Anda di halaman 1dari 24

Tinjauan Pustaka

DHF

Definisi

Demam dengue (DD) merupakan penyakit dengan ciri
demam bifasik, mialgia atau atralgia, rash, leukopeni
dan limfadenopati.

DBD dibedakan dari DD berdasarkan adanya peningkatan
permeabilitas vaskuler dan bukan dari adanya
perdarahan.

Aedes albopictus.Etiologi  Virus dengue termasuk genus Flavivirus dari keluarga flaviviridae dengan ukuran 50 nm dan mengandung RNA rantai tunggal  Memiliki empat serotipe yaitu DEN-1.DEN-3 dan DEN-4.DEN-2. semuanya ada di Indonesia  Ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypty merupakan vektor epidemic. Aedes polynesiensis yang merupakan vektor sekunder dan epidemic yang di timbulkan tidak terlalu berat .

.

Patofisiologi .

Manifestasi Klinik .

Demam Dengue  Demam dengue ialah demam akut tipe bifasik dengan suhu 39-40 C selama 2-7 hari dengan dua atau lebih manifestasi .  nyeri kepala  nyeri retro-orbital  Mialgia  ruam kulit  manifestasi perdarahan  leukopenia .

.

12 .4.DBD  Pada awal perjalanan penyakit. DBD menyerupai kasus DD  Kasus DBD ditandai 4 manifestasi klinis yaitu :  Demam tinggi  Perdarahan terutama perdarahan kulit  Hepatomegali  Kegagalan peredaran darah (circulatory failure).8.7.

DSS  Pada DSS dijumpai adanya manifestasi kegagalan sirkulasi yaitu nadi lemah dan cepat. tekanan nadi menurun (<20mmHg). . kulit dingin dan lembab dan pasien tampak gelisah. hipotensi.

epistaksis. petekie.Diagnosa  Kriteria diagnosis DBD (Case definition) berdasarkan WHO 1997 ialah :  Demam tinggi mendadak tanpa sebab jelas terus menerus selama 2-7 hari  Terdapat manifestasi perdarahan termasuk uji tornikuet positif. perdarahan gusi. . ekimosis.000/l atau kurang)  Hemokonsentrasi dengan peningkatan hematokrit lebih dari 20%. hematemesis dan melena  Pembesaran hati  Syok ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi  Trombositopenia (100.

 Derajat II : Gejala yang ada pada tingkat I ditambah dengan perdarahan spontan.Stadium  Derajat I : Demam diikuti gejala tidak spesifik.  Derajat IV : Syok berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diperiksa. kulit lembab dan penderita gelisah.  Derajat III: Kegagalan sirkulasi ditandai oleh denyut nadi yang cepat dan lemah. suhu tubuh rendah.  Perdarahan bisa terjadi di kulit atau di tempat lain. . tekanan nadi menurun (<20mmHg) atau hipotensi. Satu-satunya manifestasi perdarahan adalah tes torniquet yang positif atau mudah memar.

Pemeriksaan Penunjang    Lab  Trombosit < 100.000  Hemokonsentrasi  Leukosit ↓/↑  PTT. PT memanjang Radiologi  Rontgen Thorax -> efusi pleura  USG -> asites Serologi  IgM/IgG anti dengue .

.Komplikasi  Ensefalopati dengue dapat terjadi pada DBD dengan maupun tanpa syok  kelainan Ginjal akibat syok berkepanjangan  Edema paru. akibat over loading cairan.

Penatalaksanaan  Pengobatan DBD bersifat suportif simptomatik  tujuan memperbaiki sirkulasi dan mencegah timbulnya renjatan dan timbulnya Koagulasi Intravaskuler Diseminata (KID) .

sebaiknya diberikan parasetamol  Analgesik atau sedatif ringan mungkin perlu diberikan pada pasien yang mengalami nyeri yang parah  Terapi elektrolit dan cairan secara oral dianjurkan untuk pasien yang berkeringat lebih atau muntah .DD  Tirah baring selama fase demam akut  Antipiretik atau sponging untuk menjaga suhu tbuh tetap dibawah 40 C.

 Masa kritis ialah hari sakit yang ketiga yang memperlihatkan penurunan tajam hitung trombosit dan peningkatan tajam hematokrit yang menunjukkan adanya kehilangan cairan  Kunci keberhasilan pengobatan DBD ialah ketepatan volume replacement atau penggantian volume. sehingga dapat mencegah syok .DBD  Penatalaksanaan fase demam pada DBD dan DD tidak jauh berbeda.

.

.

.

.

000/ml  Tidak dijumpai adanya distress pernafasan (akibat efusi pleura atau asidosis) .Kriteria Memulangkan Pasien  Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik  Nafsu makan membaik  Tampak perbaikan secara klinis  Hematokrit stabil  Tiga hari setelah syok teratasi  Jumlah trombosit diatas 50.

 Kemitraan untuk sosialisasi penanggulangan DBD .Pencegahan    Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)  Melakukan metode 3 M (menguras. Menutup dan Menyingkirkan tempat perindukan nyamuk) minimal 1 x seminggu bagi tiap keluarga  100% tempat penampungan air sukar dikuras diberi abate tiap 3 bulan  ABJ (angka bebas jentik) diharapkan mencapai 95% Foging Focus dan Foging Masal  Foging fokus dilakukan 2 siklus dengan radius 200 m dengan selang waktu 1 minggu  Foging masal dilakukan 2 siklus diseluruh wilayah suspek KLB dalam jangka waktu 1 bulan  Obat yang dipakai : Malation 96EC atau Fendona 30EC dengan menggunakan Swing Fog Penyelidikan Epidemiologi  Dilakukan petugas puskesmas yang terlatih dalam waktu 3x24 jam setelah menerima laporan kasus  Hasil dicatat sebagai dasar tindak lanjut penanggulangan kasus  Penyuluhan perorangan/kelompok untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

TERIMA KASIH .