Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang
Penyakit polio merupakan salah satu penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. Pemerintah telah menargetkan bahwa penyakit polio sudah harus terberantas terutama di Jawa, Bali dan Sumatera. Dengan mengintensifkan imunisasi polio pada anak-anak yang berumur 2-11 bulan. Untuk mencapai maksud tersebut maka, oleh instansi yang berwenang sedang dikaji beberapa hal yang berhubungan dengan pelaksanaan yang ada terhadap program imunisasi yang sudah dilaksanakan sekarang ini. Beberapa masalah timbul di negara-negara yang sudah lama melaksanakan program imunisasi polio dengan oral vaksin. Salah satunya adalah bahwa ternyata respon imun terhadap virus vaksin polio dari anak-anak yang tinggal di daerah kumuh sangat rendah, yang mungkin disebabkan karena intervensi dari virus enterol lain non polio yang prevalensinya didaerah kumuh cukup tinggi (Momimes, 2002) Menurut data yang ada dari kejadian-kejadian wabah yang terjadi selama ini pada kasus paralise karena poliomyelitis paling banyak menyerang anak-anak umur dibawah 3 tahun. Hasil-hasil penelitian serologis poliomyelitis dibeberapa tempat di Indonesia juga menunjukan bahwa antara 20-60% anak yang berumur kurang dari 3 tahun tidak mempunyai kekebalan sama sekali terhadap ketiga tipe virus polio (Momimes, 2002) . 1

Berdasarkan hasil survei demografi kesehatan Indonesia pada tahun 2002/2003 angka kematian bayi sebesar 35 per 1000 kelahiran hidup. Umumnya bayi yang lahir diperkotaan mempunyai angka kematian lebih rendah dari pada yang lahir di pedesaan. Kematian bayi yang menjadi penyebab utamanya adalah infeksi oleh sebab itu dapat dicegah dengan pemberian imunisasi polio (Nasution,2008) Jika dibandingkan dengan angka nasional maka angka kematian bayi di Sumatera Utara untuk tahun 2004, relatif lebih tinggi dibandingkan dengan angka kematian bayi berkisar 48 per 1000 kelahiran hidup. Pemberian imunisasi untuk tumbuh kembang anak sangat penting terutama untuk mengurangi morbilitas sebanyak 44 anak dan mortalitas sebanyak 14 anak yang tidak mendapat imunisasi polio. Dengan dilaksanakannya imunisasi maka kita harapkan dapat dicegah timbulnya penyakit-penyakit yang menimbulkan cacat dan kematian. ( Soetjiningsih, 1995). Pada umumnya tanggung jawab untuk mengasuh anak diberikan pada orang tua khususnya ibu. Pengetahuan ibu tentang dampak anak yang tidak mendapat imunisasi polio dipengaruhi oleh faktor pendidikan, tingkat penghasilan dan kebiasaan. Sehingga dengan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu diharapkan adanya perubahan perilaku yang diharapkan dapat terwujud. Timbulnya kesadaran, kemampuan untuk hidup sehat disamping faktor sosial ekonomi masyarakat maupun dipihak tenaga kesehatan (Hilman, 2005).

Menurut data Depkes sampai tanggal 17 juli 2005 telah dilaporkan 291 kasus lumpuh layu , setelah dilakukan pemeriksaan yang di tunjuk , jumlah kasus politik polio liar berjumlah 149 anak dan telah tersebar 10 kabupaten di 4 provinsi. Di provinsi jawa barat , kasus polio liar di temukan di sukabumi bogor , cianjur , bekasi. Di provinsi banten di temukan di lebank , serang serta tangerang. Di jawa tengah di kabupaten demak , sedangkan di lampung di temui tanggamus dan lampung barat . Virus polio liar bisa menybabkan lumph atau kematian . virus ini di bawa melalui kotoran manusia dan penyebab melalui air, virus polio liar ini sangat menular dan biasanya menyerang anak anak balita . hanya sekitar 20 tahun yang lalu, polio melumpuhkan 1000 anak setiap harinya dan hampir di setipa Negara di dunia tetapi pada tahun 1998 , gerkan anti polio dunia di canangkan . Pada awal maret tahun 2005 , Indonesia muncul kasus polio pertama selam satu dasar warsa artinya, reputasi bebas polio yang di sandang

selama 10 tahun hilang ketika seorang berusia 20 bulan di jawa barat sangat terjankau penyakit (Pikas 2005). Berdasarkan hal tersebut di atas penulis merasa tertarik mengadakan penelitian tentang Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Polio di Puskesmas Pintu Angin Tahun 2008 .

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Polio Di Puskesmas Pintu Angin Tahun 2008?.

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang imunisasi Polio di Puskesmas Pintu Angin Tahun 2008. C.2. Tujuan Khusus a.Untuk mengetahui pengetahuan ibu balita tentang imunisasi

Polio di Puskesmas Pintu Angin tahun 2008 berdasarkan Umur. b.Untuk mengetahui Pengetahuan ibu tentang imunisasi polio di Puskesmas Pintu Angin tahun 2008 berdasarkan Pendidikan. c.Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang deteksi anak yang tidak dapat Imunisasi Polio di Puskesmas Pintu Angin Pintu

Angin Tahun 2008 berdasarkan Pekerjaan.

D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Ibu

Sebagai bahan masukan dan informasi kepada ibu agar lebih memahami dan lebih mengetahui Imunisasi polio di Puskesmas Pintu Angin tahun 2008. D.2. Bagi Peneliti Sebagai penambah wawasan dan pengalaman bagi peneliti dan juga sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Akademi Kebidanan Nauli Husada Sibolga . D.3. Bagi Institusi Pendidikan Bagi Institusi pendidikan Akbid dapat digunakan sebagai bahan bacaan diperpustakaan yang mana dapat dimanfaatkan oleh semua mahasiswa/i Akbid Nauli Husada Sibolga .

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengetahuan


A.1. Defenisi Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan pada satu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, indra pendengaran, penciuman,

penglihatan, rasa, raba dan sebagian besar pengetahuan manusia melalui mata dan telinga (Sunaryo, 2004). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Rogers (1974), mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru dalam diri orang tersebut sehingga terjadi suatu proses berurutan (akronim AIETA), yaitu : 1. Awarenes, (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari

pengetahuan terlebih dahulu terhadap stimulus (objek). 2. Interest , (menimbang-nimbang) dimana orang mulai tertarik kepada stimulus. 3. Evaluation, merupakan suatu keadaan mempertimbangkan terhadap baik buruknya stimulus tersebut bagi dirinya. 6

4. Trial, (mencoba) dimana orang telah mulai mencoba perilaku baik. 5. Adaptation, individu telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan sikap. A.2. Tingkat Pengetahuan Tingkat pengetahuan menurut (Sunaryo, 2004) mempunyai 6 tingkatan yaitu : a.Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari dari sebelumnya. Termasuk di dalam pengetahuan ini adalah

mengingat kembali terhadap suatu yang spefisik dari yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. b.Memahami (comprehension)

seluruh bahan

Memahami diartikan suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. c.Aplikasi (Aplication). Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. d.Analisa (Analisa). Suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau objek kedalam komponen-komponen tetapi masih di dalam struktur

organisasai tersebut dan ada kaitannya satu sama lain e.Sintesis (Senthesis). 7

Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. f. Evaluasi ( Evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian suatu materi atau objek penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

B. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan


1. Umur Umur adalah lamanya seseorang hidup sejak dilahirkan sampai saat ini. Dalam satuan tahun dan juga merupakan periode terhadap pola-pola kehidupan baru demikian bertambah pula umur semakin tinggi keinginan seseorang tentang kesehatan (Notoadmojo, 2003) Usia seseorang dewasa secara (18-40 maksimal tahun) dapat merupakan mencapai masa prestasi dimana yang

memuasakan dalam karirnya pada usia tengah (41-60 tahun) seseorang tinggal mempertahankan prestasi yanh telah dicapainya pada usia dewasa sedangkan usia tua (> 60 tahun) adalah usia tidak produktif lagi dan hanya menikmati hasil dari prestasi (Hurlock 1998).

2.

Pendidikan

Pendidikan merupakan proses menumbuh kembangkan seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran, sehingga dalam pendidikan itu perlu dipertimbangkan umur (proses

perkembangan klien) dan hubungan dengan proses belajar. Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih menerima ide-ide dan tehnologi baru (SDKI,1997) Pendidikan adalah suatu proses pembentukan kecepatan seseorang secara intelektual dan emosional kearah dalam sesama manusia . Pendidikan juga diartikan sebagai suatu usaha sendiri untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlansung seumur hidup (Notoamodjo, 2003) Pendidikan adalah proses pertumbuhan semua kemampuan dan prilaku melalui pengajaran sehingga dalam pendidikan perlu di pertimbagkan umur (proses perkembangan )dan hubunganya dengan proses belajar tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi presepsi seseorang untuk lebih mudah menerima ide ide dan teknologi baru (Arinkunto, 2002). Tidak dipukirin pendidikan akan menentukan pola piker dan wawasan seseorang. Selain itu tingkat pendidikan juga merupakan bagian dari pengalaman kerja (Rahmad,1996).

3.

Pekerjaan 9

Pekerjaan adalah kegiatan sehari-hari yang dilakukan ibu untuk memenuhi kebutuhannya, bila kita ingin melihat pekerjaan mayoritas dari ibu karena kemungkinan sebagian ibu bukanlah pekerja yang berpenghasilan cukup sehingga kebanyakan ibu menganggap sosial ekonomi keluarga akan mengganggu dalam pemenuhan nutrisi anaknya.Dalam sebuah bidang pada umumnya diperlakukan adanya hubungan sosial dan hubungan dengan orang yang baik, setiap orang harus bisa bergaul dengan teman sejawat maupun berhubungan dengan atasan (Notoadmojo,2003). Pekerjaan adalah akifitas yang dilakukan seorang tiap hari dalam kehidupanya. Seseorang yang bekerja dapat terjadi sesuatu kesakitan , misalnya dari situasi lingkungan dan juga dapat menimbulkan stres dalam bekerja sehingga kondisi pekerjaanya pada umumnya di perlukan adanya hubungan sosial yang baik dengan orang lain , setiap orang harus dapat bergaul dengan teman sejawat (Arikunto,2002).

C. Polio
C. 1. Defenisi Polio adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan sebagian besar menyerang anak-anak berusia 5 tahun. Polio tidak ada obatnya, pertahanan satu-satunya adalah imunisasi. Virus polio masuk ketubuh melalui mulut, dari air atau makanan yang tercemar kotoran

10

penderita polio. Juga disebabkan kurang terjaganya kebersihan diri dan lingkungannya. Virus ini menyerang sistem syaraf dan bisa menyebabkan kelumpuhan seumur hidup dalam waktu beberapa lama. Vaksin virus polio yang telah dilemahkan ini sebagai proteksi terhadap polio suatu infeksi yang disebabkan virus gastrointesnital yang dapat mempengaruhi system syaraf dan menyebabkan kelumpuhan permanen. Vaksin ini diberikan dengan injeksi pada usia dua, empat, enam, hingga delapan bulan, dan antar usia empat sampai enam tahun. (Judarwanto, 2005). C.2. Tanda dan gejala :GEJALA KLNIS Bila virus polio sudah masuk dalam tubuh manusia, masa inkubasi sampai dengan timbulnya gejala adalah antara 4 sampai 35 hari. VPL (Vaksin Polio) dapat menimbulkan gejala sebagai berikut : 1. 2. Asimptomatik tidak menunjukkan gejala. Sakit ringan seperti flu biasa (minor illness) dengan gejala

seperti demam, perasaan tidak enak, mengantuk, sakit kepala, mual, muntah, konstipasi, dan sakit tenggorokan. 3. Meningitis aseptis (nonparalytic poliomyelitis) atau radang

selaput otak aseptis, biasanya diawali dengan gejala minor illness (1 sampai 2 hari) seperti demam, sakit tenggorokan, muntah, perasaan tidak enak kemudian diikuti kekakuan pada leher dan punggung,

11

sakit kepala, nyeri pada tungkai, punggung dan leher. Penyembuhan dapat terjadi dengan sendirinya. 4. Kelumpuhan (paralytic poliomyelitis), biasanya diawali dengan

minor illness dalam beberapa hari kemudian dengan cepat terjadi kelumpuhan yang pemanen/lumpuh layuh akut, disertai demam dan nyeri pada daerah yang lumpuh. Kelumpuhan yang terjadi biasanya tidak simetris. Kesembuhan total atau sebagian dapat terjadi dan hasil kompensasi otot yang masih berfungsi. Virus Polio Liar dapat dengan mudah menyerang pada keadaan : 1. Defisiensi imun yaitu pada anak-anak dengan status imunisasi

tidak lengkap/tidak pemah diimunisasi. 2. 3. 4. Defisiensi gizi Daerah dengan sanitasi dan hygiene yang buruk Kehamilan pada usia muda atau tua

(htttp://www.pom.obat.go.id/v2) C.3. Cara Pemberian 1. 2. Tiap botol disertai pipet. Vaksin dapat diteteskan langsung kedalam mulut anak

sebanyak 3 tetes (0,5 ml). 3. Hindari agar ujung pipet tidak tersentuh.

12

4.

Vaksin polio oral harus diberi secara oral, dan tidak boleh

diberikan secara parenteral. 5. kocok dahulu sebelum dipakai.

C.4. Jadwal Imunisasi Tabel : 2. 1 No. Umur 1 0-7 hari 2 1 bulan 3 2 bulan 4 3 bulan 5 4 bulan 6 7 bulan 7 8 bulan (Koesno,2006). C.5. Cara Penularan Polio Virus masuk melalui mulut dan hidung lalu berkembang biak di dalam tenggorokan dan saluran pencernaan atau usus. Selanjutnya, diserap dan disebarkan melalui sistem pembuluh darah dan pembuluh getah bening. Penularan virus terjadi secara langsung melalui beberapa cara, yaitu: 1. Fekal-oral (dari tinja ke mulut) Jenis Imunisasi Hepatitis B1 BCG, Polio 1 Hepatitis B2, DPT 1, Polio 2 DPT 2, Polio 3 DPT 3, Polio 4 Hepatitis B2 Campak

13

Maksudnya, melalui minuman atau makanan yang tercemar virus polio yang berasal dan tinja penderita lalu masuk ke mulut orang yang sehat.

2. Oral-oral (dari mulut ke mulut) Yaitu melalui percikan ludah atau air liur penderita yang masuk ke mulut orang sehat lainnya. Sebenarnya, kondisi suhu yang tinggi dapat cepat mematikan virus. Sebaliknya, pada keadaan beku atau suhu yang rendah justru virus dapat bertahan hidup bertahun-tahun. Ketahanan virus ini di dalam tanah dan air sangat bergantung pada kelembapan suhu dan adanya mikroba lain. Virus ini dapat bertahan lama pada air limbah dan air permukaan, bahkan dapat sampai berkilo-kilometer dari sumber penularan. Meskipun cara penularan utama adalah akibat tercemarnya

lingkungan oleh virus polio dari penderita yang terinfeksi, namun virus ini sebenarnya hidup di lingkungan yang terbatas. C.6. Efek Samping a. b. Demam Vaksin sebaiknya tidak diberikan pada anak-anak yang

alergi terhadap anti biotika neomycin, streptomycin, atau polyni xin B karena bahan tersebut dapat dipakai dalam pembuatan Vaksin.

14

C.7. Pencegahan Satu-satunya cara untuk mencegah penularan virus polio adalah dengan imunisasi. Ada 2 vaksin polio yang dikenal yaitu:

1)

OPV (Oral Polio Vaccine) Adalah virus polio yang dilemahkan dan diberikan melalui mulut

dengan cara diteteskan. OPV mengandung virus polio strain Sabin serotype 1, 2 dan 3 yang dibiakan pada kultur sel ginjal monyet, antibiotik neomisin dan streptomicyn. Untuk menjamin khasiat dan keamanan vaksin polio. Pemberian vaksin OPV sebaiknya diberikan pada anak dalam kondisi sehat, tidak boleh diberikan pada anak yang mengalami sakit gangguan kekebalan tubuh atau defisiensi imun (leukimia, HIV/AIDS dan lain-lain), anak yang mendapat obat golongan steroid jangka lama, anak yang sedang dirawat di rumah sakit. OPV diberikan pada anak-anak dengan 4 dosis terbagi (masing masing 2 tetes) sebelum usia 1 tahun yaitu pada usia 0 bulan, saat pulang dan rumah bersalin, dilanjutkan pada usia 3, 4 dan 5 bulan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan

memberikan tambahan dosis pada umur 18 bulan dan 5 tahun untuk meyakinkan anak mendapatkan dosis yang cukup. Total pemberian OPV adalah 6 dosis sebelum 5 tahun untuk mencapai dosis 15

kekebalan maksimal. OPV membentuk antibodi dalam darah, dapat mencegah penyebaran virus ke sistem saraf, dan segera dapat membentuk kekebalan lokal sementara (selama 100 hari) di usus. Setelah mendapat 4 dosis atau lebih, baru terjadi kekebalan tubuh secara menyeluruh. Sistem kekebalan tersebut akan mencegah penyebaran virus dari satu-orang ke orang lain, karena dapat mencegah multiplikasi virus polio. Keuntungan OPV adalah mudah diberikan oleh sukarelawan tidak memerlukan keahlian khusus dalam pemberiannya, tidak memerlukan peralatan suntik yang steril, relatif lebih murah, dapat digunakan dalam waktu bersamaan di daerah yang sangat luas termasuk daerah dengan kondisi sanitasi yang kurang baik. OPV dapat mencegah penyebaran virus polio liar pada daerah yang mengalami wabah (daerah KLB) polio. 2) IPV (Inactivated Polio Vaccine)

IPV ini diberikan secara suntikan hanya sedikit memberikan kekebalan lokal di usus, tetapi memberikan kekebalan yang kuat di seluruh tubuh pada orang yang telah mendapat dosis lengkap. Total dosis yang diberikan adalah 4 dosis. Diberikan pada anak yang mempunyai halangan/kontraindikasi untuk mendapat OPV, pasien di luar daerah wabah, pasien yang ragu-ragu tentang status imunisasi anak, orang dewasa yang melakukan penjalanan ke daerah KLB/wabah, pekerja laboratorium yang menangani virus polio dan

16

petugas kesehatan yang merawat pasien polio. IPV tidak dapat mencegah penyebaran virus polio karena tidak dapat mencegah terjadinya multiplikasi virus polio di usus seperti pada OPV. (pusdatin 2005 ). C.8. Pengobatan Belum ada ditemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit polio. Satu-satunya cara untuk dapat mencegah penyakit polio adalah dengan imunisasi polio sebanyak 4 kali. Dampak anak yang tidak mendapat imunisasi polio adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. Kerusakan tulang punggung. Kerusakan susunan saraf pusat (otak) Kelumpuhan.

C.9. Manfaat Imunisasi Polio a. b. c. Supaya anak sehat Supaya anak kebal Supaya anak tidak sakit

C.10. Akibat Terjadinya tidak Mendapatkan Imunisasi Polio a. Mudah terserang penyakit b. Anak menjadi lemah c. Tidak ada pengaruh

17

BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep


Adapun kerangka konsep penelitian ini yang berjudul Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Imunisasi Polio di Puskesmas Pintu Angin Tahun 2008 adalah sebagai berikut : Bagan 3.A .1 Variabel Independent ~ Umur ~ Pendidikan ~ Pekerjaan Variabel Dependent Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Polio

B. Defenisi Operasional
1. Pengetahuan

Adalah segala sesuatu yang diketahui responden tentang dampak anak yang tidak mendapat imunisasi polio, dengan ketegori : a. Baik 76%-100% (bila jumlah yang benar 16-20 dari 20 pertanyaan yang diberikan).

18

b.

Cukup 56% - 75% (bila jumlah yang benar 12-15) dari 20 pertanyaan yang diberikan).

c.

Kurang 55% (bila jumlah yang benar <11 pertanyaan). Skala ukur Alat ukur : Ordinal : Kuesioner

2.

Umur

Adalah suatu batasan yang menunjukkan lamanya kehidupan responden yang dihitung sejak lahir yang dinyatakan dalam tahun, dengan ketegori : a. 21-25 tahun b. 26-30 tahun c. 31-35 tahun d. 36-40 tahun Skala ukur Alat ukur 3. Pendidikan Adalah jenjang pendidikan formal yang pernah diselesaikan : Interval : kuesioner

responden, dengan ketegori : a. b. c. Skala ukur Pendidikan dasar : SD, SLTP dan sederajatnya Pendidikan menengah : SMA, SMK, dan sederajatnya Pendidikan tinggi : D-III, D-IV, S-I. : Ordinal 19

Alat Ukur 4. Pekerjaan

: Kuesioner

Adalah aktivitas yang dilakukan ibu untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, dengan ketegori : a. Pegawai negri sipil (PNS) b. IRT c. Wiraswsta Skala ukur Alat ukur : Nominal : Kuesioner

C. Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang imunisasi polio di Puskesmas Pintu Angin tahun 2008.

D. Lokasi dan Waktu Penelitian


D.1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di Puskesmas Pintu Angin karena lokasi tersebut mudah dijangkau dan lebih menghemat biaya, serta sampel untuk penelitian ini mencukupi di daerah tersebut. D.2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan mulai bulan April sampai Juli 2008.

20

E. Populasi dan Sampel


E.1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memberikan imunisasi yang orang. berkunjung ke Puskesmas Pintu Angin sebanyak 35

E.2. Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai anak sebanyak 35 orang dengan cara total populasi.

F. Metode Pengumpulan data


Pengumpulan data dilakukan dengan cara membagikan kuesioner kepada responden kemudian kuesioner akan dikumpulkan oleh peneliti setelah kuesioner tersebut telah di isi oleh responden .

G. Tehnik Pengolahan Data dan Analisa Data


G.1. Tehnik Pengolahan data Data terkumpul diolah dengan cara manual dengan langkah-langkah sebagai berikut : a. Editing Memeriksa data yang terkumpul bila terdapat data yang kurang maka dilakukan pengumpulan data kembali. b. Coding

21

Mengklasifikasikan jawaban responden kedalam bentuk kode yang telah ditetapkan untuk mempermudah pengolahan data. c. Tabulating Untuk mempermudah analisa data untuk dimasukkan kedalam tabel distribusi frekuensi.

G.2. Analisa Data Analisa data dilakukan secara deskriptif dengan melihat presentase data yang terkumpul dan disajikan dengan tabel distribusi frekuensi kemudian dicari dasar presentasi jawaban masing-masing responden dan selanjutnya dilakukan dengan menggunakan teori kepustakaan yang ada.

22

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian


Dari hasil penelitian yang berjudul Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Polio di Puskesmas Pintu Angin Kota Sibolga Tahun 2008 mendapatkan hasil sebagai berikut : Tabel A.1. Distribusi Pengetahuan Responden Tentang Imunisasi Polio di Puskesmas Pintu Angin Kota Sibolga Tahun 2008. No 1 2 3 Pengetahuan Baik Cukup Kurang Jumlah Jumlah 4 3 28 35 Persentase (%) 11,42 8,58 80 100%

Dari tabel A.1. dapat diketahui bahwa mayoritas responden berpengetahuan kurang yaitu sebanyak 28 orang (80%) dan minoritas berpengetahuan cukup sebanyak 3 orang (8,58%).

23

Tabel A.2. Distribusi Pengetahuan Responden Tentang Imunisasi Polio Berdasarkan Umur di Puskesmas Pintu Angin Kota Sibolga Tahun 2008. No 1 2 3 4 Umur 21 - 25 tahun 26 - 30 tahun 31 - 35 tahun 36 - 40 tahun Tingkat Pengetahuan Baik Cukup Kurang f % f % f % 2 12,5 14 87,5 2 12,5 3 18,75 11 1 2 68,75 100 100 Total f 16 16 1 2 % 100 100 100 100

Dari tabel A.2. diatas dapat diketahui mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan kurang yaitu pada umur 31-35 tahun yaitu sebanyak 1responden (100%) dan umur 36-40 tahun sebanyak 2 orang ( 100%), dan minoritas responden dengan umur 21-25 tahun dan 26-30 tahun memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak masing- masing 2 orang (12,5%).

Tabel A.3. Distribusi Pengetahuan Responden Tentang Imunisasi Polio Berdasarkan Pendidikan di Puskesmas Pintu Angin Kota Sibolga Tahun 2008. N o Pendidikan Tingkat Pengetahuan Cukup Kurang f % f % Total f %

Baik f %

24

1 2 3

Pendidikan Dasar Pendidikan Menengah Pendidikan Tinggi

100

1 2 -

5,88 14,28 -

16 12 -

94,12 85,72 -

17 14 4

100 100 100

Dari tabel A.3. dapat diketahui bahwa mayoritas responden yang memiliki pengetahuan baik yaitu yang berpendidikan Menengah sebanyak 4 orang (100%), dan minoritas responden memiliki pengetahuan cukup yang

berpendidikan Dasar sebanyak 1orang (5,88%).

Tabel A.4. Distribusi Pengetahuan Responden Tentang Imunisasi Polio Berdasarkan Pekerjaan di Puskesmas Pintu Angin Kota Sibolga Tahun 2008. No 1 2 3 Pekerjaan PNS IRT Wiraswasta Tingkat Pengetahuan Baik Cukup Kurang f % f % f % 4 100 3 15,78 16 12 84,22 100 Total f 4 19 12 % 100 100 100

Dari tabel A.4. dapat dilihat mayoritas responden memiliki pengetahuan baik yaitu pada pekerjaan sebagai PNS sebanyak 4 orang (100%) dan

pekerja wiraswsta dengan berpengetahuan kurang sebanyak 12 orang (100%), dan minoritas memiliki tingkat pengetahuan cukup yaitu pada pekerjaan IRT sebanyak 3 orang (15,78%).

25

B. Pembahasan
Dari hasil penelitian yang berjudul Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Polio di Puskesmas Pintu Angin Kota Sibolga Tahun

2008 adalah sebagai berikut :

B.1. Tingkat Pengetahuan Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden

berpengetahuan kurang yaitu sebanyak 28 orang (80%) dan minoritas berpengetahuan cukup sebanyak 3 orang (8,58%). Padahal pengetahuan ibu dapat mempengaruhi keingintahuan untuk maju dan berkembang seperti teori yang dikatakan oleh Notoadmodjo (2003) bahwa pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, pengetahuan ibu yang baik cenderung memberikan dampak yang lebih baik dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Menurut asumsi penulis dari hasil penelitian yang dilakukan mayoritas responden memiliki pengetahuan kurang. Hal ini disebabkan oleh kurang

26

informasi mengenai imunisasi polio sehingga ibu masih banyak yang belum mengetahui tentang manfaat imunisasi polio yang berfungsi untuk

memberikan ketahanan terhadap suatu penyakit.

B.2. Pengetahuan Berdasarkan Umur Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berumur 21-25 tahun pengetahuan kurang yaitu sebanyak 14 responden (87,5%) dan terdapat 1 orang (100%) dan minoritas berpengetahuan kurang pada umur 31-35 tahun. Dalam kaitannya dengan umur, maka seperti yang di kemukakan oleh manuaba dimana usia yanh ideal untuka melahirkan adalah 26-30 tahun da ibu yang berusia >35 tahun sebaiknya tidak melahirkan karena faktor fisik dan kemampuan untuk merawat anak. Semakin bertambah umur seseorang akan semakin tinggi keinginannya tentang kesehatan. Menurut asumsi penulis, hasil penelitian ini tidak ada kesenjangan antara hasil penelitian dengan teori yang ada. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu karena ibu masih berumur rendah sehingga ibu masih kurang mendapatkan informasi tentang imunisasi polio pada bayi dan tenaga kesehatan.

B.3. Pengetahuan Berdasarkan Pendidikan

27

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden bependidikan SMA yaitu sebanyak 12 orang (85,72% berpengetahuan kurang dan minoritas berpendidikan SD sebanyak 1 orang berpengetahuan cukup. Pendidikan merupakan proses menumbuh kembangkan seluruh (11,11%)

kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran sehingga dalam pendidikan itu perlu dipertimbangkan umur (proses perkembangan klien) dan hubungan dengan proses belajar. Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih menerima ide-ide dan tehnologi baru semakin meningkatnya pendidikan seseorang akan bertambah pengalaman yang mempengaruhi wawasan, dan

pengetahuan ( penelitin, pendapat, konsep konsep ), sikap persepsi serta tingkah laku kebiasan yang baru (Notoadmojo, 2003). Dalam kaitannya dengan imunisasi polio, menurut soejaningsih bahwa pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam imunisasi polio. Karena dengan pendidikan yang baik, maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar tentang pengasuhan anaknya, pendidikannya, dan sebagainya. Menurut asumsi penulis pendidikan yang tinggi yang dimiliki oleh ibu harus sejalan dengan kemauan ibu untuk mendapatkan informasi tentang imunisasi polio baik dari tenaga kesehatan atau bidan yang bertugas di tempat tersebut maupun informasi dari media cetak atau elektronik.

28

B.4. Pengetahuan Berdasarkan Pekerjaan Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden bekerja sebagai IRT yaitu sebanyak 16 orang (84,22%) berpengetahuan kurang , minoritas yang bekerja sebagai IRT sebanyak 3 orang (15,78%)

berpengetahuan cukup. Pekerjaan adalah kegiatan sehari-hari yang dilakukan ibu untuk memenuhi kebutuhannya, bila kita ingin melihat pekerjaan mayoritas dari ibu karena kemungkinan sebagian ibu bukanlah pekerja yang berpenghasilan cukup sehingga kebanyakan ibu menganggap sosial ekonomi keluarga akan mengganggu dalam pemenuhan nutrisi anaknya.Dalam sebuah bidang pada umumnya diperlakukan adanya hubungan sosial dan hubungan dengan orang yang baik, setiap orang harus bisa bergaul dengan teman sejawat maupun berhubungan dengan atasan (Notoadmojo,2003).. Menurut asumsi penulis hal ini sesuai dengan teori yaitu pekerjaan mempengaruhi pengetahuan, dimana apabila tingkat pengetahuan

responden terhadap pekerjaannya lebih baik maka pengalaman dan pengetahuan akan semakin luas pula. Menurut Hurlock ,2002 yang mengatakan bahwa kecocokan pekerjaan seseorang dan menimbulkan kepuasan dan keinginantahuan terhadap 29

sesuatu .responden yang bekerja memiliki pengetahuan yang lebih dibandingkan dengan yang tidak bekerja.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dengan judul Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Polio di Puskesmas Pintu Angin Kota Sibolga Tahun 2008 dengan jumlah responden 35 orang dan pengolahan data yang dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: A.1. Mayoritas responden berpengetahuan pengetahuan kurang sebanyak 28 orang (80%) dan minoritas berpengetahuan cukup orang (8,58%). A.2. Mayoritas responden berpengetahuan kurang yaitu pada umur 31-35 tahun sebanyak 1 responden (100%) dan umur 36-40 sebanyak 2 orang (100%) , minoritas responden dengan umur 21- 25 tahun dan 26-30 tahun memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak masing masing 2 orang (12,5%). A.3. Mayoritas responden yang memiliki pengetahuan baik yang sebanyak 3

berpendidikan Menengah sebanyak 4 orang (100%), dan minoritas

30

responden memiliki pengetahuan cukup yang berpendidikan dasar sebanyak 1 orang (5,88%). A.4. Mayoritas responden yang memiliki pengetahuan baik yaitu pada pekerjaan sebagai PNS sebanyak 4 orang (100%), dan pekerja wiraswasta dengan berpengetahuan kurang sebanyak 12 orang (100%) dan minoritas memiliki tingkat pengetahuan cukup yaitu pada pekerjaan IRT sebanyak 3 orang (15,78%).

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan dari peneliti maka saran yang diberikan adalah sebagai berikut : B.1. Bagi Ibu di Puskesmas Pintu Angin Kota Sibolga Dianjurkan kepada ibu supaya lebih banyak mencari sumber informasi atau menambah pengetahuan khususnya tentang imunisasi polio yang terjadi pada bayi dengan sering mengikuti penyuluha-penyuluhan yang diadakan oleh puskesmas. Kepada ibu yang mempunyai bayi supaya ikut serta apabila ada program imunisasi yang diadakan oleh tenaga kesehatan atau puskesmas. B.2. Bagi Petugas Kesehatan

31

Diharapkan kepada petugas kesehatan untuk dapat bekerjasama dengan keluarga dalam menjaga dan meningkatkan kepeduliannya terhadap pentingnya imunisasi polio khususnya pada bayi.

B.3. Bagi Peneliti Diharapkan kepada peneliti yang akan datang penelitian selanjutnya dikembangkan dengan menggunakan sampel yang lebih luas sehingga diperoleh lebih baik terhadap pengetahuan ibu tentang imunisasi polio.

32