Anda di halaman 1dari 27

Angina Pektoris tidak Stabil

McGirt Lamberth Robert Uniplaita


102011088/c8
Anamnesis
nyeri dada kiri terus-menerus sejak 40
KU:
menit yang lalu
RPS: nyeri, sejak kapan, menjalar, keluhan
penyerta
RPD: darah tinggi
RK: DM, hipertensi, jantung, obesitas,
hiperlipidemia
RO: ada atau tidak, obatnya apa
Rsos: perokok, obat
Pemeriksaan Fisik
TTV: 180/90 mmHg, HR: 90, RR: 22, suhu: afebris

Ispeksi: bntk thorax, wrna kulit, lesi, jnis pernapasan,

dada saat keadaan statis/dinamis, tampak ictus


cordis (obese IC -).
Palpasi: sela iga, benjolan, tumor, teraba ictus cordis.

Perkusi : batas paruhati, batas jantung,.

Auskultasi: Dapat ditemukan aritmia, gallop+ bahkan

mur-mur, ronkhi basah dibagian basal paru, yg


menghilang pd waktu nyeri sudah berhenti.
Pemeriksaan penunjang
EKG: T inverted (V1, V6)
Foto rontgen thorax: Belum ada hasil
Enzim jantung: Normal
DIFFERENT
DIAGNOSIS
Jenis Nyeri dada EKG Enzim Jantung

UAP Angina pada waktu Depresi segmen ST Tidak meningkat


istirahat / aktivitas
Inversi Gelombang T
ringan, crescendo
angina, bisa hilang Tidak ada

dengan nitrat gelombang Q

NSTEMI Lebih berat dan lama ( Depresi segmen ST Meningkat minimal 2x


>30 menit ), tidak dari nilai batas atas
Inversi T dalam
hilang dengan nitrat, normal
mungkin perlu opiat

STEMI Lebih berat dan lama ( Hiperakut T-Elevasi Meningkat minimal 2x


> 30 menit ) tidak segmen ST > 0,1 mV dari nilai batas atas
hilang dengan nitrat , pada 2 atau lebih normal
mungkin perlu opiat sadapan ekstremitas,
>0,2 mV pada
prekordial

Gelombang Q

Inversi Gelombang T
WORKING
DIAGNOSIS
1. Angina Pektoris
Definisi angina pektoris : nyeri hebat berasal
dari jantung, respons terhadap suplai O 2 yang
tidak adekuat ke sel miokardium.
3 jenis angina : Angina stabil, Prinzmetal
angina (varian), dan angina tidak stabil.
Pedoman Klasifikasi Pasien Menurut New York Heart
Association
Kelas I Asimtomatik dengan kativitas fisik biasa
Kelas II Simtomatik dengan kativitas fisik biasa
Kelas III Simtomatik dengan aktivitas fisik yang agak ringan
Kelas IV Simtomatik saat istirahat

Tabel 1. Pedoman Klasifikasi Pasien


Menurut New York Heart Association
(NYHA)
Tabel 2. Klasifikasi Angina menurut Canadian Cardiovascular Society
Angina Pektoris tak Stabil
Etiologi
Kekakuan atau penyempitan arteri koroner akibat
aterosklerosis
Ruptur plak aterosklerotik
Agregasi platelet
Vasokonstriksi
Epidemiologi
Penyakit jantung adalah penyebab utama
morbiditas di negara industri 80% kematian
karena penyakit jantung iskemik
Di Amerika Serikat 1 juta orang / tahun dirawat
di RS karena angina pektoris tak stabil
Patofisiologi
Ruptur plak aterosklerotik oklusi subtotal
atau total dari pemb. koroner (sebelumnya
telah ada penyempitan).
Terjadi ruptur adhesi & agregasi platelet
trombus trombus
Trombus menyumbat 100 % pembuluh darah =
STEMI
Trombus tidak menyumbat 100% pembuluh
darah = stenosis berat angina tak stabil
Agregasi platelet terbentuk thrombus
faktor sistemik dan inflamasi.
Disfungsi endotel dan bahan vasoaktif
vasokonstriksi
Gejala Klinis
Keluhan : angina untuk pertama kali atau
angina yang bertambah berat
Dapat dipicu oleh aktivitas atau timbul waktu
istirahat
Rasa nyeri seperti diikat, terasa berat, seperti
ditekan dapat menjalar
Dapat disertai sesak napas, mual, muntah
Pemeriksaan fisik sering tidak khas
Pemeriksaan Penunjang
EKG
Depresi segmen ST iskemi otot
Gelombang T negatif iskemi atau NSTEMI
Uji latih
Untuk pasien yang stabil dengan terapi
medikamentosa + beresiko tinggi
Exercise test dengan treadmill
(-) prognosis baik
(+) + depresi ST angiografi koroner
Pemeriksaan Laboratorium
Kenaikan troponin resiko kematian
CK-MB kurang spesifik
Kenaikan CRP resiko mortalilas jangka
panjang
Penatalaksanaan
Bedrest
Obat anti iskemi
Nitrat
Akut : isosorbid dinitrat sublingual atau intravena (D/ 1-4
mg per jam)
Keluhan terkendali : isosorbid dinitrat oral
Penyekat Beta
Propranolol(60 mg 4 x sehari), metoprolol(50-100 mg
3 x sehari), antenolol (10-20 mg 1 x sehari)
K.I : Asma bronchial, bradiaritmia
Antagonis Ca2+
Golongan dihidropiridin : nifedipin
Golongan nondihidropiridin : diltiazem & verapamil
Obat antiagregasi trombosit
Aspirin
Dianjurkan seumur hidup
Dosis awal : 160 mg per hari
Dosis selanjutnya : 80-325 mg per oral
Klopidogrel
Untuk pasien tidak tahan aspirin
Inhibitor Glikoprotein IIb/IIIa
Siklik heptapeptid
Tirofiban + aspirin + heparin
Abciximab untuk UA & NSTEMI dengan rencana PCI
dalam 12 jam
Antitrombin
Unfractionated Heparin
Low Molecular Weight Heparin (LMWH) subkutan
Dalteparin
Nadroparin
Enoksaparin
fodaparniux
Direct thrombin inhibitors
Hirudin
Bivalirudin
Pengganti heparin pada pasien UA yang menjalankan PCI
Tindakan revaskularisasi pembuluh koroner
iskemi berat
Refrakter terapi medikamentosa
Penyempitan 3 pembuluh darah + faal ventrikel kiri
kurang
Bedah darurat resiko mortalilas lebih tinggi
Komplikasi Angina Pektoris tak
Stabil
Infark Miokard
Kematian
Pencegahan
Hindari obesitas dan stress
Diet rendah lemak
Tidak merokok
2. Hipertensi
Peningkatan tekanan darah
Sistolik 140 mmHg
Diastolik 90 mmHg
Faktor resiko penyakit arteri koronaria &
cerebrovascular accidents
Hipertensi Primer
Mekanisme hipertensi
Terbentuknya angiotensin II dari
angiotensin I oleh angiotensin I
converting enzyme (ACE)
Dibagi menjadi 2 aksi utama :
Meningkatkan sekresi hormon
antidiuretik (ADH) dan rasa haus
Menstimulasi sekresi aldosteron dari
korteksadrenal
Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder
Peningkatan tekanan darah sebagai
akibat seseorang menderita penyakit
lain seperti :
gagal jantung
gagal ginjal
kerusakan sistem hormon tubuh
konsumsi obat-obatan
Grade Hipertensi
Penatalaksanaan
Diuretika
Penyekat reseptor beta-adrenergik
Penyekat saluran kalsium
ACE-inhibitors
Penyekat alfa-adrenergik
Prognosis UAP dan Hipertensi
Prognosis pada umumnya baik, apabila pasien
megikuti pengobatan dengan baik dan rajin,
apabila pasien malas untuk pengobatan maka
prognosisnya buruk dan berlanjut ke
komplikasi hingga kematian.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari pembahasan yang ada
pasien mengalami angina pectoris tidak stabil
karena pasien tersebut mengeluh nyeri dada
yang terus menerus dan hilang saat istirahat,
kemudian pasien menderita hipertensi
tingkat II karena hasil pemeriksaan yang
cukup tinggi 180/90 mmHg.