Anda di halaman 1dari 20

Ganesa Batubara

Dua tahap penting harus dibedakan :


1. Gambut adalah batuan sedimen organik yang dapat terbakar,
berasal dari tumpukan hancuran atau bagian dari tumbuhan yang
terhumifikasi dan dalam keadaan tertutup udara (dibawah air),
tidak padat, kandungan air lebih dari 75 % (berat, AR) dan
kandungan mineral lebih kecil dari 50 % dalam kondisi kering.

2. Batubara adalah batuan sedimen (padatan) yang dapat terbakar,


berasal dari tumbuhan, berwarna coklat sampai hitam yang sejak
pengendapannya terkena proses fisika dan kimia, yang mana
mengakibatkan pengkayaan kandungan karbonnya.

Dari gambut menjadi batubara ----- ada beberapa tahapan yang harus
dilewati. Pada tiap tahapan ada
proses yang terjadi dan unik, yang
tergantung banyak faktor.
Proses Pembatubaraan

GAMBUT

Temperatur

Lignit
Sub-Bituminus
STRUKTUR STRUKTUR
FISIK
Bituminus KIMIA
Antrasit
Meta-Antrasit
• Coal is a readily combustible rock, containing more than 50 %
by weight and more than 70 % by volume carbonaceous
material, formed from compaction or induration of variously
altered plant remains similar to in degree of metamorhism
(rank), and range of impurity (grade), are characteristic of the
varieties of coal (Schopf, 1956)

• Creeling’s simplified definition of coal :

COAL IS A DIRTY, METAMORPHIC ROCK

(Crelling, 1981)
Pengertian Rank
Rank adalah menyatakan tahap yang telah dicapai oleh bahan organik
dalam proses pembatubaraan, bukan besaran yang dapat diukur
(berdasar pada beberapa parameter)

Kualitas Batubara ? --------- tergantung pada pemakaian

 Komposisi Batubara
C, H, O, N, S, P, dan unsur-unsur lain (air, gas, abu, bagian yang
terbakar) → Derajat Pembatubaraan (Sifat Optis ; Reflektan dari
vitrinit)

 Komposisi mikroskopi ---- terdiri atas maseral-maseral


T
Y
P
E

G
R
A
D
E

RANK

Universal Classification of solid fossil fuels


(Alpern, 1981)
Kandungan air total merupakan parameter utama pada kenaikan
rank pada brown coal (Hukum Schurmann) :
 Soft brown coal (lignit) ; Penurunan 4% M, Kenaikan Kedalaman
100 m
 Dull brown coal stage (lignit – Sub. Bit. C) ; Penurunan 1% M,
Kenaikan kedalaman 100 m
 Bright brown coal (Sub. Bit B – A) ; Penurunan 1% M, Kenaikan
kedalaman 100 m

Penurunan Moisture Content (MC) akibat berkurangnya porositas


dan juga pada dekomposisi dari Hydrophylic Funktional Group.
PENYEBAB PROSES PEMBATUBARAAN

Pembatubaraan dikontrol oleh :


1.Temperatur
2.Waktu METAMORFOSA BATUBARA
3.Tekanan

Rank dikontrol oleh :


1. Gradien Geothermal → 7 – 8℃/100 m dari
kedalaman 1.500m atau 4℃ pada kedalaman
2.600m
2. Konduktivitas Panas Dari Batuan → 100 - 150℃
Pengaruh waktu adalah semu. Waktu berpengaruh pada temperatur
yang tinggi.

Contoh :
Pada Upper Miocen Rock, Batubara tenggelam sampai 5.440 selama 17
juta tahun lalu, T = 140℃ → HV Bit. Coal (35 – 40% VM),
sedangkan di N.W. Carboniferous Rock pada kedalaman 270 juta tahun
lalu mencapai LV Bit. Coal (14 – 16% VM)

Tekanan tinggi, proses semakin cepat terutama pada daerah patahan,


perlipatan, dsb. Proses pembatubaraan yang diakibatkan oleh radioaktif,
jarang diamati.
KLASIFIKASI BATUBARA ASTM & DIN
(Stach et al., 1975, hal 42)
RANK Vol.M Carbon Cal. Value
Refl. Bed Applicability of Different
d.a.f d.a.f Btu/Lb
German USA Rmoil Moisture Rank Parameter
% Vitrinite (Kcal/Kg)

0.2
68
Torf Peat

64
ca.60 ca.75
0.3

Calorific Value (moist ash-free)


Weich- Braunkohle 60
Lignite

Bed Moisture (ash-free)


7200
ca.35
56 (4000)

Matt-
C 0.4 52
Sub- 9900
ca.71 ca.25
Bit. (5500)
B 48
Glanz-

Carbon (dry ash-free)


0.5
A 12600
C 0.6
High Vol. Bituminous

44 ca.77 ca.8-10
Flamm- (7000)
B 0.7
0.8 40
Gasflamm-
A
1.0 36

Gas- 32
1.2
Medium 15500
Volatile ca.87

Volatile matter (dry ash-free)


SteInkohle

(8650)
Bituminous 28
1.4
Fett-
24
Low 1.6
Volatile
20

Reflectance of vitrinite
Bituminous 1.8
Ess-

2.0 16
Mager-
Semi
Anthracite
12
15500

Hydrogen (d.a.f)
ca.91
Anthrazit (8650)
8
Anthracite 3.0
4.0

Moist
4

X-ray
Meta-Anthr

Diffr
Meta
Anthracite
mk
er n
n

ic
na ctio
itio

ob
t
du
os

we
mp

re
a

ha il
co

O
fic

le
yd r y
ae tion
ra

bic
og

s
a

k
ro

oc
tr
Pe

ox

R
s
ck o u
R o ce
LOW-RANK MEDIUM-RANK HIGH-RANK

C o o l ro
na

ph p
non coal rock

Sa
al ic
b o
80

l
r
C B A D C B A C B A

oa
Ca
1%

c
( m n d e e c d e co a d e

al
Ash (HT) % mass. db

Co
0 50 100

a d ra d e g r
o a co a l

ed
low
V % (1<L)

nd
a
50
Washability test

H i e d i l o e ry

ba
a

on
r
V

l y co a l
g

c) N
gh um w 100
g

hu l
30

mi
GRADE

r
ain d
g
20
M
Coal

V % (1>L)
Ba

10
0 50 100
1%
Paleo O-time Ortho Meta m Para Ortho Meta Per Para Ortho Meta
itu
PETROGRAFHIC
bb

RANK Lignite BITUMINOUS ANTHRACITE


Su

COMPOSITION
Maceral Analysis
Rr % (mmf) Vol %
0.6 1.0 1.4 2.0 3.0 4.0

GCV (MJ/kg.m af)


15 20 24

Note : Both designations of rank divisions (Low-rank, Medium-rank, High-rank on


one hand, Lignite, Subbituminous, Bituminous, Anthracite, on the
other hand) apply to humic coals and sapropolic coal as well

Rr % - Vitrinite Mean random Reflectance, per cent (ISO 7404-5 Standard)

GCV (MJ/Kg.m af) - Gross Calorific value in MJ/Kg, recalculated to moist, ash free
basis (ISO 1928 and 1170 standard), moisture being Bed Moisture, i.e Total
Moisture (ISO 1015 or 5068 standard)
Ash (HT) mass %, db - Ash Content (High Temperature), mass per cent,
recalculated to dry basis (ISO 1171, 331 and 1170 standard)
V %, L %, 1 % - Vitrinite, Liptinite, and Inertinite content respectively, volume per
cent, mineral matter free (ISO 7404-3 Standar)

Figure : General version of the ECE-UN In Seam Coal Clasification


Batubara

Humic Coal Sapropelic Coal

Melewati tahap gambut dengan disertai Tidak melewati fase gambut tetapi mengikuti alur
proses humifikasi setelah terakumulasi proses diagenesa seperti batuan sedimen yang
pada tempat dimana pohon-pohon kaya akan bahan organik
(bahan dasar) itu tumbuh
Banyak mengandung material organik dan mineral
hasil transportasi
Komponen organik terbesar adalah material
yang mengkilap berwarna coklat sampai hitam Fraksi organiknya terdiri dari algae dan bermacam
(terlihat dengan mata telanjang) dan umumnya produk hancuran tumbuhan dari sekitarnya atau
berasal dari serat kayu yang terhumifikasi bagian yang lebih jauh lagi berupa spora

Pada rank rendah (brown coal) secara Secara mikroskopis dibedakan menjadi boghead
mikroskopis didominasi oleh huminit dan pada coal (bahan utamanya adalah algae/maceral
rank yang lebih tinggi (hard coal) didominasi Alginit) dan cannel coal (bahan utamanya adalah
oleh vitrinite spora/maseral Sporinit

Ciri khasnya adalah berlapis Kusam dan terbentuk dari lumpur organik butir
halus yang terbentuk pada kondisi kurang oksigen/
reduksi (air dangkal, seperti : kolam, danau, lagun)
Tidak Berlapis
Combustible and non-combustible substances Gross Humidity
Crystallization
water

Normal
Water Water
humidity

H o Volatile SiO2
S N matter
Pure coal

Fe2O3
Raw coal

AlO
TiO2

Whole ash
Dry coal

Carbon CaO
Carbon fix
MgO
Coke

SO3
Na2O
Ash Ash K2O
diverse

H = Hydrogen
S = Sulfur
O = Oxigen
N = Nitrogen

KOMPOSISI BATUBARA
Summary of the macerals of hard coals
Group macerals Maceral Submaceral* Maceral Variety*
Vitrinite Telinite Telinite 1 Cordartotelinite
Telinite 2 Fungotelinite
Xylotelinite
Telocollinite Lepidophytotelinite
Gelocollinite Sigillariotelinite
Collinite Desmocollinite
Corpocollinite
Vitrodetrinite

Exinite Sporinite Tenuisporinite


Crassisporinite
Microsporinite
Macrosporinite
Cutinite
Resinite
Alginite Pila-Alginite
Reinschia-Alginite
Liptodetrinite

Inertinite Micrinite
Macrinite
Semifusinite
Fusinite Pyrofusinite
Degradofusinite
Sclerotinite Fungosclerotinite Plectemchyminite
Corpossclerotinite
Pseudocorposclerotinite
Inertodetrinite
Summary of the microlithotypes*

Maceral Maceral groups Microlithotype


composition Microlithotype composition

Fusinite ; Sc = Sclerotinite ; ID = Inertodetrinite ; V = Vitrinite ; L = Liptinite ; I = Inertinite


Co = Collinite ; T + Tellinite ; VD = Vitrodetrinite ; S = Sporinite ; Cu = Cutinite ; R = (mineral-free) (mineral-free) groups
Resinite ; A = Alginite ; LD = Liptodetrinite ; M = Macrinite ; Sf = Semifusinite ; F = Monomaceral
Co > 95 % (Collite)* Vitriite
T > 95 % (Telite)* V > 95 %
Vd > 95 %
S > 95 % Sporite
Cu > 95 % (Cutite)*
R > 95 % (Resite)* E(L) > 95 % Liptite
A > 95 % Algite
LD > 95 %
Sf > 95 % Semifusite
F > 95 % Fusite
Sc > 95 % (Sclerotite)* I > 95 % Inertite
ID > 95 % Inertodetrite
The term in parentheses are not at present in use

M > 95 % (Macroite)*
Bimaceral
V+S > 95 % Sporoclarite V + E(L) > 95 Clarite
V + Cu > 95 % Cuticoclarite %
V+R > 95 % (Resinoclarite)* V, E(L)
V + LD > 95 %
V+M > 95 %
V + Sf > 95 % Vitrinertite
V+F > 95 % V + I > 95 % V, I
V + Sc > 95 %
V + ID > 95 %
I+S > 95 % Sporodurite
I + Cu > 95 % (Cuticodurite)* I + E(L) > 95 % Durite
I+R > 95 % (Resinodurite)* I, E(L)
I + LD > 95 %
Trimaceral
V, I, E >5% Duroclarite V > I, E(L) Trimacerite
Vitrinertoliptite E > I, V V, I, E(L)
Clarodurite I > V, E(L)
LITHOTYPE
LITHOTYPE LITHOTYPE VARIETIES
CLASSES
10 20 30 40 50
0
13
32

62

88
109

137
146

170

11 21 35

12 22 36

13 23 COLUMN NOS ( -10-, -20-, ETC)


CORRESPOND TO HAGEMANN
CLASSIFICATION
14 24

Figure : Macroscopic profile of lignite bed (Souris seam), estevan area, Saskatchewan.
Number and symbols represent subdivision in various columns og table. For example, 11
and 12 represent, respectively, “pure coal, non xylitic” and “pure coal, xylitic”, in column
10 ; symbols 35 and 36 represent colour classes “dark brown” and “dark black” in column
30 (from Hagemann, 1980)
TUGAS 2 :

Berdasarkan material pembentuk, batubara


digolongkan dalam 2 (Dua) grup :
1. Grup Vitrinit
2. Grup Liptinit

Buat resume kedua golongan batubara berdasarkan


material pembentuk serta jelaskan hubungan keduanya
dalam proses pembatubaraan (disertai gambar dan
penjelasannya)