Anda di halaman 1dari 20

Akalasia esofagus

Pembimbing :
dr. Kholid Yusuf, Sp. THT-KL

OLEH:
Putra Pramudia Akbar
Arti dari istilah achalasia adalah kegagalan untuk
relaksasi, yang mana dikatakan beberapa sphincter
yang tersisa dalam tonus yang konstan dengan
periode relaksasi. Sangat baik dimengerti sebagai
gangguan motilitas esofagus.

Insiden 6/100.000 orang/tahun dan terlihat pada


wanita muda dan pria paruh baya dan begitu juga
wanita.
ANATO
MI
ESOFAG
US
Esofagus merupakan
tabung muskular, kurang
lebih 25 cm panjangnya
dengan rata-rata
diameter 2 cm, yang
memanjang dari faring
sampai lambung
Fisiologi
Normalnya, esofagus memperlihatkan dua
tipe gerakan peristaltik:
1.Peristaltik primer
2.Peristaltik sekunder
Peristaltik primer hanya merupakan
kelanjutan dari gelombang peristaltik yang
dimulai di faring dan menyebar ke esofagus
selama tahap faringeal dari proses menelan.
Peristaltik sekunder yang dihasilkan dari
peregangan esofagus oleh makanan yang
tertahan, gelombang ini terus berlanjut
sampai semua makanan dikosongkan ke
dalam lambung.
Akalasia

Akalasia ialah ketidakmampuan bagian


distal esofagus untuk relaksasi dan
peristaltik esofagus berkurang, karena di
duga terjadi inkoordinasi neuromuscular.
Akibatnya bagian proksimal dari tempat
penyempitan akan melebar dan disebut
mega esophagus
Epidemiologi
Ditemukan pada semua golongan usia
rata-rata pada rentang usia 25-60 tahun
dengan puncak insiden pada usia 40
tahun.
perbandingan jenis kelamin pria :
wanita adalah 1 : 1.
5% kasus ditemukan pada anak-anak
Dasar penyebab akalasia adalah tidak
efektifnya peristalsis esofagus bagian distal serta
gagalnya relaksasi sfingter bawah.

Penelitian menunjukkan adanya kelainan


persarafan parasimpatis berupa hilangnya sel
ganglion di dalam plexus Auerbach, yang disebut
juga pleksus mienterikus, yang diduga terjadi
akibat proses autoimun atau infeksi kronis.

(Sjamsuhidajat dkk, 2007).


Pada akalasia terdapat gangguan peristaltik
pada daerah 2/3 bawah esofagus. Tegangan
sfingter bagian bawah lebih tinggi dari
normal dan proses relaksasi pada gerak
menelan tidak sempurna.
Akibatnya esofagus bagian bawah mengalami
dilatasi hebat dan makanan tertimbun
dibagian bawah esofagus
Manifesta
si Klinis

Trias klasik dari gejala-gejala


yang tampak terdiri atas
1.Disfagia
2.Regurgitasi
3.Penurunan berat badan.
DIAGNOSA
Esofagogram akan
menunjukkan esofagus yang
berdilatasi dengan
penyempitan distal yang
disebut sebagai gambaran
paruh burung klasik (classic
birds beak) dari esofagus
yang terisi barium (Townsend
et al, 2012)
Manometri

Manometri merupakan uji


baku emas (gold standard)
untuk diagnosis dan akan
membantu mengeliminasi
gangguan motilitas esofagus
yang potensial lainnya.

Untuk menilai fungsi motorik


esofagus dengan melakukan
pemeriksaan tekanan di
dalam lumen dan spingter
esofagus
1. karsinoma esofagus
2. refluks esofagitis
3. spasme esofageal
4. eusinofilik esofagitis
Penataksanaan
Hanya bersifat paliatif
1. Diet cair / lunak dan hangat
2. Medikamentosa
KONSERVATIF Preparat kalsium
antagonis: nifedipine 10-
20 mg per oral untuk
menurunkan tekanan
SEB
Isosorbit dinitrat utuk
menurunkan tekanan
sfingter esofagus
Injeksi Batulinum toksin
Esofagotomi
OPERATIF
Dilatasi
pneumatik(ballooning)
Miotomy heller
Indikasi esofagomiotomi :

(1)masih berusia muda,

(2) mengalami kegagalan terapi farmakologis atau dilatasi balon,

(3) berisiko tinggi mengalami perforasi pada teknik dilatasi, yaitu


pasien dengan esofagus yang berkelok-kelok atau divertikula,
atau telah menjalani pembedahan untuk kelainan lain
sebelumnya, dan

(4) ingin menghindari prosedur terapi berulang. Esofagomiotomi


memberikan hasil yang memuaskan pada 95% kasus, dengan
lama perawatan rumah sakit hanya tiga hari bila dikerjakan
secara laparoskopik (Sjamsuhidajat dkk, 2007).
PROGNOSI
S

Perbaikan gejala obstruksi dapat


diperoleh pada prosedur dilatasi dan
operasi sekurang-kurangnya 85-90%
pasien.
Prosedur Heller dapat mengatasi
obstruksi namun juga dapat berakibat
pada timbulnya refluks gastroesofagus
Akalasia adalah gangguan motilitas berupa hilangnya peristaltik
esofagus dan gagalnya sfingter esofagokardia berelaksasi sehingga
makanan tertahan di esofagus.

Trias klasik dari gejala-gejala akalasia terdiri atas disfagia,


regurgitasi, dan penurunan berat badan.

Manometri merupakan uji baku emas (gold standard) untuk


diagnosis akalasia dan akan membantu mengeliminasi gangguan
motilitas esofagus yang potensial lainnya.

Tujuan utama penatalaksanaan akalasia adalah menurunkan


tahanan sfingter esofagus bagian bawah, sehingga bolus makanan
dapat turun ke dalam lambung karena gravitasi. Penurunan tahanan
sfingter dapat dicapai dengan dilatasi balon dan bedah esofagotomi.