Anda di halaman 1dari 14

Tutor :

Dr. Hengki Setyahadi, Sp.B

SEPSIS DAN SIRS

Felani Dwijayanti
03011100

Koas Bedah Universitas Trisakti


Rumah Sakit TNI AL Dr. Mintohardjo
SIRS
Systemic Inflammatory Response Syndrome
Bentuk respon klinis sistemik terhadap berbagai
stimulus klinis berat seperti akibat infeksi maupun
maupun non infeksi.
SIRS
Infeksi : bakteri, virus, jamur, endotoksin dan
eksotoksin.
Noninfeksi : trauma , autoimun
Kriteria SIRS bila didapati 2 manifestasi berikut :
Suhu tubuh yang abnormal (>38C atau <36C)
Takikardi (>90x/mnt)

Takipnoe (>20 x/mnt) atau PaCo2(<32mmHg)

Leukositosis (>12000/mm3), leukopeni(<4000/mm3)


atau >10% netrofil dalam bentuk immature

(Kriteria menurut American College of Chest Physicians (ACCP) dan Society of


Critical Care Medicine (SCCM))
Patofisiologi

Stage I

Produksi sitokin lokal memicu respon inflamasi lokal

Stage II

Sitokin lokal dilepaskan ke sirkulasi

Stage III
SEPSIS
Merupakan sindroma respons inflamasi sistemik
(systemic inflammatory response syndrome) dengan
etiologi mikroba yang terbukti atau dicurigai.
SEPSIS
Gejala Umum:
Suhu tubuh yang abnormal (>38C atau <36C)
Takikardi

Takipnoe

Asidosis metabolik
SEPSIS
Inflamasi
Leukositosis(Hitung sel darah putih > 12.000 L 1)
Leukopeni (Hitung sel darah putih < 4000 L 1 )

Hitung sel darah putih normal dengan lebih dari 10%


ditemukan bentuk imatur
C-reactive protein plasma lebih dari dua standar
deviasi diatas nilai normal

Disfungsi organ
Sepsis berkembang dalam tiga tahap:
Uncomplicated sepsis, disebabkan oleh infeksi, seperti
flu atau abses gigi. Hal ini sangat umum dan biasanya
tidak memerlukan perawatan rumah sakit.

Sepsis berat, terjadi ketika respons tubuh terhadap


infeksi sudah mulai mengganggu fungsi organ-organ
vital, seperti jantung, ginjal, paru-paru atau hati.

Syok septik, terjadi pada kasus sepsis yang parah,


ketika tekanan darah turun ke tingkat yang sangat
rendah dan menyebabkan organ vital tidak
mendapatkan oksigen yang cukup.
International Guidelines for Management of Severe Sepsis and Septic Shock 2012
Memperbaiki hemodinamik pada syok sepsis

Terapi cairan
Karena syok septik disertai demam, vasodilatasi, dan diffuse
capillary leakage, preload menjadi inadekuat sehingga terapi
cairan merupakn tindakan utama.
Terapi vasopressor
Bila cairan tidak dapat mengatasi cardiac output (arterial
pressure dan organ perfusion adekuat). Vasopressor potensial:
nor epinephrine, dopamine, epinephrine, phenylephrine.
Terapi inotropik
Bila resusitasi cairan adekuat, kebanyakan pasien syok septik
mengalami hiperdinamik, tetapi kontraktilitas miokardium yang
dinilai dari ejection fraction mengalami gangguan. Kebanyakan
pasien mengalami penurunan cardiac output, sehingga
diperlukan inotropic: dobutamine, dopamine, dan epinephrine
Tujuan fisiologis selama 6 jam pertama resusitasi

Tekanan vena sentral (CVP) 8-12mmHg


Tekanan arterial rata-rata (MAP) 65mmHg
Saturasi oksigen vena sentral (SavO2) 70%
Urine output 0,5ml/kg/jam (menggunakan
transfusi, agen inotropik, dan oksigen tambahan
dengan atau tanpa ventilasi mekanik)
TERIMA KASIH