Hasil Uji Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif bertujuan untuk memberikan informasi mengenai
karakteristik variabel – variabel penelitian yaitu jumlah amata nilai minimum, nilai
maksimum, nilai mean, dan standar deviasi. Untuk mengukur nilai sentral dari
distribusi data dapat dilakukan dengan pengukuran rata – rata (mean) sedangkan
standar deviasi merpakan perbedaan nilai data yang diteliti dengan nilai rata –
ratanya. Hasil statistik deskriptif dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1
Hasil Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
X1 Jenis Kelamin 122 .00 1.00 .3525 .47971
X2 Status Perkawinan 122 .00 1.00 .3279 .47137
X3 Pendidikan 122 .00 16.00 6.7541 4.58944
X4 Kesehatan 122 .00 4.00 3.1885 .97347
X5 Status Kepala Rumah 122 .00 1.00 .7131 .45417
Tangga
X6 Pendapatan Non Kerja 122 .00 3000.00 245.0820 719.40086
X7 Pendapatan Keluarga 122 1000.00 10500.00 4453.6066 2107.64491
M Jumlah Tanggungan 122 .00 7.00 2.0902 1.72968
Y Partisipasi Kerja 122 14.00 90.00 60.5328 19.79489
Valid N (listwise) 122
Sumber : Lampiran 2
Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif pada Tabel 1 dapat diketahui bahwa total
data observasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 122 responden
Hasil Uji Asumsi Klasik
Analisis regresi sangat memerlukan bagian asumsi agar model dapat
digunakan sebagai alat prediksi baik. Selanjutnya, dilakukan uji asumsi classical
linear regression model (uji asumsi klasik). Tujuan dari pengujian ini adalah untuk
memastikan bahwa model atau persamaan yang diuji tidak melanggar asumsi
tersebut. Pengujian ini dilakukan untuk membuktikan bahwa hasil yang diperoleh
bersifat BLUE (Best Linear Unbiased Estimator). Uji asumsi klasik meliputi uji
normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokolerasi. Masing-
masing uji asumsi klasik akan dijabarkan sebagai berikut:
1) Hasil Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,
variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak.
Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi normal atau mendekati
normal (Ghozali, 2012:116). Untuk mendeteksi normalitas data digunakan
Kolmogorov-Smirnov dengan kriteria jika Asymp. Sig (2-tailed) lebih besar
dari level of significant yang dipakai yaitu 5 persen, maka dapat disimpulkan
bahwa residual berdistribusi normal namun sebaliknya jika Asymp. Sig (2-
tailed) lebih kecil dari level of significant 5 persen, maka data mempunyai
distribusi tidak normal. Hasil uji normalitas untuk seluruh sampel dapat
dilihat pada Tabel 2 di bawah ini.
Tabel 2
Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N 122
a,b
Normal Parameters Mean .0000000
Std. Deviation 13.23755064
Most Extreme Differences Absolute .066
Positive .066
Negative -.047
Test Statistic .066
Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d
Sumber: Data diolah (Lampiran 4), 2025
Hasil pengujian pada persamaan regresi linear berganda dalam Tabel
1 menunjukkan bahwa nilai Asymp. Sig (2-tailed) 0,200 lebih besar dari level
of significant, yaitu 5 persen (0,05). Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai
residual pada model regresi yang diuji sudah berdistribusi normal.
2) Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
di temukan adanya korelasi antar variabel bebas. Untuk mendeteksi ada atau
tidaknya multikolinearitas pada model regresi dapat dilihat pada nilai
tolerance dan nilai variance inflation factor (VIF). Jika nilai tolerance lebih
dari 10 persen atau VIF kurang dari 10, maka dikatakan tidak ada
multikolinearitas. Hasil uji multikolinearitas dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3
Hasil Uji Multikolinearitas
Toleranc Keterangan
Variabel VIF
e
Jenis kelamin 0,749 1,336 Bebas
Multikolinieritas
Status Perkawinan 0,633 1,579 Bebas
Multikolinieritas
Tingkat Pendidikan 0,572 1,749 Bebas
Multikolinieritas
Kesehatan Lansia 0,919 1,089 Bebas
Multikolinieritas
Status Kepala Rumah 0,882 1,133 Bebas
Tangga Multikolinieritas
Pendapatan Non Kerja 0,576 1,737 Bebas
Multikolinieritas
Pendapatan Keluarga 0,352 2,837 Bebas
Multikolinieritas
Jumlah Tanggungan 0,424 2,361 Bebas
Multikolinieritas
Sumber: Data diolah (Lampiran 5), 2025
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa nilai VIF dan Tolerance,
dimana diperlihatkan bahwa tidak terdapat nilai Tolerance yang kurang dari
0,1 (10 persen) ataupun nilai VIF yang lebih dari 10. Oleh karena itu
berdasarkan nilai Tolerance dan VIF pada model analisis tersebut tidak
ditemukan adanya gejala multikolinearitas.
3) Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji model regresi
apakah terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke
pengamatan lain. Uji heteroskedastisitas pada penelitian ini menggunakan uji
Glejser. Uji Glejser dilakukan dengan cara meregresi nilai absolute residual
dari model yang diestimasi terhadap variabel bebas. Jika nilai signifikannya
lebih dari 0,05 maka tidak terjadi gejala heterosedastositas. Hasil uji Glejser
dapat di lihat pada tabel 4.
Tabel 4.
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Variabel Signifikansi Simpulan
Jenis kelamin 0,842 Bebas
Heteroskedastisitas
Status Perkawinan 0,961 Bebas
Heteroskedastisitas
Tingkat Pendidikan 0,591 Bebas
Heteroskedastisitas
Kesehatan Lansia 0,157 Bebas
Heteroskedastisitas
Status Kepala Rumah 0,660 Bebas
Tangga Heteroskedastisitas
Pendapatan Non Kerja 0,799 Bebas
Heteroskedastisitas
Pendapatan Keluarga 0,633 Bebas
Heteroskedastisitas
Jumlah Tanggungan 0,689 Bebas
Heteroskedastisitas
Sumber: Data diolah (Lampiran 6), 2025
Tabel 4. menunjukkan bahwa nilai signifikansi seluruh variabel
memiliki nilai yang lebih besar dari α = 0.05. Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas.
Hasil Analisis Regresi Moderasi
Analisis regresi moderasi ini digunakan untuk menganalisis pengaruh jenis
kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, kesehatan lansia audit, status kepala
rumah tangga, pendapatan non kerja, pendapatan keluarga dan jumlah tanggungan
sebagai variabel moderasi terhadap Partisipasi Kerja. Analisis regresi linear berganda
diolah dengan bantuan software SPSS for Windows 26.0 dengan hasil yang dapat
dilihat pada Tabel 5 berikut.
Tabel 5
Rangkuman Hasil Analisis Regresi Moderasi
Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) -86.303 65.363 -1.320 .189
X1 Jenis Kelamin 8.585 3.035 .208 2.829 .006
X2 Status Perkawinan -7.130 3.371 -.170 -2.115 .037
X3 Pendidikan -.997 .361 -.231 -2.766 .007
X4 Kesehatan 2.858 1.360 .141 2.101 .038
X5 Status Kepala Rumah Tangga 13.773 2.969 .316 4.640 .000
X6 Pendapatan Non Kerja -.005 .002 -.184 -2.184 .031
X7 Pendapatan Keluarga -.010 .002 -1.061 -4.239 .000
M Jumlah Tanggungan 25.875 9.217 2.261 2.807 .006
X7.M 20.272 9.047 1.461 2.241 .027
a. Dependent Variable: Y Partisipasi Kerja
Sumber: Data diolah (Lampiran 3), 2025
Dari hasil analisis regresi moderasi pada Tabel 5 tersebut, maka dapat dibuat
persamaan sebagai berikut:
Y = α + 𝛽1𝑋1 + 𝛽2𝑋2 + 𝛽3𝑋3 + 𝛽4𝑋4 + 𝛽5𝑋5 + 𝛽6𝑋6 + 𝛽7𝑋7 + 𝛽8𝑋7𝑀 +
Y = -86,303 + 8,585 𝑋1 – 7,130𝑋2 – 0,997 𝑋3 + 2,858 𝑋4 + 13,773 𝑋5 –
0.005 𝑋6 – 0,010 𝑋7 + 25,875 M + 20,272𝑋7𝑀 + e
Tabel 5 menunjukkan nilai signifikansi seluruh variabel kurang dari 0,05, yang berarti
bahwa seluruh variabel yang diteliti yaitu jenis kelamin, status perkawinan, tingkat
pendidikan, kesehatan lansia audit, status kepala rumah tangga, pendapatan non kerja,
pendapatan keluarga dan jumlah tanggungan berpengaruh signifikan terhadap
partisipasi kerja.
Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui dan mengukur
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel independen. Peneliti
menggunakan nilai adjusted R2 pada saat mengevaluasi yang mana model regresi
terbaik, karena tidak seperti R2, nilai adjusted R2 dapat naik atau turun apabila satu
variabel independen ditambahkan ke dalam model. Adapun hasil uji koefisien
determinasi dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 6 berikut:
Tabel 6
Hasil Uji Koefisien Determinasi
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
a
1 .744 .553 .517 13.75914
a. Predictors: (Constant), X7.M, X1 Jenis Kelamin, X6 Pendapatan Non Kerja, X4 Kesehatan, X5
Status Kepala Rumah Tangga, X2 Status Perkawinan, X3 Pendidikan, X7 Pendapatan Keluarga, M
Jumlah Tanggungan
Sumber: Data diolah (Lampiran 3), 2025
Hasil uji pada Tabel 6 memberikan hasil dimana diperoleh besarnya adjusted
R2 (koefisien determinasi yang telah disesuaikan) adalah sebesar 0,517. Ini berarti
sebesar 51,7 persen variasi Partisipasi Kerja dapat dipengaruhi secara signifikan oleh
variabel jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, kesehatan lansia audit,
status kepala rumah tangga, pendapatan non kerja, pendapatan keluarga dan jumlah
tanggungan, sedangkan sisanya sebesar 48,3 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain.
Hasil Uji Kelayakan Model (Uji F)
Uji F digunakan untuk menguji apakah terdapat pengaruh signifikan antara
variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen dengan
kelayakan model yang dihasilkan dengan menggunakan uji kelayakan model pada
tingkat α sebesar 5%. Jika nilai signifikansi uji F < 0,05 maka model yang digunakan
dalam penelitian layak dan dapat dipergunakan untuk analisis berikutnya, begitupun
sebaliknya Adapun hasil uji F tersebut dapat dilihat pada Tabel 7 berikut:
Tabel 7
Hasil Uji F (ANNOVA)
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 26209.206 9 2912.134 15.383 .000b
Residual 21203.162 112 189.314
Total 47412.369 121
a. Dependent Variable: Y Partisipasi Kerja
b. Predictors: (Constant), X7.M, X1 Jenis Kelamin, X6 Pendapatan Non Kerja, X4 Kesehatan, X5
Status Kepala Rumah Tangga, X2 Status Perkawinan, X3 Pendidikan, X7 Pendapatan Keluarga, M
Jumlah Tanggungan
Sumber: Data diolah (Lampiran 7), 2025
Hasil uji F (F test) menunjukkan bahwa nilai F hitung sebesar 15,383 dengan
nilai signifikansi P value 0,000 yang lebih kecil dari α = 0,05, ini berarti model yang
digunakan pada penelitian ini adalah layak. Hasil ini memberikan makna seluruh
variabel independen mampu memprediksi atau menjelaskan fenomena Partisipasi
Kerja. Hal ini berarti jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, kesehatan
lansia audit, status kepala rumah tangga, pendapatan non kerja, pendapatan keluarga
dan jumlah tanggungan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Partisipasi
Kerja yang diteliti.
Hasil Uji Hipotesis (Uji t-test)
Pengujian pengaruh secara parsial antara variabel independen dan variabel
dependen digunakan uji t. Adapun hasil analisis dari uji t ini dapat dilihat pada Tabel
8 sebagai berikut:
Tabel 8 Hasil Uji t (Uji Hipotesis)
Variabel Koefisie Nilai t Sig. Simpulan
n hitung
Regresi
(B)
Jenis kelamin 0,106 3,197 0,00
Signifikan
2
Status Perkawinan 0,051 1,546 0,12
Tidak Signifikan
3
Tingkat Pendidikan 0,124 4,029 0,00
Signifikan
0
Kesehatan Lansia 0,110 3,315 0,00
Signifikan
1
Status Kepala Rumah Tangga 0,182 5,282 0,00
Signifikan
0
Pendapatan Non Kerja 0,118 3,270 0,00
Signifikan
1
Pendapatan Keluarga 0,113 3,168 0,00
Signifikan
2
Sumber: Data diolah (Lampiran 7), 2020
Berdasarkan hasil uji t pada Tabel 8, maka dapat dijelaskan hubungan antar
variabel sebagai berikut:
1) Pengaruh Jenis kelamin terhadap Partisipasi Kerja
Hasil perhitungan uji t pada Tabel 8 tersebut menunjukkan nilai koefisien
regresi X1 atau Jenis kelamin adalah sebesar 0,051 yaitu bernilai positif
dengan tingkat signifikansi sebesar 0,002 kurang dari 0,05. Hal ini
menunjukkan bahwa Jenis kelamin berpengaruh positif signifikan terhadap
Partisipasi Kerja pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia pada tahun 2017-2019, maka hipotesis pertama diterima.
2) Pengaruh Status Perkawinan terhadap Partisipasi Kerja
Hasil perhitungan uji t pada Tabel 8 tersebut menunjukkan nilai koefisien
regresi X2 atau Status Perkawinan adalah sebesar 0,051 yaitu bernilai positif
dengan tingkat signifikansi sebesar 0,123 lebih dari 0,05. Hal ini
menunjukkan bahwa Status Perkawinan tidak berpengaruh signifikan terhadap
Partisipasi Kerja pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia pada tahun 2017-2019, maka hipotesis kedua ditolak.
3) Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Partisipasi Kerja
Hasil perhitungan uji t pada Tabel 8 tersebut menunjukkan nilai koefisien
regresi X3 atau Tingkat Pendidikan adalah sebesar 0,124 yaitu bernilai positif
dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 kurang dari 0,05. Hal ini
menunjukkan bahwa Tingkat Pendidikan berpengaruh positif signifikan
terhadap Partisipasi Kerja pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia pada tahun 2017-2019, maka hipotesis ketiga diterima.
4) Pengaruh Kesehatan Lansia Audit independen terhadap Partisipasi Kerja
Hasil perhitungan uji t pada Tabel 8 tersebut menunjukkan nilai koefisien
regresi X4 atau Kesehatan Lansia Audit independen adalah sebesar 0,110 yaitu
bernilai positif dengan tingkat signifikansi sebesar 0,001 kurang dari 0,05. Hal
ini menunjukkan bahwa Kesehatan Lansia Audit independen berpengaruh
positif signifikan terhadap Partisipasi Kerja pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2017-2019, maka hipotesis
keempat diterima.
5) Pengaruh Status Kepala Rumah Tangga terhadap Partisipasi Kerja
Hasil perhitungan uji t pada Tabel 8 tersebut menunjukkan nilai koefisien
regresi X5 atau Status Kepala Rumah Tangga adalah sebesar -0,182 yaitu
bernilai negatif dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 kurang dari 0,05.
Hal ini menunjukkan bahwa Status Kepala Rumah Tangga berpengaruh
negatif signifikan terhadap Partisipasi Kerja pada perusahaan manufaktur
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2017-2019, maka hipotesis
kelima diterima.
6) Pengaruh Pendapatan Non Kerja terhadap Partisipasi Kerja
Hasil perhitungan uji t pada Tabel 8 tersebut menunjukkan nilai koefisien
regresi X6 atau Pendapatan Non Kerja adalah sebesar 0,118 yaitu bernilai
positif dengan tingkat signifikansi sebesar 0,001 kurang dari 0,05. Hal ini
menunjukkan bahwa Pendapatan Non Kerja berpengaruh positif signifikan
terhadap Partisipasi Kerja pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia pada tahun 2017-2019, maka hipotesis keenam diterima.
7) Pengaruh Pendapatan Keluarga terhadap Partisipasi Kerja
Hasil perhitungan uji t pada Tabel 8 tersebut menunjukkan nilai koefisien
regresi X7 atau Pendapatan Keluarga adalah sebesar -0,113 yaitu bernilai
negatif dengan tingkat signifikansi sebesar 0,002 kurang dari 0,05. Hal ini
menunjukkan bahwa Pendapatan Keluarga berpengaruh negatif signifikan
terhadap Partisipasi Kerja pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia pada tahun 2017-2019, maka hipotesis ketujuh diterima.