Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN I.1.

Latar Belakang

Ulkus kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh adanya infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea dapat terjadi dari epitel sampai stroma. Ulkus kornea dapat terjadi akibat adanya trauma pada oleh benda asing atau penyakit yang menyebabkan masuknya mikroorganisme ke dalam kornea sehingga menimbulkan infeksi dan peradangan.1 Di Indonesia kekeruhan kornea masih merupakan masalah kesehatan mata sebab kelainan ini menempati urutan kedua dalam penyebab utama kebutaan. Kekeruhan kornea ini terutama disebabkan oleh infeksi mikroorganisme berupa bakteri, jamur, dan virus dan bila terlambat didiagnosis atau diterapi secara tidak tepat akan mengakibatkan kerusakan stroma dan meninggalkan jaringan parut yang luas.2 Ulkus kornea yang luas memerlukan penanganan yang tepat dan cepat untuk mencegah perluasan ulkus dan timbulnya komplikasi berupa descematokel, perforasi, endoftalmitis, bahkan kebutaan. Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan dan cepat lambatnya mendapat pertolongan, jenis mikroorganisme penyebabnya, dan ada tidaknya komplikasi yang timbul. Mengingat betapa berharganya indera penglihatan, penulis merasa perlu mempelajari ulkus kornea melalui laporan kasus ini sebagai bekal dalam menjalani profesi dokter nanti. I.2. Tujuan

Laporan kasus ini dibuat agar para mahasiswa lebih memahami cara mendiagnosis dan memberi penatalaksanaan yang tepat pada suatu kasus ulkus kornea.

II. LAPORAN KASUS

II.1.

IDENTIFIKASI Nama Umur Agama Bangsa Pekerjaan Alamat MRS : Tn. Mamat : 43 Tahun : Islam : Indonesia : Petani : Luar Kota : 25 April 2012

Jenis kelamin : Laki-laki

II.2.

ANAMNESIS (autoanamnesis) Keluhan utama: Penglihatan kabur disertai mata merah yang semakin bertambah berat sejak 2 minggu SMRS Keluhan tambahan: Timbul bintik putih pada mata kanan sejak 2 minggu SMRS Riwayat Perjalanan Penyakit: 3 minggu SMRS mata kanan penderita terkena serbuk padi, penderita mengeluh rasa mengganjal di mata, lalu dikucek-kucek dan penderita mencuci matanya dengan air biasa. Keesokan harinya mata kanan penderita menjadi merah (+), nyeri (+) tidak terlalu hebat, penglihatan kabur (+) pandangan silau (+), berair-air (+), kotoran mata (-), sulit membuka mata (+), sakit kepala (-), mual-muntah (-). Penderita berobat ke puskemas dan diberi obat tetes mata yang penderita lupa namanya, dan tablet pereda nyeri, namun keluhan tidak berkurang. 2 minggu SMRS timbul bintik putih di mata kanan penderita, mata bertambah merah, bertambah nyeri, kotoran mata (+) berwarna putih

kekuningan, dan penglihatan penderita makin kabur. Penderita kemudian berobat kembali ke puskesmas dan diberikan obat yang sama dengan yang sebelumnya namun tidak ada perubahan. 1 hari SMRS pasien datang kembali ke puskesmas dan kemudian dirujuk ke RSMH Palembang. Riwayat Penyakit Dahulu: o Riwayat kencing manis disangkal o Riwayat menggunakan obat-obat nyeri sendi dalam jangka waktu lama disangkal II.3. PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan umum Keadaan sakit Kesadaran Tekanan Darah Nadi Pernafasan Suhu : tampak sakit : sakit sedang : compos mentis : 120/80 mmHg : 84 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup : 20 x/menit, abdomino-torakal : 37oC

Status Oftalmologikus

OD

OS

Visus TIO KBM GBM

1 / 300 P = N+0 Simetris

6/9 ph (+) 6/6 18,5mmHg

SEGMEN ANTERIOR Palpebra Blepharospasme (+) Konjungtiva Mix injeksi, sekret (+) purulen Kornea Tampak defek bergaung di sentral, 4 mm, kedalaman 1/3 stroma, infiltrat (+), FT (+) di tepi defek, lesi satelit (-), edema BMD kornea (+), sensibilitas Hipopion 1/3 BMD, fluid level (+) Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai RFOD (-) Tidak tembus Tidak tembus Tidak tembus

Tenang Tenang Jernih

Sedang Gambaran baik Bulat, sentral, RC (+), 3 mm Jernih RFOD (+) Bulat, batas tegas, warna merah normal, c/d 0,3 , a:v = 2:3, RF (+) Kontur pembuluh darah baik

Iris Pupil Lensa SEGMEN POSTERIOR - Refleks fundus - Papil - Makula - Retina

II.4

DIAGNOSIS BANDING Ulkus kornea sentral cum hipopion ocular dextra et causa susp. bakteri Ulkus kornea sentral cum hipopion ocular dextra et causa susp. jamur

II.5

PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan gram & KOH Kultur dan uji resistensi USG

II.6

DIAGNOSIS KERJA Ulkus kornea sentral cum hipopion ocular sinistra et causa susp. bakteri

II.7 -

PENATALAKSANAAN Informed consent MRS Irigasi RL - Povidon Iodine 0,5% 2 x 1 levofloxacin ED 8 x 1 gtt OD Artificial tears ED 6 x 1 gtt OD Sulfas Atropin 1% ED 2 x 1 gtt OD

II.8

PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam : bonam : dubia ad malam

II.9

FOLLOW UP

26 April 2012 OD OS

Visus TIO KBM GBM

1 / 300 P = N+0 Simetris

6/9 ph (+) 6/6 18,5mmHg

SEGMEN ANTERIOR Palpebra Blepharospasme (+) Konjungtiva Mix injeksi, sekret (+) Kornea Tampak defek bergaung di sentral, 4 mm, kedalaman 1/3 stroma, infiltrat (+), FT (+) di tepi defek, lesi satelit (-), edema kornea (+), sensibilitas BMD Hipopion 1/3 BMD Iris Iridoplegi Pupil Sulit dinilai Lensa Sulit dinilai SEGMEN POSTERIOR - Refleks fundus RFOD (-) - Papil Tidak tembus - Makula - Retina Laboratorium Mikrobiologi: Tidak tembus Tidak tembus

Tenang Tenang Jernih

Sedang Gambaran baik Bulat, sentral, RC (+), 3 mm Jernih RFOD (+) Bulat, batas tegas, warna merah normal, c/d 0,3 , a:v = 2:3, RF (+) Kontur pembuluh darah baik

Pemeriksaan gram: tidak ditemukan bakteri, leukosit penuh, epitel 0-1/LP Pemeriksaan KOH: hifa (+) A/ Ulkus Kornea sentral cum hipopion ec jamur OD

Th/ spooling RL-betadine 0,5% 2x/hari Natamycin 5% ED 8 x1 gtt OD SA 2 x1 gtt OD Artificial tears ED 6 x 1 gtt OD Asam mefenamat 3 x 500 mg (K/P)

30 April 2012

OD Laboratorium

OS

Visus TIO KBM GBM

1 / 300 P = N+0 Simetris

6/6 (E) 15,6 mmHg

SEGMEN ANTERIOR Palpebra Blepharospasme (+) Konjungtiva Mix injeksi, sekret (+) Kornea Tampak defek bergaung di sentral, 4 mm, kedalaman 1/3 stroma, infiltrat (+), FT (+) di tepi defek, lesi satelit (-), edema BMD Iris Pupil kornea (+), sensibilitas Hipopion 1/3 BMD Iridoplegi Sulit dinilai

Tenang Tenang Jernih

Sedang Gambaran baik Bulat, sentral, RC (+), 3 mm

Lensa SEGMEN POSTERIOR - Refleks fundus - Papil - Makula - Retina Mikrobiologi:

Sulit dinilai RFOD (-) Tidak tembus Tidak tembus Tidak tembus

Jernih RFOD (+) Bulat, batas tegas, warna merah normal, c/d 0,3 , a:v = 2:3, RF (+) Kontur pembuluh darah baik

(sampel berasal dari scrapping kornea yang diambil tgl. 26-4-2011) Pemeriksaan mikroskopis: ditemukan bakteri basil gram (-), leukosit 0-1/LP, epitel 0-1/LP Hasil biakan: Pseudomonas aeruginosa

A/ Ulkus Kornea sentral cum hipopion ec jamur et bakteri OD Th/ spooling RL-betadine 2x1 OD Levofloxazin ED 8 x1 gtt OD Natamycin 5% ED 8 x1 gtt OD SA 3x1 gtt OD Artificial tear 6x1 gtt OD Asam Mefenamat 3x500 mg (K/P)

BAB III TINJAUAN PUSTAKA III.1. Histologi Kornea Kornea terdiri dari 5 lapisan dari luar kedalam: 1. Lapisan epitel Tebalnya 50 m , terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong kedepan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel polygonal didepannya melalui desmosom dan macula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier. Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan menghasilkan erosi rekuren. Epitel berasal dari ectoderm permukaan. Terletak dibawah membrana basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi. Terdiri atas lamel yang merupakan sususnan kolagen yang sejajar satu dengan yang lainnya, Pada permukaan terlihat anyaman yang teratur 3. Jaringan Stroma 2. Membran Bowman

10

sedang dibagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan.Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak diantara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma. 4. Membran Descement Merupakan membrana aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya. Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 m. 5. Endotel Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40 m. Endotel melekat pada membran descement melalui hemidosom dan zonula okluden.4

Gambar 2. Lapisan-lapisan kornea

11

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus berjalan supra koroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan diantara. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.4 Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus, humour aquous, dan air mata. Kornea superfisial juga mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfir. Transparansi kornea dipertahankan oleh strukturnya seragam, avaskularitasnya dan deturgensinya.1 III.2 ULKUS KORNEA II.2.1. Definisi 2,4 Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea, yang ditandai dengan adanya infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung, dan diskontinuitas jaringan kornea yang dapat terjadi dari epitel sampai stroma. III.2.2. Epidemiologi Di Amerika insiden ulkus kornea bergantung pada penyebabnya yaitu apakah mikroorganisme, asupan makanan, trauma, kelainan yang disebabkan kongenital. Insidensi ulkus kornea tahun 1993 adalah 5,3 per 100.000 penduduk di Indonesia, sedangkan predisposisi terjadinya ulkus kornea antara lain terjadi karena trauma, pemakaian lensa kontak, dan kadang-kadang tidak di ketahui penyebabnya. Walaupun infeksi jamur pada kornea sudah dilaporkan pada tahun 1879 tetapi baru mulai periode 1950 keratomikosis diperhatikan. Banyak laporan menyebutkan peningkatan angka kejadian ini sejalan dengan peningkatan penggunaan kortikosteroid topikal, penggunaan obat imunosupresif dan lensa kontak. Singapura melaporkan selama 2.5 tahun dari 112 kasus ulkus kornea 22 beretiologi jamur. Mortalitas atau morbiditas tergantung dari komplikasi dari ulkus kornea seperti parut kornea, kelainan refraksi,

12

neovaskularisasi dan kebutaan. Berdasarkan kepustakaan di USA, laki-laki lebih banyak menderita ulkus kornea, yaitu sebanyak 71%, begitu juga dengan penelitian yang dilakukan di India Utara ditemukan 61% laki-laki. Hal ini mungkin disebabkan karena banyaknya kegiatan kaum laki-laki sehari-hari sehingga meningkatkan resiko terjadinya trauma termasuk trauma kornea.3 III.2.3 Etiologi 1,4,5,6 Infeksi Infeksi Bakteri : P. aeraginosa, Streptococcus pneumonia dan spesies Moraxella merupakan penyebab paling sering. Hampir semua ulkus berbentuk sentral. Gejala klinis yang khas tidak dijumpai, hanya sekret yang keluar bersifat mukopurulen yang bersifat khas menunjukkan infeksi P aeruginosa. Infeksi Jamur : disebabkan Infeksi virus Ulkus kornea oleh virus herpes simplex cukup sering dijumpai. Bentuk khas dendrit dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil dilapisan epitel yang bila pecah akan menimbulkan ulkus. Ulkus dapat juga terjadi pada bentuk disiform bila mengalami nekrosis di bagian sentral. Infeksi virus lainnya varicella-zoster, variola, vacinia (jarang). Acanthamoeba Acanthamoeba adalah protozoa hidup bebas yang terdapat didalam air yang tercemar yang mengandung bakteri dan materi organik. Infeksi kornea oleh acanthamoeba adalah komplikasi yang semakin dikenal pada pengguna lensa kontak lunak, khususnya bila memakai larutan garam buatan sendiri. Infeksi juga biasanya ditemukan pada bukan pemakai lensa kontak yang terpapar air atau tanah yang tercemar. Noninfeksi oleh Candida, Fusarium, Aspergilus, Cephalosporium, dan spesies mikosis fungoides.

13

Bahan kimia, bersifat asam atau basa tergantung PH. Bahan asam yang dapat merusak mata terutama bahan anorganik, organik dan organik anhidrat. Bila bahan asam mengenai mata maka akan terjadi pengendapan protein permukaan sehingga bila konsentrasinya tidak tinggi maka tidak bersifat destruktif. Biasanya kerusakan hanya bersifat superfisial saja. Pada bahan alkali antara lain amonia, cairan pembersih yang mengandung kalium/natrium hidroksida dan kalium karbonat akan terjadi penghancuran kolagen kornea. Radiasi atau suhu Dapat terjadi pada saat bekerja las, dan menatap sinar matahari yang akan merusak epitel kornea. Sindrom Sjorgen Pada sindrom Sjorgen salah satunya ditandai keratokonjungtivitis sicca yang merupakan suatu keadan mata kering yang dapat disebabkan defisiensi unsur film air mata (akeus, musin atau lipid), kelainan permukan palpebra atau kelainan epitel yang menyebabkan timbulnya bintik-bintik kering pada kornea. Pada keadaan lebih lanjut dapat timbul ulkus pada kornea dan defek pada epitel kornea terpulas dengan flurosein. Defisiensi vitamin A Ulkus kornea akibat defisiensi vitamin A terjadi karena kekurangan vitamin A dari makanan atau gangguan absorbsi di saluran cerna dan ganggun pemanfaatan oleh tubuh. Obat-obatan Obat-obatan yang menurunkan mekanisme imun, misalnya; kortikosteroid, IDU (Iodo 2 dioxyuridine), anestesi lokal dan golongan imunosupresif. Kelainan dari membran basal, misalnya karena trauma. Pajanan (exposure) Neurotropik

14

Sistem Imun (Reaksi Hipersensitivitas) Granulomatosa wagener Rheumathoid arthritis

III.2.4. Patofisiologi Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di daerah pupil. 5 Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak segera datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi. Maka badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan tampak sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma, leukosit polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah ulkus kornea.6 Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi pada kornea baik superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit juga diperberat dengan adanaya gesekan palpebra (terutama palbebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Kontraksi bersifat progresif, regresi iris, yang meradang dapat menimbulkan fotofobia, sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea merupakan fenomena reflek yang berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada pembuluh iris. 1

15

Penyakit ini bersifat progresif, regresif atau membentuk jaringan parut. Infiltrat sel leukosit dan limfosit dapat dilihat pada proses progresif. Ulkus ini menyebar kedua arah yaitu melebar dan mendalam. Jika ulkus yang timbul kecil dan superficial maka akan lebih cepat sembuh dan daerah infiltrasi ini menjadi bersih kembali, tetapi jika lesi sampai ke membran Bowman dan sebagian stroma maka akan terbentuk jaringan ikat baru yang akan menyebabkan terjadinya sikatrik.5 III.2.5 Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan klinis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium. Anamnesis pasien penting pada penyakit kornea, sering dapat diungkapkan adanya riwayat trauma, benda asing, abrasi. Hendaknya pula ditanyakan riwayat pemakaian obat topikal oleh pasien seperti kortikosteroid yang merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri, fungi, virus terutama keratitis herpes simplek. Juga mungkin terjadi imunosupresi akibat penyakit sistemik seperti diabetes, AIDS, keganasan, selain oleh terapi imunosupresi khusus. Pada pemeriksaan fisik didapatkan gejala obyektif berupa adanya injeksi siliar, kornea edema, terdapat infiltrat, hilangnya jaringan kornea. Pada kasus berat dapat terjadi iritis yang disertai dengan hipopion. Pemeriksaan Fluorescein untuk melihat ulkus kornea cara : teteskan larutan fluorescein pada kornea kemudian dibilas dengan aquadest, dan lihat ulkus melalui slit lamp dengan sinar cobalt biru hasil : bagian epitel kornea yang rusak akan berwarna hijau

Pemeriksaan Seidel untuk melihat perforasi kornea cara : setelah ditetesi larutan fluorescein tidak dilakukan pembilasan dengan aquadest tetapi dibiarkan, kemudian bola mata ditekan

16

hasil : bila terdapat perforasi maka HA akan keluar dari bilik mata depan melalui lubang perforasi pada kornea membentuk aliran yang berwana bening diatas hijau

Pemeriksaan Laboratorium untuk menegakkan diagnosa etiologi dan terapi bahan : kerokan dari infiltrat/pinggir ulkus dan forniks konjungtiva pewarnaan gram (bakteri) dan KOH (jamur)

III.2.6 Pengobatan 1. Siklopegik topikal ( Sulfas atropin 0,5-1% tetes mata) tujuan: untuk mengistirahatkan iris dan corpus siliar, sehingga dapat mengurangi rasa sakit dan lakrimasi menghambat timbulnya reaksi radang pada traktus uvealis, sehingga perjalanan penyakit kebagian mata yang lebih dalam dapat dicegah 2. Antimikroba sesuai hasil pemeriksaan preparat apus dan kultur dari kerokan kornea. 3. Pemberian antimikroba pada ulkus kornea dalam bentuk tetes mata frekuensi waktu yang sesering mungkin agar terjadi penyembuhan yang cepat karena terjadi eradikasi mikroba yang terdapat pada kornea III.2.7 Komplikasi Ulserasi superfisial dapat sembuh dengan derajat yang berbeda-beda, tapi ulserasi yang terlalu dalam dapat menyebabkan kehilangan jaringan yang mengarah pada penipisan jaringan kornea yang terkena sehingga terjadi penonjolan karena pengaruh dari tekanan intraokular. Melalui pembentukan sikatriks penonjolan tersebut dapat menghilang atau dapat menetap sebagai keratektasia sekunde.

17

Ulkus kornea yang mencapai membran Descemet dapat menyebabkan terjadinya komplikasi berupa descemetocele yang dapat menetap dikelilingi oleh cincin sikatriks atau ruptur. Komplikasi yang lain, dapat terjadi perforasi dari ulkus oleh karena pengerahan tenaga secara tiba-tiba oleh pasien seperti, batuk, bersin, dan meneran saat BAB. Tindakan tersebut dapat meningkatkan tekanan darah yang bermanifestasi pada peningkatan tekanan intraokuler sehingga terjadi perforasi.Prolaps iris juga dapat menjadi komplikasi, apabila perforasi ulkus yang terjadi besar. Apabila terjadi perforasi akan mengakibatkan penurunan tekanan intraokuler yang tiba-tiba, menyebabkan terjadinya ruptur pembuluh darah sehingga mengakibatkan perdarahan intraokular. Proses inflamasi yang terjadi pada ulkus kornea dapat menyebabkan akumulasi sel-sel radang yang mengakibatkan penyumbatan aliran aqueous humor sehingga mengarah pada terjadinya glaukoma sekunder. III.2.8 Prognosis Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan dan cepat lambatnya mendapat pertolongan, jenis mikroorganisme penyebabnya, dan ada tidaknya komplikasi yang timbul. Ulkus kornea yang luas memerlukan waktu penyembuhan yang lama, karena jaringan kornea bersifat avaskular. Semakin tinggi tingkat keparahan dan lambatnya mendapat pertolongan serta timbulnya komplikasi, maka prognosisnya menjadi lebih buruk. Penyembuhan yang lama mungkin juga dipengaruhi ketaatan penggunaan obat. Dalam hal ini, apabila tidak ada ketaatan penggunaan obat terjadi pada penggunaan antibiotika maka dapat menimbulkan resistensi. Ulkus kornea harus membaik setiap harinya dan harus disembuhkan dengan pemberian terapi yang tepat. Ulkus kornea dapat sembuh dengan dua metode; migrasi sekeliling sel epitel yang dilanjutkan dengan mitosis sel dan pembentukan pembuluh darah dari konjungtiva. Ulkus superfisial yang kecil dapat sembuh dengan cepat

18

melalui metode yang pertama, tetapi pada ulkus yang besar, perlu adanya suplai darah agar leukosit dan fibroblas dapat membentuk jaringan granulasi dan kemudian sikatrik. IV. DISKUSI KASUS Seorang laki-laki berumur 43 tahun, bekerja sebagai buruh pabrik padi dengan tempat tinggal di luar kota. Datang ke RSMH dengan keluhan utama penglihatan kabur disertai mata merah. Penderita juga mengeluh timbul bintik putih di bagian hitam mata. Dari riwayat perjalanan penyakit didapatkan 3 minggu SMRS mata kanan penderita terkena serbuk padi, penderita mengeluh rasa mengganjal di mata, lalu dikucek-kucek dan penderita mencuci matanya dengan air biasa. Keesokan harinya mata kanan penderita menjadi merah (+), nyeri (+) tidak terlalu hebat, penglihatan kabur (+) pandangan silau (+), berair-air (+), kotoran mata (-), sulit membuka mata (+), sakit kepala (-), mual-muntah (-). Dari pemeriksaan oftalmologis di dapatkan penurunan visus mata kanan (1/300), terdapat blepharospasme, pada konjungtiva terdapat mix injeksi, pada kornea terdapat defek bergaung di sentral, diameter 4 mm, kedalaman 1/3 stroma, infiltrat (+), FT (+) di tepi defek, lesi satelit (-), sensibilitas , terdapat hipopion di 1/3 BMD. Iris, pupil, lensa, dan segmen posterior mata kanan sulit dinilai. Kemungkinan terjadinya suatu ulkus kornea dapat dipikirkan berdasarkan adanya gejala penurunan visus disertai dengan mata yang merah,adanya bintik putih di kornea, adanya riwayat trauma dan adanya gejala-gejala keratitis (mata berair, pandangan silau, sulit membuka mata) sebelumnya. Adanya suatu ulkus pada kornea di dapatkan dari pemeriksaan oftalmologis di mana terdapat defek bergaung di sentral, berdiameter 4 mm, kedalaman 1/3 stroma, infiltrat (+), dan FT (+) di tepi defek. Untuk menentukan penyebab dari ulkus, maka dilakukan pemeriksaan gram, KOH, kultur dan uji resistensi. Pada pasien ini di ditemukan adanya hifa dari pemeriksaan KOH sehingga dapat disimpulkan penyebab ulkusnya adalah jamur. Selain itu dari pewarnaan gram, ditemukan adanya bakteri basil gram (-) dengan hasil

19

biakan berupa Pseudomonas aeruginosa, sehingga selain jamur, agen infeksi pada ulkus kornea penderita ini juga adalah bakteri. Penatalaksanaan pada pasien ini adalah irigasi dengan RL dan Povidon Iodine 0,5% dengan tujuan untuk membersihkan mata dari sekret dan eradikasi kuman. Fluconazole ED diberikan sebagai antifungal. Levofloxacin ED diberikan sebagai antibakteri. Sulfas Atropin 1% dimaksudkan untuk menekan peradangan dan untuk melepaskan dan mencegah terjadinya sinekia anterior, karena sulfas atropin memiliki efek sikloplegik yang menyebabkan pupil midriasis, sehingga mencegah perlengkatan iris pada kornea. Artificial tears diberikan sebagai air mata buatan agar terjadi penyerapan obat tetes mata dengan baik. USG dilakukan untuk mengetahui keadaan corpus vitreus karena funduskopi tidak dapat dilakukan akibat kekeruhan pada kornea. Kekeruhan korpus vitreus berupa abses menunjukkan telah terjadi endothalmitis atau panofthalmitis. Prognosis penderita ini, quo ad vitam bonam, karena tanda-tanda vitalnya masih dalam batas normal, sedangkan quo ad functionam dubia ad malam karena walaupun dengan pengobatan yang tepat dan teratur ulkusnya dapat sembuh, namun meninggalkan bekas berupa sikatrik yang dapat mengganggu penglihatan.

20

BAB V KESIMPULAN Diagnosis ulkus kornea pada pasien ini ditegakkan berdasarkan adanya gejala penurunan visus disertai dengan mata yang merah,adanya bintik putih di kornea, adanya riwayat trauma dan adanya gejala-gejala keratitis (mata berair, pandangan silau, sulit membuka mata) yang mendahuluinya. Adanya suatu ulkus pada kornea di dapatkan dari pemeriksaan oftalmologis di mana terdapat defek bergaung di sentral, berdiameter 4 mm, kedalaman 1/3 stroma, infiltrat (+), dan FT (+) di tepi defek. Berdasarkan pemeriksaan hasil KOH penyebab ulkus pada kasus ini adalah jamur. Penatalaksanaan pada pasien ini adalah irigasi dengan RL dan Povidon Iodine 0,5% dengan tujuan untuk membersihkan mata dari sekret dan eradikasi kuman. Fluconazole ED diberikan sebagai antifungal. Sulfas Atropin 1% dimaksudkan untuk menekan peradangan dan untuk melepaskan dan mencegah terjadinya sinekia anterior, karena sulfas atropin memiliki efek sikloplegik yang menyebabkan pupil midriasis, sehingga mencegah perlengkatan iris pada kornea. Artificial tears diberikan sebagai air mata buatan agar terjadi penyerapan obat tetes mata dengan baik. USG dilakukan untuk mengetahui keadaan corpus vitreus. Kekeruhan korpus vitreus berupa abses menunjukkan telah terjadi endothalmitis atau panofthalmitis.

21

DAFTAR PUSTAKA

1. American Academy of Opthalmology. External Disease and Cornea. Section 11. San Fransisco: MD Association, 2005-2006 2. Ilyas, S. Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 2002. 3. Ilyas, S. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Balai Penerbit FK UI, Jakarta;2005. 4. Vaughan DG, Asbury T, Riordan Eva P. Oftalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta: Widya Medika, 2000. 5. Wijaya N. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 1983. 6. The Clinician's Guide to Corneal Ulcers. Alan G. Kabat, OD, FAAO, Associate Professor Nova Southeastern University,College of Optometry 7. Investigation of Intraocular fluids and Corneal scrapings Bsop 52, Issued by Standards Unit, Evaluations and Standards Laboratory Centre for Infections. 8. Management of Corneal Abrasions, STEPHEN A. WILSON, M.D., and ALLEN LAST, M.D., University of Pittsburgh Medical Center St. Margaret Family Practice Residency Program, Pittsburgh, Pennsylvania 9. Holland Edward, Mannis Mark. 2001. Ocular Surface Disease Medical and Surgical Management. New York: Springer Verlag

22