THANKS FOR
YOUR ATTENTION
Do you have any questions?
ns.herywibowoskep@gmail.com
+6281280102146
@herywibowo.81
● Female doctor holding a plush heart and ● Doctor checking patient with
a stethoscope stethoscope
● Portrait of charming young man ● Hand holding stethoscope
standing against on white background ● Tired female doctor taking out her
● Young doctor measuring tension to a glasses
patient
● Male doctor hands measuring tension to
a patient
● Person showing decorative vinous heart
● Doctor presenting plastic heart
● Heart with cross near stethoscope and
medications
Kasus
“seorang pasien, laki – laki
usia 58 tahun dirawat di
ruang jantung setelah
pemasangan PCI. 2 hari
sebelumnya, pasien
mengalami serangan ACS.
Saat ini pasien mengalami
penurunan kesadaran dengan
tekanan darah 88 / 60
mmHg, frekuensi nafas 24 x /
menit, SaO2 93 % dengan Non
rebreathing mask”
Kasus
“seorang pasien, laki –
laki usia 49 tahun
dirawat di bangsal
penyakit dalam akibat
ada pembengkakan
pada ekstremitas.
Selama 7 tahun pasien
mengalami terapi HD.
Sejak jam 6 pagi,
pasien mengalami
penurunan kesadaran.
Tekanan darah turun
ke 78 / 55 mmHg,
frekuensi nafas 26 x /
menit, SaO2 98 %
dengan NRM, suhu
tubuh 37 C”.
Kasus
“saatdatang, pasien
tampak terkulai lemas
dan terlihat tidak
bernafas”
Gambaran Monitor
referensi
Incidence
OHCA
Sport related:
Covid Effect
Definisi
Definition
“Cessation of cardiac mechanical activity
as confirmed by the absence of signs of
circulation”
(AHA)
Berhentinya aktivitas mekanik jantung yang
dikonfirmasi oleh tidak adanya tanda-tanda sirkulasi
Cardiac Arrest berbeda dengan Heart
Attack yaitu terjadi karena penurunan
aliran darah ke otot jantung sehingga
menimbulkan manifestasi gangguan
jantung
Pada kasus Cardiac Arrest harus
dilakukan penanganan dengan segera
mungkin, yaitu dengan pijatan jantung
paru (CPR) diikuti dengan defibrillator (DC
Shock) bila diperlukan.
Klasifikasi
Berdasarkan kondisi saat
ditemukan:
•Witnessed
•Unwitnessed
•In hospital
•Out of Hospital
Edema
•Peningkatan TIK
•Penurunan CPP
Heart
Blood Penurunan ATP
doesn’t ISCHEMIA
Flow •Eflux Kalium
pump •Influx Natrium dan Kalsium
Kerusakan Sel
•Aktivasi sistem inflamasi
•Percepatan kematian sel
Tata laksana
Chain Of Survival
In Hospital Cardiac Arrest
Activation of
Emergency
Response
Compression Depth 5 - 6 cm
Mengoptimalkan
Hemodinamik
Targeted Temperature
Management
Immediate
Reperfusion
Korban yang tidak sadar tiba – tiba dan tidak bernafas atau
hanya gasping, diasumsikan mengalami henti jantung
Blood Flow
Compression + Breath 30 : 2
Transportasi dan
monitoring menuju RS This Photo by Unknown Author is licensed under CC BY-NC-ND
rujukan
Basic Life Support
BLS Pada
Dewasa
BLS pada Anak dan
Infant
Special
Consideration
Advanced Cardiac Life Support
POTENTIAL REVERSIBLE CAUSES
5H 5T
Resuscitation Drugs
Epinephrine
Cardiac Rhythm
Vasopressin
Ventricular Tachicardi
Amiodarone
Ventricular Fibrillation
Lidocaine
Pulseless Electrical Activity Magnesium Sulfate
Asystole Dopamine
Oxygen
ACLS
Algorithm
monitor / defibrilllator
B i p h as i c : m a n u f a c t u r e r
RECORDER recommmendation (initial dose 120
- 200 J), second and subsequent
doses should equivalent
Monophasic: 360 J
TEAM
LEADER
Post Cardiac Arrest Care
Post Cardiac Arrest care
Thanks…..
ARITMIA
Hery Wibowo,Ners.,M.Kep
Departemen Emergency
PS Keperawatan FK ULM
learning objectives
Irregular Kesan atrial fibrillation, AV block derajad II, multifocal atrial tachycardia, atau atrial
flutter dengan variable AV block
3. Bagaimana kompleks QRS nya, sempit atau lebar?
Sempit Ritme seharusnya berasal dari AV node atau diatasnya
Lebar Ritmenya mungkin berasal dari mana saja
Kompleks QRS lebih sering dibanding gelombang P --> an accelerated junctional atau ritme
ventricular
Shockable : apabila ritme
elektrokardiografi menggambarkan
Ventrikel Fibrilasi dan atau Supra Ventrikel
Tachycardi.
Non Shockable : apabila ritme
elektrokardiografi menggambarkan
bradycardi, assystole, PEA
AED
DIGUNAKAN BILA PASIEN MEMILIKI 3 TEMUAN
KLINIS
TIDAK ADA RESPON
TIDAK BERNAFAS
TIDAK ADA DENYUT
PENGOPERASIANNYA
HIDUPKANON
PASANG BANTALAN ELEKTRODA 1 DIBAWAH
KLAVIKULA DEXT, 1 DI APEX
TEKAN TOMBOL SHOCKEVALUASI->TIDAK ADA
NADIRJP 5 SIKLUS
TEAM WORK AND
ROLE
avoid excessive IV / IO acces
ventilation Ventilation in Epinephrine 1 mg every 3 - 5 minutes
30 : 2 if no Advanced airway Vasopressin IV / IO 40 units (1st or 2nd dose of
Airway epinephrine)
Amiodarone (IV / IO) 300 mg (1st) and 150 mg
(2nd)
High Quality CPR
IV / IO meds
compressor
monitor / defibrilllator
B i p h as i c : m a n u f a c t u r e r
RECORDER recommmendation (initial dose 120
- 200 J), second and subsequent
doses should equivalent
Monophasic: 360 J
TEAM
LEADER
VF/VT TANPA NADI
SURVEI PRIMERABCDE
DILANJUTKAN DENGAN RJPsambil menunggu DEO
DEO TIBAPASANG, TANPA MENGHENTIKAN RJP, SETELAH
TERPASANG DPT DI HENTIKAN SEKITAR 10 DETIK
BILA VT TANPA NADI / VF DC SHOCK 360 J MONOFASIK
ATAU 200 J BIFASIK
RJP 5 SIKLUS EVALUASI BILA MASIH VT TNP NADI / VF
DC SHOCKRJP 5 SIKLUS
EPINEPHRINE 1 MG IV/IO DAPAT DI ULANG TIAP 3MENIT
SURVEI SEKUNDERINTUBASI
RJP 5 SIKLUSEKG, BILA TETAP DC SHOCK 360 JRJP
TAMBAHKAN AMIODARON/LIDOKAIN 1-1,5 MG/KGBB
PEA(KELISTRIKAN TANPA
DENYUT)
KHASADA GAMBARAN EKG PADA
MONITOR NAMUN TIDAK ADA DENYUT
NADI PADA PERABAAN KAROTIS
EKGQRS LEBAR DENGAN FREKUENSI
RENDAH SEKITAR < 20X/MENIT ATAU 20-
40X/MENIT
KEADAAN INI BISA I DAHULUI OLEHMCI,
VT, VF
TATA LAKSANA
SURVEI PRIMERABCRJP
PASANG DEOSETELAH TERPASANG, HENTIKAN
RJP 10 DETIK
IDENTIFIKASI KEADAAN PEA
SEGERA BERI EPINEPHRINE 1MGLANJUTKAN RJP 2
MNTEVALUASI
MASIH PEAATROPIN 1MG IV/PORJPEVALUASI
MASIH PEA EPINEPHRINE 1MG
IV/PORJPEVALUASI
EVALUASIATROPIN DIBERIKAN MAKS. 3MG
SELEBIHNYA EPINEPHRIN
ASISTOL
HENTIJANTUNGAKHIR DARI
PERJALANAN HENTI JANTUNG
PERTOLONGAN SAMA DENGAN PEA
Kasus Takikardi
Takikardi dengan QRS sempit
Atrial fibrilasi
Atrial flutter
Takikardi dengan QRS lebar
VT monomorfik
VT polimorfik
Gejala
Sesak nafas
Nyeri dada
Penurunan kesadaran
Presinkopsinkop
Tanda lain yg menyertai
Hipotensi
EKGiskemik
Edema Paru
Akral Dinginpenurunan produksi urin
Tatalaksana
PRINSIP UMUM !!!!!
Periksa Nadi teraba/ tidak
Bila teraba stabil/tidaklihat gejala
dan tanda kasus takikardi
SEMUA TAKIKARDI TIDAK STABIL HARUS
KARDIOVERSI SEGERA kecuali, Sinus
Takikardi
SURVEI PRIMER DAN SEKUNDER
ABC
OKSIGEN DAN PANATAU SATURASI O2
PASANG EKGTENTUKAN QRSLEBAR/SEMPIT,
DAN TERATUR/TIDAK TERATUR
PERIKSA TEKANAN DARAH DAN NADI
CARI DAN ATASIPENYEBAB YANG REVERSIBEL
LIHAT GEJALA STABIL/TIDAK
PASIEN STABIL
EKG 12 SADAPANLIHAT QRSLEBAR,SEMPIT, TERATUR/TIDAK
TERATUR
PASANG INFUS BILA BLM TERPASANG
QRS SEMPIT (<0,12 DTK)
TERATURMANUVER VAGAL≠adenosin 6 mg IV bolus,gagal12
mg,12 mgAdenosin dpt AV blok
TIDAK TERATURkonsulbeta bloker/ diltiazem
QRS LEBAR (> 0,12 DTK)konsul Ahli
TERATUR Amiodaron 150 mg IV—10 mnt, dpt diulang s/d 2,2
gram / 24 jam
TIDAK TERATURadenosin,
digoksin,diltiazem,verapamilAmiodaron dpt dipertimbangkan
Torsade de pointesmagnesium 1-2 gr—5-60 menit
PASIEN TIDAK STABIL
PASANG INFUS, BERI SEDASI BILA PASIEN
SADAR
KARDIOVERSI
AFIBDAN VT MONOMORFIK—
>100J,200J,300J,360J
AFLUT DAN SVT50J,100J,200J,300J,360J
VT POLIMORFIKASINKRONISASI DC
SHOCK360 J
Kasus Bradikardi
Denyut jantung <60 kali/ menit
Gejala :
Sesak afas
Nyeri dada
Kesadaran menurun
Lemah, hampir pingsan, pingsan (sinkop)
Tanda :
Hipotensi atau syok
Edema paru
Akral dingin dan ↓ prod. urin
Penanganan
Pastikan tidak ada gangguan nafas
Berikan oksigen
Pasang monitor EKG, tekanan darah dan
oksimetri
Pasang jalur IV
Perhatikan EKG
Jika bukan AV blok II tipe 2 atau AV blok III,
lakukan,....
Beri atropin sulfat 0,5mg IV, jika tidak ada
peningkatan respon jantung ulangi
pemberian sulfat atropino,5mg (3-5 menit).
Dosis maks 3mg.
Bila dosis sudah 3 mg dan tidak ada respon
peningkatan denyut jantung, pikirkan
pemberian obat lain, seperti epinefrin 2-10
µg/menit atau dopamin 2-10µg/kgbb/menit.
Case Presentation
W an i t a (5 6
tahun), datang
dalam keadaan
sinkope, Tekanan
darah 90 mmHg,
RR 18 x / menit,
nadi 40 x / menit
teraba lem ah,
keringat dingin.
Case Study
Laki - laki (54 thn) dirawat di
ruang intensive dengan keluhan
nyeri dada. Pasien tiba - tiba
terlihat lemas dan nampak
tidak sadar
What Should
You Do ?!?
Thanks…..
Neurological Emergency:
STROKE
Ns. Novi Mustahdiati Nasri, M.Kep.
TABLE OF CONTENTS
01 Konsep Stroke
Mekanisme:
• Thrombosis
• Embolism
• Hemorrhage
Thrombosis
Sumbatan pembuluh darah oleh thrombus
Biasanya terjadi pada daerah yang atherosclerosis
Terjadi pada penderita tua
Biasanya terjadi pada saat tidur
Embolism
Bekuan darah, plaque fragments mengikuti
aliran darah; menyangkut, mengeblok aliran
darah
Sering berhubungan dengan:
Atherosclerosis of carotids
Chronic atrial fibrillation
Hemorrhage
Robeknya pembuluh darah otak
Dihubungkan dengan hypertension, aneurysms
of cerebral blood vessels
Dikenali dengan:
Onset yang tiba-tiba
Gejala dan tanda yang berat
PENYEBAB DAN FAKTOR RISIKO STROKE
Usia
Jenis Kelamin
Penyakit Jantung
Hipertensi
Kolesterol Tinggi
Aneurisma Otak
Merokok
Diabetes Mellitus
Obesitas
Penyalahgunaan obat
Faktor Emosi/Stres
Gaya Hidup Tidak Sehat
BAHAYA STROKE
TANDA DAN GEJALA STROKE
CT-
Lab
TTV GDS Scan
Darah
Kepala
TATA LAKSANA UMUM
STROKE
Nilai dan pertahankan ABC’s
Beri terapi oksigenasi
Monitor tanda-tanda vital
Puasakan pasien
Manajemen nyeri
Manajemen posisi
Lakukan pemeriksaan penunjang segera
Stroke yang disebabkan thrombus dan embolus mungkin reversible
dengan obat-obatan trombolitik
MANAJEMEN TROMBOLITIK
Tahap persiapan: SCREENING
PEMERIKSAAN YANG BIASANYA KOMPLIKASI YANG MUNGKIN
DILAKUKAN SETELAH PEMBERIAN TERJADI AKIBAT PEMBERIAN
TROMBOLITIK: TROMBOLITIK:
● Angiogram
● Massive bleeding
● CT scan
● Reaksi alergi
● Ekokardiogram
● Perdarahan di hidung, tinja, atau urine
● Foto rontgen
● Perdarahan atau memar di sekitar
bekas suntik atau area dimasukannya
kateter
● Kerusakan ginjal, terutama jika
memiliki diabetes
● Tekanan darah rendah (hipotensi)
● Pergerakan gumpalan darah ke
bagian tubuh lainnya
● Pembengkakan jaringan
(angioedema)
02
Rekomendasi Sistem Penatalaksanaan
Stroke dengan Pendekatan 8D
CHAIN OF SURVIVAL STROKE: 8D
01 Detection 05 Data
02 Dispatch 06 Decision
03 Delivery 07 Drug/Device
04 Door 08 Disposition
Deteksi gejala stroke yang dikenal di dunia adalah dengan
menggunakan singkatan FAST yang terdiri dari Face, Arm,
Speech, dan Time.
Berdasarkan beberapa studi yang ada, FAST dapat
mengidentifikasi 69-90% dari seluruh kasus stroke.
Terdapat penyempurnaan dari FAST menjadi BEFAST yang
dapat mengidentifikasi lebih dari 95% kasus stroke.
DETECTION BEFAST merupakan singkatan dari Balance, Eye, Face, Arm,
Speech, dan Time.
Di Indonesia, hanya 50,2% pasien stroke mendapatkan
penanganan di RS sejak 24 jam onset. Alasan terlambatnya
penanganan ini adalah karena 56,3% pasien tidak mengetahui
mereka mengalami stroke, 21,5% masalah transportasi, dan
11,8% memilih konsumsi obat-obatan tradisional.
Indonesia memiliki sistem penanggulangan gawat darurat terpadu
(SPGDT) yang berbasis call center dengan kode telekomunikasi 119.
Penelitian menunjukkan bahwa dari seluruh pasien dengan gejala
yang dicurigai stroke oleh paramedik, 96% kasus adalah benar stroke.
Artinya paramedik dapat mengidentifikasi gejala stroke dengan baik.
Beberapa strategi dalam implementasi sistem SPGDT dalam
penanganan kasus stroke:
Harus dipastikan bahwa pasien stroke memiliki akses cepat untuk
DISPATCH
menghubungi SPGDT.
Petugas SPGDT merespon cepat dengan protokol, alat, dan
pelatihan yang sesuai dengan panduan dari AHA/ASA terbaru.
Tenaga paramedik, dokter di IGD, dan dokter ahli di bidang stroke
(spesialis) berkolaborasi dalam mengembangkan pelatihan
kepada petugas SPGDT.
Pasien langsung dikirim ke pusat stroke terdekat untuk dievaluasi
dan ditangani dengan jarak dan waktu transportasi secepatnya.
Dalam menangani kasus stroke, AHA/ ASA membuat kategori
berdasarkan tingkat rumah sakit, yaitu acute stroke ready
DELIVERY hospital, pusat stroke primer, dan pusat stroke komprehensif.
Selain tiga kategori rumah sakit tersebut, terdapat rumah sakit
dasar yang dapat mengidentifikasi dan melakukan transfer
pasien.
Acute stroke ready hospital dapat
melakukan trombolisis intravena dan
memiliki CT scan dengan hasil
interpretasi radiologi yang cepat.
Pusat Stroke Primer (Primary Stroke
Center/PSC) memiliki kemampuan
berupa unit stroke dan penanganan
berkelanjutan dari pasien stroke.
Pusat stroke komprehensif
(Comprehensive Stroke Center/ CSC)
memiliki dokter bedah saraf,
neurointervensi, dan penanganan
stroke hemoragik.
Pendekatan Alur
Rujukan
Berdasarkan studi
Drip and Ship Mothership tersebut, pengiriman
pasien langsung ke CSC
dapat mempersingkat
waktu door to needle (IV-
Mengirimkan pasien ke Mengirimkan pasien
langsung ke CSC agar tPA) dan door to groin
pusat stroke primer (PSC)
terdekat yang dapat dapat langsung mendapat puncture (trombektomi
memberikan terapi IV-tPA terapi trombolisis intravena mekanik) bila diperlukan.
dalam waktu 30 menit maupun reperfusi dengan
Hal ini juga harus
trombektomi mekanik
mempertimbangkan
kondisi geografis dari
lingkungan pasien dan
Ketika terdapat sumbatan
rumah sakit.
pembuluh darah besar,
pasien dipersiapkan untuk
dikirimkan ke pusat stroke
komprehensif (CSC)
Saat pasien datang ke instalasi gawat darurat (IGD), triage dan
evaluasi awal airway, breathing, dan circulation akan dilakukan.
Saturasi oksigen yang direkomendasikan tetap terjaga di atas
94%.
DOOR Pasien dengan gejala curiga stroke akan dilakukan anamnesis
mengenai onset dan gejala, pemeriksaan fisik spesifik dan
pemeriksaan gula darah sewaktu, serta pemeriksaan penunjang
laboratorium darah.
Waktu yang direkomendasikan untuk door to CT yaitu ≤ 20 menit,
door to needle (trombolisis intravena/ IV-tPA) ≤ 60 menit, dan
door to groin puncture (trombektomi mekanik) ≤ 90 menit.
Pada tahapan ini, dilakukan pemeriksaan CT scan non kontras
yang merupakan pilihan utama dalam memutuskan langkah
selanjutnya dalam tatalaksana awal stroke akut.
DATA
CT scan bertujuan untuk mengeksklusi adanya perdarahan baik
intrakranial ataupun subaraknoid sehingga pasien dapat diterapi
sebagai stroke iskemik akut.
Pada tahapan ini, ditentukan diagnosis dan manajemen akut
yang akan diberikan.
Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang disimpulkan derajat keparahan dan jenis stroke.
Pasien dikonsulkan ke dokter neurologi (neurovaskular atau
DECISION stroke) dan dipertimbangkan pilihan manajemen terbaik bagi
pasien berdasarkan algoritma manajemen pasien stroke.
Keluarga diberikan edukasi dan informed consent mengenai
pilihan terapi yang ada beserta resikonya. Keputusan terapi
diserahkan kepada pasien dan keluarga.
Pada pasien stroke iskemik akut yang masih berada pada
periode emas yaitu <3-4,5 jam sejak onset gejala
direkomendasikan terapi trombolisis intravena.
Selama pemberian terapi trombolitik, perlu diperhatikan
DRUG/DEVIC
kemungkinan terjadinya perdarahan dan alergi pada pasien.
E
Trombolisis intravena yang dilakukan lebih cepat dapat
menghasilkan hasil yang lebih baik dan menimbulkan risiko yang
lebih sedikit.
Untuk pasien dengan sumbatan pembuluh darah besar (LVO),
terapi trombektomi mekanik langsung dilakukan segera setelah
trombolisis intravena tanpa menunggu perbaikan klinis (bridging).
Setelah pasien mendapat terapi yang sesuai, pasien dapat
dipindahkan ke ruang perawatan biasa atau unit stroke.
DISPOSITION Review sistematis dari 26 artikel menunjukkan bahwa adanya
pelayanan unit stroke dapat menurunkan angka kematian pada
satu tahun follow-up dan ketergantungan pasien.
03
Asuhan Keperawatan
pada Pasien Stroke
PENGKAJIAN
Keadaan
Mekanisme Tanda & Riwayat
umum Onset Life Style
kejadian Gejala Penyakit
pasien
CT-
Lab
TTV GDS Scan EKG
Darah
Kepala
Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Faktor risiko: aneurisma cerebri, embolisme, hipertensi.
Kondisi klinis terkait: stroke.
LUARAN: INTERVENSI:
Perfusi serebral Edukasi program pengobatan
Mobilitas fisik Edukasi prosedur Tindakan
Status neurologis Manajemen trombolitik
Pemantauan tanda vital
Ditandai dengan:
Perawatan neurovaskuler
• Tingkat kesadaran
• Tanda-tanda vital
• Rentang gerak
• Kekuatan otot
Penurunan Kapasitas Adaptif Intrakranial
Berhubungan dengan: edema serebral.
LUARAN: INTERVENSI:
Kapasitas adaptif intrakranial Manajemen peningkatan TIK
Perfusi serebral Pemantauan TIK
Status neurologis Manajemen jalan napas
Manajemen medikasi
Ditandai dengan:
Pemantauan hasil laboratorium
• Tingkat kesadaran
• Muntah proyektil Pemantauan neurologis
• Sakit kepala
• Tanda-tanda vital Pemantauan tanda vital
• Refleks neurologis Pengaturan posisi
Gangguan Komunikasi Verbal
Berhubungan dengan: penurunan sirkulasi serebral.
LUARAN: INTERVENSI:
Komunikasi verbal Promosi komunikasi: deficit bicara
Status neurologis Manajemen medikasi
Ditandai dengan:
• Kemampuan bicara
• Afasia
• Pelo
• Pemahaman komunikasi
DIAGNOSIS LAIN:
*dll
Risiko Ganggua
Nyeri sesuai
perdarah n rasa
akut kebutuha
an nyaman
n pasien
MATERI EDUKASI
(*dapat dilakukan di ruang perawatan ketika pasien akan
dipulangkan)
2024 2
Mengidentifikasi Racun
TOXIDROMES
Sedatif Opioid Simpatomimetik
2024 3
TOXIDROMES
Kolinergik
Efek Muskarinik
*organofosfat & insektisida Efek Nikotinik
(DUMBLES MNEMONIC)
karbamat, physostigmine,
Diare, diaphoresis Tachicardia
pilokarpin & nikotin
Urinasi Hipertensi
Tanda & gejala: Miosis Fasciculations
• Kombinasi dari efek muskarinik dan Bradycardia, bronchorrhea Paralisis
nikotinik
Emesis Midriasis
Lacrimasi
Salivasi
2024 4
TOXIDROMES
Antikolinergik
2024 5
2024 6
KEGAWATDARURATAN TOKSIKOLOGIS SPESIFIK
*Analgesik
2024 7
Racun yang Berasal dari Lingkungan
2024 8
Antidot
2024 9
Antidot
2024 10
Proritas umum untuk pasien
keracunan
• Berikan O2 tambahan jika diperlukan
• Berikan terapi IV dan infus RL
• Berikan nalokson 0,4-2mg dapat melalui iv, im, sc, io, endotrakeal atau sublingual, jika pasien diduga
terpapar opioid
• Periksa kadar glukosa darah dan infus dekstrosa 50% pada 50 ml (25gr) intravena jika diperlukan untuk
mempertahankan normoglikemia.
• Berikan 50 sampai 10 mg thiamin secara intravena untuk pasien dewasa dengan dugaan penyalahgunaan
alkohol kronis.
• akukan pemantauan jantung secara kontinyu dan periksa 12 lead elektrokardiogram sesuai dengan indikasi.
• Pantau urine output.
• Periksa gas darah arteri sesuai indikasi.
• Lakukan monitoring secara berkala kadar elektrolit, tanda-tanda vital, pernafasan, jantung dan status
neurologis.
• Periksa riwayat paparan: (zat, waktu terpapar, akut/kronis, rute paparan, jumlah zat paparan,
disengaja/tidak, obat yg diberikan sebelum ke IGD, usia pasien, riwayat medis, keterlibatan faktor psikologis,
sosial/lingkungan.
• Berikan obat penawar atau antidot yang sesuai (jika tersedia).
• Berikan pendidikan kepada pasien, keluarga, dan orang lain yang penting bagi pasien untuk mencegah
terulangnya kejadian di masa yang akan datang.
2024 11
Intervensi Terapeutik untuk
Keracunan dan Overdosis
Induksi emesis Arang aktif
Pemberian sirup ipecac Pemberian arang aktif
untuk merangsang muntah melalui oral atau NGT
pada pasien
Cathartics/obat
Bilas/lavage lambung pencahar
Tindakan pengosongan
Pemberian obat untuk
lambung yang bertujuan
membuang racun dari
membuang zat beracun yang
saluran pencernaan
masih terdapat di lambung
13
Prinsip penatalaksanaan keracunan
15
2024 16
2023 17
2023
18