0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan16 halaman

Bab Ii Novi

Dokumen ini membahas implementasi model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematika siswa SMP pada materi persamaan linear dua variabel. PBL mendorong siswa untuk aktif dalam pemecahan masalah nyata, yang berkontribusi pada pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kolaboratif. Penelitian menunjukkan bahwa PBL berhubungan positif dengan peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa, menjadikannya pendekatan yang relevan untuk pendidikan abad 21.

Diunggah oleh

Novianti
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan16 halaman

Bab Ii Novi

Dokumen ini membahas implementasi model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematika siswa SMP pada materi persamaan linear dua variabel. PBL mendorong siswa untuk aktif dalam pemecahan masalah nyata, yang berkontribusi pada pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kolaboratif. Penelitian menunjukkan bahwa PBL berhubungan positif dengan peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa, menjadikannya pendekatan yang relevan untuk pendidikan abad 21.

Diunggah oleh

Novianti
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM

BASED LEARNING (PBL) DALAM MENINGKATKAN


KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIKA SISWA
PADA MATERI PERSAMAAN LINEAR 2 VARIABEL DI
TINGKAT SMP

NOVIANTI
NPM : 20228300021

PENDIDIKAN MATEMATIKA
STKIP KUSUMA NEGARA
2025
BAB II
I.1 Kajian Pustaka
1. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
1) Pengertian Model Pembelajaran Problem Based Learning

Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu


pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan pemecahan
masalah nyata melalui kegiatan belajar yang terstruktur. PBL dirancang untuk mendorong
peserta didik lebih aktif dalam mencari, mengolah, dan menyimpulkan informasi yang
berkaitan dengan suatu permasalahan kompleks yang kontekstual. Pembelajaran ini tidak
hanya menitikberatkan pada hasil belajar, tetapi juga pada proses pembelajaran itu
sendiri.

Menurut Nasution (2022), PBL adalah model pembelajaran yang menjadikan


permasalahan sebagai langkah awal dalam pengumpulan dan integrasi pengetahuan baru.1
Artinya, peserta didik didorong untuk berpikir mandiri dan bekerja dalam kelompok guna
memecahkan masalah yang diberikan. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Arends &
Kilcher (2021) yang menyatakan bahwa PBL melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi
karena peserta didik dihadapkan pada situasi nyata yang menantang dan membutuhkan
solusi kreatif.2 Dengan demikian, PBL tidak hanya mendorong penguasaan materi, tetapi
juga membentuk kemampuan berpikir kritis dan kolaboratif.

Selain itu, model ini juga memiliki kontribusi dalam membentuk soft skills
peserta didik, seperti kerja sama tim, komunikasi, dan tanggung jawab terhadap proses
belajar sendiri (Hidayat, 2023).3 PBL sangat relevan untuk diterapkan dalam kurikulum
yang mengusung pembelajaran berbasis kompetensi dan penilaian autentik.

Dengan kata lain, pembelajaran berbasis masalah tidak hanya bertujuan


menyampaikan materi, tetapi juga mempersiapkan peserta didik menjadi pemecah
masalah yang efektif dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, PBL dinilai cocok untuk
meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa di abad 21.

2) Ciri-Ciri Model Pembelajaran Problem Based Learning

Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan pendekatan


pembelajaran yang menitikberatkan pada pemecahan masalah sebagai langkah awal untuk
memperoleh dan mengintegrasikan pengetahuan baru. Ciri utama dari PBL adalah
keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar melalui penyelidikan terhadap suatu masalah
yang kontekstual dan relevan.

Menurut Khoiriyah dan Husamah (2022), terdapat beberapa ciri khas dari PBL, di
antaranya adalah: (1) pembelajaran berpusat pada siswa, (2) adanya masalah autentik
1
Nasution, N. (2022). Model Pembelajaran Inovatif di Era Digital. Jakarta: Kencana.
2
Arends, R., & Kilcher, A. (2021). Teaching for Student Learning in the 21st Century: Classroom
Strategies and Tools. Routledge.
3
Hidayat, R. (2023). Inovasi Model Pembelajaran Abad 21. Bandung: Remaja Rosdakarya.
yang kompleks sebagai stimulus belajar, (3) kolaborasi dalam kelompok kecil, (4)
keterkaitan dengan pengalaman belajar sebelumnya, dan (5) adanya peran tutor atau guru
sebagai fasilitator, bukan sumber utama informasi. 4 Problem-Based Learning (PBL)
memiliki sejumlah karakteristik utama yang membedakannya dari model pembelajaran
lainnya. Di antaranya adalah pendekatan yang berpusat pada siswa sebagai pelaku aktif
dalam proses belajar, penggunaan permasalahan autentik dan kompleks sebagai pemicu
kegiatan pembelajaran, serta pelaksanaan kerja sama dalam kelompok kecil. Selain itu,
PBL juga menekankan pentingnya keterkaitan antara masalah yang dipelajari dengan
pengalaman belajar sebelumnya, serta menempatkan guru atau tutor sebagai fasilitator
yang membimbing, bukan sebagai sumber utama informasi. Ciri-ciri ini menunjukkan
bahwa PBL memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemandirian, berpikir
kritis, dan kemampuan sosial secara bersamaan.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati dan Sutrisno (2021), ciri khas
PBL juga mencakup penyusunan hipotesis, pengumpulan data secara mandiri, serta
penyajian solusi dalam bentuk laporan atau presentasi. Proses ini memperkuat
kemampuan komunikasi dan kerja sama antar siswa. 5 Karakteristik utama dari model
Problem-Based Learning (PBL) mencakup kegiatan penyusunan hipotesis, pengumpulan
data secara mandiri, serta penyampaian solusi melalui laporan tertulis atau presentasi
lisan. Seluruh rangkaian proses ini tidak hanya menumbuhkan kemampuan berpikir kritis
dan analitis siswa, tetapi juga memperkuat keterampilan komunikasi dan kolaborasi di
antara peserta didik. Dengan demikian, PBL menjadi pendekatan pembelajaran yang
holistik karena mengintegrasikan aspek kognitif dan sosial dalam proses pembelajaran.

Terakhir, menurut Widodo (2024), PBL memiliki ciri integratif, di mana


pembelajaran tidak terbatas pada satu bidang studi, melainkan bisa mengintegrasikan
berbagai disiplin ilmu untuk menyelesaikan satu masalah yang kompleks. 6 Hal ini
menjadikan PBL sebagai pendekatan yang sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran
abad ke-21.

Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa model PBL memiliki ciri-ciri
yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa secara aktif, mendorong pemikiran kritis,
dan memperkuat keterampilan kolaboratif, yang semuanya penting untuk menghadapi
tantangan pendidikan modern.

2. Hakikat Kemampuan Berpikir Kritis Dalam Menyelesaikan Soal Hots


a. Kemampuan Berpikir Kritis
1) Pengertian Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi penting dalam


pembelajaran abad 21. Menurut Facione (2022), berpikir kritis adalah proses berpikir
yang terorganisir dan aktif yang digunakan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan
mensintesis informasi guna mengambil keputusan yang tepat. Dalam konteks pendidikan,

4
Khoiriyah, A., & Husamah. (2022). Pembelajaran Aktif Berbasis Masalah untuk Meningkatkan
Keterampilan Berpikir Kritis. Malang: UMM Press.
5
Rahmawati, L., & Sutrisno, B. (2021). "Penerapan Problem Based Learning untuk Meningkatkan
HOTS pada Siswa SMP". Jurnal Pendidikan Indonesia, 10(3), 215–223.
6
Widodo, H. (2024). "Integrasi Literasi dan PBL dalam Pembelajaran Abad 21". Jurnal Inovasi
Pendidikan dan Pengajaran, 6(1), 45–52.
kemampuan ini menjadi dasar bagi peserta didik untuk menyelesaikan masalah secara
logis dan rasional.7 Facione (2022) menjelaskan bahwa berpikir kritis melibatkan proses
berpikir yang aktif dan terstruktur untuk menganalisis, menilai, serta mengolah informasi
agar dapat membuat keputusan secara tepat. Dalam dunia pendidikan, keterampilan ini
menjadi fondasi penting bagi siswa dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan
secara logis dan rasional.

Brookfield (2021) menyatakan bahwa berpikir kritis mencakup empat aktivitas


utama, yaitu mengidentifikasi asumsi, menilai validitas informasi, mengenali bias atau
sudut pandang tertentu, serta mengambil keputusan berdasarkan bukti. Hal ini
menunjukkan bahwa berpikir kritis tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kognitif
semata, melainkan juga melibatkan aspek metakognitif dalam proses pengambilan
keputusan. 8 Terdapat empat aktivitas pokok dalam berpikir kritis, yakni mengenali
asumsi yang mendasari, mengevaluasi keabsahan informasi, mengidentifikasi adanya bias
atau perspektif tertentu, serta membuat keputusan yang didasarkan pada bukti yang ada.
Ini menandakan bahwa berpikir kritis tidak hanya mencakup kemampuan kognitif, tetapi
juga melibatkan kemampuan metakognitif dalam menilai dan menentukan keputusan
secara tepat.

Kemampuan berpikir kritis sangat berkaitan dengan bagaimana siswa memproses


informasi yang mereka terima. Menurut Ennis (2023), berpikir kritis melibatkan
kemampuan untuk memberikan alasan yang logis, membuat inferensi yang tepat, dan
mengevaluasi argumen secara objektif. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran,
pendidik perlu menyediakan stimulus yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan
kemampuan ini, seperti melalui diskusi terbuka, pemecahan masalah, dan analisis kasus. 9
Berpikir kritis mencakup keterampilan dalam memberikan alasan secara logis, menarik
kesimpulan yang akurat, serta menilai argumen secara objektif. Oleh karena itu, guru
perlu memberikan rangsangan atau kegiatan pembelajaran yang dapat mendorong
pengembangan kemampuan tersebut, seperti diskusi terbuka, pemecahan masalah,
maupun kegiatan analisis studi kasus.

Lebih lanjut, penelitian oleh Wahyuni & Prasetyo (2022) menunjukkan bahwa
pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) memiliki korelasi positif
terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa yang terbiasa dihadapkan
pada situasi nyata yang membutuhkan analisis dan sintesis informasi cenderung memiliki
kemampuan berpikir kritis yang lebih tinggi dibandingkan siswa yang hanya menerima
pembelajaran secara pasif.10 Model pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based
Learning) berhubungan positif dengan peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa.
Peserta didik yang secara rutin dihadapkan pada permasalahan nyata yang menuntut
analisis serta sintesis informasi cenderung menunjukkan tingkat kemampuan berpikir
kritis yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya mengikuti pembelajaran secara
pasif.

7
Facione, P. A. (2022). Critical Thinking: What It Is and Why It Counts. Insight Assessment.
8
Brookfield, S. D. (2021). Teaching for Critical Thinking: Tools and Techniques to Help Students
Question Their Assumptions. Jossey-Bass.
9
Ennis, R. H. (2023). Critical Thinking Across the Curriculum: A Brief Edition of the Right Thinking.
Rowman & Littlefield.
10
Wahyuni, D., & Prasetyo, Z. K. (2022). “Pengaruh Model Pembelajaran Problem-Based Learning
terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA”. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 29(2),
101–110.
Dengan demikian, kemampuan berpikir kritis bukanlah kemampuan yang muncul
secara otomatis, melainkan harus dilatih dan dikembangkan melalui pendekatan
pembelajaran yang tepat. Pendidik perlu menciptakan lingkungan belajar yang
merangsang siswa untuk bertanya, mengevaluasi, dan menyusun argumen secara logis
sebagai bagian dari proses berpikir kritis.

2) Ciri-Ciri Kemampuan Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir kritis merupakan keterampilan kognitif yang sangat penting


dalam proses pembelajaran dan pengambilan keputusan. Menurut Ennis (2022), berpikir
kritis adalah berpikir yang masuk akal dan reflektif yang difokuskan untuk memutuskan
apa yang harus dipercaya atau dilakukan. Kemampuan ini tidak hanya mencakup logika
semata, tetapi juga mencakup sikap terbuka, kepekaan terhadap asumsi, dan kemampuan
menganalisis argumen.11 Kemampuan ini tidak sebatas pada penalaran logis, tetapi juga
melibatkan sikap terbuka terhadap berbagai pandangan, kepekaan terhadap asumsi yang
tersembunyi, serta keterampilan dalam mengevaluasi dan menganalisis argumen secara
mendalam.

Beberapa ciri utama kemampuan berpikir kritis dapat diidentifikasi dari berbagai
literatur akademik. Menurut Paul dan Elder (2022), ciri utama berpikir kritis meliputi
kejelasan (clarity), ketepatan (accuracy), relevansi (relevance), kedalaman (depth),
keluasan (breadth), dan logika (logic). Individu yang memiliki kemampuan berpikir kritis
yang baik akan mampu mengajukan pertanyaan yang mendalam, menilai bukti secara
objektif, dan menarik kesimpulan yang logis. 12 Karakteristik utama dari berpikir kritis
mencakup kejelasan, ketepatan, relevansi, kedalaman, keluasan, serta logika. Seseorang
yang memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik akan mampu mengemukakan
pertanyaan-pertanyaan yang tajam, mengevaluasi bukti secara objektif, dan
menyimpulkan sesuatu berdasarkan penalaran yang logis.

Sementara itu, menurut Facione (2021), ciri berpikir kritis terdiri atas enam
keterampilan kognitif inti, yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, penjelasan, dan
regulasi diri. Setiap keterampilan tersebut berkontribusi dalam pengambilan keputusan
yang reflektif dan bertanggung jawab.13 Masing-masing keterampilan tersebut berperan
dalam mendukung proses pengambilan keputusan yang reflektif dan bertanggung jawab.
Misalnya, individu yang berpikir secara kritis akan terlebih dahulu menilai kredibilitas
suatu sumber informasi sebelum menerimanya sebagai kebenaran.

Dalam konteks pendidikan, ciri berpikir kritis sangat penting untuk


dikembangkan pada peserta didik. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Gunawan dan
Iskandar (2023) yang menyatakan bahwa siswa dengan kemampuan berpikir kritis akan
menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi, tidak mudah menerima informasi secara
mentah, serta mampu membedakan fakta dan opini. 14 Peserta didik yang memiliki
kemampuan berpikir kritis cenderung memiliki rasa ingin tahu yang besar, tidak langsung

11
Ennis, R. H. (2022). Critical Thinking. Upper Saddle River: Prentice Hall.
12
Paul, R., & Elder, L. (2022). The Miniature Guide to Critical Thinking Concepts and Tools.
Foundation for Critical Thinking.
13
Facione, P. A. (2021). Critical Thinking: What It Is and Why It Counts. Insight Assessment.
14
Gunawan, H., & Iskandar, A. (2023). "Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Melalui
Pembelajaran Berbasis Masalah." Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Inovatif, 8(2), 112–124.
menerima informasi tanpa pertimbangan, serta mampu membedakan antara fakta dan
opini dengan baik.

Selain itu, menurut penelitian yang dilakukan oleh Marzuki dan Yuliana (2022),
kemampuan berpikir kritis dapat diamati dari perilaku siswa dalam berdiskusi, seperti
memberikan alasan logis, mempertanyakan asumsi, serta mampu menyampaikan
pendapat secara terstruktur. Ini menunjukkan bahwa berpikir kritis bukan hanya soal
kemampuan kognitif, tapi juga mencakup aspek komunikasi dan keterbukaan terhadap
pandangan lain.15 Kemampuan berpikir kritis dapat terlihat melalui perilaku siswa saat
berdiskusi, seperti menyampaikan alasan yang logis, mengkritisi asumsi yang muncul,
serta mengutarakan pendapat secara runtut. Hal ini menunjukkan bahwa berpikir kritis
tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kognitif semata, tetapi juga mencakup
keterampilan komunikasi dan sikap terbuka terhadap sudut pandang yang berbeda.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri kemampuan berpikir kritis
meliputi keterampilan dalam menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, serta
regulasi diri dalam berpikir. Ciri-ciri ini sangat penting untuk dikenali agar
pengembangan kemampuan berpikir kritis dalam konteks pendidikan dapat lebih terarah
dan terukur.

b. Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill)


1) Sejarah HOTS

Awal mula munculnya soal HOTS tidak lepas dari taksonomi Bloom yang
dikembangkan oleh Benjamin Bloom pada tahun 1956 dan diperbaharui oleh Anderson
dan Krathwohl (2001). Pada taksonomi revisi tersebut, tiga level tertinggi — analyzing,
evaluating, dan creating — menjadi dasar dalam pengembangan soal HOTS. Namun,
penerapan istilah “HOTS” mulai populer secara luas dalam kebijakan pendidikan modern,
terutama setelah fokus global bergeser dari hafalan menuju kompetensi berpikir kritis dan
pemecahan masalah.(*). Dalam revisi tersebut, tiga tingkatan kognitif tertinggi yaitu
menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta dijadikan landasan dalam merancang soal-soal
HOTS. Istilah “HOTS” sendiri mulai dikenal secara luas dalam kebijakan pendidikan
modern seiring dengan perubahan fokus global dari sekadar menghafal informasi menuju
penguasaan kemampuan berpikir kritis dan penyelesaian masalah.

Di Indonesia, konsep HOTS mulai digalakkan secara intensif sejak diterapkannya


Kurikulum 2013. Dalam kurikulum ini, pemerintah mendorong guru untuk
mengembangkan soal-soal yang menantang kemampuan berpikir siswa di luar sekadar
mengingat fakta. Pasca-pandemi COVID-19, urgensi pengembangan soal HOTS semakin
terasa karena siswa perlu kemampuan adaptif yang tidak hanya mengandalkan hafalan
tetapi juga berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan masalah (Nugroho & Habibi,
2022).16 Setelah pandemi COVID-19, kebutuhan untuk mengembangkan soal berbasis
HOTS semakin meningkat, karena siswa dituntut memiliki kemampuan adaptif yang
tidak hanya bergantung pada ingatan, tetapi juga melibatkan pemikiran kritis dan kreatif
dalam menghadapi tantangan pembelajaran

15
Marzuki, M., & Yuliana, R. (2022). "Analisis Ciri Berpikir Kritis Siswa dalam Kegiatan Diskusi
Kelas." Jurnal Psikologi dan Pendidikan, 15(1), 45–58.
16
Nugroho, D., & Habibi, A. (2022). Implementasi Soal HOTS dalam Pembelajaran Jarak Jauh Pasca
Pandemi. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 7(2), 121–130.
Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa soal HOTS mendorong siswa untuk
lebih aktif dalam berpikir logis dan sistematis. Hal ini sejalan dengan pandangan
Wahyuni dan Yulianti (2023) yang menyatakan bahwa HOTS tidak hanya memperdalam
pemahaman materi, tetapi juga meningkatkan keterampilan berpikir reflektif yang sangat
dibutuhkan di abad ke-21. Menurut Ramdani (2021), soal HOTS juga memiliki peran
penting dalam menyiapkan siswa menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin
kompleks.17 Soal HOTS tidak hanya membantu memperdalam pemahaman terhadap
materi pelajaran, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir reflektif yang sangat
penting di era abad ke-21. Soal-soal HOTS memainkan peran strategis dalam
mempersiapkan peserta didik menghadapi dinamika dan kompleksitas dunia kerja
modern.

Dengan demikian, sejarah dan perkembangan soal HOTS menunjukkan adanya


transformasi paradigma dalam penilaian pendidikan, dari yang bersifat tradisional menuju
penilaian yang menekankan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi.

2) Pengertian HOTS

Menurut Sari dan Handayani (2023), soal HOTS bertujuan mengembangkan


kemampuan berpikir kritis yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan zaman.
Hal ini selaras dengan tuntutan Kurikulum Merdeka yang menekankan pada
pembelajaran berbasis kompetensi dan penguatan karakter. 18 Soal-soal HOTS dirancang
untuk mengasah kemampuan berpikir kritis yang sangat penting dalam menjawab
tantangan zaman. Tujuan ini sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka, yang
menitikberatkan pada pendekatan pembelajaran berbasis kompetensi serta penguatan
nilai-nilai karakter siswa.

Penelitian oleh Wulandari dan Suyatno (2024) menunjukkan bahwa penggunaan


soal HOTS dalam pembelajaran dapat meningkatkan kualitas interaksi di kelas,
memperdalam pemahaman konsep, serta membantu siswa mengembangkan kemampuan
problem solving. Oleh karena itu, peran guru dalam menyusun soal HOTS yang baik
sangat penting agar tujuan pembelajaran tercapai secara optimal. 19 Penerapan soal-soal
HOTS dalam proses pembelajaran terbukti mampu meningkatkan kualitas interaksi antara
guru dan siswa di dalam kelas, memperkuat pemahaman terhadap konsep, serta
mendorong pengembangan keterampilan pemecahan masalah pada siswa. Dengan
demikian, peran guru dalam merancang soal HOTS yang efektif menjadi sangat krusial
agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal.

Dengan demikian, pemahaman yang baik tentang konsep dan karakteristik soal
HOTS diperlukan untuk mendukung pembelajaran abad ke-21 yang menuntut
kemampuan berpikir tingkat tinggi dari peserta didik.

3) Ciri-Ciri Soal HOTS

17
Ramdani, R. (2021). Pentingnya Higher Order Thinking Skills dalam Meningkatkan Kompetensi
Abad 21 Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 6(2), 90–97.
18
Sari, M. K., & Handayani, L. (2023). Analisis Kualitas Soal HOTS dalam Kurikulum Merdeka.
Jurnal Pendidikan dan Evaluasi, 17(1), 22–30.
19
Wulandari, R., & Suyatno, S. (2024). Implikasi Penggunaan Soal HOTS terhadap Kemampuan
Berpikir Kritis Siswa. Jurnal Inovasi Pendidikan, 9(1), 44–53.
Menurut Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan, Soal yang
termasuk Higher Order Thinking Skills (HOTS) memiliki ciri-ciri:

1. Transfer satu konsep ke konsep lainnya


2. Memproses dan menerapkan informasi
3. Mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda
4. Menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah
5. Menelaah ide dan informasi secara kritis.20

Karakteristik ini menunjukkan bahwa soal HOTS dirancang bukan hanya untuk
menguji penguasaan materi secara faktual, tetapi juga untuk mendorong siswa berpikir
secara reflektif, analitis, dan kreatif dalam menghadapi berbagai situasi pembelajaran
yang kompleks.

3. Materi Persamaan Linear 2 Variabel (SPLDV)


1) Pengertian Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV)

Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) merupakan salah satu materi
dasar dalam pembelajaran matematika di jenjang SMP yang penting untuk dipahami
karena menjadi fondasi dalam menyelesaikan permasalahan kontekstual yang berkaitan
dengan kehidupan sehari-hari. Menurut Sulistyowati (2022), SPLDV adalah sistem dua
persamaan linear yang masing-masing memiliki dua variabel dan keduanya saling
berkaitan satu sama lain.21Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) merupakan
kumpulan dari dua persamaan linear yang masing-masing memuat dua variabel, di mana
kedua persamaan tersebut saling berhubungan dan membentuk satu kesatuan sistem.
Hubungan antar persamaan ini memungkinkan untuk dicari titik penyelesaian yang
memenuhi kedua persamaan secara bersamaan.

Menurut Syahputra dan Yulianti (2023), SPLDV memiliki tiga kemungkinan


penyelesaian, yaitu memiliki satu solusi (garis berpotongan), tidak memiliki solusi (garis
sejajar), atau memiliki banyak solusi (garis berimpit). Untuk menemukan solusi SPLDV,
dapat digunakan beberapa metode, antara lain metode substitusi, eliminasi, dan grafik. 22
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) memiliki tiga kemungkinan bentuk
penyelesaian, yaitu: satu solusi ketika kedua garis saling berpotongan, tidak ada solusi
jika garis-garis tersebut sejajar, dan tak hingga solusi apabila kedua garis saling berimpit.
Untuk menentukan solusi dari SPLDV, terdapat beberapa metode yang dapat digunakan,
antara lain metode substitusi, metode eliminasi, serta metode grafik. Ketiga pendekatan
tersebut memungkinkan siswa untuk memilih strategi penyelesaian yang paling sesuai
dengan karakteristik soal yang diberikan.

Pembelajaran SPLDV juga dapat dikaitkan dengan pengembangan kemampuan


berpikir logis dan sistematis. Siregar (2022) menyatakan bahwa penguasaan konsep
SPLDV dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah berbasis

20
[Link]
21
Sulistyowati, D. (2022). Pemahaman Konsep dan Penyelesaian SPLDV pada Siswa SMP. Jurnal
Pendidikan Matematika Indonesia, 7(1), 25–32.
22
Syahputra, H., & Yulianti, R. (2023). Strategi Pemecahan Masalah Matematika dalam Materi
SPLDV. Jurnal Inovasi Pendidikan, 11(2), 51–59.
logika matematika.23 penguasaan yang baik terhadap konsep Sistem Persamaan Linear
Dua Variabel (SPLDV) berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kemampuan siswa
dalam menyelesaikan permasalahan yang memerlukan penalaran logis berbasis
matematika. Hal ini disebabkan karena SPLDV menuntut siswa untuk memahami
hubungan antar variabel dan menerapkan strategi penyelesaian yang sistematis, sehingga
melatih keterampilan berpikir logis dan analitis dalam konteks pemecahan masalah. Di
sisi lain, menurut penelitian dari Nurjanah (2021), siswa sering mengalami kesulitan
dalam menyusun model matematika dari permasalahan SPLDV dalam bentuk soal
cerita.24 Oleh karena itu, strategi pembelajaran kontekstual menjadi penting untuk
membantu pemahaman konsep ini.

Secara keseluruhan, pemahaman SPLDV bukan hanya penting secara akademik,


tetapi juga bermanfaat dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis
siswa, terutama saat menghadapi persoalan kehidupan nyata yang dapat dimodelkan
dalam bentuk matematis.

2) Bentuk Umum dan Penyelesaian SPLDV

Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) merupakan kumpulan dua persamaan
linear yang masing-masing memiliki dua variabel. Dalam konteks pembelajaran
matematika, SPLDV penting karena sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti
dalam masalah ekonomi, perdagangan, dan perencanaan anggaran. Terdapat beberapa
unsur yang menyusun berdirinya bentuk umum SPLDV sehingga dapat menjadi rujukan
untuk membuat model matematika, antara lain:

a. Suku
Yaitu variabel beserta koefisien yang megikutinya dan/atau konstanta dalam
model aljabar yang dipisahkan oleh operasi penjumlahan atau pengurangan.
b. Variabel
Adalah lambang yang umumnya digunakan sebagai penukar suatu bilangan jika
belum nilainya belum diketahui dengan pasti.
c. Koefisien
Merupakan bilangan yang letaknya di depan variabel pada suatu suku dalam
bentuk aljaabr.
d. Konstanta
Adalah suatu bilangan yang tidak diikuti oleh variabel dan termasuk suatu suku
dari bentuk aljabar.

Berikut ini contoh bentuk umum persamaan linear dua variabel.

2 p−3 q+ 13=0

a. Suku : 2 p ,−3 q , 13
b. Variabel : p dan q
c. Koefisien : p adalah 2, sedangkan q adalah −3

23
Siregar, T. (2022). Analisis Kesulitan Belajar SPLDV pada Siswa Kelas VIII. Jurnal Matematika dan
Pembelajaran, 5(1), 40–47.
24
Nurjanah, S. (2021). Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual pada Materi SPLDV. Jurnal
Pendidikan dan Teknologi, 4(3), 88–94.
d. Konstanta : 13 (nilainya relatif tetap dan tidak dipengaruhi variabel
apapun).

1. Penyelesaian SPLDV
Penyelesaian dari suatu Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) dapat
diselesaikan dengan empat metode, yaitu metode grafik, metode substitusi, metode
eliminasi, dan metode gabungan (eliminasi-substitusi). 1) Metode Grafik Pada
metode grafik, SPLDV bisa diselesaikan jika menemukan koordinat titik potong
dari dua buah garis lurus. Jika kedua garis saling sejajar atau tidak berpotongan di
satu titik tertentu, maka himpunan penyelesaiannya adalah himpunan kosong (∅ ).
Kemudian, jika kedua garis tersebut saling berimpit, maka himpunan
penyelesainnya adalah memiliki banyak anggota. Adapun langkah-langkah dalam
menentukan himpunan penyelesaian SPLDV dengan menggunakan metode grafik,
sebagai berikut:
a) Menentukan nilai koordinat titik potong dari masing-masing persamaan
terhadap sumbu-x dan sumbu-y.
b) Menggambar grafik dari masing-masing nilai koordinat titik terhadap
sumbu-x dan sumbu-y persamaan yang diketahui.
c) Titik potong dari kedua garis tersebut adalah himpunan penyelesaian
SPLDV.
Contoh:
1. Metode Grafik
Dengan menggunakan metode grafik, tentukan himpunan penyelesaian dari
SPLDV berikut.

{3xx++ yy=7
=15

Penyelesaian:
a) Menentukan nilai koordinat titik potong dari masing-masing persamaan
terhadap sumbu-x dan sumbu-y.

3x + y = 15

X 0 5

Y 15 0

(x,y) (0,15) (5,0)

x+y=7

X 0 7

Y 7 0

(x,y) (0,7) (7,0)


b) Gambar grafik dari masing-masing nilai koordinat titik terhadap sumbu-x
dan sumbu-y persamaan yang diketahui.

Gambar 2.1 Metode Grafik

Berdasarkan gambar 2.1, koordinat titik potong dari kedua grafik garis tersebut adalah
(4,3). Jadi, himpunan penyelesaian {3xx++ yy=7
=15
adalah { ( 4 , 3 ) }

2. Metode Subtitusi

Metode substitusi adalah metode atau cara menyelesaikan sistem persamaan linear dua
variabel dengan mengganti salah satu variabel ke persamaan yang lain.

Contoh:

Dengan menggunakan metode substitusi, tentukan himpunan penyelesaian dari SPLDV


berikut.

{x−
x+ y=5
y=1

Penyelesaian:

{ x+ y=5 … …(1)
x− y=1 … …(2)

Untuk persamaan (1) menjadi:

x=5− y … …(3)
Subtitusikan persamaan (3) ke persamaan (2) sehingga didapat:

x− y =1 −2 y=−4

5− y− y=1 y=2

5−2 y =1

Subtitusikan nilai y=2 ke persamaan (3)

x=5−2

x=3

Sehingga diperoleh himpunan penyelesaian {x−


x+ y=5
y=1
adalah { (3 ,2 ) }

3. Metode Eliminasi

Metode eliminasi adalah metode atau cara menyelesaikan sistem persamaan linear dua
variabel dengan menghilangkan salah satu variabel melalui cara menjumlahkan atau
mengurangkan kedua persamaan.

Contoh: Dengan menggunakan metode eliminasi, tentukan himpunan penyelesaian dari


SPLDV berikut.

{3xx−+2y=−6
y=5

Penyelesaian:

 Langkah pertama, eliminasi variabel x. Untuk mengeliminasi variabel x, samakan


koefisien x dengan mengalikan persamaan (1) dengan 3.

x +2 y=5 ×3 3 x+ 6 y=15

3 x− y=−6 ×1 3 x− y=−6 −¿

7 y=21

y=3

 Langkah kedua, eliminasi variabel y. Untuk mengeliminasi variabel y, samakan


koefisien y dengan mengalikan persamaan (2) dengan 2.

x +2 y=5 ×1 x +2 y=5

3 x− y=−6 ×2 3 x−2 y=−12 −¿


7 y=−7

y=−1

Jadi, himpunan penyelesaian {3xx−+2y=−6


y=5
adalah { (−1 ,3 ) }

4. Metode Gabungan (eliminasi-subtitusi)

Untuk menentukan himpunan penyelesaian dari sistem persamaan linear dua variabel
dengan metode gabungan caranya yaitu dengan menggunakan metode eliminasi dan
substitusi.

Contoh:

Carilah himpunan penyelesaian dari SPLDV berikut dengan menggunakan metode


campuran.

{4x−x +3y=−7
y=7

Penyelesaian: Langkah pertama, menggunakan metode eliminasi.

4 x+3 y =7 ×1 4 x+3 y =7

x− y =−7 ×4 4 x−4 y=−28 −¿

7 y=35

y=5

Langkah kedua, menggunakan metode substitusi.

x− y =−7

x−5=−7

x=−7+ 5

x=−2

Jadi, himpunan penyelesaian {4x−x +3y=−7


y=7
adalah { (−2 , 5 ) }

I.2 Kerangka Berpikir

Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki
oleh siswa dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam
pembelajaran matematika, khususnya pada materi Persamaan Linear Dua Variabel
(SPLDV), berpikir kritis menjadi esensial karena siswa dituntut untuk menganalisis
permasalahan, menyusun strategi penyelesaian, mengevaluasi hasil, serta merefleksikan
proses berpikir yang dilakukan.

Namun, kenyataannya, proses pembelajaran matematika di tingkat SMP sering kali masih
bersifat teacher-centered, di mana guru mendominasi proses belajar dan siswa cenderung
pasif. Hal ini menyebabkan rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa, karena mereka
hanya diarahkan untuk menyelesaikan soal berdasarkan contoh yang diberikan tanpa
adanya keterlibatan dalam proses penalaran yang mendalam.

Model Problem Based Learning (PBL) hadir sebagai salah satu alternatif pendekatan
yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. PBL menempatkan siswa
sebagai pusat pembelajaran dan mendorong mereka untuk aktif mengidentifikasi masalah,
mengumpulkan informasi, mengembangkan hipotesis, dan menyelesaikan masalah
melalui diskusi kelompok. Proses ini sejalan dengan indikator berpikir kritis seperti
memberikan penjelasan, menganalisis, membuat inferensi, serta mengevaluasi argumen.

Dengan menerapkan model pembelajaran PBL dalam materi SPLDV, siswa diharapkan
dapat lebih terlibat dalam proses belajar, memahami konsep dengan lebih baik, serta
mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka. Materi SPLDV sendiri sangat
relevan untuk dikaji melalui pendekatan berbasis masalah karena memiliki keterkaitan
kuat dengan kehidupan nyata, seperti menyelesaikan persoalan yang melibatkan dua
variabel dan hubungan linier.

Dengan demikian, kerangka berpikir dalam penelitian ini disusun berdasarkan asumsi
bahwa penerapan model Problem Based Learning pada materi SPLDV akan memberikan
pengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa.

I.3 Hipotesis Penelitian


Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berpikir, maka hipotesis penelitian ini adalah
“IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING
(PBL) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS
MATEMATIKA SISWA PADA MATERI PERSAMAAN LINEAR 2 VARIABEL DI
TINGKAT SMP”.

I.4 Hasil Penelitian Terdahulu

Untuk mendukung penelitian ini, beberapa hasil penelitian terdahulu yang relevan dapat
dijadikan sebagai rujukan. Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terbukti efektif dalam meningkatkan
kemampuan berpikir kritis siswa, khususnya dalam pembelajaran matematika di jenjang
SMP. Berikut adalah beberapa penelitian terdahulu yang mendukung:

1. Sari, N. & Rahayu, S. (2021)


Dalam jurnal Jurnal Pendidikan Matematika Nusantara, peneliti meneliti
pengaruh model PBL terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMP pada materi
SPLDV.25 Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang diajar dengan model
PBL menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kritis yang signifikan
dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan model konvensional. PBL
membantu siswa untuk lebih aktif dalam mengeksplorasi masalah dan
mengembangkan argumen matematis.
2. Mulyani, L. (2020)
Penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 3 Yogyakarta menunjukkan bahwa
implementasi model PBL pada materi SPLDV mampu meningkatkan
kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep siswa.26 Penelitian ini
menggunakan metode kuasi eksperimen dan menghasilkan data bahwa rata-rata
nilai post-test kelompok eksperimen lebih tinggi secara signifikan dibandingkan
kelompok kontrol.
3. Firmansyah, D. (2019)
Dalam penelitiannya yang dimuat dalam Jurnal Edukasi Matematika, dijelaskan
bahwa model Problem Based Learning mampu menstimulasi keterampilan
berpikir kritis siswa, seperti kemampuan menganalisis, menilai, dan
menyimpulkan informasi.27Penerapan PBL juga meningkatkan partisipasi aktif
siswa dalam diskusi kelompok, yang berdampak positif terhadap pemahaman
materi SPLDV.
4. Wahyuni, R. (2018)
Penelitian ini membahas efektivitas PBL dalam meningkatkan keterampilan
berpikir tingkat tinggi pada siswa SMP, termasuk berpikir kritis.28 Hasil
penelitian menunjukkan bahwa siswa dalam kelas PBL dapat mengidentifikasi
masalah matematika secara mandiri dan menyusun solusi dengan lebih logis dan
sistematis.
5. Putri, A. D. & Hidayat, A. (2017)
Dalam jurnal Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, dijelaskan bahwa
pembelajaran dengan pendekatan PBL secara signifikan meningkatkan
kemampuan berpikir kritis siswa pada topik sistem persamaan linear. 29Penelitian
ini juga menekankan pentingnya peran guru dalam memfasilitasi diskusi dan
eksplorasi masalah dalam pembelajaran PBL.

Dari penelitian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa model Problem Based
Learning efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada
pembelajaran matematika, termasuk pada materi Persamaan Linear Dua Variabel.
Pembelajaran berbasis masalah mendorong siswa untuk aktif berpikir,
berkolaborasi, dan merefleksikan proses pembelajaran secara mendalam. Oleh
karena itu, model PBL layak untuk diterapkan di tingkat SMP guna
mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa

25
Sari, N., & Rahayu, S. (2021). Pengaruh Model PBL terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa
SMP pada Materi SPLDV. Jurnal Pendidikan Matematika Nusantara, 7(1), 32–40.
26
Mulyani, L. (2020). Penerapan Model PBL untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan
Pemahaman Konsep SPLDV. Jurnal Pendidikan Matematika Indonesia, 5(2), 77–85.
27
Firmansyah, D. (2019). Problem Based Learning dalam Pembelajaran Matematika. Jurnal
Edukasi Matematika, 10(1), 14–22.
28
Wahyuni, R. (2018). PBL dan Pengembangan Berpikir Tingkat Tinggi di SMP. Jurnal Pendidikan,
6(2), 50–58.
29
Putri, A. D., & Hidayat, A. (2017). Implementasi PBL dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir
Kritis. Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, 3(1), 19–27.

Anda mungkin juga menyukai