Anda di halaman 1dari 34



  
 

  

|  
CIRI PROFESI
Charaka Samhita (Sebelum Masehi):
½ ` ledge.
½ Clever ess.
½ Devti .
½ Purity (physic a d mi d).

Ber ard Barber:


½ Memiliki bdy  k ledge.
½ Orie tasi primer ya lebih ditujuka u tuk kepe ti ga masyarakat.
½ Memiliki meka is e selc trl.
½ Memiliki sistem reard..
FUNGSI HUKUM
Hukum merupakan kaidah sosial yang diperlukan
di dalam masyarakat untuk:

- Menciptakan kedamaian.
- Menyelesaikan sengketa di dalam masyarakat.
- Merekayasa masyarakat (social engineering).
SUMBER HUKUM
Sumber hukum bersiat me gikat (bi di g authrity),
misal ya:
  u da gu da g.
  yurisprude si.
  traktat.
  dll.

Sumber hukum tak me gikat (persuassive authrity),


misal ya:
‰ dktri .
‰ k se sus para ahli.
‰ dll.
HAKEKAT
HUKUM KEDOKTERAN

- Pe erapa hukum admi istrasi egara.


- Pe erapa hukum perdata.
- Pe erapa hukum pida a.
O U U O (CIVIL
LI BILIO
CONTRACTUAL LIABILITY :
ta ggu g gugat mu cul kare a terjadi
a prestasi (i gkar ja ji).

STRICT LIABILITY :
ta ggu g gugat ta pa kesalaha (liability
ithaut ault).

LIABILITY IN TORT :
ta ggu g gugat mu cul akibat ti daka
melaa hukum.

VICARIOUS LIABILITY :
ta ggu g gugat akibat kesalaha dari subrdi at.
PRISIP-PRISIP PEER P  OEKOLOI di
BID  MEDIK
Õ Pe ghrmata terhadap hidup da kehidupa .
Õ `esepada a a tara resik da ma aat.
Õ `esadara baha etik tidak sesederha a alamiyah.
(Di A dreas Sa tsa, 2001).

`MAJUAN ILMU da T`NOLOGI di BIDANG MDI`


- Ba yak dipicu leh kemampua memahami ge etika & me ge dalika
alira i rmasi ge etik.
- Memberika pelua g terjadi ya tech lgical cmpulsi (I e ca d
it let¶s d it).
- Mu cul ya the Slippery Slpe Argume t u tuk me cba me gatasi
masalah ya g me urut etika & hukum masih dipersalka .
- Diperlukan batasan etik dan hukum terhadap sesuatu yang secara teknis
tidak masalah.
TEKNOLOGI MAJU
   p y
hy diphi d 
 bi  h
i 
   i
  h  y  
i  b 
i i & id p d  i p i 
 i
   b  di    b y
p i d
b  i
id dp dib i  h p i 
 i  dii  iii   b   bh
 idp  
iii ip    i i y

 di
 i
  y b bh   pd
 yy p   
i b d di p  h
b  i i

(Dwi Andreas Santosa, 2001)


POSISI ILMUW  KEDOKOER 
di tengah M S R K O

 i i i  p i
  hy    y
p
 
i i p  i  
 d i i
 i   iii  ib i    i i y

i  b d id b  b h


 p  hi id b h di h p hy  pd i 
(  pi i id b i 
 pi i &  i

 id bi  di h hy  pd pih p  h 
p i    bi  p i
   
 i p 
bi
 p 
 i i  y  
 p i
hi

 dip 
i i d p b  pii pbi  y
 pipi
y

  ii
 u
u  
u  
          
      
        
        
   

u                  


    

       

        
  


        
    
             
!     
    
  
  
        
 











       "   
   
   

 
         

! 
              

 


 


 "                  


$   



  ! "##$
#" 
      


    
   

  


         
    

 
 %




m        %          
     "           

&            


               
   

! &           



 

  
 



  ! $
 &            " " 


&       


        

 

&          


 
     
!        
  
     
! !& '#!

&    


  

  "       
     

    
       
           

        
     
  

O 

     
          
    %   
#(
"
)!(

*

O 

       
 +! ,' '
' 
-
 .*

'      



 

(       



  

     
            
                
         





0%u 
&
#"        #!(
,


#!!

*

m      (!


,      
#!(
#
     #! 
     

O 

      ) )+) )    
 

% "             
   

 -"

 .
   "  ,
-  
     
     
  
     "  !/       

'              


 "           
 
   
        
KETERBATASAN TELEOLOGI
£eberapa ahli menganggap bahwa teleologi lebih membantu
tercapainya kebahagiaan maksimum bagi beberapa orang dari pada
kebahagiaan kebanyakan orang.
Karena prinsipnya utility maka orang dapat mengalami konflik
yang tidak terselesaikan ketika harus menentukan benar dan salah.
Pertanyaan yang sering muncul adalah, tindakan mana yang lebih
menghasilkan kebaikan sebesar-besarnya dan kerugian sekecil-
kecilnya.
Teleologi cenderung mengabaikan hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan
individu.
Mengukur nilai kebaikan relatif dan kerugian relatif dari suatu
tindakan sangat sulit, bahkan sering tidak mungkin.
Penentuan the greatest good sangat subjektif & dapat menghasilkan
inkonsistensi keputusan.
LEGAL ISSUES
a. Abortion.
b. Adoption and baby selling.
c. In vitro fertilization.
d. Surrogate motherhood.
e. Right to die and right to refuse care.

CHANGES in the OCCUPATIONAL STATUS


of HEALTH CARE WORKERS
a. Expanded roles, responsibility and educational requirements.
b. Collectives bargaining and strike.
c. More authoritarian attitude shown by hospitals toward their employees.
d. Attempts by physicians to increase their independence in practice.

Catalano, J, T, 1991.
ETHICAL CONCEPTS and ETHICAL CODES
in DECISION MAKING
ÿ Pengambilan keputusan etik biasanya melibatkan paling sedikit satu
dari empat buah konsep dasar (moral principles), yaitu:
1. Autonomy.
2. Justice.
3. Fidelity.
4. Beneficence.

ÿ Pengambilan keputusan etik juga dapat didasarkan pada kode etik


(sebagai pedoman praktis bagi profesional), dimana :

 Kode etik didasarkan pada konsep dasar (moral principles) di atas.


Kode etik tidak statis, tetapi dinamis karena dipengaruhi oleh
 perubahan dalam masyarakat dan profesi.
Kode etik profesi merupakan garis besar tentang tanggung jawab
! profesional terhadap konsumen, masyarakat, employer dan diri
sendiri.
AUTONOMY
Menunjukkan adanya hak konsumen untuk membuat
keputusan atas kepentingannya sendiri dimana:
a. otonomi konsumen punya batas dan tidak boleh mengganggu
otonomi profesional.
b. profesional juga memiliki tingkat otonomi, yang pada batas
tertentu tidak dapat dipengaruhi.

JUSTICE
Justice (as a fairness dan distributive justice) menunjukkan
adanya kewajiban yang adil dan seimbang, dimana:
a. kewajiban diterapkan kepada seseorang dan pemerintah.
b. hak-hak sesorang menjadi terbatas jika melanggar hak-hak
orang lain.
PRINSIP-PRINSIP ETIKA
(MORAL PRINCIPLES)

AUTONOMY
Menunjukkan adanya hak konsumen untuk membuat keputusan.

JUSTICE
Menunjukkan adanya kewajiban yang adil kepada semua orang.

FIDELITY
Menunjukkan kejujuran dan kesetiaan terhadap tanggung jawab
yang diterima (ini merupakan elemen kunci dari akuntabilitas).

BENEFICENCE
Menunjukkan pada kewajiban untuk to do good, not harm.

(Oleh ahli lain, doing not harm dipisahkan dari azas £ENEFICENCE
menjadi azas tersendiri, yaitu azas NON MALFEASANCE)
FIDELITY
Menunjukkan kecermatan, kejujuran dan kesetiaan terhadap
tanggung jawab yang telah diterima, dimana:
a. fidelity merupakan elemen kunci dari akontabilitas.
b. konflik bisa terjadi antara fidelity terhadap konsumen,
employer, masyarakat terhadan pemerintah.

BENEFICENCE
Menunjuk pada kewajiban to do good, not harm, dimana:
a. problem dapat timbul tidak saja ketika sedang mencoba
memutuskan apa yg baik, tetapi juga ketika sedang menentukan siapa
yang seharusnya membuat keputusan.
b. penderitaan sesaat kadang-kadang di bidang medik diperlukan
untuk menghasilkan kebaikan.

Oleh ahli lain, doing not harm dipisahkan dari azas £ENEFICENCE
menjadi azas tersendiri, yaitu azas NON MALFEASANCE.
TOPIK-TOPIK DALAM PENERAPAN ETIKA KLINIK
1. INDIKASI MEDIK.
2. PREFERENSI (PILIHAN) PASIEN.
3. MUTU HIDUP (QUALITY of LIFE) PASIEN.
4. FAKTOR KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL
FEATURES).

Jonsen, Siegler, Winslade, 1998.

Ke 4 topik tersebut harus selalu menjadi pertimbangan


dalam menangani setiap pasien.
INDIKASI MEDIK
1. Meningkatkan derajat kesehatan dan mencegah penyakit.
2. Meringankan gejala, rasa nyeri /sakit dan penderitaan.
3. Menyembuhkan penyakit.
4. Mencegah kematian yg belum saatnya.

5. Meningkatkan/mempertahankan/mengganti fungsi organ


atau sistem tubuh agar tidak bertambah mundur.
7. Mempertahankan atau meningkatkan mutu hidup.
8. Mencegah mudharat pada pasien.

Samsi Jacobalis, 2000.

Setiap intervensi medik seharusnya didasarkan atas adanya


indiksi medik (Evidence based medicine).
PREFERENSI PASIEN

Pasien menolak intervensi medik karena :

a. Kepercayaan atau agama.


b. Tidak mampu membayar biaya.
c. Alasan yang tak rasional (takut).
d. Tidak percaya pada kemampuan dokter.
e. Keluarga tak setuju.
f. Tidak mampu menerima atau memahami
penjelasan dokter.
g. Sudah membuat advance directives, mi-
salnya do not resuscitate (DNR).

Samsi Jacobalis, 2000.


MUTU HIDUP PASIEN
Penilaian hidup pasien sifatnya bisa:

A. Subjektif (sebab didasarkan pada puas tidaknya


menurut penilaian seseorang), yaitu:
- menurut pasien sendiri.
- menurut keluarga, teman, dokter atau perawat.
B. Objektif berdasarkan kriteria atau skala tertentu,
misalnya Activities Daily Living (ADL).

Penilaian tersebut meliputi kondisi fisik, mental dan


sosial pasien.

Samsi Jacobalis, 2000.

Mutu hidup yang sudah sangat rendah dapat dijadikan


dasar menghentikan pengobatan.
FAKTOR KONTEKSTUAL
—. Peran keluarga, teman, majikan dsbnya.
2. £iaya pengobatan.
3. Alokasi dan distribusi sumber daya kesehatan oleh
pemerintah.
4. Peran dan perkembangan asuransi kesehatan / JPKM.
5. Perkembangan teknologi kedokteran.
6. Peraturan hukum.
7. Pendidikan dan penelitian.
8. Tingkat kesejahteraan masyarakat.
9. Keamanan dan ketertiban dalam masyarakat.

Samsi Jacobalis, 2000.


MORAL DECISION MAKING MODEL

A moral problem can be approached by way


of a five-step process, including:
a. assesing the situation.

b. diagnosing / identifying the moral problem.

c. setting moral goals and planning an appropiate moral course of


action.

d. implementing the moral plan of action.

e. evaluating the moral outcomes of action implemented.

(Johnstone, 1989)
NORMA
Catalano, J,T, 1991:
ujud konkrit dan objektif dari suatu nilai.

Franz Magnis Suseno, S, J, dkk, 1996:


Apa yang membuat sesuatu yang baik menjadi baik.

NILAI
Tidak konkrit karena bukan fakta yang dapat diobservasi
secara empiris.

Subjektif karena mendasari keinginan, harapan, cita-cita


dan pertimbangan internal / batiniah (sadar atau tidak
sadar) ketika bersikap, bertindak atau berprilaku tertentu.

Franz Magnis Suseno, SJ, dkk, 1996:


Apa yang membuat sesuatu menjadi baik.
SISTEMATIKA ETIKA

ETIKA UMUM (membahas prinsip-prinsip moral dasar)

ETIKA
ETIKA INDIVIDUAL

ETIKA KHUSUS

(membahas tera- ETIKA SOSIAL


pan pada bidang-
- Etika thd makhluk hidup (bioetik).
bidang kehidupan
manusia) - Etika profesi (etika kedokteran,
keperawatan, kebidanan, profesi
hukum dsbnya).
- Etika hukum (legal ethics).
- Etika bisnis dsbnya.
KONSEP LAMA KONSEP £ARU

Sumpah
Teori Etika
Hippocrates

orld
Medical
Association Konsep
Moral
Pembuatan
Principles
Keputusan
Deklarasi
Internasional

Sumpah
Dokter
Indonesia

KODEKI
ISU-ISU ETIKA dalam KLINIK

—. Intervensi medik bertentangan dengan


moral principles.
2. Tujuan intervensi medik tidak tercapai.
3. Intervensi medik tidak sejalan dengan
preferensi pasien.
4. Intervensi medik tidak bakal menaikkan
mutu hidup pasien.
5. Intervensi medik tidak sesuai dengan fak-
tor kontekstual.
6. Preferensi pasien tidak mendukung mutu
hidupnya.
7. Preferensi pasien tidak sesuai dengan
faktor kontekstual.
INTERVENSI tak sejalan dengan MORAL
PRINCIPLES
—. Supply / facility induced demand (Asas £eneficence).
2. Overdiagnosis / overtreatment (Asas £eneficence).
3. Indikasi medik tidak jelas manfaatnya atau bahkan dapat merugikan
pasien (Asas Non-malfeasance).

4. Tidak kompeten melakukan intervensi medik


(Asas Non-malfeasane).

5. Intervensi medik tidak sesuai lagi dengan standar terkini (Asas


fidelity).

6. Melakukan intervensi medik tanpa disertai informed consent (Asas


Otonomy).

7. Melakukan intervensi medik yang tidak sesuai kesepakatan (Asas


Justice).
HUKUM MORAL
Lebih terkodifikasi, objektif dan Kurang terkodifikasi, kurang
lebih memiliki kepastian. objektif dan kurang memiliki
kepastian.

Lebih banyak menyentuh sisi Lebih menyentuh sisi yang


luar (superfisial) saja. paling dalam (sikap batin).

Dibuat atas kehendak masya- Didasarkan pada norma mo-


rakat dan kemudian negara. ral.

Sanksi dapat dipaksakan. Sanksi tidak dapat dipaksa-


kan.

Bertens, 1993.