Anda di halaman 1dari 25

FUNGSI KOGNITIF PASIEN USIA LANJUT DENGAN HIPERTENSI

DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KELURAHAN MANGGARAI


SELATAN

Penyusun
dr. Hoiriyah

Pembimbing
dr. Sri Sudewi Handayani
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jumlah Lansia terus meningkat

Hipertensi merupakan penyakit dengan


jumlah penderita terbanyak di Indonesia,
terutama pada lansia

Di Indonesia termasuk dalam


penambahan jumlah lansia
yang tergolong cepat.
Usia 45-54 tahun 22,5%
Multipatologi dan gangguan
Penurunan fungsi Kognitif Perubahan atau penuaan struktur otak Usia 55-64 tahun 27,9%
fungsional
Sensus tahun 2000 14.4 juta Usia ≥65 tahun 29,3%
jiwa, tahun 2010 23,9 juta jiwa
dan diperkirakan tahun 2020
28,8 juta jiwa
Di wilayah kerja Puskesmas Manggarai
Selatan Hipertensi menduduki peringkat
pertama dengan jumlah kunjungan
Di wilayah kerja Puskesmas terbanyak.

Gangguan
Manggarai Selatan terdapat
128 Lansia

kualitas hidup
BAB III
PENETAPAN PRIORITAS MASALAH DAN
PENYEBAB MASALAH

3.1 Prioritas Masalah


Metode Delbecq
Non-Scoring
Technique
Metode Delphi

Prioritas Masalah
Metode Bryant

Metode Matematik
Scoring Technique
PAHO

Metode MCUA
(Multiple Criteria
Utility Assessment)
BAB III
PENETAPAN PRIORITAS MASALAH DAN
PENYEBAB MASALAH

3.2 ANALISIS MASALAH

Jumlah Lansia ↑, Indonesia tergolong peningkatan jumlah lansia tercepat didunia.


Jumlah Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Manggarai Selatan 128 orang.

Prioritas Masalah:
Prevalensi hipertensi didunia sebanyak 40%. Di DKI prevalensi hipertensi 20%. Di
wilayah kerja Puskesmas Manggarai Selatan hipertensi menduduki peringkat Tidak Terlaksananya Deteksi
pertama jumlah kunjungan terbanyak ditahun 2017 sebanyak 6.577 kali kunjungan. Dini Gangguan Kognitif Pada
Pasien Lansia dengan
Usia lanjut dan hipertensi merupakan faktor risiko penyebab gangguan kognitif, Hipertensi
dimana jika seseorang terkena gangguan kognitif maka kualitas hidupnya akan
menurun.
Di Puskesmas Manggarai Selatan tidak ditemukan data baik manual maupun elektronik
mengenai jumlah penderita gangguan fungsi kognitif.
BAB III
PENETAPAN PRIORITAS MASALAH DAN
PENYEBAB MASALAH

3.3 Menentukan Kemungkinan Penyebab Masalah


BAB III
PENETAPAN PRIORITAS MASALAH DAN
PENYEBAB MASALAH

3.4 Menentukan Penyebab Masalah yang Paling Dominan

Tidak ada alokasi


Kurangnya
dana khusus untuk
Sumber Daya
deteksi dini
Manusia
gangguan kognitif.

Tidak adanya tempat dan


waktu khusus untuk deteksi
dini gangguan kognitif.
BAB IV
MENETAPKAN ALTERNATIF CARA PEMECAHAN MASALAH

4. 1 Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah

Metode MCUA

Waktu penerapan
sampai masalah Ketersediaan sumber
Mudah dilaksanakan. Murah biayanya.
terpecahkan tidak daya.
lama.
BAB IV
MENETAPKAN ALTERNATIF CARA PEMECAHAN MASALAH

Alternatif Pemecahan Masalah

Akar Penyebab Masalah Alternatif Pemecahan Masalah


Kurangnya SDM Deteksi dini diadakan bersamaan dengan program lain di
puskesmas ex. Prolanis dan Posyandu Lansia

Tidak ada alokasi dana khusus untuk deteksi dini Saran membuat anggaran alokasi dana khusus untuk
gangguan kognitif melaksanakan deteksi dini gangguan kognitif

Tidak adanya tempat dan waktu khusus untuk deteksi Tempat dan waktu bias diadakan bersamaan dengan
dini gangguan kognitif program lain puskesmas ex. Prolanis dan Posyandu Lansia
BAB IV
MENETAPKAN ALTERNATIF CARA PEMECAHAN MASALAH

MCUA Alternatif Pemecahan Masalah

No Parameter Bobot AL-1 AL-2 AL-3


N BN N BN N BN
Keterangan :
•AL 1 : Deteksi dini diadakan bersamaan
1 Mudah dilaksanakan 3 3 9 2 6 3 9
dengan program lain di puskesmas ex.
2 Murah biayanya 2 2 4 2 4 2 4 Prolanis dan Posyandu Lansia.
3 Waktu penerapan tidak 1 3 3 1 1 3 3 •AL 2 : Saran membuat anggaran alokasi dana
untuk khusus untuk deteksi dini gangguan
lama kognitif.
4 Ketersediaan sumber 4 3 12 2 8 3 12 •AL 3 : Deteksi dini diadakan bersamaan
dengan program lain di puskesmas ex.
daya
Prolanis dan Posyandu Lansia.
Jumlah 28 18 28
BAB IV
MENETAPKAN ALTERNATIF CARA PEMECAHAN MASALAH

4.2 Rencana Intervensi


NO Akar penyebab masalah Alternatif Pemecahan masalah Rencana Intervensi

1 Kurangnya SDM Deteksi dini diadakan bersamaan den Melakukan deteksi dini gangguan kognitif pasien
gan program lain di puskesmas ex. lansia dengan hipertensi menggunakan MMSE pada
Prolanis dan Posyandu Lansia acara prolanis.

2 Tidak adanya tempat dan waktu khusus Deteksi dini diadakan bersamaan den Melakukan deteksi dini gangguan kognitif pasien
untuk deteksi dini gangguan kognitif gan program lain di puskesmas ex. lansia dengan hipertensi menggunakan MMSE pada a
Prolanis dan Posyandu Lansia cara prolanis.

3 Tidak adanya alokasi dana khusus untuk Saran membuat anggaran alokasi Memberikan saran kepada Kepala Puskesmas Kelurah
deteksi dini gangguan kognitif dana untuk khusus untuk deteksi an Manggarai Selatan untuk mengalokasikan dana
dini gangguan kognitif. untuk kegiatan deteksi dini gangguan kognitif.
BAB IV
MENETAPKAN ALTERNATIF CARA PEMECAHAN MASALAH

Rencana Intervensi Yang Di Pilih

Melakukan deteksi dini gangguan kognitif pasien lansia


dengan hipertensi menggunakan MMSE pada acara
prolanis.
BAB IV
MENETAPKAN ALTERNATIF CARA PEMECAHAN MASALAH

4.3. Menetapkan Kegiatan Operasional

Konsep acara: Persiapan Waktu : Setiap acara Tempat : Mengikuti


dan Pelaksanaan prolanis Kegiatan Prolanis
BAB IV
MENETAPKAN ALTERNATIF CARA PEMECAHAN MASALAH

4.4.Timeline (GanttChart)
Bulan
No. Kegiatan
1 2 3 4
1. Perencanaan
Identifikasi kasus di puskesmas
Penetapan kasus yang akan diint
ervensi
Identifikasi faktor penyebab
Perencanaan intervensi
2. Pelaksanaan
Mengadakan pengecekan MMS
E
3. Evaluasi
Memberikan edukasi senam ota
k pada pasien prolanis
4. Pengolahan data
Pengolahan data MMSE
BAB V
HASIL FOLLOW UP

Perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan pada pasien prolanis


puskesmas manggarai selatan yang mengikuti MMSE
BAB V
HASIL FOLLOW UP

Sebaran Usia Pada Pasien Prolanis Puskesmas Manggarai Selatan.


BAB V
HASIL FOLLOW UP

Pendidikan terakhir pasien Prolanis Puskesmas manggarai Selatan.


BAB V
HASIL FOLLOW UP

Hasil MMSE Berdasarkan Usia.


BAB VI
HASIL FOLLOW UP

Hasil MMSE.

Normal Probable Definite

0%

45%

55%
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
Hasil Fishbone
Kurangnya SDM
Alternatif Pemecahan Masalah
Area Masalah Tidak adanya alokasi dana khusus untuk
Deteksi dini diadakan bersamaan dengan
melakukan deteksi dini gangguan kognitif
“Tidak Terlaksananya Deteksi Dini Gangguan program lain di puskesmas ex. Prolanis dan
pada pasien lansia dengan hipertensi
Kognitif Pada Pasien Lansia dengan Posyandu Lansia
Hipertensi” Tidak adanya tempat dan waktu khusus
Saran membuat anggaran alokasi dana untuk
untuk melakukan deteksi dini gangguan
khusus untuk deteksi dini gangguan kognitif.
kognitif pada pasien lansia dengan hipertensi

Hasil Follow UP
a. Perbandingan jenis kelamin pada pasien prolanis puskesmas manggarai
selatan didapatkan bahwa jumlah wanita lebih tinggi daripada laki-laki.
b. Sebaran umur terbanyak pada pasien prolanis puskesmas manggarai
Intervensi selatan yaitu pada rentang 61-70 tahun.
Melakukan deteksi dini gangguan kognitif c. Pendidikan terakhir dari pasien prolanis puskesmas manggarai selatan
pasien lansia dengan hipertensi menggunakan terbanyak SMA.
MMSE pada acara prolanis d. Hasil MMSE peserta prolanis secara keseluruhan yaitu:
1. Normal 55%
2. Probable 45%
3. Definite 0%
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

SARAN Bagi Pasien Prolanis


•Melakukan senam otak jika ada waktu senggang
atau setidaknya setiap kali prolanis.
Intervensi Pemecahan Masalah •Mengurangi konsumsi garam pada kehidupan
sehari-sehari.
Menyediakan alokasi dana khusus untuk deteksi
dini gangguan kognitif pada lansia dengan •Rutin berolahraga ringan minimal seminggu 3
hipertensi. kali selama 20-30 menit
•Kendalikan stress dan istirahat yang cukup
karena hal ini dapat mempengaruhi tekanan
darah.

Bagi Puskesmas Manggarai Selatan


Melanjutkan dan memperluas deteksi dini
gangguan kognitif dengan MMSE bagi lansia
dengan hipertensi
DAFTAR PUSTAKA

– Badan Pusat Statistik. Data Statistik Indonesia:Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur, Jenis Kelamin,Provinsi, dan Kabupaten/kota. 2010.
– Nehlig, A. Is Caffeine a Cognitive Enhancer?.Journal of Alzheimer Disease 20:S85-S94.2010.
– Chobanian AV, Bakris GL, Black HR, Cushman WC, Green LA, Izzo JL, et al. Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood P
ressure. Hypertension. 2003; 42: 1206–52.
– Cowley AW Jr. The genetic dissection of essential hypertension. Nat Rev Genet. 2006 Nov; 7(11):829–40. [PMID: 17033627].
– Chobanian AV, Bakris GL, Black HR, Cushman WC, Green LA, Izzo JL et al. The eighth report of the joint national comimitte on prevention, detection, evaluation, and treatment of high blood pr
essure. Diunduh dari http://www.nhlbi.nih.gov/files/docs/guidel ines/jnc7full.pdf, 7 November 2014.
– Brashers VL. Aplikasi klinis patofisiologi: pemeriksaan dan manajemen. Jakarta: EGC; 2007. h.1-7.
– World Health Organization (WHO). A Global Brief on Hypertension: Silent Killer, Global Public Health Crisis [Internet]. 2013 [diakses pada 15 Maret 2018]. Tersedia dari: http://chronicconditio
ns.thehealthwell.info/search-results/global-brief-hypertension-silent-killer-global-public-health-crisis?source=relatedblock
– Setiawan, Zamhir. Karakteristik sosiodemografi sebagai faktor resiko hipertensi studi ekologi di pulau Jawa tahun 2004 [Tesis].Jakarta: Program Studi Epidemiologi Program Pasca Sarjana FKM
-UI; 2006.
– Hasurungan, JA.Faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada lansia di Kota Depok tahun 2002 [Tesis]. Jakarta:Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia; 2002.
– Thomas M. Habermann, , Amit K. Ghosh. Mayo Clinic Internal Medicine Concise Textbook. 1st edition. Canada: Mayo Foundation for Medical Education and Research: 2008.
– Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular Departemen Kesehatan RI. Pedoman Teknis Penemuan dan Tatalaksana Penyakit Hipertensi. 2006.
– Norman M. Kaplan. Kaplan's Clinical Hypertension 9th edition. Philadelphia, USA: Lippincott Williams & Wilkins: 2006.
– Horacio J, Nicolaos E. Sodium and Potassium in the Pathogenesis of Hypertension. N Engl J Med 2007; 356: 1966-78.
– Rahajeng E, Tuminah S. Prevalensi Hipertensi dan Determinannya di Indonesia. Majalah Kedokteran Indonesia: 2009; 59 (12): 580-7.
– Kasper, Braunwald, Fauci, et al. Harrison’s principles of internal medicine 17th edition. New York: McGrawHill: 2008.
– Kenning I, Kerandi H, Luehr D, Margolis K, O’Connor P, Pereira C, Schlichte A, Woolley T. Institute for Clinical Systems Improvement. Hypertension Diagnosis and Treatment. Updated Novemb
er 2014.
– James PA, Oparil S, Carter BL et al. 2014 Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure in Adults Report From the Panel Members Appointed to the Eighth Joint Nation
al Committee (JNC 8). JAMA: 2013.
– Basuki B, Setianto B. Age, body posture, daily working load – past antihypertensive drugs and risk of hypertension: a rural Indonesia study. Med J Indon. 2001; 10(1): 29-33.
– Kaplan NM. Clinical hypertension. 8th ed. Lippincott: Williams & Wilkins; 2002.
– Sharp S, Aarsland D, Day S, Sonnesyn H, Ballard C. Hypertension is a potential risk factor for vascular dementia: systemic review. International Journal of Geriatric Psychiatry. 2011;26(7):661-9.
– Riset Kesehatan Dasar Nasional. 2007. Tersedia pada: http://www.who.int/cardiovascular_diseases/publications/global_brief_hypertension/e n/
DOKUMENTASI
DOKUMENTASI
MMSE

Pedoman Skor kognitif global :


Nilai: 24 -30 : Normal
Nilai: 17-23 : Probable
Nilai: 0-16 : Definite