Anda di halaman 1dari 48

Perdarahan M.

Anis Fikhry Wajdi


Uterus 1108260007
Abnormal
Definisi
Gangguan haid atau disebut dengan perdarahan
uterus abnormal. Pendarahan Uterus Abnormal
(PUA) adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan semua kelainan haid baik dalam
hal jumlah maupun lamanya.

Manifestasi klinisnya dapat berupa


pendarahan dalam jumlah yang banyak
atau sedikit, dan haid yang memanjang
atau tidak beraturan.
Anatomi
Fisiologi dan Siklus Haid
Haid normal adalah suatu
Haid dinilai
proses fisiologis dimana
berdasarkan
terjadi pengeluaran Tiga hal
darah, mucus (lendir) dan
seluler debris dari uterus Siklus
secara periodik dengan
interval waktu tertentu
yang terjadi sejak menars Jumlah
sampai menopause Lama darah
Siklus Haid
Penyebab PUA
Lesi Permukaan
pada Traktus Lesi Dalam Penyakit Medis Sistemik
Genital

• Mioma uteri, • Adenomiosis Gangguan hemostasis :


• Polip difus, mioma • penyakit von
endometrium uteri, hipertrofi Willebrand,
• Hyperplasia myometrium • gangguan factor II, V,
endometrium • Endometriosis VII, VIII, IX, XII,
• Adenokarsinoma
• Melformasi • trombositopenia,
endometrium,
sarcoma arteri vena • gangguan platelets
• Infeksi pada pada uterus
serviks, Penyakit tiroid, hepar,
endometrium dan gagal ginjal, disfungsi
Gangguan hipotalamus
uterus kelenjar adrenal, SLE,
• Kanker serviks, hipofisis : adenoma,
polip prolatinoma, stress,
• Trauma olah raga berlebih
Patofisiologi

• Siklus berovulasi
Perdarahan teratur dan banyak
terutama pada tiga hari pertama siklus
haid. Penyebab perdarahan adalah
terganggunya mekanisme hemostasis
lokal di endometrium.
• Siklus tidak berovulasi
Perdarahan tidak teratur dan siklus haid
memanjang disebabkan oleh gangguan pada
poros hipothalamus-hipofisis-ovarium. Adanya
siklus tidak berovulasi menyebabkan efek
estrogen tidak terlawan (unopposed estrogen)
terhadap endometrium. Proliferasi endometrium
terjadi secara berlebihan hingga tidak mendapat
aliran darah yang cukup kemudian mengalami
iskemia dan dilepaskan dari stratum basal.
• Efek samping penggunaan kontrasepsi
Dosis estrogen yang rendah dalam
kandungan pil kontrasepsi kombinasi (PKK)
menyebabkan integritas endometrium tidak
mampu dipertahankan. Progestin menyebabkan
endometrium mengalami atrofi. Kedua kondisi ini
dapat menyebabkan perdarahan bercak.
Sedangkan pada pengguna alat kontrasepsi dalam
rahim (AKDR) kebanyakan perdarahan terjadi
karena endometritis.
Klasifikasi
Pendarahan haid yang banyak
sehingga perlu dilakukan
penanganan segera untuk mencegah
Akut kehilangan darah

Klasifikasi PUA Kronik Merupakan


berdasarkan pendarahan uterus
yang telah terjadi lebih
jenis dari 3 bulan.
pendarahan
Merupakan pendarahan haid yang
Pendaraha terjadi diantara 2 siklus haid yang
teratur. Pendarahan dapat terjadi
n Tengah kapan saja atau dapat juga terjadi di
waktu yang sama setiap siklus
Klasifikasi
Lama dan Siklus Haid
Jumlah Darah Gangguan Haid

Hipomenore Polimenorea Oligomenorea


Hipermenorea
a
Haid Haid dengan
Haid dengan Haid dengan
dengan siklus yang
jumlah darah siklus yang
jumlah lebih pendek
banyak dan / lebih
darah lebih dari normal
atau durasi panjang dari
sedikit dan yaitu < 21
lebih lama normal yaitu
/atau durasi hari.
dari normal Aminorea > 35 hari.
lebih
dengan siklus
pendek dari
yang normal
normal. •Tidak terjadi haid sampai usia 14 tahun
teratur. •Tidak terjadi haid sampai usia 16 tahun
•Tidak terjadi haid sedikitnya selama 3 bulan
berturut-turut pada perempuan yang pernah
haid
Diagnosis
Anamnesis
Perlu ditanyakan bagaimana mulainya
perdarahan, apakah didahului oleh siklus
memanjang, oligomenorea/ amenorea, sifat
perdarahan (banyak atau sedikit), lama
perdarahan dan sebagainya.

Jangan lupa menyingkirkan adanya


kehamilan/kegagalan kehamilan pada
perempuan usia reproduksi

Penyebab iatrogenic juga harus dievaluasi


termasuk di dalamnya adalah pemakaian
obat hormone, kontrasepsi, antikoagulan,
sistostika, kortikosteroid dan obat herbal
Pemeriksaan Pemeriksaan
Fisik Ginekologi

Pemeriksaan umum
ditujukan untuk mengetahui Pemeriksaan ginekologi dilakukan
kemungkinan kelainan yang untuk menyingkirkan kalinan
menjadi penyebab organik yang dapat menyebabkan
perdarahan perdarahan uterus abnormal.
Missalnya mioma uteri, polip serviks,
Periksa Indeks massa tubuh (IMT > 27 ulkus, trauma, erosi, tumor maupun
termasuk obesitas), tanda-tanda keganasan
hiperandrogen, pembesaran kelenjar tiroid
atau manifestasi hipo / hipertiroid,
galaktorea (kelainan hiperprolaktinemia),
gangguan lapang pandang yang mungkin
suatu sebab adeno hipofisis, icterus,
hepatomegaly
Pemeriksaan
Penunjang
Penatalaksanaan
Penanganan
Hemodinamik
Pertama

Tidak Stabil Stabil

RUJUK

Segera lakukan
penanganan untuk
menghentikan
perdarahan
Perdarahan Remaja dengan gangguan
koagulopati
akut dan
banyak Dewasa dengan
mioma uteri

Dilatasi Pemakaian obat


dan Medikamentosa antikoagulansia
kuretas
e
Terdapat beberapa
macam obat hormon yang
Tidak mutlak dilakukan, hanya bila dapat dipakai untuk
ada kecurigaan keganasan dan terapi Perdarahan uterus
kegagalan terapi medikamentosa. abnormal
Perdarahan uterus abnormal dengan
risiko keganasan yaitu bila usia > 35
tahun, obesitas dan siklus anovulasi
kronik. Next
Kombinasi Estrogen Progestin Estrogen

Terapi estrogen dapat diberikan dalam


Perdarahan akut dan banyak
2 bentuk, iv dan oral. Tetapi sedian iv
biasanya akan membaik bila diobati
sulit didapatkan di Indonesia.
dengan kombinasi estrogen dan
progesteron dalam bentuk pil
kontrasepsi. Pemberian estrogen oral dosis tinggi
cukup efektif untuk mengatasi
Perdarahan uterus abnormal, yaitu
Dosis dimulai dengan 2 x 1 tablet
estrogen konjugasi dengan dosis 1,25
selama 5 – 7 hari dan setelah terjadi
mg atau 17β estradiol2 mg setiap 6 jam
perdarahan lucut dilanjutkan 1 x 1
selama 24 jam.
tablet selama 3 – 6 siklus.
Setelah perdarahan
berhenti dilanjutkan
Dapat pula diberikan dengan dosis tapering 4 x 1 tablet dengan pemberian pil
selama 4 hari, dosis diturunkan menjadi 3 x 1 tablet kontrasepsi kombinasi
selama 3 hari, 2 x 1 tablet selama 2 hari, 1 x1 tablet
selama 3 minggu kemudian berhenti tanpa obat selama 1
minggu, dilanjutkan dengan pil kombinasi 1 x 1 tablet
selama 3 siklus.
Progestin

Progestin dilakukan selama 14 hari


kemudian berhenti tanpa obat selama 14
hari, diulang selama 3 bulan. Progestin
diberikan apabila ada kontraindikasi
terhadap estrogen. Tersedia beberapa
sedian progestin oral yang bias
digunakan yaitu Medroksi progesterone
asetat (MPA) dengan dosis 2 x 10 mg,
norestiteron asetat 2 x 5 mg,
didrogesteron 2 x 10 mg dan
normegestrol asetat 2 x 5 mg
Perdarahan
Ireguler Periksa TSH :
evaluasi
penyakit
hipertiroid
Perdarahan ireguler dapat dalam bentuk dan hipotiroid
metroragia, menometroragia,
oligomenorea, perdarahan yang Lakukan PAP smear,
memanjang yang sudah terjadi dalam bila didapatkan
hitungan minggu atau bulan perdarahan
pascasenggama

Bila curiga atau terdapat


risiko keganasan
endometrium: lakukan
biposi endometrium dan Periksa prolactin :
pertimbangan untuk bila ada
melakukan pemeriksaan oligomenorea atau
dengan USG transvagina. hipomenorea
Perdarahan
Ireguler

Progestin Kombinasi
Estrogen
Progestin
Berikan pil kontrasepsi
kombinasi dosis 1 x 1 Bila terdapat kontraindikasi terhadap
tablet sehari secara siklik pil kontrasepsi kombinasi dapat
diberikan progestin, missalnya MPA
selama 3 bulan
10 mg 1x1 tablet perhari. Pengobatan
dilakukan selama 14 hari dan
dihentikan selama 14 hari.
Bila pengobatan Pengobatan diulang selama 3 bulan
medikamentosa gagal
sebaiknya dipertimbangkan
di rujuk ke tempat dengan
fsilitas yang lebih lengkap.
Menoragia

Menoragia adalah perdarahan lebih Kombinasi estrogen


dari 80 ml atau ganti pembalut lebih dan progestin
dari 6 kali perhari dengan siklus yang
normal teratur

Tata cara pengobatan


Progestin NASID (Non Steroid sesuai pada pengobatan
Anti Inlflamasi Drug) perdarahan ireguler

Diberikan apabila terdapat


kontraindikasi pemakaian Alat kontrasepsi dalam Rahim
estrogen. Tata cara (AKDR) berisi Levonorgestrel
pengobatan sesuai dengan
pengobatan perdarahan
ireguler
Medikamentosa Nonhormon

NSAID (Non Steroid Anti Inflamasi Drug) Antifibrinolisis

Endometrium memiliki
Salisilat (aspirin) Analog asam system fibrinolitik. Pada
indoleasetik perempuan dengan keluhan
(indometasin) menoragia ditemukan kadar
Derivate asam activator plasminogen pada
aril proponik Fenamat (asam endometrium yang lebih
(ibuprofen) mefenamat) tinggi dari normal

Coxibs
600 - Dosis 250 – 500
(celecoxib) Asam traneksamat bekerja
1200 mg mg 2- 4 kali sehari
per hari. menghambat plasminogen
secara reversible dan bila
diberikan saat haid mempu
NSAID dapat memperbaiki hemostasis
menurunkan jumlah perdarahan
endometrium dan mampu menurunkan
40 – 50%.
jumlah darah haid 20 – 50%.
Penanganan dengan Terapi Bedah

Faktor utama mempengaruhi Histrektomi merupakan


pilihan penangan PUA adalah prosedur bedah utama
apakah penderita telah yang dilakukan pada
menggunakan pengobatan kegagalan terapi
medikamentosa pilihan pertama medikamentosa. Angka
dengan sedikit kesembuhan atau keberhasilan terhadap
tidak ada perbaikan keluhan perdarahan mencapai
sama sekali. 100%.

Walaupun demikian komplikasi


tetap bisa terjadi berupa
perdarahan, infeksi dan masalah
penyembuhan luka operasi
LAPORAN KASUS
STATUS ORANG SAKIT

IDENTITAS
Nama : Ny. F
Usia : 38 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Suku : Ambon
Alamat : Jl. Tuba III gang Bersama
Nama Suami : Tn. H
Usia : 39 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Suku : Jawa
Alamat : Jl. Tuba III gang Bersama
Tanggal Masuk : 22-03-2016
Pukul : 20.58 WIB
No. RM : 24-84-05
ANAMNESA
Ny.F, 38 tahun, P2A0, Islam, Ambon, SMA, IRT i/d Tn.H, 40 tahun,
Islam, Jawa, SMA, Wiraswasta datang ke RS Haji Medan pada
tanggal 22/03/2016 pukul 20.58 WIB dengan :
KU : Nyeri perut bagian bawah
Telaah :
Pasien mengeluhkan nyeri perut bagian bawah sejak ± 2 bulan ini.
Dan memberat 1 hari ini. Nyeri seperti ditusuk-tusuk. Keluar darah
dari kemaluan (-), riwayat keluar darah banyak saat haid (+), riwayat
keluar darah diluar haid (-), teraba benjolan di perut (+) dialami sejak
+ 2 tahun ini dan semakin membesar. Riwayat minum jamu-jamuan (-
), riwayat perut dikusuk (-), riwayat keputian (+) BAB (+) normal
dan BAK(+) normal.
RPT :-
RPO :-
R. Operasi :-
R. KB :-
Haid :
Menarche usia : 12 tahun
Siklus : Teratur
Lama haid : 6-7 hari.
Banyak darah : Banyak (dengan 5-6 kali ganti (
pembalut)
Dismenorea : (+)
Metrorrhagia : (-)
Menorrhagia : (-)
Spotting : (-)
Darah beku : (-)
Contact bleeding : (-)
Climacterium : (-)
Menopause : (-)
Kehamilan dan persalinan yang lalu :
G2P2A0
• Anak laki-laki, aterm, BBL 2800 gram, cara Persalinan Spontan
Pervaginam, ditolong oleh bidan, umur sekarang 11 tahun, hidup.
• Anak perempuan, aterm, BBL 3000 gram, cara Persalinan Spontan
Pervaginam, ditolong oleh bidan, umur sekarang 8 tahun, hidup.
Keputihan
Jumlah : (-)
Warna : (-)
Bau : (-)
Konsistensi : (-)
Gatal (Pruritus vulvae) : (-)
Seksual/ Perkawinan:
Umur kawin : I : 25 Tahun Suami : 26 tahun
Lama Kawin : 13 tahun
Kemandualn : (-)
Frigiditas/Vaginismus : Tidak ditanyakan
Libido : Tidak ditanyakan
Frekwensi coitus : Tidak ditanyakan
Orgasmus : Tidak ditanyakan
Dispareunia : Tidak ditanyakan
Keluarga Berencana : Tidak
Cara dan Lamanya : Tidak
Gizi dan Kebiasaan
Nafsu makan : Sedang
Perubahan berat badan : Sedang
Merokok / Suntil : Tidak
Alkohol : Tidak
Kebiasaan makan obat : Tidak
Obat-obat yang di masukan ke dalam vagina : Tidak

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat penyakit Jantung : (-)
Riwayat penyakit Paru : (-)
Riwayat penyakit Genitalia : (-)
Riwayat Pembedahan : (-)
Riwayat hipertensi : (-)
Riwayat Penyakit hati : (-)
Riwayat Penyakit Ginjal : (-)
Riwayat Penyakit kelamin : (-)
Riwayat Penyakit DM : (-)
PEMERIKSAAN FISIK
Status Present
Sens : CM Anemis : (-/-)
TD : 130/80 mmHg Ikterik : (-/-)
HR : 80 x/i Dyspnoe : (-)
RR : 20 x/i Sianosis : (-)
T : 36,50 C Oedem : (-)
TB : 158 cm
BB : 65 kg
Status Generalisata
Kepala : Dalam Batas Normal
Leher : KGB tidak teraba, TVJ normal
Thorax :
• Cor : Bunyi Jantung normal, reguler, Bunyi Jantung Tambahan (-)
• Pulmo : Suara pernapasan vesikuler, suara tambahan (-)
• Kelenjar –kelenjar supra / intra clavikula = tidak teraba
• Mamae
 Membesar : DBN
 Hiperpigmentasi : tidak
 Colostrums : tidak
 Secret : tidak
 tumor-tumor : tidak
 Tegang : tidak
Abdomen :
Membesar : Membesar, pole atas setentang umbilical,
pole bawah setentang simpisis
Shitting Dullness : (-)
Simetris / Asimetris : Asimetris Meteorismus : (-)
Soepel : (+) Asites : (-)
Defense Musculaire : (-) Peristaltik Usus : (+)N
Hepar : Tidak Teraba Tumor : (-)
Lien : Tidak Teraba

Genitalia exsterna :
Hymen : Tidak ada
STATUS GINEKOLOGI
PEMERIKAAN DALAM
INSPECULO :
Portio : Licin
Erosi : (-) Polip : (-)
Ectropion : (-) Bunga kol (exophytik) : (-)
Laserasi : (-) Leukoplakia : (-)
Ovula Naboti : (-) Schiller test : (-)
Darah : (-)
Vaginal Toucher
Uterus
Posisi : Anteflexi
Besarnya : Lebih Besar Biasanya pole atas setentang umbilical,
pole bawah setentang simpisis
Mobilitas : Imobile Portio : Licin
Konsistensi : Padat Bentuk : DBN
Nyeri Tekan : (+) Pembukaan : (-)
Contact Bleeding : (-)
Sakit waktu digerakkan : (-)
Parametria kanan dan kiri : lemas

Adnexa kanan dan kiri : Tidak teraba massa


Besar : (-)
Konsistensi : (-)
Mobilitas : (-)
Permukaan : (-)
Nyeri Tekan : (-)

Cavum Douglas
Douglas Crise : (-)
Menonjol / Tidak : Tidak

Vagina :
Dinding : normal,
Tanda – Tanda Peradangan : (-)
Sekret : (-)
Massa : (-)
Darah : (-)
Pemeriksaan Rekto Vaginal :
Tidak dilakukan pemeriksaan

Pemeriksaan Sekret Vagina :


Langsung : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Kultur : Tidak Dilakukan Pemeriksaan

PAP’S SMEAR :
Diambil tanggal : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Hasil : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Anjuran : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Radiologi
Thorax : Jantung dan paru dalam batas normal
Abdomen : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
IVP : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
USG-TAS:
Kandung Kemih : terisi baik
Uterus :
• Bentuk : Anteflexi
• Besar : > Besar biasanya
• Uk : 14,4 x 11,8 x 69,7 cm
• Tampak gambaran hipoecholic
• Dengan ukuran 93,4 x 93,2
• Adnexa : Kanan – Kiri Normoecho
• Cairan Bebas :-
Kesan : Mioma Uteri
Pemeriksaan Tambahan :
Laparoskopi :
Pungsi : - Asites :Tidak Di Lakukan Pemeriksaan
-Cavum Douglas : Tidak Di Lakukan Pemeriksaan
DIAGNOSA
Mioma Uteri

RENCANA TINDAKAN
Pasang iv line abocat 18 G
IVFD RL 20 gtt/i
Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam
Observasi keadaan umum dan vital sign pasien
Cek Darah rutin, foto thoraks, EKG, Usg
SIO
Puasa jam 6 Sebelum operasi
Lapor dr. Muslich P Sp.OG →Acc
Pemeriksaan Laboratorium tanggal 04 Maret 2016
Hematologi
Nilai Rujukan
Hb : 10,5 g% 12-16 g/dL
Eritrosit : 4,0.106 3,9-5,6^6
Leukosit : 9000/uL 4000-11000 uL
Ht : 31.0% 36-47 %
Trombosit : 226.000/uL 150.000-450.000/uL
MCV : 78,2 fL 80-96 fL
MCH : 25,1 pg 27-31 pg
MCHC : 32,2% 30-34 %
KGDS : 100 mg/dL <140 mg/dL
LAPORAN OPERASI
Operator: Dr. Muslich P, SpOG
Tanggal: 07/maret/2016 pukul 10.30 WIB s/d 11.00 WIB
• Ibu dibaringkan di meja operasi dengan infus dan kateter
terpasang baik
• Di bawah spinal anastesi dilakukan aseptik dan antisptik
• Abdomen ditutup doek steril kecuali lapangan operasi
• Dilakukan insisi pfannenstiel dari kutis hingga fascia
• Fascia digunting kekanan dan kiri, tampak otot di tusukkan
secara tumpul hingga menembus peritoneum.
• Tampak uterus sebesar 1500 gr, ovarium kanan dan kiri dalam
batas normal. Diputuskan untuk dilakukan TAH-BSO
• Lig. Rotundum, lig. Invundibulum pelvicum, lig. Latum kanan
dan kiri diklem, gunting.
• Cerviks diklem lalu porsio di angkat, jahit pungtum vagina
• Dilakukan evaluasi perdarahan terkontrol
• Bersihkan cavum abdomen,
• Jahit lapis demi lapis secara berturut-turut hingga kutis
• Keadaan ibu post op stabil
Follow up tanggal 31/03/2016
S : Nyeri luka operasi
O : sens : compos mentis
anemis : -/-
TD : 120/80 mmHg ikterik : -/-
HR : 80 x/i sianosis :-
RR : 20 x/i dyspnoe :-
T : 37,00C oedem :-
SL : Abdomen : soepel, peristaltic (+)
P/V : (-)
L/O : Tertutup verban
BAB : (-)
BAK : (+)
Flatus : (+)
Diagnosa : Post TAH-BSO a/i mioma uteri + NH1
Terapi :
• IVFD RL 20 gtt/i
• Inj. Cefotaxim 1 gr/12 jam
• Inj. Gentamisine 80 mg/8 jam
• Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam
• Metronidazole 3 x 500 mg
• Protefen supp 2x1
Follow up tanggal 01/04/2016
S : Nyeri luka operasi
O : sens : compos mentis
anemis : -/-
TD : 90/50 mmHg ikterik : -/-
HR : 85x/i sianosis :-
RR : 22 x/i dyspnoe :-
T : 36,50C oedem :-
SL : Abdomen : soepel, peristaltic (+)
P/V : (-)
L/O : Tertutup verban
BAB : (-)
BAK : (+)
Flatus : (+)
Diagnosa : Post TAH-BSO a/i mioma uteri + NH2
Terapi :-
• IVFD RL 20 gtt/i
• Inj. Cefotaxim 1 gr/12 jam
• Inj. Gentamisine 80 mg/8 jam
• Inj. Grahabion 2 x 1
• Antasida syr 3Cth1
• Pondak 3 x 500 mg
Follow up tanggal 02/04/2016
S : Nyeri luka operasi
O : sens : compos mentis
anemis : -/-
TD : 110/70 mmHg ikterik : -/-
HR : 70x/i sianosis :-
RR : 20 x/i dyspnoe :-
T : 370C oedem :-
SL : Abdomen : soepel, peristaltic (+)
P/V : (-)
L/O : Tertutup verban
BAB : (-)
BAK : (+)
Flatus : (+)
Diagnosa : Post TAH-BSO a/i mioma uteri + NH3
Terapi :-
• IVFD RL 20 gtt/i
• Inj. Cefotaxim 1 gr/12 jam
• Inj. Gentamisine 80 mg/8 jam
• Inj. Grahabion 2 x 1
• Antasida syr 3Cth1
• Pondak 3 x 500 mg