Anda di halaman 1dari 32

Cedera Medula Spinalis

Definisi

• Merupakan cedera pada tulang belakang baik langsung maupun


tidak langsung, yang menyebabkan lesi di medula spinalis sehingga
menimbulkan gangguan neurologis
• Umumnya karena trauma mekanis (benturan, dsb)
Epidemiologi

• Di Amerika Serikat, terdapat 30.000 kasus per tahun


• Insiden di negara berkembang berkisar antara 11,5 – 53,4 kasus
per 1.000.000 populasi
• Presentase insiden berdasarkan penyebab:
• Kecelakaan lalul lintas (50%)
• Jatuh (25%)
• Berhubungan dengan olahraga (10%)
• Kekerasan, kecelakaan kerja, dan lain-lain (15%)
Mekanisme terjadinya

1. Fraktur vertebra/dislokasi
2. Luka penetrasi/tembus
3. Perdarahan epidural/subdural
4. Trauma tidak langsung
5. Trauma intranedular/kontusio
Klasifikasi 5

Klasifikasi tingkat keparahan ditegakkan pd saat 72 jam sampai 7


hari stlh trauma
Berdasarkan Impairment Scale
Grade Tipe Gangguan medula spinalis ASIA
A Komplit Tdk ada fungsi motorik & sensorik sampai S4-S5
B Inkomplit Fungsi sensorik msh baik tapi motorik terganggu
sampai segmen sakral S4-S5
C Inkomplit Fungsi motorik terganggu di bawah level tapi otot-
otot motorik utama msh punya kekuatan < 3
D Inkomplit Fungsi motorik terganggu dibawah level , otot-otot
motorik utama punya kekuatan > 3
E Normal Fungsi motorik dan sensorik normal
UAS SARAF 2008
Tabulasi perbandingan klinik lesi komplet dan inkomplet

Karakteristik Lesi Komplet Lesi Inkomplet


6
Motorik Menghilang di Sering (+)
bawah lesi
Protopatik (nyeri, suhu) Menghilang di Sering (+)
bawah lesi
Propioseptif (joint Menghilang di Sering (+)
position, vibrasi) bawah lesi
Sacral Sparing (-) (+)
Rontgen Vertebra Sering dgn Sering normal
fraktur, luksasi &
listhesis
MRI (Ramon, 1997; Hemoragi (54%), Edema (62%),
penelitian thdp 55 pasien, 28 kompresi (25%), kontusi (26%),
komplet & 27 inkomplet)
kontusi (11%) normal (15%)
UAS SARAF 2008
Karakteristik klinik sindrom cedera medula spinalis
Karakteristik Central cord Anterior cord Brown sequard Posterior cord
klinik syndrome syndr syndr syndr

Kejadian Sering Jarang Jarang Sangat jarang


7
Biomekanika Hiperekstensi Hiperfleksi Penetrasi Hiperekstensi
Motorik Gangguan Sering komplet Kelemahan anggota Ggn bervariasi;
bervariasi; paralisis (ggn gerak ipsilateral lesi; ggn tract
jarang paralisa tract desenden) ggn tract desenden desenden
komplet biasanya (+) ringan
bilateral
Protopatik Gangguan Sering hilang Sering hilang total Gangguan
bervariasi tdk total (ggn tract (ggn tract asenden) bervariasi
khas asenden); kontralateral biasanya ringan
bilateral

Propioseptor Jarang sekali Biasanya utuh Hilang total Terganggu


terganggu ipsilateral; ggn tract
asenden
Perbaikan Sering cepat & Paling buruk Fungsi buruk namun NA
nyata; khas diantara lainnya independensi paling
kelemahan baik
tangan & jari
menetap UAS SARAF 2008
Etiologi

1. Cedera Medula Spinalis Traumatik


2. Cedera Medula Spinalis Non-Traumatik
Cedera Medula Spinalis Traumatik

• Terjadi karena benturan fisik eksternal


• Dapat berupa fraktur, dislokasi, dan kontusio pada kolum vertebra
• Dikatakan mengalami cedera jika terdapat defisit fungsi motorik
dan sensorik atau paralisis
Manifestasi Klinis

• Gangguan fungsi sensorik (permanen/temporer)


• Paresis dan/atau plegia
• Hilang kemampuan kontrol BAB & BAK
• Gangguan fungsi, sensitivitas, dan kesuburan seksual
• Nyeri pada area dorsal (punggung dan sekitarnya) karena cedera pada
serat saraf
• Kesulitan bernafas, batuk, atau membuang sekret saluran pernafasan
• Kesulitan berjalan dan menjaga keseimbangan
Penegakan Diagnosis

• Paling baik dilakukan MRI (Magnetic Resonance Imaging)


• CT-Scan (Computed Tomography Scan) jika MRI tidak tersedia
Penatalaksanaan

1. Umum
2. Medikamentosa
3. Bedah
Penatalaksanaan Umum

• Jika terdapat fraktur atau dislokasi kolumna vertebralis servikalis,


segera pasang kerah fiksasi leher
• Jika terdapat fraktur kolumna vertebralis torakalis, angkut pasien
dalam keadaan tertelungkup, lakukan fiksasi torakal (pakai korset)
• Jika terdapat gangguan nafas, beri bantuan dengan atau dengan
cara lain, jaga jalan nafas tetap lapang
Penatalaksanaan Medikamentosa

A. Metilpednisolon 30mg/kgBB, i.v perlahan selama 15 menit,


kemudian 5mg/kgBB selama 24 jam. Kortikosteroid mencegah
peroksidasi lipid dan peningkatan sekunder asam arakidonat
(pemicu inflamasi)
B. Jika terjadi spastisitas otot, Diazepam 30-50mg/hari atau
Baklofen 15-60mg/hari
Penatalaksanaan Bedah

Tindakan bedah dilakukan bila


A. Ada fraktur, pecahan tulang dapat menekan medula spinalis
maupun jaringan sekitarnya
B. Gambaran neurologis progresif memburuk
C. Fraktur dan/atau dislokasi yang labil
Prognosis

• Prognosis penyembuhan tergantung pada 2 faktor yaitu :


• Beratnya defisit neurogolis yang timbul dan
• Lamanya defisit neurologis sebelum dilakukan
tindakan dekompresi
• Cedera Medula Spinalis merupakan kasus emergensi
neurologi dan perlu mendapat perhatian lebih, oleh
karena satu kali medulla spinalis rusak, sebagian besar
fungsinya tidak dapat kembali normal
SINKOP
DEFINISI

• Bahasa Yunani syn dan koptein yang artinya memutuskan.


• Sinkop (menurut European Society of Cardiology:ESC) adalah suatu
gejala dengan karakteristik klinik kehilangan kesadaran yang tiba-
tiba dan bersifat sementara, biasanya menyebabkan jatuh dan
pemulihan spontan.
• Onsetnya relatif cepat dan terjadi pemulihan spontan. Kehilangan
kesadaran tersebut terjadi akibat hipoperfusi serebral
ETIOLOGI

Secara garis besar, penyebab sinkop dibagi menjadi dua.


• Akibat kelainan jantung (cardiac sinkop) dan
• Penyebab bukan kelainan jantung
SINKOP KARDIAK

• Sinkop kardiak karena kelainan irama


Takikardi
Bradikardi

• Sinkop karena kelainan stuktur jantung


Stenosis aorta
Miksoma Atrium
Infark Miokard Akut
Kardiomiopati Hipertropi
Emboli Paru
Hipertensi Pulmonal
SINKOP METABOLIK

• Hipoglikemik
• Hiperventilasi
• Intoksikasi Alkohol
SINKOP NEUROLOGIC

• Hipersensitivitas sinus karotis


• Sinkop yang dimediasi persyarafan
• Sinkop glossofaringeal,
• Sinkop situasional (batuk, mengunyah, dan berkemih)
SINKOP LAIN-LAIN

• Batuk
• Pasca miksi
• psikogenic
PATOFISIOLOGI

Patofisiologi dari sinkop terdiri dari tiga tipe:


• Penurunan output jantung sekunder pada penyakit jantung intrinsic atau
terjadi penurunan klinis volume darah yang signifikan.
• Penurunan resistensi pembuluh darah perifer dan atau venous return.
• Penyakit serebrovaskular klinis signifikan yang mengarahkan pada
penurunan perfusi serebral. Terlepas dari penyebabnya, semua kategori
ini ada beberapa factor umum, yaitu gangguan oksigenasi otak yang
memadai mengakibatkan perubahan kesadaran sementara.
Gejala Klinis

Sebelum pingsan, pusing, atau kepala ringan terjadi pada 70%


pasien mengalami sinkop. Gejala lain, seperti vertigo, kelemahan,
diaforesis, ketidaknyamanan epigastrium, mual, penglihatan kabur
atau pudar, pucat, atau parestesia, mungkin juga terjadi pada
periode presinkop.
Suatu serangan sinkop ( pingsan ) mempunyai ciri- ciri sebagai berikut :
• Teriakan waktu serangan tidak ada.
• Lama serangan berlangsung beberapa detik.
• Tidak ada ngompol.
• Setelah serangan biasanya penderita sadar penuh, meskipun ada
perasaan lemas dan lemah.
• Gigitan lidah tidak terjadi.
• Muka pucat.
• Sinkop jarang timbul pada saat pasien berbaring.
• Sebelum sinkop biasanya ada rasa lapar, capek atau stress.
Diagnosis Banding

• Epilepsi
• TIA
• Gangguan Jantung
Penatalaksanaan
TERIMA KASIH