Anda di halaman 1dari 45

ANALISA FESES

yosepin
• Feses merupakan sisa makanan yang telah
dicerna oleh usus  dikeluarkan dari tubuh
bentuk padat
• Kelainan di dalam saluran cerna, feses
berubah bentuk serta hasil pemeriksaan yang
abnormal.
• Feses  membantu dalam penegakan
diagnosis kelainan system traktus
gastrointestinal
• Kelainan pada system traktus gastrointestinal:
Diare,
Infeksi parasit
Pendarahan gastrointestinal
Ulkus peptikum
Karsinoma dan sindroma malabsorbsi
• Diare didapatkan peningkatan sisa makanan
dalam feses  makanan melewati saluran
pencernaan dengan cepat dan tidak dapat
diabsorpsi secara sempurna
Feses normal terdiri dari:
• Sisa-sisa makanan yang tidak dicerna
• Air
• Bermacam produk hasil pencernaan
makanan
• Kuman-kuman non patogen
Dewasa : 100 – 300 gr tinja/ hari
Orang dewasa  terdiri dari :
1. Air (70%)
2. Sisa makanan yg tdk dapat dicerna
3. Pigmen dan garam empedu
4. Sekresi intestinal termasuk mukus
5. Lekosit yang migrasi dari aliran darah
6. Epitel
7. Bakteri
8. Material anorganik terutama kalsium dan
fosfat
9. Makanan yg tdk tercerna (dalam jumlah yg
sangat kecil)
10. Gas
DIARE
• Diare  peningkatan pengeluaran tinja
dengan konsistensi lebih lunak atau lebih cair
dari biasanya, dan terjadi paling sedikit 3 kali
dalam 24 jam
• Dapat atau tanpa adanya lendir dan darah
• bayi dan anak  didefinisikan sebagai
pengeluaran tinja >10 g/kg/24 jam,
• sedangkan rata-rata pengeluaran tinja normal
bayi sebesar 5 -10 g/kg/ 24 jam
ETIOLOGI
• Bakteri : Shigella, Salmonella, E. Coli, Gol. Vibrio,
Bacillus cereus, Clostridium perfringens, Stafilokokus
aureus, Campylobacter aeromonas.
• Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus,
Coronavirus, Astrovirus
• Parasit : Protozoa, Entamoeba histolytica, Giardia
lamblia, Balantidium coli, Trichuris trichiura,
Cryptosporidium parvum, Strongyloides stercoralis
• Non infeksi : malabsorpsi, keracunan makanan, alergi,
gangguan motilitas, imunodefisiensi, kesulitan makan,
Klasifikasi Diare berdasarkan Patofisiologi

• Diare osmotik
• Diare sekretorik
• Diare eksudatif
• Diare karena gangguan motilitas
1. Diare sekretori
 meningkatnya sekresi air dan elektrolit
dari usus, menurunnya absorpsi.
• Toksin yang dikeluarkan bakteri (toksinkolera),
pengaruh garam empedu, hormon intestinal
seperti gastrin vasoactiv
intestinal polypeptide (VIP)  Gangguan
transport cairan elektrolit (abs << atau sekresi
>> )
• Toxin menstimulasi cAMP dan
cGMP menstimulasi sekresi cairan & elektrolit
• Aktif  gangguan aliran (absorpsi) darilumen
usus ke dalam plasma atau percepatan cairan
air dari plasma ke lumen
• Pasif  tekanan hidrostatik dalam
jaringankarena terjadi ekspansi air dari
jaringan kelumen usus. Contoh : peninggian
tekananvena mesenterial, obstruksi sistem
limfatik,iskemia usus, proses peradangan
 khas pada diare ini yaitu secara klinis
ditemukan diare dengan volume tinja yang
banyak sekali
2. Diare osmotik
• disebabkan meningkatnya tekanan osmotik
intralumen dari usus halus yang disebabkan
oleh obat-obat/zat kimia yang hiperosmotik
(antara lain MgSO4, Mg(OH)2), malabsorpsi
umum dan defek dalam absorpsi mukosa usus
missal pada defisiensi disakaridase
malabsorpsi glukosa/galaktosa
• Contoh : Intoleransi makanan, waktu
pengosongan lambung yang cepat, defisiensi
enzim laktase,laksan osmotik
3. Diare eksudatif
• Kerusakan mukosa usus halus atau usus besar
akibat inflamasi
• Inflamasi & eksudasi dapat terjadi akibat
infeksi bakteri, non infeksi ( gluten sensitive
enteropathy), atau akibat radiasi
• Contoh : kolitif ulserosa, penyakit Crohn,
amebiasis, shigellosis, champylobacter,yersinia
4. Diare karena gangguan motilitas
• Gangguan pada kontrol otonomik  Waktu
tansit usus menjadi lebih cepat
• Misalnya pada diabetik neuropati,
postvagotomi, post reseksi usus,
hipertiroid,tirotoksikosis, sindroma usus
iritabel
Patofisiologi Diare oleh Virus & Bakteri
• VIRUS  enterosit (sel epitel usus halus)
 infeksi & kerusakan villi usus halus
- Enterosit rusak diganti oleh enterosit baru
(kuboid/sel epitel gepeng yang belum matang)
 fungsi belum baik
- Villi usus atropi  tidak dapat mengabsorbsi
makanan & cairan dengan baik  Tekanan
Koloid Osmotik usus ↑↑↑  motilitas ↑↑↑
 DIARE
• BAKTERI INVASIF (Salmonella, Shigella , E. coli
invasif,Champylobacter)
- Bakteri menginvasi sel mukosa usus halus 
reaksi sistemik (demam, kram perut) dan bisa
sampai terdapat darah dalam tinja
• BAKTERI NON-INVASIF (Vibrio cholerae, E.
coli patogen)
• Masuk → lambung → duodenum →
berkembang biak → mengeluarkan enzim
mucinase → bakteri masuk ke membran →
mengeluarkan subunit A & B → mengeluarkan
(cAMP) → merangsang sekresi cairan usus,
menghambat absorbsi tanpa menimbulkan
kerusakan selepitel → volume usus ↑ →
dinding usus teregang → DIARE
Laboratorium
• Makroskopik harus diperhatikan bentuk,
warna tinja, ada tidaknya darah, lender, pus,
lemak, dan lain-lain.
• Pemeriksaan mikroskopik melihat ada
tidaknya leukosit, eritrosit, telur cacing,
parasit, bakteri, dll
Syarat pengambilan
1. Tempat kering, bersih, bebas urin  segera
dikirim ke laboratorium :
– Feses yang masih hangat  pemeriksaan telur dan parasit
– Feses yang disimpan dalam almari es  dibiarkan dulu
pada temperatur ruang  diperiksa
– Tidak boleh disimpan pada inkubator
2. Sampel terbaik adalah yang fres (baru)
3. Pengumpulan dilakukan sebelum terapi antibiotika dan
seawal mungkin saat sakit
4. Jumlah sampel  sebesar ibu jari  + mukus, darah yg ada
5. Feses di kloset / terkontaminasi barium / produk x-ray  tidak
boleh
6. Beri label identitas  nama, tanggal, alamat, jenis
pemeriksaan
Cara pengambilan:
• Tinja segar : sebaiknya tinja pagi hari atau tinja
baru dan defekasi spontan
• Ambil tinja bagian tengahnya sebesar ibu jari,
dan masukkan ke dalam wadah dan tutup
rapat
• Rectal swab
• Anal swab
Penundaan Pemeriksaan :
1. Feses dimasukkan almari es
2. Diberi formalin
3. Diberi nitrogen
Persiapan penderita
1. Terangkan cara penampungan & macam
pemeriksaan
2. Penderita defekasi pd penampung feses
bermulut lebar
3. Jangan tercampur kencing
4.Jangan diletakkan di kertas toilet
Pemeriksaan laboratorium
1. Makroskopis
 Warna, darah, lendir, konsistensi, bau, pH,
sisa makanan
2. Mikroskopis
 Epitel, eritrosit, lekosit, kristal, lemak,
makrofag, sisa makanan
3. Kimiawi
 Karbohidrat, Protein, Lemak, Darah samar,
benzidin test, Urobilinogen
4. Bakteriologi ( mikrobiologi)
Keadaan yang mempengaruhi warna tinja
warna tidak patologis patologis
oksidasi normal dari pigmen
coklat, coklat empedu, dibiarkan lama di udara,
tua,kuning coklat, makanan yang banyak
coklat tua sekali mengandung daging
makanan mengandung zat besi, perdarahan di saluran
Hitam bismuth cerna bagian proximal
steatore (konsistensi
abu-abu/putih makanan mengandung coklat seperti bubur dan berbuih)
abu-abu muda makanan mengandung banyak
sekali bahan susu barium obstruksi saluran empedu
makanan melalui usus
makanan yang mengandung dalam waktu cepat hingga
hijau atau kuning banyak bayam, sayuran hijau, pigmen empedu belum
muda pencahar yang berasal dari sayuran sempat teroksidasi
perdarahan yang berasal
makanan yang mengandung dari saluran cerna bagian
merah banyak lobak merah (bit) distal
Pemeriksaan Bau
Pemeriksaan lendir
Pemeriksaan darah
Pemeriksaan nanah
Pemeriksaan sisa makanan
TERIMA KASIH