Anda di halaman 1dari 20

PRESENTASI KASUS

KEJANG DEMAM
DENGAN ISPA DAN
ANEMIA DEFISIENSI
BESI
Alitha Rachma Oktavia
11.2015.025

Identitas Pasien
Nama Pasien : An. R
Tempat/tgl lahir : Jakarta, 18 Desember 2014
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur
: 1 tahun 7 bulan
Agama
: Islam
Alamat
: Diketahui

Anamnesis
Keluhan Utama :
Kejang 2 kali dalam 24 jam
Riwayat Penyakit Sekarang :
Lima hari sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami
batuk & pilek. Batuk berdahak, pasien mengalami muntah 1
kali. Dua hari SMRS, pasien mengalami demam pada saat
itu suhu pasien 38oC.
Kurang lebih 4 jam sebelum masuk rumah sakit, pasien
kejang, kejang terjadi seluruh tubuh. Tangan dan kaki pasien
kaku. Kejang berlangsung 2 kali. Durasi kejang kurang lebih
1 menit. Pada saat kejang pasien dalam keadaan panas
tinggi. Setelah kejang berhenti, pasien menangis.

Sekitar pukul 06.00 pasien panas tinggi lagi, karena


orangtua pasien takut ada kejang berulang, pasien di bawa
ke IGD RSUD Cengkareng.
Pasien sulit makan dan jarang minum. BAB dan BAK
dalam batas normal. Pasien baru sekali mengalami kejang.
Pasien tidak ada riwayat alergi obat.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien baru pertama kali mengalami hal ini
Riwayat Penyakit Keluarga :
Di keluarga tidak ada riwayat kejang

Riwayat Imunisasi
BCG, 1 kali (Usia 2 bulan)
DPT, 3 kali (Usia 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan)
Polio, 4 kali (Lahir, usia 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan)
Hepatitis B, 3 kali (Lahir, usia 1 bulan dan 6 bulan)
Campak (9 bulan)

Jadwal Imunisasi

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos Mentis
Antropometrik : PB : 82 cm ; BB : 9,5 kg
TTV
: HR : 110x/menit
RR : 28x/menit
T : 38oC

Kepala
Mata

: Normocephali, UUB datar


: Pupil isokor, CA +/+, SI -/-, Mata

cekung (-)
Telinga : Normotia, Serumen (-), Tanda radang (-)
Hidung : Septum deviasi (-), Sekret (+)
Mulut : Faring hiperemis (-), Uvula ditengah, Tonsil
T1-T1
Leher : Pembesaran KGB (-), Massa (-)
Thorax : Datar & Simetris, Retraksi (-)
- Paru : Vesikuler, rh -/-, wh -/- Jantung : BJ I-II Murni reguler, M (-), G
(-)

Abdomen : Supel, BU (+), Pembesaran organ (-), Turgor

kulit baik
Ekstremitas : Akral hangat, Sianosis (-), Edema (-)
Rangsangan Meningeal
- Kaku kuduk
: Negatif
- Brudzinsky I & II
: Negatif
- Kernig
: Negatif
- Laseque
: Negatif

Pemeriksaan Penunjang
Hematologi (08 Juni 2016)

Gambaran Darah Tepi (09/6/16)


Eritrosit :

Hemoglobin : 9,5 g/dl


Hematokrit

: 29 %
Trombosit: 287.000 /ul
Leukosit : 6.600/mm3

Mikrositik Hipokrom
Anisositosis ++
Leukosit :
Jumlah leukosit normal
Basofil : 0%
Eusinofil : 0%
Batang : 0%
Segmen : 35%
Limfosit : 55%
Monosit : 10%
Trombosit
Jumlah : Normal
Morfologi : Normal
Kesimpulan : Anemia mikrositik
hipokrom dengan anisositosis

Diagnosis Kerja
Kejang Demam Kompleks + ISPA
Anemia Defisiesi Besi

Penatalaksanaan
Medika mentosa

- IVFD Kaen I-B 500cc/hari


- Cefixime 2x35mg
- Phenitoin 2x35mg
- Paracetamol 3x1cth
Non-medika mentosa

- Pasien istirahat dan tidak melakukan aktivitas yang berlebihan


- Diet bebas
Edukasi

- Jika pasien demam segera di kompres dan diberi obat


penurun panas

Prognosis
Ad vitam

: dubia
Ad functionam : dubia
Ad sanationam : dubia

Diskusi
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada
kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 38oC) tanpa
adanya infeksi susunan saraf pusat, gangguan elektrolit
atau metabolik lain.
Pada kasus ini, didapatkan keluhan kejang sebanyak 2 kali
dalam 24 jam. Pada saat kejang terjadi seluruh tubuh
pasien kaku dan durasi kejang sekitar 1 menit. Setelah
kejang pasien menangis. Lima hari SMRS pasien
mengalami batuk pilek dan 2 hari SMRS pasien juga
mengalami demam.

Faktor resiko terjadinya kejang demam :


- Gejala infeksi saluran nafas akut/ISPA
- Infeksi saluran kemih/ISK
- Otitis media akut/ OMA
- dll

Pada pemeriksaan fisik yang ditemukan pasien sadar,

conjungtiva anemis, pada pemeriksaan rangsangan


meningeal, nervus cranialis, neurologis dalam batas
normal.
Pada pemeriksaan penunjang :
- Hb : 9,5 g/dL
- GDT : Anemia mikrositik hipokrom dengan anisositosis

Pengobatan kejang demam


Diazepam per rektal
BB < 10kg = 5mg
>10kg = 10mg
Max. 2x, jarak 5 menit

Bila kejang berhenti,


pertimbangkan rumatan :
Fenitoin 5-10mg/kgBB/hari dibagi
2 dosis
Atau
Fenobarbital 3-5 mg/kgBB/hari
dibagi 2 dosis

Diazepam 0,20,5mg/kg (IV)


(kecepatan
2mg/menit, max.
10mg)

ICU

Fenitoin 20mg/kg (IV)


(di encerkan dgn
50ml NS selama 20
menit, max. 1000mg)

Fenobarbital 20mg/kg
(IV)
(selama 5-10 menit;
max. 1000mg)

Pada kasus ini diberikan terapi rumatan berupa :


- Cefixime 2x35mg
- Phenitoin 2x35mg
- Paracetamol 3x1cth

Resume
Seorang anak laki-laki, berusia 1 tahun 7 bulan dibawa ibu nya ke
instalasi gawat darurat RSUD Cengkareng datang dengan keluhan
kejang sebanyak dua kali dalam 24 jam, batuk pilek, dan sulit makan.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan conjungtiva anemis, pemeriksaan
rangsangan meningeal dan neurologis dalam batas normal. Pada
pemeriksaan penunjang, hasil darah rutin ditemukan hemoglobin yang
rendah yaitu 9,5g/dL dan pada gambaran darah tepi ditemukan anemia
mikrositik hipokrom dengan anisositosis. Pasien di diagnosis kejang
demam kompleks dengan ISPA dan anemia defisiensi besi.
Pengobatan yang diberikan berupa obat cefixime untuk profilaksis
infeksi, Phenitoin untuk mencegah kejang, Paracetamol untuk demam,
dan suplemen besi untuk anemia defisiensi besi. Prognosis pada
pasien ini baik selama tidak ada kejang berulang kembali. Ibu pasien
diberikan edukasi agar cepat memberikan obat penurun panas saat
suhu anak > 37,5oC.

TERIMA KASIH