Anda di halaman 1dari 25

INSOMNIA

Pembimbing:
dr. Metta Desvini P Siregar, Sp.KJ
J

Oleh :
Nadira Juanti Pratiwi 2013730160
FISIOLOGI TIDUR

Tidur normal adalah keadaan tidak sadarkan diri di


mana otak relatif lebih responsif terhadap rangsangan
internal dari pada ekternal.
terdiri atas dua keadaan fisiologi :
1. Non-rapid eyed movement (NREM)
2. Rapid eyed movement (REM)
Fase awal tidur di dahului oleh fase NREM yang terdiri dari
4 stadium, lalu diikuti oleh fase REM. Keadaan tidur
normal antara fase NREM dan REM terjadi secara
bergantian antara 4-7 kali siklus semalam. Bayi baru lahir
total tidur 16-20 jam/hari, anak-anak 10-12 jam/hari,
kemudian menurun 9-10 jam/hari pada umur diatas 10
tahun dan kira-kira 7-7,5 jam/hari pada orang dewasa.
FASE FISIOLOGI TIDUR

NREM NREM
NREM NREM
tahap tahap
tahap I tahap II
III IV
FASE FISIOLOGI TIDUR
PERANAN
NEUROTRASMITER
• Dipengaruhi oleh hasil metabolisme asam amino trypthopan
 bertambahnya jumlah trypthopan  serotonin yang
terbentuk meningkat  mengantuk/tidur. Jika terhambat 
tidak bisa tidur/jaga.
Serotonergik • terletak pada nukleus raphe dosalis di batang otak

• Neuron yang banyak mengandung norephineprin


terletak di badan sel nukleus cereleus di batang otak.
Jika terjadi kerusakan  penurunan atau hilangnya
Adrenergik REM tidur

• Pengaruh histamin sangat sedikit mempengaruhi


Histaminergik
PERANAN
NEUROTRASMITER
• Pemberian prostigimin intra vena  episode tidur REM
 gambaran EEG sep : keadaan jaga
• Ggn aktifitas kholinergik sentral yang berhubungan
Kholinergik dengan perubahan tidur  orang depresi  pemendekan
latensi tidur REM

• Beberapa hormon seperti : ACTH, GH, TSH, dan LH. Hormon


ini disekresi oleh kelenjar pituitary anterior melalui hipatalamus
patway

Hormon • Sistem ini mempengaruhi pengeluaran neurotransmiter


norepinefrin, dopamin, serotonin  mengatur mekanime tidur
dan jaga
GANGGUAN TIDUR

Menurut DSM-IV, terdapat 3 kategori utama :


1. Gangguan tidur primer
- dyssomnia
- Parasomnia
2. Gangguan tidur berhubungan dengan gangguan mental lain
- insomnia
- Hipersomnia
3. Gangguan tidur lain
A. Insomnia
- Insomnia primer : kesulitan dalam memulai atau mempertahankan tidur.
- Insomnia sekunder : suatu keadaan yang disebabkan oleh nyeri,
kecemasan obat, depersi, atau stress yang hebat.
Ada 3 macam insomnia :
- Transient insomnia
- Insomnia jangka pendek
- Insomnia kronis
JENIS INSOMNIA 10

Insomnia Primer :
merupakan gangguan tidur yang tidak ada hubungannya
dengan medis, psikis, dan lingkungan.

Insomnia Sekunder :
merupakan gangguan tidur yang disebabkan oleh
beberapa penyakit dan gangguan medis yang lain.
Insomnia

Insomnia jangka
Insomnia transien Insomnia kronik
pendek
< 1minggu > 4 minggu
1 - 4 minggu

Gangguan kimia
Stresor akut
Stresor otak dan hormon,
Perubahan
berkelanjutan gangguan
sirkadian
Penyakit akut, psikiatrik, dll
Perubahan jam
Obat-obatan
kerja
11
PENYEBAB INSOMNIA
KRONIK

Insomnia
Kronik

Kimia otak
Gangguan Kondisi Medik
& Sistem Imun psikiatrik Obat-obatan
hormon

Interleukin-6 Ansietas, Asthma,


Hormon stres Teofilin
TNF ( siang depresi, bipolar, rematoid,
H. Pertumbuhan Beta-blocker,
hari dan  penyalahgunaan menopause,
Melatonin Antidepressan
malam hari) zat inkontinensia

12
ETIOLOGI INSOMNIA
SEKUNDER

1. GMO
Primer : kondisi medis primer di otak.
Sekunder : kondisi medis sistemik yg pengaruhi otak.

2. Penyalahgunaan NAPZA

3. Skizofrenia/Ggn Waham

4. Ggn Afektif (Manik/Depresi/Bipolar)

5. Ggn Cemas/Somatoform
13
INSOMNIA SEBAGAI DIAGNOSIS HIRARKI
GEJALA
INSOMNIA

GMO

NAPZA F0 : Ggn Mental Organik


Ggn Cemas F1 : Ggn Mental Perilaku akibat NAPZA
Somatoform Insomnia
F2 : Skizofrenia & Ggn Waham

Skizofrenia &
F3 : Ggn Suasana Perasaan (Manik/Deresif/Bipolar)
Ggn Afektif
Ggn Waham F4 : Ggn Neurotik & Somatoform
Manik
Depresi F5 : Sindrom Perilaku berhub Ggn Fisiologis
( Ggn Tidur, Makan & Seksual)

14
Gambaran Klinis Insomnia
o Gangguan tidur sudah
o Sulitnya masuk tidur
berlangsung paling sedikit
satu bulan
o Seringnya terbangun
setelah awitan tidur dan
o Pasien mengalami
sulit tidur kembali
penderitaan yang
bermakna secara klinis
o Bangun terlalu pagi (dini
hari)
o Adanya hendaya sosial,
okupasional, dan fungsi
o Tidak adanya rasa segar
penting lainnya di siang
setelah bangun tidur
hari
KRITERIA DIAGNOSTIK INSOMNIA NON-ORGANIK
BERDASARKAN PPDGJ

Hal tersebut di bawah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti:

a. Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur, atau kualitas
tidur yang buruk.
b. Gangguan minimal terjadi 3 kali dalam seminggu selama minimal 1 bulan.
c. Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur dan peduli yang berlebihan terhadap
akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari.
d. Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan penderitaan
yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan.
e. Adanya gangguan jiwa lain seperti depresi dan anxietas tidak menyebabkan
diagnosis insomnia diabaikan.
f. Kriteria “lama tidur” (kuantitas) tidak diguankan untuk menentukan adanya
gangguan, oleh karena luasnya variasi individual. Lama gangguan yang tidak
memenuhi kriteria di atas (seperti pada “transient insomnia”) tidak didiagnosis di
sini, dapat dimasukkan dalam reaksi stres akut (F43.0) atau gangguan penyesuaian
(F43.2)
GANGGUAN TIDUR LAIN

 Ganguan tidur akibat Gejala kardivaskuler-tidur


keadaan medis umum Refluks gastroesofagus-tidur
Bangkitan epileptik-tidur Hemolisis-tidur (hemoglobin
Sakit kepala cluster-tidur dan nokturnal paroksismal)
hemikrania paroksismal  Gangguan tidur yang
kronik dicetuskan zat
Sindrom menelan-tidur
Asma-tidur
PENATALAKSANAAN INSOMNIA

Mengobati
penyebab

Memperbaiki
Farmakoterapi Penatalaksanaan higiene tidur

Psikoterapi

18
PENATALAKSANAAN

1. Pendekatan non-farmakologi
Pendekatan hubungan antara pasien dan dokter
Konseling dan psikotherapi
Tindakan sleep hygiene
Terapi pengontrolan stimulus
Sleep restriction therapy
TERAPI NONFARMAKOLOGI

Higiene tidur

- bangun pagi teratur


- pergi tidur setelah mengantuk
- tidur siang akan mengurangi tidur malam
- mempersiapkan tidur lebih baik
- menghindari stres emosi dan pekerjaan di tempat tidur
- melatih relaksasi

20
FARMAKO TERAPI
 Idealnya tidak ada individu memerlukan obat
untuk bisa tidur

 Kenyataannya, banyak sekali individu yang


membutuhkan farmakoterapi

 Terapi perilaku dan peningkatan higiene tidur


diberikan kepada pasien terlebih dahulu

21
BENZODIAZEPIN

Benzodiazepin sering digunakan


Sebelum menggunakan harus diketahui riwayat penyalahgunaan zat dan
alkohol
FDA menyetujui untuk hipnotik-sedatif1
Bekerja pada GABAA–benzodiazepine receptor complex1

Keuntungan
Absorbsi dan distribusi cepat 2
Terbukti efektif pada insomnia 1,3
Sleep latency pendek
Frequensi & durasi terjaga 
Total sleep time 
Lorazepam, alprazolam, dan klonazepam efek terapeutiknya lebih besar dan
onset kerjanya lebih cepat
1. Mendelson WB et al. Sleep Med Rev. 2004;8:7-17. 2. Dikeos DG, Soldatos CR. Prim Care Companion
J Clin Psychiatry. 2002;4(suppl 1):27-32. 3. Ringdahl EN et al. J Am Board Fam Pract. 2004;17:212-219.

22
KERUGIAN
Efek residu hari berikutnya 1,2
Ataksia (gangguan keseimbangan )
Sedasi di siang hari
Efek kognisi
Depresi pernafasan
Toleransi dan putus zat 2,3
Rebound insomnia2,3
Berpotensi disalahgunakan dan ketergantungan (semua BZ, lama
penggunaannya dibatasi )2

1. Mendelson WB et al. Sleep Med Rev. 2004;8:7-17. 2. Ringdahl EN et al. J Am Board Fam Pract. 2004;17:212-219. 3. Dikeos DG,
23
Soldatos CR. Prim Care Companion J Clin Psychiatry. 2002;4(suppl 1):27-32.
LANJUTAN

Diberikan dosis efektif paling rendah


Penggunaan jangka pendek
Penggunaan intermiten lebih baik
Penghentian bertahap

24
25