Anda di halaman 1dari 17

Penatalaksanaan dan

Pencegahan Demam Tifoid

A4
Anamnesis Keluhan Tambahan
 Demam disertai pusing, nyeri perut,
Keluhan Utama mual dan muntah
 Demam sejak 1 minggu yang lalu  Belum buang air besar sejak 4 hari yang
 Demam dirasakan sepanjang hari dan lalu
lebih memburuk menjelang sore hari

Kebiasaan makan di tempat yang kurang


bersih

Laki-laki umur 20 tahun dengan


keluhan demam sejak 1 minggu
yang lalu.

20 tahun
Pemeriksaan Fisik
Kesadaran: compos mentis (conscious); tampak sakit sedang
TTV:
TD: 110/70 mmHg. mmHg
Normal: 90-120/60-80mmHg

Suhu tubuh: 37,80 C Normal: 36,8 ± 0,4°C


Nadi: 84 kali/menit teraba kuat Normal: 60-100x/menit
Frekuensi nafas: 20kali/ment Normal: 14-20x/menit)
Abdomen: nyeri tekan (+)
Pemeriksaan Penunjang
Darah perifer:
• Hb = 14,5 g/dLNormal: wanita = 12-16 g/dL, pria: 14-18g/dL, anak = 10-16 g/dL)
• Ht = 42% Normal: Pria = 40-48%, Wanita = 37-43%
• Leukosit = 4.000/μL Normal: 5.000 to 10.000/ μL
• Trombosit = 200.000/μL Normal: 150.000-400.000/μL
Uji Widal
deteksi antibodi terhadap kuman
S. typhi
(+) : reaksi aglutinasi antara
antigen kuman S. typhi dengan
antibodi yang disebut aglutinin
Aglutinin O (tubuh kuman)
Aglutinin H (flagela kuman)
Aglutinin Vi (simpai kuman)

HASIL WIDAL DENGAN TITER!


S. typhi O: 1/320 Apabila reaksi widal dengan titer antibodi O = 1/320 atau titer antibodi H = 1/640
S. typhi H: 1/160 > (+) Demam tifoid
S. paratyphi A O: 1/80
S. paratyphi A H = negatif (tidak Apabila titer 1/160, dilihat dulu dalam 1 minggu kedepan dan jika ada kenaikan titer
ada). > (+) Demam tifoid
Pemeriksaan Penunjang Lain
• Uji TUBEX: mendeteksi antibodi anti-S. typhi O9 pada
serum pasien dengan cara menghambat ikatan antara
IgM anti-O9

• Uji Typhidot: (+) didapatkan 2-3 hari setelah infeksi dan


dapat mengidentifikasi secara spesifik antibodi IgM dan
IgG terhadap antigen S. typhi

• Uji IgM Dipstick: mendeteksi IgM spesifik terhadap S.


typhi pada spesimen serum atau whole blood

• Kultur Darah: (+) didapatkan demam tifoid namun (-) Biasanya (+) pada minggu pertama penyakit dan
berkurang pada minggu-minggu berikutnya karena
tidak menyingkirkan demam tifoid pasien mungkin sudah mendapat terapi antibiotik
Etiologi
Salmonella: bersifat fakultatif anaerob
bakteri gram-negatif (batang) hidup subur pada media yang
tidak berspora mengandung empedu
Motil Tiga serotip utama jenis ini
adalah S. typhi, S. typhimurium,
Berflagel dan S. enteridis.
Berkapsul
tumbuh dengan baik pada suhu
optimal 370C
Epidemiologi
• Penyakit endemik di Indonesia
• Kebanyakan insidens terjadi pada anak-anak
• Transmisi (fecal-oral):
Endemik - transmisi terjadi melalui air yang tercemar S.typhi
Nonendemik - makanan yang tercemar oleh karier
Gambaran Klinis
Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4
• Keluhan dan • Demam kontinu • komplikasi • stadium
gejala serupa • Bradikardi relative perdarahan dan penyembuhan
dengan penyakit • Lidah tifoid perforasi cenderung
infeksi akut yang untuk terjadi
• Hepatomegali,
lain splenomegaly • Degenerasi
• Meteorismus miokardial toksik:
• PF: peningkatan penyebab umum
suhu badan • Somnolen -> koma kematian penderita
• Roseola spot demam tifoid
(jarang)
Patofisiologis
Diagnosis
Malaria
Working Diagnose Demam yang naik turun
Demam typhoid (intermiten) disertai dengan
Infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh menggigil, diare, muntah, dan
Salmonella typhi ditegakkan atas gambaran
klinis dan pemeriksaan laboratorium. terkadang kejang
Differential Diagnose
Demam Berdarah Dengue
Demam tinggi mendadak dan berlangsung
terus-menerus selama 2-7 hari tanpa sebab
yang jelas. penderita DBD sering ditemukan
juga peningkatan hasil Widal.
Penatalaksanaan
• Istirahat dan perawatan
tirah baring dan perawatan profesional
posisi pasien perlu diawasi untuk mencegah dekubitus dan
pneumonia ortostatik
• Diet dan terapi penunjang (simtomatik dan suportif)
bubur saring -> bubur kasar -> nasi (tingkat kesembuhan
pasien)
• Pemberian antimikroba
Antimikroba
Kloramfenikol: 4x500 mg perhari oral atau • Fluorokinolon
intravena. demam pada demam tifoid dapat turun • Norfloksasin: 2x400 mg/hari selama 14 hari
 5 hari • Siproflosaksin: 2x500 mg/hari selama 6 hari
Tiamfenikol: dosis dan efektivitas sama dengan • Oflosaksin: 2x400 mg/hari selama 7 hari
kloramfenikol.
• Peflosaksin: 400 mg/hari selama 7 hari
Kotrimoksazol: (Kombinasi Trimetoprim dan
• Fleroksasin: 400 mg/hari selama 7 hari
Sulfametoksazol). diberikan sampai 7 hari bebas
demam (1 tablet mengandung 80 mg trimetoprim • Azitromisin: dosis 2 x 500 mg/hari mampu
dan 400 mg sulfametoksazol). Demam turun  5-6 mengurangi angka relaps
hari.
Ampisilin dan Amoksilin: digunakan sampai 7 hari
bebas demam.
Sefalosporin generasi ketiga: Antara lain Wanita Hamil
sefoperazon, seftriakson, dan sefotaksim. Dosis  ampisilin, amoksisilin, dan seftriakson
yang dianjurkan adalah antara 3-4 gram dalam X kloramfenikol (trimester ke-3)
dekstrosa 100 cc diberikan selama setengah jam X tiamfenikol (trimester pertama)
per infuse sekali sehari, diberikan selama 3 sampai
5 hari.
Komplikasi

1. Komplikasi Intestinal 2. Komplikasi Eksta-Intestinal


• Perdarahan intestinal Komplikasi Kardiovaskuler: kegagalan sirkulasi
• Perforasi usus perifer
• Ileus paralitik Komplikasi darah: anemia
Komplikasi paru: pneumonia, pleuritis
Komplikasi Hepar dan Kandung Empedu:
hepatitis
Komplikasi Ginjal: glomerulonefritis
Komplikasi Tulang: arthritis
Komplikasi Neuropsikiatrik: delirium
Pencegahan
Daerah non-endemic Bila ada kejadian epidemi Daerah endemik.
tanpa ada kejadian tifoid. 1. Memasyarakatkan pengelolaan
outbreak atau epidemi. 1. Pencarian dan bahan makanan dan minuman
1. Sanitasi air dan eliminasi sumber yang memenuhi standar
kebersihan lingkungan. prosedur kesehatan (perbusan >
penularan. 57˚ C, iodisasi, dan klorinisasi).
2. Penyaringan pengelola 2. Pemeriksaan air minum
pembuatan/distributor 2. Pengunjung ke daerah ini harus
/penjualan makanan dan mandi cuci kakus. minum air yang telah melalui
pendidihan, menjauhi makanan
dan minuman. 3. Penyuluhan higiene segar (sayur/buah).
3. Pencarian dan dan sanitasi pada 3. Vaksinasi secara menyeluruh
pengobatan kasus populasi umum daerah pada masyarakat setempat
tifoid karier. tersebut. maupun pengunjung.
Prognosis
• Penderita cepat berobat  mortalitas pada penderita yang dirawat ialah 6%
• Prognosis buruk bila terdapat gejala klinis yang sangat berat, seperti:
• Panas tinggi.
• Kesadaran menurun sekali (apatis).
• Komplikasi yang berat: dehidrasi, peritonitis, bronkopneumonia.
• Keadaan gizi penderita yang buruk (malnutrisi energi protein).
Kesimpulan

Pada skenario ini, laki-laki tersebut mempunyai gejala khas demam


kontinu(berterusan), makin tinggi menjelang sore hari dan juga
mempunyai riwayat makan kebiasaannya di tempat yang kurang bersih.
Saat diperiksa, terdapat nyeri pada epigastrium dan penurunan leukosit
(leukositopenia). Titer saat Uji Widal juga meningkat. Dengan demikian,
dapat disimpulkan pasien pada skenario menderita demam tifoid.