Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Indonesia mempunyai perairan laut yang lebih luas dari pada daratan, oleh karena itu Indonesia di kenal sebagai negara maritim. Perairan laut Indonesia kaya akan berbagai biota laut baik flora maupun fauna. Demikian luas keragaman jasadjasad hidup di dalam yang kesemuanya membentuk dinamika kehidupan di laut yang saling berkesinambungan. Di pesisir pantai Indonesia ada tiga tipe ekosistem yang penting, yakni terumbu karang, mangrove, dan padang lamun. Di antara ketiganya, padang lamun paling sedikit dikenal. Kurangnya perhatian kepada padang lamun, antara lain, disebabkan padang lamun sering disalahpahami sebagai lingkungan yang tak ada gunanya, tak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Di kalangan akademisi pun masalah padang lamun baru mulai banyak dibicarakan setelah tahun 2000. Sebenarnya lamun bukanlah sumber daya yang tidak dapat dapat dimamfaatkan seperti yang telah di sebutkan dalam uraian di atas. Lamun justru merupakan salah satu sumber daya laut yang memiliki potensi besar untuk dimamfaatkan. Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) yang berbiji satu (monokotil) dan mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah. Dimana secara ekologis lamun mempunyai beberapa fungsi penting di daerah pesisir. Lamun merupakan produktifitas primer di perairan dangkal di seluruh dunia dan merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme. Begitu besarnya mamfaat lamun bagi ekosistem di laut. Oleh karena itu, untuk itu dalam makalah ini akan dibahas tentang, Sebaran, Potensi dan Hambatan Pengelolaan Padang Lamun (Seagrass Bed).
1

1.2. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan Padang Lamun (seagrass bed)? 2. Bagaimana persebaran Padang Lamun (seagrass bed)? 3. Apakah potensi yang dimiliki Padang Lamun (seagrass bed) sebagai sumber

daya alam laut?


4. Apakah hambatan dalam pengelolaan Padang Lamun (seagrass bed)?

1.3. Tujuan Penyusunan makalah ini memiliki tujuan agar:


1. Mahasiswa mengetahui apa yang dimaksud dengan Padang Lamun (seagrass

bed).
2. Mahasiswa menyebutkan bagaimana persebaran Padang Lamun (seagrass bed)

di perairan laut Indonesia.


3. Mahasiswa mengetahui potensi yang di miliki Padang Lamun (seagrass bed). 4. Mahasiswa dapat mengetahui hambatan pengelolaan Padang Lamun (seagrass

bed) di Indonesia.

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Padang Lamun Padang lamun atau biasa disebut seagrass merupakan salah satu ekosistem yang ada di laut. Seagrass apabila diartikan ke bahasa Indonesia berarti rumput laut. Namun sebenarnya telah terjadi salah kaprah penamaan, rumput laut yang biasa kita gunakan sebagai salah satu bahan makanan ataupun bahan komestik merupakan "rumput laut" atau disebut seaweed. Hal ini membuat rancu dalam istilah botani, karena seaweed merupakan alga atau ganggang, sedangkan secara botani, yang dimaksud sebagai rumput laut (seagrass) adalah lamun.

Gambar 2.1. Padang Lamun Dalam Ekositem Laut

Padang lamun dapat berbentuk vegetasi tunggal yang disusun oleh satu jenis lamun saja atau vegetasi campuran yang disusun mulai dari 2 sampai 12 jenis lamun yang tumbuh bersama pada suatu. Pengertian lamun sendiri yaitu tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang tumbuh dan berkembang baik pada dasar perairan laut dangkal, mulai daerah pasang surut (zona intertidal) sampai dengan daerah sublitoral. Sedangkan Padang Lamun adalah laut dangkal yang didominasi oleh hamparan tumbuhan lamun. Padang lamun dapat terdiri dari vegetasi lamun jenis tunggal ataupun jenis campuran. Padang lamun merupakan tempat berbagai jenis ikan berlindung, mencari makan, bertelur, dan membesarkan anaknya. Ikan baronang, misalnya, adalah salah satu jenis ikan yang hidup di padang lamun. 2.2. Persebaran Padang Lamun (Seagrass Bed ) Padang Lamun merupakan hamparan tumbuhan lamun yang hidup di perairan pesisir atau laut dangkal. Perairan pesisir merupakan lingkungan yang memperoleh sinar matahari cukup yang dapat menembus sampai ke dasar perairan. Di perairan ini juga kaya akan nutrien karena mendapat pasokan dari dua tempat yaitu darat dan lautan sehingga merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya. Karena lingkungan yang sangat mendukung di perairan pesisir maka tumbuhan lamun dapat hidup dan berkembang secara optimal. Indonesia yang memiliki panjang garis pantai 81.000 km, mempunyai padang lamun yang luas bahkan terluas di daerah tropika. Luas padang lamun yang terdapat di perairan Indonesia mencapai sekitar 30.000 km2. Jika dilihat dari pola zonasi lamun secara horisontal, maka dapat dikatakan ekosistem lamun terletak di antara dua ekosistem bahari penting yaitu ekosistem mangrove dan ekosistem terumbu karang (pada gambar dibawah). Dengan letak yang berdekatan dengan dua ekosistem pantai tropik tersebut, ekosistem lamun tidak terisolasi atau berdiri sendiri tetapi berinteraksi dengan kedua ekosistem tersebut.

Ekosistem padang lamun memiliki kondisi ekologis yang sangat khusus dan berbeda dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Ciri-ciri ekologis padang lamun antara lain adalah : 1. Terdapat di perairan pantai yang landai, di dataran lumpur/pasir
2. Pada batas terendah daerah pasang surut dekat hutan bakau atau di dataran

terumbu karang. 3. Mampu hidup sampai kedalaman 30 meter, di perairan tenang dan terlindung 4. Sangat tergantung pada cahaya matahari yang masuk ke perairan.
5. Mampu melakukan proses metabolisme secara optimal jika keseluruhan

tubuhnya terbenam air termasuk daur generatife.


6. Mampu hidup di media air asin.

Di daerah Bali penyebaran padang lamun ada di wilayah pesisir Bali Tenggara seperti perairan Pantai Timur Nusa Dua, Pantai Sanur, Pulau Serangan dan Pulau Lembongan. Khusus di perairan Pantai Sanur, padang lamun sangat melimpah pada laguna dan merupakan jenis yang dominan. Ekosistem padang lamun di Bali sudah banyak terdegradasi akibat adanya aktivitas masyarakat dan pembangunan seperti pengambilan batu karang, reklamasi Pulau Serangan dan budidaya rumput laut di Pulau Nusa Penida dan Lembongan, serta aktivitas pariwisata tirta di lokasi yang berdekatan dengan habitat padang lamun tersebut, tak terkecuali yang ada di Pantai Sanur. Namun, tidak hanya di wilayah pesisir Bali, padang lamun di wilayah perairan lainnya pun sudah mulai terganngu ekosistemnya oleh karena ulah manusia dan adanya degradasi lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu, saat ini sedang dilakukan pemantauan lamun global oleh organisasi SeagrassNet dan Seagrass-Watch. Sebaran lokasi pemantauan lamun tersebut berada di Bali (Sanur), Flores (Riung Komodo), Jawa (Pulau Lima, Teluk Banten, Pulau Klepuh dan Karimun Jawa), Sulawesi (Blongko), serta Komodo (Papagaran dan Seraya Kecil).

2.3. Potensi Padang Lamun (Seagrass Bad) Luas padang lamun di Indonesia diperkirakan sekitar 30.000 km2 yang dihuni oleh 13 jenis lamun. Menurut Azkab (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut dangkal yang paling produktif. Di samping itu juga ekosistem lamun mempunyai peranan penting dalam menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup di laut dangkal, sebagai berikut: 1. Sebagai produsen primer : Lamun memiliki tingkat produktifitas primer tertinggi bila dibandingkan dengan ekosistem lainnya yang ada dilaut dangkal seperti ekosistem terumbu karang.
2. Sebagai habitat biota : Lamun memberikan tempat perlindungan dan tempat

menempel berbagai hewan dan tumbuh-tumbuhan (alga). Disamping itu, padang lamun (seagrass beds) dapat juga sebagai daerah asuhan, padang pengembalaan dan makanan berbagai jenis ikan herbivora dan ikan-ikan karang (coral fishes).
3. Sebagai penangkap sedimen : Daun lamun yang lebat akan memperlambat air

yang disebabkan oleh arus dan ombak, sehingga perairan disekitarnya menjadi tenang. Disamping itu, rimpang dan akar lamun dapat menahan dan mengikat sedimen, sehingga dapat menguatkan dan menstabilkan dasar permukaan. Jadi, padang lamun disini berfungsi sebagai penangkap sedimen dan juga dapat mencegah erosi. 4. Sebagai pendaur zat hara : Lamun memegang peranan penting dalam pendauran berbagai zat hara dan elemen-elemen yang langka dilingkungan laut. Khususnya zat-zat hara yang dibutuhkan oleh algae epifit. Selain itu secara ekologis padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting bagi wilayah pesisir, yaitu : 1. Produsen detritus dan zat hara. 2. Mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak, dengan system perakaran yang padat dan saling menyilang.

3. Sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar, dan memijah bagi beberapa jenis biota laut, terutama yang melewati masa dewasanya di lingkungan ini.
4. Sebagai tudung pelindung yang melindungi penghuni padang lamun dari

sengatan matahari.

Gambar 3.1. Potensi Padang Lamun (Seagress Bad)

Selanjutnya dikatakan Philips & Menez (1988), lamun juga sebagai komoditi yang sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat baik secara tradisional maupun secara modern. Adapun pemanfaatan lamun tersebut baik secara modern maupun tradisional yaitu sebagai berikut: Secara Tradisional Secara Modern Dimamfaatkan sebagai pupuk atau Penyaring limbah. kompos Cerutu dan mainan anak-anak. Dianyam menjadi keranjang. Pembuat kasur (sebagai isi kasur). Dibuat jarring ikan. Stabilisasi pantai. Bahan untuk pabrik kertas. Makanan Sumber bahan kimia. Obat-obatan.

Di alam padang lamun membentuk suatu komunitas yang merupakan habitat bagi berbagai jenis hewan laut. Komunitas lamun ini juga dapat memperlambat gerakan air. bahkan ada jenis lamun yang dapat dikonsumsi bagi penduduk sekitar pantai. Keberadaan ekosistem padang lamun masih belum banyak dikenal baik pada kalangan akdemisi maupun masyarakat umum, jika dibandingkan dengan ekosistem lain seperti ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove, meskipun diantara ekosistem tersebut di kawasan pesisir merupakan satu kesatuan sistem dalam menjalankan fungsi ekologisnya. Selain itu, padang lamun diketahui mendukung berbagai jaringan rantai makanan, baik yang didasari oleh rantai herbivor maupun detrivor. Nilai ekonomis biota yang berasosiasi dengan lamun diketahui sangat tinggi. Ekosistem padang lamun memiliki nilai pelestarian fungsi ekosistem serta manfaat lainnya di masa mendatang sesuai dengan perkembanga teknologi, yaitu produk obat-obatan dan budidaya laut. Beberapa negara telah memanfaatkan lamun untuk pupuk, bahan kasur, makanan, stabilisator pantai, penyaring limbah, bahan untuk pabrik kertas, bahan kimia, dan sebagainya. Peranan padang lamun secara fisik di perairan laut dangkal adalah membantu mengurangi tenaga gelombang dan arus, menyaring sedimen yang terlarut dalam air dan menstabilkan dasar sedimen (Kiswara dan Winardi, 1999). Peranannya di perairan laut dangkal adalah kemampuan berproduksi primer yang tinggi yang secara langsung berhubungan erat dengan tingkat kelimpahan produktivitas perikanannya. Keterkaitan perikanan dengan padang lamun sangat sedikit diinformasikan, sehingga perikanan di padang lamun Indonesia hampir tidak pernah diketahui. Keterkaitan antara padang lamun dan perikanan udang lepas pantai sudah dikenal luas di perairan tropika Australia. 2.4. Hambatan Pengelolaan Padang Lamun (Seagress Bad) di Indonesia Keberadaannya yang berada di daerah estuaria dan pesisir, yang merupakan perbatasan antara daratan dan lautan, menyebabkan padang lamun terancam oleh

berbagai faktor yang disebabkan oleh manusia, selain juga oleh perubahan iklim global saat ini. Meskipun lamun kini diketahui mempunyai banyak manfaat, namun dalam kenyataannya lamun menghadapi berbagai gangguan dan ancaman. Gangguan dan ancaman terhadap lamun pada dasarnya seperti yang telah diungkapkan di atas dapat dibagi menjadi dua golongan yakni gangguan alam dan gangguan dari kegiatan manusia (antropogenik).
1. Gangguan Alam

Fenomena alam seperti tsunami, letusan gunung api, siklon, dapat menimbulkan kerusakan pantai, termasuk juga terhadap padang lamun. Tsunami yang dipicu oleh gempa bawah laut dapat menimbulkan gelombang dahsyat yang menghantam dan memorak-perandakan lingkungan pantai, seperti terjadi dalam tsunami Aceh (2004). Gempa bumi, seperti gempa bumi Nias (2005) mengangkat sebagian dasar laut hingga terpapar ke atas permukaan dan menenggelamkan bagian lainnya lebih dalam. Debu letusan gunung api seperti letusan Gunung Tambora (1815) dan Krakatau (1883) menyelimuti perairan pantai sekitarnya dengan debu tebal, hingga melenyapkan padang lamun di sekitarnya. Siklon tropis dapat menimbulkan banyak kerusakan pantai terutama di lintang 10 - 20o Lintang Utara maupun Selatan, seperti yang sering menerpa Filipina dan pantai utara Australia. Kerusakan padang lamun di pantai utara Australia karena diterjang siklon sering dilaporkan. Indonesia yang berlokasi tepat di sabuk katulistiwa, bebas dari jalur siklon, tetapi dapat menerima imbas dari siklon daerah lain. Siklon Lena (1993) di Samudra Hindia misalnya, lintasannya mendekati Timor dan menimbulkan kerusakan besar pada lingkungan pantai di Maumere. Selain kerusakan fisik akibat aktivitas kebumian, kerusakan lamun karena aktivitas hayati dapat pula menimbulkan dampak negatif pada keberadaan lamun. Sekitar 10 15 % produksi lamun menjadi santapan hewan
9

herbivor, yang kemudian masuk dalam jaringan makanan di laut. Di Indonesia, penyu hijau, beberapa jenis ikan, dan bulubabi, mengkonsumsi daun lamun. Duyung tidak saja memakan bagian dedaunannya tetapi juga sampai ke akar dan rimpangnya. 2. Gangguan dari aktivitas manusia Pada dasarnya ada empat jenis kerusakan lingkungan perairan pantai yang disebabkan oleh kegiatan manusia, yang bisa memberikan dampak pada lingkungan lamun:
a. Kerusakan

fisik yang menyebabkan degradasi lingkungan, seperti

penebangan mangrove, perusakan terumbu karang dan atau rusaknya habitat padang lamun;
b. Pencemaran laut, baik pencemaran asal darat, maupun dari kegiatan di laut; c. Penggunaan alat tangkap ikan yang tak ramah lingkungan; d. Tangkap lebih, yakni eksploitasi sumberdaya secara berlebihan hingga

melewati kemampuan daya pulihnya karang dari padang lamun untuk bahan konstruksi, atau untuk membuka usaha budidaya rumput laut. Demikian pula terjadi di Teluk Lampung. Di Bintan (Kepulauan Riau) pembangunan resor pariwisata di pantai banyak yang tak mengindahkan garis sempadan pantai, pembangunan resor banyak mengorbankan padang lamun. Kerusakan Padang Lamun di Indonesia akibat gangguan alam dan aktivitas manusia, adalah sebagai berikut: 1. Kerusakan fisik Kerusakan fisik terhadap padang lamun telah dilaporkan terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Di Pulau Pari dan Teluk Banten, kerusakan padang lamun disebabkan oleh aktivitas perahu-perahu nelayan yang mengeruhkan perairan dan merusak padang lamun. Reklamasi dan pembangunan kawasan industri dan pelabuhan juga telah melenyapkan sejumlah besar daerah padang lamun seperti terjadi di Teluk Banten. Di Teluk Kuta (Lombok) penduduk membongkar karang.
10

2. Pencemaran laut Pencemaran laut dapat bersumber dari darat (land based) ataupun dari kegiatan di laut (sea based). Pencemaran asal darat dapat berupa limbah dari berbagai kegiatan manusia di darat seperti limbah rumah tangga, limbah industri, limbah pertanian, atau pengelolaan lahan yang tak memperhatikan kelestarian lingkungan seperti pembalakan hutan yang menimbulkan erosi dan mengangkut sedimen ke laut. Bahan pencemar asal darat dialirkan ke laut lewat sungai-sungai atau limpasan (runoff). Masukan hara (terutama fosfat dan nitrat) ke perairan pantai dapat menyebabkan eutrofikasi atau penyuburan berlebihan, yang mengakibatkan timbulnya ledakan populasi plankton (blooming) yang mengganggu pertumbuhan lamun. Epiffit yang hidup menempel di permukaan daun lamun juga dapat tumbuh kelewat subur dan menghambat pertumbuhan lamun. Kegiatan penambangan didarat, seperti tambang bauksit di Bintan, limbahnya terbawa ke pantai dan merusak padang lamun di depannya. Pencemaran dari kegiatan di laut dapat terjadinya misalnya pada tumpahan minyak di laut, baik dari kegiatan perkapalan dan pelabuhan, pemboran, debalasting muatan kapal tanker. Bencana yang amat besar terjadi saat kecelakaan tabrakan atau kandasnya kapal tanker yang menumpahkan muatan minyaknya ke perairan pantai, seperti kasus kandasnya supertanker Showa Maru yang merusak perairan pantai Kepuluan Riau. 3. Penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan Beberapa alat tangkap ikan yang tak ramah lingkungan dapat menimbulkan kerusakan pada padang lamun seperti pukat harimau yang mengeruk dasar laut. Penggunaan bom dan racun sianida juga ditengarai menimbulkan kerusakan padang lamun. Di Lombok Timur dilaporkan kegiatan perikanan dengan bom dan racun yang menyebabkan berkurangnya kerapatan dan luas tutupan lamun.
11

4. Tangkap lebih Salah satu tekanan berat yang menimpa ekosistem padang lamun adalah tangkap lebih (over fishing), yakni eksploitasi sumberdaya perikanan secara berlebihan hingga melampaui kemampuan ekosistem untuk segera memulihkan diri. Tangkap lebih bisa terjadi pada ikan maupun hewan lain yang berasosiasi dengan lamun. Banyak jenis ikan lamun yang kini semakin sulit dicari, dan ukurannya pun semakin kecil. Demikian pula teripang pasir (Holothuria scabra), dan keong lola (Trochus) yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, sekarang sudah sangat sulit dijumpai dalam alam. Duyung yang hidupnya bergantung sepenuhnya pada lamun kini telah menjadi hewan langka yang dilindungi, demikian pula dengan penyu, terutama penyu hijau. Merujuk pada gangguan atau kerusakan padang lamun seperti disebut di atas, maka perlulah diidentifikasi akar masalahnya. Pada dasarnya manusia tak dapat mengontrol dan mengelola fenomena alam seperti tsunami, gempa, siklon. Kita hanya bisa melakukan mitigasi atau penanggulangan akibat yang ditimbulkannya. Di samping itu alam juga mempunyai ketahanan (resilience) dan mekanismenya sendiri untuk memulihkan dirinya dari gangguan sampai batas tertentu. Dalam pengelolaan padang lamun, yang terpenting adalah mengenali terlebih dahulu akar masalah rusaknya padang lamun yang pada dasarnya bersumber pada perilaku manusia yang merusaknya. Berdasar acuan tersebut maka akar masalah terjadinya kerusakan padang lamun dapat dikenali sebagai berikut:
1. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang lamun dan perannya dalam

lingkungan.
2. Kemiskinan masyarakat 3. Keserakahan mengeksploitasi sumberdaya laut 12

4. Kebijakan pengelolaan yang tak jelas 5. Kelemahan perundangan 6. Penegakan hukum yang lemah

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Dari uraian dalam makalah ini dapat diambil kesimpulan bahwa Padang Lamun merupakan hamparan tumbuhan lamun yang hidup di perairan pesisir atau
13

laut dangkal. Luas padang lamun di Indonesia diperkirakan sekitar 30.000 km2 yang dihuni oleh 13 jenis lamun. Padang lamun ini memiliki potensi sebagai tempat hidup bagi perikanan, karena banyak jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomi penting, hidup di lingkungan lamun. Lamun dapat befungsi sebagai tempat ikan berlindung, memijah dan mengasuh anakannya, dan sebagai tempat mencari makan. Selain ikan, beberapa biota lainnya yang mempunyai nilai ekonomi juga dapat dijumpai hidup di padang lamun seperti teripang, keong lola (Trochus), udang dan berbagai jenis kerang-kerangan. Lamun juga mempunyai hubungan interkoneksi dengan mangrove dan terumbu karang sehingga diantara ketiganya dapat terjadi saling pertukaran energi dan materi. Dalam pengelolaan padang lamun di Indonesia masih terdapat banyak hambatan yang disebabjkan adanya gangguan dari alam dan aktivitas manusia, yang menyebabkan kerusakan fisik lingkungan padang lamun. 3.2. Saran Perlu adanya peningkatan pendidikan mengenai lingkungan termasuk pentingnya melestarikan lingkungan padang lamun. Pendidikan dapat disampaikan lewat jalur pendidikan formal dan non-formal. Pengembangan Daerah Pelindungan Padang Lamun (segrass sanctuary) berbasis masyarakat. Daerah Perlindungan Padang Lamun (DPPL) merupakan bank sumberdaya yang dapat lebih menjamin ketersediaan sumberdaya ikan dalam jangka panjang. DPPL berbasis masyrakat lebih menjamin keamanan dan keberlanjutan DPPL. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2012. Seagrass (Padang Lamun). http:// akuadalahdia. blogspot.com /2012 / 01/seagrass-padang-lamun.html (Diunduh 25 April 2012, pukul 10.43 WIB). Arthana, I Wayan. Jenis Dan Kerapatan Padang Lamun Di Pantai Sanur Bali. Fakultas Pertanian Universitas Udayana: Bali.
14

Kader, Iwan Hi. 2010. Pengelolaan dan Rehabilitasi Sumberdaya Lamun (Seagrass). http:// mediaswaraindonesia. blogspot. com/ 2010/ 08/ pengelolaan danrehabilitasi-sumberdaya.html (Diunduh 25 April 2012, pukul 10.40 WIB).

15