Anda di halaman 1dari 33

PRESENTASI KASUS

KATARAK SENILIS
IMATUR
Oleh Ridhan H. Hussein H.
Pembimbing dr. Teguh Anamani, Sp.M
Identitas Pasien
● Nama : Ny. R
● Pekerjaan : Ibu rumah tangga atau petani
● Jenis kelamin : Perempuan
● Umur : 53 tahun
● Alamat : Ccijoho RT 01 RW 02 Tayem
Karangpucung

2
“ Anamnesis
Keluhan Utama
Pandangan kabur pada kedua mata

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poli mata RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo tanggal 5 ebruari 2019 dengan keluhan
pandangan kabur pada kedua mata. Keluhan kabur dirasakan pasien sejak 2 tahun yang lalu, pasien juga
mengeluhkan pandangan kabur seperti melihat asap atau kabut yang dirasakan sejak 6 bulan yang lalu. Pasien
mengakui keluhan dirasakan semakin ar semakin memberat dan sangat mengganggu aktivitasnya. Tidak
didapatkan aktor memperingan ataupun memperberat pada keluhan pasien. Pasien juga kadang mengeluhkan
gatal pada mata pasien, mata silau, mata merah, mata berair, mual dan muntah disangkal ole pasien. Pasien
baru pertama kali berobat ke dokter mengenai keluhan matanya, seelumnya belum pernah berobat atau
mengobati sendiri matanya.

3
Anamnesis
Riwayat Penyakit Dahulu
Keluhan serupa (-), Hipertensi (-), Diabetes Mellitus (+), Trauma pada mata (-), Alergi (-),
Pemakaian steroid jangka panjang (-).
Riwayat Penyakit Keluarga
Keluhan serupa (-), Hipertensi (-), Diabetes Mellitus (-), Alergi (-)

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien merupakan seorang ibu rumah tangga yang melakukan aktivitas sehari-hari di
rumah. Pasien juga gemar berkebun, bercocok tanam dan pergi bertani. Pasien makan 3
kali dalam sehari dan mengaku gemar menkonsumsi sayuran.

4
“Status Presen
● Tekanan Darah : 150/70 mmHg
● Nadi : 115 x/menit
● Respiratory Rate : 90 x/menit
● Suhu : 36.5 oC
● Tinggi Badan : 148 cm
● Berat Badan : 32 kg

5
Status Oftalmologik
OCCULI DEXTRA OCCULI SINISTRA

2/60 VISUS 1/60


- VISUS DENGAN KACAMATA -

- VISUS KOREKSI -
Ukuran normal, gerak ke segala arah (+), Ukuran normal, gerak ke segala arah (+),
BOLA MATA
simetris simetris
Supersilia madarosis (-), silia trikiasis (-), distikia Supersilia madarosis (-), silia trikiasis (-), distikia
SILIA
(-) (-)
Edema (-), ptosis (-), lagoftalmus (-), Edema (-), ptosis (-), lagoftalmus (-),
hordeolum (-), hiperemis (-), massa (-) PALPEBRA SUPERIOR hordeolum (-), hiperemis (-), massa (-)

6
OCCULI DEXTRA OCCULI SINISTRA
Edema (-), hordeolum (-), hiperemis (-), massa (-), Edema (-), hordeolum (-), hiperemis (-), massa
PALPEBRA INFERIOR
entropion (-), ektropion (-) (-), entropion (-), ektropion (-)
Hiperemis (-), folikel (-), papil (-) KONJUNGTIVA PALPEBRA Hiperemis (-), folikel (-), papil (-)
Injeksi konjungtiva (-), injeksi siliar (-), jar. Injeksi konjungtiva (-), injeksi siliar (-),jar.
KONJUNGTIVA BULBI
Fibrovaskular (-) Fibrovaskular (+)
Ikterik (-) SKLERA Ikterik (-)
Infiltrat (-), edema (-) keratic presipitat (-), Infiltrat (-), edema (-) keratic presipitat (-),
KORNEA
keratokonus (-), keratoglobus (-) keratokonus (-), keratoglobus (-)
Bilik mata depan dalam, hifema (-), hipopion (-), Bilik mata depan dalam, hifema (-), hipopion (-),
BILIK MATA DEPAN
tyndall effect (-) tyndall effect (-)
Kripte iris normal, sinekia (-), nodul (-) IRIS Kripte iris normal, sinekia (-), nodul (-)
Bentuk bulat, tepi reguler, diameter ± 3mm, Bentuk bulat, tepi reguler, diameter ± 3mm,
PUPIL
letak sentral, refleks direk (+), refleks indirek (+) letak sentral, refleks direk (+), refleks indirek (+)
Keruh, warna putih keabuan, iris shadow test Keruh, warna putih keabuan, iris shadow test
(+) LENSA (+)
Fundus relex suram (+) FUNDUS REFLEX Fundus reflex suram (+)
- KORPUS VITREOUS -
Tonometri digital normal TIO Tonometri digital normal
Normal SISTEM LACRIMALIS Normal
Lapang pandang Menyempit TES KONFRONTASI Lapang pandang Menyempit

7
Ringkasan Pemeriksaan
Anamnesis
Keluhan utama : Pandangan kabur pada kedua mata
RPS :
Onset : ±2 tahun yang lalu
Lokasi : mata kanan dan kiri
Kualitas : mengganggu aktivitas
Kuantitas : terus-menerus
Progresivitas : semakin memberat
Keluhan penyerta : melihat adanya bayangan pputih sepeti asap atau awan

8
RPD : Hipertensi (-), Diabetes mellitus (+), keluhan serupa (-), trauma pada
daerah mata (-), Alergi (-), penggunaan kacamata (-)
RPK : Hipertensi (-), Diabetes mellitus (-), keluhan serupa (-)
RPSE : Seorang ibu rumah tangga dan petani

Pemeriksaan Fisik
Status oftalmologik
VOD 2/60 ; VOS 1/60
ODS lensa keruh, warna putih keabuan, iris shadow test (+), lapang pandang
menyempit (+)

9

Diagnosis Diferensial
Katarak senilis matur
Katarak Diabetik
Kondisi dimana mata aphakia
telah dilengkapi dengan lensa
intraokular untuk mengganti lensa
mata yang asli

Diagnosis Kerja
ODS katarak senilis imatur
OS Pterigium Grade I

10
Terapi
● Memperbaiki visus dengan kacamata
● Rujuk dokter Sp.M untuk evaluasi serta penanganan katarak.
Edukasi:
● Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit yang dideritanya adalah katarak senilis
imatur yang biasa terjadi pada usia lanjut.
● Menjelaskan kepada pasien bahwa kemungkinan dilakukannya operasi jika penurunan
penglihatan sudah mengganggu aktivitas dan peningkatan penglihatan jika dilakukan
operasi.
● Menjelaskan kepada pasien mengenai rujukan ke dokter Sp.M untuk evaluasi dan
tatalaksana katarak lebih lanjut.
● Menjelaskan kepada pasien untuk kontrol secara teratur untuk memantau hasil
pengobatan dan perjalanan penyakitnya.

11

Prognosis
QUO AD VISAM
OD
Bonam
OS
Dubia ad bonam
QUO AD VITAM Bonam Bonam
QUO AD SANATIONAM Bonam Dubia ad bonam
QUO AD COSMETICAM Bonam Dubia ad bonam

12
TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi

• Biconvex • Avaskular • Kapsul (kolagen tipe IV)


• Transparan • Tidak memiliki inervasi • Epitel (kuboid simpleks)
• Diameter 9 mm • Diopter : 15-20 D • Substansi lensa (korteks
• Axis length 4 mm & nukleus)

14
Fisiologi
Cahaya jauh Cahaya dekat

15
“ Definisi
Katarak merupakan abnormalitas pada lensa mata berupa kekeruhan lensa yang
menyebabkan tajam penglihatan penderita berkurang (James et al, 2005)
Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu
usia diatas 50 tahun.

16
48%
kebutaan di dunia
Di Indonesia hasil survei kebutaan dengan disebabkan oleh
menggunakan metode Rapid Assessment of katarak (WHO)
Avoidable Blindness (RAAB) yang baru dilakukan
di 3 provinsi (NTB, Jabar dan Sulsel) tahun 2013 -
2014 didapatkan prevalensi kebutaan pada
masyarakat usia > 50 tahun rata-rata di 3
provinsi tersebut adalah 3,2 % dengan
penyebab utama adalah katarak (71%).

17
Etiologi
Infeksi Proses degenerasi
TORCH Trauma
Kelainan
Akuisita
Kongenital

Penyakit intraokular
genetik
Penyakit sistemik
Obat-obatan
Katarak-ikutan (membran sekunder)

18
Klasifikasi
Usia
Kongenital Juvenil Senilis

Letak Kekeruhan
Kortikal Nuklear Subkapsularis Posterior

19
Klasifikasi
Derajat Kekeruhan
Insipien Imatur Matur Hipermatur

Katarak
Morgagni
20
INSIPIEN IMATUR MATUR HIPERMATUR

• ≠gangguan visus • Belum seluruh • Keruh seluruhnya • Korteks seperti


• Korteks anterior, lapisan lensa • Terjadi bubur telah
aksis relatif masih • Kekeruhan pengeluaran air, mencair
jernih posterior dan ukuran normal • Nukleus turun di
• Kekeruhan di belakang nukleus kembali bawah karena
bagian perifer – lensa – refleks • Shadow test (-) daya berat
bercak seperti baji pantulan cahaya (+) • Katarak Morgagni:
(jari roda) – Spokes – Shadow test (+) kerusakan kapsul,
of Wheel • Hidrasi korteks – isi korteks keluar
cembung dan lensa kempis,
• Penyulit : nukleus terbenam
glaukoma di bawahnya
“ Shadow test

22
Faktor resiko
● Umur ● Merokok
Proses normal ketuaan mengakibatkan Induksi stres oksidatif, penurunan kadar
lensa menjadi keras dan keruh askorbat dan karotenoid, denaturasi
protein  lensa keruh
● Sinar UV
Diserap lensa  rx fotokimia  radikal ● Devisiensi nutrisi
bebas  lensa keruh vit A, vit C, vit E, niasin, tiamin, riboflavin,
beta karoten  protektif
● Diabetes mellitus
Kadar gula darah tinggi  kadar gula ● Jenis kelamin
aquos humor tinggi  difusi ke lensa  Menurut banyak penelitian, perempuan
gula diubah mjd sorbitol  menumpuk di lebih beresiko
lensa  osmolaritas meningkat  menarik
air  serabut lensa bengkak  keruh

23
patofisiologi
Lapisan baru korteks Kristalisasi lapisan
Agregasi protein Pigmentasi lensa
bertambah seiring usia lensa

Penekanan nukleus High-molecular-


weight-protein

Nukleus mengeras

Sklerosis nuclear

Perubahan indeks refraksi Keruh

Pandangan kabur
patofisiologi
Teori hidrasi.
Teori ini menjelaskan terjadinya kegagalan mekanisme pompa aktif pada epitel
lensa yang berada di subkapsular anterior sehingga air tidak dapat dikeluarkan
dari lensa. Air yang banyak ini akan menimbulkan bertambahnya tekanan
osmotik yang menyebaban kekeruhan lensa.

Teori sklerosis.
Teori sklerosis menjelaskan serabut kolagen yang terus bertambah sehingga
terjadi pemadatan serabut kolagen di tengah lensa. Pemadatan serabut kolagen
ini akan menjadi sklerosis nukleus lensa. Teori ini diyakini banyak terjadi pada
orang tua
Penegakan diagnosis
Anamnesis
● Penglihatan kabur
● Pandangan seperti tertutupi kabut atau bercak
● Silau
● Penglihatan ganda atau berbayang
● Jika pasien sebelumnya menggunakan kacamata, pasien
akan merasa ukuran kacamatanya harus diubah
Pemeriksaan fisik
Insipien Imatur Matur Hipermatur
Visus 6/6 Menurun Menurun Menurun
(6/6 - 1/60) (1/300-1/~) (1/300-1/~)

Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif


Cairan lensa Normal Bertambah Normal Berkurang
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik Mata Depan Normal Dangkal Normal Dalam
Sudut bilik mata Normal Sempit Normal Terbuka
Iris shadow Negatif Positif Negatif Pseudopositif
Penyulit - Glaukoma - Uveitis +
Glaukoma
Tatalaksana
Non bedah
• Pengobatan dari penyebab katarak
• Menghentikan pertumbuan kekeruhan pada lensa atau menghambat
konversi glukosa menjadi sorbitol  Aldose reductase inhibitor
• Meningkatkan penglihatan pada katarak insipien dan imatur dengan: Refraksi,
peningkatan pencahayaan

Indikasi bedah
• Fungsi penglihatan gangguan signifikan pada kehidupan sehari-hari
• Indikasi medis  glaukoma lens-induced, endoftalmitis fakoanafilaktik,
penyakit retina seperti retinopati diabetikum dan ablasio retina yang terapinya
terganggu karena adanya kekeruhan lensa.
• Indikasi kosmetik
Jenis pembedahan
Ekstraksi Ekstraksi
Small Incision
Katarak Intra Katarak Ekstra
Cataract Surgery
Kapsuler Kapsuler

Fakoemulsifikasi
30
Komplikasi dan prognosis
• Kebutaan sebagai komplikasi jika katarak tidak
ditatalaksana
• Katarak dapat menyebabkan uveitis dan glaucoma
sekunder.
• Tindakan pembedahan secara defenitif pada katarak
senilis dapat memperbaiki ketajaman penglihatan pada
lebih dari 90% kasus.
AAO (American Academy of Ophthalmology). 2011. Cataract. Accessed November 18, 2018 at
http://www.geteyesmart.org/eyesmart/diseases/cataracts.cfm.
Albert, D.M., et al. 2008. Albert and Jakobiec’s Principles and Practice of ophtalmology 3th Edition. Philladelphia:
Saunders Elseviers
Depkes RI. 2016. Katarak Sebabkan 50% Kebutaan. Accessed November 18, 2018 at
http://www.depkes.go.id/article/view/16011100003/katarak-sebabkan-50-kebutaan.html
Harper, R. A., dan Shock, J. P. 2011. Lensa dalam Vaughan & Asbury general ophthalmology. 18th ed. Riordan-eva P,
Cunningham E (editor). McGraw-Hill Professional.
Ilyas, Sidarta., dan Yulianti, Sri Rahayu. 2015. Ilmu Penyakit Mata, edisi ke-3. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
James, Brus. dkk. 2005. Lecture Notes Oftalmologi. Jakarta: Erlangga.
Kanski JJ, Bowling B. 2012. Clinical ophthalmology: systemic approach. 7th ed. New York: Saunders.
Perdami (Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia). 2011. Katarak. Accessed November 18, 2018 at
http://www.perdami.or.id/?page=news_seminat.detail&id=2.
Scanlon, V.C., dan Sanders, T. Indra. 2007. Dalam. : Komalasari, R., Subekti, N.B., Hani, A., editors. Buku Ajar Anatomi
dan Fisiologi. 3rd ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Vaughan, D.G., dan Asbury, T. 2008. Oftalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta: Widya Medika.
Yanoff, M., Duker JS. 2014. Ophtalmology 4th Edition. Philladelphia : Saunders Elsevier

32

Terima kasih
Auliya Syisma Aghnesi
G1A014049

33