Anda di halaman 1dari 29

POLIP HIDUNG

KELOMPOK 11
1.

2.
3. 4.

5.
6. 7.

8.
9.

AHMAD MUSYAFA A. ARLY IHVARICCI DEA HERAWATI DWI MARYAYU DYAN TONY ISNA WARDANI NIA WIDIYANTI NOVA HERLINDA PRAYUDI ARDIYANA

110.2000.010 110.2000.031 110.2000.047 110.2000.069 110.2000.071 110.2000.130 110.2000.181 110.2000.188 110.2000.198

ANATOMI

Definisi
Polip

hidung adalah massa lunak yang tumbuh, berwarna putih atau kebiruan yang terdapat didalam rongga hidung, dimana masa lunak tersebut berupa masa lunak yang bertangkai berbentuk bulat atau lonjong, mengkilat dan mengandung cairan.

Polip

berasal dari pembengkakan mukosa hidung yang berisi cairan interseluler dan terdorong kedalam rongga hidung oleh gaya berat dari masa polip.

Teori Etiologi dan Patogenesis


1. Teori alergi Berdasarkan frekwensi yang tinggi pada penderita alergi pernafasan. Bukti :

Adanya persamaan histologi pada polip dengan reaksi jaringan alergi terutama timbulnya oedem dan eosinofilia Adanya eosinofilia pada darah dan sekret hidung Adanya hubungan yang erat antara polip dengan sinusitis yang disertai asma, rhinitis vasomotorika, urtikaria dan exzema Hilangnya polip pada karier yang sensitive dengan cara menghindari allergen dan hipersensitisasi Pada pemeriksaan histokimia, terdapat pengumpulan reagin didalam cairan polip

2. Teori peradangan dan infeksi Polip dianggap sebagai akibat suatu infeksi bakteri atau infeksi virus jaringan kronik,

3. Teori Supurasi Sinus


Berdasarkan setelah empyema sinus disembuhkan polip tidak kambuh lagi

4. Teori Obstruksi Mekanik


Obstruksi mekanik dapat disebabkan oleh : Deviasi septum, hipertrofi dan hyperplasia konka inferior dan media

Fenomena bernaulli :
Cairan atau gas yang mengalir melalui tempat yang sempit akan mengakibatkan tekanan negative pada daerah sekitarnya yaitu menurunkan tekanan cairan ekstrvaskuler akibatnya menambah pembentukan cairan jaringan. Cairan yang berlebihan ini bila berada pada jaringan ikat longgar dibawah mukosa ethmoid anterior pembentukan polip.

5. Teori Kelainan Pembuluh Darah dan Limfe


Berdasarkan histokimia polip disebabkan perubahan pembuluh darah dalam mukosa hidung. Akibat gangguan keseimbangan vasomotor Eggstom (1947) : Serangan infeksi yang berulang-ulang menyebabkan pereflebitis dan peri limfangitis obstruksi terhadap aliran cairan interstitil kongesti oedema pada tunika propia. Bila oedema terjadi pada daerah mukosa yang mempunyai tekanan jaringan yang kecil karena bertambah berat karena pada mukosa hidung dialirkan melalui vena-vena dan pembuluh limfe kearah meatus-meatus hidung terutama meatus medius.

6. Teori penyakit kolagen


Polip hidung adalah suatu manifestasi dari penyakit kolagen karena perubahan patologisnya terdapat pada substansi mesenchymal tunica propia, yaitu adanya infiltrasi dan oedema.

7. Teori Gangguan Saraf


Struktur polip dengan mikroskop elektron dan menemukan perbedaan antara polip dengan mukosa hidung biasa, yaitu tidak adanya serabut-serabut saraf sensoris, vasomotoris dan sekreto-motoris pada polip.

Gejala Subjektif
Hidung terasa tersumbat Hiposmia atau Anosmia (gangguan penciuman) Nyeri kepala Rhinore Bersin Iritasi di hidung (terasa gatal) Post nasal drip Nyeri muka Suara bindeng Telinga terasa penuh Mendengkur Gangguan tidur Penurunan kualitas hidup

Gejala Objektif
Oedema

mukosa hidung Submukosa hipertropi dan tampak sembab Terlihat masa lunak yang berwarna putih atau kebiruan Bertangkai

Diagnosis

Ditegakkan berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik


Hidung tersumbat, dimana sumbatan bersifat menetap. Makin lama sumbatan, makin berat Pasien sering mengeluh terasa ada masa didalam hidung dan suka membuang lendir Nyeri kepala Hidung terasa gatal Pasien sering bersin Suara bindeng Mendengkur Telinga terasa penuh Gangguan tidur

PEMERIKSAAN

ANAMNESA
Apakah pasien tersebut mengalami obstruksi hidung yang disertai anosmia Kapan waktu timbulnya obstruksi Apakah obstruksi hidung dirasakan bilateral atau unilateral Apakah mengalami sakit disekitar mata Lokasi sakit kepala Apakah ada riwayat sekret hidung yang banyak dan purulen Apakah pasien hipersensitif terhadap suatu bahan tertentu Apakah pasien punya riwayat alergi tanyakan frekwensi bersin Riwayat antibiotik Apakah ada riwayat keluarga menderita alergi Apakah ada riwayat pemakain riwayat obat tetes hidung

PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan

rhinoskopi anterior Pemeriksaan rhinoskopi posterior

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Endoskopi Pemeriksaan radiologi Ct-scan Biopsi
PEMERIKSAAN

MIKROSKOPIK

Sub mukosa tampak hipertropi dan sembab Sel normal terdiri dari eosinofil limfosit dan sel plasma Pembuluh darah saraf dan kelenjar sedikit Dilapisi lapisi epitel torak bersilia berlapis semu

PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK

RHINOSKOPI ANTERIOR
Adalah pemeriksaan rongga hidung dari arah depan Alat: Lampu kepala Spekulum hidung

Hasil pemeriksaan : Bentuk-bentuk pembengkakan yang pucat multiple bilateral Polip yang besar dapat merusak dan menyebabkan pendesakan tulang hidung dan pelebaran batang hidung Terdapat sekret yang mukoid

RHINOSKOPI POSTERIOR

Pemeriksaan rongga hidung dari arah belakang dengan menggunakan kaca nasofaring Alat:

Kaca nasofaring Lampu kepala Lampu spiritus

Hasil pemeriksaan tampak:

Polip di koana dan di nasofaring Sering terdapat hipertropi di ujung posterior konka inferior Polip hidung harus dapat dibedakan dengan polipoid mukosa hidung

Perbedaan polip hidung dan polipoid mukosa Polip


Bertangkai, dapat digerakkan Konsistensi lunak Tidak nyeri bila ditekan Tidak mudah berdarah Berwarna putih kebiruan

Polipoid mukosa
Tidak bertangkai, digerakkan Konsistensi keras Nyeri pada penekanan Mudah berdarah Berwarna merah muda sukar

Tidak mengecil pada pemberian Mengecil pada vasokonstriktor (adrenalin) vasokonstriktor

pemberian

Pemeriksaan radiologi

Pengobatan

Terapi konservatif
Pemberian obat-obatan :
a. Antibiotik b. Antihistamin c. Corticosteroid dan ACTH

Pengobatan alergi

Terapi pembedahan
Pembedahan ringan Pembedahan radikal

Pembedahan ringan

Polipektomi Reseksi septum Reseksi konka media Reseksi konka inferior Kauterisasi konka inferior

Pembedahan radikal
Ethmoidektomi intranasal Ethmoidektomi eksternal Ethmoidektomi trans-antral