Anda di halaman 1dari 34

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN

DENGAN KEGAGALAN PENGOBATAN


PASIEN EPILEPSI
DI POLIKLINIK SARAF RUMAH SAKIT
DUSTIRA CIMAHI TAHUN 2014

Praviyanti Ganingsih
4111121023

Pembimbing:
Yustiani Dikot, dr., Sp.S(K)
Andri Anugerah K, dr., Sp.BS., M.Kes
BAB I

PENDAHULUAN
Pasien epilepsi aktif 8,2 per 1000 penduduk

Insidensi: 50 per 100.000 penduduk

Jumlah pasein epilepsi yang butuh


pengobatan 1,8 juta jiwa

1,1 sampai 1,3 juta


penduduk Indonesia
mengidap penyakit epilepsi
Manifestasi gangguan otak akibat proses patologi
yang terjadi di korteks serebri yang menimbulkan
gejala klinis bangkitan epilepsi

60% pasien tidak dapat ditemukan


etiologi secara jelas

Terapi epilepsi adalah Obat Antiepilepsi yang


berfungsi untuk mengupayakan pasien hidup
normal namun tidak mengobati penyebabnya
hanya menghambat proses penyebaran
cetusan listrik

Banyak faktor yang mempengaruhi pasien


dalam pengobatan sehingga kegagalan
pengobatan bukanlah hal yang jarang terjadi
Penelitian mengenai
faktor kegagalan
pengobatan epilepsi
khususnya di Rumah Sakit
Dustira belum pernah
dilakukan
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana karakteristik usia, JK, usia onset,
dan tipe bangkitan pasien epilepsi di
Poliklinik Saraf RS Dustira tahun 2014?

2. Obat antiepilepsi apa yang diberikan pada


pasien epilepsi di Poliklinik Saraf RS Dustira
tahun 2014?

3. Apakah terdapat hubungan antara


ketidaktepatan diagnosis epilepsi dengan
kegagalan pengobatan pasien epilepsi di
Poliklinik Saraf RS Dustira tahun 2014?
RUMUSAN MASALAH
4. Apakah terdapat hubungan antara ketidaktepatan
pemilihan obat antiepilepsi dengan kegagalan
pengobatan pasien epilepsi di Poliklinik Saraf RS
Dustira tahun 2014?

5. Apakah terdapat hubungan antara timbulnya efek


samping dengan kegagalan pengobatan pasien
epilepsi di Poliklinik Saraf RS Dustira tahun 2014?

6. Apakah terdapat hubungan antara ketidakpatuhan


minum obat antiepilepsi dengan kegagalan
pengobatan pasien epilepsi di Poliklinik Saraf RS
Dustira tahun 2014?
TUJUAN PENELITIAN

TUJUAN UMUM

Mengetahui faktor-faktor yang


berhubungan dengan kegagalan
pengobatan pada pasien epilepsi di
Poliklinik Saraf RS Dustira tahun 2014
TUJUAN KHUSUS

1. Mengetahui karakteristik usia, JK, usia onset dan tipe


bangkitan
2. Mengetahui obat antiepilepsi yang diberikan
3. Menganalisis hubungan antara ketidaktepatan diagnosis
epilepsi dengan kegagalan pengobatan
4. Menganalisis hubungan antara ketidaktepatan pemilihan
obat antiepilepsi dengan kegagalan pengobatan
5. Menganalisis hubungan antara timbulnya efek samping
obat antiepilepsi dengan kegagalan pengobatan
6. Menganalisis hubungan antara ketidakpatuhan minum
obat antiepilepsi dengan kegagalan pengobatan
MANFAAT PENELITIAN

MANFAAT AKADEMIK
Masukan data awal mengenai faktor-faktor yang berhubungan
dengan kegagalan pengobatan epilepsi di Poliklinik Saraf RS
Dustira Cimahi

MANFAAT PRAKTIS

Memberikan pengetahuan kepada masyarakat terutama pasien


epilepsi dan keluarga pasien mengenai faktor-faktor yang
berhubungan dengan kegagalan pengobatan serta diharapkan
penelitian ini dapat menjadi informasi dan bahan penyuluhan
bagi tenaga kesehatan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Etiologi
EPILEPSI

Faktor
Risiko

Definisi

Patofisiologi
Klasifikasi
Bangkitan

Penegakkan Penatalaksanaan
Diagnosis

Anatomi
Korteks Serebri Faktor yang Berpengaruh pada
Kegagalan Pengobatan
KERANGKA PEMIKIRAN
Bangkitan Epilepsi

Penegakkan Diagnosis
Epilepsi

Pengobatan dengan Obat Antiepilepsi selama 6


Bulan sampai 1 Tahun

Bangkitan Bangkitan Tidak


Terkontrol Terkontrol

Pengobatan Pengobatan Gagal


Berhasil

Faktor-Faktor yang
Berhubungan Kegagalan
Pengobatan

Ketidaktepatan Ketidaktepatan Efek Samping Ketidakpatuhan


Penegakan Diagnosis Pemilihan Obat OAE yang Timbul Pasien Minum OAE
Antiepilepsi
HIPOTESIS

1. Terdapat hubungan antara ketidaktepatan


penegakkan diagnosis epilepsi dengan
kegagalan pengobatan

2. Terdapat hubungan antara ketidaktepatan


pemilihan OAE dengan kegagalan
pengobatan

3. Terdapat hubungan antara efek samping OAE


yang timbul dengan kegagalan pengobatan

4. Terdapat hubungan antara ketidakpatuhan


pasien minum OAE dengan kegagalan
pengobatan
BAB III

METODE PENELITIAN
Cara Pengambilan Sampel

Pengumpulan
Data Primer Total Sampling
Analisis
Data
& Sekunder

30
Univariat

Responden
Bivariat
Pasien Epilepsi di Poliklinik Saraf
SPSS Sakit Dustira Cimahi yang
Rumah
memenuhi kriteria inklusi dan tidak
Chi Square Test
memenuhi kriteria eksklusi
α=0,05
DEFINISI OPERASIONAL
Definisi Definisi Hasil Ukur Skala Ukur
Operasional
Kegagalan Respon yang yang tidak 1) Gagal Nominal
Pengobatan diharapkan terhadap terapi, yaitu 2) Berhasil
Variabel Epilepsi tidak terkontrolnya bangkitan
dalam enam bulan sampai satu
Dependen tahun setelah diberi obat
antiepilepsi.

Ketidaktepatan Diagnosis epilepsi yang 1) Tidak Nominal


Diagnosis ditegakkan tidak tepat dan Tepat
lengkap berdasarkan hasil 2) Tepat
anamnesis, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan penunjang.

Ketidaktepatan Obat antiepilepsi yang diberikan 1) Tidak Nominal


Variabel Pemilihan Obat tidak sesuai dengan tipe Tepat
bangkitan dan kebutuhan pasien 2) Tepat
Independen
epilepsi.
Efek Samping Reaksi yang tidak diharapkan 1) Timbul Nominal
Obat yang atau berbahaya yang timbul 2) Tidak
Timbul karena OAE. timbul

Ketidakpatuhan Pasien tidak taat untuk minum 1) Tidak Nominal


Minum Obat obat teratur sesuai anjuran Patuh
dokter. 2) Patuh
BAB IV

HASIL PENELITIAN
DAN PEMBAHASAN
KARAKTERISTIK PASIEN EPILEPSI
BERDASARKAN JENIS KELAMIN

53% 47%
Epilepsi banyak ditemukan pada

LAKI-LAKI
(Husam 2008, Astari 2014, Triani 2014)
KARAKTERISTIK PASIEN EPILEPSI
14 BERDASARKAN USIA
13 (43,3%)

12

Penelitian yang sejalan dengan


10 penelitian ini adalah Restuputri (2011)
bahwa usia terbanyak
Epilepsi dapatpada pada semua
kelompok
terjadi
8
15-25 tahun
kelompok usia dan puncak insidensi
7 (23,3%)

pada usia <2 tahun dan >60 tahun


(Sibernagl, 2013)
6

5 (16,7%)
Penelitian lain yang sejalan dengan
4
penelitian ini adalah Triani (2011)
bahwa usia terbanyak pada kelompok
3 (10,0%)

11-20 tahun
2 (6,7%)
2

0 (0,0%)
0
17-25 Tahun 26-35 Tahun 36-45 Tahun 46-55 Tahun 56-65 Tahun >65 Tahun
KARAKTERISTIK PASIEN EPILEPSI
BERDASARKAN USIA ONSET
12

11 (36,7%)

10

Usia onset terbanyak


8 < 1 tahun (46%)
(Suwarba 2011) Usia onset yang paling
banyak muncul pada
dekade pertama
6

5 (16,7%) 5 (16,7%)

kehidupan, dekade
4
4 (13,3%)
selanjutnya akan semakin
berkurang 3 (10,0%)

(Japardi 2002)
2

1 (3,3%) 1 (3,3%)

0 (0,0%) (0,0%)
0
0-5 Th 6-10 Th 11-15 Th 16-20 Th 21-25 Th 26-30 Th 31-35 Th 36-40 Th 41-45 Th
KARAKTERISTIK PASIEN EPILEPSI
BERDASARKAN TIPE BANGKITAN
16

14 (46,6%)
14

12 Penelitian sebelumnya di Rumah Sakit


Dustira Cimahi oleh Triani (2014)
10
menunjukkan bahwa bangkitan epilepsi
terbanyak adalah
8 parsial kompleks
6
6 (20,0%) (43,9%)
5 (16,7%)

2 (6,7%) 2 (6,7%)
2
1 (3,3%)

0
Parsial Kompleks Parsial Sederhana Umum Tonik Klonik Umum Tonik Umum Atonik Umum Absans (Lena)
25
22 (73,3%)

Prinsip 20

pengobatan 15

epilepsi dimulai
dengan 10
7 (23,3%)

monoterapi 5

(PERDOSSI 2006) 1 (3,3%)


0
1 Jenis Obat 2 Jenis Obat 3 Jenis Obat

JUMLAH JENIS OBAT


YANG DIBERIKAN

Fenitoin menjadi pilihan


sebagai OAE karena
7 (17,9%)

Fenitoin
17 (43,6%) dapat digunakan pada
Asam Valproat

Karbamazepin
banyak jenis bangkitan
seperti bangkitan parsial
15 (38,5%)
sederhana, parsial
kompleks, parsial
umum, dan tonik klonik.
JENIS OBAT ANTIEPILEPSI Selain itu, obat tersebut
YANG PALING BANYAK mudah didapat dan
DIGUNAKAN terjangkau.
DISTRIBUSI BERDASARKAN HASIL TERAPI
BERUPA KEGAGALAN DAN KEBERHASILAN
PENGOBATAN PASIEN EPILEPSI DI POLIKLINIK
SARAF RUMAH SAKIT DUSTIRA TAHUN 2014
RS Dustira Cimahi
60,98% bangkitan pasien
epilepsi tidak terkontrol
setelah pengobatan
(Triani, 2014)
Presentasi
No. Hasil Terapi Jumlah (n)
(%)
1 Gagal 21 70,0
2 Berhasil 9 30,0
Total 30 100,0

RSCM Jakarta
68,3% bangkitan pasien epilepsi
tidak terkontrol
(Wiratman,dkk 2011)
HUBUNGAN KETIDAKTEPATAN DIAGNOSIS
DENGAN KEGAGALAN PENGOBATAN PASIEN
EPILEPSI DI POLIKLINIK SARAF RUMAH SAKIT
DUSTIRA TAHUN 2014
Kegagalan Pengobatan
Ketidaktepatan Total Nilai p
Gagal Berhasil
Diagnosis
n % n % n %

Tidak Tepat 19 90,5 8 88,9 27 90,0

Tepat 2 9,5 1 11,1 3 10,0 0,672

100,
Total 21 100,0 9 100,0 30
0

Kriteria penggunaa obat secara rasional


adalah Tepat Diagnosis
HUBUNGAN KETIDAKTEPATAN PILIHAN OBAT
DENGAN KEGAGALAN PENGOBATAN
PASIEN EPILEPSI DI POLIKLINIK SARAF RUMAH
SAKIT DUSTIRA TAHUN 2014

Kegagalan Pengobatan
Ketidaktepatan Total Nilai p
Pilihan Obat Gagal Berhasil
Pemilihan obat yang tidak tepat: pasien alergi terhadap
n % n % n %
obat, bukan obat yang paling efektif, kontrainsikasi obat,
pasien mendapatkan obat yang efektif tapi bukan yang
Tidak Tepat 10 47,6 0 0,0 10 33,3
paling murah, dan pasien menerima kombinasi obat
yang sebenarnya tidak diperlukan
(Cipolle,dkk 2007) 0,012
Tepat 11 52,4 9 100,0 20 66,7

Total 21 100,0 9 100,0 30 100,0


HUBUNGAN EFEK SAMPING YANG TIMBUL DENGAN
KEGAGALAN PENGOBATAN PASIEN EPILEPSI DI
POLIKLINIK SARAF RUMAH SAKIT DUSTIRA TAHUN
2014

Efek Kegagalan Pengobatan Nilai


Total
Samping Gagal Berhasil p
Obat
Efek samping
n %akan berdampak
n % padan ekonomi % dan
psikologik pasien yang menyebabkan
Ada ketidakpatuhan
3 14,3 minum
1 obat pada pasien
11,1 4 sehingga
13,3
berakibat kegagalan dalam pengobatan
(Widyaningsih (2012)
Tidak Ada 18 85,7 8 88,9 26 86,7 0,655

100,
Total 21 100,0 9 100,0 30
0
HUBUNGAN KETIDAKPATUHAN MINUM OBAT
DENGAN KEGAGALAN PENGOBATAN PASIEN
EPILEPSI DI POLIKLINIK SARAF RUMAH SAKIT
DUSTIRA TAHUN 2014

Kegagalan
Ketidakpatuhan dalamPengobatan
Ketidakpatuhan Total Nilai p
mengkonsumsi obat
Minum mengakibatkan
Obat Gagal Berhasil
sasaran
terapeutik yang
n dharapkan
% n % n %
tidak tercapai atau gagal.
(Frain, dkk 2009)
Tidak Patuh 10 47,6 4 44,4 14 46,7

Hubungan kepatuhan pengobatan epilepsi


terhadap frekuensi dan keparahan kejang
Patuh 11 52,4 5 55,6 16 53,3 0,596
menunjukan terdapat hubungan bermakna antara
kepatuhan pengobatan dengan frekuensi kejang
(p=0,013) dan terdapat hubungan bermakna
Total 21 antara kepatuhan
100,
9
100,pengobatan dengan keparahan
30 100,0
0 0
kejang (p=0,023)
(Firdha, 2013)
KETERBATASAN PENELITIAN

Jumlah sampel yang memenuhi


kriteria inklusi hanya sedikit

Waktu yang digunakan dalam


penelitian ini sangat terbatas

Penulisan dan kelengkapan data


pada rekam medik kurang lengkap

Pengurusan surat perizinan untuk


melakukan penelitian di Rumah Sakit
Dustira membutuhkan waktu cukup
lama dan petugas yang mengurus
data rekam medik hanya satu orang
BAB V

SIMPULAN DAN SARAN


SIMPULAN

1. Sebagian besar pasien epilepsi adalah laki-laki


(53,3%). Usia terbanyak pada kelompok usia 17-25
tahun (43,3%). Kelompok usia onset terbanyak pada
usia 0-5 tahun (36,7%). Tipe bangkitan yang paling
banyak adalah bangkitan epilepsi parsial kompleks
(46,6%)

2. Pilihan terapi dengan monoterapi masih menjadi pilihan


pengobatan (73,3%). Obat fenitoin adalah obat yang
sering diberikan (43,6%)
SIMPULAN
3. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara
ketidaktepatan diagnosis epilepsi dengan kegagalan
pengobatan (p=0,672)

4. Terdapat hubungan yang bermakna antara


ketidaktepatan pemilihan obat antiepilepsi dengan
kegagalan pengobatan (p=0,012)

5. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara efek


samping obat antiepilepsi yang timbul dengan
kegagalan pengobatan (p=0,655)

6. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara


ketidakpatuhan minum obat antiepilepsi dengan
kegagalan pengobatan (p=0,596)
SARAN

1. Edukasi kepada pasien epilepsi dan orang tua atau keluarga pasien
2. Diperlukan pemeriksaan EEG dan anamnesis pada seluruh pasien
epilepsi
3. Penulisan rekam medis pasien epilepsi di Rumah Sakit Dustira
sebaiknya memperhatikan kelengkapan data pasien
4. Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya memperbanyak jumlah sampel,
meneliti penyebab epilepsi, menganalisa lebih lanjut mengenai
kegagalan pengobatan pada monoterapi dan politerapi, dan variabel
berbeda