Anda di halaman 1dari 32

PRESENTASI KASUS

Combustio Grade 2

Pembimbing: dr. M. Relly Sofian, Sp.B


Disusun: Steven (406152088)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RUMAH SAKIT UMUM CIAWI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
TARUMANAGARA
PERIODE 5 JUNI 19 AGUSTUS 2017
IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. A
Umur : 32tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : KP. Cibedug
Pekerjaan : Usaha Warung
Agama : Islam
Tanggal masuk RS : 15 Juni 2017
ANAMNESA
Auto-anamnesa pada tanggal 14 Juni 2017
KELUHAN UTAMA
Kulit wajah, kedua lengan, dan kaki kiri melepuh
karena terkena api sejak delapan jam sebelum
masuk rumah sakit.
Riwayat Penyakit Sekarang:
8 jam SMRS, pasien sedang melayani pembeli di
warungnya. Tiba-tiba kompor minyak tanah dari
dalam warung meledak dan menyambar bensin yang
juga dijual di warung tersebut. Pada saat api mulai
menyambar warung, pasien berusaha keluar warung
sambil berlari. Namun pasien tetap tersambar api
walaupun sangat sebentar. Terkurung dalam ruangan
(-), menghirup asap (-), sesak nafas (-), terbentur di
kepala (-), pingsan (-), pusing (-), mual (-), muntah (-)
Pasien kemudian dibawa ke Puskesmas
terdekat dan diberi perawatan luka dengan
menggunakan salep, kemudian dirujuk ke
RSUD Ciawi dan diberikan perawatan luka
(diberi MEBO & kassa kering) dan obat suntik
(Antibiotik, ATS/TT).
Riwayat Penyakit Dahulu:
Hipertensi, DM, asma, alergi obat disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga: -
STATUS GENERALIS
Kesadaran compos mentis, BB 55 kg
Primary survey
A : Bebas, bulu hidung tidak terbakar
B : Spontan, frekuensi nafas 20x/menit, reguler,
kedalaman cukup
C : Akral hangat, CRT < 2, tekanan darah
100/80 mmHg, frekuensi nadi 112x/menit, suhu
afebris
D : GCS 15, E4M6V5
Secondary survey

Kepala&wajah : deformitas (-), tampak bula pada sisi


kiri wajah, bibir edema (+)
Mata : kelopak atas mata kiri edema (+) dan
tidak dapat dibuka, konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik
Leher : pembesaran KGB (-)
THT : sekret (-)
Dada : simetris dalam diam dan pergerakan
Jantung : BJ I & II normal, murmur (-), gallop (-)
Paru : vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-
Abdomen : datar, lemas, NT (-), tdk teraba massa,
BU (+) normal, H/L ttb
Ekstremitas : lihat status lokalis
Status Lokalis
Kepala dan leher : 4 %
Trunkus anterior : 0 %
Trunkus posterior : 0 %
Ext. atas kanan : 2 %
Ext. atas kiri: 3 %
Ext. bawah kanan : 0 %
Ext. bawah kiri : 2 %
Genitalia :0%+
Total : 11 %
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Lab: Hb, Ht, Leukosit, Trombosit, Laktat, GDS,
Ureum, Creatinin, SGOT/SGPT, Albumin,
Elektrolit (K, Na, Cl), AGD
Foto Thorax PA
EKG
RESUME
Telah diperiksa perempuan usia 32 tahun, datang
dengan kulit wajah, kedua lengan, dan kaki kiri
melepuh karena terkena api 8 jam SMRS. Keluhan
disertai nyeri kedua lengan, wajah, dan kaki kiri.
Hasil PF didapatkan:
Wajah: Bula a/r fasialis dextra, bibir edema
Mata: palpebra superior et inferior edema dan tidak
dapat dibuka
Total persentase luka bakar 11 %
DIAGNOSIS KERJA
Combustio grade 2 a/r Facial, ante brachii
dextra et sinistra, pedis sinistra
TATALAKSANA
Pro rawat ULB
IVFD : Hes 6% 12 tts/menit
Nacl 3% 500 ml/24 jam
Peptamen 6x100 mL
Oralit 2x200 mL
Rawat luka dengan madu
Pethidin 1 mg/kg/drip
PROGNOSA
Ad Vitam : ad bonam
Ad Functionam : ad bonam
Ad Sanationam : ad bonam
DEFINISI
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan
atau kehilangan jaringan yang disebabkan
kontak dengan sumber panas seperti api, air
panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi.
ETIOLOGI
Paparan api Aliran listrik
Flame Zat kimia
Benda panas (kontak) Radiasi
Scalds (air panas) Sunburn
Uap panas
Gas panas
KLASIFIKASI LUKA BAKAR
Derajat I
Kerusakan terbatas pada
bagian epidermis
Kulit kering, eritema
Nyeri
Tidak ada bula
Derajat II
Meliputi epidermis dan
sebagian dermis
Terdapat proses eksudasi
Ada bula
Dasar luka berwarna
merah/pucat
Nyeri
Derajat III
Kerusakan meliputi
seluruh dermis dan
lapisan yg lebih dalam
Tidak ada bula
Kulit berwarna abu-abu
dan pucat
Kering
Terdapat eskar
Tidak nyeri
LUAS LUKA BAKAR
Beberapa metode untuk menentukan luas luka
bakar:
Estimasi menggunakan luas permukaan
palmar pasien. Luas telapak tangan = 1% luas
permukaan tubuh.
Rumus 9 atau rule of nine
untuk orang dewasa
Luas kepala dan leher,
dada, punggung, pinggang
dan bokong, ekstremitas
atas kanan, ekstremitas
atas kiri, paha kanan, paha
kiri, tungkai dan kaki
kanan, serta tungkai dan
kaki kiri masing-masing
9%.
Daerah genitalia = 1%.
PEMBAGIAN LUKA BAKAR
Luka bakar berat (major burn)
Derajat II-III > 20 % pada pasien berusia di bawah 10 tahun
atau di atas usia 50 tahun
Derajat II-III > 25 % pada kelompok usia selain disebutkan
pada butir pertama
Luka bakar pada muka, telinga, tangan, kaki, dan perineum
Adanya cedera pada jalan nafas (cedera inhalasi) tanpa
memperhitungkan luas luka bakar
Luka bakar listrik tegangan tinggi
Disertai trauma lainnya
Pasien-pasien dengan resiko tinggi
Luka bakar sedang (moderate burn)
Luka bakar dengan luas 15 25 % pada dewasa, dengan
luka bakar derajat III kurang dari 10 %
Luka bakar dengan luas 10 20 % pada anak usia < 10
tahun atau dewasa > 40 tahun, dengan luka bakar derajat III
kurang dari 10 %
Luka bakar dengan derajat III < 10 % pada anak maupun
dewasa yang tidak mengenai muka, tangan, kaki, dan
perineum
Luka bakar ringan
Luka bakar dengan luas < 15 % pada dewasa
Luka bakar dengan luas < 10 % pada anak dan usia lanjut
Luka bakar dengan luas < 2 % pada segala usia (tidak
mengenai muka, tangan, kaki, dan perineum
PATOFISIOLOGI
PD yg terpajan suhu tinggi rusak& permeabilitas
sel darah rusak anemia
Permeabilitas edema bula yang mengandung
banyak elektrolit volume cairan intravaskuler
Kerusakan kulit akibat luka bakar cairan akibat
penguapan yang berlebihan, masuknya cairan ke
bula yang terbentuk pada luka bakar derajat II, dan
pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat
III.
FASE LUKA BAKAR
Fase awal, fase akut, fase syok
Gangguan pada saluran nafas akibat eskar melingkar di dada atau
trauma multipel di rongga toraks; dan gangguan sirkulasi seperti
keseimbangan cairan elektrolit, syok hipovolemia.
Fase setelah syok berakhir, fase sub akut
Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) dan Multi-
system Organ Dysfunction Syndrome (MODS) dan sepsis.
Fase lanjut
Berlangsung setelah penutupan luka sampai terjadinya maturasi
jaringan. Masalah yang dihadapi adalah penyulit dari luka bakar
seperti parut hipertrofik, kontraktur dan deformitas lain
Pembagian zona kerusakan jaringan
Zona koagulasi, zona nekrosis (Daerah yang
lsg mgalami kerusakan)
Zona statis
Daerah yang berada disekitar zona koagulasi
Kerusakan endotel p. darah, trombosit, leukosit
gangguan perfusi (no flow phenomena) -->
perubahan permeabilitas kapiler dan respon
inflamasi lokal
12-24 jam pasca cedera
Zona hiperemi
Daerah diluar zona statis
Vasodilatasi, reaksi sellular (-)

Epidermis
Zona Koagulasi

Dermis
Zona Statis

Zona Hiperemi
Jaringan Sub-Kutis
TATALAKSANA RESUSITASI
Tatalaksana resusitasi jalan nafas:
Intubasi
Krikotiroidotomi (terlalu agresif dan menimbulkan morbiditas
lebih besar dibanding intubasi)
Pemberian oksigen 100%
Perawatan jalan nafas
Penghisapan sekret (secara berkala)
Pemberian terapi inhalasi
Bilasan bronkoalveolar
Perawatan rehabilitatif untuk respirasi
Eskarotomi pada dinding toraks memperbaiki kompliansi paru
Cara Baxter
Luas luka bakar (%) x BB (kg) x 4 mL

Separuh dari jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama.


Sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada hari kedua
diberikan setengah jumlah cairan hari pertama. Pada hari
ketiga diberikan setengah jumlah cairan hari kedua.
Terapi pembedahan pada luka bakar
Eksisi dini tindakan pembuangan jaringan
nekrosis dan debris (debridement) yang
dilakukan dalam waktu < 7 hari pasca cedera
termis. Untuk mengatasi kasus luka bakar derajat
II dalam dan derajat III. Tindakan ini diikuti
tindakan hemostasis dan juga skin grafting
(dianjurkan split thickness skin grafting).
Eksisi dini terdiri dari eksisi tangensial dan eksisi
fasial
PROGNOSIS
Prognosis dan penanganan luka bakar tergantung:
Dalam dan luasnya permukaan luka bakar
Penanganan sejak awal hingga penyembuhan
Letak daerah yang terbakar
Usia dan keadaan kesehatan penderita
Penyulit juga mempengaruhi progonosis pasien.
Penyulit yang timbul pada luka bakar: gagal ginjal akut,
edema paru, SIRS, infeksi dan sepsis, serta parut
hipertrofik dan kontraktur.