Anda di halaman 1dari 31

P E N G O B ATA N A LT E R N AT I F GUS MUH

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2012-2013

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2012-2013

Terapi pengobatan alternatif Gus Muh dilakukan dgn melakukan pijitan di kaki & telapak kaki.Mereka melakukan pijitan menggunakan tenaga dalam, dgn sedikit usapan / pijitan saja banyak pasien yg mengerang kesakitan. Tapi, setelah itu kondisinya menjadi membaik. Tidak hanya dipijit saja, untuk keberhasilan pengobatan alternatif Gus Muh ini, pasien juga

diharuskan meminum obat-obatan herbal yg diberikan. Selain itu, ada


pantangan2 makanan untuk setiap pasien yg berbeda2 antara satu dgn yg lainnya.Tergantung dari jenis penyakit mereka & tingkat keparahan penyakitnya.

Pengobatan Alternatif Gus Muh ini dikenal manjur mengobati berbagai macam penyakit. Kabarnya pengobatan ini telah menyembuhkan pasien stroke dalam 10 kali terapi pengobatan & pasien dgn paru - paru basah yg

sudah parah dalam 6 kali terapi pengobatan dsb.

Tarif yg dipasang di klinik pengobatan alternatif Gus Muh sangat


bervariasi.Tergantung dari penyakit yg diderita, tingkat keparahan penyakitnya, / dari tingkat ekonominya. Sebelum konsultasi kesehatan, pasien akan berkonsultasi dulu mengenai penyakit & kesanggupan pasien untuk melakukan pembayarannya. Tarif yg dipasang berbeda-beda tergantung dari penyakit & keparahan penyakitnya. Dari beberapa juta bahkan yg sampai puluhan juta rupiah.

Namun, pembayarannya cukup satu kali saja sampai pasien sembuh total
tidak ada biaya tambahan selain itu pembayaran ini bisa dicicil.

Jenis pengobatan tradisional di Indonesia :

Pengobatan tradisional keterampilan. Pengobatan alternatif jenis ini tda pengobatan tradisional pijat urut, pengobatan patah tulang, sunat, dukun bayi, refleksi, akupresur, akupunktur, chiropractor & pengobatan tradisional lain dgn metode yg sejenis.

Pengobatan tradisional pendekatan agama. Pengobatan tradisional ini


meliputi pengobatan tradisional dgn pendekatan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, & Buddha. Pengobatan tradisional supranatural. Pengobatan tradisional ini tda pengobatan tradisional tenaga dalam, paranormal, dukun kebatinan & pengobatan tradisional lain dgn metode yg sejenis.

Hal2 yg harus diperhatikan untuk memilih pengobatan tradisional

Pertama, memiliki Surat Terdaftar Pengobat Tradisional (STPT) / Surat Izin Pengobat Tradisional (SIPT). Seluruh praktik pengobatan alternatif harus mendaftar ke Dinas Kesehatan setempat untuk mendapatkan STPT.

Pengobatan alternatif secara supranatural harus memperoleh rekomendasi


sebelumnya dari Kejaksaan setempat. Sementara itu, pengobatan altarnatif dengan pendekatan agama harus memperoleh rekomendasi dari kantor Departemen Agama setempat.

Kedua, tempat pengobatan alternatif mencantumkan STPT / SIPT di papan nama. Tempat pengobatan alternatif yg telah mencantumkan STPT/SIPT di papan namanya, artinya praktik pengobatan alternatif ini sudah mendaftar

secara resmi ke Dinas Kesehatan. Ini artinya praktik pengobatan alternatif


tsb ada di bawah naungan dan pembinaan Dinas Kesehatan.

Ketiga, meminta keterangan sejelas2nya

kepada pihak yang membuka

praktik pengobatan alternatif. Disarankan sebelum melakukan pengobatan, para pasien / konsumen harus meminta informasi & kejelasan kpd penyedia pengobatan alternatif yg didatangi mengenai cara pengobatan yg

dilakukan. Seluruh pelaku pengobatan alternatif wajib memberikan


informasi sejelas2nya ttg metode pengobatan yg dijalankan. Informasi tsb berupa keuntungan & kerugian dari metode pengobatan yg akan dijalankan serta dpt disampaikan secara lisan kpd pasien.

Keempat, pelaku pengobatan alternatif harus meminta persetujuan. Artinya, seluruh metode & tindakan pengobatan alternatif yg akan dilakukan thd para pasien wajib mendapatkan persetujuan dari pasien & keluarga si pasien. Persetujuan tsb diberikan secara lisan /pun juga secara tertulis. Jika tindakan pengobatan dikhawatirkan menimbulkan risiko tinggi bagi pasien, harus ada persetujuan tertulis yg ditandatangani oleh orang yg

memberi persetujuan.

Kelima, wajib membuat catatan status pasien. Ketika memberikan pelayanan kpd pasien, pelaku pengobatan alternatif harus membuat catatan status pasien. Tujuannya agar pelaku pengobatan alternatif mempunyai data obat-obat yg sudah diberikan shg bermanfaat untuk

pengobatan berikutnya.

Keenam, biaya yg sesuai / layak. Biaya pengobatan yg diberikan kpd para pasien harus layak, sesuai, & masuk akal.

Menurut keputusan menteri kesehatan no. 1076/MENKES/SK/VII/2003 mengenai pendaftaran:

pada

bab III

PASAL 3 (1). Pengobat tradisional diklasifikasikan dalam jenis keterampilan, ramuan, pendekatan agama & supranatural. (2). Klasifikasi & jenis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. Pengobat tradisional ketrampilan tdd pengobat tradisional pijat urut, patah tulang,

sunat, dukun bayi, refleksi, akupresuris, akupunkturis, chiropractor & pengobat tradisional
lainnya yg metodenya sejenis. b. Pengobat tradisional ramuan terdiri dari pengobat tradisional ramuan Indonesia (Jamu), gurah, tabib, shinshe, homoeopathy, aromatherapist pengobat tradisional lainnya

yg metodenya sejenis.
c. Pengobat tradisional pendekatan agama tdd pengobat tradisional dgn pendekatan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, / Budha. d. Pengobat tradisional supranatural tdd pengobat tradisional tenaga dalam (prana), paranormal, dukun kebatinan & pengobat tradisional lainnya yg metodenya sejenis.

(3). Definisi operasional klasifikasi pengobat tradisional sebagaimana dimaksud pd ayat 2 sebagaimana terlampir pd Lampiran.

PASAL 4 (1)Semua pengobat tradisional yg menjalankan pekerjaan pengobatan tradisional wajib

mendaftarkan diri kpd Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat untuk


memperoleh Surat Terdaftar Pengobat Tradisional (STPT). (2) Pengobat tradisional dgn cara supranatural harus mendapat rekomendasi terlebih dahulu dari Kejaksaan Kabupaten/Kota setempat.

(3) Pengobat tradisional dgn cara pendekatan agama harus mendapat rekomendasi
terlebih dahulu dari Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota setempat.

PASAL 5 Tata cara memperoleh STPT sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) ditetapkan sbg berikut : a. Pengobat tradisional mengajukan permohonan dgn disertai kelengkapan pendaftaran kpd Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota dimana pengobat tradisional berada sebagaimana contoh Formulir A.

b. Kelengkapan pendaftaran sebagaimana dimaksud huruf a meliputi :


o Biodata pengobat tradisional sebagaimana contoh Formulir B.
o Fotokopi KTP. o Surat keterangan Kepala Desa tradisional. o Rekomendasi dari asosiasi/organisasi profesi di bidang pengobatan tradisional yg bersangkutan. o Fotokopi sertifikat / ijazah pengobatan tradisional yg dimiliki. o Surat pengantar Puskesmas setempat. o Pas foto ukuran 4x6 cm sebanyak 2( dua ) lembar. o Rekomendasi Kejaksaan Kabupaten/Kota bagi pengobat tradisional klasifikasi / Lurah tempat melakukan pekerjaan sbg pengobat

supranatural & Kantor Departemen Agama Kabupaten/ Kota bagi pengobat tradisional

klasifikasi pendekatan agama.

PASAL 6 (1) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melakukan pendaftaran berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 untuk menerbitkan Surat Terdaftar

Pengobat Tradisional (STPT).

(2) Surat Terdaftar Pengobat Tradisional (STPT) diterbitkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota, dalam waktu selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak permohonan & kelengkapannya diterima. (3) Bentuk STPT sebagaimana dimaksud pd ayat (1) tercantum pd Formulir C.

PASAL 7 (1) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus membuat pembukuan pendaftaran mengenai STPT yang telah diterbitkan. (2) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menyampaikan laporan secara berkala kepada Bupati/Walikota setempat dengan tembusan kpd Kepala Dinas Kesehatan

Provinsi.

PASAL 8 (1) STPT berlaku selama pengobat tradisional melakukan pekerjaan di Kabupaten/Kota tempat pendaftaran.

(2) STPT sebagaimana dimaksud pd ayat (1) hanya berlaku untuk 1 (satu)
Kabupaten/Kota. (3) Pembaharuan STPT dilaksanakan sesuai dengan ketentuan sebagamana dimaksud pd pasal 5.

Secara empiris terbukti aman & bermanfaat untuk digunakan manusia Bahan obat-obatan tradisional & proses produksi yag digunakan memenuhi persyaratan yg ditetapkan Tdk mengandung bahan kimia sintetik / hasil isolasi yg berkhasiat sbg obat Tdk mengandung bahan yg tergolong obat keras / narkotika

A. Syarat Administrasi Produk lokal: f.c. izin usaha IOT / IKOT, ijazah + SIK / SP Apoteker; pernyataan Apoteker sbg

penanggungjawab teknis; contoh produk; rancangan penandaan siap cetak; contoh simplisia (bahan baku) B. Syarat Teknis (untuk produk lokal & lisensi)
o

Formulasi & khasiat: komposisi bahan baku; khasiat /kegunaan yang didukung dengan daftar pustaka; cara pemakaian, peringatan, perhatian, pantangan, anjuran, lama pemakaian

Mutu & teknologi: cara pembuatan (tahapan sesuai SOP); sumber bahan baku; penilaian mutu bahan baku; penilaian mutu produk jadi; metode / hasil uji stabilitas / keawetan

C. Penandaan (untuk produk lokal): Nama produk ; Ukuran kemasan (berat / isi bersih; Nama) dan alamat industri ; Komposisi (nama latin bhn baku); Khasiat / kegunaan ;Cara pemakaian; Peringatan & kontra

indikasi (jika ada); Nomor kode produksi ; Waktu kedaluwarsa ; Kata JAMU dalam lingkaran

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 246/menkes/per/v/1990 ttg izin usaha industri obat tradisional & pendaftaran obat tradisional

BAB V
WAJIB DAFTAR

Pasal 23 Untuk pendaftaran Obat Tradisional dimaksud dalam Pasal 3 obat tradisional harus memenuhi persyaratan: a. Secara empirik terbukti aman & bermanfaat untuk digunakan manusia; b. Bahan obat tradisional & proses produksi yg digunakan memenuhi persyaratan yg ditetapkan; c. Tdk mengandung bahan kimia sintetik / hasil isolasi yg berkhasiat sbg obat; d. Tdk mengandung bahan yg tergolong obat keras / narkotika. Pasal 24 Pendaftaran Obat Tradisional yg dimaksud dalam Pasal 3 berlaku seterusnya.

Pasal 25 (1) Pendaftaran Obat Tradisional yg dimaksud dalam pasal 3 diberikan kpd lndustri Obat Tradisional / lndustri Kecil Obat Tradisional yg telah mendapatkan lzin Usaha. (2) Untuk mendapatkan Pendaftaran Obat Tradisional yg dimaksud dalam Pasal 3 lndustri yg dimaksud dalam ayat (1) wajib mengajukan permohonan kpd Direktur Jenderal dengan menggunakan contoh formulir TRAD-37. Pasal 26 (1) Selambat-lambatnya 6 (enam) bulan terhitung sejak permohonan diterima, Direktur Jenderal menetapkan:

a. Persetujuan Pendaftaran, dgn mempergunakan contoh ormulir TRAD-38 /;


b. Penolakan Pendaftaran, dgn mempergunakan contoh formulir TRAD-39 /; c. Penundaan Pendaftaran dgn permintaan untuk melengkapi data, dgn mempergunakan contoh formulir TRAD-40.

(2) Pemohon wajib menyerahkan kelengkapan data yg dimaksud dalam ayat (1) huruf c,
dalam waktu selambat2nya 3 (tiga) bulan, terhitung sejak tanggal surat permintaan untuk melengkapi data, dgn mempergunakan contoh formulir TRAD-41.

(3) Dalam hal kelengkapan data tdk dipenuhi dalam batas waktu yg dimaksudkan dalam ayat (2), Direktur Jenderal menolak permohonan pendaftaran yg bersangkutan dgn mempergunakan contoh formulir TRAD-42. (4) Selambat2nya dalam waktu 3 (tiga) bulan setelah menerima kelengkapan data dimaksud dalam ayat (2) Direktur Jenderal menetapkan persetujuan / penolakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

Pasal 27 Pendaftaran Obat Tradisional tdk dipungut biaya pendaftaran. Pasal 28

(1) Obat Tradisional yg telah disetujui permohonan pendaftarannya diberi nomor


pendaftaran. (2) Nomor pendaftaran yg dimaksud dalam ayat (1) harus dicantumkan dgn cara dicetak pd wadah etiket, pembungkus & brosur.

Pasal 29
Industri Obat Tradisional & lndustri Kecil Obat Tradisional setiap tahun wajib menyampaikan informasi tentang obat tradisional yg telah disetujui permohonan pendaftarannya & masih diproduksi kpd Direktur Jenderal, dgn mempergunakan contoh formulir TRAD-43

Pasal 30 (1) Pendaftaran Obat Tradisional yang dimaksud dalam pasal 3 dibatalkan apabila terjadi salah satu dari hal-hal berikut: a. Obat Tradisional yang bersangkutan tidak lagi memenuhi ketentuan Pasal 23; b. Penandaan Obat Tradisional yang bersangkutan menyimpang dari yang disetujui sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32; c. Melanggar ketentuan Pasal 40; d. Selama 2 (dua) tahun berturut -turut lndustri Obat Tradisional atau lndustri Kecil Obat Tradisional tidak menyampaikan informasi yang dimaksud Pasal 29;

e. Atas permintaan perusahaan yang bersangkutan.


(2) Pembatalan persetujuan pendaftaran mempergunakan contoh formulir TRAD-44.

Pasal 31 Wadah Obat Tradisional harus terbuat dari bahan yg tdk mempengaruhi mutu & cukup

melindungi isinya.

Pasal 32 (1) Dalam persetujuan pendattaran yg dimaksud dalam Pasal 3 ditetapkan penandaan yg disetujui. (2) Dalam Pembungkus, wadah, etiket & brosur obat tradisional wajib dicantumkan penandaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 33 (1) Pd pembungkus, wadah / etiket & brosur Obat Tradisional Indonesia harus dicantumkan kata "JAMU" yg terletak dalam lingkaran dan ditempatkan pd bagian atas sebelah kiri; (2) Kata "JAMU" yg dimaksud dalam ayat (1) harus jelas & mudah dibaca, & ukuran huruf sekurang-kurangaya tinggi 5 (lima) milimeter & tebal 1/2 (setengah) milimeter dicetak dgn warna hitam di atas warna putih / warna lain yg menyolok.

(3) Pd pembungkus, wadah / etiket dan brosur Obat Tradisional Lisensi harus dicantumkan lambang daun yg terletak dalam lingkaran dan ditempatkan pd bagian atas sebelah kiri. (4) Lambang daun yg dimaksud dalam ayat (3) harus jelas dgn ukuran sekurang2nya

lebar 10 (sepuluh) milimeter & tinggi 10 (sepuluh) milimeter, warna hitam di atas dasar
putih / warna lain yg menyolok dgn bentuk & rupa seperti tercantum dalam Lampiran 46 Peraturan ini.

Pasal 34

Penandaan yg tercantum pada pembungkus, wadah, atiket & / brosur harus berisi
informasi ttg : a. Nama obat tradisional / nama dagang; b. Komposisi; c. Bobot, isi / jumlah obat tiap wadah; d. Dosis pemakaian; e. Khasiat atau kegunaan; g. Kontra indikasi (bila ada); h. Kedaluwarsa; i. Nomor pendaftaran; j. Nomor kode produksi; k. Nama industri / alamat sekurang2nya nama kota & kata "INDONESIA"; l. Untuk Obat Tradisional Lisensi harus dicantumkan juga nama & alamat industri pemberi lisensi; sesuai dgn yg disetujui pd pendaftaran.

Pasal 35
Penandaan yg dimaksud dalam Pasal 34, harus tidak rusak oleh air, gosokan, / pengaruh sinar matahari.

Pasal 36 (1) Penandaan yg dimaksud dalam Pasal 34 harus ditulis dalam bahasa Indonesia dgn huruf latin. (2) Untuk keperluan ekspor, di samping ketentuan yg dimaksud dalam ayat (1) dapat ditambahkan penandaan dalam bahasa dan huruf lain, dgn pengertian bahwa isi & maksudnya harus sama dgn penandaan yg ditulis dalam bahasa Indonesia.

Pasal 37
Nama bahan dalam komposisi dimaksud dalam Pasal 34 huruf b harus ditulis dgn tata nama Latin menurut Farmakope Indonesia Ekstra Farmakope Indonesia / buku lain yg ditetapkan oleh Menteri.

MUI mengeluarkan fatwa pada Mei 2006 tentang pengobatan alternatif ini bahwa pengobatan alternatif dibolehkan, dgn syarat tidak mengandung

syirik & sihir. Artinya, jika mengandung syirik & sihir, jenis pengobatan tsb
diharamkan.

Rasulullah bersabda:

Bukanlah

dari golongan kami, seorang yg

menggunakan petunjuk setan / burung dsb, / praktek sihir untuk menerka


nasib, jodoh, penyakit dan obatnya. Maka barangsiapa mendatangi seorang dukun yg melakukan praktek2 demikian lalu ia percaya akan keterangannya, orang ini adalah orang yg telah mendustakan, & tidak percaya dgn apa2 yg diwahyukan kpd Muhammad saw.

Nabi saw justru menekankan pd pengobatan fisik & terapi medis secara natural & bukan menganjurkan pengobatan alternatif supranatural dgn sabdanya: Sesungguhnya penawar itu ada tiga perkara: minum madu,

berbekam & menempelkan besi panas pd bagian yang sakit. (HR.


Bukhari) Beliau tidak menyebutkan pengobatan dgn jimat / jampi, beliau justru hanya menyebutkan hal2 yg alamiah (natural). Pengobatan natural tsb bisa melalui metode obat dlm melalui mulut, seperti madu, yg sekarang dpt berupa injeksi atau sejenisnya, metode berbekam (mengeluarkan darah) yg sekarang bisa diwujudkan dgn operasi dan metode menempelkan besi panas pd bagian yg sakit, yg sekarang bisa dgn sistem

penyinaran.

Semua pengobatan natural seperti itu dianjurkan oleh Islam & disyariatkan oleh Rasulullah.

Prinsip pengobatan menurut standar Islam:

Tidak berobat dengan zat yang diharamkan


Nabi Muhammad bersabda: Yg artinya: Allah tdk menjadikan penyembuhanmu dgn apa yg diharamkan

atas kamu. (HR. Al-Baihaqi).


Prinsip: menunjukkan bahwa berobat dgn menggunakan zat2 yg diharamkan sementara kondisinya tdk benar2 darurat maka penggunaan zat tsb diharamkan.

Berobat kepada ahlinya Prinsip: menunjukkan bahwa pengobatan yg dilakukan harus ilmiah. Tidak menggunakan mantra (sihir) Nabi saw bersabda: Sesungguhnya jampi-jampi, jimat & tiwalah (guna-

guna, susuk/pelet) adalah syirik. (HR. Ahmad, Abu Daud, Baihaqi&Hakim).

Macam2 Pengobatan yg dihalalkan:

Pengobatan nabawi, yg secara jelas disebutkan dalam Al-Quran maupun hadits, seperti pengobatan dgn madu, habah sauda (jinten hitam ), air

zamzam,

ruqiyah

dgn

membacakan

alquran

bagi

orang

yg

kesurupan&kemasukan jin dll.


Pengobatan secara medis, yg secara ilmiah dpt dipertanggung-jawabkan Pengobatan secara tradisional, seperti dgn jamu (dgn bahan yg halal &tidak merusak), refleksi,&obat2 tradisional yg lainnya (dgn bahan yg halal&tidak merusak).

Dasar-dasar hukum :

Pasal 99 108 UU No. 36/2009: Kesehatan Pasal 71 UUPK: Binwas pradok oleh IDI; Pasal 14 Kodeki (Penjelasan); Surat PB IDI No. 1080/PB/H.2/05/2005 Tentang Seruan PB IDI MKEK agar a.l. dalam melakukan profesinya dokter / SARKES memiliki penasihat

hukum / Hosp./Corporate Lawyer;


KUHPer; KUHPid; KUHAP; HAN; UU No. 39 Th. 1999:HAM UU No. 8 Th. 1999: Perlind. Kons. UU No. 13 Th. 2003: NAKER UU No. 21 Th. 2000: Serikat Pekerja / Buruh UU No. 36 Th. 2009: Kesehatan

UU No. 29 Th. 2004: Pradok

Pasal 48 UU No. 36/2009: Kesehatan (1)Penyelenggaraan upaya kesehatan sbagaimana dimaksud Pasal 47 dilaksanakan meliputi kegiatan: a.pelayanan kesehatan, b.pelayanan kesehatan tradisional, c.p kesehatan&cegah penyakit, d.penyembuhan penyakit.&pemulihan kesehatan. (2)penyelenggaraan upaya kesehatan sebagaimana dimaksud ayat (1) didukung oleh SD Kesehatan

Pasal 59: (1) Berdasarkan cara pengobatannya, pelayanan kesehatan tradisional terbagi menjadi: a. gunakan keterampilan, b. gunakan ramuan, (2) Pelayanan kesehatan tradisional dibina & diawasi oleh pemerintah agar dapat dipertanggungjawabkan manfaat/aman & tdk bertentangan dgn norma agama, ketentuan lebih lanjut diatur dgn peraturan pemerintah.

Pasal 60 (1) Setiap orang yg lakukan pelayanan kesehatan tradisional yg digunakan alat & teknologi harus dpt izin dari Kesehatan yg berwenang, [[Penggunaan alat & teknologi harus dpt dipertanggungjawabkan manfaat &keamanannya serta tidak bertentangan dgn norma agama & budaya masyarakat.]]

Dasar-dasar hukum :

Pasal 99 108 UU No. 36/2009: Kesehatan Pasal 71 UUPK: Binwas pradok oleh IDI; Pasal 14 Kodeki (Penjelasan); Surat PB IDI No. 1080/PB/H.2/05/2005 Tentang Seruan PB IDI MKEK agar a.l. dalam melakukan profesinya dokter / SARKES memiliki penasihat hukum / Hosp./Corporate Lawyer;

KUHPer; KUHPid; KUHAP; HAN; UU No. 39 Th. 1999:HAM UU No. 8 Th. 1999: Perlind. Kons. UU No. 13 Th. 2003: NAKER

UU No. 21 Th. 2000: Serikat Pekerja / Buruh


UU No. 36 Th. 2009: Kesehatan UU No. 29 Th. 2004: Pradok

Jika dilihat dari berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes)


No.1787/2010 tentang Iklan dan Publikasi Pelayanan Kesehatan, iklan layanan kesehatan tdk boleh mempublikasikan metode, obat/teknologi pelayanan kesehatan baru/nonkonvensional yg belum diterima masyarakat kedokteran karena manfaat & keamanannya masih diragukan & belum terbukti. Maka dari itu perlu dilakukannya tindak lanjut tentang keefektifan metode&pelayanan dari pengobatan tradisional.

Upaya pelayanan kesehatan dari segi pengobatan itu beraneka ragam ada yg dilakukan secara medis & tradisional. Pengobatan tradisional tercantum dalam Bag. Ke-3 UU Kes : Yankes Trad, itu terdiri dari pengobat tradisional dengan ramuan, keterampilan, agama, & supranatural.

Pengobatan tradisional&obat tradisional di Indonesia diperbolehkan asalkan memenuhi memenuhi kriteria yg ditentukan oleh pemerintah baik dari segi obat yg diberikan, cara pengobatannya. kelengkapan pendaftaran yg tercantum dalam pasal 5 KEPMENKES No 1076/MENKES/SK/VII/2003 &wajib untuk mendaftarkan diri kpd Kepala Dinas Kesehatan daerah setempat, harus mendapat perizinan dari BPOM, serta tdk merugikan masyarakat (baik segi etika, hukum agama, & HAM). Pengobat tradisional itu harus memberikan proteksi & rasa kenyamanan terhadap masyarakat.

Seyogyanya seluruh pengobatan tradisional yg menjalankan praktek obat


tradisional wajib mendaftar pd Kadinkes stempat untuk mendapat STPT. Seharusnya pasien yg berobat dipengobatan tradisional harus mengerti & paham terhadap :
Bahan/kandungan obat tradisonal & proses produksi yg digunakan

memenuhi psyaratan yg ditetapkan:


Tdk mengandung bahan kimia sintetik/hasil isolasi yg bkhasiat sbg obat Tdk mengandung bahan yg tergolong obat keras/narkotika.

Seharusnya tenaga kesehatan bisa lebih berkontribusi kpd ahli pengobatan tradisional dlm hal membantu kesembuhan pasien.

Jangan membodohi pasien dgn pembayaran yg besar&meyakinkan bahwa


pasien akan sembuh tapi dari ilmu medis tidak dpt sembuh, krn yg Maha menyembuhkan adlh Allah SWT, kecuali Allah SWT bkehendak, pasien tsb dpt sembuh.

Sekian presentasi dari kamiiii,,

Wabillahi Taufik Wal Hidayah Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh