Anda di halaman 1dari 13

SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

“STUDI KASUS ATLANTA HOME LOAN”

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 4


ANNISA NASUTION(1602114237)
RIZKA AMILIA(1602123088)
WAHYUNI PRATIWI(1602122850)
YULIA ELFITASARI(1602114935)
Latar Belakang
Di akhir 2002, Albert (Al) Fiorini, menjadi semakin frustasi dan
depresi. Pada September 2002 Al meninggalkan perusahaannya
yaitu Atlanta Home Loan (AHL) untuk mendapatkan gelar MBA di
California dan mempercayakan beberapa karyawan sekaligus
partnernya yaitu Wilbur untuk menjalankan perusahaan. Namun
ternyata mereka yang diberi kepercayaan oleh Al untuk
menjalankan bisnisnya telah membuat skema untuk merebut
perusahaannya Al yang jauh dari perusahaan tidak dapat
menghentikan mereka untuk mengambil alih perusahaan tersebut.
Al berfikir apa yang salah dari semua ini dan dia harus melakukan
sesuatu untuk mencegah ini terjadi lagi.

Bagaimana pengendalian yang akan ditempuh oleh Albert


Fiorini untuk dapat mengatasi permasalahan yang ada pada
perusahaannya yaitu Atlanta Home Loan?
Studi Kasus Atlanta Home Loan

Atlanta Home Loan (AHL) adalah perusahaan pinjaman dengan hipotek dan
perusahaan keuangan yang berpusat di Atlanta, Georgia. Albert Fiorini mendirikan
perusahaan pada April 2002 dengan nilai investasi awal sekitar $40.000 dan
memulai mengoperasikan perusahaan dari rumahnya. Al juga mempunyai banyak
pengalaman dalam industri hipotek perbankan dan pernah menjadi direktur
selama setahun di Orange Country Chapter dari California Association of Montage
Broker.Di bawah arahan Al, AHL berkembang pesat pada kuartal pertama
operasinya. Pada musim panas 2002 perusahaan terdiri dari empat talemarketer
dan delapan petugas bagian kredit, semuanya bekerja dari rumah.
Joe Anastasia adalah salah satu karyawan kredit di AHL. Meskipun Al
mengenalnya hanya sekitar dua bulan, awalnya penilaian tentang Joe cukup
menguntungkan. Al melihat bahwa Joe mempunyai pengetahuan yang cukup
dalam industri ini, bahkan dalam surat lamarannya dikatakan bahwa Joe adalah
orang yang dapat jujur dan dapat diandalkan, sehingga membuat Al terkesan
pada Joe meskipun cukup singkat bagi Al untuk mengenal Joe. Pada Juli 2002, Al
dan Joe mencapai kesepakatan kemitraan. Joe akan menginvestasikan $8.400
yang digunakan untuk menyewa sebuah kantor dan untuk membeli beberapa
peralatan kantor. Joe dan Al akan berbagi keuntungan yang sama.
Namun, Joe menunjukkan sikap buruk untuk Al ketika Joe tidak muncul
untuk pertemuan dengan pemilik baru dan AL tidak dapat menemukannya
selama dua hari. Al tidak nyaman dengan Joe sehingga ia membuat
kesepakatan untuk mengakhiri kesepakatan bisnis mereka tapi karena Al
perlu pergi ke Los Angeles sehingga ia putus asa untuk menemukan
seseorang dalm menjalankan perusahaannya, Joe meminta maaf kepada Al
dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Al memberikan satu
kesempatan untuk Joe. Jadi Al dan Joe kembali membuat perjanjian. Pada
saat Al pergi ke Los Angeles pada agustus 2002, AHL mempunyai 90 aliran
pinjaman yang merupakan pendapatan potensial sejumlah $300.000.
mesikpun Al jauh dari AHL, Al tetap mengamati AHL dan ternyata Joe pergi
ke kantor hanya empat kali dalam seminggu dan Joe mengambil dokumen
pinjaman perusahaan dan tidak mengembalikannya dalam 3 hari.
Pada bulan September 2002, Al membuat perjanjian baru dengan Wilbur
Washington yang diperkenalkan oleh Joe beberapa bulan sebelumnya
karena Al tidak bisa mempercayai Joe lagi. Wilbur memiliki banyak
pengalaman di bidang perbankan hipotek dan cukup baik dalam marketing
sehingga Al menandatangani kemitraan tertulis dan perjanjian lisensi
dengan Wilbur. Wilbur menginginkan wewenang dalam menandatangani cek
atas rekening bank utama AHL, namun Al menolak karena ia masih
mempercayai Letitia Johnson (manajer kantor) dalam mengotorisasi cek.
Setelah sebulan, ketika Joe menemukan apa yang terjadi
bahwa ia bukan lagi partner Al, ia ingin investasinya sebesar
$ 8.400 kembali tapi Al menolak sampai Joe mengembalikan
semua dokumen penting AHL . Pada akhir September,
Wilbur menyewa prosesor baru tapi Al berpendapat bahwa
prosesor untuk rasio pinjaman petugas terlalu tinggi tapi
Wilbur marah dan ingin melakukan pekerjaan sendiri tanpa
Al. Pada saat yang sama Wilbur mengambil alih operasional
AHL, Al memutuskan untuk tidak percaya Wilbur dan
meminta seorang teman untuk bertindak sebagai agen
untuk memecat semua karyawannya di AHL tetapi semua
karyawannya menolak untuk pergi. Al menelepon polisi
namun Wilbur mengatakan kepada polisi bahwa dia pemilik
AHL sedangkan AL bukan sehingga polisi pergi.
Pada tanggal 15 Oktober, Wilbur membuka rekening
baru di Citizens Bank & Trust (CBT) atas nama pribadinya. Al
menemukan rekening bank baru tersebut dan menelepon
staff bank dan memberitahu kepada manajer bahwa Wilbur
telah membuka rekening penipuan dengan CBT. CBT
menolak membekukan rekening tersebut atau
mengembalikan uang. Kemudian, Al melapor FBI tetapi
mereka tidak tertarik dengan kasus ini. Wilbur melakukan
renegosiasi sewa dengan pemilik dan menetapkan AHL
sebagai perusahaan sendiri. Al menduga bahwa Wilbur telah
menggunakan semua cara persuasinya untuk menyesatkan
karyawan untuk memutuskan ikatan mereka dengan Al, dan
Al kehilangan setidaknya $15.000 dalam biaya lisensi
kehilangan perusahaannya. Hingga pada akhirnya, Al
terpaksa menjual rumahnya.
Penyelesaian
Albert (Al) Fiorini harus terus menjalankan usahanya pada AHL.
Dia harus berjuang untuk mendaptkan kembali kendali atas AHL
mungkin hanya sekitar $25.000 nilai investasinya yang masih ada. Al
dapat menerapkan unsur-unsur kontrol pada AHL dalam empat
langkah, yaitu:
 Al harus mendefinisikan dimensi - dimensi perusahaan. Ia harus
mendefinisikan dimensi kinerja secara benar karena ini sangat
penting untuk menetapkan tujuan perusahaan . Dalam hal ini Al
harus mendefinisikan dimensi AHL untuk hasil yang diinginkan
seperti untuk keuntungan, kepuasan pelanggan atau cacat produk.
Dimensi ini akan membantu perusahaan dalam mencapai target
perusahaan.
 Mengukur kinerja dari dimensi-dimensi tersebut. Unsur pengukuran
yang melibatkan pengangkaan ke obyek (kuantitas), adalah
elemen penting dari sebuah sistem kontrol hasil. Al akan mengukur
kinerja perusahaan setelah mendefinisikan elemen pertama.
Mungkin banyak hasil pengukuran yang berbeda- beda yang dapat
dikaitkan dengan imbalan. Al dapat menghitung keuangan seperti
pendapatan bersihatau dalam ukuran non keuangan seperti
pangsa pasar, pertumbuhan, kepuasan pelanggan dan pencapaian
tepat waktu tugas-tugas tertentu. Selain itu, Al dapat
menggunakan pengukuran yang melibatkan penilaian subyektif.
 Menetapkan target kinerja bagi karyawan untuk berusaha lebih. Target-
target kinerja atau standar yang lain adalah hasil lain yang penting dari
elemen sistem pengendalian. Dalam sistem pengendalian, sasaran
harus ditentukan untuk dimensi dari setiap kinerja yang diukur. Dalam
hal ini Al dapat memilih dua cara yang dapat mempengaruhi perilaku.
Pertama, mendorong tindakan dengan menanamkan kesadaran kepada
setiap pegawainya untuk berjuang tetapi kebanyakan orang lebih
memilih untuk diberikan target tertentu untuk dicapai, atau yang kedua,
AL dapat memungkinkan karyawannya untuk menafsirkan kinerja
mereka sendiri, sehingga Al dapat menjalankan bisnis nya dengan
menetapkan target kinerja bagi karyawan untuk mencapainya.
 Memberikan penghargaan untuk memberikan semangat kepada
karyawan. Penghargaan termasuk dalam kontrak insentif yang
berupa kenaikan gaji, bonus, promosi, keamanan kerja,
penugasan kerja, kesempatan pelatihan, kebebasan, pengakuan
dan kekuasaan. Al dapat menghargai karyawan dengan apa yang
karyawan anggap penting sebagai usaha dalam menghargai
mereka dari upaya yang mereka berikan kepada perusahaan. Dan
juga menjadi tegas apabila karyawannya melakukan kesalahan.
Selain dari unsur-unsur kontrol yang dibahas diatas, Al
harus mengambil pengendalian tindakan sebagai bentuk yang
paling langsung dari pengendalian manajemen karena
pengendalian tindakan melibatkan pengambilan langkah-
langkah untuk memastikan bahwa karyawan bertindak dalam
kepentingan terbaik organisasi dengan membuat tindakan
mereka sendiri fokus pada pengendalian. Pengendalian
tindakan terdiri dari empat bentuk dasar.
Bentuk yang pertama adalah behavioural constraints. Ini
merupakan bentuk negatif dari pengendalian tindakan. Mereka
membuat sesuatu menjadi lebih sulit bagi karyawan untuk
melakukan hal-hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan.
Dalam kasus ini, constraint dapat diterapkan secara fisik atau
administratif. Sebagai contoh, AI menggunakan beberapa
bentuk dari kendala fisik seperti password komputer dan kunci
meja. Jadi tidak semua orang dapat mengakses area yang
bernilai tersebut tanpa sepengetahuan dari AI. Untuk kendala
administratif juga dapat digunakan untuk menempatkan batas
pada kemampuan karyawan untuk melakukan seluruh atau
sebagian dari tindakan tertentu. Dengan menggunakan
constraint ini, AI dapat melakukan pembatasan dalam
Kemudian me-review pra tindakan yang melibatkan
pengawasan dari rencana aksi karyawan yang dikendalikan.
Pengulas dapat menyetujui atau menolak tindakan yang
diusulkan, meminta modifikasi atau meminta lebih banyak
rencana yang telah disusun secara seksama sebelum
memberikan persetujuan akhir. Di AHL, Al dapat membentuk
ulasan pra tindakan selama proses perencanaan dan
penganggaran yang ditandai dengan beberapa tingkat ulasan
tentang tindakan yang direncanakan dan anggaran di tingkat
organisasi yang lebih tinggi.
Selanjutnya bentuk dasar dalam pengendalian tindakan
adalah akuntabilitas tindakan. Bentuk ini melibatkan
pemegangan tanggung jawab karyawan atas tindakan yang
mereka ambil. Implementasi dari akuntabilitas tindakan
memerlukan penjelasan tindakan apa yang dapat diterima
atau tidak dapat diterima, pengkomunikasian penjelasan
tersebut kepada karyawan, pengawasan terhadap apa yang
terjadi, dan pemberian reward atau hukuman atas tindakan
karyawan. Al dapat mengambil pengendalian tindakan kepada
karyawan dari empat implementasi.
Al mungkin perlu berkomunikasi dengan karyawannya
secara tertulis ataupun sosial. Komunikasi dengan cara tertulis
berisi penggunaan aturan kerja, kebijakan dan prosedur,
kontrak provisi dan kode etik perusahaan. Tindakan yang
diinginkan tidak perlu dikomunikasikan secara tertulis namun
dapat dikomunikasian secara langsung dalam rapat atau
secara privat dengan karyawannya. Tindakan karyawan dapat
diamati secara langsung dan berkelanjutan selama dilakukan
oleh supervisor. Selain itu, Al juga dapat melacak dengan
memeriksa bukti dari tindakan yang dilakukan seperti activity
report atau expense documentation. Akuntabilitas tindakan
Terakhir adalah redundansi dimana meliputi
menugaskan lebih banyak karyawan (atau mesin) untuk
sebuah tugas dan memiliki karyawan (atau mesin) yang
berperan sebagai karyawan cadangan (back up employee)
juga merupakan hal yang penting, ini dapat dianggap
sebagai kontrol tindakan karena menambah probabilitas
bahwa sebuah tugas dapat diselesaikan dengan baik.
Untuk AHL, Al dapat menambah lebih banyak komputer
cadangan untuk kegiatan operasi bisnisnya yang dimana
dijalankan menggunakan telemarketer atau telemarketing
karena pekerjaannya dapat dikerjakan dari rumah masing-
masing menggunakan sistem telekomunikasi.