Anda di halaman 1dari 14

BLOK DIGESTIVE

Tugas Review Jurnal


GERD (Gastroesophageal ReIlux Disease)


Oleh

NAMA : Selvia Yuliani
NIM : H1A009036


Fakultas Kedokteran
Universitas Mataram
2011


KATA PENGANTAR
!uji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya
dengan rahmat hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan Review Jurnal ini sebagai
hasil rangkuman dari beberapa jurnal yang kami dapatkan pada blok sistem di
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram ini, yakni Blok DigestiI.
Materi yang kami bahas pada review jurnal minggu pertama kali ini
bertema 'Gatroesophageal ReIlux Disease (GERD). Materi yang diangkat sangat
tepat dan sesuai dengan blok ini, sehingga kami dapat berpikir sistematis dalam
pembahasannya.
Kami mohon maaI jika dalam laporan ini terdapat banyak kesalahan, baik
dalam hal penulisan maupun materi yang disampaikan. Untuk itu, kami mohon
kritik serta saran yang membangun agar kami dapat memperbaikinya pada
kesempatan selanjutnya. Kami berharap laporan ini dapat memberikan
pengetahuan dan manIaat positiI bagi pembaca.


Mataram, 23 November 2011

!enyusun:
(penulis)







A. PENDAHULUAN

Gastroesophageal reIlux disease (GERD) adalah suatu penyakit yang
sangat umum. Studi populasi telah berulang kali menunjukkan gejala GERD
terkait dalam proporsi signiIikan pada orang dewasa. Konsensus KonIerensi
Montreal mendeIinisikan GERD sebagai "suatu kondisi yang terjadi ketika adanya
reIluks isi lambung yang menyebabkan gejala mengganggu atau komplikasi".
(!atti, M.G. 2010)
Namun, deIinisi ini tidak mencakup rincian patoIisiologi penyakit dan
implikasi untuk pengobatan. KonIerensi Brasil konsensus mendeIinisikan GERD
sebagai "gangguan kronis yang berhubungan dengan aliran balik isi gastro-
duodenum ke esoIagus dan/atau organ-organ yang berdekatan, sehingga spektrum
gejalanya dengan atau tanpa kerusakan jaringan". (!atti, M.G. 2010)
Dari beberapa deIinisi di atas, diketahui bahwa Iaktor yang dapat
menyababkan terjadinya GERD, yaitu peristaltik esoIagus, LES (Lower
esophageal Sphincter), diaIragma, peningkatan tekanan torako-abdomina. Dan
beberapa keadaan yang dapat mempengaruhi atau bahkan memperburuk keadaan
dari GERD adalah kerusakan mukosa, jenis dari reIluks, keberadaan dan ukuran
dari hiatus hernia, inIeksi H.pylori dan Barretts EsoIagus . Dari hal tersebut
diketahui bahwa perjalanan penyakit ini bisa kronis dengan melihat implikasinya
untuk menentukan pengobatannya. Namun, hal tersebut juga harus ditinjau dari
berbagai patoIisiologinya.

. PATOFISIOLOGI

!eristaltik EsoIagus
!eristaltik esoagus merupakan komponen penting untuk mencegah
reIluks dari isi lambung, namun kerusakan dari peristaltik tersebut dapat
memperparah keadaan GERD baik dengan gejala maupun kerusakan
mukosa. (!atti, M.G. 2010)
Diketahui bahwa 40-50 pasien GERD disertai dengan
abnormalitas peristaltik, dimana motilitas dari peristaltik sangat lemah
sehingga pembukaan esoIagus menjadi sangat lambat dan kontak dengan
mukosa esoIagus juga lebih lama sehingga dapat mengakibatkan
kerentanan terjadinya iritasi mukosa esoIagus yang lebih parah. (!atti,
M.G. 2010)
Lower Esophageal Sphincter (LES)
Sautu segmen dari tonus oto polos yang memiliki panjang 3-4 cm.
Dalam keadaaan normal LES memiliki tekanan tinggi untuk mencegah
terjadinya reIluks isi lambung. Namun, pada keadaan GERD, tekanan LES
memiliki keabnormalitas pada saat relaksasi sementara. !ada individu
normal dapat terjadi relaksasi
sementara yang disebut dengan
Transien Lower Esophageal
Sphincter Relaxation (TLESR)
untuk membedakan dengan
relaksasi yang dipicu oleh proses
menelan. Akan tetapi, keadaan
ini dapat memburuk dan
mengakibatkan penyakit reIluks
jika TLESR terjadi lebih sering
dan memanjang. (!atti, M.G.
2010)
DiaIragma
Kruris diaIragma memiliki komponen ekstrinsik sebagai pembatas
dari gastroesophageal. Tindakan pinchcock dari diaIragma sangat penting
sebagai perlindungan terhadap reIluks yang diinduksi oleh peningkatan
mendadak tekanan intra-abdomen. Mekanisme ini jelas terganggu oleh
keberadaan dan ukuran hernia hiatus. (!atti, M.G. 2010)
!eningkatan Tekanan toraco-abdominal
!engosongan lambung yang abnormal mungkin memicu
munculnya GERD dengan meningkatkan tekanan intra-abdomen. !asien
yang diduga dengan pengosongan lambung yang abnormal harus diuji
Sumber Tytgat, G.N. 2008
dengan penandaan nuklir atau USG. Jika mengosongkan lambat
didiagnosis, terapi yang tepat harus dipertimbangkan. (!atti, M.G. 2010)

Untuk keadaan yang dapat mempengaruhi atau bahkan memperburuk
keadaan dari GERD adalah kerusakan mukosa, jenis dari reIluks, keberadaan dan
ukuran dari hiatus hernia, inIeksi H.pylori dan Barretts EsoIagus. (!atti, M.G.
2010)
kerusakan mukosa disebabkan karena kontak yang lama dengan
asam, pepsin, garam empedu.
!eran reIluks tergantung pada komposisi dari reIluks itu sendiri,
yang berbahaya biasanya karena pepsin
Keberadaan dan ukuran hiatus hernia mengakibatkan peningkatan
tekanan intra-abdomen sehingga dengan adanya hernia mengakibatkan
sering terjadinya TLESR.
InIeksi H.pylori asosia dari H,pilory masih kontroversi, namun
penelitian menunjukkan bahwa inIeksi H. pylori adalah pencegah
terjadinya GERD dengan mengubah siIat reIluxate tersebut (gastritis
menyebabkan achlorhydria). Hasil dari meta-analisis telah
menunjukkan bahwa kolonisasi H. pylori kolonisasi di perut dikaitkan
dengan penurunan hampir 50 risiko kanker.
Barretts EsoIagus pada penyakit ini diketahui bahwa adanya
gangguan yang ditandai dengan kelainan peristaltik esoIagus,
kecacatan LES, dan reIluks empedu.

. DIAGNOSIS
Kurangnya standar emas dalam diagnosis GERD menjadi permasalahan
klinis dalam mengobati pasien dengan gejala reIluks. Banyak sindrom yang terkait
termasuk GERD atipikal, H. pylori gastritis diinduksi, ulkus lambung dan kanker
lambung dapat muncul bersamaan. Bahkan dalam kasus-kasus test sensitivitas dan
spesiIisitas sebelumnya untuk diagnosis yang akurat tetap rendah. !engujian
invasiI yang digunakan dan biaya yang berlebihan tidak selalu eIektiI, mengingat
resiko yang relatiI kecil dari diagnosa didasarkan pada sebuah riwayat pasien yang
akurat. Terapi empiris yang menguntungkan didasarkan pada kedua biaya dan
kenyamanan bagi pasien. (Heidelbaugh, J.J. 2007)

Sumber : Heidelbaugh, J.J. 2007







D. TATALAKSANA

Sumber : (Tytgat, G.N. 2008)

Jika alarm simptom tidak muncul, terapi awal untuk GERD terdiri dari
modiIikasi gaya hidup, diet, antasida, alginates atau agonist histamin 2 reseptor
(H2RA). Namun, jika gejala memburuk digunakan H2RA dan !!I (proton pump
inhibitor). (advisory commite.2009)



Sumber : Sumber : McKinley Health Center. 2008


Terapi modiIikasi Gaya Hidup (McKinley Health Center. 2008)
O !ertahankan posisi tubuh selama dan setelah makan (jangan berbaring)
O Berhenti merokok
O Hindari penggunaan pakaian yang ketat di bagian perut
O Hindari makan 3 jam sebellum tidur
O Turunkan berat badan jika obesitas
O Jangan tidup terlentang (usahakan mirinng)
O Tinggikan posisi kepala 4-6 cm saat tidur



















Sumber : (advisory commite.2009)

Gambar 3. algoritma pengobatan untuk pengelolaan gangguan reIluks (2006). Sember : (Tytgat, G.N. 2008)
Keterangan :
*terapi ajuvan: kesesuaian untuk antasida atau alginat-antasid (setara dengan
'terapi penyembuhan'). *Kegagalan : jika tidak ada respon dari pengobatan,
peringanan gejala yang tak memuaskan, atau terlalu sering menggunakan obat
(over-the-counter, pada perawatan diri). *Dosis terendah yang eIektiI: mampu
meringankan gejala dengan dosis terendah, dimulai dari tanpa obat hingga dosis
tunggal proton pump inhibitor (!!I). *step-down dan stop: pengurangan dosis !!I
hingga setengah, kemudian secara bertahap dosis dikurangi sampai mencapai
dosis terkecil hingga pengobatan Iarmakologis dihentikan.
,9,9,3 9,2-,,3: penggunaan jangka pendek !!I pengobatan sendiri diterima,
meskipun dicatat bahwa ini tidak akan memberikan eIek langsung untuk
meringankan gejala, berdasarkan modus molekul tindakan. Dimasukkannya terapi
adjuvant dalam kombinasi dengan !!I, adalah berdasarkan pengalaman klinis dan
data dari meta-analisis. Hal ini diakui bahwa, saat ini tidak ada bukti menilai satu
agen Iarmakologis untuk menjadi lebih unggul untuk lain dalam hal kecepatan
lega gejala, dan data lebih lanjut dibutuhkan untuk mendukung algoritma ini.
!anel, bagaimanapun, percaya bahwa antasida atau alginat-antasid menawarkan
bantuan gejala lebih cepat dari pengobatan alternatiI dan dapat digunakan dalam
kombinasi dengan penekan asam untuk mengobati sisa atau terobosan gejala.
(Tytgat, G.N. 2008)
SelI care
!ada tingkat perawatan diri sebagian besar menggunakan !!I dosis rendah
untuk pasien GERD. Jika pada pasien muncul alarm simptom, segera
laporkan pada petugas kesehatan agar dapat dirujuk ke spesialis. (Tytgat,
G.N. 2008)
!rimary care
!ada tingkat perawatan primer, digunakan !!I atau kombinasi alginat-
antasida dan terapi supresiI asam dapat diberikan dengan pertimbangan
dokter. Ini merupakan terapi kombinasi, yang lebih berpotensi daripada
terapi antasid dengan menetralisir asam saja. (Tytgat, G.N. 2008)



Secondary care
!ada keadaan ini, diperlukan penanganan khusus dari spesialis untuk setiap
pasien yang sedikit atau tidak respon pada pengobatan, sehingga perlu
dipikirkankan untuk menggandakan dosis dari !!I. Lakukan pemeriksaan
endoscopi untuk menentukan terapi lebih lanjut. Namun, jika semuanya gagal
tanpa adanya respon segera tentukan pengobatan GERD reIractory termasuk
pembedahan antireIluks. (Tytgat, G.N. 2008)
Sumber : Richter, J.E. 2007

E. FAKTOR RESIKO DAN PENEGAHAN
Faktor resiko
Faktor resiko terbesar pada GERD adalah obesitas, namun Gejalanya
dapat diperburuk oleh makanan pedas atau berlemak, kaIein, alkohol, buah
jeruk, sikap berbaring atau membungkuk ke depan. GERD juga bisa dipicu
oleh obat-obat tertentu seperti calcium channel blockers dan juga oleh eIek
penggunaan obat bisphosphonates dan non-steroidal anti-inIlammatory drugs
(NSAIDs). GERD biasanya memburuk selama kehamilan (advisory
commite.2009)
!encegahan
Anti-reIluks bedah yang bertujuan untuk mengendalikan asma melalui
pencegahan GERD memiliki tingkat keberhasilan lebih rendah dari anti-
reIluks bedah ditujukan untuk mengobati gastritis (45-50 vs 80-90
masing-masing). (Heidelbaugh. JJ,et al. 2007).
Sebenarnya, tidak ada satu diet khusus yang akan mencegah semua
gejala GERD. Satu-satunya cara untuk merancang rencana makan yang tepat
untuk Anda adalah untuk menemukan mana makanan Anda menoleransi baik
dan makanan yang memperburuk reIluks Anda. Cobalah untuk menyimpan
catatan rinci makanan selama satu minggu. Catatan makanan Anda mungkin
memiliki tiga kategori: makanan, waktu hari dan gejala. Sekali Anda telah
mengidentiIikasi orang-orang "memicu" makanan Anda dapat memodiIikasi
diet Anda untuk membantu meringankan gejala apapun. (McKinley Health
Center. 2008)






Sumber : McKinley Health Center. 2008


DAFTAR PUSTAKA
Guidelines & !rotocols Advisory committee. 2009. ,stroesoph,e,l Reflux
Dise,se-Clinic,l Appro,ch in Adult. Ministry oI Health Service : Columbia.
Available Irom:
//wwweffeceealcarearqgo/reles/ConsumerCasrof
Accesed by 24 November 2011
Heidelbaugh, JJ, Gill, AS, et al. 2007. ,stroesoph,e,l Reflux Dise,se(RD).
University oI Michigan Health System. Available Irom:
//cmemeumceu/f/guelne/CL8u07f Accesed by 24
November 2011
McKinley Health Center. 2008. %he RD Diet (,stroesoph,e,l Reflux
Dise,se). University oI Illinoist at Urbana-Champaign. Available Irom:
//wwwmcknleyllnoseu/anous/ger%eml Accesed by 24
November 2011
!atti, Marco G & Herbella, FA. 2010. ,stroesoph,e,l reflux dise,se . from
p,thophysioloy to tre,tment. World journal oI gastroenterology. Avalable
Irom : http://www.wjgnet.com/1007-9327/16/3745.pdI. Accesed by 25
November 2011
Richter, Joel E. 2007. How to Manage ReIractory GERD. Departement oI
Medicine : !hiladelphia. Available Irom: //wwwgasroraxs
frec/8efracoryCL8uf Accesed by 24 November 2011
Tytgat, GN, Mccoll,K, et al. 2007. ew Alorithm For %he %re,tment of ,stro-
esoph,e,l Reflux Dise,se. Alimentary !harmacology & Therapeutics:
Amsterdam. Available Irom:
http://Iarncombe.mcmaster.ca/documents/Tytgatetal.Aliment!harmacolTher
2008273249-256.pdI . Accesed by 25 November 2011