Demi Anakku
Demi Anakku
Gravekeeper76
Namaku Ana, seorang ibu rumah tangga yang sudah berumur 38 tahun. Secara osik, aku
masih
merawat diriku. Jadi tubuhku tidak kurus dan tidaklah gemuk. Suamiku, mas Herman ia
lebih tua dua
tahun dari diriku. Ia berkerja di sebuah instansi swasta yang cukup besar. Suamiku
itu jarang berada
di rumah, karena sering dinas keluar kota. Bahkan dalam sebulan hanya bisa sekali
pulang. Mau tak
mau itu harus di lakukan olehnya untuk menafkahi keluarga.
Aku yang hanya tamatan SMA memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Lagipula mas Herman
setuju
dengan keputusanku untuk mengurus rumah dan anak semata wayang kami.
Kamu berdua sudah dikaruniai anak satu, Doni. Ia masih berumur 16 tahun. Ia kelas 2
SMA, di sekolah
negeri yang berada di dekat rumah. Anaknya lemah lembut, tidak punya hati untuk
menyakiti. Dan
cukup berprestasi di sekolahnya.
Aku bersyukur mempunyai anak seperti dia, yang berbakti kepada orang tuanya, jadi
ia cukup
meringankan beban tugasku di rumah. Dan Ia juga mengerti dan tidak mempermasalahkan
kenapa
ayahnya jarang di rumah.
Sore ini aku sedang menjalankan rutinitasku sebagai ibu rumah tangga yaitu menyapu
halaman
rumah. Keadaan ekonomi yang pas-pasan, kami sekeluarga belum mampu mempekerjakan
seorang
pembantu rumah tangga. Tak ayal, segala pekerjaan rumah harus aku yang mengerjakan.
Namun
terkadang bila ada waktu senggang, Doni akan membantu aku.
Ketika aku sedang menyapu, pada saat bersamaan Doni pulang dari sekolah. Anakku itu
sedang di
rangkul oleh seseorang. Aku lihat dia pulang bersama kakak kelasnya, Bobby. Dia
anak dari pejabat
yang kaya raya, sehingga warga sekitar sungkan bahkan cenderung takut sama anak
itu.
Ketika mereka berdua berjalan mendekat, aku terperangah melihat perbedaan osik
mereka. Doni
anakku, bertubuh kurus dengan tinggi badan standar orang indonesia. Berbandin
terbaling dengan
Bobby sangatlah tinggi dan gagah. Jadi perbedaan mereka sangatlah mencolok, bahkan
kalau dilihat
dari jauh sekalipun.
Kuperhatikan mereka terus yang semakin dekat. Saat hendak menyapa mereka aku
menyadari
sesuatu �Hmm�.� ada yang aneh dengan putraku itu. Kalau di teliiti, kenapa baju
Doni acak-acakan
begitu ya. Astaga�..tubuh Doni penuh dengan memar-memar, seperti habis di pukul.
Lantas aku
berlari menghampiri mereka yang masih berjalan.
"Loh kamu kenapa nak? kok kamu memar gitu sih" tanyaku panik.
"Ehm�oh�.i-ni aku tad�". Doni mecoba menjawabku namun dia malah tergagap. Ada
gerangan apa
ini?
"Tadi dia jatuh dari tangga tante" tiba-tiba Bobby memotong anakku, menghentikannya
untuk
berbicara lebih jauh.
"Beneran kamu tadi jatuh dari tangga?" tanyaku ke Doni memastikan.
"Ya nggak Bro? Ya kan?" ucap Bobby seraya meremas pundak Doni dengan keras sampai
anakku
mengernyit seperti menahan sakit. Kayaknya kakak kelas Doni itu terkesan menekan
Doni. Aku heran
dengan perlakuan Bobby, tapi sayang aku tak berani menegurnya.
"I-iya" jawab anakku sambil menggangguk. Gelagat anakku terlihat seperti ketakutan
terhadap Bobby
ini. Sebagai seorang ibu, aku tahu ada yang di sembunyikan oleh Doni.
"Ada-ada saja kamu Don. Yauda sini Ibu obatin dulu biar tidak makin parah lukamu"
ucapku khawatir.
Yang menjadi perhatianku sekarang adalah mengobati luka-lukanya dulu, baru aku
tanyakan kenapa
dia bisa begini.
�Tahu ni tan, masa si Doni jatuh dari tangga. Hahahaha� ucap Bobby yang langsung di
ikuti tawa
terbahak-bahak.
Aku tidak tanggapi Bobby, kubiarkan saja dia tertawa-tawa.
�Yauda tante, saya permisi dulu. Sampai ketemu besok lagi Bro� pamit Bobby, lalu ia
pergi
meninggalkan aku dan Doni. Sedari tadi Bobby selalu memandangiku dengan aneh. Ah
sudahlah
mungkin cuma perasaanku saja.
Setelah Bobby pergi, aku langsung bertanya kepada anakku "Ibu mau kamu jujur. Kamu
sebenarnya
kenapa bisa memar dan luka begini?".
"Ehmmm A-anu Bu.." Doni terbata-bata tidak berana ngomong sama aku.
"Doni Jujur sama Ibu!" ucap ku dengan tegas, supaya dia jujur.
"T-tadi aku sekolah spa-sparringan sama teman-teman"
Sparingan itu apa sayang?" tanyaku tidak mengerti istilah itu.
"yaaa�jadi aku berantem gitu sama teman".
"Aduhh sayang kamu kok mainnya begituan sih?" Kenapa pula Doni bermain seperti itu,
ada-ada saja
kelakuan anak zaman sekarang pikirku.
"Ha-ha-habisnya aku di paksa sama Bobby".
"Bobby? tadi dia bilang kamu bilang jatuh dari tangga loh�.
�Iya bu, Aku Bohong sama ibu�.
�Kenapa kamu tadi bohong sama Ibu?�
�Soalnya aku takut sama Bobby Bu. Kan ibu tahu kalau dia kakak kelas aku� jawab di
sambil menunduk
menatap ke bawah. Sudah kuduga dia ditekan oleh Bobby.
�Kok takut sama teman kamu sendiri sih� tanyaku kembali. Sebenarnya aku tidak
heran, orang yang
lebih tua saja sungkan sama pemuda itu.
�Habisnya kalau nggak nurut sama dia, nanti aku dikeroyok sama yang lain Bu�
�Aduhhh Doniii�memangnya kamu tidak mencoba untuk melapor ke guru kamu?�
�Bakal percuma bu. Kan ibu dia tahu anak orang berpengaruh, guru-guru mana berani
bu. Dan diakan
juga anak emas di sekolah Bu� jawab anakku tertunduk lesu. Aku menghela nafas
mendengar
penuturan Doni.
�Ya sudah deh, yuk masuk rumah. Kita obatin dulu lukamu ini" ajakku.
�Ad-duh bu��sakittt� erang anakku kesakitan saat aku mengoleskan cream di bagian
tubuhnya yang
memar-memar.
�Sebenernya Bobby itu sering ngebuli aku Bu� ucap Doni dengan pelan. Aku kaget
dengan fakta ini.
�Terus kamu kenapa malah mainnya sama Bobby sih� tanyaku tidak mengerti, sambil
terus mengolesi
Doni.
�Soalnya�aduh� perihhh�
�Soalnya dia anak yang populer di sekolah bu, jadi kalau berteman sama dia kan
keren bu�..�
�Ah kamu Don, ada-ada saja� ucapku jengkel mendengar alasan anakku. Bisa-bisanya
dia bermain
dengan orang seperti Bobby demi ketenaran di sekolah.
�Kamu mending cari teman yang lebih baik Don, masa kamu rela di buli gini sih�
saranku.
�Tapi kalau aku nggak berteman sama Bobby, nanti makin parah perlakuannya ke Doni
bu� jelas Doni
yang tetap ngotot untuk berteman dengan orang seperti itu.
�Aduh Don, kamu nyari penyakit saja deh. Ya sudah, terserah kamu bagaimana, tapi
setidaknya kamu
harus berani melawan ya Don� ucapku.
�I-ya Bu� jawabnya singkat.
Sambil memasang perban untuk Doni, aku mengingat kejadian saat bertemu Bobby tadi.
Tatapan anak
itu terasa menelanjangi tubuhku. Walau jengkel di pandangi mesum begitu, namun ada
rasa senang
dan bangga juga. Di umur yang sudah tidak muda lagi, tubuhku masih di lirik oleh
anak muda.
Keesokan harinya.
Sekarang aku sedang istirahat sambil menonton TV. Diriku hanya memakai kaos dan rok
panjang.
Selesai sudah pekerajaan rumah ini, saat merehatkan tubuh ini. Sesekali aku mencoba
chattingan
suami, menanyakan kapan dia pulang. Karena seharusnya sebentar lagi dia pulang dari
dinasnya. Tapi
pesan chat ku belum di balas juga dari pagi. �Haaahhh mas kamu dimana? Aku kangen�
gundahku
dalam hati.
*Tring Tring Tring
Sontak aku terkaget dengan bunyi dering dari handphone-ku. Aku tidak mengenal nomor
ini. Ah
lebih baik aku angkat saja pikirku, siapa tahu genting.
�Halo?� ucapku menyapa duluan.
�Tante, tante, tante Ana� teriak seseorang dari sana. Kalau tidak salah ini suara
Bobby.
�Tante ini Bobby, si Doni kecelakaan. Tante kesini sekarang� ujar Bobby dengan
panik.
�Hah?!� pekikku kaget.
�Doni Kecelakaan dimana?�.
�Di xxx, saya sharelok sekarang ya tan�.
�Ok-ok ditunggu nak�
Berdetik-detik kemudian aku terima sharelok dari Bobby. Lantas aku langsung memesan
ojek online.
Aku meminta kepada kang ojek untuk ketempat tujuan dengan secepat mungkin.
Keadaan darurat seperti ini tak bisa lagi berpikir jernih. Aduh nak, kamu
kecelakaan apa sih, gusarku.
Mudah-mudahan kamu tidak kenapa-kenapa Don.
Selama Perjalanan aku merasa gundah. Khawatir dengan keadaan anak-ku. Tak lupa aku
kirim pesan
ke suamiku, berharap dia membacanya dan segera pulang kerumah.
Ketika aku sampai sana. Setelah membayar kang ojeknya, diriku langsung menjadi
binggung saat
melihat tempat yang Bobby bilang. Apa benar ini tempatnya ya pikirku binggung.
Padahal ini cuma
terlihat seperti rumah kosong saja. Tapi lokasi ini sudah sesuai dengan apa yang
Bobby kirimkan tadi.
Aneh pikirku, kenapa Doni tidak di bawa ke puskemas atau rumah sakit ya, malah ke
rumah ini.
*Clek�.. Pintu rumah itu terbuka. Terlihat Bobby keluar dari rumah itu. Ah ini
benar tempatnya,
dadaku menjadi lega rasanya.
�Tan, ayo masuk. Doni di dalem sini� ajak Bobby kepadaku. Tanpa bertanya, aku
segera lari ke rumah
itu, tak sabar menemui anakku. Ketika aku masuk ke dalam, aneh, kulihat tidak ada
siapa-siapa di situ.
Hanya ada perabotan rumah yang terlihat.
�Bob, Doninya mana?� tanyaku binggung sambil terus mencari keberadaan anak
kandungku.
Tatkala aku hendak menoleh ke Bobby, tiba-tiba tubuhku terdorong dengan kuat hingga
aku
terhempas di sofa.
�Apaan-apaan ini Bobby� tanyaku kepada Bobby. Namun seketika aku bergidik ketakutan
melihat
perangai Bobby yang dingin menyeramkan. Ia terlihat bengis dan seperti dalam
keadaan birahi tinggi,
terasa dia akan memangsaku.
Menyadari apa yang akan terjadi, mataku terbuka lebar dan jantungku berdetak
semakin cepat. Oh
tidak�.. apakah aku akan diperkosa olehnya.
�Hehehehe� tawa Bobby lalu tersenyum menyeringai. Hal itu membuatku semakin takut.
�Ka-kamu mau ngapain?� tanyaku ketakutan. Dia semakin mendekati diriku yang berada
di sofa. Aku
pun menjauh terus, hingga mentok di ujung sofa. Aku tak bisa lari-lari kemana-
kemana lagi. Diriku
bagaikan mangsa yang terperangkap.
�Aku mau entotin tante Ana� jawab dia. Terlihat raut mukanya seperti seekor
predator menatap
mangsanya.
�Jangan Bob, jangan. Saya ini ibu teman kamu, jangan apa-apain ibu� ibaku
kepadanya.
Tanpa bicara lagi dia menyergap tubuhku. Mulutnya mencoba menciumi mulutku. Aku
gerakan
kepalaku kekiri dan kekanan, menghindari ciumannya. Tapi aku kalah tenaga dengan
pemuda ini.
�Ohhhh�.� desah keluar dari mulutku saat Bobby meremas payudara kiriku dengan
keras. Tak ayal
mulutku terbuka, ia menyergap mulutku.
Aku dorong tubuh ABG itu dengan sekuat tenaga yang kupunya, hingga dia tersungkur.
Belum aku
bisa untuk berdiri dengan sempurna, dia kembali mendorong tubuhku ke sofa. Lalu ia
tahan tubuhku
dengan sempurna, sehingga aku tidak bisa bergerak lagi.
�Dengar ya percuma tante teriak, nggak ada bakal nolongin!� ancam Bobby. Ia
mencekik leherku
dengan kencang hingga aku kesakitan.
�Dan lapor polisi juga percuma, tante tahu kan siapa ayah saya!� lanjut dia
mengancam diriku. Tatapan
sangat mengerikan.
�Tante nggak maukan kalau Doni kenapa-kenapa?� kali ini dia mengancam dengan
membawa-bawa
Doni anakku. Aku menggeleng.
�Tante pasti sudah tahukan kalau Doni kemarin sebenarnya bukan jatuh dari tangga�
lanjut Bobby. Aku
menggangguk pelan. Aku mengerti kemana arah ucapannya.
�Nah tante nggak mau kan, kalau Doni merasakan sakit lebih parah dari yang kemarin�
ucap dia
mengancam kesalamatan Doni.
�Jadi nurut sama Bobby ya�.
�Please Bob, apapun yang kamu minta tante akan bakal sanggunpin. Tapi jangan
perkos@ tante ya.
Please ya, tante nggak bakal bilang siapa-siapa kok� ibaku berusaha mengubah
pikiran Bobby.
�Ok kalau begitu, apa tante siap kasih nyawa anak tante buat Bobby!� kata dia
dengan wajah datar
disertai tatapan dinginnya. Aku tercekat dengan ucapan Bobby. Dia berani untuk
membunuh anakku
demi tubuhku.
Tetap dalam tindihan Bobby, Aku terdiam seribu bahasa, binggung dengan keadaan ini.
Namun
sebagai seorang ibu, aku harus berkorban demi anakku. Aku harus merelakan tubuh ini
untuk
melindungi Doni. Maafkan aku mas Herman, tubuh ini akan di nodai oleh orang lain.
�Gimana? Nyawa atau tubuh tante?� kembali Bobby bertanya dengan dingin, membuyarkan
pikiranku
yang sedang kalut.
�Ba-baik tante akan serahkan tubuh tante. Tapi kamu jangan pernah lagi menyakiti
Doni!� ucapku
dengan tegas.
Bobby tersenyum mendengar permintaanku �Ok itu hal mudah. Saya nggak akan menyakiti
Doni lagi�.
Lalu ia mendekatkan kepalanya kepadaku.
�Dan cukup sekali ini saja� kembali aku berucap, sebelum bibirku ini dilumat. Namun
hanya di jawab
dengan senyuman oleh Bobby. Harapanku, pemuda ini menepati janjinya.
Bobby tempelkan bibirnya di bibirku. Di kecupi bibirku, Sekarang ia berusaha
memasukan lidahnya
kedalam mulutku. Namun aku tetap bertahan, tetap mingkem. Dia menarik kepalanya
menjauh,
hingga aku bisa melihat mukanya yang dingin.
�Tan� ucap dia singkat dengan mata melotot marah, terasa sangat menakutkan. Aku
pasrah.
Kembali ia menciumi bibirku, kali ini aku biarkan lidahnya masuk kedalam mulutku.
Tak ayal lidahku
sekarang dibelit oleh lidah Bobby. Lama mulut kami bermain, aku di dikte oleh
Bobby. Pemuda suka
membuli anakku. Belum pernah aku bercumbu seperti ini. Tampaknya anak muda ini
sangat jago
permainan lidahnya. Mas Herman saja tidak seperti ini.
Bobby juga meramas kedua buah dadaku. Tubuhku pun bereaksi, karena lama tidak di
sentuh oleh
suamiku. Permainan Bobby di mulut dan di dadaku membuatku hanyut, lupa dengan
segalanya.
Kupejamkan mataku.
Terasa satu tangan merayap turun ke bagian bawah tubuhku. Aku merasakan rok
panjangku di
singkap. Udara dingin menerpa pahaku yang terekspos.
�Ahhh�..Bobby� lirihku, ketika telapak Bobby mengusap celana dalamku. Terasa
telapak tangannya
dengan lembut mengusap-ngusap permukaan vaginaku yang masih tertutup celana Dalam.
Aku
terbuai dengan perlakukaanya, terasa vaginaku mengeluarkan lendirnya Diriku tidak
bisa berbohong
lagi, ada rasa nikmat yang muncul. Astaga apa yang kupikirkan. Tidak-tidak, aku
tidak boleh
menikmati ini. Aku hanya melakukan ini demi Doni.
�Lembab tan, ceritanya nikmatin nih?� sindir Bobby, yang membuat wajahku memerah.
Sekarang aku terus dicumbui dengan teman anakku, selagi vaginaku yang masih
tertutup celana
dalam itu di rangsang olehnya.
Bobby melepaskan ciumannya. Aku pasrah ketika ia merubah posisiku menjadi bersandar
di sofa ini.
Aku hanya bisa menatap Bobby dengan sayu. Aku ingin Bobby menghentikan
perbuatannnya, namun
hati kecilku berkata lain. Tak bisa kupungkiri ada rasa birahi sudah tak tahan
ingin di puaskan.
Ia singkirkan meja ruang tamu, lalu berlutut di depanku. Ia singkap rokku hingga
tersangkut di
pinggulku. Terpampanglah kedua pahaku yang berisi dan celana dalamku yang sudah
basah.
Kembali Bobby merangsang diriku dengan mengelus-elus lembut pelan paha-pahaku. Bulu
kudukku
pun berdiri karena rasa geli hinggap di kedua pahaku.
�Paha tante benar-benar mulus. Sejak kenal sama tante, aku jadi penasaran dengan
tubuh tante� ucap
Bobby.
Ia lebarkan kedua kakiku. Hingga semakin terlihat celana dalamku yang sudah basah.
Ia dekatkan
kepalanya ke selangkanganku. Ia mengendus-ngendus celana dalamku. Mencoba menghirup
bau
vaginaku.
�Hmmm�.wangi tan, aku suka� puji Bobby. Tentu saja wangi dan bersih, aku selalu
merawatnya.
Apapula kata mas Herman nanti apabila ia pulang dinas mendapati vaginaku jorok dan
bau.
�Ohhhh�Bobbyyyy� erangku ketika hidung Bobby menyentuh celana dalamku. Terasa
batang
hidungnya menusuk belahan vaginaku. Ia naik turunkan kepalanya, tak ayal batang
hidungnya
membelah bibir vaginaku yang masih tertutup celana dalamku. Sehingga celana dalamku
tercetak
membentuk bibir vaginaku.
�Bobbyyyyy�.� terus aku mendesah-desah, merasakan rangsangan yang terasa nikmat di
vaginaku.
Kemaluanku semakin banjir mengeluarkan lendir nikmatnya yang lengket. Masih
tertutup celana
dalam saja sudah senikmat ini, apalagi kalau bersentuhan langsung. Astaga apa yang
kupikirkan lagi,
padahal aku sedang mau di perkosa tapi malah memikirkan kemungkinan kenikmatan yang
kudapat
nanti. Nampaknya aku malah semakin lupa diri karena rasa enak yang kurasa sekarang.
Tanpa memlepasnya, ia singkap celana dalamku ke samping. Sehingga lubang vaginaku
yang sudah
basah serta jembut lebatnya terpampang dengan jelas di hadapan Bobby.
Dengan punggungku yang tetap bersandar di sofa, ia tarik tubuhku turun sehingga
pantatku pas di
ujung dudukan sofa. Ia tatap nafsu lubang cintaku.
�Ahhhh��Bobbyyyy� desahku lepas dari mulutku saat Bobby memasukan satu jari
telunjuknya
kedalam vaginaku.
�Gilaaaaa tan, ini memek masih sempit banget� ucap Bobby mengomentariku liang
peranakanku. Kini
ia memaju-mundurkan jarinya dengan cepat di dalam lubang vaginaku. Aku harus
menjaga
wibawaku, tak ingin terlihat menikmati tusukan jarinya. Maka dari itu aku berusaha
kerasa untuk tidak
mendesah-desah.
�Sudahlah, nggak usah di tahan-tahan. Lepasin saja tan�. Ternyata Bobby sadar
dengan upayaku yang
menahan desah-desahan agar tidak keluar dari mulutku. Jadi percuma saja aku pura-
pura lagi.
�Ahhhh��� desahku lepas kencang dari mulutku. Ia tersenyum senang mendengar jeritan
nikmatku.
Diriku berhasil ditaklukkan oleh pembuli anakku.
�Enak kan tan? Ini baru jari lho, belum kontol aku yang masuk ke sini� ucap Bobby.
Aku tidak tanggapi
ucapannya. Ia terus mengerjaiku, bahkan dia menambahkan satu jari lagi. Akupun
terpejam meresapi
rasa yang nikmat ini. Maafkan mas, aku sedang diperkos@ tapi aku malah mulai
menikmati ini.
Hmmm��apa ini�. kini ada benda lunak basah yang sedang menyentuh vaginaku. Kubuka
mataku,
ternyata lidah Bobby sedang menjilati bibir vaginaku. Ohhhh ini nikmat banget
ucapku dalam batin.
Mas Herman tidak melakukan ini kepadaku.
�Ohhhh...Bobby� erangku keenakan ketika lidah Bobby menekan-nekan itilku yang sudah
keras.
Mulutnya pun mengecupi, menyedoti, menggigiti itilku. Rasa nikmat pun semakin
menguasai
tubuhku. Mas Herman kenapa kamu nggak pernah melakukan ini kepadaku. Ohhhh�.ini
sangat
nikmatttttttt.
Kini aku seorang ibu rumah tangga mendesah-desah nikmat karena jari-jari teman
anakku keluar
masuk di lubang vaginaku dengan cepat. Tak lupa mulutnya juga hinggap di vaginaku.
Tak ayal rasa
gelitik orgasme pun datang menghampiri diriku.
Tak lama�.
�Bobbyyyy��tante�dapeettt�..ohhhhhhh� Aku melolong panjang merasakan nikmat
orgasme. Ini
sungguh-sungguh nikmat.
Aku mendapatkan orgasme hanya dengan mulut dan jari-jari Bobby. Duniaku berasa
berputar
merasakan puncak kenikmatan ini. Tubuhku bergetar-getar tidak karuan. Vaginaku juga
mengeluarkan cairan orgasme dengan derasnya, membasahi sela-sela pantatku.
�Hh�.hh�hh�.� deru nafasku berat.
�Enak tan jilmeknya?� tanya Bobby vulgar sambil terus mengecupi pahaku yang mulus.
�.
......� Aku hanya diam.
�TAN!� galak Bobby kepadaku.
�He-eh� singkatku
�HE-EH APA! JAWAB!� teriak Bobby menggeleggar.
�I-ya enak Bobby� jawabku dengan takut. Tapi memang benar enak kok.
�Apanya yang enak?� lanjut Bobby bertanya. Kali ini dia sudah tenang.
�Vagina tante Bob, tante belum pernah ngerasain di jilat-jilat gitu� jawabku jujur,
tak ingin lagi di
bentak olehnya.
�Hahaha, masa sih tan? Oh iya ini memek namanya. Coba ngomong tan� pinta Bobby
�Memek� ucapku geli. Tentu sajaku malu berbicara seperti itu dengan orang lain.
Sebenarnya aku
sudah biasa ngomong vulgar dan jorok bersama mas Herman, biasa berkata seperti itu
untuk
menambah panas permainan ranjang. Namun kali ini aku melakukannya dengan paksaan.
�Hahahaha biasa-in ya tan� perintahnya kepadaku.
Rasa bersalah menghampiriku, karena mendapatkan orgasme bukan dari suamiku. Batinku
berkecamuk tidak karuan. Batinku berkata �Maafkan aku mas, semua kulakukan ini demi
Doni. Doni
maafkan ibumu nak, ibu lakukan ini agar kamu tidak kenapa-kenapa�.
Bobby menegakkan tubuhnya, sehingga aku melihat celana abu-abunya yang mengelembung
besar.
Aku menelan ludahku membayangkan besar kemaluan Bobby. Lagi aku berpikir yang
tidak-tidak.
Walau begitu rasa keingin tahuan terus hinggap dalam otakku. Nampaknya karena
orgasme barusan,
membuatku ingin segera di setebuhi.
�Bobby, Please sudah ya Bob, kamu sudah bikin tante dapat orgasme. Jangan setubuhi
ibu temanmu
ini, jangan perkos@ tante� mohonku kepada Bobby. Meski penasaran dengan ukuran
kemaluan Bobby,
tetap saja ini salah. Aku tidak boleh mengkhianati janji suciku dengan mas Herman.
Bobby tidak mempedulikan permohonanku. Dengan menyeringai ia lepas seluruh celana
abu-abunya
berserta celana dalam. Lalu terpampanglah kemaluannya�.
Astaga��
Besar sekali��..
Panjang pula�..
Berurat��
Terbelalak tidak percaya, anak seumur dia memiliki kemaluan sebesar itu. Milik mas
Herman hanya
setengah dari itu. Dan besarnya juga sangat jauh. Kepala penisnya sudah banjir
dengan air mazi,
hingga menetes jatuh ke vaginaku yang berada tepat di bawahnya.
Kemudian ia berlutut persis di depan selanggkanganku, lalu ia letakan penis besar
di atas permukaan
vaginaku. *Buk�. Bunyinya, terasa berat dan keras ketika penis itu jatuh di atas
vaginaku.
Aku bisa merasakan betapa keras dan panasnya penis Bobby yang berada di atas
vaginaku Berbeda
dengan milik mas Herman yang tidak sekeras ini.
�Kenapa tan? Kontol aku besar kan� tanya Bobby dengan bangganya. Ia menangkap
mataku yang
memandang takjub kemaluannya. Harus kuakui, kemaluan dia memang jauh lebih besar
ketimbang
dari punyanya mas Herman. Namun tak kujawab pertanyaan Bobby, aku tidak ingin dia
besar kepala.
�JAWAB!� geram Bobby marah karena aku hanya diam.
�I-ya besar� jawabku takut.
�Apanya yang besar?!� lanjut Bobby.
�Pe-penis kamu� jawabku.
�Bukan penis, tapi KONTOL!� kembali Bobby berucap dengan geram marah.
�I-ya kontol kamu besar Bob� lirihku.
�Hahaha gitu dong. Jangan dilawan lagi, nanti yang ada tante bakal kesakitan.
Sekarang nikmatin saja
ya� anjur Bobby kepadaku. Tidak, tidak, Aku sedang di perkosa!. Aku tidak boleh
terbuai dengan
kenikmatan ini.
Bobby gesekkan kepala penis di belahan vaginaku, sesekali kepala penis nya
menyundul klitorisku
yang sudah keras. Ia juga menggesekan batang kontolnya di klitorsku, dengan begitu
aku merasakan
urat-urat besarnya yang berdenyut-denyut kuat. Diriku mengerang-erang nikmat.
Dirasa cukup basah Bobby melesakan kepala kontol kedalam lubang vaginaku. �Sempit
bangetttt ini
memekkkk�..� erang Bobby. Berkali-kali ia selipkan dan keluarkan kepala penis di
lubangku. Kurasa ia
ingin memancing birahiku.
Aku mengerang keras merasakan lubang vaginaku yang saat ini di tembusi oleh kepala
kon�penis
Bobby. Dengan perlahan penis Bobby semakin masuk kedalam vaginaku. Selama itu aku
menutup
mukaku dengan kedua telapak tanganku
*Bless�. Aku dan Bobby mendesah bersamaan saat pertemuan kemaluan kami sudah
sempurna.
Aku dapat merasakan denyutan urat-urat yang penis Bobby yang sekarang tertancap
dengan
sempurna. Tak hanya itu, aku bisa merasakan penis Bobby menyentuh bagian liang
vaginaku yang
tidak pernah disentuh oleh mas Herman. Penis Bobby memang luar biasa pikirku.
Sudah menguasai diri, kusingkirkan kedua telapak tanganku yang menutupi wajahku.
Kulihat Bobby
terpejam sambil menganga. Nampaknya dia sedang menikmati liang vaginaku yang masih
sempit ini.
Sekilas aku melihat cincin perkawinanku di jari manisku. Setitik air mata keluar
dari mataku. Aku
menangis karena aku baru saja mengkhinati mas Herman, dengan membiarkan orang lain
memasuki
diri.
�Sudahlah jangan nangis tan. Anggap saja tante melakukan ini demi Doni� ucap Bobby
mencoba
menenangkanku.
Ya��
Aku melakukan ini semua demi Anakku.
Ini semua demi Doni. Aku sebagai ibunya, harus melindungi anakku.
Ya�.Itu adalah alasan pembenarku.
Melihatku sudah tenang, dengan tangannya, Bobby memegang kedua pahaku. Lalu ia
menggerakan
pinggulnya pelan. Merojoki pelan liang nikmatku dengan kontolnya. Akibatnya desahku
membahana
di ruang tamu ini, merasakan batang berurat Bobby menggesek nikmat dinding
vaginaku. Pintu
rahimku di sundul-sundul oleh kepala penisnya.
�Ah�.ah�..ah�.� desahku di setiap tumbukan kemaluan besar Bobby di vaginaku.
Semakin lama genjotan penis Bobby semakin cepat, membuatku kewalahan. Rasa nikmat
yang timbul
pun semakin tidak terkira, tak pernah aku merasakan rasa enak seperti ini.
Dengan mas Herman saja tidak pernah seenak ini. Maaf mas aku sudah berusaha, tapi
diriku malah
mulai menikmati hujaman kontol orang lain di vaginaku, yang harusnya hanyak
milikmu. Rasa
bersalah mulai pudar dalam benakku.
Sambil terus menggenjot diriku, pembuli Doni ini singkap kaos lebar yang kupakai.
Lalu ia meremas
kedua buah dadaku yang masih terutup oleh BH. Kemudian ia turunkan kedua cup bh-ku,
sehingga
payudaraku bebas tanpa dihalangi apapun lagi. Kini kedua buah dadaku bergerak tidak
karuan akibat
gempuran Bobby di tubuhku.
�Bobbyyy�.pelannnn�.ah..ah�sakit� Ia remas kedua payudaraku dengan keras hingga aku
kesakitan.
Kira-kira sudah 20 menitan dia menggumuliku, terasa aku kan mencapai orgasme untuk
kedua
kalinya untuk hari ini. Kali ini kugapai puncak nikmat dengan disetebuhi sempurna
oleh orang yang
membuli anakku.
�Bobby�pelannn�.tanteeee�mau..orgasmeeee�.akhhhh� desahku panjang ketika orgasme
menghampiri diriku. Punggungku melengkung ke atas.
�Doniii�.. lihattt gw bikin nyokap lu ngecrit sama kontol gw�..� racau Bobby.
Mendengar nama anakku,
sekilas rasa bersalah kembali hadir. Namun rasa bersalah itu kalah dengan rasa
nikmat orgasme yang
sedang kurasakan ini.
�Bobbyyy�.ahhhhhh� aku orgasme.
�Ohhh�..ngejepitttt�bangsatttt�� desahh Bobby karena liang vaginaku meremas batang
penisnya
ketika aku sedang orgasme hebat. Aku pejamkan mataku, merasapi orgasme yang luar
biasa ini. Iniadalah orgasme terbaik yang pernah kurasakan. Anak ini benar-benar
hebat.
Bobby menarik diri dari tubuhku, hingga penis besarnya terlepas dari jepitan lubang
vaginaku. Aku
merasakan diriku menjadi kosong melompong ketika penis Bobby tercabut dari tubuhku.
�Lihat tan, kontol saya jadi lengket sama lendir tante nih� kubuka mataku, melihat
sekujur penis Bobby
terbalur cairan putih yang merupakan lendir orgasmeku.
�Hh�..hh�.hh�..hh�..� nafasku berat.
Nikmat orgasme pun berangsur-angsur memudar. Pikiran rasionalku pun kembali.
Tersadar apa yang
baru saja terjadi. Baru saja aku mendapatkan orgasme dengan orang lain, yang bukan
suamiku.
Kulihat kakak kelas sekaligus tukang buli anakku itu bersiap kembali untuk memacu
birahi
menggunakan tubuhku itu. �Bobby�.sudah ya�.cukup ya�.plissss� ucapku pelan memohon,
berharap
dia menghentikan kegilaan ini.
�Belum, saya saja belum keluar�
�Inget dengan janji tante, kalau tidak��� ucap Bobby menggantung ucapannya. Tanpa
diberitahu aku
tahu maksudnya.
Harapanku untuk menyudahi ini semua pun sirna. Percuma aku melawan lagi, yang ada
malah
membahayakan Doni, bahkan suamiku. Mau tak mau aku pasrah dengan nasibku ini,
membiarkan
tubuhku di nikmati oleh Bobby.
�Pelan Bobbyyyy�..okhhh�.gedeeee�.� desahku ketika penis besar Bobby kembali
memasuki diriku.
Tanpa ancang-ancang, Bobby langsung menyetubuhi dengan beringas. Desahan aku dan
Bobby saling
bersahutan, suaranya memenuhi ruangan ini, bahkan seluruh rumah ini.
Bermenit-menit lamanya, akhirnya Bobby mendapatkan orgasmenya. �Okhnnnn��tante
sayaaaa�
mauuuu�..keluarrr�.� teriak Bobby kencang. Mendengar itu aku tersadar akan
konsekuensinya kalau
anak ini berejakulasi di dalam vaginaku. Ya Hamil, aku bisa hamil oleh pemuda ini.
�Pleaseeee�okhhhh�..ja-jangannn�.di�.dalammmm�nhghhh�.�nantii�..tan-teeee�.nghhh-
hamilll���
mohonku di sela-sela genjotan ganas Bobby. Aku tak mau mengandung anak dari orang
yang sering
menyakiti anakku.
Tapi teman anakku ini tidak menghiraukan permohonanku. Ia malah semakin beringas
menggenjoti
diriku. Akibatnya aku sendiri akan kembali mendapatkan orgasme lagi. Tiba-tiba
Bobby melolong
hebat �Fuckkk�.. Gwww�.hamilinnnnn�..luuu�.�.
Tubuhnya bergetar-hebat. Aku merasakan liang rahimku di semprot cairan panas. Pada
saat
bersamaan aku juga mendapat orgasmeku. Kembali aku merasakan puncat kenikmatan.
�Bobbyyyy�..sialannnn�.kamuuuu�..� hardikku keras bersamaan dengan orgasmeku.
Oh tidakkkk��aku dibuahi oleh teman anakku. Terasa liang rahimku disembur berkali-
kali lahar
panas Bobby. Rahimku terasa penuh dan hangat.
Bobby ambruk menindih tubuhku, tanpa melepaskan kemaluan besarnya yang masih
berdenyutdenyut. Saking banyaknya, aku merasakan sperma Bobby mengalir keluar dan
turun membasahi
lubang anusku.
Hanya deru nafas terdengar di ruangan ini. Aku terpejam lelah, dengan penis Bobby
masih tertancap
sempurna dalam vaginaku.Handphone-ku berbunyi. Kulihat mas Herman menelponku.
Astaga�..kupersiapkan diriku untuk
menangkat telpon dari suamiku.
�Dek�dek..� terdengar suara suamiku dari handphone ini. Mendengar suara mas Herman,
rasa
bersalah karena telah mengkhianatinya semakin memuncak. Terasa pipiku kembali basah
karena air
mata.
�I-ya mas� ucapku berusaha tenang, agar suamiku tidak tahu kalau aku sedang
menangis.
�Doni kecelekaaan Dek?� tanyanya panik.
�Oh nggak pak, tadi cuma candaan temannya Doni saja� bohongku kepada mas Herman.
Dalam hati
berkali-kali aku meminta maaf kepada suamiku.
�Ya ampun, masa candaan sampai bilang temannya kecelakaan gitu sih. Bikin jantungan
saja� ujar
suamiku heran. Tampaknya dia percaya dengan kata-kataku.
�Iya mas, namanya candaan anak zaman sekarang, sudah aneh-aneh�.
�Sudah ya mas, adek mau bersih-bersih rumah dulu� lanjutku ucapku berbohong.
Padahal mas,
istrimu ini mau membersihkan tubuhnya karena habis di perkos@ oleh teman anakmu.
Selesai menutup telpon, aku berdiri merapikan diri seala kadarnya saja. Ingin
segera meninggalkan
tempat terkutuk ini.
�Bobby, kamu harus pegang janji kamu� ucapku masih tersedu-sedu.
�Janji apa ya?�
*DEG. Jantungku berdegup kencang mendengar itu. Apakah aku baru saja membiarkan
diriku
diperkos@ olehnya dengan tujuan yang fana.
�Kamukan tadi janji tidak bakal membuli Doni lagi! Tidak menyakiti Doni lagi!�
sergahku marah sambil
tetap tersedu-sedu.
�Ya aku janji nggak bakal nyakitin Doni lagi, tapi ada syaratnya�.
�Apa syaratnya?� pikiranku menebak, kalau dia pasti akan meminta diriku menjadi
pemuas hasratnya.
�Aku ingin tante Ana memuaskan Bobby. Kapanpun Bobby mau, tante harus mau� ucap
dia. Benar
dugaanku.
�Kamu kenapa tega melakukan ini Bob?�
�Nggak ada alasan khusus sih, aku cuma mau punya budak seks saja� ucap Bobby dengan
biasanya,
seolah tidak ada yang salah akan hal itu.
Lalu aku teringat akan sesuatu. �Bobby�.� lirihku.
�Apa?� singkat Bobby seakan malas mendengar rengekku.�Kalau tante hamil bagaimana?�
ucapku bingung sambil memegang perutku.
�Yauda rawat anak Bobby� ujar Bobby biasa. Mendengar itu aku menjadi pucat pasi.
Tapi daripada aku
beneran hamil olehnya, lebih baik aku segera pulang dan membeli obat anti-hamil.
�Tapi tunggu sebentar� ujar Bobby sambil memasang celananya kembali. Dia menatapku
dalamdalam. Hal itu membuat diri bergidik ngeri.
�Apa Bobby?� tanyaku pelan, berharap dia tidak meminta yang aneh-aneh lagi.
�Saya pengen tante Hamil anak saya� mendengar permintaan itu aku bagai tersambar
petir. Anak
muda ini ingin aku hamil olehnya.
�Dan itu bukan permintaan, tapi perintah. Kalau nggak��.� ucap Bobby gantung.
�Kalau nggak kenapa?� tanyaku penuh cemas.
�Ya tahu lah nanti kenapa kalau tante nggak patuh sama Bobby� ujar Bobby dengan
misteriusnya.
Kuduga pasti ada ada hubungannya dengan Doni. Mengetahui siapa ayahnya Bobby, aku
tidak mau
ambil resiko. Aku tidak ingin Doni dan Mas herman celaka.
�Terus suami tante gimana?� tanyaku binggung.
�Itu urusan tante, bukan urusan saya!� galak Bobby. Aku kembali menangis sejadi-
jadinya, dipaksa
hamil oleh pemuda ini.
Hari sudah sore menjelang malam, aku pulang di antarkan oleh Bobby menggunakan
mobilnya.
Selama perjalanan aku hanya diam seribu bahasa. Bobby kubiarkan mengelus pahaku.
Pikiran
berkecamuk binggung gimana menyiasati keadaan ini.
Sebelum turun dari mobil, aku pastikan diriku sudah rapih dan tidak terlihat sedih
lagi. Tak ingin Doni
curiga dengan apa yang telah kulakukan barusan.
Sebelum aku turun dari mobil, Bobby berpesan kepadaku �Inget ya Tan, ikuti perintah
Bobby. Kalau
ngelanggar, nanti orang-orang tercinta tante yang akan menanggung akibatnya�.
Aku terhuyung lemah berjalan menuju rumahku sendiri. Pesan Bobby terngiang-ngiang
dalam
pikiranku. Hamil, aku akan hamil lagi. Di usia segini aku akan hamil anak orang
lain.
Ketika masuk, aku dapati Doni sedang makan di meja makan. Dia menatapku dengan
wajahnya yang
binggung.
�Ibu dari mana? Tumben pulang jam segini� tanya anakku heran.
�Tadi ibu habis ada hajatan dadakan Don� bohongku.
�Dimana Bu?� lagi anakku bertanya.
�Ya ada lah, dah ya, ibu capek, mau istirahat� kataku, ingin segera pergi dari
hadapan Doni.�Baru jam segini Bu, tapi kalau ibu memang capek lebih baik istirahat
saja�.
�Biar Doni yang beres-beres malam ini� ucap Doni dengan perhatian. Aku jadi
terharu. Kamu memang
anak yang berbakti Don. Maka dari itu ibu merelakan segalanya untuk melindungimu.
Di dalam kamar aku merenung. Aku baru saja berbicara dengan anakku ketika sperma
temannya
masih tertanam di dalam rahim. Ku yakin benih temannya ini sedang berusaha
memberikan dia
seorang adik. Hatiku semakin terasa sakit dengan kenyataan ini.
�Mas�mas kapan pulang?� tanyaku sambii berusaha menahan tangis.
�Maaf dek� ..mas dinasnya diperpanjang� ucap mas Herman pelan.
Mendengar itu batin ku berteriak �Oh�.mas aku membutuhkan dirimu mas, anakmu juga
membutuhkanmu�.
Tapi aku harus mengerti, kalau saat ini suamiku membanting tulang demi menafkahi
keluarga. Biarlah
tubuhku dinikmati oleh Bobby demi melindungi Doni.
Dengan suara bergetar �Begitu ya mas, baiklah mas kalau begitu. Mas hati-hati ya
disanam jangan lupa
makan dan istirahat yang cukup�.
�Sekali lagi Mas minta maaf ya dek. MAS janji nanti akan langsung pulang kalau ada
kesempatan�ucap
dia berjanji kepadaku.
�Iya mas, adek tunggu ya� ucapku dengan pipi di aliri air mata.
�Iya dek, sudah ya. Sudah malam, titip salam ke Doni�.
�Iya mas, adek sayang bapak�.
�Mas juga sayang adek� ucap suamiku mesra.
*Clek
Aku pun tersungkur memeluk diriku sendiri, di atas kasur miliku dan mas Herman.
Menangis
meratapi nasibku. Padahal saat ini aku membutuhkan dia, namun takdir berkata lain.
Lama aku menangis, di kasur kawinku dengan mas Herman.
Tapi aku harus kuat. Aku harus kuat demi Doni. Biarlah mas Herman berjibaku disana
demi mencari
nafkah untukku dan Doni.
Hari-hari selanjutnya aku jalani dengan murung. Termasuk di minggu pagi yang cerah
ini. Hanya
dengan memakai daster pendek selutut, aku mengelap kaca jendela rumah dengan lemah.
Doni
menangkap keadaanku yang terlihat murung.
�Ibu kenapa? Ada masalah ya? Doni lihat dari kemarin ibu seperti tidak bersemangat,
kayak ada
sesuatu� tanya Doni kepadaku. �Kamu tahu nggak sih nak, kalau belum lama ini, ibu
dipaksa
bersetubuh oleh temanmu� ucapku dalam hati. Tidak mungkin aku berkata seperti itu.
�Ibu nggak apa-apa kok sayang, cuma lagi capek aja�.�Bener Bu?� tanya Doni
memastikan. Melihat dia perhatian dengan diriku, aku menjadi iba. Tidak
mungkin aku memberitahu dia kalau aku menjadi budak seks temannya. Oh�.aku tahu�.
�Ng�..sebenarnya bapak nggak jadi pulang minggu ini. Bapak di perpanjang dinasnya�
jawabku dengan
lesu. Ya ini adalah jawaban yang tepat
�Wah Kenapa bu?� tanya Doni kembali. Terlihat ada rasa kecewa dari wajahnya. Sama
nak, ibu juga
kecewa, tapi mau di bilang apa lagi.
�Nggak tahu Don, ya namanya juga pekerjaan pasti ada resikonya�.
�Iya sih, tapi ibu tenang saja jangan khawatir. Kan ada Doni yang nemenin ibu
disini� ucap Doni yang
membuatku tenang dan bahagia. Demi dia aku harus kuat menghadapi cobaan ini.
�Iya sayang, makasih ya sudah perhatian sama Ibu� ucapku terharu. Lantas aku peluk
anakku, Doni
pun membalas memeluk dengan erat.
�Oh iya Bu, nanti Bobby mau main kesini� Mendengar kabar buruk itu aku langsung
melepaskan
pelukanku dan menatap lekat Doni.
�M-m-mau ngapain dia kesini?�.
�Katanya mau main saja sih bu�.
�Ohhh, kamu kenapa masih main sama dia sih? Kan dia jahat sama kamu� sergahku
kecewa dengan
Doni yang masih berteman dengan Bobby.
�Dia sudah minta maaf bu, lagi pula dia entah kenapa berubah jadi baik sama Doni�.
�Seriusan dia minta maaf sama kamu?� kagetku.
�Iya Bu, kemarin di sekolah. Tiba-tiba dia dateng minta maaf sama Doni. Terus dia
juga traktir aku
banyak Bu�. Ternyata Bobby benar-benar memegang janjinya denganku. Kalau begini aku
memang
harus hamil juga olehnya.
�Kamu yakin masih mau berteman sama dia?� tanyaku memastikan.
�Iya bu. Gak apa-apa ya bu, lagipula Doni kan nggak punya banyak teman. Apalagi dia
kan kakak kelas,
terus di hormati sama orang-orang lagi� jelas Doni.
Seandainya dia tahu kalau perubahan Bobby adalah karena pengorbanan ibunya.
�Baiklah nak. Kalau memang sekarang Bobby jadi berteman baik dengan kamu, ibu tidak
ada masalah
kalau dia main ke rumah� ucapku dengan berat, tidak ingin mengecewakan anak semata
wayangku.
�Makasih bu. Ibu cantik deh� gombal anakku karena mendapat keinginannya.
�Dasar gombal�. �
�Ya sudah sana, ibu mau bersih-bersih lagi�.
Hari ini terasa berjalan sangat lamban. Rasa hatiku sangat gundah, kerena sebentar
lagi temannya
Doni akan main ke rumah. Ya temannya Doni yang telah memperkos@ku dan memaksaku
hamil.Ketika aku sedang mencuci pakaian di halaman belakang, kulihat Doni
menghampiriku.
�Bu, ini si Bobby sudah datang� ucap anakku. Lalu orang yang kubenci itu muncul
dari dalam rumah.
�Halo tante� ucap Bobby seraya bersenyum menyeringai. Karena dia berdiri di
belakang Doni, ia
mengelus selangkangannya di depanku. Seolah mengejekku atau��menggodaku. Aku
Teringat
dengan kemaluan besarnya yang sudah memberikan aku kenikmatan. Kubuang pikir
�I-ya, a-anggap saja rumah sendiri ya, jangan sungkan ya Bobby� ucapku mencoba
seramah mungkin
kepada orang yang kubenci ini. Aku harus tenang dan tegar, agar Doni tidak curiga.
Kemudian mereka berdua pergi kedalam rumah. Sebelum mereka masuk, kudapati Bobby
menoleh
kebelakang melihat aku yang masih mencuci pakaian. Lalu Ia tersenyum iblis
kepadaku, hal itu
membuatku bergidik takut.
Dengan adanya Bobby di rumahku, aku menjadi tidak tenang untuk mengerjakan
pekerjaan rumah
tangga. Diriku was-was akan hal sesuatu. Namun setidaknya, aku bisa tenang karena
akan Doni tidak
kenapa-kenapa lagi. Dan juga menurutku, Bobby tidak senekat itu melakukan hal yang
gila ketika ada
Doni.
Namun sayang dugaanku itu salah.
Ya saat ini, aku sedang di peluk Bobby dari belakang. Dia menyergapku ketika aku
sedang mencuci
piring. Dari belakang, ia meremas kedua dadaku yang masih terutup daster.
�Nghhhh�.Bob�.byyyy�.� erangku ketika Bobby mengendus tengkukku. Geli rasanya.
�Byyyy�.tante mohon�.jangan disini, ada Doni, nanti ketahuan� ucapku sambil
berusaha melepaskan
diri dari pelukan Bobby. Tapi anak muda ini terlalu kuat.
�Bobby pernah bilang apa�..� ucap Bobby dingin di telingaku. Terasa hembusan
nafasnya di tengkuk
leherku. Aku langsung mengendurkan rontaanku.
�Tante mohon, jangan disini Bob. Tante takut Doni nanti tahu� desakku kepada Bobby.
�Sudah tidak apa-apa, percaya sama Bobby ya� ucap Bobby dengan tenang, namun tetap
menakutkan
diriku.
Sekilas aku terpikir keselamatan Doni. Mau takut mau aku turuti kemauan dia. Ia pun
menuntunku ke
kamar mandi ruang tengahku. Bobby langsung menyuruhku bersimpuh di depannya. Aku
mengerti
apa yang dia mau. Ia mau aku memberikan oral sex.
�Buka Tan� perintah Bobby.
Kupandangi selangkangan Bobby. Seperti kemarin, gundukan di celana jeans itu
terlihat besar. Aku
buka celana jeansnya berserta celana dalamnya.
Kini wajahku hanya berjarak beberapa centi dari batang penis Bobby yang masih layu,
namun tetap
lebih besar daripada milik mas Herman ketika sudah ereksi. Diriku masih penasaran
mengapa anak
seumurnya memiliki kemaluan sebesar ini. Dan juga uratnya bertebaran di sekujur
batang penisnya,dan terlihat besar-besar, seperti berotot. Aku tidak yakin apakah
aku bisa memasukan semuanya ke
dalam mulutku.
Aku mendongak, menatap Bobby dengan iba, berharap belas kasihan.
�Ayo, isep� singkat Bobby. Nampaknya percuma kalau aku menolak. Teringat dengan
ucapan Bobby
kemarin, lebih baik aku melayani dia. Tanpa membuang waktu lagi, kuraih batang
penis Bobby. Terasa
panas dan keras, walau masih belum ereksi dengan sempurna. Satu telapak tanganku
tidak bisa
menutupi lingkaran penis Bobby. Aku ingin segera menuntaskan ini semua dengan
cepat, agar Doni
tidak curiga.
*Cuuh��Kuludahi batangnya penis. *Clek Clek Clek lalu aku naik turun kedua tanganku
mengocok
penis Bobby. Sekali aku sertai kocokan dengan gerakan memutar. Urat-urat yang besar
itu sangat
terasa di telapak tangan.
Lama kelamaan penis semakin tegang. Bobby pun mendesah-desah akibat kocokan
tanganku.
�Di isep dong tan� pinta Bobby.
Aku sudah sering memberikan suamiku oral sex. Dan dia selalu memuji kemampuanku
dalam
memberi BJ. Jadi sudah tidak ada lagi masalah untuk urusan ini, namun kali ini,
penis yang akan
kumasukan dalam mulutku sangatlah besar.
Kujulurkan lidahku menjilati batang keras ini. Urat-urat besarnya kutelusuri dengan
lidahku yang
basah. Tak ayal Bobby mengerang enak . Mendengar itu aku malah senang, membuktikan
aku bisa
memuaskan pria.
Aneh pikirku, harus aku tak menikmati melakukan ini. Namun aku ketagihan menjilati
urat-urat besar
disekujur kontol Bobby. Lidahku terus mejilati sisi-sisi batang penisnya.
�Ishhh�.penismu besar sekali sih Bob� ucapku memujinya, agar dia senang.
�Kontol tan, Kontol� ucap Bobby sedikit marah.
�Iya, iya Kontol deh. Kontol kamu besar banget� ucapku sambil terus mengurut
pen�kontolnya
dengan kedua tanganku.
�Hehehe suka ya?�
�Iya suka, Eh!� astaga aku secara tidak sadar menjawab seperti itu. Mukaku terasa
panas dan merah,
malu.
�Kalau gitu, di sepong dong� pintanya.
Tak segan lagu kubuka mulutku lebar-lebar untuk menampung kontolnya. *Happ�.mulutku
hanya
menampung seperempat. Dengan kepala penisnya berada dalam mulutku, kututap sayu
mata Bobby.
Lidahku menjilat kepala kontolnya besarnya, mengilik lubang kencingnya. Pre-cum
Bobby pindah ke
lidahku, dan kutelan.
�Ohhh�.tante seksi banget sih� ucapku. Upayaku untuk terlihat sensual berhasil.
Harus kupertahankan
agar dia cepat ejakulasi.
Kumaju mundurkan kepalaku mengocok kemaluan besarnya dengan mulutku. Dengan kepala
penisnya berada dalam mulutku, kututap sayu mata Bobby. Sedangkan kedua tanganku
mengocok
batangnya yang tidak masuk ke dalam mulutku.Selama menghisap kontol Bobby, aku
berkonsentrasi untuk tidak memikirkan Doni dan Mas Herman.
Aku tidak ingin rasa bersalah hinggap di benakku. Yang ada di dalam pikiranku
adalah memuaskan
kontol Bobby dengan cepat.
Tapi aku penasaran, apa yang terjadi kalau Doni tahu, bila mulut ibunya disumpal
oleh kontol
temannya di rumah sendiri. Membayangkan itu aku bergidik. Entah bergidik ngeri atau
terangsang.
Sepertinya aku merasakan kedua-duanya. Harus kuakui, selama menghisap kontol besar
ini, celana
dalamku terasa lembab. Vaginaku mengeluarkan cairannya, kembali ingin dijejali oleh
kemaluan besar
ini. Aku terlanjur menikmati ini.
Bermenit-menit sudah lewat aku mengoral kontol Ini, terasa semakin besar dan
berdenyut kuat.
Berarti sebentar lagi kontol ini akan memuntahkan isinya.
�Oghhh aku mau keluaarrr, telen tan, telan pejukuuuu� erang Bobby keras. Lantas
kutahan kepala
penisnya di dalam mulutku.
�Gila, enak bangetttt�. tannnn� gw keluarrrrr��Oghhhh�.
Terasa dinding tenggorakanku berkali-kali di terpa cairan panas. Aku mengernyit di
setiap semburan
sperma Bobby di dalam mulutku, menghatam dinding atas mulut. Saking banyaknya, aku
harus
menelannya. Karena terlalu derasnya sperma Bobby yang keluar, tak ayal ada yang
keluar dari
mulutku membasahi bibir dan daguku
Aku tidak menyangka, spermanya sangatlah banyak dan begitu kental. Bahkan��Enak.
Aku
sebenernya jarang menelan sperma mas Herman, bahkan aku terkadang menolaknya.
Seumur-umur
sperma mas Herman tidak sekental dan tidak sepekat Bobby.
Bobby menarik kontolnya dari mulutku. Dengan naluri aku membersihkan sisa sperma
yang
tertinggal di sekujur kontol.
�Kamu memang pinter muasin laki-laki tan� ucapnya seraya membelai kepalaku. Aku
tersipu
mendengar pujiannya.
�Saya nggak nyangka, tante enak juga nyepongnya� ucap Bobby sambil merapikan
celananya. Jujur aku
senang mendengar pujian itu. Maaf mas Herman, ada lelaki lain yang memuji kehebatan
istrimu ini
dalam menghisap kelamin.
�Hari ini aku mejuhin mulut tante saja, lain kali aku ngecrot di memek tante lagi
ya� ucap Bobby. Aku
hanya manggut-manggut saja mendengarnya. Aku sudah pasrah menerima keadaanku ini.
Selama
Doni tidak kenapa-kenapa, aku serahkan raga ini untuk Bobby. Sampai hamil pun aku
terima.
�Oh iya, nanti tolong WA-in nomor rekening tante ya� ucap Bobby.
�Untuk apa ?� tanyaku tidak mengerti.
Dia tidak menjawab pertanyaanku, hanya senyuman yang kuterima. Apa dia akan
melakukan
sesuatu�.
Setelah bersih-bersih, Aku dan Bobby keluar bersamaan dari kamar mandi. Dan
sialnya, aku melihat
Doni yang terbelalak kaget melihat kami.
�Loh Ibu sama Bobby habis ngapain di kamar mandi?� ucap Doni yang memergoki kami.
�Eh anu tad-tadi�.� ucapku terbata-bata, tidak tahu harus jawab apa-apa. Tidak
menyangka akanmenjadi begini.
�Tadi kloset kamar mandi loe mampet Don, jadi gw minta tolong sama nyokap lu� jawab
Bobby
mengelabui temannya. Pintar juga Bobby, menurutku itu alasan yang masuk akal.
�Oalah begitu toh, pantes lame banget gw tungguin dari tadi� ucap anakku kepada
Doni. Melihat Doni
percaya, aku menjadi tenang.
�Bu, itu di bibir ibu ada cairan putih, itu apaan?� seketika jantungku berhenti.
Ternyata sperma Bobby
ada yang tertinggal di sela-sela bibirku.
�Oh ini, tadi ibu habis makan kue isi cream� kujawab sambil kuseka sperma Bobby
dengan jari. Lalu
kumasukan jari tersebut ke dalam mulutku. Kuemut bibirku seolah menggoda anakku
kalau aku habis
makan sesuatu yang enak.
�Hmmm�. Enakkkkk�tapi sudah habis Don� godaku. Ini terpaksa kulakukan, agar Doni
percaya.
�Ih�. Ibu gak bagi-bagi Doni deh, pelit!� rengek anakku.
�Hihihi kapan-kapan ibu beliin deh� ucapku. Kalau saja dia tahu, cream putih ini
adalah sperma
temannya. Seandainya dia tahu yang kumaksud dengan kue isi cream adalah kontol
temannya, lebih
tepatnya pembulinya. Dan seandainya dia tahu, saat ini lambung ibunya penuh dengan
peju kental
temannya. Tapi kalau dia tahu, ia juga harus mengerti, alasan sperma orang yang
membulinya ada di
dalam tubuhku, yaitu demi melindungi dirinya.
�Dah yuk Don, kita main lagi� ajak Bobby ke Doni. Lalu mereka pergi meninggalkan
diriku. Aku
tersadar, sejak dari kamar mandi aku selalu menyebut kontol ketimbang penis.
Nampaknya aku mulai
terbiasa ngomong vulgar di depan orang lain selain dengan mas Herman.
Ada apa dengan diriku. Harus kembali mengingatkan diriku, semua ini kulakukan demi
Doni. Aku
tidak boleh terbuai.
Kembali aku melanjutkan rutinitasku dengan lambung penuh dengan spe�peju kental
Bobby.
Sejak itu aku jadi pemuas nafsu pribadi untuk Bobby. Berkali-kali aku sudah di
setebuhi olehnya.
Berkali-kali juga aku membohongi Doni. Berbagai alasan kugunakan untuk bertemu
dengan Bobby.
Awalnya aku merasa bersalah karena terus membohongi anakku, namun kelamaan rasa itu
terkikis
karena kenikmatan yang diberikan Doni. Akupun sudah tidak merasakan sentuhan mas
Herman,
karena sudah ada Bobby memberikan.
Di berbagai tempat aku telah menyerahkan tubuhku kepada Doni. Bahkan dia pernah
bolos sekolah
hanya untuk menyetubuhiku di rumahku sendiri. Seluruh penjuru rumahku menjadi saksi
bisu
medan tempur aku dengan orang yang membuli anakku. Gilanya aku pernah disetubuhi di
kamar
anakku dan juga kamarku sendiri, tempat aku dan mas Herman tidur.
Berliter-liter sperma sudah kutelan. Dan juga sudah berkali-kali rahimku diisi oleh
sperma yang
banyak dan kental itu. Masalah hamil tinggal hanya menunggu waktu saja. Tapi aku
masih binggung,
gimana caranya aku mengelabui Doni dan Mas Herman terkait kehamilanku kelak.
Bersama Bobby, aku marasakan nikmat persetubuhan yang sesungguhnya. Aku mengutuk
diriku
sendiri kenapa aku malah menikmatinya, bahkan kadang menanti kehadiran Bobby.
Terlebih saking
hanyut dalam persetubuhan, berkali-kali aku telah melewatkan panggila telpon dari
Doni dan Mas
Herman.Kalau begini terus, lama kelamaan aku semakin lupa tujuanku melakukan ini.
Apalagi Mas Herman di
perpanjang dinasnya, aku masih tidak mengerti kenapa dia masih tidak bisa pulang.
Tidak hanya menyotor sperma kentalnya ke rahim hangatku, Bobby juga memberikan aku
uang dalm
jumlah banyak. Itu adalah alasan kenapa dia kemarin meminta rekening kepadaku.
Ketika aku tanya
kenapa dia memberikan aku uang, padahal aku bukan prostitusi, ia bilang ini untuk
keperluanku
sehari-hari dan untuk anaknya kelak.
Doni pun menjadi heran, darimana aku mendapat uang tambahan di luar dari pemberian
ayahnya.
Aku pun berbohong kepada Doni, kubilang aku mendapatkan uang tambahan dari arisan
dengan ibuibu yang lain. Dan aku meminta kepada Doni untuk merahasiakan ini dari
ayahnya. Awalnya Doni
tidak mau, tapi ia nurut setelah aku iming-iming dengan uang jajan-jajan lebih.
Minggu pagi, ini aku kembali di panggil oleh Bobby. Tanpa banyak bertanya, aku
segera bersiap diri.
Hanya dengan memakai kemeja dan celana jeans. Aku bersyukur Bobby tidak pernah
memintaku
untuk berpakaian yang aneh-aneh, sehingga Doni tidak pernah curiga.
�Ibu mau pergi lagi?� tanya Doni yang terlihat heran. Ia melihatku dengan tatapan
yang penuh curiga
saat aku hendak pergi di pagi hari.
�Iya sayang, ibu ada arisan� ucapku berbohong.
�Arisan? Arisan lagi bu?�.
�Iya Doni, ibu ada arisan lagi�.
�Kok belakangan ini ibu sering pergi arisan deh� ujar Doni. Anakku sudah mulai
curiga dengan
alasanku. Hmmm�. Aku harus mencari alasan lain kali.
�Ya mau bagaimana lagi, kan biar ibu bisa bersosial dengan orang-orang�.
�Lagipula hidup ibu kan bukan cuma untuk ngurusin kamu doang� Aku tidak mengerti,
kenapa aku
berkata seperti itu. Padahal apa yang kulakukan nanti adalah untuk melindungi Doni.
Tapi entah
kenapa aku menjadi tidak suka kalau di halangi untuk pergi bertemu Bobby, si
pembuli anakku
sendiri.
Doni pun juga kaget dengan kalimat yang keluar dari mulutku.
�Maaf bu, bukan maksud Doni untuk ngelarang ibu pergi. Tapi sekarang aku jadi
kesepian di rumah�
Doni terlihat sedih. Rasa sedihpun juga hinggap dalam diriku. Seandainya aku bisa
menjelaskan alasan
sebenarnya. Meskipun begitu, tujuanku tidak hanya memenuhi janjiku, tapi juga
meraih kenikmatan
seksual bersama Bobby.
�Terus kalau begitu kenapa kamu nggak pergi saja sama si Rizki, Bambang, dan Adit�
anjurku . Mereka
adalah teman-teman Doni sejak SD dan kini mereka semua satu SMA dengan anakku. Aku
sengaja
tidak menyebutkan Bobby, karena aku tahu dia akan bertemu denganku nanti untuk
bertempur
birahi.
�Bisa saja sih Bu�.. tapi semuanya pada sibuk� ucap anakku sedih.
�Ohhh begituu�. Ya sudah kamu main saja di rumah ya nak�.
�Iya bu, hati-hati di jalan ya bu� katanya khawatir padaku.
�Iya nak�.. Ibu pergi dulu� *Cup�kucium pipi anakku, lalu mengelusnya. �Tunggu di
rumah ya nak, biaribu mengarungi nikmat duniawi dulu demi kamu� ucapku dalam hati
seraya mengelus kedua pipi
Doni.
Dengan rasa berat aku tinggalkan Doni di rumah. Maaf nak, ibu terpaksa pergi, ini
semua demi kamu.
Awalnya aku berpikir itu, tapi benarkah aku melakukan semua ini demi Doni saja?
Belakangan ini rasa
terpaksa hanya dibuat-buat olehku. Yang ada rasa bersalah kepada orang-orang
kusayangi semakin
pudar.
Dengan ojek online, sampailah aku di rumah kosong tua yang menjadi tempat pertama
kali aku di
perkos@ oleh Bobby. Masuk kedalam, disana aku melihat Bobby yang sudah menunggu.
�Tumben lama� tanya Bobby dingin. Aku takut dia marah.
�Maaf Bob, tadi tante ketahan dulu sama Doni� alasanku.
�Ohhh begitu�.. Kenapa? Dia mulai curiga ya?�.
�He-eh� singkatku.
�Saya pikir dia anak yang bodoh� ucap Bobby dengan santainya. Aku jengah mendengar
Doni di ejek.
�Bobby ingat janji kamu. Kamu tidak boleh menyakiti Doni lagi, termasuk menghina
dia� ucapku
dengan tegas. Meski terkadang lupa dengan tujuanku menyerahkan tubuhku, setidaknya
aku masih
bisa mempertahankan harga diri Doni.
�Ya-ya� jawab dia dengan nada menyebalkan. Pemuda itu menghampiriku, langsung
menciumku. Dia
mencumbuiku dengan buas, akupun juga membalasnya. Sekarang aku dan pembuli anakku
terlibat
cumbuan yang panas. Aku hanyut dalam permainan ini.
�Oh ya tan, hari ini nggak cuma muasin aku ya� ucap dia setelah melepaskan bibirnya
dari bibirku.
�Hah? Maksudmu?� tanyaku tidak mengerti.
�Ayo masuk sini semuanya� teriak Bobby.
Lalu pintu rumah ini terbuka, lalu tiga orang pemuda masuk. Aku kenal dengan mereka
semua.
Mereka berempat adalah teman sekolah anakku. Mereka adalah Rizki, Bambang, dan
Adit. Mereka
bertiga sering main kerumahku.
Mereka masuk mendekati aku dan Bobby, menatap tubuhku dengan lapar. Kini ada empat
pria dan
satu wanita dalam ruangan ini.
�Halo tante Ana" sapa Rizki sambil cenggesan. Aku bergidik ngeri, tahu apa yang
akan terjadi nanti.
�Hehehe, halo tan lama gak ketemu nih kita� aapa Adit seraya cengesan yang membuat
diriku jijik.
Yang lain pun juga sama, tersenyum menjijikan.
�Ka-kalian�..�
�Kenapa ada disini?!� pertanyaan yang bodoh menurutku.
�Masa tante pakai nanya sih hehehe� kali ini Bambang yang berbicara.
�Apa-apaan ini? Perjanjiannya kan tante cuma hanya melayani kamu, Bobby� ucapku
dengan nadatinggi, tidak senang dengan kehadiran orang-orang itu.
Mendengar aku ngomel, raut muka Bobby langsung berubah menjadi dingin. Terasa aura
yang sangat
mengerikan keluar dari pembuli anakku. Tatkala rasa takut hinggap pada diriku.
Perawakannya terus
mengingatkan diriku, bahwa ini kulakukan demi Doni. Aku tidak berani lagi protes.
Kukubur dalamdalam niat melawankku.
Tampaknya hari ini akan menjadi pertama kalinya melakukan seks dengan lebih dari
satu pria. Tak
kusangka masalahku menjadi runyam begini. Melakukannya dengan Bobby saja sudah
salah, sekarang
menambah beberapa orang lagi yang akan menyetubuhiku. Parahnya orang-orang itu
adalah temanteman anakku sendiri.
�Silahkan dinikmati� ucap Bobby dengan santainya mempersilahkan bocah-bocah ini
untuk
menyetubuhiku.
Mendengar lampu hijau dari Bobby, teman-teman Doni menghampiri diriku. Teman?
Pantaskah
mereka disebut sebagai seorang teman. Semuanya memutari diriku, dengan tatapan
mereka
menelanjangi diriku. Pemuda-pemuda ini bagai sekumpulan serigala yang mengitari
mangsanya. Dan
aku adalah mangsanya yang akan segera diterkam mereka.
Salah satu dari membuka suara. �Sudah dari dulu gw penasaran sama body tante Ana�
ujar Rizki
sambil terus memutari tubuhkuku.
�Sama Bro, sejak SD malahan� ujar Adit.
�Gw juga� seru Bambang tidak mau kalah dengan yang lain.
�Kenapa kalian tega melakukan ini semua? Tante ini ibu teman kalianlah loh� ucapku
dengan suara
parau.
�Bukankah kalian temannya Doni?� lanjutku dengan wajah yang sedih dan kecewa.
�Ya memang kami temannya, tentunya kami bukan manusia bodoh untuk menolak tubuhmu
tante�
kali ini Bambang yang menjawab, dari mereka berempat dia yang paling gemuk.
�Jadi kamu memilih untuk mengkhianati Doni, temanmu sendiri demi tubuh tante?�
�Apapun akan kami lakukan demi meniduri tante� ujar Adit dengan yakin.
Ohhh Doni, kamu memang salah memilih teman. Akibatnya, sekarang teman-temanmu ini
akan
merasakan tubuh ibu kandungmu.
Mereka semua berhenti memutari diriku. Dan kini mereka memepet diriku, sehingga aku
tepat di
tengah-tengah mereka. Kulihat Bobby hanya duduk di kursi sambil menonton diriku di
lecehkan.
Dalam hatiku berpikir, lebih baik menikmati ini daripada terus dipaksakan.
Setidaknya aku akan
merasakan nikmat dan tidak tersiksa. Dan tidak lupa, sekaligus melindungi Doni.
Maaf mas Herman,
istrimu akan menjajakan tubuhnya kepada para ABG ini. Maaf mas, aku akan bersenang-
senang dulu,
kamu sih nggak pulang-pulang.
*Plak�..�Akhhhh�.sakittt� pekikku kaget sekaligus kesakitan, ketika seseorang
menampar pantatku.
�Gila ni pantat semok bet� ucap Rizki. Ternyata dia yang baru saja menampar
pantatku. Setelah itu
seluruh bagian tubuhku menjadi bulan-bulanan mereka. Seluruh bagian sensitifku di
raba-raba oleh
mereka. Buah dadaku, di remas-remas gemas oleh mereka. Pantatku di remas dan di
tampar gemas
oleh mereka.�Kalau gw sih dari dulu penasaran sama tokednya� ucap Bambang yang
dengan kedua tangannya
sedang meremas kedua bongkahan dadaku yang masih berada di balik kemeja.
Walau terkadang aku suka lupa diri apabila bersenggama dengna Bobby, kali ini aku
belum siap di
garap beramai-ramai. Namun dirangsang terus oleh teman-teman anakku, lama kelamaan
malah
membuatku jadi terangsang hebat. Meski hatiku menolak, tapi tubuh tak bisa
berbohong. Cairan
wanitaku merembes ke celana dalam, membuat lembab area selangkanganku.
�Ayo tante, buka dong bajunya. Tapi yang seksi ya� pinta salah satu dari mereka.
Mendengar itu aku
hanya bisa menghela nafas. Kuturuti saja permintaan mereka, kubuka kemejaku yang
sudah acakacakan akibat ulah mereka.
Secara pelan kulepaskan kancing-kancing kemejaku. Sambil melakukan itu, kutatap
mereka dengan
seduktif. Kugigit bibir bawahku, memancing birahi mereka. Wajah para ABG itu
terihat sumringah
kala aku berlagak sensual.
�Ohhhhh tanteeee, dari dulu saya mengagumi tanteee� ucap Adit yang semakin bernafsu
saat melihat
membuka kemaja dengan pelan.
�Tahu gak tan? Tante Ana kan sering jadi bacol kami loh, Hehehe� tawa bambang.
�Engghh�.Bacol?� aku tidak mengerti dengan kata itu.
�Bahan coli tan� jawab Rizki. Mendengar jawabanya, aku hanya bisa menghela nafas.
Tapi aku
tersanjung, ternyata masih banyak yang tertarik denganku.
Kini terpampanglah bongkahan dadaku yang masih berada dibalik BH-ku. Kuturunkan cup
Bh-ku,
memperlihat buah dadaku dengan putingnya yang sudah tegak ngacung. Para ABG itu
terlihat
semakin mupeng. Teman-teman Doni memuji payudaraku yang masih kencang meski aku
sudah
tidak muda lagi. Senang aku mendengarnya. Aku meremas kedua payudaraku dengan
lemas, sambil
terus menggigit bibir bawahku dengan sensual.
Ketika mereka hendak maju, aku langsung berkata �Eits tunggu dulu�.�. Ucapanku itu
menghentikan
mereka. Kuturun reseleting rok-ku yang ada dibelakang. Lalu kuturunkan rok-ku
dengan perlahan.
Pelan namun pasti celana dalamku yang basah berangsur-angur terpampang. Begitu juga
dengan
pahaku yang montok.
Aku sekarang hanya memakai pakaian dalam saja. Empat pria di dalam ruangan ini
menatap tubuh
dengan sangat bernafsu.
�Ohhh gila�tante seksi banget� puji Rizki.
�Don, maaf nyokap lu bakal gw entot sepuasnya� ucap Mambang. Sedangkan Adit hanya
diam saja.
�Nah silahkan nikmatin tubuh tante, kasih tante kenikmatan yaaaa� ucapku sensual.
Aku sendiri tak
sabar merengkuh nikmat dengan para ABG ini.
Rizki langsung maju dan melumat bibirku dengan nafsu, lidahnya bermain didalam
mulutku. Meski
tidak sehebat Bobby, aku cukup menikmati cumbuanku dengan Rizki. Air liur
berhamburan keluar
dari mulut, membasahi dadaku yang terpampang bebas dan masih disangga oleh Cup bh-
ku.
Terasa telapak besar meremas dadaku. Pasti si Bambang pikirku. Si gemuk memelukku
dari belakang
dan meremas dadaku dari belakang. Ia mainkan kedua puting kerasku, ditarik,
dicubit, dan dipelintir
nikmat. Ia juga menciumi tengkuk, terasa geli dan nikmat.Sedangkan Adit kesamping
tubuhku dan menggapai selangkanganku dengan tangannya. Ia raba-raba
vaginaku yang masih tertutup celana dalam, namun sudah basah. Kulihat Bobby hanya
menonton
teman-temannya sambil ngelus-elus selangkangan sendiri. Siapapun pasti terheran
melihat seorang
wanita berumur sedang digumuli oleh abg-abg. Tak hanya heran, tapi juga pasti
terangsang.
Desahan merdu nan seksi keluar dari mulutku, menikmati perbuatan mereka pada
tubuhku. Tubuhku
dirangsang sedemikian rupa, aku menjadi lupa daratan. Habis sudah diriku, tak lagi
punya harga diri.
�Perasaan tadi tante ogah-ogahan loh, kok sekarang mendesah-desah keenakan hehehe�
ucap teman
Doni yang menyadari dengan perubuhanku, sekaligus menyindirku.
�Dia memang dasarnya binal, lama gak di belai sama suaminya hahahaha� tawa Bobby
yang masih
duduk. Aku tidak peduli dengan omongannya, karena ia ada benarnya. Meski diriku
tetap bersikukuh
kalau semua ini terjadi demi melindungi Doni, namun sayangnya kini tidak begitu
lagi. Sekarang aku
mengejar kenikmatan duniawi.
�Hihihi iyah ni�.suami tante lama nggak pulang-pulang� ucapku centil.
�Suaminya kerja, ini tante malah selingkuh sama teman-teman anaknya, hahaha� ujar
Rizki.
�Hihihihi� aku hanya tertawa mendengar penuturunnya.
�Ok,kalau begitu saatnya tante sepongin kontol-kontol kita� ucap Adit.
Aku lepaskan sisa pakaian dalam yang masih menempel pada tubuhku. Setelah itu aku
berlutut di
depan mereka. Aku sendiri sudah tidak sabar untuk menghisap kontol-kontol abg ini.
Diriku
penasaran dengan ukuran dan bentuk kontol mereka. Kuperhatikan selangkangan mereka
sudah
mengelembung semua.
Kudekati diriku ke selangkangan Rizki. �Bukain dong tante Ana� perintahnya kepada.
Aku tersenyum
manis mendengar permintaan itu.
Kubuka celana jeans Rizki, sekaligus celana dalam. Kini kepala kontol Rizki hanya
beberapa centi dari
mulutku. Lantas kukecup kepala kontol itu, lalu aku tersenyum hangat kepada
empunya.
Lalu aku bergeser ke teman Doni yang lain. Sehingga lainnya juga menerima perlakuan
yang sama
dengan Rizki. Sekarang diriku ku dikelilingi oleh kontol remaja yang sudah ereksi
dengan kerasnya.
Kuamati dengan seksama, tak ada yang sehebat kepunyaan Bobby. Namun semuanya
berukuran lebih
besar dari milik mas Herman. Maaf mas, kamu kalah hebat dengan abg-abg ini.
Kututapi dengan lekat kontol-kontol yang mengelilingi diriku, kubasahi bibirku
lidah tanda sabar
menyepong.
Ternyata Bobby sadar dengan hal itu �Sudah gak sabar nyepong ya tan?�.
Kuraih kontol bambang yang gemuk, dan langsung melahap rakus. Seperti orangnya,
kontolnya paling
lebar diameternya ketimbang milik temannya. Kedua tanganku kuletakan di kedua paha
Bambang
yang besar. Pahanya kugunakan sebagai tumpuan.
*Slurp Slurp Slurp Slurp
�Oshs�***k nyangka gw, kita bagal nge-gangbang nyokap Doni� erang bambang ketika
aku menghisapi
kontolnya dengan rakus. Aku nikmati kontol yang berada dalam mulutku ini.
�Tan kontol aku jangan di anggurin dong� protes
Rizki.�Ehhmm�hiya(iya).....*Slrup...swihih(sini)�.� jawabku dengan mulut masih
penuh dengan kontol
bambang.
�Punyaku juga tan, kocokin dong� Adit juga protes, karena aku terlalu asik dengan
satu kontol saja.
Mereka mengarahkan aku untuk mengocoki kontol yang sedang nganggur. Maklum ini kali
pertama
aku melakukan seks dengan 3 laki-laki sekaligus. Ketika mulutku menghisap satu
kontol, maka
tanganku akan mengocoki kedua kontol yang lain. Dengan rakus aku sepong kontol
teman-teman
Doni.
Cukup lama aku menghisap ketiga kontol teman Doni ini. Semua kemaluan mereka sudah
sangat
basah karena air liurku. Tubuhku juga tetap di sama oleh mereka.
�Gw gak sabar pengen entotin ni lonte� ucap Bambang tidak sabar.
�Sama Bro� ucap Rizki.
�Jangan ada yang crot di dalam memek lonte satu ini� sergah Bobby.
�Kenapa memangnya Bob?� tanya Adit.
�Tanya saja sama lonte ini� ucap Bobby.
�Tante pengen hamil anaknya Bobby� lirihku. Bukan pengen tapi aku terpaksa harus
hamil oleh benihbenih Bobby. Walau menikmati seks ini, tapi kalau hamil aku masih
tidak siap.
*Klontang�.tang�.Bruk�
Kami semua di kagetkan dengan bunyi barang jatuh yang terdengar sangat nyaring.
Sepertinya
sumber bunyinya berada di balik jendela ruangan ini. Pengintip kah?.
�Rizki, Bambang coba cek keluar, ada siapa disana� perintah Bobby. Dan kedua ABG
itu menurut,
layaknya mereka adalah kacung dan Bobby adalah rajanya.
�Bos Bos, lihat nih ada siapa� kulihat mereka berdua sedang menyeret seseorang.
Ternyata benar
dugaanku, ada yang mengintip dari tadi.
Ketika aku melihat orang itu, aku menutup mulutku dengan kedua tanganku dan kedua
mataku
terbelalak lebar�.
Doni�
Itu Doni anakku�..
Kenapa dia disini.
�Do-Doni�. Kamu ngapain disini?�
�A-aku tadi ngikutin ibu��� lirih Doni menjawabku. Aku langsung berdiri dan
mengambil pakainku
untuk menutupi diriku dari Doni.
�Kenapa?� tanyaku.
�Aku penasaran ibu selama ini pergi kemana, jadi Doni diem-diem ikutin Ibu� jawab
Doni sambil
menunduk, tidak berani menatap diriku.�Lihat bos, dia nganceng loh hahahahah� ucap
Rizki. Kulihat ada gundukan di balik celana Doni.
Ternyata dia terangsang melihat aku, ibunya sendiri.
�Hmmmm, menarik. Gw nggak nyangka bakal ada Doni. Ok, iket dia di kursi� perintah
Bobby. Rizki
dan Bambang mengikat doni di kursi kantoran yang sudah usang itu.
�Bobby tante mohon, jangan sakiti Doni. Kamu sudah janji sama tante�. Aku memohon
sambil
memeluk kaki Bobby. Tapi si pembuli tidak bergeming mendengar ucapanku.
�Ja-janji apa bu?� Doni tergagap bertanya kepadaku.
�Ibu�..� ucapku mengantung, tidak yakin apakah harus memberitahu Doni yang
sebenarnya.
�Jawab anakmu LONTE!� hardik Bobby dengan keras.
�Demi melindungi kamu��. Ibu harus menjadi budak seks untuk Bobby dan juga hamil
olehnya�
ucapku pelan. Doni kaget dengan ucapan yang keluar dari mulutku. Ia menatapku
dengan pandangan
yang menandakan tidak percaya.
�Ibu kenapa mau melakukan itu semua? Ibu tidak perlu melakukan hal seperti untuk
Doni� panjang
Doni dengan tatapan tidak percaya.
�Ibu tidak mau kamu kenapa-kenapa nak, jadinya ibu serahkan tubuh ibu untuk Bobby�.
Doni hanya
terdiam mendengar jawabanku. Aku yakin saat ini pikirannya sangatlah kacau.
�Denger tuh nyokap lu bilang apa, ibu lu berkorban demi lu. Dan sekarang lu harus
nonton nyokap lu
di entotin sama kita-kita� ucap Bobby yang membuatku terperangah kaget. Astaga�..
Aku akan
melakukan seks di depan anakku sendiri.
�Plis Bobby, ini juga bukan dari perjanjian, tante gak mau disetubuhi di depan
Doni� mohonku.
�Kalau begitu�..� Bobby menghampiri Doni yang terikat di atas kursi, Ia mengepalkan
tangannya.
*Bugh�.�Arghhhh��� Doni mengerang sakit. Bobby memukul keras anakku tepat di
perutnya.
�Stopppp�.plisss jangan pukul Doni�.� teriakku, setitik air mata mengalir kepipiku.
Tak tega melihat
anak kandungku kesakitan.
�Aku bisa melakukan lebih dari sekedar pukulan�.� ancam Bobby sambil menatapku
dengan amarah.
Aku tahu yang dia maksud, Bobby tak segan-segan untuk membunuh Doni. Aku tidak
mengerti
mengapa ada orang sejahat itu dunia ini.
�Ba-baik tante akan melakukannya�..� lirihku.
�Bagus�.. Ok lanjutin lagi� perintah Bobby kepada yang lain.
Adit menyodorkan penisnya ke mulutku. Kulirik anak semata wayangku yang terikat
�Maaf nak, ini
semua demi kamu�
*Hap�..
Kuhisap penis Adit dengan pelan. Seperti tadi tanganku mengocok penis yang tidak
ada berada dalam
mulutku.
�Bu-Buuu hentikan, jangan lagiii� mohon Doni kepadaku untuk tidak lagi mengoral
penis temannya.
Aku tidak hiraukan permohonan Doni. Maaf nak, ibu harus tetap melakukannya. Lantas
aku terusmemaju mundurkan kepalaku, mengocok penis Rizki dalam mulutku.
�Buuuuu�.Ibuuu�..stop�..plissss� teriak Doni berharapaku berhenti.
�Elah ni bocah berisik banget sih, gw sumpel aja ya mulutnya� usul Rizki. Bobby
mengangguk setuju. Ia
mencabut penisnya dari mulutku dan berjalan menuju Doni.
�Lihat nih Don, kontol gw basah sama ludah nyokap loe�.
Kulihat Rizki memamerkan penisnya yang basah dengan air liurku, ke muka Doni. Teman
macam apa
sih dia, menghina temannya sendiri.
�Rizki�. Lu kenapa tega sama gw? Itu nyokap gw Riz, itu nyokap gw�.� parau Doni ke
temannya.
�Sorry sob, tubuhnya nyokap lu terlalu istimewa untuk di lewatkan, lagipula gw gak
berani ngelawan
Bobby Don� ujar Rizki ke anakku.
�Set�.� Doni tidak mampu menyelesaikan ucapannya, karena keburu tersumpal mulutnya
dengan baju
bekas. Ia meronta-ronta, namun sia-sia saja.
Aku tidak tega melihat, keadaan Doni, tapi apalah daya yang bisa kulakukan. Saat
ini yang bisa
kulakukan adalah menuntaskan hasrat para bajingan yang disebut teman oleh Doni.
Kini aku fokus
untuk memuaskan penis-penis yang ada dengan mulutku. Suara basah pun menggema di
ruangan
ini, terdengar menggairakan dan merdu bagi siapapin yang mendengarnya.
�Ohhhh�.Donnn�.sepongan nyokap loe enakkkk bangettt� erang Bambang ketika giliran
penis dia
yang kulumat. Dengan begitu, penis Rizki dan Adit yang aku urut dengan tanganku.
Di depan Doni, aku Silih berganti memanjakan penis teman-temannya. Aku merasa
bersalah
sekaligus terangsang. Vaginaku menesteskan lendir lengketnya ke lantai dimana aku
sedang
besimpuh.
Dengan sebuah masih penis dalam mulutku, kulirik Doni. Tak lagi meronta, ia hanya
menatapku
dengan nafas memburu. Kulihat tersirat ada rasa marah sekaligus cemburu.
�Su-sudah tan, gw gak mau keluar sekarang� pinta Rizki. Ia menuntun tubuhku untuk
berdiri tidak
jauh dari Doni sekaligus menghadap anakku. Kemudian Rizki barangkan dirinya sendiri
di lantai.
�Tan, duduk di muka aku sini� pintanya.
Aku kangkangi kepalanya, kemudian aku turun tubuhku. Dengan sesekali menatap ke
Doni, aku
memposisikan mulut vaginaku, di atas mulut Rizki persis.
Ketika sudah berada dalam jangkauannya, lidah Rizki langsung menjilat kemaluanku.
�Ohhhh�..�
desahku panjang, merasakan nikmat jilatan Rizki. Agar tidak terjungkal, kugunakan
penis Bambang
dan Adit sebagai pegangan. Aku terus mendesah-desah disetiap jilatan dan lumatan
Rizki di lubang
cintaku. Mataku merem-melek nikmat karena jilatan Rizki di kemaluanku.
�Hahahaha liat dong, nyokap lu keenaakan di jilmet sama Rizki� ledek Bambang.
Payudaraku diremas oleh Adit dan Bambang. Kedua putingku juga tidak luput dari
kejahilan mereka.
Sekuat apapun aku menahan rasa birahi, tubuhku tidak bisa diajak kerjasama. Terus
menerus cairan
vaginaku keluar tumpah meruah yang langsung diminum Rizki.
Kulihat Doni ereksi melihatku di kerjai oleh temannya. Kullihat cairan mazinya
merembes keluar
celananya. Anakku sendiri, terangsang ketika ibunya sedang di cabuli oleh temannya.
Terlintas dalampikiranku, apakah aku lepas saja dari perasaan bersalah ini, dan
menikmati ini semua. Toh aku
berbuat ini demi dia juga kok.
Yah�..aku akan bebaskan diriku�.
�Doni�..okhhh�.sayangggg� desahku manja, memanas-manasi Doni.
�Tan sepongin lagi dong� minta Adit. Kembali kontol Adit kumasukan ke mulutku. Kini
dengan
perlahan kuhisap penis Adit. Sesekali lidahku menjulurkan keluar menjilat kepala
penis dan lubang
kencing Adit. Benang cairan precum menjuntai dari lubang kecing adit dan lidahku.
Puas memanjakan Adit, giliran Bambang. Teman Doni yang gemuk ini, mendesah-mendesah
keenakan saat aku melayani dirinya.
Sekarang aku bergantian menghisapi penis-penis anak muda ini, dengan Rizki dibawah
sana,
menikmati vaginaku. Berkali-kali aku berpandangan kepada Doni, menggodanya.
Rizki mendorong pinggungku mundur, membuatku melepaskan hisapan dan kocokan
tanganku pada
kontol bambang dan Rizki. Sekarang selangkanganku persis di atas kontol Rizki yang
mengacung
keras. Aku menduduki penis Rizki. Dengan inisiatif sendiri, aku meggesek penis
rizki yang terhimpit
diantara bibir memekku yang basah.
�Ohhhh�.tante� erang Rizki.
Tak tahan lagi, ku angkat tubuhku sedikit dan meraih penis Rizki. Kemudian aku
posisikan kepala
penis Rizki di gerbang nikmatku yang sudah basah bagai banjur. Ketika sudah pas,
aku turun tubuhku.
Penis Rizki melesak masuk, memenuhi lerung nikmatku.
�Ahhhhh�..enakkk� desahku.
�Nghh�.ngentotttt� erang Rizki.
Aku dan pemuda ini mendesah bersamaan, ketika kemaluan kami bertemu. Kudiam diriku
merasapi
rasa penis yang baru pertama kali masuk kedalam tubuhku.Dalam hati kuberkata �Maaf
mas Herman,
sekarang nambah kontol lagi yang sudah masuk kedalam tubuhku�.
Sambil menatap Doni, aku berkata �Doni�. kontol rizki didalam memek Ibu�..nhghhh�.
Doni
menggeliat di kursinya.
Dengan bertumbu pada Dada Rizki, aku menaik turunkan tubuhku. Rasa nikmat menjalar
keseluruh
tubuhku.
�Ah�Ah�Ah�kontol kamu enak�.
�Memek tante juga enak�.Oghhh� balas Rizki.
Bambang di kanan dan Adit dikiri, kembali menyodorkan penis mereka ke wajahku.
Tanpa di perintah
aku hisap kedua penis remaja ini, sambil terus menaik turunkan tubuhku di atas
Rizki.
�Don�Donnnii�.mama�.ngentot samaa temannn kamu�.� ucapku di sela-sela menghisap
penis
Bambang dan Adit.
Tiba-tiba aku lihat tubuh Doni yang terikat itu bergetar hebat, ada cairan putih
merembes keluar dari
dalam celananya.
Astaga, anakku mengeluarkan spermanya���Hahahaha� tawa teman-teman Doni melihat dia
klimaks tanpa disentuh penisnya.
�Haha dia malah ngecrot� ucap Bambang sambil terus tertawa sambil memegangi perut
besarnya.
�Masa ibu lo di perkosa lu ngecrot sih� sindir Adit. Bambang dan Adit terus
mengejek Doni yang masih
terkulai lemas. Doni hanya bisa memejamkan matanya. Nafasnya berat.
"Sayangku, Doni kamu suka ya mama di perkos@ sama teman-temanmu" tanyaku yang tetap
memegang kontol Bambang dan Adit, dan Kontol Rizki yang masih berada dalam diriku.
Doni membuka matanya, melihat ke arahku. Dia menggeleng tanda tidak setuju dengan
kata-kataku
barusan.
"Terussss sayang�..ahhhh�., kenapa kamu keluarin peju?" aku bertanya lagi di sela-
sela menaik
turunkan tubuhku. Doni hanya diam, tak bisa mengelak. Ia mebuang muka, tidak berani
melihatku.
Karena tak ada jawaban dari Doni, aku menggenjot penis Rizki yang masih ada di
Vaginaku dengan
buas. Mengejar puncak kenikmatan sendiri. Desahan kembali keluar dari mulutku.
Diriku tak lagi malu
untuk mengekspresikan kenikmatan yang kurasa.
�Eh tante Ana mah sudah nggak di perkosa lagi kali, wong nih lonte aja mendesah-
desah keenakan
terus" ucap Bambang yang sadar dengan perubahanku.
"Iyaahhh, ahh�. habis kalian�..ah�.. ngentotin tante enak bangeettt".
Sensasi disetubuhi sambil di tonton oleh anakku sendiri, membuat birahi semakin
tak-tertahankan.
Tak lama, aku mendapatkan orgasme perdanaku bersama teman anakku, dan gilanya aku
meraihnya
di depan anakku sendiri.
"Ouhhh�iyahhhh...aku�dapettt" jeritku merasakan orgasme. Vaginaku menyemprotkan
cairan
hangatnya, mengguyur Penis Rizki.
"Gilaaaa bro kontol gw disemprot�Ohhhh�Fuckkkk gw mau keluarrr" erang Rizki.
Mendengar itu aku
langsung berdiri, melepaskan tautan penis Rizki di liang cintaku. Rizki langsung
berdiri, sambil
mengocoki penisnya yang basah karena cairan orgasmeku dengan cepat.
"Hh�hh�hh�.� nafasku berat setelah mendapatkan orgasme.
�Tannnnn bukaaa mulutnyaaa�.Oghhhh� perintah Rizki. Aku langsung berlutut dan
membuka
mulutku lebar-lebar untuk menampung lahar panasnya. Tak lupa kujulurkan lidahku.
*Crot Crot Crot�. Rizki menembaki mulutku dengan peju remajanya. Beberapa semprotan
masuk
kedalam mulutku, ada yang jatuh kelidah dan ada yang juga tumpah ke bibirku. Dengan
jari kuseka
peju di bibirku dan kumasukan kedalam mulutku, menambah peju yang sudah tertampung.
Kumasukan kontol Rizki ke dalam mulutku, aku mengempotkan mulutku untuk menyedot
sisa peju
yang ada.
Di depan Doni, Aku mengenyam-enyam sperma kental milik temannya, Lalu menelannya
habis tanpa.
Kubuka mulutku lebar, bagai memberitahu Doni kalau aku menelan habis sperma
temannya.
�Phuahhh��hmmmm�..enakkk� godaku ke Doni.
Aku pegang kedua paha Doni �Anakku sayang�.kamu tonton mama main sama temen-teman
kamu
ya����Nikmatin ya sayang��. ini semua juga demi kamu� ucapku pelan, berharap dia
mengerti.
�Ayo tan sekarang giliran aku yang ngentotin tante� ucap Bambang tak sabar. Tanpa
memberi aku jeda
untuk istirahat. Bambang memintaku menungging di lantai dengan posisi merangkak,
pemuda gemuk
pegang kedua pinggulku.
�Nghhhh�.Bambangggg�.� aku mengeram ketika kepala penis bambang melesak masuk.
Terasa
batangnya yang lebar menyeruak masuk melebarkan lubang vaginaku. Punya dia memang
tidak
sepanjang dan berurat seperti milik Bobby.
Namun rasanya cukup enak, bahkan lebih enak dari punyanya mas Herman. Dari semua
penis yang
telah kucoba, semuanya lebih enak dari mas Herman. Maafkan aku mas, aku
berperikiran seperti itu.
Tapi itulah kenyataannya, penis para anak muda ini lebih enak dan hebat dari
milikmu.
�Oghhh� gila memek tante Ana sempit banget, becek-becek anget ohhh� ucap Bambang,
yang
langsung mengempur diriku. Pantatku diremas-remasnya gemas, bahkan di tampar-
tamparnya
hingga meraj.
�Bersihin dong Tan� pinta Rizki menyodorkan penis setengah ereksinya yang basah
dengan lendir
orgasmeku. Tidak jijik, kubersihkan penisnya. Aku sudah sering melakukanya dengan
Bobby. Dalam
mulutku terasa penisnya Rizki kembali mengeras lagi.
�Eh tot!, gantian napa� hardik Adit kepada Rizki yang sedang menikmati proses
pembersihan
kelaminnya.
�Iye-iye sabar nape, nih kontol gw lagi di bersihin dulu� Ucap Rizki.
Rizki kemudian menyingkir, memberikan kesempatan kepada Adit. Dengan tak sabar,
Adit
menghujam mulutku dengan brutal. Hingga kini kedua lubangku di dihujam oleh dua
penis remaja
yang merupakan teman-teman anakku. Doni kembali memperhatikan diriku bersubuh
dengan
temannya.
Tak lagi kupedulikan perasaan Doni, sekarang isi kepalaku hanya memuaskan mereka
dan juga diriku.
Lantas aku mengerang-mengerang keenakan akibat hentakan penis Bambang di dalam
vaginaku.
Beberapa menit, aku merasakan penis bambang berkedut-kedut dalam lubang vaginaku.
Kemudian
Bambang mengerang hebat �Ohh tanteeee�.�. Bambang mencabut penis dari jepitan
lubang vaginaku.
Ia menembakan spermanya panas di pantatku.
�Ohhhh�shhhhh� desisku merasakan sperma yang tumpah di pantatku, terasa panas dan
banyak
sekali. Kuseka ceceran sperma yang berada di pantatku, lalu seperti tadi, aku
habiskan sperma
Bambang.
Aku sedikit kecewa karena tidak dapat orgasme dari genjotan Bambang. Namun tak apa
pikirku, masih
ada Adit dan Bobby yang belum menyetubuhiku.
�Aku nggak nyangka, ternyata tante demen peju hak�hak�hak�.� ucap Rizki yang
melihatku terus
menyeka sperma Bambang yang tercecer di pantatku.
�Hihihi soalnya kata orang-orang, peju anak muda katanya bikin awet muda� ujarku
centil, sambil
terus mengemuti sperma yang terseka dengan jariku. Sejak menjadi budak seks Bobby,
aku jadi
terbiasa meminum peju. Jadi tak hanya vaginaku yang menampung benih pembuat anak,
tapi juga
lambungku melalui kerongkongan.
�Lihat don, nyokap elu suka peju gw hahaha� ledek Bambang sambil memegangi perutnya
yang besar.
Huh, nih anak banyak gaya, tapi mainnya bentar doang.Doni menggeliat di kursinya,
terlihat raut wajahnya yang penuh dengan amarah kepada Bambang.
Maaf sayang, kamu harus bersabar ya. Biarkanlah ibumu ini disenggamai sama temanmu.
�Sini Bambang, tante bersihiin kontol kamu� tawarku kepada Bambang, yang pasti tak
akan di
tolaknya. Lantas aku membersihkan penis gemuknya dengan mulutku.
�Ayo tan, sekarang sama aku� ajak Adit yang terus mengocoki kontolnya sendiri agar
tidak layu.
�Tapi di ranjang itu aja ya, tante sudah agak capek� tunjuk ke ranjang yang sudah
usang itu. Ia
mengganguk. Lantas mereka menyiapkan ranjang yang akan menjadi medan tempur
selanjutnya.
Kulihat Bobby masih hanya terduduk di kursi santainya, ia terlihat mengusap-ngusap
selangkangannnya. Jujur, aku tak sabar untuk kembali merasakan kontolnya yang
perkasa itu. Ia
tersenyum lebar, ketika mendapatiku mengamatinya. Aku pun membuang mukaku, malu
karena
ketahuan memandangi selangkangannya.
Ketika ranjang sudah siap, aku berbaring disana. Dengan tergesa-gesa Adit
memposisikan dirinya di
antara kedua kakiku. Ia tekuk kedua kakiku dan di dorongkan ke dadaku. Hingga
vaginaku yang basah
merekah terpampang, menggodanya.
�Okhhh�Dit� desahku geli, ketika Adit menggesekan kepala penis di belahan vaginaku
yang basah.
Teman Doni ini juga memukul klitorisku dengan kepala penisnya.
�Sempit bangat tan� ucap Adit. Dengan susah payah ia terus mendorong masuk penis
yang berukuran
lumayan itu ke celah sempitku. Dari ketiga temannya, kepala kontolnya paling besar.
�Ohhh�..ditttt�.pala kontol kamu gedeee bangettt� erangku enak, ketika liang
vaginaku kembali
disesaki dengan batang penis yang keras. Ini adalah penis kelima yang berhasil
masuk kedalam
memeku, yang semestinya hanya penis mas Herman yang boleh memasukinya.
Tanpa membuang waktu lagi, Adit langsung menggerakan pinggulnya, menghujam diriku
dengan
cepat. Ia mainkan kedua payudaraku. Kujulurkan tanganku menyentuh klitorisku.
Kumain biji
kelentitku sendiri dengan jari-jariku, menambah rasa nikmat.
Bambang dan Rizki berlutut di sebelah kepalaku. Mereka kembali menjejalkan mulutku
dengan
batang penis mereka. Rizki menepis tangan Adit yang sedang menggengam buah dadaku
yang kiri.
Kemudian ia menunduk, memasukan seluruh permukaan payudara kiriku kedalam mulutnya.
Aku
mengerang geli ketika puting kiri dan areolaku dijilatnya. Putingku dimainkan oleh
lidahnya.
"Nghhh�.ahhh�.ngh�." Mulutku yang disumpal oleh Bambang, maka hanya desahan-desahan
yang
tertahan terdengar.
Selama 10 menit aku digempur oleh Adit, diriku merasakan orgasme untuk kedua
kalinya hari ini.
Tubuhku bergetar-hebat, vaginaku berkedut-keduut memuncratkan cairan orgasmenya.
Adit semakin
beringas menyetubuhiku.
�Anjinggg�..gw�. Ngecrottt!� teriak Adit saat meraih puncaknya.
�DIT, Jangan di dalam!� teriak Bobby, mengingatkan Adit. Lantas Adit menarik keluar
penisnya dari
vaginaku. Lalu ia dengan buas mengocok kemaluannya sendiri. Aku lihat cairan putih
keluar dari
lubang kecilnya dengan derasnya.
Kali ini aku merasakan semburan hangat mendarat di perutku yang mulus itu. Seperti
tadi, aku
bersihkan ceceran sperma itu dengan jari-jariku lalu aku habiskan. Ketika sudah
tidak ada sisa sperma
Adit yang tersisa, aku tutup mataku, beristirahat sejenak.Setelah aku cukup
bertenaga, aku hampiri Doni yang masih terikat. Kondisinya sangat mengenaskan.
Aku berlutut di depan, dengan lembut ku elus pipinya.
Kuingin melepaskan kaos yang menyumpal mulutnya. Tapi aku belum siap mendengar
amukannya.
Dengan pelan kuucapkan "Maafkan Ibu Don". Ia hanya memberikan tatapan yang kosong.
"Tante Ana" panggil Bobby yang sedang berjalan mendekatiku. Aku merasakan aura yang
sangat jantan
terpancar dari Bobby. Mengingat rasa nikmat yang sudah pemuda ini berikan, membuat
darahku
kembali berdesir panas. Birahi seksual kembali timbul dalam diriku. Melupakan rasa
bersalahku
kepada anakku yang berada di depanku.
Bobby melepas celananya, sehingga penis besar yang telah memberikanku kenikmatan
itu
terpampang. Meski masih setengah ereksi, ukurannya tetap lebih besar dari mas
Herman ketika sudah
tegang maksimal.
Pembuli Doni ini menyodorkan kontol besarnya ke wajahku. *Cuuh�.Cuuh�.Cuuh�. Saking
besarnya
aku harus meludahi kontol ini berkali-kali. Serasa cukup basah, lantas aku urut
mesra dengan kedua
tanganku.
Dengan tersenyum ke Doni, kucium kepala kontol Bobby. Lalu kumasukan penis besar
itu ke mulutku.
*Happ�
Di depan anakku, aku melumati dan menghisapi kemaluan milik orang yang selalu
menyiksa dirinya.
*Slurp�.Slurp�.Slick�slick�.slrup�.Kubuat sepelan mungkin, se-erotis mungkin,
memancing birahi
Doni. Dan usahaku berhasil, meski masih terbalut celana aku yakin penis anakku itu
kembali tegang.
Setidaknya ia akan kembali menikmati adegan yang tidak pantas ini.
Tak lama mengoral penisnya, Bobby mengarahkanku untuk kembali berbaring di ranjang
yang usang
itu. Punggungku sekarang kembali berbaring di ranjang yang lusuh ini.
Bobby mendekatkan kemaluan yang besar itu ke bibir vaginaku. Ia gesekan kepala
kontolnya di
belahan vaginaku. Aku menggeliat nikmat, merasakan kepalanya kontol yang keras itu
membelai-belai
memekku. Tak ayal cairan pelumasku kembali membanjiri vaginaku. Dengan begitu Bobby
akan
memudahkan di penetrasi olehnya.
"Doni gw akan bikin nyokap lo hamil, gw kasih adik buat lo" ucap Bobby kepada Doni.
�Oughhhh�..Bobbyyyy� erangku nyaring saat orang yang sering membuli anakku ini
menghujam
lubang vaginaku dalam-dalam dengan kontol besarnya. Rasa sakit dan nikmat bercampur
menjadi
satu. Terasa dinding rahimku disentuh oleh kepala penis yang besar itu. Mas Herman
saja tidak
pernah, tapi Bobby sudah berkali-kali.
*Plok Plok Plok
Bobby langsung menggerakan pinggulnya dengan cepat dan bertenaga. Aku merasakan
hujaman yang
memberikan aku nikmat tiada tara.
*Plok Plok Plok
�Aahhhh�.Bobbyyy�..terusssssss�..ahhhhh�.enakkkkk�.�Lihat Donnn nyokap lu ke enakan
gw entotin� ucap Bobby memanasi Dino. Karena sedang
mengerang ke enaakan, aku tak berani menatap Doni, tak mau melukai hati anakku
lebih jauh.
Kini aku dan Bobby berciuman dengan buasnya. Lidahku bertautan dengan lidahnya,
saling membelit
nikmat. Bunyi kecipak basah pun terdengar nyaring. Sambil digenjot, mulutku dan
Bobby tetap saling
mengunci.
Bobby mekepaskan lumatanya, dan membisikan sesuatu ke telingaku. �Tapi Bob�.�
protesku ketika
mendengar permintaannya. Namun ku urungkan niat untuk membantahnya.
*Plok Plok Plok
Ku alihkan pandanganku ke Doni yang terikat tidak berdaya �Lihattt�ahhhhh�..Donii��
lihat�.Ibu�.sayanggg�eughh� ucapku di sela desahan-desahan akibat pompaan kontol
Bobby di liang
cintaku yang sempit.
Doni menatapku dengan penis yang ngaceng di baliknya.
�Ibu�ahhhh�. lagi di entot sayangggg�.ahhhh�.
�Sa-sama Bobbyyyy yang perkasaaaa�..oghhhh�.yang�.suka buli kamuuuu�.ahhhhh� ucapku
memanasi Doni. Ya, Bobby memintaku untuk melakukanya. Dengan berat hati aku
lakukan.
�Kontol Bobbyyyy�besarrr��Donnnn�..kontolll�Bobbyyy�.besarrrrr� racauku gila.
�Ahhhh�.enakkkk�.bikin hamil tante Bobbbbb, bikin tanteeee�hamill�.ohhhhh� lanjutku
meracau,
yang sambil terus di gempur oleh kontol Bobby.
�Ahhhh�..aku�.dapettt sayangggg�akuuu�.dapetttt�..� erangku mendapatkan orgasme
pertama
dengan Bobby.
Bobby mencabut penisnya dari dalam tubuhku. Lubang vaginaku menyemburkan cairannya
dengan
deras-deras membasahi ranjang dan tubuh Bobby. Tubuhku bergetar di setiap semburan
yang keluar.
�Wuih�.. gokil sampe squirt gitu� komentar salah satu teman Doni.
�Hh�.hh�hh�hh� deru nafasku berat setelah klimakks. Kali ini orgasme terasa sangat
enak dan Hebat.
Mungkin salah satu yang terbaik yang pernah kurasakan. Di penetrasi oleh kontol
berukuran super
ditambah ditonton oleh anak sendiri membuatku menggapai puncak yang sangat nikmat.
�Oghhh�.pelan Bobbyyyy�.
Kembali Bobby memasukan kontolnya kedalam vaginaku yang sudah menganga lebar. Tanpa
basa
basi ia keluar masukan penis besarnya dengan kecepatan tinggi. Lagi dinding
vaginaku bergesekan
dengan guratan penisnya, terasa nikmat. Urat-urat penisnya yang besar memberikan
nikmat yang
hebat. Akibatnya dengan cepat, aku meraih orgasme lagi.
�Bobby�..tanteeee�keluarrr�lageeehee� beda dengan tadi, Bobby mendiamkan penisnya
di dalam
tubuhku. Tak ayal, cairan orgasmeku menyirami penis besarnya.
�Enggg�� erangku ketika Bobby menarik keluar penis besarnya. Ia berlutut di
sampingku,
menyodorkan penis besarnya yang berlumuran cairan putih, cairan nikmatku. Tanpa di
suruh aku
masukan ke mulut, kontolnya yang basah itu.
Lidahku bermain didalam mulutku, memanjakan penis Bobby. Mengecapi cairan orgasmeku
sendiri.Setelah sudah bersih dari cairanku, ia tarik penis dari mulutku.
�Ayo tante, sekarang di atas� ucap Bobby. Entah kenapa aku yang sudah berkali-kali
orgasme, masih
memiliki tenaga. Tampakya karena rasa nikmat yang kuterima dari Bobby, memberikan
diriku tenaga
untuk terus meraih nikmat puncak seksual.
Kulihat kontol Bobby yang tegak mengacuk basah karena air liurku. Vaginaku
berkedut-kedut, tanda
meminta kembali di jejal barang yang keras dan perkasa itu. Kugenggam batangnya,
lalu keberikan
kecupan di kepala penisnya, tepatnya lubang kencingnya. Benang pre-cum pun terjalin
dari ujung
kepala penis hingga bibirku, ketikaku menarik kepalaku menjauh.
Aku kangkangani, tubuh Bobby. Meraih penis tegaknya yang keras bak baja. Kugesekan
kemaluannya
di gerbang cintaku. Membalurinya perkakas Bobby dengan cairan orgasmeku yang terus
banjir. Habis
itu, dengan sendirinya aku mendorong tubuhku turun. Dengan perlahan namun pasti,
batang kontol
Bobby tenggelam dalam liangku yang hangat dan basah. Erangan nikmat keluar dari
mulutku di setiap
inchi batang Bobby memasuki kembali diriku.
�Ohhh�mentok Bob� ucapku. Dibantu gravitasi, penis Bobby menyentuh bagian paling
dalam
vaginaku, pintu rahimku. Kudiamkan diriku, merasai denyutan dari urat-urat tebal di
sekujur kontol
Bobby.
Aku naik turunkan tubuhku dengan liar. Selagi berpacu dalam birahi, aku menangkap
Doni sedang
memperhatikanku tanpa kedip. Doni menatapku dengan tatapan yang tidak kumengerti.
Apakah dia
marah kepadaku, atau malah nafsu kepadaku. Atau malah keduanya. Yang pasti nafsu,
karena dia
ereksi.
�Ah�..ahhh�.ahhhh�..Bobbyyy� erangku.
�Fuck, Don, memek nyokap lu sempit bangettt� ucap Bobby.
�Ini memek punya gw�oghhhh� erang Bobby keenakan dengan himpitan dinding vaginaku
yang basah
dan mencengkeram kencang.
�Iyahhh Bobbyyy�.memek tante punya kamuhhhh� ucapku.
Tak hanya menaik turunkan tubuhku, terkadang aku menggoyangkan pinggulku, mengulek
penis
Bobby yang tertancap sempurna dalam tubuhku. Penjantan pembuli ini, meremas kedua
dadaku.
Menambah rasa nikmat. Aku tambahkan kedua tanganku sendiri, membantu dia meremas-
remas
payudaraku.
Puas meremasi, ia letakkan kedua tangannya di pinggulku. Lekas ia menggenjotku dari
bawah,
menjemput tubuhku yang naik turun di atas tubuhnya. Aku mengerang nikmat. Dengan
begini aku
bakal klimaks lagi.
�Ah�.ah�ah��.
Benar, sensasi orgasme pun kembali hadir. Kalau begini, bersama Bobby di setiap
posisi aku selalu
mendapatkan klimaks. Saat akan orgasme, aku berdiri dari tubuh Bobby, hingga
penisnya terlepas
dari cengkraman vaginaku. Kuusap-usap memekku dengan cepat, klitorisku yang keras
dan menonjol
tak lupat dari gesekan telapak tanganku.
�Bobbyyyyyy!� teriakku saat orgasme.
*Cret Cret Cret��vaginaku menyemburkan cairan orgasme dengan deras, membasahi Bobby
yang
berada di bawahku. Ohhhh�gilaaa�.aku squirt lagi�.. Aku terus saja mengusap cepat
memancing
cairanku keluar. Terasa tidak keluar lagi, aku hempaskan tubuhku di atas Bobby.
Kuletakaan kepalaku,di samping kepala Bobby.
�Gile-gile, gw gak nyangak tante Ana bisa seliar ini� ucap Adit mengomentariku.
�Hahaha, nyokap lu ngesquirt lagi, sampai basah begini gw� ujar Bobby sambil
mengelus punggungku
mesra.
�Tante pernah squirt gak sama suami tante?� tanya Bobby.
�Hh�ng-nggak�hh�pernah�Bob�.hh, cuma sama�hh�kamu�doang�.� jawabku jujur dengan
tersengal-sengal. Walaupun mas Herman tidak payah dalam urusan ranjang, tapi ia
kalah jauh dengan
pembuli anakku ini. Maaf mas, kamu sibuk kerja tapi aku malah membandingkan nikmat
yang
kuterima darimu selama ini dengan nikmat yang di berikan Bobby.
�Hahahah denger tuh Don, bokap lu payah gak pernah bikin nyokap lu kencing enak
kayak gini� kata
Bobby bangga sekaligus meledek Doni. Tak hanya membuli anakku, dia juga mengejek
suamiku. Aku
hanya diam saja, terlalu capek untuk membela mas Herman dan Doni. Atau terlalu
malas? entahlah.
Bermenit-menit kami berdiam saja, memulihkan tenaga. Nafasku sudah tidak lagi
memburu. Bobby
kembali menusuk diriku dengan penisnya yang masih saja keras. Ia rangkul punggungku
dengan
kedua tanganya, dan lalu ia berdiri.
Ohhh�. Ternyata aku akan disenggamai dengan di gendong olehnya. Takut jatuh, kedua
kaki mengapit
pinggulnya, dan kedua tanganku merangkul lehernya.
�Ahhhh�.Bobbyyyy�kamu kuat bangett�ahhhhh� pujiku terkesima dengan kekuatannya. Mas
Herman
tidak pernah menyetubuhiku dengan gaya ini. Mungkin karena dia tidak sekuat Bobby.
Kuberi dia
ciuman hangat sebagai tanda kagumku. Bobby pun membalas ciumanku. Kini aku dan
Bobby
bercumbu hebat.
�Ah�ah�.ah�..Bobbyy!�
�Fuckkk�..nih memek legitt bangetttt� erang Bobby.
*Plok Plok Plok
Baru pertama kali disetubuhi dengan gaya ini, sebentar saja aku akan meraih
orgasme.
�Lagiii�..Bobby�.lagiii�.tanteeee�keluarrrr�.owhhhh� erangku keras ketika vaginaku
kembali
menyemburkan cairannya keluar dengan deras. Membasahi lantai di bawahku, dan juga
kaki Bobby.
Bobby menurunkan tubuhku, hingga penis terlepas dari vaginaku. Kakiku terasa sangat
lemas. Hingga
aku harus berpegangan pada badan Bobby yang kekar ini.
�Hh�..He-hebat kamu Bob�hh��pujiku.
�Makasih tante Ante�.
�Kamu belum keluar juga Bob? Tante sudah capeek bangettt� ucapku.
�Sebentar lagi aku mau keluar tan� ucap Bobby. Ia membawa tubuhku ke depan Doni
yang masih
duduk dan terikat, dengan mulut tersumpal kaos.
Bobby memposisikan aku untuk membungkuk di depan Doni. Untuk menjaga keseimbangan
tubuh,
mau tak kamu kedua tanganku berpegangan pada sandaran tangan kursi yang di duduki
Doni.
�Donii�..� panggilku lirih kepada anakku.�Gw pengen Doni lihat ibunya keenakan gw
entot� ujar Bobby.
Kini jarak antara wajahku dengan wajah Doni tidaklah jauh. Doni bakal bisa melihat
wajahku saat
keenakan saat di sodok kontol milik orang yang sering membulinya. Aku tidak bisa
bayangkan
perasaannya.
�Shhh�.Bobbyyyy�nghhhh�.okhhhhh� desisku tatkala penis besarnya kembali memenuhi
liang vagina
tanpa ada lagi ruangan tersisa. Bobby langsung tancap gas menghujam memekku dengan
kuat dan
cepat. Aku mencoba menggigit bibirku agar tidak ada desahan keluar. Tapi usahaku
sia-sia, genjotan
Bobby terlalu enak dan nikmat.
�Ma-maaf sayanggg�..iniiii�enakkk bangetttt�.ahhhhhh� erangku di depan Doni. Aku
tidak bisa
menahan eranganku lagi. Mataku merem melek.
�Ahh�ahh�ahh�.Donniii�.Bobbyyy�.
�Oghhh�..lihat Don��nyokap lu gw entotttt� ucap Bobby seraya mengaduk-aduk memekku
dengan
kontol keras dan besarnya.
�Doniiii�ah�lihatttt�Ibuuu�.sayangggg�.
Doni melotot kearahku, ia menatap wajahku dengan seksama.
�I-bu�ahh..keenakan�ahhh.. dientottt�. samaaaaa�.. yang suka buli kamu�.ohhhhh�
tubuhku mulai
bergetar dengan hebatnya. Mataku mendelik keatas, hanya putihnya yang terlihat.
Orgasme hebat
�Maafkaann�ibuuu nakkk� lanjutku meracau nikmat di ambang akan orgasme memancing
Doni.
�I-ni semuaaaa�. demiiiii kamuuuu�aku keluar lagii Bobbyyyyyy�.ohhhhhhh� erangku
dengan hebat
saat meraih puncak seksual. Aku meraih orgasme yang hebat dan sangat nikmat!
*Cret Cret Cret memekku memuncratkan cairan orgasmenya. Meski masih disumpal oleh
kontol
Bobby, lendir nikmatku tetap keluar dari sela-sela himpitan kemaluan kami.
Tubuhku yang lunglai, langsung di peluk oleh Bobby. Dalam dekapan Bobby, sesekali
tubuhku masih
bergetar kecil. Aku terpejam dengan nafas yang terasa sangat berat. Mendapatkan
orgasme di depan
anakku sangatlah hebat.
�Hosh�.Hosh�Hosh�.aku dikit keluar lagi tan�.�
�Hosh�..Aku mau menghamilin tante di depan Doni sekarang� ucap Bobby sambil
mengelusi perutku.
Yang nanti akan tumbuh janinnya di dalam.
Terlalu lelah, aku tidak tanggapi ucapannya. Ia bungkukan tubuh ke arah Doni, namun
kali Bobby
menarik kedua tanganku kebelakang. Dengan membabi buta, Bobby menghujam memekku.
*Plok Plok Plok
�Ah�.ah�ah�.ah�� aku hanya bisa mendesah sambil menatap sayu ke Doni yang sedang
menangis.
Dengan sisa tenaga aku mengucapkan �Ini demi kamu Doni�.
Kontol Bobby terasa semakin besar dalam liang peranakanku. Urat-uratnya berdenyut-
denyut kuat.
Bobby akan segera memuntahkan benih-benih suburnya dalam rahimku.
�Oghhhh�.. Donii�.gw kasih lu adekkk��Tanteeee�.terimaa pejuku�okhhhhhh� teriak
Bobby. Lalu terasa ia berkali-kali menyemprotkan
pejunya di dalam tubuhku. Rasanya sangat nikmat, lantas aku kembali klimaks.
�Doniiii�.ibuu�.hamilll�Donnn..iiibuuuuu�hamillll�ohhhh� erangku saat kembali
orgasme karena
merasakan semprotan peju yang kuat didalam liang cintaku, memenuhi seluruh lerung
rahimku.
Terasa sangat hangat rahimku, dan aku bisa merasakan betapa banyaknya sperma Bobby
yang
tersimpan di dalam tubuhku. Dengan begini aku pasti hamil.
Di saat bersamaan, Doni bergetar sangat hebat, ia sedang berejakulasi. Saking kuat
orgasmenya,
sperma muncrat keluar dari balik celananya dan mendarat wajahku. Ohhh�.aku
dipejuhin anakku
sendiri.
�Hh�..hh�.hh�.�
�Hosh�.Hosh�.Hosh�..�
Seketika ruangan hening, hanya ada deru nafas yang berat. Teman-teman Doni hanya
bisa
terbenggong melihat adegan yang luar biasa ini.
Bobby mencabut kontolnya dari liang senggamaku. Langsung peju kentalnya tumpah ke
lantai dan
mengalir juga ke pahaku.
Bobby menarik tubuhku, memelukku dari belakang, dengan begini aku bisa bersandar ke
tubuhnya.
Ia mengangkat kaki kiriku untuk berpjiak di paha Doni. Dengan begini Doni bisa
melihat dengan jelas
vaginaku yang merupakan tempat dia keluar dulu penuh dengan cairan putih kental,
sperma subur
pembulinya sendiri. Namun anakku masih menutup matanya.
Bobby melebarkan bibir vaginaku, seketika setetes benihnya jatuh ke paha Doni.
�Buka mata lu Don� perintah Bobby. Namun Doni hanya diam tetap terpejam, tidak mau
menuruti
permintaan si tukang buli.
�Tan� singkat Bobby kepadaku, memberi kode. Aku pun mengerti.
�Doni sayang, buka mata kamu sayang, lihat ibu sayang� pintaku dengan lembut.
Kemudian ia membuka matanya, seketika ia langsung terbelalak.
"Bro memek nyokap penuh sama peju gw" Ucap Bobby.
Doni hanya bisa menatap vaginaku merekahh merah dan penuh sperma Bobby. Ia tatap
tanpa kedip,
dan nafasnya memburu.
"Coba tante Ana korek memek tante pake jari, terus kasih lihat ke Doni" perintah
Bobby kepadaku.
Meski aku tahu itu akan menyakiti Doni, tapi aku tidak berani membantah. Kumasukan
jari tengahku
kedalam lubang cintaku, terasa hangat dan lengket. Aku mengais-ngais sperma Bobby.
Kutunjukan sperma Bobby kepada Doni, lalu aku berucap "Doni Anakku sayang, lihat
nih peju Bobby
kentel banget lohh".
"Ibu pasti bakal hamil anaknya, kamu bakal punya adik Don" ucapku dengan lembut.
�Jaga anak gw ya Don� ucap Bobby. Doni terdiam, lalu pingsan karena shock dengan
kejadian yang
terjadi di depannya. Naluri sebagai ibu pun langsung berkerja.�Bob, Bob plis�. Doni
pingsan, tolong lepasin dia Bob, tante mohon� Aku khawatir dengan keadaan
anakku.
�Ok-ok, woi tuh sana lepasan Doni sekarang� perintah Bobby kepada Rizki, Adit, dan
Bambang.
Mereka melepaskan Doni, dan menidurkannya di ranjang usang yang sudah basah dengan
cairan
orgasmeku.
Masih pingsan, aku mengelusi kepalanya yang bersandar di pahaku. Setitik air mataku
jatuh ke
dahinya.
�Hari ini masih panjang tan, Pejuku masih banyak nih� ucap Bobby di telingaku
membuatku bergidik.
Nampaknya hari ini masih panjang. Dengan rela aku harus menyerahkan tubuh kepada
temen-teman
Doni lagi. Namun ada pikiranku yang membayangkan kenikmantan yang aku raih nanti.
Dan tenju saja
Doni harus menonton ibunya sampai tuntas.
Hari itu aku melakukan seks beramai-ramai sampai malam. Tentu saja di saksikan oleh
Doni terus.
Berbagai posisi seks aku lakukan bersama teman-teman Doni. Jumlah Orgasme pun tidak
lagi bisa
kuhitung lagi. Tubuhku berkeringat dan penuh sperma yang sudah berkerak kering.
Rizki, Adit, dan
Bambang selalu menumpah sperma kental mereka di seluruh tubuhku. Mereka juga tak
lupa
menyetor sperma mereka ke lambungku melalui mulutku dan kerongkonganku.
Hanya Bobby yang menyuntikan benih suburnya dalam ke dalam rahimku. Aku yakin
sekarang sel
telurku sedang di gempur habis-habisan, agar hamil.
<div style="text-align: justify">
Aku dan Doni di antar pulang Bobby menggunakan mobilnya. Tak ada sepatah katapun
terucap keluar
di mobil itu. Hanya desahanku yang terdengar. Aku yang berada di samping Bobby yang
sedang
menyetir, tidak luput dari ulah jailnya. Karena sudah capek, kubiarkan saja si
Bobby.
Sesekali aku menoleh belakang, khawatir dengan anakku. Doni hanya menatap keluar,
memandangi
jalanan. Aku yang lelah juga mengerti, Doni pasti terpukul dengan kejadian yang
barusan di lihat
olehnya. Sebagai ibu aku mengerti bahwa dia sangat terluka, melihat ibunya orang
yang
melahirkannya dan mencintainya di jadikan budak seks oleh teman-temannya.
Sampai rumah pun, Doni tetap diam, bahkan terkesan mencuekan diriku. Rasa bersalah
dalam diriku
kembali hadir. Padahal aku lakukan ini semua demi keselamatannya. Aku harap dia
mengerti.
Keesokan harinya.
*Tok�.tok�Tok�.
"Donnnn, bangun sayang, sudah siang" karena kejadian kemarin aku biarkan Doni tidak
sekolah. Agar
ia bisa menenangkan dirinya, memulihkan mentalnya.
*Clek�.pintu kamarnya terbuka.
Doni terlihat tidak karuan. Wajahnya sangatlah kusut. Tak ada suara yang keluar
dari kami berdua.
"Don, ibu minta maaf atas perbuatan ibu semalam ya" ucapku membuka suara,
memecahkan
keheningan.
Ia memeluk dengan sangat erat. Akupun membalas pelukannya.
*Hiks�Hiks�Hiks�. Terdengar tangisannya keluar, aku pun juga ikut menangis. Cukup
lama kami
berpelukan.�I-bu nggak salah kok, D-Doni mengerti kenapa ibu melakukan itu. De-demi
Doni kan Bu?� tanyanya
sambil sesenggukan.
�Iya nak, ibu mau menjadi budak seksnya Bobby, karena untuk melindungi kamu�
jawabku sambil
juga terisak.
�Terima kasih Bu� ucapnya pelan.
�Maaf ya Bu�. kemarin Doni berejakulasi sampai kena muka Ibu� ucapnya meminta maaf
perihal dia
mengotori mukaku dengan
�Nggak apa-apa kok sayang, ibu mengerti�
�Tapi Kamu nikmatin kan Don? Hayooo kemarin sampe berkali-kali loh kamu muncratnya�
lanjutku
�Hehehe I-iya Bu, maaf� jawabnya dengan malu-malu.
"Oh iya Bu, terus bagaimana kalau ibu hamil beneran? Nanti ayah gimana?" tanyanya
cemas.
"Ibu akan menyusul ayahmu, untuk sementara waktu kamu tinggal sendiri ya".
"Loh, ibu mau ngapain pergi ke tempat ayah?" tanyanya binggung.
"Ibu sudah yakin pasti hamil Don, meski belum ibu cek. Tapi ibu yakin anak Bobby
sudah tumbuh
dalam perut ibu sekarang" ucapku.
"Begita ya Bu�." jawab Doni lalu menatap perutku.
"Makanya ibu mau menyusul ayahmu. Ibu ingin disetubuhi ayahmu, biar dia percaya
kalau anak ada
dalam perut ibu adalah anaknya" jelasku kepada Doni mengenai rencanaku untuk
mengelabui mas
Herman.
"Doni, minta maaf bu. Jadi ada yang tidak berguna bagi ibu dan ayah".
Mendengar itu aku kembali memeluk anakku. Kutatap matanya dalam-dalam "nggak nak,
kamu bukan
anak tidak berguna, tapi kamu anak yang sudah berbakti kepada orangtuanya".
"Oleh karena itu, ibu rela berkorban demi kamu nak".
"Terima kasih Bu, sudah berkorban demi aku.".
"Iya nak. Dan ingat ya nak, ini hanya rahasia kita ya".
�I-ya Bu�.
Jadilah aku menyusul ke tempat suamiku kerja yang berada di luar kota. Suamiku
kaget melihat
kedatanganku. Tak menyangka bakal melihat istrinya jauh dari rumah. Aku melepas
rindu dengan
suamiku, cinta sahku. Ada rasa bersalah kala itu, tapi aku harus tetap menjalankan
rencanaku.
Malamnya di hotel, dengan akal-bulusku, kurayu mas Herman untuk bersetubuh
denganku. Kupaksa
dia untuk mengeluarkan benihnya didalam tubuhku. Meski aku yakin bakal percuma,
pasti sperma
encer mas Herman tidak dapat membuahiku. Toh pasti sekarang sudah ada janin dari
benih Bobby.
Tiga hari berlalu sejak aku bertemu dengan mas Herman, aku mengalami gejala-gejala
kehamilan.
Nyatanya aku dinyatakan hamil oleh testpack yang kubeli dari apotik. Dengan begini
aku yakin janin
dalam perutku adalah milik Bobby, bukan milik suami sahku. Orang yang menghamiliku
itu dengan
baiknya mengantarkan aku ke dokter kandungan.
Aku juga memberitahukan mas Herman mengenai kehamilanku. Ia senang mendengarnya
namun
juga khawatir perihal keuangan kita. Namun aku menenangkan mas Herman, dengan
bercerita bahwa
aku di rumah mulai berjualan online, jadi ia tidak perlu khawatir. Jadi aku tidak
lagi kekurangan.
Padahal aku saat ini di nafkahi juga oleh Bobby.
Empat bulan Kemudian.
�Gimana Don, kamu bakal punya adik loh� tanyaku lembut kepada Doni yang duduk
disampingku.
Aku pegang tangannya dan kuletakan di atas perutku yang sudah membuncit. Doni hanya
diam
menatap perutku dan mengelus-elus perutku yang sudah terisi dengan adiknya, yang
dalam waktu
lima bulan kurang akan lahir ke dunia ini.
�Doni, inget ya, meski ini bukan anak ayahmu, tapi ini tetap adik kamu ya Don.
Karena darah ibu, yang
juga darah kamu, mengalir dalam adikku kamu ini. Jadi ibu minta kamu jaga dan
sayangi adikmu ya"
pintaku dengan lembut.
�I-ya Bu, anak di dalam kandungan ibu akan Doni anggap sebagai adik, jadi pasti
akan Doni sayangi"
ucapnya yang membuatku tersenyum.
Hari-hari berikutnya, kujalankan bersama dengan Doni. Meski hamil pun aku tetap
menjalankan
tugasku sebagai budak Seks . Sekarang anakku ikut ketika aku di panggil untuk
memuaskan hasrat
orang yang suka membulinya, Bobby. Tapi Bobby menepati janjinya, kini dia dan Doni
berteman baik.
Secera terang-terang Doni menikmati aku, ibunya di gumuli oleh teman-temannya
sendiri. Aku pun
juga senang, sensasi bersenggama sambil di tonton oleh anak sendiri membuahkan
kenikmatan yang
berlipat-lipat. Pernah dia memintaku untuk memberikan apa yang kuberikan kepada
temantemannya. Namun kutolak mentah-mentah permintaannya. Kujelaskan kepada Doni,
bahwa kita
adalah ibu dan anak, tidak sepatutnya berhubungan seks. Dan aku mengingatkan Doni
bahwa ini
semua terjadi karena demi melindungi dia dari Bobby, jadi aku harap dia mengerti.
Aku kira tugasku sebagai budak seks pribadi untuk Bobby berhenti ketika aku
melahirkan anaknya.
Nyatanya sampai anak keduaku lahirpun aku tetap menjadi budak seks Bobby. Hingga
kini aku masih
tidak percaya semua ini terjadi karena demi anakku, Doni.
Tamat