Anda di halaman 1dari 3

AMBLYOPIA I.

WAKTU/ SESI PERTEMUAN Mengembangkan Kompetensi Sesi didalam kelas Sesi praktek dan pencapaian kompetensi Kepaniteraan dilakukan selama 4 minggu Waktu 30 menit Waktu 30 menit

II.TUJUAN UMUM Peserta didik mampu menjelaskan patofisiologi infeksi dan radang saluran lakrimalis, menginterpretasikan dan menjelaskan pemeriksaan mata, mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan sesuai kompetensi. III.TUJUAN KHUSUS Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil:
1. Mampu menjelaskan gambaran klinis amblyopia 2. Mampu menginterpretasikan dan menjelaskan pemeriksaan mata pada kasus amblyopia

3. Mampu menjelaskan dan melakukan diagnosis serta penangannya IV. STRATEGI PEMBELAJARAN Tujuan 1 Metoda: Kuliah interaktif Bed side teaching Telaah ilmiah

Tujuan 2 Metoda:

Kuliah interaktif Demonstrasi, prosedural skill, short case Telaah ilmiah

Tujuan 3 Metoda:

Kuliah interaktif Demonstrasi, long case, phantom Telaah ilmiah

V.PERSIAPAN SESI 1. Materi presentasi 2. Kasus 3. Peralatan diagnostik


82

VI.REFERENSI (1) Basic Ophthalmology. Editor : Cynthia A, Bradford MD, American Accademy of (2) Vaughn D.G, Asbury T, Riordan-Eva P, eds. General Ophthalmology 15th Connecticut:
Prentice Hall int. Ophthalmology. San Fransisco.

(3) American Academy of Ophthalmology. Basic and clinical science course. (4) Kansky. Ophthalmology.

VII.GAMBARAN UMUM Ambliopia adalah gangguan mata berupa penurunan tajam penglihatan akibat adanya gangguan perkembangan penglihatan selama masa kanak-kanak. Keadaan ini juga dikenal dengan istilah lazy eye atau mata malas. Bila salah satu mata memiliki tajam penglihatan yang baik sedangkan mata yang lainnya tidak, maka mata dengan tajam penglihatan yang lebih buruk akan mengalami ambliopia. Umumnya hanya satu mata yang mengalami ambliopia, namun tidak menutup kemungkinan gangguan ini bisa terjadi pada dua mata sekaligus. Ambliopia sering ditemukan dan dapat mengenai 2 hingga 3 orang dari 100 pasien. Masa terapi ambliopia yang paling baik adalah selama masa bayi dan awal masa anak-anak. Ambliopia disebabkan oleh berbagai macam kondisi yang mempengaruhi perkembangan penglihatan. Umumnya kondisi ini bersifat diturunkan. Ada 3 penyebab utama ambliopia, yaitu:

Strabismus (Juling) Ambliopia umumnya muncul pada mata yang mengalami strabismus (juling). Mata juling terjadi untuk menghindari penglihatan ganda (double) oleh anak tersebut. Anak juga biasanya lebih senang memakai mata sebelahnya dengan tajam penglihatan yang lebih baik. Mata yang juling adalah mata dengan tajam penglihatan yang lebih buruk.

Kelainan

refraksi

yang

tidak

seimbang

antar

kedua

mata

Kelainan tajam penglihatan bisa diatasi dengan kaca mata. Namun, ambliopia bisa muncul bila salah satu mata tidak fokus oleh karena ukuran minus, plus, atau silinder yang lebih besar bila dibandingkan dengan mata sebelahnya. Ambliopia juga bisa muncul pada dua mata sekaligus bila tajam penglihatan pada kedua mata sangat buruk. Keadaan ini muncul pada penderita minus, plus atau silinder tinggi.

Kekeruhan pada jaringan mata yang normalnya jernih Katarak (kekeruhan pada lensa mata) dapat menimbulkan ambliopia. Setiap kondisi yang mencegah masuknya bayangan objek ke dalam mata bisa menyebabkan ambliopia. Keadaan ini adalah penyebab ambliopia yang paling buruk.

Ambliopia dapat dideteksi dengan menemukan perbedaan tajam penglihatan antara kedua mata atau ditemukan tajam penglihatan yang sangat buruk pada kedua mata. Karena memeriksa tajam penglihatan pada anak-anak yang lebih kecil sangat sulit, dokter mata dapat menilai tajam penglihatan anak-anak ini dengan melihat reaksi bayi mengikuti suatu benda. Pemeriksaan dilakukan pada masing-masing mata yang ditutup secara bergantian (patch). Jika salah satu mata ambliopia dan mata yang tajam baik ditutup, maka bayi akan memberikan reaksi berupa
83

mengintip dari balik patch, berusaha membuka patch, atau menangis. Tajam penglihatan yang lebih buruk pada salah satu mata tidak selalu berarti anak menderita ambliopia. Seringkali, tajam penglihatan ini masih bisa diatasi dengan memberikan kacamata pada anak tersebut. VIII. KOMPETENSI Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter. Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan (bukan kasus gawat darurat).
IX. TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu: 1. Mengenali gejala, tanda ambliopia 2. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan ophthalmologikus 3. Melakukan deskripsi kelainan ambliopia 4. Membuat keputusan klinis, memberi tindakan yang tepat dan merujuk secara tepat waktu dan optimal. X. EVALUASI Kognitif Pre test Essay MCQ Lisan Self assessment dan peer assisted evaluation Diskusi Self assessment dan peer assisted learning Peer assisted evaluation Penilaian kompetensi Task-based medical education OSCE Ujian kompetensi Ujian profesi

Psikomotor

Kognitif dan psikomotor

XI. INSTRUMEN PENILAIAN Observasi selama alih pengetahuan dan keterampilan Kuisioner Penilaian peragaan keterampilan

84