Anda di halaman 1dari 21

TITRIMETRI

NENY RASNYANTI M ARAS


TITIRIMETRI

Titrasi Titrasi Titrasi


Titrasi redoks
penetralan pengendapan kompleksometeri
Titrasi penetralan

Asidimetri

Alkalimetri
LARUTAN STANDAR

Primer
• natrium karbonat, kalium hidrogenftalat, asam
benzoat, natrium tetraborat, asam sulfamat, kalium
hidrogen iodat, natrium oksalat, perak, natrium
klorida, kalium klorida, iod, kalium bromat, kalium
iodat, kalium dikromat dan arsen (II) oksida.

Sekunder
• asam klorida, natrium hidroksida, kalium
hidroksida, barium hidroksida, kalium
permanganat, amonium tiosianat, kalium
tiosianat dan natrium tiosulfat.
Larutan standar primer untuk Larutan standar primer untuk
menstandarisasi basa : KHP (kalium menstandarisai asam:
Dihidrogenptalat),HSO3NH2 (asam natrium karbonat (Na2CO3), dan
sulfamat ), KH(IO3)2 (kalium hidrogen tris(hidroksimetil)aminometana
iodat ) ((CH2OH)3CNH2)
CARA MENENTUKAN TITIK EKIVALEN

pH
indikator Untuk memperoleh ketepatan
meter hasil titrasi maka titik akhir titrasi
dipilih sedekat mungkin dengan
Memonitor perubahan pH selama titik ekuivalen, hal ini dapat
proses titrasi dilakukan dengan memilih
indikator yang tepat dan sesuai
dengan titrasi yang akan
dilakukan.
MEMILIH INDIKATOR
Warna Indicator
asam-basa
tergantung pada pH
larutan. pH pada
saat asam dan basa
tepat ekivalen
disebut titik
ekivalen.
Titik ekivalen ini
tergantung pada
kekuatan asam dan
basa yang
direaksikan.
JENIS-JENIS INDIKATOR

Perubahan warna indikator fenolftalein


Pada berbagai pH
Perubahan warna indikator metil merah
Pada berbagai pH
MEMBUAT INDIKATOR

Air/etanol(70- Larutan
0,5-1 gram
90%) indikator
TITRASI ASAM-BASA

Asam kuat-Basa Kuat

Asam kuat-Basa Lemah

Asam Lemah-Basa kuat

Asam Lemah-Basa Lemah


CONTOH SOAL

•Larutan HCl 0,1 M sebanyak 50 ml dititrasi dengan


NaOH 0,1 M. Hitunglah pH pada awal titrasi
(volume titran =0), setelah penambahan titran NaOH
(volume titran = 10mL) sampai tercapai titik ekivalen
(volume titran =50 mL) dan titik akhir titrasi (volume
titran = 60 mL) kemudian buatlah kurva titrasinya
dengan mengalurkan pH terhadap volume titran.
• pH awal = H3O+ = 1.00
• pH setelah penambahan 10 ml NaOH 0.1M
HCL NaOH NaCl H2O
5mmoL 1mmoL
1mmoL 1mmoL 1mmoL 1mmoL
4 mmol - 1mmoL 1mmoL

• [H+] = 4/60 = 6.67 x 10-2 mmol/mL


• pH = 2-log 6.67 = 1.18
1. Lakukan percobaan titrasi untuk menentukan kadar asam asetat
yang terdapat dalam beberapa larutan cuka komersial dengan titrasi
asam basa menggunakan LarutanStandar natrium hidroksida.
2. Titrasi asam-basa banyak digunakan secara luas untuk analisis
kimia, sebagai permulaan lakukan kegiatan berikut:
a.Identifikasi senyawa asam atau basa yang terdapat di lingkungan
sekitar yang dapat ditentukan kadarnya dengan cara titrasi
penetralan (asam-basa)!
b.Bandingkan hasilnya dengan hasil identifikasi teman, apakah ada
perbedaan!
3. 50 ml asam lemah 0.1M HB (Ka= 10-5) dititrasi dengan NaOh
0.1M. Hitunglah pH pada mula-mula titrasi dan setelah
penambahan 10.50. dan 60 mL NaOH. Gambar kurva titrasinya.
+ −
HB + H2O ↔𝐻3𝑂 +𝐵 (𝐾𝑎 = 10 − 5

B- + H2O ↔𝐻𝐵 + 𝑂𝐻 (𝐾𝑏 = 10 − 9
HB + OH- ↔𝐵 − +𝐻2𝑂(𝐾𝑡 = 10 + 9 = 1/Kb)
TITRASI PENGENDAPAN
• Titrasi pengendapan biasa juga disebut titrasi argentometri (AgNO3).
senyawa pengendap dalam titrasi adalah merkuri (II), Hg22+
• Titrasi argentometri biasa digunakan untuk menentukan senyawa
halogenida
Metode titrasi pengendapan

Argentometri (AgNO3 distandarisasi dengan NaCl)


• Gay Lussac
• Fajans : untuk penetapan halogenida dengan menggunakan indikator
diiododimetilfolrosense atau fluorosense (indikator adsorbsi= zat yang dapat diserap pada
permukaan endapan)
• Mohr : untuk penetapan ion Cl, dan Br
• Volhard : untuk penetapan ion Cl, Br,dan SCN dalam suasana asam

MERKUROMETRI
Gay lussac
• Pada cara ini tidak digunakan indikator untuk penentuan titik akhir
karena sifat dari endapan AgX yang membentuk larutan koloid bila
ada ion sejenis yang berlebih.
• Metode Mohr
Suasana larutan harus netral, yaitu sekitar 6,5 – 10. Bila pH >10
akan terbentuk endapan AgOH yang akan terurai menjadi Ag2O,
sedangkan apabilaPerubahan
pH<6,5 (asam),
warna titikion
ahirkromat akanMohr
titrasi secara bereaksi
dengan H+ menjadi Cr2O72- dengan persamaan reaksi :
CARA VOLHARD
• Fe3+ + SCN-→Fe(SCN)2+
• Pada penentuan Cl-secara tidak langsung terdapat kesalahan yang cukup
besar, karena AgCl lebih mudah larut dari pada AgCNS (Ksp AgCl = 1,2 x 10-
10 ; Ksp AgCNS = 1,2 x 10-12) jadi AgCl yang terbentuk cenderung larut
kembali menurut persamaan reaksi :

• AgCl + SCN- → AgSCN +Cl-


• Pada penentuan bromida dan iodida cara tidak langsung tidak
menyebabkan gangguan karena Ksp AgBr hampir sama dengan Ksp AgCNS,
sedangkan Ksp AgI lebih besar daripada Ksp AgCNS, tetapi penambahan
indikator Fe3+harus dilakukan setelah penambahan AgNO3 berlebih, untuk
menghindari reaksi:
Fe3+ + 2I- →Fe2+ + I2
Metode fajans

Karena penyerapan terjadi pada


permukaan, dalam titrasi ini
diusahakan agar permukaan endapan
itu seluas mungkin supaya perubahan
warna yang tampak sejelas mungkin,
maka endapan harus berukuran koloid.
Penyerapan terjadi apabila endapan
yang koloid itu bermuatan positif,
dengan perkataan lain setelah sedikit
kelebihan titrant (ion Ag+).
3. TITRASI KOMPLEKSOMETERI
• Titrasi kompleksometri
adalah titrasi berdasarkan
pembentukan senyawa
kompleks antara kation(ion
logam) dengan zat
pembentuk kompleks
(ligan).
• Yang biasa digunakan
adalah Na2EDTA (Na2H2Y)
karena EDTA danam bentuk
H4Y DAN NaH3Y sukar lart
dalam air
• Besarnya harga konstante pembentukan komplek menyatakan tingkat
kestabilan suatu senyawa kompleks.
Konstanta pembentukan/kestabilan senyawa kompleks dinyatakan
sebagai berikut: