Anda di halaman 1dari 6

FALSAFAH ILMU PENGETAHUAN (TKF 3010)

Aditya Muhtadi 08/268659/TK/33979 Fisika Teknik

JURUSAN TEKNIK FISIKA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA 2011

BAB 1 PENDAHULUAN Falsafah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terdiri dari tiga istilah, yaitu Falsafah/Filsafat, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi. Falsafah/Filsafat adalah ilmu yang menjadikan segala sesuatu sebagai objek materi, dan hakikat sebagai objek formal atau sudut pandang terhadap objeknya. Jadi, bila dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain, terdapat kesamaan pada objek materi. Namun pada ilmu-ilmu lain, objek tersebut hanya dapat diambil secara terbatas, sedangkan pada ilmu filsafat, semua objek diambil sebagai keseluruhan. Hakikat adalah hal terpenting dari sesuatu yang terdiri dari atas pengertian yang sifatnya abstrak. Ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah Ilmu Pengetahuan Alam. Ilmu alam (Inggris:natural science) atau ilmu pengetahuan alam adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu dimana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukumhukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun, dimana pun. Istilah ilmu alam juga digunakan untuk mengenali "ilmu" sebagai disiplin yang mengikuti metode ilmiah, berbeda dengan filsafat alam. Sains (science) diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan. Sains merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam. Langkah tersebut adalah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis, dan akhimya menyimpulkan. Sains berbeda dengan matematika karena matematika hanyalah sebagai penyedia alat/perangkat dan kerangka kerja yang digunakan dalam sains. Teknologi (berasal dari kata "techne") yang berarti serangkaian prinsip atau metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan suatu objek, atau kecakapan tertentu, atau pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau metode dan seni. Penguasaan teknologi dalam era industrialisasi sangat berperan, karena teknologi adalah mesin penggerak pertumbuhan melalui industri. Oleh sebab itu, tepat momentumnya jika kita merenungkan masalah teknologi, menginventarisasi yang kita miliki, memperkirakan apa yang ingin kita capai dan bagaimana caranya memperoleh teknologi yang kita perlukan itu, serta mengamati betapa besar dampaknya terhadap transformasi budaya kita. Sebagian dari kita beranggapan teknologi adalah barang atau sesuatu yang baru. Padahal, kalau kita membaca sejarah, teknologi itu telah berumur sangat panjang dan merupakan suatu gejala kontemporer. Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri. Kemajuan Teknologi Ada tiga klasifikasi dasar dari kemajuan teknologi: 1. Kemajuan teknologi yang bersifat netral (bahasa Inggris: neutral technological progress). Terjadi bila tingkat pengeluaran (output) lebih tinggi dicapai dengan kuantitas dan kombinasi faktor-faktor pemasukan (input) yang sama. 2. Kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (bahasa Inggris: labor-saving technological progress). Kemajuan teknologi yang terjadi sejak akhir abad kesembilan belas banyak ditandai oleh meningkatnya secara cepat teknologi yang

hemat tenaga kerja dalam memproduksi sesuatu mulai dari kacang-kacangan sampai sepeda hingga jembatan. 3. Kemajuan teknologi yang hemat modal (bahasa Inggris: capital-saving technological progress). Fenomena yang relatif langka. Hal ini terutama disebabkan karena hampir semua riset teknologi dan ilmu pengetahuan di dunia dilakukan di negara-negara maju, yang lebih ditujukan untuk menghemat tenaga kerja, bukan modal. Pengalaman di berbagai negara berkembang menunjukkan bahwa campur tangan langsung secara berlebihan, terutama berupa peraturan pemerintah yang terlampau ketat, dalam pasar teknologi asing justru menghambat arus teknologi asing ke negara-negara berkembang. Di lain pihak suatu kebijaksanaan 'pintu yang lama sekali terbuka' terhadap arus teknologi asing, terutama dalam bentuk penanaman modal asing (PMA), justru menghambat kemandirian yang lebih besar dalam proses pengembangan kemampuan teknologi negara berkembang karena ketergantungan yang terlampau besar pada pihak investor asing, karena merekalah yang melakukan segala upaya teknologi yang sulit dan rumit. Sehingga dapat dirumuskan bahwa mempelajari Falsafah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berarti melihat, merasakan, memikirkan, menandai, dan memaknai fenomenafenomena alam dan implementasinya bagi kesejahteraan rakyat secara arif dan bijaksana. BAB 2 HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT DENGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Filsafat diartikan suka atau cinta kepada kebajikan atau kebijaksanaan. Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) diartikan ilmu mengenai materi atau kebendaan yang berada di alam semesta ini dan implementasi bagi kesejahteraan umat manusia. Istilah kesejahteraan umat manusia ini harus menggunakan azas efisiensi, efektivitas dan keselamatan. Efisiensi disini lebih ditekankan kepada efisiensi ekonomi, artinya produk yang dihasilkan harus kompetitif, bisa bersaing dari sisi harga. Apabila harga produk yang dihasilkan mahal maka jelas secara ekonomi tidak akan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. Efektivitas disini berarti produk itu sebagai alat bantu harus dapat membuat manusia menjadi lebih mudah dalam menjalankan kehidupannya. Apabila produk yang dihasilkan menyulitkan manusia menjalankan kehidupannya, maka jelas produk tersebut tidak efektif. Keselamatan mengandung makna bahwa sejak produk tersebut mengalami siklus diproduksi hingga dimanfaatkan oleh umat manusia harus dijamin keselamatannya. Jadi, pelaku teknologi disini mendapatkan tantangan terus-menerus untuk menghasilkan produk yang lebih murah, lebih memudahkan kehidupan manusia, dan semua unsur yang terlibat dalam siklus tersebut terjamin keselamatannya.

Tujuan dalam mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan berbeda dengan tujuan mempelajari dan mengembangkan teknologi. Tujuan mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan adalah untuk menguak misteri alam semesta ini atau orang agamis menyebutnya rahasia Tuhan yang ada di dalam alam semesta ini. Tuhan menciptakan manusia diberi akal dan pikiran. Akal dan pikiran manusia ini sebagai alat untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara terus-menerus sehingga manusia semakin memahami apa sebetulnya alam semesta ini dan bagaimana hubungannya antara alam semesta dengan manusia yang ada di dalamnya. Penemuan rumus-rumus atau hukum fisika, kimia dan biologi merupakan produk dari ilmu pengetahuan sehingga manusia akan lebih mengetahui dan menyadari logika kehidupan alam semesta ini. Dengan semakin mendalam menganalisis alam semesta diharapkan manusia akan lebih mengakui adanya penguasa dan pengatur tunggal di alam semesta, yaitu Tuhan. Semakin dalam manusia mempelajari alam semesta ini maka semakin presisi pengetahuan manusia tentang alam semesta ini. Mengingat alam semesta ini begitu luas maka diperlukan penelitian penelitian yang terus-menerus berkembang dan saling bersinergi untuk semakin memahami dan mengetahui apa sebetulnya alam semesta ini dan bagaimana manajemen operasionalnya yang berlaku secara benar. Pengembangan akan ilmu pengetahuan pun disesuaikan dengan kebutuhan hidup manusia sehingga ada ilmu pengetahuan yang berkembang dengan pesat dan ada ilmu pengetahuan yang tidak berkembang bahkan tidak dipelajari lagi. Hal ini karena manusia dapat memilih mengembangkan ilmu pengetahuan yang baik dan berguna bagi manusia. Alasan lain ilmu pengetahuan yang tidak berkembang itu karena semakin menjauh dari kenyataan atau realita. Begitu pula dengan teknologi, ada teknologi yang berkembang dan ada pula yang tidak berkembang. Yang menarik adalah ketika teknologi yang sudah terkubur, tetapi berpuluh tahun kemudian dikembangkan lagi karena dirasakan akan memberikan manfaat yang lebih baik bagi manusia. Contohnya, teknologi Sterling Engine yang diciptakan tahun 1860, namun kemudian teknologi ini menghilang dari peredaran pada tahun 1930 karena waktu itu muncul teknologi lain yang lebih efisien dan efektif. Berpuluh tahun kemudian (tepatnya tahun 2000-an) ternyata teknologi sterling engine ini muncul kembali dengan berbagai revisi yang menghasilkan keluaran (output) yang jauh lebih baik dari teknologi yang ada. Bahkan, teknologi Sterling Engine System dalam aplikasi untuk mengkonversi energi panas matahari menjadi energi listrik diyakini akan lebih kompetitif dibandingkan dengan teknologi reaktor nuklir. Kompetisi pengembangan teknologi Sterling Engine saat ini sedang berlangsung untuk dapat mengalahkan teknologi fisi nuklir sebagai pembangkit listrik. Apabila teknologi Sterling Engine ini dalam kurun waktu kurang dari 50 tahun mampu menghasilkan listrik yang lebih efisien dan efektif dibandingkan teknologi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) maka tidak mustahil teknologi fisi nuklir sedang menuju ke arah kematiannya. Tetapi apabila para teknokrat nuklir mampu memenangkan kompetisi ini dengan menciptakan nilai tambah di teknologi fisi nuklirnya maka kedua teknologi itu akan terus bersaing. Persaingan yang terus-menerus ini tidak akan pernah berakhir karena tujuan para teknokrat adalah menciptakan produk yang dapat lebih memberikan kesejahteraan dan kemudahan umat manusia dalam menjalankan kehidupannya bagi masyarakat.

Salah satu manfaat dari perkembangan teknologi adalah munculnya era teknologi digital, teknologi informasi dan teknologi komputer yang secara simultan betul-betul saat ini dirasakan merubah paradigma kehidupan manusia secara total. Visi kemanusiaan dalam memandang kehidupannya berubah dan era baru kehidupan manusia sedang dibangun menuju ke bentuk komunitas masyarakat yang berbeda dengan sebelumnya. Manusia di seluruh dunia saat ini sedang mentransformasikan dirinya ke bentuk kehidupan baru yang disebut masyarakat kontemporer, bukan lagi masyarakat modern yang istilah ini muncul sejak terjadinya revolusi industri. Kehidupan baru yang sangat bergairah di seluruh penjuru dunia saat ini sedang terjadi, tatanan kemasyarakatan juga berubah dan berkembang. Namun, prinsip dasar bahwa manusia akan selalu berusaha mencari jalan dan cara untuk mempermudah kehidupannya tidak akan pernah berubah. Tanpa pemahaman filsafat dalam mengembangkan IPTEK, maka manusia akan terjerumus ke dalam kancah pengembangan tanpa peduli dengan nilai-nilai kemanusiaannya. Berarti, tidak ada pegangan prinsip tentang makna kehidupan manusia sebenarnya. Jadi, disini hubungan antara filsafat dan IPTEK adalah suatu hubungan keharusan, bukan hubungan insidentil semata. Artinya pemanfaatan IPTEK dan pengembangannya haruslah semakin mencintai kebaikan atau kebijaksanaan IPTEK, sehingga pelaku dan pengguna IPTEK akan semakin bijaksana di dalam menguak alam semesta ini, menghasilkan produk yang diciptakannya, serta pilihan teknologi yang diterapkanya. Di dalam konteks ini berarti perlu adanya pengertian tambahan yang disebut dengan etika dan estetika di dalam memanfaatkan dan mengembangkan IPTEK. Etika dan estetika disini menjadi sangat penting untuk menjaga agar kecintaan akan kebaikan atau kebijakan selalu melingkupinya. Etika dan estetika disini mencerminkan adanya nilai-nilai (values) yang harus dimiliki oleh IPTEK. Pendekatan Tentang Hubungan Ada 3 modus dalam mempelajari hubungan antara filsafat dan IPTEK, yaitu spekulatif, preskriptif, dan analisis. Spekulatif, berarti pemikiran yang sistematis terhadap apa saja yang ada, baik abstrak maupun konkrit. Filsafat berusaha menemukan koherensi antar berbagai keadaan, pemikiran, dan pengalaman. Dengan pencaharian koherensi, dunia pikiran diharapkan dapat dipertemukan dengan dunia nyata. Preskriptif. Dengan modus ini tercipta standar untuk mempelajari adanya peranan nilai bagi IPTEK dan memperoleh gambaran yang jelas tentang nilai serta pemahaman tentang baik buruknya. Analisis. Modus ini berkenaan dengan kata-kata dan makna. Salah satu telaah yang perlu dilakukan secara analitis adalah mencermati perkembangan makna secara historis. Akan dijumpai kenyataan bahwa kebebasan dan kejujuran akademis bila ditinjau dari maknanya dapat berubah-ubah dalam keterkaitannya dengan lingkungan dan waktu. Secara historis serta dikaitkan dengan keadaan masyarakat yang tradisional dan paternalistik, kebebasan lebih banyak diikat oleh tata cara pergaulan dan sikap yang kaku, yang seolah-olah tidak pernah berubah. Namun, dalam era globalisasi ini, hal yang paternalistik sudah mulai kabur dan penguasaan pengetahuan boleh dikatakan tanpa akhir sehingga diperlukan

pemberian kebebasan yang cukup agar mampu menyerap pengetahuan yang diperlukan. Saat ini, tradisi seolah-olah tidak lagi sepenuhnya mengikat, terlebih hal-hal yang merupakan ekspresi paternalisme tidak mampu membatasi cita-cita pelaku IPTEK. Akibatnya, pada masa sekarang kebebasan banyak ditentukan oleh kemampuan pelaku IPTEK dalam mencapai tujuannya. Makna kedewasaan dalam era globalisasi sekarang memiliki nilai kedewasaan yang relatif. Norma pelaku IPTEK dapat berubah karena didesak oleh berbagai perkembangan yang sifatnya lebih baru, lebih memberikan harapan dan sebagainya. Dengan adanya 3 modus tersebut, maka pengembangan IPTEK tidak hanya menunjukkan adanya hubungan keharusan dengan filsafat, melainkan modusnya pun seiring dengan filsafat.