Anda di halaman 1dari 45

SOSIALISASI QANUN ACEH

NOMOR 7 TAHUN 2017


OLEH:
KEPALA DINAS LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
27 APRIL 2017
PENGELOLAAN SDA
Ps 156 UU RI No. 11/2006:
Pemerintah Aceh mengelola SDA, termasuk
bidang kehutanan, meliputi:
Perencanaan, Pelaksanaan, Pemanfaatan
dan Pengawasan kegiatan usaha yang dapat
berupa eksplorasi, eksploitasi dan budidaya.
LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS & YURIDIS
a. Hutan merupakan salah satu modal kehidupan yang perlu
disyukuri, dikelola dan dimanfaatkan secara optimal
untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat serta dijaga
kelestariannya sehingga dapat meningkatkan
pembangunan secara berkelanjutan baik untuk generasi
sekarang maupun generasi yang akan datang;

b. Sebagai sistem penyangga kehidupan dan sumber


kemakmuran, keberadaan hutan harus dipertahankan
dan dijaga daya dukungnya secara lestari dengan akhlak
mulia, bermartabat, adil, arif dan profesional.
LANDASAN FILOSOFI, SOSIOLOGIS & YURIDIS(LANJUTAN)
c. Berdasarkan ketentuan dalam Ps 156 UU Nomor
11/2006 tentang Pemerintahan Aceh, Pemerintah
Aceh berwenang mengelola sumber daya alam
bidang kehutanan di Aceh;
d. Berdasarkan ketentuan dalam Ps 165 ayat (3) huruf
b dan huruf f UU No 11/2006 tentang Pemerintah
Aceh, Pemerintah Aceh berhak memberikan izin
konversi kawasan hutan dan izin yang berkaitan
dengan pengelolaan dan pemanfaatan hutan.
PENGERTIAN
KAWASAN HUTAN Wilayah tertentu yang ditunjuk oleh
Pemerintah Aceh dan atau ditetapkan oleh Pemerintah untuk
dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.
HUTAN ADAT Hutan yang berada dalam wilayah masyarakat
hukum adat.
HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT DIKONVERSI (HPK) Kawasan
hutan yang secara ruang dicadangkan untuk digunakan bagi
pembangunan di luar kegiatan kehutanan.
HUTAN GAMPONG Hutan negara yang belum dibebani hak/izin
yang dikelola oleh gampong dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan
Gampong.
PENGERTIAN(Lanjutan 1)
PERAMBAHAN KAWASAN HUTAN
Kegiatan pembukaan Kawasan Hutan
dan/atau pencaplokan (aneksasi) Kawasan
Hutan dan/atau mengerjakan dan/atau
menggunakan dan/atau menduduki
(okupasi) Kawasan Hutan secara tidak sah.
PEMBALAKAN LIAR Kegiatan
pemanfaatan hasil hutan kayu dari hutan
negara berupa penebangan pohon,
pengangkutan ataupun pengolahan dengan
tujuan komersial yang dilakukan secara
tidak sah baik oleh perorangan maupun
korporasi.
PENGERTIAN(Lanjutan 2)

DAERAH ALIRAN SUNGAI


(DAS)Wilayah daratan yg
merupakan satu kesatuan dengan
sungai & anak-anak sungainya yg
dibatasi oleh batas pemisah
topografi berupa punggung bukit
atau gunung yg berfungsi
menampung air yg berasal dari curah
hujan, menyimpan dan
mengalirkannya ke danau atau laut
secara alami.
ASAS PENGELOLAAN HUTAN

a. Kekhususan Aceh;
b. Profesionalitas;
c. Manfaat dan berkelanjutan;
d. Keterbukaan;
e. Keadilan; dan
f. Akuntabilitas.
TUJUAN PENGELOLAAN HUTAN ACEH
a. Menjamin kemantapan luas dan batas kawasan hutan;
b. Mengoptimalkan aneka fungsi hutan, baik fungsi konservasi,
fungsi lindung maupun fungsi produksi secara seimbang dan
lestari;
c. Meningkatkan daya dukung DAS utk kelangsungan
pembangunan;
d. Meningkatkan kemampuan dan kapasitas keberdayaan
masyarakat secara partisipatif dan berwawasan lingkungan;
e. Mengoptimalkan distribusi manfaat hutan yang berkeadilan
KEWENANGAN PEMERINTAH ACEH DALAM
PENGATURAN & PENGURUSAN HUTAN
a. Mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dgn
Hutan, Kawasan Hutan, dan Hasil Hutan:
b. Merencanakan penunjukan atau penetapan wilayah tertentu
sebagai Kawasan Hutan atau Kawasan Hutan sebagai bukan
Kawasan Hutan; dan
c. Mengatur dan menetapkan hubungan hukum antara orang
dengan hutan, serta mengatur perbuatan hukum mengenai
kehutanan.
PENUNJUKAN/PENETAPAN KAWASAN HUTAN
Berdasarkan statusnya Hutan Terdiri atas:
a. Hutan Negara meliputi semua hutan yang berada pada
tanah yang tidak dibebani hak atas tanah.
b. Hutan Hak Hutan yang mempunyai fungsi konservasi
dan/atau lindung dapat diubah statusnya menajdi Hutan
Negara;
c. Hutan Adat diberikan kepada masyarakat hukum adat
sepanjang kenyataannya masih ada, yang keberadaannya
ditetapkan secara hukum & dikelola sesuai dengan prinsip
pengelolaan hutan lestari.
PENUNJUKAN/PENETAPAN KAWASAN HUTAN(Lanjutan 1)

Berdasarkan fungsi pokoknya kawasan Hutan terdiri atas:


a. Hutan Konservasi
b. Hutan Hak
c. Hutan Adat
Pemerintah Aceh dapat menunjuk dan menetapkan Kawasan
Hutan baru sesuai dengan fungsi pokok hutan.
Pemerintah Aceh dapat mengusulkan perubahan peruntukan
dan fungsi Kawasan Hutan setelah mendapat persetujuan
DPRA.
PENUNJUKAN/PENETAPAN KAWASAN HUTAN(Lanjutan 2)

Pemerintah Aceh dapat menunjuk Kawasan Hutan Tertentu


untuk Tujuan Khusus (KHDTK) dengan tidak mengubah
fungsi pokok Kawasan Hutannya yang diperlukan bagi
kepentingan umum, seperti:
a. Penelitian dan pengembangan;
b. Pendidikan dan pelatihan;
c. Penempatan sementara satwa yang dilindungi;
d. Percontohan budidaya kehutanan dan penyuluhan;
dan/atau
e. Agama, budaya dan kearifan lokal Aceh.
HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT DIKONVERSI (HPK)
Konversi Kawsan Hutan untuk pembangunan di luar
kegiatan kehutanan hanya dapat dilakukan pada
kawasan HPK.
Perubahan fungsi kawasan HPK dilakukan melalui
pelepasan Kawasan Hutan oleh Gubernur setelah
mendapat pertimbangan teknis dari Dinas.
Selain pada kawasan HPK, areal hutan negara yang
tidak ditetapkan sebagai kawasan hutan atau kawasan
lindung dapat dilakukan konversi untuk kepentingan
pembangunan.
ARAHAN FUNGSI HUTAN DALAM TATA RUANG
Pelaksanaan pembangunan yang berada di dalam kawasan
hutan dilakukan dengan berpedoman pada rencana
pembangunan dan RTRWA.
Arahan fungsi hutan di dalam RTRWA menjadi acuan dalam
penyediaan tanah dan pemanfaatan ruang untuk
pembangunan.
Pemerintah Pusat, Pemerintah Aceh dan Pemerintah
Kabupaten/Kota wajib mengelola, melindungi, memelihara
dan melestarikan kawasan lindung, baik yang berada di
dalam maupun di luar Kawasan Hutan.
PENGELOLAAN HUTAN
Pengelolaan hutan, meliputi:
a. Perencanaan kehutanan;
b. Pemanfaatan hutan dan perizinan kehutanan;
c. Penggunaan kawasan hutan;
d. Rehabilitasi hutan dan lahan;
e. Perlindungan hutan dan konservasi alam;
f. Industry primer hasil hutan;
g. Penelitian, pengembangan dan penyuluhan kehutanan;
h. Peran serta masyarakat;
i. Peredaran dan pemasaran hasil hutan; dan
j. Pembinaan, pengawasan dan pengendalian.
PENGELOLAAN HUTAN(Lanjutan)

Pengelolaan Hutan wajib memenuhi norma dan standar


pengelolaan hutan secara lestari yang ditetapkan oleh
Pemerintah Pusat.
Tanah hak dan tanah negara di luar Kawasan Hutan di
dalam KEL dikelola sesuai dengan fungsinya sebagaimana
ditentukan di dalam RTRWA.
PENATAAN BATAS KAWASAN HUTAN
Penataan batas merupakan penegasan batas Kawasan
Hutan untuk memberikan kepastian hukum atas Kawasan
Hutan, kegiatannya meliputi:

1. Penataan batas luar dan batas fungsi Kawasan Hutan;


2. Rekontruksi batas Kawasan Hutan:
3. Pemberian tanda batas Kawasan Hutan; dan
4. Pemeliharaan batas Kawasan Hutan.
PENATAAN BATAS KAWASAN HUTAN(Lanjutan)
Pemerintah Aceh wajib menyediakan anggaran
untuk penataan batas Kawasan Hutan.
Kawasan hutan yang sudah ditetapkan tetapi
belum ditata batas atau sudah pernah ditata
batas tetapi tanda fisik batas Kawasan Hutan di
lapangan tidak ditemukan lagi, penentuan batas
Kawasan Hutan dapat dilakukan melalui titik-titik
koordinat pada peta Kawasan Hutan Aceh oleh
Dinas.
PENATAGUNAAN KAWASAN HUTAN
Kegiatan penatagunaan kawasan hutan
meliputi:
Penetapan fungsi Kawasan Hutan;

Pemanfaatan dan Penggunaan Kawasan


Hutan.
PEMANFAATAN HUTAN
Pemanfaatan hutan dapat dilakukan pada
semua kawasan hutan, kecuali:
Cagar Alam;
Zona Inti dan Zona Rimba pada Taman
Nasional;
Blok Perlindungan Mutlak pada TAHURA.
PERIZINAN KEHUTANAN
Kegiatan pemanfaatan hutan pada Hutan Lindung dan Hutan
Produksi diselenggarakan melalui pemberian izin oleh Gubernur
setelah mendapatkan rekomendasi dari Dinas dan Dinas terkait
sesuai kewenangannya.
Izin pemanfaatan hutan pada Hutan Lindung terdiri atas:
a. Izin Usaha Pemanfaatan Kawasan (IUPK);
b. Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan (IUPJL);
c. Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan;
d. Izin Usaha Pemanfaatan Air (IUPA) atau Energi Air (IUPEA)
e. Izin Pemunguan hasil hutan bukan kayu.
PERIZINAN KEHUTANAN(Lanjutan 1)
Izin pemanfaatan hutan pada Hutan Produksi terdiri atas:
a. IUPK;
b. IUPJL;
c. Izin Usaha pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Alam
(IUPHHK-HA);
d. Izin Usaha pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman
(IUPHHK-HT);
e. Izin Usaha pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman
Rakyat (IUPHHK-HTR);
f. Izin Usaha pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Gampong
(IUPHHK-HG);
PERIZINAN KEHUTANAN(Lanjutan 2)

g. Izin Usaha pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu


(IUPHHBK);
h. IUPA atau IUPEA;
i. Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi
Ekosistem;
j. Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu Hutan
Kemasyarakatan (IUPHH-Hkm); dan
k. Izin Pemungutan Hasil Hutan Kayu dan Bukan Kayu (IPHHK
dan IPHHBK).
KEWENANGAN PEMBERIAN IZIN

Semua izin yang diberikan Gubernur


dikeluarkan setelah mendapat rekomendasi Dinas.
Pencadangan areal utk pengembangan HTR pada
tanah negara diterbitkan oleh Gubernur.
Izin pengelolaan Hutan Gampong atau nama lain
diberikan oleh Gubernur melalui tahapan izin
sementara selama 3 (tiga) tahun dan dapat
diperpanjang setelah dilakukan evaluasi oleh
Dinas.
IZIN MEMASUKI KAWASAN HUTAN
Meliputi;
Penjelajahan untuk melihat atau mengetahui Keberadaan satwa liar,
kondisi topografi dan aliran sungai;
Survey ttg SDH, jalur jelajah, dan potensi wisata alam;
Penelitian utk pengembangan ilmu pengetahuan;
Penyelidikan umum SDA utk mengetahui kondisi awal keadaan
lingkungan SDA di lapangan.

Izin dikeluarkan oleh Kepala Dinas untuk jangka waktu 3 (tiga) bulan
setelah mendapat rekomendasi dari KPH setempat dengan syarat tidak
mengambil sampel (ruah) dan tidak menebang Pohon
KERJASAMA PENGELOLAAN HUTAN
Selain melalui mekanisme perizinan untuk
mengoptimalkan pengelolaan hutan dan
pemberdayaan masyarakat di sekitar Kawasan Hutan,
Dinas melalui KPH dapat melakukan kerjasama
pengelolaan hutan dan atau
pemanfaatan/pemungutan hasil hutan dengan pihak
lain.
Dalam hal kerjasama ini Dinas menetapkan kontribusi
dengan besaran 5% s.d 30% dari estimasi harga
penjualan.
PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN
Penggunaan Kawasan Hutan diluar kegiatan kehutanan hanya
dapat dilakukan untuk kepentingan pembangunan
strategis untuk publik yang tidak dapat dielakkan,
meliputi kegiatan;
a. Kepentingan agama dan pendidikan;
b. Pertambangan:
c. Instalasi pembangkit, transmisi& distribusi listrik serta
teknologi energy baru dan terbarukan;
d. Pembangunan jaringan telekomunikasi, stasiun pemancara
radio dan stasiun relay televise;
e. Jalan umum, jalan tol, jalur kereta api dan pelabuhan;
PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN(lanjutan)

f. Sarana dan prasarana sumberdaya air, pembangunan


jaringan instalasi dan saluran air bersih dan atau air limbah;
g. Fasltas umum;
h. Sarana dan prasarana pengelohan sampah;
i. Pertahanan dan keamanan;
j. Prasarana penunjang keselamatan umum, prasarana mitigasi
bencana; dan atau
k. Penampungan sementara korban bencana alam.
REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN
Rehabilitasi hutan dan lahan dimaksudkan untuk
memulihkan, mempertahankan dan
meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya
dukung, produktivitas dan peranannya dalam
mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga.
Dilaksanakan berdasarkan kondisi spesifik biofisik
setempat.
Diutamakan pelaksanaannya melalui pendekatan
partisipatif dalam rangka mengembangkan potensi dan
memberdayakan masyarakat
REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN(lanjutan)

Kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan meliputi:


a. Reboisasi;
b. Penghijauan;
c. Pemeliharaan tanaman;
d. Pengayaan tanaman atau restorasi;
e. Penerapan teknik konservasi tanah secara vegetative dan
sipil teknis; dan/atau
f. Reklamasi hutan.
PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM
Penyelenggaraan perlindungan hutan dan
konservasi alam bertujuan agar fungsi lindung,
fungsi konservasi dan fungsi produksi tercapai
secara optimal dan lestari.
Pemerintah Aceh mengatur perlindungan hutan,
baik di dalam maupun di luar Kawasan Hutan.
Penyelenggaraan kegiatan perlindungan hutan
harus didahului dengan upaya pencegahan.
PERAMBAHAN KAWASAN HUTAN
Setiap orang dilarang melakukan perambahan kawasan hutan, dalam
bentuk:
a. Melakukan dan atau memfasilitasi pencaplokan (aneksi) kawasan
hutan dan atau mengerjakan dan atau menggarap dan atau
menduduki (okupasi) dan atau menguasai KH secara tidak sah;
b. Memperjualbelikan KH;
c. Menyuruh dan atau mendanai penggarapan kawasan hutan secara
tidak sah, secara langsung/tidak langsung;
d. Melindungi pelaku, membantu atau ikut serta kegiatan perambahan
KH;
e. Membawa alat-alat berat dan atau alat-alat lainnya yang digunakan
untuk melakukan kegiatan perkebunan dan atau mengangkut hasil
kebun di dlm KH tanpa izin dari pejabat berwenang.
PERAMBAHAN KAWASAN HUTAN(lanjutan 1)

f. Melakukan kegiatan perkebunan, mengangkut dan atau


menerima titipan hasil perkebunan yang berasal dari kegiatan
perkebunan di dlm KH tanpa izin dari pejabat yg berwenang;
g. Menjual, menguasai, memiliki dan atau menyimpan, membeli,
memasarkan dan atau mengolah hasil kebun dari kegiatan
perkebunan di dlm KH tanpa izin dari pejabat yg berwenang;
h. Menyuruh, mengorganisasi, atau menggerakkan, ikut serta
melakukan atau membantu menduduki KH secara tidak sah;
i. Mencegah, merintangi, dan atau menggagalkan secara langsung
maupun tidak langsung upaya pemberantasan perambahan KH;
PERAMBAHAN KAWASAN HUTAN(lanjutan 2)
j. Mencoba menghalang-halangi dan atau menggagalkan
penyelidikan, penyidikan, penuntutan atau pemeriksaan thd
kegiatan yang diduga merupakan perambahan KH.
k. Melakukan intimidasi dan atau ancaman terhadap keselamatan
petugas yang melakukan pencegahan dan pemberantasan
perambahan KH;
l. Memalsukan surat izin dan atau menggunakan surat izin palsu
untuk pembukaan KH.
m. Menjual atau memperjualbelikan tanah yang berada di dlm KH;
dan/atau
n. Mengeluarkan surat keterangan tanah atau titel hak atas tanah
yang berada di dlm KH.
PEMBALAKAN LIAR
Setiap orang dilarang melakukan pembalakan liar, dalam
bentuk:
a. Melakukan penebangan pohon dalam KH tanpa izin yang
sah dan/atau tidak sesuai dengan izin yang diberikan;
b. Memuat, membongkar, mengeluarkan, mengangkut,
menguasai dan/atau memiliki hasil penebangan pohon dari
KH tanpa izin yang sah;
c. Melakukan dan/atau memfasilitasi atau turut memfasilitasi
penebangan pohon atau memanen atau memungut hasil
hutan berupa kayu di dlm KH tanpa memiliki hak atau izin
dari pejabat berwenang;
PEMBALAKAN LIAR(lanjutan 1)

d. Mengoperasikan alat-alat yang dapat digunakan untuk


menebang, memotong, atau membelah pohon atau menarik
atau mengangkut kayu atau merubah bentang alam di dalam
KH tanpa izin;
e. Mengorganisasi, menggerakkan, ikut serta melakukan
dan/atau membantu terjadinya pembalkan liar;
f. Menyuruh dan/atau mendanai pembalakan liar secara
langsung/tidak langsung;
g. Mengubah dan/atau menyamarkan status kayu hasil
pembalakan liar seolah-olh menjadi kayu yang sah;
PEMBALAKAN LIAR(lanjutan 2)
h. Mengolah, menampung dan/atau memanfaatkan kayu hasil
pembalakan liar dengan mengubah bentuk dan ukuran kayu,
termasuk pemanfaatan limbahnya;
i. Mencegah, merintangi dan/atau menggagalkan secara langsung
dan tidak langsung upaya pemberantasan pembalakan liar;
j. Melakukan intimidasi dan atau ancaman terhadap keselamatan
petugas yang melakukan pencegahan dan pemberantasan
pembalakan liar;
k. Memalsukan surat izin dan atau menggunakan surat izin palsu
untuk pemanfaatan hasil hutan kayu; dan/atau
l. Melindungi pelaku pembalakan liar atau ikut serta atau
membantu kegiatan pembalakan liar.
PEREDARAN HASIL HUTAN ILEGAL
Setiap orang dilarang melakukan peredaran hasil hutan ilegal, dalam
bentuk:
a. Mengedarkan, mengangkut, memasarkan, memanfaatkan dan
atau menggunakan hasil hutan kayu yang berasal dari
pembalakan liar;
b. Mengangkut, menguasai atau memiliki hasil hutan yang tdk
dilengkapi bersama-sama dengan dokumen resmi yang berfungsi
sebagai surat keterangan sahnya hasil hutan;
c. Menerima, menampung, menerima titipan, membeli, memiliki
dan/atau menjual hasil hutan kayu yang berasal dari pembalakan
liar;
d. Menggunakan kayu yang berasal dari hasil pembalakan liar untuk
kegiatan pembangunan yang dibiayai oleh Pemerintah Pusat.
PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN SECARA ILEGAL

Setiap orang dilarang melakukan penggunaan kawasan hutan


secara ilegal, dalam bentuk:
a. Melakukan kegiatan penyelidikan umum atau eksplorasi atau
memproduksi bahan tambang tanpa memiliki izin dari pejabat
berwenang;
b. Mendirikan bangunan permanen/fasilitas umum di dalam
Kawasan Hutan tanpa memiliki izin dari pejabat berwenang;
c. Melakukan kegiatan penambangan di dlm KH mengangkut,
menerma titipan, menjual, menguasai, memiliki dan/atau
menyimpan hasil tambang yg berasal dari kegiatan
penambangan di dlm KH tanpa memiliki izin dari pejabat
berwenang
PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN SECARA ILEGAL(lanjutan)

d. Membeli, memasarkan dan/atau mengolah hasil tambang dari


kegiatan penambangan di dalam KH;
e. Membawa alat-alat berat dan/atau alat-alat lain yg lazim atau
patut diduga akan digunakan untuk melakukan kegiatan
penambangan dan/atau mengangkut hasil tambang di dlm KH
tanpa memiliki izin dari pejabat berwenang;
f. Melakukan survey potensi SDA di dalam KH tanpa memiliki izin
dari pejabat berwenang;
g. Menggunakan KH di luar kegiatan kehutanan tanpa memiliki izin
dari pejabat berwenang.
PENGRUSAKAN KAWASAN HUTAN
Setiap orang dilarang melakukan pengrusakan kawasan
hutan, dalam bentuk
a. Membuang benda-benda ke dalam hutan yg dpt
menyebabkan kebakaran dan kerusakan serta
membahayakan keberadaan atau kelangsungan fungsi
hutan;
b. Melakukan dan/atau memfasilitasi atau turut
memfasilitasi pembakaran hutan dan/atau pembukaan
KH dan/atau pembukaan jalan di dlm KH tanpa
memiliki izin dari pejabat berwenang;
PENGRUSAKAN KAWASAN HUTAN(lanjutan)
c. Mengembalakan ternak di dalam KH yang tidak
ditunjuk khusus maksud tersebut oleh pejabat
berwenang;
d. Merusak sarana dan prasarana perlindungan
dan pengolahan hutan; dan/atau
e. Merusak memindahkan, atau menghilangkan
pal atau tanda batas kawasan hutan.
PEMBINAAN, PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN
Maksud untuk mencermati, menelusuri dan menilai
pelaksanaan pengelolaan hutan yang sudah atau sedang
berjalan, sehingga tujuannya dapat tercapai secara
maksimal dan sekaligus menjadi umpan balik bagi
perbaikan dan/atau penyempurnaan.

Semua aktivitas yang menggunakan KH sebagai


objek atau tempat melaksanakan kegiatan atau program
wajib berkoordinasi dengan DINAS.
TERIMA KASIH