Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK

DENGAN
“KEJANG”

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK : 7
KELAS : 2C KEPERAWATAN
CINDY ALVIONITA 201701102
AGUS SALIM 201701096
REZKY AMALIA 201701130
SAIFUL 201701133
NARWAN 201701124
DEFINISI

Kejang merupakan perubahan fungsi otak


mendadak dan sementara sebagai akibat dari
aktivitas neuronal yang abnormal dan pelepasan
listrik serebral yang berlebihan.(betz &
Sowden,2002)
ETIOLOGI

Etiologi dari kejang demam masih tidak diketahui. Namun pada


sebagian besar anak dipicu oleh tingginya suhu tubuh bukan
kecepatan peningkatan suhu tubuh. Biasanya suhu demam diatas
38,8°C dan terjadi disaat suhu tubuh naik dan bukan pada saat setelah
terjadinya kenaikan suhu tubuh
PATOFISIOLOGI

Pada keadaan demam, kenaikan suhu sebanyak 1º C akan


menyebabkan kenaikan kebutuhan metabolisme basal 10-15% dan
kebutuhan oksigen meningkat sebanyak 20%. Pada seorang anak yang
berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh,
dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Pada kenaikan
suhu tubuh tertentu dapat menyebabkan terjadinya perubahan
keseimbangan dari membran sel neuron. Dalam waktu yang singkat
terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion Natrium melalui membran
tadi, akibatnya terjadinya lepasan muatan listrik. Lepasan muatan
listrik ini dapat meluas ke seluruh sel maupun membran sel
tetangganya dengan bantuan neurotransmitter dan terjadilah kejang
MANIFESTASI KLINIS

Kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan kejang klonik


atau tonik klonik bilateral. Seringkali kejang berhenti sendiri. Setelah
kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak,
tetapi setelah beberapa detik atau menit anak terbangun dan sadar
kembali tanpa defisit neurologis. Adapun tanda- tanda kejang demam
meliputi :
•Demam yang biasanya di atas (38,9 º C)
•Jenis kejang (menyentak atau kaku otot)
•Gerakan mata abnormal (mata dapat berputar-putar atau ke atas)
•Suara pernapasan yang kasar terdengar selama kejang
KOMPLIKASI
a. Kejang demam sederhana
b. Kejang demam kompleks
PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan Laboratorium
2. Pungsi lumbal
3. Elektroensefalografi (EEG)
4. Pencitraan (CT-Scan atau MRI kepala)
5. Terapi farmakologi
6. Terapi non-farmakologi
PENATALAKSANAAN

1. Pengobatan fase akut


2. Pengobatan profilaksis
3. Penanganan sportif
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
•Riwayat Keperawatan
Kaji gejala dan tanda meningkatnya suhu tubuh, terutama pada malam hari,
terjadinya kejang dan penurunan kesadaran.
Data biografi : nama, alamat, umur, status perkawinan, tanggal MRS, diagnose
medis, catatan kedatangan, keluarga yang dapat dihubungi.
•Riwayat kesehatan sekarang
Mengapa pasien masuk Rumah Sakit dan apa keluhan utama pasien, sehingga dapat
ditegakkan prioritas masalah keperawatan yang dapat muncul.
•Riwayat kesehatan dahulu
Apakah sudah pernah sakit dan dirawat dengan penyakit yang sama.
•Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada dalam keluarga pasien yang sakit seperti pasien.
•Riwayat psikososial
Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas / sedih)
Interpersonal : hubungan dengan orang lain.
•Pola Fungsi kesehatan
Pola nutrisi dan metabolisme :
Pola nutrisi klien perlu dikaji untuk menentukan terjadinya gangguan nutrisi atau
tidak pada klien
•Pola istirahat dan tidur
Selama sakit pasien merasa tidak dapat istirahat karena pasien merasakan demam
terutama pada malam hari

PEMERIKSAAN FISIK
•Kesadaran dan keadaan umum pasien
Kesadaran pasien perlu di kaji dari sadar-tidak sadar (composmentis-coma) untuk
mengetahui berat ringannya prognosis penyakit pasien.
•Tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik kepala-kaki
TD, Nadi, Respirasi, Temperatur yang merupakan tolak ukur dari keadaan umum
pasien / kondisi pasien dan termasuk pemeriksaan dari kepala sampai kaki dengan
menggunakan prinsip-prinsip (inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi), disamping itu
juga penimbangan BB untuk mengetahui adanya penurunan BB karena peningkatan
gangguan nutrisi yang terjadi, sehingga dapat dihitung kebutuhan nutrisi yang
dibutuhkan
DIAGNOSA

1. Aspirasi berhubungan dengan adanya penumpukan sekret di saluran pernapasan


2. Resiko cedera berhubungan dengan terjadinya penurunan kesadaran
3. Gangguan rasa nyaman (peningkatan suhu tubuh) berhubungan dengan dampak
patologi dari penyakitnya.
INTERVENSI
Dx: Aspirasi berhubungan dengan adanya penumpukan sekret di saluran pernapasan
Tujuan: Tidak terjadi aspirasi
KH: jalan napas bebas, tidak ada suara napas tambahan, tidak ada sekret yang
menumpuk

Rencana tindakan:

1. Berikan posisi miring pada pasien


R/ agar jalan napas tetap terbuka
2. Lakukan suction
R/ membersihkan jalan naapas
3. Lakukan nebulizer
R/ untuk mengencerkan sekret
4. Observasi tanda-tanda vital pasien
R/ mengetahui tingkat perkembangan pasien
5. Kolaborasi dengan tim medis/ dokter dalam pemberian terapi
R/ melaksanakan fungsi independent
Dx: Resiko cedera berhubungan dengan terjadinya penurunan kesadaran
Tujuan: cedera pada saat terjadi kejang dapat dicegah
KH: tidak terjadi cedera, pederita tidak jatuh, lidah pasien tidak tergigit

Rencana tindakan:

1. Jaga kepala terhadap benda-benda yang dapat menimbulkan cedera


R/ menghindari cedera saat kejang
2. Rawat pasien dengan posisi tidur kepala miring
R/ sekret dapat keluar
3. Observasi tanda-tanda vital pasien tiap 15 menit selama fase akut
R/ mengetahui tingkat perkembangan pasien
4. Buka pakaian yang menekan
R/ membuka saluran nafas agar nafas pasien tidak tertekan
5. Berikan pengamanan pada tempat tidur
R/ menghindari cedera atau jatuh
6. Minimalkan terjadi cedea pada pasien
R/ meminimalkan terjadi cedea pada pasien
Dx: gangguan rasa nyaman (peningkatan suhu tubuh) berhubungan dengan
dampak patologi dari penyakitnya.
Tujuan: suhu tubuh normal dalam waktu 30 menit - 1 jam
KH: suhu tubuh 36,5 C, tidak keluar keringat dingin, pasien tenang

Rencana tindakan:

1. Berikan penjelasan pada keluarga pasien tentang penyebab peningkatan suhu


tubuh
R/ keluarga pasien dapat mengerti tentang penyebab demam
2. Ganti pakaian pasien dengan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat
R/ untuk mengurangi penguapan
3. Berikan kompres dingin pada pasien
R/ dapat mengurangi suhu panas pasien
4. Observasi tanda-tanda vital pasien
R/ mengetahui tingkat perkembangan pasien
5. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat antipiretik
R/ menurunkan demam dan melaksanakan fungsi independent
EVALUASI
Diagnosa/Masalah

1. Aspirasi berhubungan dengan adanya penumpukan sekret di saluran


pernapasan
Klien tidak mengalami aspirasi
Kriteria :
Jalan napas bebas
Tidak ada suara napas tambahan
Tidak ada sekret yang menumpuk

2. Resiko cedera berhubungan dengan terjadinya penurunan


kesadaran
Cedera pada saat terjadi kejang dapat dicegah
Kriteria :
Tidak terjadi cedera
Penderita tidak jatuh
Lidah pasien tidak tergigit
3. Gangguan rasa nyaman (peningkatan suhu tubuh)
berhubungan dengan dampak patologi dari penyakitnya

Rasa nyaman terpenuhi


Kriteria :
Tanda vital :
Suhu : 36 – 37,5ºC
N : 100 – 110 kali/ menit
RR : 24 – 28 kali/menit
Kesadaran : composmentis
Anak tidak rewel
Tidak keluar keringat dingin
TERIMA KASIH