Anda di halaman 1dari 8

Disalin oleh: Rahma Nafila Fitri Sabrina (16/397510/GE/08389)

Universitas Gadjah Mada


2017

TUGAS PAI (FAK. GEOGRAFI)


ADAB BERJALAN RASULULLAH
Salah satu kesempurnaan jasmani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu cara
beliau berjalan dengan mengayunkan kedua kakinya.
Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki langkah yang mantap, postur yang tegap, kuat,
layaknya orang yang berjalan menuruni perbukitan dari arah ketinggian.
SAHABAT ANAS RADHIYALLAHU ANHU,
MENCERITAKAN :
َ ‫ش ْع ُرَهُ لَي‬
َ‫ْس‬ َ ََ‫ن َو َكان‬َ‫سنََ ْال هج ْس هَم أ َ ْس َم ََر اللَ ْو ه‬
َ ‫ير َح‬ ‫ل هب ْالقَ ه‬
َ‫ص ه‬ ََ ‫ل ََو‬ َ ‫ْس هب‬
َ‫الط هوي ه‬ ََ ‫سلّ ََم َر ْبعَةَ لَي‬ َ ‫صلَى‬
َ ‫للاُ َعلَ ْي هَه َو‬ َ‫ل َه‬
َ ‫ّللا‬ ُ ‫َكانََ َر‬
َُ ‫سو‬
ُ ‫سبْطَ هإ َذا َمشَى يَت َ َو َكَأ‬َ ‫ل‬ ََ ‫هب َج ْعدَ َو‬
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam orangnya berpostur sedang, tidak tinggi
ataupun pendek, fisiknya bagus. Warna (kulitnya) kecoklatan. Rambutnya tidak
keriting, juga tidak lurus. Apabila berjalan, beliau berjalan dengan tegak. [Hadits
shahîh, Mukhtashar asy-Syamâil no. 2].
KATA SAHABAT ‘ALI RADHIYALLAHU ANHU :
َ‫ير‬‫ص ه‬ ‫ل هب ْالَقَ ه‬
ََ ‫ل َو‬ َ ‫سلّ ََم هب‬
َ‫الط هوي ه‬ َ ‫صلَى‬
َ ‫للاُ َعلَ ْي هَه َو‬ َ‫ل َه‬
َ ‫ّللا‬ َُ ‫سو‬ َْ ‫صبَبَ لَ َْم …لَ َْم يَ ُك‬
ُ ‫ن َر‬ َ ‫ن‬ ََ ‫هإ َذا َمشَى ت َ َكفََأ َ ت َ َكفُّؤا َكأَنَ َما اَْن َح‬
َْ ‫ط هم‬
ََ ‫أ َ ََر قَ ْبلَ َهُ َو‬
ُ‫ل بَ ْع َدَه‬
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , orangnya tidak tinggi juga tidak pendek
(sekali). Jika melangkah, beliau berjalan dengan tegak layaknya orang yang sedang
menapaki jalan menurun. Aku belum pernah melihat orang seperti beliau sebelum
atau setelahnya. [Hadits shahîh, Mukhtashar asy-Syamâil no. 4].
Maknanya, beliau mengangkat ke dua kakinya dari permukaan tanah dengan
tarikan yang kuat, namun tetap santun, tidak menunjukkan kesombongan.
Cara berjalan seperti itu merupakan gaya langkah orang-orang yang memiliki
tekad tinggi, bercita-cita luhur lagi gagah-berani.
Selain itu, cara berjalan seperti itu merupakan cara berjalan yang baik dan
memberikan perasaan paling nyaman bagi anggota tubuh.
Sebaliknya, gaya berjalan yang sangat lamban hingga gerakannya bak batang
pohon yang dipikul saking beratnya, kurang semangat dalam bergerak, bak orang
mati, cara demikian ini tercela.
Begitu pula dengan cara berjalan yang terlalu cepat, tak beraturan tanpa
perhitungan, juga merupakan cara berjalan yang buruk, menunjukkan orang tersebut
kurang akalnya.
Apalagi bila sembari dengan sering menengok ke kanan atau ke kiri. [1]
ASY-SYIFÂ` BINTI ‘ABDILLAH YANG PERNAH MENYAKSIKAN SEJUMLAH
PEMUDA YANG BERJALAN DENGAN LAMBAT

Asy-Syifâ` : “Siapakah mereka itu?”


Orang-orang : “Mereka adalah para ahli ibadah,”
Asy-Syifâ` :“Dulu, demi Allah, Jika Umar berbicara, suaranya terdengar.
Jika berjalan, ia cepat. Dan jika memukul, membuat orang kesakitan. Dan beliau
itulah (contoh) ahli ibadah sebenarnya”.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XI/1428H/2008M. Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl9 Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016 dan dari website
https://almanhaj.or.id/3792-berjalan-ala-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-
sallam.html]
_______
Footnote
[1]. Lihat Ibnul Qayyim dalam Zâdul-Ma’âd, 1/167.