0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan281 halaman

Sejarah dan Prinsip Triage Medis

Diunggah oleh

Rahmah Rahmah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan281 halaman

Sejarah dan Prinsip Triage Medis

Diunggah oleh

Rahmah Rahmah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

triage

Hery Wibowo,S.Kep.,Ns.,M.Kep

http://www.free-powerpoint-emplates-design.com

http://www.free-powerpoint-emplates-design.com
Tujuan

Menggambarkan sejarah triage

Menggambarkan konsep Triage.

Menggambarkan perbedaan system triage dari kategori


triage
Introduction
 Triage tidak mudah atau simple
 Triage yang sebenarnya sangat
kompleks, komprehensif dan
kontroversial
Triage History
 Definisi : dari kata Prancis “Trier” yang artinya
membagi dalam 3 grup
 Dikembangkan di medan pertempuran
 Konsep ini digunakan bila terjadi bencana
 Dilaksanakan diruang gawat darurat dari tahun
1950/1960 karena 2 alasan :
Kunjungan pasien meningkat
Banyak kasus non-urgent yang datang ke UGD
Triage
• Derived from the French word trier, meaning “
to sort”
• First used by the chief surgeon of Napoleon’s
army (Dominique-Jean Larrey) in the early 19t
h century

• First published report of civilian ED triage in


1966
Prinsip Triage
o Segera dan tepat waktu
o Pengkajian yang adekuat dan akurat
o Keputusan berdasarkan hasil pengkajian
o Interensi disesuaikan dengan kondisi pasien
o Kepuasan pasien
o Dokumentasi intervensi yang menyeluruh
Cara melakukan Triage
Ada berbagai cara
Cara yang mudah : START (Simple Triage A
nd Rapid Treatment) biasanya digunakan pa
da prehospital
Triage di Rumah Sakit ada 3 type : traffic
director, spot check, comprehensive
Triage
 Suatu Proses yang mana pasien digolongkan
menurut 3 tipe dan tingkat kegawatan kondisinya
 Hal ini diatur untuk mendapatkan
- Pasien yang benar ke tempat yang benar
pada waktu yang benar dengan tersedianya
perawatan yang benar
Klasifikasi
Triage!!
Daily and Disaster
Sistem Triage
 Non-Disaster : untuk
menyediakan perawatan sebaik
mungkin bagi tiap pasien
 Disaster : untuk menyediakan
perawatan yang efektif dengan
pasien dalam jumlah banyak
Triage in Hospital
Tipe 1 : Traffic director or non-nurse triage
 Hampir sebagian besar berdasarkan system triage
 Dilakukan oleh petugas yang tidak berlisensi
triage/tidak kompeten
 Pengkajian minimal terbatas pada keluhan utama dan
seberapa sakitnya
 Tidak ada dokumentasi
 Tidak menggunakan protokol
Triage in Hospital
Tipe 2 : Cek triage cepat
 Pengkajian cepat dengan melihat yang
dilakukan perawat beregistrasi atau dokter
 Termasuk riwayat kesehatan yang
berhubungan dengan keluhan utama
 Evaluasi terbatas
 Tujuan untuk meyakinkan bahwa pasien yang
lebih serius atau cedera mendapatkan
perawatan pertama
Triage in Hospital
Tipe 3 : Comprehensive triage
 Dilakukan oleh perawat dengan pendidikan yang sesuai
dan berpengalaman
 Mempunyai lisensi triage
 Peralatan yang memadai
 4-5 kategori
 Sesuai dengan protokol
Konsep Triage
 Tujuan utama adalah untuk mengidentifikasi kondisi
yang mengancam jiwa
 Tujuan kedua adalah untuk memprioritaskan pasien
menurut keakutannya
 Pengkategorian mungkin ditentukan sewaktu-waktu
(level kegawatan dan berubah seiring waktu Up
Triage)
 Jika ragu, pilih prioritas yang lebih tinggi untuk
menghindari penurunan level triage
Klasifikasi Triage
Berdasarkan pada :
• Pengetahuan
• Data yang tersedia
• Situasi yang berlangsung

Sistem klasifikasi : menggunakan nomor,


huruf atau tanda
Disaster
triage!!
Saat ada MCI
GOAL:
TO SAVE THE LARGEST NUMBER
OF
SURVIVORS FROM
A MULTIPLE CASUALTY INCIDENT
Triage Coding
Priority Treatment Color
Immediate 1 RED
Urgent 2 Yellow

Delayed 3 Green
Black
Dead 0
Triage Labelling
Prioritas 1 (emergency)
• Pasien dengan kondisi mengancam
nyawa memerlukan evaluasi dan
intervensi segera
• Pasien dibawa keruang resusitasi
• Waktu tunggu nol
Priority 1 (Immediate)
Prioritas 2 (urgent)
• Pasien dengan penyakit akut
• Mungkin membutuhkan trolley, kursi
roda atau jalan kaki
• Waktu tunggu 30 menit
• Area critical care
Triage Priorities
Priority 1. Priority 2.
Immediate Category Urgent Category

Casualties require Casualties require


immediate life-saving significant intervention
treatment. as soon as it can be
given
Priority 2 (Urgent)
Prioritas 3 (non urgent)

• Pasien biasanya dapat berjalan dengan


masalah medis minimal
• Luka lama
• Kondisi yang timbul sudah lama
• Area ambulatory / ruang P 3
Triage Priorities

Priority 3.
Delayed Category

These patients will require medical


interventions but not urgently.
Priority 3 (Delayed)

27
Prioritas 4 / 0
(Kasus kematian /expectant)

• Tidak ada respon pada segala rangsangan


• Tidak ada respirasi spontan
• Tidak ada bukti aktivitas jantung
• Hilangnya respon pupil terhadap cahaya
Triage Priorities
Priority 4
Expectant Category.

Patients who are so severely injured that any


attempts to treat them would have very little
chance of a successful outcome.

Has never been used invoked in a UK


Major Incident.
Priority 4 (Expectant)

30
3 kategori system triage
Format asli triage

Prioritas Tertinggi Prioritas kedua Prioritas ketiga

p1 p2 p3
Triage Protocol (START)
Simple Triage And Rapid Treatment
4 system kategori
Merupakan pengembangan

Prioritas Tinggi P1
Sekunder, Class 2,
Sedang, Urgent Prioritas tertinggi
Segera, Class 1, Berat,
P2 Emergency

Meninggal
Mungkin meninggal,
Class 0 (harus benar
benar dievaluasi). P3
Prioritas rendah
Dapat ditunda, Class 3,
ringan, non urgent.
P4
Prioritas 1
Kasus Berat

Example
• Perdarahan hebat
• Asfiksia, cedera cervical, cedera pada maxilla
• Trauma kepala dengan koma dan proses shock
yang cepat
• Fraktur terbuka dengan dan fraktur compound
• Luka bakar >30% /extensive burn
• Crush injury
• Shock tipe apapun
Prioritas 2
Kasus Sedang

Example
• Trauma Thorax non asfiksia
• Fraktur tertutup pada tulang panjang
• Luka bakar terbatas (<30% TWB)
• Cedera pada bagian jaringan lunak
Prioritas 3
Kasus Ringan

Example
• Minor injury
• Seluruh kasus-kasus pasien rawat jalan
Prioritas 4
Expectant, Bisa juga disebut p0

Example
• Tidak ada respon pada semua rangsangan
• Tidak ada respirasi spontan
• Tidak ada bukti aktivitas jantung
• Hilangnya respon pupil terhadap cahaya
Thank you
Konsep Dasar
Keperawatan
Gawat Darurat
Our topic

Konsep Proses
Keperawatan
Keperawatan SPGDT
& Pola
Darurat Pengkajian

2
1.
Konsep
Keperawatan
Darurat
Keperawatan
Gawat Darurat ?
Asuhan perawatan
Yg diberikan pada individu dari seluruh
rentang usia yang mengalami gangguan
Kesehatan yg bersifat aktual/gawat/
mengancam nyawa.

4
Setting praktik?
✗ IGD
✗ Militer
✗ Urgent care center
✗ Klinik kesehatan
✗ Pelayanan rawat jalan
✗ Sekolah/ universitas
✗ Perusahaan
✗ Lembaga pemasyarakatan
✗ Klinik kesehatan kerja
✗ Dll.

5
HUKUMnya bagaimana?
UU no.38 tahun 2014 tentang Keperawatan
✗ Dalam keadaan darurat u/ memberikan
pertolongan 1 perawat dapat melakukan tindakan
medis & pemberian obat sesuai dg kompetensi
✗ Bertujuan u/ menyelamatkan nyawa klien &
mencegah kecacatan lebih lanjut
✗ Keadaan darurat: keadaan yg mengancam nyawa/
kecacatan klien
✗ Keadaan darurat ditetapkan oleh perawat sesuai dg
hasil evaluasi berdasarkan keilmuannya

6
Peran & Fungsi
Perawat Gawat Darurat
 Direct care provider (pemberi
pelayanan Kesehatan)
 Leadership (manajer klinis)
 Educator (pendidik)
 Researcher (peneliti)
 Collaborative practice (praktik
kolaboratif

7
Standar Praktik Keperawatan
Gawat Darurat

✗ Mencerminkan nilai-nilai & prioritas untuk


perawat darurat
✗ Memberikan arahan untuk praktik keperawatan
gawat darurat professional
✗ Memberikan kerangka kerja untuk evaluasi
praktik keperawatan gawat darurat

8
Standar Praktik Keperawatan
Gawat Darurat

✗ Pengkajian yg akurat & berkelanjutan bio-psiko-


sosial
✗ Analisis data pengkajian u/ mengidentifikasi
masalah
✗ Identifikasi kriteria hasil berdasarkan pengkajian &
identifikasi masalah
✗ Menyusun rencana keperawatan

9
Standar Praktik Keperawatan
Gawat Darurat

✗ Mengimplementasikan rencana keperawatan


✗ Mengevaluasi & memodifikasi rencana keperawatan
✗ Mengevaluasi kualitas & efektivitas praktik keperawatan
✗ Mematuhi standar praktik keperawatan gadar
✗ Berkolaborasi lintas profesi
✗ Berkomunikasi sec.terbuka thd pasien, keluarga, profesi
lain, dsb.

10
2.
Proses
Keperawatan &
Pola Pengkajian
✗ Assessment
 Primary survey
 Secondary survey
• History
• Vital sign
• Clinical examination
✗ Investigations
✗ Identification of problems
✗ Nursing interventions
✗ Re-assessment
Emergency Nursing Association,
2007

12
Assessment (primary survey)
Danger Response Airway
Pastikan lingkungan aman bagi Kaji respon pasien. Kaji airway paten/tidak.
pasien/penolong sebelum Menentukan kesadaran (AVPU) • Jika Ya + responsive: beri
memberikan pertolongan pertolongan u/ membebaskan jalan
napas
• Jika Ya + unresponsive: head tilt &
Breathing Circulation chin lift
Cek pernapasan, ventilasi Kaji nadi adekuat/tidak, CRT
• Pertimbangkan: C-spine,
immobilisasi, suctions, ETT
adekuat/tidak Pertimbangkan: defibrilasi; RJP,
kontrol perdarahan; elevasi kaki
(kec.spinal injury), IV akses.
Queensland Ambulance Service,
2016

13
Assessment (primary survey)
Airway Breathing Circulation
Kaji jalan napas dari sumbatan & Kaji ada tidaknya distress Kaji nadi adekuat/tidak, adanya
lakukan pembebasan jalan napas dg pernapasan & lakukan pemberian perdarahan dan kondisi perfusi.
memperhatikan cervical pasien oksigen Kontrol perdarahan; elevasi kaki
(kec.spinal injury), IV akses, RJP,
defibrilasi.
Disability Exposure
Kaji singkat trama neurologis, cek Kaji pasien head to toe,
kemampuan gerak ekstremitas, cek lepaskankan pakaian pasien jika
GCS, laterasi pupil/refleks pupil: diperlukan, untuk mencari
isokor, refleks cahaya, dilatasi. trauma di tempat lain. Cegah
Lakukan stabilisasi kehilangan panas tubuh Emergency Nursing Association,
2007

14
Secondary survey
Riwayat kesehatan Vital sign Pemeriksaan fisik
Signs/symtoms Kaji ulang denyut nadi, Kaji ulang head to toe (kepala,
pernapasan, tekanan darah, leher, dada, perut, panggul,
Allergies
suhu tubuh, dan saturasi ekstremitas atas, dan
Medications oksigen. ekstremitas bawah.
Pertinent past medical history Pertimbangkan: saturasi
Last oral intake, + last oksigen, GCS, EKG 12 lead,
gula darah.
menstruation (for mowan)
Events leading to the ilness or
injury

15
Investigasi & Analisis
Identifikasi ketersediaan:
✗ Hasil diagnostik
✗ Hasil laboratorium

Diperlukan untuk menetapkan alur perawatan pasien


secara pasti.

16
Identifikasi Masalah
Proses identifikasi dan analisa data dilakukan untuk
kategorisasi data sehingga dapat diidentifikasi masalah
kesehatan/kebutuhan pasien dan prioritas intervensi yg
harus dilakukan.

17
Intervensi keperawatan
✗ Intervensi independen
✗ Intervensi dependen
✗ Intervensi interdependen

18
Re-assessment/
Evaluasi
Re-assessment dilakukan scara
terus-menerus (on-going
assessment) sesuai dg tingkat
kegawatdaruratan pasien.

19
Komunikasi
Identification
Situation
Background
Assessment
Recommendation

20
SPGDT
Sistem Penanggulangan Gawat
Darurat Terpadu

Suatu mekanisme pelayanan korban/ pasien gawat


darurat yang terintegrasi dan berbasis call center
dengan menggunakan kode akses telekomunikasi 119
dengan melibatkan masyarakat

22
Latar Belakang SPGDT
 Tingginya angka Kematian di IGD/ kurang 24 jam :12,2 per
seribu termasuk angka death on arrival
 Respon time layanan ambulance lebih dari 1 jam dan belum
dilayani tenaga kompeten (dokter dan perawat yang terlatih)
 Fakta: 3 besar penyebab kematian dan kecacatan di IGD:
Stroke, KLL, serangan jantung
 Belum terintegrasi/ terorganisasinya unsur-unsur pemberi
pelayanan pra dan antar RS
 Indonesia terletak di ring of fire, kejadian bencana baik alam,
non alam maupun bencana sosial

23
Tujuan

 Meningkatkan akses dan mutu pelayanan


kegawatdaruratan; dan
 Mempercepat waktu penanganan (respon time)
korban/pasien gawat darurat dan menurunkan
angka kematian serta kecacatan.

24
Penyelenggara SPGDT

 sistem komunikasi gawat darurat


 Sistem penanggungan korban/pasien gawat darurat
 Sistem transportasi gawat darurat.

25
Tupoksi dalam Komunikasi
✗ National Command Center (NCC) 119 Kementerian Kesehatan
• Pemberi informasi dan panduan terhadap penanganan
kasus kegawatdaruratan
✗ Public Safety Center (PSC) di Dinkes kabupaten kota, RS atau
lokasi lain sesuai ketetapan Pemda
• Pemberi pelayanan korban/pasien gawat darurat dan/atau
pelapor melalui proses triase (pemilahan kondisi
korban/pasien gawat darurat);
• Pemandu pertolongan pertama (first aid);
• Pengevakuasi korban/pasien gawat darurat; dan
• Pengoordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan.
✗ Fasilitas Pelayanan Kesehatan

26
Deskripsi Kegiatan
✗ National Command Center (NCC) 119
 Memilah panggilan darurat/non gawat darurat;
 Meneruskan panggilan ke PSC; dan
 Dokumentasi, monitoring, pelaporan dan evaluasi.
✗ Public Safety Center (PSC)
• Melaksanakan pelayanan kegawatdaruratan dengan menggunakan
algoritme kegawatdaruratan;
• Memberikan layanan ambulans;
• Memberikan informasi tentang fasilitas pelayanan kesehatan; dan
• Memberikan informasi tentang ketersediaan tempat tidur di rumah
sakit.
✗ Fasilitas Pelayanan Kesehatan
• Melakukan pelayanan kesehatan sesuai dengan kemampuannya
27
Public Safety Center (PSC)
 Dapat berupa unit kerja sebagai wadah koordinasi untuk
memberikan pelayanan gawat darurat secara cepat,
tepat, dan cermat bagi masyarakat
119
 Diselenggarakan 24 (dua puluh empat) jam sehari secara
terus menerus
 Dapat dilaksanakan secara bersama-sama dengan unit
teknis lainnya di luar bidang kesehatan seperti kepolisian
dan pemadam kebakaran tergantung kekhususan dan
kebutuhan daerah

28
Ketenagaan PSC
✗ Koordinator;
✗ Tenaga kesehatan;
✗ Operator call center; dan
✗ Tenaga lain.

29
Penanganan Korban/Pasien
Gawat Darurat

 Penanganan prafasilitas pelayanan kesehatan;


 Penanganan intrafasilitas pelayanan kesehatan; dan
 Penanganan antarfasilitas pelayanan kesehatan

30
Prafasilitas Pelayanan
Kesehatan
 Tindakan pertolongan terhadap korban/pasien gawat
darurat yang cepat dan tepat di tempat kejadian
sebelum mendapatkan tindakan di fasilitas pelayanan
kesehatan
 Harus memperhatikan kecepatan penanganan
korban/pasien gawat darurat.
 Pemberian pertolongan terhadap korban/pasien gawat
darurat oleh masyarakat hanya dapat diberikan dengan
panduan operator call center sebelum tenaga
kesehatan tiba di tempat kejadian

31
Intrafasilitas Pelayanan
Kesehatan

 Pelayanan gawat darurat yang diberikan kepada pasien


di dalam fasilitas pelayanan kesehatan sesuai standar
pelayanan gawat darurat
 Dilakukan melalui suatu sistem dengan pendekatan
multidisiplin dan multiprofesi

32
Antarfasilitas Pelayanan
Kesehatan

 Tindakan rujukan terhadap korban/pasien gawat


darurat dari suatu fasilitas pelayanan kesehatan ke
fasilitas pelayanan kesehatan lain yang lebih mampu

33
Sistem Transportasi Gawat
Darurat

 Diselenggarakan oleh PSC dan/atau fasilitas pelayanan


Kesehatan
 Menggunakan ambulas gawat darurat
 Standar dan pelayanan ambulans gawat darurat sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

34
Pelaporan

 Setiap PSC harus melakukan pencatatan dan


pelaporan penyelenggaraan SPGDT
 Dilaporkan secara berkala setiap tahun kepada
bupati/walikota melalui kepala dinas kesehatan
kabupaten/kota dilanjutkan ke Gubernur dan Menteri
Kesehatan melalui Direktur Jenderal

35
Monitoring dan Evaluasi

 Untuk mewujudkan sinergi, kesinambungan, dan


efektifitas pelaksanaan kebijakan/program SPGDT
 Dilakukan secara berkala melalui koordinasi dan
pemantauan langsung terhadap pelaksanaan dalam
kebijakan/program spgdt

36
37
38
39
PSC Banjarbaru
Call/wa
08115039119

40
Thanks!
Any questions?

41
“You have inspired so many
emergency nurses because
of your caring, mentoring,
passion, advocacy, support,
and friendship.”

42
ACUTE CORONARY
SYNDROME
HERY WIBOWO,NS,M.KEP
ACUTE CORONARY SYNDROME

There’s what you’ll find in this Slides:

1. Pengertian ACS.
2. Faktor Resiko Yang menyebabkan ACS
3. Patofisiologi terjadinya ACS
4. Manifestasi Klinis dari ACS
5. Penatalaksanaan ACS
6. Asuhan Keperawatan ACS
02 04
Risk Factor Manifestasi Klinis
CONTENTS
Faktor Resiko Yang Manifestasi Klinis dari
menyebabkan ACS ACS

06
Asuhan Keperawatan
01 03 05 Asuhan Keperawatan
ACS
Definition Patofisiologi Penatalaksanaan
Pengertian, apa itu ACS Patofisiologi terjadinya Penatalaksanaan ACS
ACS
01
DEFENISI
Background, Pengertian, apa itu ACS
BACKGROUND
● Cardiovascular Disease is the
number 1 cause of mortality
Worldwide  due to Coronary
Artery Disease
● Acute Coronary Syndrome 
time-based management
(based on latest guideline)
ACUTE CORONARY SYNDROME
● ~Heart Attack
● any group of clinical symptoms
compatible with acute
myocardial ischemia
● “there isn’t enough blood flow
to the heart”
● spectrum of clinical conditions
ranging from unstable angina
(UA) to NSTEMI to STEMI

BMJ 2015;351:h5153 doi: 10.1136/bmj.h5153


definisi

Acute Coronary Syndrome (ACS) merupakan


gangguan fungsi sistem kardiovaskuler yang
disebabkan karena otot jantung kekurangan darah
akibat adanya oklusi pembuluh darah arteri
koroner dan tersumbatnya pembuluh darah
jantung sehingga darah yang membawa oksigen dan
nutrisi ke jantung menjadi berkurang (AHA,
2017).
02
FAKTOR RESIKO
Pengertian, apa itu ACS
FAKTOR RESIKO

Usia Obesitas Aktifitas Fisik Kolesterol Merokok


Berusia 45 tahun ke Berat Badan Berlebih Jarang Melakukan Memiliki Kadar Kolesterol
atas untuk pria dan Aktifitas Olahraga Tinggi dalam darah
55 tahun ke atas
untuk wanita.
SAYANGI
JANTUNG ANDA
03
PATOFISIOLOGI
Patofisiologi terjadinya ACS
Cross sectional view of the arterial lumen demonstrating the initial
preservation of the arterial lumen in the early stages of atherosclerotic
accumulation
PATOFISIOLOGI ACS

Heart 2000;83:361–366;

(Circulation. 2017;136:1155–1166. DOI: 10.1161/CIRCULATIONAHA.117.029870)


CORONARY BLOOD SUPPLY
MICRO CIRCULATION
04
MANIFESTASI KLINIS
Gejala yang muncul pada ACS
Manifestasi klinis
Manifestasi klinis dari SKA adalah (Nugroho & Putri, 2016):
1) Adanya nyeri dada yang khas,
Karakteristik seperti ditekan, diremas, dibakar, terasa penuh yang terjadi dalam
beberapa menit. Nyeri dapat menjalar ke dagu, leher, bahu, punggung, atau kedua lengan.
Nyeri disertai rasa mual, sempoyongan, berkeringat, berdebar, dan sesak napas.
2)Perubahan EKG
3)Peningkatan enzim jantung.
4)Hipertensi dan berkeringat yang menunjukkan adanya respon katekolamin, edema
5)Peningkatan tekanan vena jugular yang menunjukkan adanya gagal jantung
ACS: The Tip of the
Atherothrombotic “Iceberg” Acute Plaque Rupture
(UA/NSTEMI/STEMI)

Clinical

Subclinical

Presence of Multiple Persistent Hyperreactive Vascular


Coronary Plaques Platelets Inflammation
ACS=acute coronary syndrome.
UA=unstable angina.
Bhatt DL. J Invasive Cardiol. 2003;15:3B-9B. NSTEMI=non-ST-segment elevation myocardial infarction.
STEMI=ST-segment elevation myocardial infarction.
EVALUASI DASAR
History Taking
STEMI NSTE-ACS
• Typical Anginal Chest Pain ● Prolonged Angina at Rest (>20
 Substernal, crushing/squeeze,>20 minutes)
minutes ● De Novo Angina (Class II-III
• Diaphoresis, Nausea, Vomiting CCS)
 Anginal Equivalent ● Crescendo Angina
 Dyspnea, Epigastric Pain ● Post MI Angina
~DM, Elderly, Women, CKD
• History
 CAD
• Risk Factors (Diabetes, Dyslipidemia,
Hypertension, Smokers, Male, Age)

(2017 ESC Guidelines for themanagement of acute myocardial infarction in patients presenting with ST-segment elevation)
(2020 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes in patients presenting without persistent ST-segment elevation)
BASIC EVALUATION
● Frequently unremarkable
● Evaluate for Acute Complication

○ Cardiac Arrest

○ Acute Heart Failure

○ Cardiogenic Shock

○ Arrhythmia (Brady / Tachyarrhythmia)

○ Mechanical Complication

○ Pericardial Complication
● Precipitating Factors
● Differential Diagnoses
ECG in ACS STEMI

• New ST-elevation at J point, ≥ 2


contiguous leads, 2mm (men) /
1.5mm (women) lead V2-V3, 1 mm
other leads
• New onset LBBB
• Posterior: 0.05mV ST-elevation
V7–V9, ST depression V1-V3
• RV: ST-elevation ≥ 0.05mV in
V3R-V4R

(2017 ESC Guidelines for themanagement of acute myocardial infarction in patients presenting with ST-segment elevation)
ECG in ACUTE CORONARY
SYNDROMES STEMI

(2017 ESC Guidelines for themanagement of acute myocardial infarction in patients presenting with ST-segment elevation)
ECG in ACUTE CORONARY
SYNDROMES
NSTE-ACS

(2020 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes in patients presenting without persistent ST-segment elevation)
Differential Diagnoses

coronary syndromes in the

Bold = common and/or important differential diagnoses.


aDilated, hypertrophic and restrictive cardiomyopathies may cause angina or chest discomfort.

©ESC
2020 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes in patients presenting without
www.escardio.org/guidelines
persistent ST-segment elevation (European Heart Journal 2020 - doi/10.1093/eurheartj/ehaa575)

(2015 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes in patients presenting without persistent ST-segment elevation)
klasifikasi

1. Infark Miokard dengan


STEMI Infark miokard dengan elevasi segmen ST akut (STEMI) merupakan indikator
kejadian oklusi total pembuluh darah arteri koroner.
2. Infark Miokard dengan NSTEMI
NSTEMI ditegakkan jika terdapat keluhan angina pektoris akut tanpa elevasi segmen
ST yang persisten di dua sadapan yang bersebelahan.
3. UAP: Unstable Angina Pectoris
Disebabkam primer oleh kontraksi otot poles pembuluh koroner sehingga
mengakibatkan iskemia miokard. patogenesis spasme tersebut hingga kini belum
diketahui, kemungkinan tonus alphaadrenergik yang berlebihan (Histamin, Katekolamin
Prostagglandin).
PENEGAKKAN DIAGNOSA

1. Anamnesa
Menggunakan format pengkajian PQRST
2. Laboratorium
Hasil troponin dan CK-MB
3. EKG
05
PENATALAKSANAAN ACS
INITIAL TREATMENT OF
ACUTE CORONARY SYNDROME

● Relief hypoxemia & symptoms


● Antiplatelet Loading Dose
REVIEW OF SYSTEMS

Mercury is the closest planet


to the Sun

● Here you can list the symptoms


observed in the patient
● Here you can list the symptoms
observed in the patient
● Here you can list the symptoms
observed in the patient
● Here you can list the symptoms
observed in the patient
STEMI
Reperfusion (Primary PCI / Fibrinolysis)

2017 ESC Guidelines for the management of acute myocardial infarction in patients presenting with ST-segment elevation
Reperfusion according
time from symptoms
FIBRINOLYSIS
TINDAKAN STABILISASI
Dikutip dari buku standar pelayanan medik PJNHK ( dr Irmalita at al, 2009 ) penanganan kegawatdaruratan adalah:
a) Diagnosis dini
1) Riwayat nyeri dada atau perasaan tidak nyaman.
2) Elevasi segmen ST > 1 mm pada 2 sandapan prekordial atau ektremitas yang berhubungan, juga LBBB yang dianggap
baru.
3) Peningkatan enzim jantung ( CK-MB dan Troponin T )
4) Ekokardiografi dapat membantu adanya infark miokard akut
b) Tatalaksana awal
1) Oksigen, 4 liter / menit (saturasi O2 dipertahankan >90 %).
2) Nitrogliserin untuk memperbaiki pengiriman oksigen ke miokard dan menurunkan kebutuhan oksigen di miokard.
3) Aspirin untuk dikunyah bila tidak ada kontra indikasi, untuk menghambat agregasi platelet dan mencegah konstriksi
arterial.
4) Morphin untuk mengurangi kecemasan dan kegelisahan
5) Clopidogrel
NSTE-ACS
● Risk Stratification
● Invasive Strategy (Immediate/Early/Invasive/Non-Invasive)
RISK STRATIFICATION

(2015 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes in patients presenting without persistent ST-segment elevation)
INVASIVE MANAGEMENT

● Coronary angiography facilitates clarification as to whether presumed anginal chest


pain originates from myocardial ischaemia, as a consequence of a culprit lesion, or
not

(2015 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes in patients presenting without persistent ST-segment elevation)
(2020 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes in patients presenting without persistent ST-segment elevation)
06
ASUHAN KEPERAWATAN
Nursing Management
The nursing management involved in ACS is critical
and systematic, and efficiency is needed to
implement the care for a patient with ACS
Nursing Assessment
One of the most important aspects of care of the patient with ACS is the
assessment.
● Assess for chest pain not relieved by rest or medications.
● Monitor vital signs, especially the blood pressure and pulse rate.
● Assess for presence of shortness of breath, dyspnea, tachypnea, and
crackles.
● Assess for nausea and vomiting
● Assess for decreased urinary output.
● Assess for the history of illnesses.
● Perform a precise and complete physical assessment to detect
complications and changes in the patient’s status.
● Assess IV sites frequently.
Diagnosis
Based on the clinical
manifestations, history, and
diagnostic assessment data,
major nursing diagnoses may
include.
● Ineffective cardiac tissue
perfusion related to reduced
coronary blood flow.
● Risk for ineffective peripheral
tissue perfusion related
to decreased cardiac
output from left ventricular
dysfunction.
● Deficient knowledge related to
post-ACS self-care.
To establish a plan of care, the focus should be
on the following:
● Relief of pain or ischemic signs and symptoms.
● Prevention of myocardial damage.
● Absence of respiratory dysfunction.
● Maintenance or attainment of adequate tissue perfusion.
● Reduced anxiety.
● Absence or early detection of complications.
● Chest pain absent/controlled.
● Heart rate/rhythm sufficient to sustain adequate cardiac
output/tissue perfusion.
● Achievement of activity level sufficient for basic self-care.
● Anxiety reduced/managed.
● Disease process, treatment plan, and prognosis understood.
● Plan in place to meet needs after discharge
Nursing Priorities
● Relieve pain, anxiety.
● Reduce myocardial workload.
● Prevent/detect and assist in treatment of life-threatening
dysrhythmias or complications.
● Promote cardiac health, self-care.
Nursing Interventions
Nursing interventions should be anchored on the goals in the nursing care plan.
● Administer oxygen along with medication therapy to assist with relief of symptoms.
● Encourage bed rest with the back rest elevated to help decrease chest discomfort
and dyspnea.
● Encourage changing of positions frequently to help keep fluid from pooling in the
bases of the lungss.
● Check skin temperature and peripheral pulses frequently to monitor tissue perfusion.
● Provide information in an honest and supportive manner.
● Monitor the patient closely for changes in cardiac rate and rhythm, heart sounds,
blood pressure, chest pain, respiratory status, urinary output, changes in skin color,
and laboratory

Evaluation
● After the implementation of the interventions within the time specified, the nurse should
check if:
● There is an absence of pain or ischemic signs and symptoms.
● Myocardial damage is prevented.
● Absence of respiratory dysfunction.
● Adequate tissue perfusion maintained.
● Anxiety is reduced.
CONCLUSIONS
● STEMI  Reperfusion Strategy is
decided according CV risk,
Hospital Readiness
● NSTE-ACS  Reappraisal of
Diagnosis according High
Troponins
● Focus Nursing Priorities in ACS
THANKS FOR
YOUR ATTENTION
Do you have any questions?
ns.herywibowoskep@gmail.com
+6281280102146
@herywibowo.81

Sebaik-baik manusia adalah mereka yang


memberikan manfaat untuk orang lain.

hadits riwayat sahabat Jabir radliyallahu anhu yang


dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam kitab Al-
Mu’jamul Ausath. Derajatnya dinilai shahih oleh Al-
Albani [Shahihul Jami’ h. 3289].
DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis


2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen
3. Hambatan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane alveolar-kapiler
4. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan hiperventilasi
5. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas
6. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan hipertensi

7. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi


8. Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status terkini
RENCANA KEPERAWATAN
ALTERNATIVE RESOURCES

● Female doctor holding a plush heart and ● Doctor checking patient with
a stethoscope stethoscope
● Portrait of charming young man ● Hand holding stethoscope
standing against on white background ● Tired female doctor taking out her
● Young doctor measuring tension to a glasses
patient
● Male doctor hands measuring tension to
a patient
● Person showing decorative vinous heart
● Doctor presenting plastic heart
● Heart with cross near stethoscope and
medications
Kasus
 “seorang pasien, laki – laki
usia 58 tahun dirawat di
ruang jantung setelah
pemasangan PCI. 2 hari
sebelumnya, pasien
mengalami serangan ACS.
Saat ini pasien mengalami
penurunan kesadaran dengan
tekanan darah 88 / 60
mmHg, frekuensi nafas 24 x /
menit, SaO2 93 % dengan Non
rebreathing mask”
Kasus
 “seorang pasien, laki –
laki usia 49 tahun
dirawat di bangsal
penyakit dalam akibat
ada pembengkakan
pada ekstremitas.
Selama 7 tahun pasien
mengalami terapi HD.
Sejak jam 6 pagi,
pasien mengalami
penurunan kesadaran.
Tekanan darah turun
ke 78 / 55 mmHg,
frekuensi nafas 26 x /
menit, SaO2 98 %
dengan NRM, suhu
tubuh 37 C”.
Kasus
 “saatdatang, pasien
tampak terkulai lemas
dan terlihat tidak
bernafas”
Gambaran Monitor
referensi
Incidence
OHCA

• Adult: 347.322 (2015, EMS Watched)


• Children: 7037 (2015)

Sport related:

• 3775 in Portland (2002 – 2015)

Covid Effect

• Incidence increased 3 x (new York)


Tinjauan Materi

Definisi
Definition
“Cessation of cardiac mechanical activity
as confirmed by the absence of signs of
circulation”
(AHA)
Berhentinya aktivitas mekanik jantung yang
dikonfirmasi oleh tidak adanya tanda-tanda sirkulasi
 Cardiac Arrest berbeda dengan Heart
Attack yaitu terjadi karena penurunan
aliran darah ke otot jantung sehingga
menimbulkan manifestasi gangguan
jantung
 Pada kasus Cardiac Arrest harus
dilakukan penanganan dengan segera
mungkin, yaitu dengan pijatan jantung
paru (CPR) diikuti dengan defibrillator (DC
Shock) bila diperlukan.
Klasifikasi
Berdasarkan kondisi saat
ditemukan:
•Witnessed
•Unwitnessed

Berdasarkan lokasi kejadian

•In hospital
•Out of Hospital

Berdasarkan Jenis irama


jantung:
•Shockable
•Non Shockable
Etiologi
Cardiac Non Cardiac
Iskemik (70%) Hipoksia
Hipertrofi Ventrikel Kiri Emboli Pulmoner
Gagal jantung kongestif Pneumothoraks
Kardiomiopati Obstruktif Hipertrofi Toksin
Cardiac Tamponade Abnormalitas Elektrolit
Wolf Parkinson White Syndrome Hipotermi
Brugada Syndrome Sepsis
Long QT Congenital Syndrome Hipovolemik
Asidosis
Patofisiologi

Edema
•Peningkatan TIK
•Penurunan CPP

Heart
Blood Penurunan ATP
doesn’t ISCHEMIA
Flow •Eflux Kalium
pump •Influx Natrium dan Kalsium

Kerusakan Sel
•Aktivasi sistem inflamasi
•Percepatan kematian sel
Tata laksana
 Chain Of Survival
In Hospital Cardiac Arrest
Activation of
Emergency
Response

 Semua staf di RS, medik dan non medik, harus bisa


mengenali kondisi henti jantung
 Jika kejadian berada di zona luar IGD dan ICU, segera
aktifkan Code Blue
High Quality CPR & Early Defibrillation

• High Quality CPR dilakukan segera


setelah henti jantung dikenali
• BLS dilakukan sambil menunggu tim
penanganan tingkat lanjut datang
• Defibrilasi dilakukan baik dengan
Automated External Defibrillator
maupun Defibrillator manual
High Quality CPR
Compression rate 100 - 120 x / min

Compression Depth 5 - 6 cm

Minimize Interuption (no more 10 s)

Allow Complete Chest Recoil

Avoid Excessive Ventilation

Change Compressor every 2 minutes or sooner if fatiqued

Compression : Ventilation ratio 30 : 2 if no advanced airway

PETCO2 > 10 mmHg


Early CPR & Defibrillation
Advanced care

 Meliputi penanganan henti


jantung dengan pendekatan
tim (3 – 5 orang)
 Manajemen jalan nafas
tingkat lanjut
 Penggunaan obat – obatan
resusitasi
 Penggunaan Defibrilasi
secara manual
 Penanganan pada
penyebab henti jantung
Post Cardiac
Arrest Care
Post Cardiac Arrest Care Mengoptimalkan
Ventilasi

Mengoptimalkan
Hemodinamik

Targeted Temperature
Management

Immediate
Reperfusion

Kontrol gula darah


Out of Hospital Cardiac Arrest
Activation of Emergency
Response

Peran masyarakat sangat


krusial

Masyarakat harus mampu


mengenali kejadian henti
jantung

Masyarakat tahu nomor pusat


bantuan
Pentingnya By Stander CPR
High Quality CPR di Masyarakat
CPR oleh penolong awam dapat meningkatkan peluang selamat
pasien menjadi 2 – 3 kali lipat

Korban yang tidak sadar tiba – tiba dan tidak bernafas atau
hanya gasping, diasumsikan mengalami henti jantung

CPR dilakukan dengan Chest Compression Only ataupun


CPR secara penuh

CPR dapat diberikan oleh masyarakat dengan panduan


ataupun tidak

CPR aman jika diberikan pada bukan henti jantung


Chest Compression Only

High Quality CPR Blood Flow

Blood Flow
Compression + Breath 30 : 2

Blood Flow Blood Flow

Ewy GA, et al. Circulation. 2007;116(22):2525-30.


SOS-Kanto study group. Cardiopulmonary resuscitation by bystanders with chest compression only (SOS-
KANTO): an observational study. Lancet. 2007;369:920-6.
Early Defibrillation
Masyarakat memiliki peran penting
dalam melakukan defibrilasi secara dini

Perlu penempatan Public Access


Defibrillator pada fasilitas Publik

Perlu pelatihan penggunan AED pada


tingkat masyarakat
Peran EMS

High Quality CPR

Penanganan tingkat lanjut

Transportasi dan
monitoring menuju RS This Photo by Unknown Author is licensed under CC BY-NC-ND

rujukan
Basic Life Support
BLS Pada
Dewasa
BLS pada Anak dan
Infant
Special
Consideration
Advanced Cardiac Life Support
POTENTIAL REVERSIBLE CAUSES

5H 5T

Hypovolemia Tension Pneumothorax

Hypoxia Tamponade, cardiac

Hydrogen Ion Toxins

Hypo / hyperkalemia Thrombosis, Pulmonary

Hypothermia Thrombosis, coronary


BASIC OF KNOWLEDGE

Resuscitation Drugs
Epinephrine
Cardiac Rhythm
Vasopressin
Ventricular Tachicardi
Amiodarone
Ventricular Fibrillation
Lidocaine
Pulseless Electrical Activity Magnesium Sulfate

Asystole Dopamine

Oxygen
ACLS
Algorithm

1. Shockable Rhythm: Go to Left Side


2. Non Shockable Rhythm: Go to Right Side
 Shockable : apabila ritme
elektrokardiografi menggambarkan
Ventrikel Fibrilasi dan atau Supra Ventrikel
Tachycardi.
 Non Shockable : apabila ritme
elektrokardiografi menggambarkan
bradycardi, assystole, PEA
DEO/AED
 DIGUNAKAN BILA PASIEN MEMILIKI 3 TEMUAN
KLINIS
 TIDAK ADA RESPON
 TIDAK BERNAFAS
 TIDAK ADA DENYUT
 PENGOPERASIANNYA
 HIDUPKANON
 PASANG BANTALAN ELEKTRODA 1 DIBAWAH
KLAVIKULA DEXT, 1 DI APEX
 TEKAN TOMBOL SHOCKEVALUASI->TIDAK ADA
NADIRJP 5 SIKLUS
 Prinsip-prinsip penanganan Cardiac Arrest :
 Mengenal secara dini penyakit sebelum
terjadinya cardiac arrest
 Resusitasi Jantung Paru secara tepat dan cepat
dan pemberian oksigenasi yang adequate
 Defibrilasi dengan segera bila jantung
menggambarkan Ventrikel Fibrilasi dan Supra
Ventrikel Tachycardi.
 ACLS dengan segera
TEAM WORK AND
ROLE
avoid excessive IV / IO acces
ventilation Ventilation in Epinephrine 1 mg every 3 - 5 minutes
30 : 2 if no Advanced airway Vasopressin IV / IO 40 units (1st or 2nd dose of
Airway epinephrine)
Amiodarone (IV / IO) 300 mg (1st) and 150 mg
(2nd)
High Quality CPR
IV / IO meds
compressor

monitor / defibrilllator

B i p h as i c : m a n u f a c t u r e r
RECORDER recommmendation (initial dose 120
- 200 J), second and subsequent
doses should equivalent
Monophasic: 360 J
TEAM
LEADER
Post Cardiac Arrest Care
Post Cardiac Arrest care
Thanks…..
ARITMIA
Hery Wibowo,Ners.,M.Kep

Departemen Emergency
PS Keperawatan FK ULM
learning objectives

• Identify Haemodinamic Condition in Arrhytmia

• Managing Patients with Bradicardi

• Managing Patients with Tachicardi


Identifikasi Aritmia
1. Apakah rate nya lambat (<60 bpm) atau cepat (>100 bpm)?
Lambat Suggests sinus bradikardia, sinus arrest, atau blokade konduksi
Cepat Suggets increased/abnormal automaticity or reentry

2. Apakah ritmenya irregular?

Irregular Kesan atrial fibrillation, AV block derajad II, multifocal atrial tachycardia, atau atrial
flutter dengan variable AV block
3. Bagaimana kompleks QRS nya, sempit atau lebar?
Sempit Ritme seharusnya berasal dari AV node atau diatasnya
Lebar Ritmenya mungkin berasal dari mana saja

4. Bagaimana keterkaitan gelombang P waves dan kompleks QRS?


Gelombang P lebih banyak daripada kompleks QRS --> AV block derajad 2 dan 3

Kompleks QRS lebih sering dibanding gelombang P --> an accelerated junctional atau ritme
ventricular
 Shockable : apabila ritme
elektrokardiografi menggambarkan
Ventrikel Fibrilasi dan atau Supra Ventrikel
Tachycardi.
 Non Shockable : apabila ritme
elektrokardiografi menggambarkan
bradycardi, assystole, PEA
AED
 DIGUNAKAN BILA PASIEN MEMILIKI 3 TEMUAN
KLINIS
 TIDAK ADA RESPON
 TIDAK BERNAFAS
 TIDAK ADA DENYUT
 PENGOPERASIANNYA
 HIDUPKANON
 PASANG BANTALAN ELEKTRODA 1 DIBAWAH
KLAVIKULA DEXT, 1 DI APEX
 TEKAN TOMBOL SHOCKEVALUASI->TIDAK ADA
NADIRJP 5 SIKLUS
TEAM WORK AND
ROLE
avoid excessive IV / IO acces
ventilation Ventilation in Epinephrine 1 mg every 3 - 5 minutes
30 : 2 if no Advanced airway Vasopressin IV / IO 40 units (1st or 2nd dose of
Airway epinephrine)
Amiodarone (IV / IO) 300 mg (1st) and 150 mg
(2nd)
High Quality CPR
IV / IO meds
compressor

monitor / defibrilllator

B i p h as i c : m a n u f a c t u r e r
RECORDER recommmendation (initial dose 120
- 200 J), second and subsequent
doses should equivalent
Monophasic: 360 J
TEAM
LEADER
VF/VT TANPA NADI
 SURVEI PRIMERABCDE
 DILANJUTKAN DENGAN RJPsambil menunggu DEO
 DEO TIBAPASANG, TANPA MENGHENTIKAN RJP, SETELAH
TERPASANG DPT DI HENTIKAN SEKITAR 10 DETIK
 BILA VT TANPA NADI / VF DC SHOCK 360 J MONOFASIK
ATAU 200 J BIFASIK
 RJP 5 SIKLUS EVALUASI BILA MASIH VT TNP NADI / VF
DC SHOCKRJP 5 SIKLUS
 EPINEPHRINE 1 MG IV/IO DAPAT DI ULANG TIAP 3MENIT
 SURVEI SEKUNDERINTUBASI
 RJP 5 SIKLUSEKG, BILA TETAP DC SHOCK 360 JRJP
 TAMBAHKAN AMIODARON/LIDOKAIN 1-1,5 MG/KGBB
PEA(KELISTRIKAN TANPA
DENYUT)
 KHASADA GAMBARAN EKG PADA
MONITOR NAMUN TIDAK ADA DENYUT
NADI PADA PERABAAN KAROTIS
 EKGQRS LEBAR DENGAN FREKUENSI
RENDAH SEKITAR < 20X/MENIT ATAU 20-
40X/MENIT
 KEADAAN INI BISA I DAHULUI OLEHMCI,
VT, VF
TATA LAKSANA
 SURVEI PRIMERABCRJP
 PASANG DEOSETELAH TERPASANG, HENTIKAN
RJP 10 DETIK
 IDENTIFIKASI KEADAAN PEA
 SEGERA BERI EPINEPHRINE 1MGLANJUTKAN RJP 2
MNTEVALUASI
 MASIH PEAATROPIN 1MG IV/PORJPEVALUASI
 MASIH PEA EPINEPHRINE 1MG
IV/PORJPEVALUASI
 EVALUASIATROPIN DIBERIKAN MAKS. 3MG
SELEBIHNYA EPINEPHRIN
ASISTOL
 HENTIJANTUNGAKHIR DARI
PERJALANAN HENTI JANTUNG
 PERTOLONGAN SAMA DENGAN PEA
Kasus Takikardi
 Takikardi dengan QRS sempit
 Atrial fibrilasi
 Atrial flutter
 Takikardi dengan QRS lebar
 VT monomorfik
 VT polimorfik
 Gejala
 Sesak nafas
 Nyeri dada
 Penurunan kesadaran
 Presinkopsinkop
 Tanda lain yg menyertai
 Hipotensi
 EKGiskemik
 Edema Paru
 Akral Dinginpenurunan produksi urin
Tatalaksana
 PRINSIP UMUM !!!!!
 Periksa Nadi teraba/ tidak
 Bila teraba stabil/tidaklihat gejala
dan tanda kasus takikardi
 SEMUA TAKIKARDI TIDAK STABIL HARUS
KARDIOVERSI SEGERA kecuali, Sinus
Takikardi
 SURVEI PRIMER DAN SEKUNDER
 ABC
 OKSIGEN DAN PANATAU SATURASI O2
 PASANG EKGTENTUKAN QRSLEBAR/SEMPIT,
DAN TERATUR/TIDAK TERATUR
 PERIKSA TEKANAN DARAH DAN NADI
 CARI DAN ATASIPENYEBAB YANG REVERSIBEL
 LIHAT GEJALA STABIL/TIDAK
 PASIEN STABIL
 EKG 12 SADAPANLIHAT QRSLEBAR,SEMPIT, TERATUR/TIDAK
TERATUR
 PASANG INFUS BILA BLM TERPASANG
 QRS SEMPIT (<0,12 DTK)
 TERATURMANUVER VAGAL≠adenosin 6 mg IV bolus,gagal12
mg,12 mgAdenosin dpt AV blok
 TIDAK TERATURkonsulbeta bloker/ diltiazem
 QRS LEBAR (> 0,12 DTK)konsul Ahli
 TERATUR Amiodaron 150 mg IV—10 mnt, dpt diulang s/d 2,2
gram / 24 jam
 TIDAK TERATURadenosin,
digoksin,diltiazem,verapamilAmiodaron dpt dipertimbangkan
 Torsade de pointesmagnesium 1-2 gr—5-60 menit
 PASIEN TIDAK STABIL
 PASANG INFUS, BERI SEDASI BILA PASIEN
SADAR
 KARDIOVERSI
 AFIBDAN VT MONOMORFIK—
>100J,200J,300J,360J
 AFLUT DAN SVT50J,100J,200J,300J,360J
 VT POLIMORFIKASINKRONISASI DC
SHOCK360 J
Kasus Bradikardi
 Denyut jantung <60 kali/ menit

Gejala :
 Sesak afas
 Nyeri dada
 Kesadaran menurun
 Lemah, hampir pingsan, pingsan (sinkop)

Tanda :
 Hipotensi atau syok
 Edema paru
 Akral dingin dan ↓ prod. urin
Penanganan
 Pastikan tidak ada gangguan nafas
 Berikan oksigen
 Pasang monitor EKG, tekanan darah dan
oksimetri
 Pasang jalur IV
Perhatikan EKG
 Jika bukan AV blok II tipe 2 atau AV blok III,
lakukan,....
 Beri atropin sulfat 0,5mg IV, jika tidak ada
peningkatan respon jantung ulangi
pemberian sulfat atropino,5mg (3-5 menit).
Dosis maks 3mg.
 Bila dosis sudah 3 mg dan tidak ada respon
peningkatan denyut jantung, pikirkan
pemberian obat lain, seperti epinefrin 2-10
µg/menit atau dopamin 2-10µg/kgbb/menit.
Case Presentation

W an i t a (5 6
tahun), datang
dalam keadaan
sinkope, Tekanan
darah 90 mmHg,
RR 18 x / menit,
nadi 40 x / menit
teraba lem ah,
keringat dingin.
Case Study
Laki - laki (54 thn) dirawat di
ruang intensive dengan keluhan
nyeri dada. Pasien tiba - tiba
terlihat lemas dan nampak
tidak sadar

What Should
You Do ?!?
Thanks…..
Neurological Emergency:

STROKE
Ns. Novi Mustahdiati Nasri, M.Kep.
TABLE OF CONTENTS

01 Konsep Stroke

Rekomendasi Sistem Penatalaksanaan Stroke


02 dengan Pendekatan 8D

03 Asuhan Keperawatan pada Pasien Stroke


01
Konsep Stroke
DEFINISI DAN
MEKANISME STROKE

Stroke adalah rusaknya bagian otak


karena aliran darah yang terganggu.

Mekanisme:
• Thrombosis
• Embolism
• Hemorrhage
Thrombosis
 Sumbatan pembuluh darah oleh thrombus
 Biasanya terjadi pada daerah yang atherosclerosis
 Terjadi pada penderita tua
 Biasanya terjadi pada saat tidur
Embolism
 Bekuan darah, plaque fragments mengikuti
aliran darah; menyangkut, mengeblok aliran
darah
 Sering berhubungan dengan:
 Atherosclerosis of carotids
 Chronic atrial fibrillation
Hemorrhage
 Robeknya pembuluh darah otak
 Dihubungkan dengan hypertension, aneurysms
of cerebral blood vessels
 Dikenali dengan:
 Onset yang tiba-tiba
 Gejala dan tanda yang berat
PENYEBAB DAN FAKTOR RISIKO STROKE
 Usia
 Jenis Kelamin
 Penyakit Jantung
 Hipertensi
 Kolesterol Tinggi
 Aneurisma Otak
 Merokok
 Diabetes Mellitus
 Obesitas
 Penyalahgunaan obat
 Faktor Emosi/Stres
 Gaya Hidup Tidak Sehat
BAHAYA STROKE
TANDA DAN GEJALA STROKE

 Penurunan Kesadaran  Tanda lokal


 Perubahan affek  Paralysis
 Confusion / bingung  Hilangnya indera raba
 Dizziness / pusing  Sulit bicara
 Coma
 Kebutaan sesisi
 Kejang  Hilangnya separuh medan
 Sakit kepala penglihatan kedua bola mata
 Kaku kuduk  Pupil yang tak sama ukurannya
PEMERIKSAAN

CT-
Lab
TTV GDS Scan
Darah
Kepala
TATA LAKSANA UMUM
STROKE
 Nilai dan pertahankan ABC’s
 Beri terapi oksigenasi
 Monitor tanda-tanda vital
 Puasakan pasien
 Manajemen nyeri
 Manajemen posisi
 Lakukan pemeriksaan penunjang segera
 Stroke yang disebabkan thrombus dan embolus mungkin reversible
dengan obat-obatan trombolitik
MANAJEMEN TROMBOLITIK
Tahap persiapan: SCREENING
PEMERIKSAAN YANG BIASANYA KOMPLIKASI YANG MUNGKIN
DILAKUKAN SETELAH PEMBERIAN TERJADI AKIBAT PEMBERIAN
TROMBOLITIK: TROMBOLITIK:

● Angiogram
● Massive bleeding
● CT scan
● Reaksi alergi
● Ekokardiogram
● Perdarahan di hidung, tinja, atau urine
● Foto rontgen
● Perdarahan atau memar di sekitar
bekas suntik atau area dimasukannya
kateter
● Kerusakan ginjal, terutama jika
memiliki diabetes
● Tekanan darah rendah (hipotensi)
● Pergerakan gumpalan darah ke
bagian tubuh lainnya
● Pembengkakan jaringan
(angioedema)
02
Rekomendasi Sistem Penatalaksanaan
Stroke dengan Pendekatan 8D
CHAIN OF SURVIVAL STROKE: 8D

01 Detection 05 Data

02 Dispatch 06 Decision

03 Delivery 07 Drug/Device

04 Door 08 Disposition
 Deteksi gejala stroke yang dikenal di dunia adalah dengan
menggunakan singkatan FAST yang terdiri dari Face, Arm,
Speech, dan Time.
 Berdasarkan beberapa studi yang ada, FAST dapat
mengidentifikasi 69-90% dari seluruh kasus stroke.
 Terdapat penyempurnaan dari FAST menjadi BEFAST yang
dapat mengidentifikasi lebih dari 95% kasus stroke.
DETECTION  BEFAST merupakan singkatan dari Balance, Eye, Face, Arm,
Speech, dan Time.
 Di Indonesia, hanya 50,2% pasien stroke mendapatkan
penanganan di RS sejak 24 jam onset. Alasan terlambatnya
penanganan ini adalah karena 56,3% pasien tidak mengetahui
mereka mengalami stroke, 21,5% masalah transportasi, dan
11,8% memilih konsumsi obat-obatan tradisional.
 Indonesia memiliki sistem penanggulangan gawat darurat terpadu
(SPGDT) yang berbasis call center dengan kode telekomunikasi 119.
 Penelitian menunjukkan bahwa dari seluruh pasien dengan gejala
yang dicurigai stroke oleh paramedik, 96% kasus adalah benar stroke.
Artinya paramedik dapat mengidentifikasi gejala stroke dengan baik.
 Beberapa strategi dalam implementasi sistem SPGDT dalam
penanganan kasus stroke:
 Harus dipastikan bahwa pasien stroke memiliki akses cepat untuk
DISPATCH
menghubungi SPGDT.
 Petugas SPGDT merespon cepat dengan protokol, alat, dan
pelatihan yang sesuai dengan panduan dari AHA/ASA terbaru.
 Tenaga paramedik, dokter di IGD, dan dokter ahli di bidang stroke
(spesialis) berkolaborasi dalam mengembangkan pelatihan
kepada petugas SPGDT.
 Pasien langsung dikirim ke pusat stroke terdekat untuk dievaluasi
dan ditangani dengan jarak dan waktu transportasi secepatnya.
 Dalam menangani kasus stroke, AHA/ ASA membuat kategori
berdasarkan tingkat rumah sakit, yaitu acute stroke ready
DELIVERY hospital, pusat stroke primer, dan pusat stroke komprehensif.
 Selain tiga kategori rumah sakit tersebut, terdapat rumah sakit
dasar yang dapat mengidentifikasi dan melakukan transfer
pasien.
 Acute stroke ready hospital dapat
melakukan trombolisis intravena dan
memiliki CT scan dengan hasil
interpretasi radiologi yang cepat.
 Pusat Stroke Primer (Primary Stroke
Center/PSC) memiliki kemampuan
berupa unit stroke dan penanganan
berkelanjutan dari pasien stroke.
 Pusat stroke komprehensif
(Comprehensive Stroke Center/ CSC)
memiliki dokter bedah saraf,
neurointervensi, dan penanganan
stroke hemoragik.
Pendekatan Alur
Rujukan

 Berdasarkan studi
Drip and Ship Mothership tersebut, pengiriman
pasien langsung ke CSC
dapat mempersingkat
waktu door to needle (IV-
Mengirimkan pasien ke Mengirimkan pasien
langsung ke CSC agar tPA) dan door to groin
pusat stroke primer (PSC)
terdekat yang dapat dapat langsung mendapat puncture (trombektomi
memberikan terapi IV-tPA terapi trombolisis intravena mekanik) bila diperlukan.
dalam waktu 30 menit maupun reperfusi dengan
 Hal ini juga harus
trombektomi mekanik
mempertimbangkan
kondisi geografis dari
lingkungan pasien dan
Ketika terdapat sumbatan
rumah sakit.
pembuluh darah besar,
pasien dipersiapkan untuk
dikirimkan ke pusat stroke
komprehensif (CSC)
 Saat pasien datang ke instalasi gawat darurat (IGD), triage dan
evaluasi awal airway, breathing, dan circulation akan dilakukan.
 Saturasi oksigen yang direkomendasikan tetap terjaga di atas
94%.
DOOR  Pasien dengan gejala curiga stroke akan dilakukan anamnesis
mengenai onset dan gejala, pemeriksaan fisik spesifik dan
pemeriksaan gula darah sewaktu, serta pemeriksaan penunjang
laboratorium darah.
 Waktu yang direkomendasikan untuk door to CT yaitu ≤ 20 menit,
door to needle (trombolisis intravena/ IV-tPA) ≤ 60 menit, dan
door to groin puncture (trombektomi mekanik) ≤ 90 menit.
 Pada tahapan ini, dilakukan pemeriksaan CT scan non kontras
yang merupakan pilihan utama dalam memutuskan langkah
selanjutnya dalam tatalaksana awal stroke akut.
DATA
 CT scan bertujuan untuk mengeksklusi adanya perdarahan baik
intrakranial ataupun subaraknoid sehingga pasien dapat diterapi
sebagai stroke iskemik akut.
 Pada tahapan ini, ditentukan diagnosis dan manajemen akut
yang akan diberikan.
 Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang disimpulkan derajat keparahan dan jenis stroke.
 Pasien dikonsulkan ke dokter neurologi (neurovaskular atau
DECISION stroke) dan dipertimbangkan pilihan manajemen terbaik bagi
pasien berdasarkan algoritma manajemen pasien stroke.
 Keluarga diberikan edukasi dan informed consent mengenai
pilihan terapi yang ada beserta resikonya. Keputusan terapi
diserahkan kepada pasien dan keluarga.
 Pada pasien stroke iskemik akut yang masih berada pada
periode emas yaitu <3-4,5 jam sejak onset gejala
direkomendasikan terapi trombolisis intravena.
 Selama pemberian terapi trombolitik, perlu diperhatikan
DRUG/DEVIC
kemungkinan terjadinya perdarahan dan alergi pada pasien.
E
 Trombolisis intravena yang dilakukan lebih cepat dapat
menghasilkan hasil yang lebih baik dan menimbulkan risiko yang
lebih sedikit.
 Untuk pasien dengan sumbatan pembuluh darah besar (LVO),
terapi trombektomi mekanik langsung dilakukan segera setelah
trombolisis intravena tanpa menunggu perbaikan klinis (bridging).
 Setelah pasien mendapat terapi yang sesuai, pasien dapat
dipindahkan ke ruang perawatan biasa atau unit stroke.
DISPOSITION  Review sistematis dari 26 artikel menunjukkan bahwa adanya
pelayanan unit stroke dapat menurunkan angka kematian pada
satu tahun follow-up dan ketergantungan pasien.
03
Asuhan Keperawatan
pada Pasien Stroke
PENGKAJIAN
Keadaan
Mekanisme Tanda & Riwayat
umum Onset Life Style
kejadian Gejala Penyakit
pasien

Sejak kapan Apakah


Identitas Mendadak Riwayat
Keluhan gejala sebelumnya
pasien atau tidak? merokok
muncul? pernah
stroke?

Tingkat Kapan Pemeriksaa Riwayat


terakhir kali n fisik dan Apa saja minum
kesadaran penyakit
pasien fungsi minuman
terlihat neurologis sebelumnya beralkohol
‘normal’? ?

Adakah Aktivitas dan


obat-obatan olahraga
rutin yang
dikonsumsi?
NIHSS
(National Institutes of Health Stroke Scale)

Merupakan skala yang telah digunakan secara luas untuk menilai


derajat keparahan stroke, serta respon terhadap terapi trombolisis.
NIHSS biasanya dinilai 24 jam atau 5 sampai 7 hari setelah perawatan.
Skor ini mengukur defisit neurologis, degan kisaran nilai dari 0 hingga
42. Skor yang lebih tinggi menunjukkan defisit neurologis yang lebih
berat.
PEMERIKSAAN LAINNYA

CT-
Lab
TTV GDS Scan EKG
Darah
Kepala
Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Faktor risiko: aneurisma cerebri, embolisme, hipertensi.
Kondisi klinis terkait: stroke.

LUARAN: INTERVENSI:
 Perfusi serebral  Edukasi program pengobatan
 Mobilitas fisik  Edukasi prosedur Tindakan
 Status neurologis  Manajemen trombolitik
 Pemantauan tanda vital
Ditandai dengan:
 Perawatan neurovaskuler
• Tingkat kesadaran
• Tanda-tanda vital
• Rentang gerak
• Kekuatan otot
Penurunan Kapasitas Adaptif Intrakranial
Berhubungan dengan: edema serebral.

LUARAN: INTERVENSI:
 Kapasitas adaptif intrakranial  Manajemen peningkatan TIK
 Perfusi serebral  Pemantauan TIK
 Status neurologis  Manajemen jalan napas
 Manajemen medikasi
Ditandai dengan:
 Pemantauan hasil laboratorium
• Tingkat kesadaran
• Muntah proyektil  Pemantauan neurologis
• Sakit kepala
• Tanda-tanda vital  Pemantauan tanda vital
• Refleks neurologis  Pengaturan posisi
Gangguan Komunikasi Verbal
Berhubungan dengan: penurunan sirkulasi serebral.

LUARAN: INTERVENSI:
 Komunikasi verbal  Promosi komunikasi: deficit bicara
 Status neurologis  Manajemen medikasi

Ditandai dengan:
• Kemampuan bicara
• Afasia
• Pelo
• Pemahaman komunikasi
DIAGNOSIS LAIN:

*dll
Risiko Ganggua
Nyeri sesuai
perdarah n rasa
akut kebutuha
an nyaman
n pasien
MATERI EDUKASI
(*dapat dilakukan di ruang perawatan ketika pasien akan
dipulangkan)

Rencana pengobatan dan prognosis


DNR
Rencana fisioterapi*
Aktifitas dan latihan saat di rumah*
Diit*
Perawatan luka decubitus*
Thanks!
Kegawatdaruratan
Toksikologi
Rizka Hayyu N.
Zat menimbulkan toksik

Analgesik; kosmetik/produk perawatan pribadi; zat pembersih rumah tangga;


obat penenang/hipnotik/antipsikotik; dan benda asing/mainan, dll.

2024 2
Mengidentifikasi Racun
TOXIDROMES
Sedatif Opioid Simpatomimetik

*etanol dan benzodiazepin *opioat & narkotika *kokain, amfetamine &


stimulan lainnya
Tanda & gejala:
Tanda & gejala:
• Penurunan tekanan darah, nadi & Tanda & gejala:
• Penurunan tekanan darah, nadi,
napas • Peningkatan tekanan darah, nadi,
napas & suhu
• Normotermik sampai hipotermia napas & suhu
• Depresi SSP, miosis, hiporefleksia
• Depresi SSP, penurunan bising usus, • Eksitasi SSP, tremor, kejang,
• Respon cepat untuk nalokson
hiporefleksia & ataksia hiperrefleksia, midriasis &
diaphoresis

2024 3
TOXIDROMES
Kolinergik
Efek Muskarinik
*organofosfat & insektisida Efek Nikotinik
(DUMBLES MNEMONIC)
karbamat, physostigmine,
Diare, diaphoresis Tachicardia
pilokarpin & nikotin
Urinasi Hipertensi
Tanda & gejala: Miosis Fasciculations
• Kombinasi dari efek muskarinik dan Bradycardia, bronchorrhea Paralisis
nikotinik
Emesis Midriasis
Lacrimasi
Salivasi

2024 4
TOXIDROMES
Antikolinergik

*antihistamin, antidepresan, trisiklik, cyclobenzaprine, obat


penyakit Parkinson, antispasmodic, mydriatics, & tanaman
tertentu (misal, jimsonweed)

Tanda & gejala:


• Peningkatan tekanan darah, nadi & suhu
• Midriasis, penurunan bising usus, membrane mukosa kering,
wajah kemerahan/flushing, retensi urin, agitasi, delirium &
halusiniasi

2024 5
2024 6
KEGAWATDARURATAN TOKSIKOLOGIS SPESIFIK
*Analgesik

Parasetamol Salisilat Obat anti


OD PCT menyebabkan terjadinya
(aspirin) inflamasi
kegagalan hati akut.
Symptom:
(NSAIDs)
Symptom:
1. Tahap awal (0-24 jam setelah
konsumsi). Iritasi gastrointestinal Takipnea, takikardia, mual, Symptom:
(mual, muntah, anoreksia). muntah, sakit perut, diaphoresis, Mengantuk, lesu, kejang (terutama
demam, dehidrasi, tinnitus, pada anak yg menelan >400mg/kg),
2. Tahap dorman (24-48 jam setelah hipoglikemi, perubahan status iritasi gastrointestinal, hipotensi,
konsumsi). Relative bebas toksisitas mental gastritic hemoragik, bradikardi, gagal ginjal,
(gangguan pencernaan mereda, kelainan koagulasi. hepatotoksisitas, apnea, asidosis
belum ditemukan adanya gagal hati metabolik
namun mulai terjadi.
3. Tahap hepatic (48-96 jam setelah
konsumsi). Progressive enselofati
hepatic mulai terjadi ditandai dg
kebingungan, lesu, dan koma.

2024 7
Racun yang Berasal dari Lingkungan

Zat besi Pestisida Sianida


Disebabkan kelebihan konsumsi
suplemen zat besi.
Symptom: Symptom:
Symptom:
1. Tahap pertama (0-2 jam setelah Takikardia, berkeringat, kram Hipoksia, kejang, asidosiis
konsumsi). Mual, muntah, sakit muntah, diare, bradikardi, metabolic, hipotensi, disritmia,
perut, hipotensi, hematemesis, hipotensi, penglihatan kabur, henti napas
tinja berdarah.
retensi urin, lakrimasi, mengi.
2. Tahap kedua (2-48 jam setelah
konsumsi). Penurunan gejala
gangguan gastrointestinal,
dehidrasi.
3. Tahap ketiga (48-96 jam setelah
konsumsi). Asidosis metabolic,
koagulopati, perdarahan dan syok,
kegagalan hati dan ginjal.

2024 8
Antidot

2024 9
Antidot

2024 10
Proritas umum untuk pasien
keracunan
• Berikan O2 tambahan jika diperlukan
• Berikan terapi IV dan infus RL
• Berikan nalokson 0,4-2mg dapat melalui iv, im, sc, io, endotrakeal atau sublingual, jika pasien diduga
terpapar opioid
• Periksa kadar glukosa darah dan infus dekstrosa 50% pada 50 ml (25gr) intravena jika diperlukan untuk
mempertahankan normoglikemia.
• Berikan 50 sampai 10 mg thiamin secara intravena untuk pasien dewasa dengan dugaan penyalahgunaan
alkohol kronis.
• akukan pemantauan jantung secara kontinyu dan periksa 12 lead elektrokardiogram sesuai dengan indikasi.
• Pantau urine output.
• Periksa gas darah arteri sesuai indikasi.
• Lakukan monitoring secara berkala kadar elektrolit, tanda-tanda vital, pernafasan, jantung dan status
neurologis.
• Periksa riwayat paparan: (zat, waktu terpapar, akut/kronis, rute paparan, jumlah zat paparan,
disengaja/tidak, obat yg diberikan sebelum ke IGD, usia pasien, riwayat medis, keterlibatan faktor psikologis,
sosial/lingkungan.
• Berikan obat penawar atau antidot yang sesuai (jika tersedia).
• Berikan pendidikan kepada pasien, keluarga, dan orang lain yang penting bagi pasien untuk mencegah
terulangnya kejadian di masa yang akan datang.
2024 11
Intervensi Terapeutik untuk
Keracunan dan Overdosis
Induksi emesis Arang aktif
Pemberian sirup ipecac Pemberian arang aktif
untuk merangsang muntah melalui oral atau NGT
pada pasien
Cathartics/obat
Bilas/lavage lambung pencahar
Tindakan pengosongan
Pemberian obat untuk
lambung yang bertujuan
membuang racun dari
membuang zat beracun yang
saluran pencernaan
masih terdapat di lambung

Hemodialisis dan Irigasi usus


hemoperfusi arang menyeluruh (WBI)
Tindakan yang diindikasikan Tindakan menghilangkan
untuk keracunan serius yang sebagian besar racun dari
menyebabkan asidosis saluran cerna dalam
metabolic berat, kelainan beberapa jam
elektrolit/ gagal ginjal 12
Pengkajian
 Primer
 Sekunder
 Triase
 Riwayat
 Pemeriksaan fisik
 Pemeriksaan laboratorium

13
Prinsip penatalaksanaan keracunan

• Mencegah / menghentikan penyerapan racun


• Mengeluarkan racun yang telah diserap
• Pengobatan simptomatik
• Pengobatan spesifik dan antidotum

2024 Pitch deck title 14


Diagnosis Keperawatan
• Ketidakefektifan pola nafas
• Gangguan pertukaran gas
• Ketidakefektifan perfusi jaringan
• Ketidakseimbangan volume cairan (Resiko)
• Gangguan proses pikir
• Hipovolemia
• Ketidakseimbangan elektrolit
• Dll.

15
2024 16
2023 17
2023
18

Anda mungkin juga menyukai