Anda di halaman 1dari 39

Disampaikan pada Pengukuhan HIPPII

Cab. Sumatera Utara

Tanggal 29, 30 & 31 Mei 2015


 Pendahuluan
 Dasar hukum
 Tujuan
 Pengadaan linen
 Penanganan linen
 Persyaratan linen
 Pendistribusian
 Kesimpulan
Penanganan linen & laundry merupakan
salah satu bagian dari standard
precaution
Linen dan laundry menghasilkan
microorganisme pathogen dalam jumlah
besar dan dapat meningkat 5 kali lipat
selama periode sebelum cucian mulai
diproses ( Depkes RI tahun 2000 tentang
bakteri pada instalasi laundry).
 UU NO 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup
 Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di
Indonesia tahun 1992 tentang
pengelolaan linen
 Standar pelayanan Rumah Sakit
tahun 1999
Untuk memutuskan mata rantai
infeksi.

Efisiensi biaya.

 CostSaver → menghindari
biaya yang tidak perlu.
 Bergabung dengan CSSD
 Berdiri sendiri sebagai instalasi laundry
 Ketenagaan :
Perawat
Tenaga non medis yang telah mengikuti pelatihan
khusus mengenai laundry
 Material
Harus disesuaikan dengan fungsi, cara
perawatan dan segi penampilan
 Ukuran
Linen merupakan barang habis pakai, standar
ukuran yang diperhitungkan tidak dari
penggunaan saja tapi dilihat dari biaya
pengadaan
 Jumlah
Idealnya jumlah stok linen 5 par dengan
alokasi 3 par diruangan ( satu dipakai, satu
dicuci,satu cadangan), 2 par disimpan di
laundry sebagai cadangan

 Linen sebaiknya diberi logo RS

 Pangadaan linen harus mempertimbangkan


faktor kapasitas RS, BOR,lama pencucian dll
Dipisahkan:
1. Linen kotor tidak terkontaminasi
2. Linen kotor terkontaminasi (infeksius) --------
plastik kuning
Penanganan dimulai sejak dari ruangan
perawatan:
◦ Tidak meletakkan linen di lantai.
◦ Tidak pernah menggabungkan linen kotor
dengan linen infeksius.
◦ Tidak mengibas-ngibaskan linen kotor
Soiled linen and dressings should require particular care in handling,
transportation and disposal
 Linen infeksius dimasukkan ke dalam kantong
kuning dan diikat rapat.
 Bersihkan linen kotor bernoda
b.a.b/terkontaminasi dengan menggunakan air
mengalir di ruang cuci (spoelhok).
 Masukkan dalam kantong plastik kuning dan
ikat rapat jangan sampai ada kebocoran.
Tempat linen harus tertutup rapat.
Bedakan alat pengangkut linen bersih dan
linen kotor.
 Petugas ruangan mengantar linen kotor ke
laundry.
Segera bersihkan alat pengangkut linen
dengan desinfectan.
Penerimaan linen Petugas ruangan
masuk dari pintu ruangan
pencucian dan tidak boleh masuk
ke ruangan linen bersih.
Linen kotor di laundry harus
dibedakan antara linen infeksius dan
non infeksius.
 Bagian penerimaan di laundry melakukan
pencatatan jumlah linen, kedua belah
pihak pengirim dan penerima harus
memparaf pada buku ekspedisi
Lokasi mudah dijangkau oleh unit yang memerlukan.
Lantai terbuat dari beton, tidak licin.
Ada saluran pembuangan air kotor
Mempunyai pintu terpisah untuk penerimaan linen bekas
pakai dan pintu tempat pendistribusian
Ruang penerimaan linen bekas pakai mempunyai tekanan
lebih positif dari ruangan lain di laundry
 Tersedia kran air bersih dengan kualitas
dan tekanan yang memadai.
 Tersedia saringan alat-alat yang telah
dicuci.
 Tersedia ruangan-ruangan yang terpisah
sesuai kegunaannya.
 Mempunyai WC untuk petugas.
 Ruangan tempat penyortiran harus
mempunyai sirkulasi udara yang baik
(pertukaran udara 10x/jam).
 Harus ada tempat limbah benda tajam.
 Sarana cuci tangan.
 Tidak perlu kultur ruangan.
 Petugas harus memakai alat pelindung
diri (sarung tangan, masker, gaun).
 Jaga kebersihan
 Pakaian yang terkontaminasi didesinfeksi
 Lakukan pemeliharaan terhadap sistem
ventilasi
 Hindari terjadinya tumpahan air
 Bak-bak air selalu dibersihkan
 Tingkat kotornya (berat, sedang, atau ringan).
 Jenis linen (tebal, tipis, berwarna atau tidak
berwarna, wool atau katun).
 Linen infeksius atau non infeksius
Lakukan penimbangan linen

Lakukan desinfeksi jika linen


terkontaminasi darah atau cairan tubuh

Masukkan linen kotor ke dalam mesin


cuci.
 Waktu
Disesuaikan dengan petunjuk dari
produk mesin
 Suhu
Bahan katun ≤ 90⁰c
Polyester ≤ 75⁰c
Wool dan silk ≤ 30⁰c
 Bahan Kimia
Alkali: Meningkatkan fungsi detergen
dan emulsifier → membuka pori linen
 Deterje: Menghilangkan noda
 Emulsif: Mengemulsi lemak dan minyak
 Bleach : Sebagai desinfektan
 Sour : Penetral bahan kimia pemutih
sehingga PH 7
 Softene: Pelembut
Linen tebal perlu pengeringan selama 10
menit dengan suhu 70OC, dan linen tipis
hanya perlu pemerasan dengan
menggunakan mesin pemerasan(extractor)
selama 5-8 menit.
 Kelompokkan linen yang lembaran dan
bukan lembaran.
 Penyetrikaan menggunakan Roll Press
dan Rotary Press.
 Roll Press untuk linen lembaran,
sedangkan Rotary Press untuk bukan
lembaran.
 Suhu yang digunakan untuk
penyetrikaan 70-80OC.
 Bertujuan untuk merapikan dan
memudahkan dalam penggantian linen
pasien.
 Proses pelipatan, dilakukan penyortiran
linen yang rusak.
 Tempat pelipatan harus bersih dan jauh
dari daerah kotor agar tidak
terkontaminasi.
Linen disimpan ke dalam lemari tertutup
sesuai dengan jenis linen
Kondisi ruangan suhu 22 – 27ºc dan
kelembaban 45 – 75%
Pendistribusian tergantung pada sistem
pengelolaan.
Bila secara sentralisasi,
pendistribusiannya disesuaikan dengan
permintaan/kebutuhan ruangan/unit.
Bila tidak secara sentralisasi, linen
bersih diserahkan ke petugas
ruangan sesuai dengan jumlah
linen kotor yang dikirim.
Linen bersih dibawa dengan
menggunakan trolly khusus linen
bersih.
Linen disimpan terpisah dari ruang
kotor agar tidak terkontaminasi.
Gudang penyimpanan linen tidak
boleh digabung dengan benda/cairan
yang bersifat menguap atau
menitrasi.
Pisahkan linen sesuai dengan jenis
linen.
Susun linen dengan tehnik tersendiri
dengan prinsip linen bersih yang lama
harus lebih dahulu dipakai (FIFO).
Untuk linen steril perlu dilakukan
pemisahan dengan linen bersih. Linen
steril harus disimpan di lemari khusus
dan digunakan sebelum kadaluarsa
 Pengiriman linen
 Pendistribusian dari laundry
 Penghapusan linen
 Permintaan linen baru
A. Monitoring :
Tujuan :
- Untuk Memperbaiki sistem pelayanan
- Menyesuaikan strategi untuk
pedoman pelayanan.
Aspek :
- Sarana, Prasarana, dan peralatan.
- SOP, kebijakan, visi, misi.
- Lama Pemakaian
- Kualitas.
B. Evaluasi
Tujuan :
- Meningkatkan kinerja karyawan.
- Acuan dalam perencanaan, pengadaan
linen, bahan kimia.
- Acuan pemeliharaan mesin-mesin.
- Peningkatan pengetahuan &
keterampilan SDM.
 Penanganan linen diperlukan tenaga
yang terampil dan terlatih

 Ruang laundry harus memenuhi


persyaratan yang telah ditentukan