Anda di halaman 1dari 11

Perbandingan Metode Ceramah dengan Talking Stick Terhadap Hasil

Belajar Mahasiswa Semester IV Pada Mata Kuliah Askeb II di Akademi


Kebidanan STIKES Mitra Bunda Batam Tahun 2016

Damai Yanti, Rizqy Eka, Hamni


Efrina, Rika
PROGRAM STUDI D- IV BIDAN PENDIDIK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BATAM
TAHUN 2017

Latar Belakang
Amerika Serikat menunjukkan bahwa dalam kelompok berbasis dosen
(teacher centered learning) mulai dari ceramah, tugas membaca,
presentasi dosen dengan audiovisual dan bahkan demonstrasi oleh
dosen, mahasiswa hanya dapat mengingat materi pembelajaran
maksimal sebesar 30% (Warsono & Haryanto, 2012).
Mutu pendidikan di Indonesia sangat rendah , menempati peringkat ke
12 dari 12 negara asean dengan nilai 6,56 (The Political And
Economic Risk Consultancy , PERC)
Kualitas profesionalisme tenaga kesehatan merupakan permasalahan
pendidikan tenaga kesehatan, dilihat dari lulusan kurang memiliki
keterampilan yang di butuhkan, dikarenakan kondisi institusi
pendidikan tenaga kesehatan dan kualitas pembelajaran kurang
memadai (kepala pusat pendidikan tenaga kesehatan Depkes RI 2003)

paradigma lama dalam proses pembelajaran adalah pendidik memberi


pengetahuan secara pasif kepada mahasiswa. Kondisi pembelajaran yang
demikian masih mendominasi proses pembelajaran pada sebagian besar
jenjang pendidikan. Suatu inovasi pembelajaran telah berkembang dan
salah satu inovasi pembelajaran tersebut adalah dengan menggunakan
pembelajaran metode talking stick. Penerapan metode pembelajararan
talking stick diharapkan lebih dapat meningkatkan hasil belajar pada
mahasiswa dibandingkan dengan penerapan metode pembelajaran secara
konvensional.

Rumusan Masalah

Bagaimana perbandingan metode ceramah dengan talking stick


terhadap hasil belajar mahasiswa semester IV pada mata kuliah
Askeb II di Akademi Kebidanan Stikes Mitra Bunda Batam Tahun
2016
1. Tujuan Penelitian
a. tujuan Umum
Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk
mengetahui perbandingan metode ceramah dengan talking stick
terhadap hasil belajar mahasiswa semester IV pada mata kuliah
Askeb II di Akademi Kebidanan stikes mitra bunda batam
b. tujuan khusus
1. Untuk mengetahui kemampuan awal dan kemampuan akhir
mahasiswa semester IV pada mata kuliah Askeb II
2. Untuk mengetahui hasil belajar mahasiswa semester IV pada
mata kuliah Askeb II dengan metode ceramah
3. Untuk mengetahui hasil belajar mahasiswa semester IV pada
mata kuliah Askeb II dengan metode talking stick
4. Untuk membandingkan hasil belajar dengan metode ceramah
dan talking stick sesudah dilakukan pembelajaran

Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Memberikan bekal peneliti, sebagai calon dosen untuk lebih meningkatkan dan
memanfaatkan macam-macam metode pembelajaran secara efektif.

2. Bagi Dosen
Menambah informasi dosen mengenai seberapa jauh perbedaan metode ceramah
dengan metode talking stick terhadap hasil belajar.

3. Bagi Pendidikan
Sebagai masukan kepada institusi dalam mengambil kebijakan terkait alternativ
penggunaan metode yang digunakan dalam pembelajaran agar dapat meningkatkan kualitas
institusi

BAB II
PEMBAHASAN
A. Kedudukan Metode dalam Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi
adalah sebagai suatu proses dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Dengan teori
dan pengalaman yang dimiliki, dimana digunakan guru untuk mempersiapakan
program pengajaran dengan baik dan sistematis. Salah satu usaha yang dilakukan
dosen adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen
yang turut ikut mengambil bagian dalam pencapaian keberhasilan kegiatan belajar
mengajar (Zain & Djamarah, 2010).
Mengajar diartikan sebagai proses penyampaian informasi atau pengetahuan dari
dosen kepada mahasiswa. Pendapat Smith mengajar adalah menanamkan pengetahuan
atau keterampilan (teaching is imparting knowledge or skill). Dari pendapat diatas
disimpulkan bahwa mengajar adalah proses penyampaian informasi yang disampaikan
dosen untuk menanamkan pengetahuan atau keterampilan yang intinya mengarah pada
timbulnya keinginan belajar pada mahasiswa (Sanjaya, 2011).

Dalam menyusun rencana pengajaran salah satu unsur yang penting yang
harus diperhatikan oleh dosen adalah pemilihan metode pengajaran. Metode
mengajar adalah kesatuan langkah kerja yang dikembangkan oleh dosen
berdasarkan Universitas Sumatera Utara pertimbangan rasional tertentu,
masing-masing jenis bercorak khas dan semuanya berguna untuk mencapai
tujuan pengajaran (Sanjaya, 2011)

Metode-metode mengajar banyak jenisnya dan seorang dosen harusnya mampu


memanfaatkan metode yang ada untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran sehingga
mahasiswa lebih tertarik dan mau mengeksplor lagi kemampuan yang dimiliki. Metodemetode tersebut antara lain : metode ceramah, metode demonstrasi, metode diskusi,
metode tanya jawab, metode simulasi, metode problem solving, metode eksperimen,
metode proyek. Beberapa metode pendukung pengembangan pembelajaran kooperatif
seperti salah satu contohnya adalah metode pembelajaran talking stick (Sanjaya, 2011).

Pengertian Metode Talking


Stick Talking Stick (tongkat berbicara) adalah metode yang pada mulanya digunakan oleh
penduduk asli Amerika untuk mengajak semua orang berbicara atau menyampaikan pendapat
dalam suatu forum (pertemuan antarsuku). Pembelajaran Talking Stick adalah pembelajaran yang
mendorong peserta didik untuk mengemukakan pendapat (Rokhani 2012).
Metode talking stick mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangannya sebagaimana
dijabarkan pada penjelasan berikut.
a. Kelebihan
Mahasiswa lebih dapat memahami materi karena diawali dari penjelasan seorang dosen,
mahasiswa lebih dapat menguasai materi ajar karena ia diberikan kesempatan untuk
mempelajarinya kembali melalui buku, daya ingat lebih baik sebab ia akan ditanya kembali
tentang materi yang diterangkan dan dipelajarinya, mahasiswa tidak jenuh karena ada tongkat
sebagai peningkat daya tarik mahasiswa mengikuti pelajaran tersebut, pelajaran akan tuntas
sebab pada bagian akhir akan diberikan kesimpulan oleh dosen (Istarani, 2012).
b. Kelemahan
Membuat peserta didik minder jika dosen tidak dapat memberikan
dorongan untuk berani mengemukakan pendapat karena siswa belum
terbiasa untuk berbicara di depan umum (Rokhani, 2012).

1. Defenisi Belajar Belajar


adalah suatu proses untuk mengubah performansi yang tidak terbatas pada
keterampilan, tetapi juga meliputi fungsi-fungsi, seperti skill, persepsi, emosi, proses
berfikir, sehingga dapat menghasilkan perbaikan performansi (Riyanto, 2010).
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar
Dalam kegiatan belajar terdapat tiga persoalan pokok, yakni masukan (input),
proses, dan keluaran (output). Persoalan proses adalah mekanisme atau proses
terjadinya perubahan kemampuan pada diri subyek belajar. Dalam proses ini terjadi
pengaruh timbal balik antara fasilitator belajar, metode yang digunakan, alat bantu
belajar, dan materi atau bahan yang dipelajari. Sedangkan keluaran merupakan hasil
belajar itu sendiri, yang terdiri kemampuan baruu atau perubahan baru pada diri subyek
belajar (Notoatmodjo, 2007).
3. Proses Belajar pada Orang Dewasa
Hasil pendidikan orang dewasa adalah perubahan kemampuan,
penampilan atau perilakunya. Menurut UNESCO, pendidikan orang
dewasa, apapun isi, tingkatan dan metodenya, baik formal maupun
tidak, merupakan lanjutan atau pengganti pendidikan di sekolah
ataupun universitas