Anda di halaman 1dari 8

Judul Penulis Penerbit Tahun terbit Jenis

: Perbenturan dengan Barat: Reaksi dan Akibat : Onghokham, Thee Kian Wie, Sutan Takdir Alisyahbana : LP3S : 1984 : Majalah

Apa jadinya ketika sejarawan, ekonom dan sastrawan bersama-sama membicarakan masalah perbenturan budaya yang terjadi di negeri ini? Ketiganya adalah Onghokham, Thee Kian Wie, dan Sutan Takdir Alisyahbana, melalui sudut pandang sejarah semuanya berbicara mengenai perbenturan budaya, bagaimana latar belakang karakter Indonesia hingga menjadi sekarang ini. Ketiga sosok penulis yang merupakan ahli di bidangnya, menjadi daya tarik orangorang untuk membaca tulisan tersebut. Tulisan ini memiliki keunggulan serta manfaat. Tulisan ini menjadi pencerah bagi bangsa Indonesia, menjadi penyadar bahwa sebenarnya kita harus percaya diri dalam menghadapi arus global, Onghokham dalam sudut pandang sejarah semenjak kedatangan bangsa Eropa ke nusantara pada abad XVI, hubungan dengan dunia internasionalpun terputus. Bangsa pribumi pada zaman kolonial hanya menjadi pemasok bahan mentah saja, tanpa mengetahui bagaimana perkembangan bangsa di belahan dunia lainnya. Bangsa pribumi menurutnya pada masa kolonial menjadi bangsa yang terbelakang, kesadaran kelas primitif membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang percaya pada jimat, kesaktian, dan ramalan-ramalan. Kepercayaan tersebut merupakan reaksi terhadap kekalahan. Padahal, sebelum kedatangan bangsa Eropa, bangsa Indonesia, sudah terlibat dalam hubungan internasional melalui perdagangan dan pelayaran dengan bangsa lainnya. Dan sebenarnya dahulu ketika kedatangan bangsa Eropa pertama kali datang ke Nusantara, kaum pribumi memandang bangsa Eropa biasa saja. Bangsa Eropa masuk melalui diplomasi dengan penguasa, menjelma menjadi perusahaan-perusahaan bersifat semi negara yang akhirnya seenaknya memonopoli kekayaan nusantara. Fakta-fakta menyentil yang diutarakan oleh Onghokham dalam tulisannya menjadi keunggulan dalam tulisannya, memberikan kepercayaan diri bahwa sebenarnya bangsa Indonesia tidak perlu minder dalam bergaul dengan bangsa lainnya.

Thee Kian Wie seorang ekonom keturunan peranakan Cina dalam tulisannya menerangkan bagaimana pengaruh Feodalisme dan Kolonialisme memberikan pengaruh terhadap ekonomi kaum pribumi, terhadap kemiskinan. Tulisan Thee Kian Wie objektif, meskipun ia sendiri keturunan Cina, namun ia mengakui bahwa jiwa entrepeneur keturunan Cina sekarang ini, disebabkan oleh keberpihakan bangsa Belanda di masa kolonial yang lebih memberi peluang terhahap warga keturunan Cina. Tulisan Thee lebih yang seorang ekonom, tentu lebih menjelaskan masalah ekonomi kaum pribumi di masa kolonial. Perkebunan rakyat sebenarnya mampu berkembang dengan pesat dan hampir meyingkirkan perkebunan pemerintah kolonial. Thee menerangkan ketika pemerintah kolonial harus angkat kaki dari Indonesia, sumber daya manusia Indonesia belum memadai mengelola peninggalan Belanda. Thee memberikan kritik bahwa bangsa Indonesia belum memiliki kekuatan dalam perekonomian dan masih memiliki masalah karena masih belum memiliki integrated market. Tiba pada tulisan Sutan Takdir Alisyahbana, bila tulisan Thee memberikan PR terhadap bangsa Indonesia, maka Sutan memberi masukan yang membangun, dan lebih menekankan pada masa kekinian. Sutan yang seorang universalis menerangkan bahwa cara pandang masyarakat harus dirubah, masyarakat harus melihat dirinya adalah bagian dari dunia, tidak dibatasi oleh batas negara. Pandangan ini diharapkan dapat memberikan kepercayaan bahwa kita sama kedudukannya dengan bangsa lainnya. Sutan menjelaskan bahwa pemerintah perlu mengikuti jejak negara tetangga, seperti Malaysia, Cina, Korea Selatan, yang berani mengirimkan warganya untuk belajar di luar negeri, menyerap ilmu dari manapun, untuk kemudian digunakan guna memajukan bangsanya sendiri. Sutan menekankan bahwa kita harus membuang pikiran dimensi sempit, karena sebenarnya dunia, masyarakat dan kebudayaan baru telah muncul, tidak perlu membanggakan bangsa sendiri yang perlu dilakukan dan dipikirkan adalah kita memandang bahwa kita termasuk masyarakat dunia. Tulisan dialog kolaborasi antara sejarawan, ekonom dan sastrawan ini memberikan kesadaran, bahwa kita harus percaya diri dalam menghadapi perubahan, memberikan faktafakta yang mungkin belum disadari bangsa Indonesia, mampu memberikan pikiran positif, tulisannya objektif, tidak selalu menyalahkan keadaan, bahwa bangsa Belanda datang ke Indonesia juga membawa kebaikan, setidaknya dalam pembangunan fisik, tulisan ini ringan dan mudah dicerna pembaca tidak perlu memutar otak untuk mengetahui apa yang sebenarnya disampaikan, bahasanya ringan, perlu dibaca untuk siapapun yang ingin mengetahui sejarah bangsanya sendiri. Tulisan yang bermanfaat dan mampu membuka

wawasan. Meskipun demikian ada sedikit kekurang, bila saja ketiga penulis mencantumkan sumber atau kutipan untuk memperkuat pernyataan dari tulisannya maka tulisannya akan semakin menyempurnakan argumen yang dijelaskan para penulis.

Nama NIM Kelas

: Raditya Ilham Fadillah : 09406241045 : Pendidikan Sejarah 2009 Reguler

_________________________________________________________________

SUMMARY Judul Penulis Sumber : A Puputan Tale: The Story of Pregnant Woman : Helen Creese : Jurnal Indonesia, edisi Oktober 2006, nomor 82

Puputan merupakan perlawanan bersenjata rakyat Bali untuk memperjuangkan tanah airnya terhadap penjajahan pemerintah kolonial Belanda. Puputan sendiri berasal dari kata puput yang artinya putus. Rakyat Bali mengartikan bahwa perang puputan adalah perang sampai akhir atau sampai nyawa terputus dengan badan. Perang puputan pada 20 September 1906, bagi rakyat Bali merupakan sejarah yang amat penting, karena menjadi simbol bagi perjuangan rakyat Bali dalam melawan penjajahan Belanda. Bahkan, dalam peringatan seabad perang puputan pada tahun 2006 banyak rakyat Bali yang turun ke jalan untuk melakukan pawai arak-arakan untuk memperingati seabad kejadian tersebut. Perang puputan dimulai dengan kisah mendaratnya perahu dagang Belanda bernama Sri Komala berbendera Belanda di daerah Badung pada 27 Mei 1904 dikarenakan mengalami kerusakan. Perahu itu ditumpangi oleh pedagang Cina bernama Kwee Tek Tjiang. Kwee Tek Tjiang mengadu pada Belanda bahwa kapal mereka dijarah oleh orang Bali. Belanda kemudian memerintahkan kerajaan Badung untuk membayar ganti rugi sebesar 3000 ringgit atau setara dengan 7500 gulden. Namun, dari pihak kerajaan Badung Bali tidak mengindahkannya karena mereka tidak merasa melakukan apa yang dituduhkan.

Penolakan tegas Raja Badung mengakibatkan pemerintah kolonial mengirim kapal angkatan laut ke perairan Badung untuk melakukan blokade ekonomi. Tindakan pemerintah kolonial melalui patroli angkatan lautnya semakin sering dilakukan, lebih-lebih sikap raja Badung yang tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah terhadap tuntutan ganti rugi. Meskipun pihak kerajaan Badung mengalami kerugian setiap hari sebesar 1500 ringgit dari pemasukan pelabuhan akibat blokade ekonomi itu, Raja Badung tetap tegas pada keyakinannya menolak tuduhan Gubernurmen. Sementara itu blokade ekonomi di darat juga dilakukan dengan cara bekerja sama dengan raja-raja tetangga seperti Gianyar, Bangli, Klungkung, Tabanan, dan Karangasem, namun kerajaan-kerajaan tetangga itu sulit memutuskan hubungan dengan Raja Badung karena kepentingannya masing-masing. Blokade ekonomi yang dilancarkan di laut atau di darat ternyata gagal dan tidak mampu membuat Raja Badung menyerah. Kondisi ini mengakibatkan semakin tegangnya hubungan politik antara Kerajaan Badung dan Pemerintah Gubernurmen. Ancaman dari Gubernur Jenderal di Batavia tidak sedikitpun mengubah pendirian Raja Badung. Sekalipun pemerintah tertinggi Hindia Belanda di Batavia mengeluarkan surat perintah untuk mengadakan untuk mengadakan untuk mengadakan ekspedisi militer pada tanggal 4 September 1906, Raja Badung telah siap menanggung resiko demi membela kedaulatan kerajaan (Nindihin Gumi Lan Swadharmaning Negara). Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk menekan kerajaan Badung, namun selalu saja dari pihak kerajaan Badung selalu kuat dengan pendiriannya. Hal ini, membuat berang pemerintah kolonial Belanda hingga akhirnya menurunkan armada militernya untuk menyerang kerajaan Badung dengan kekuatan armadanya berjumlah 16 buah kapal, yaitu 9 buah kapal perang, dan 7 buah kapal pengangkut. Kapal-kapal perang tersebut di antaranya De Hortog Hendrik, Koningin Wilhelmena, Der Nederlander, dilengkapi dengan meriam berbagai kaliber. Seluruh personil yang ikut dalam ekspedisi itu berjumlah 3053 orang yang terdiri atas 2312 orang personil militer dan 741 orang sipil termasuk wartawan perang. Perang terjadi dengan begitu tragis. Rakyat Bali berjuang dengan penuh keyakinan dan keberanian. Namun, karena ketidakseimbangan persenjataan antara militer Belanda dan rakyat Bali akhirnya, perlawanan dapat diredam. Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak, dan yang paling menderita kerugian adalah dari pihak kerajaan Badung, karena secara jumlah dari pihak mereka lebih banyak korban yang

berguguran dan pada akhirnya puri Pamecutan yang menjadi simbol kekuatan rakyat Badung dapat diduduki Belanda. Dalam kisah perang puputan itu sendiri sebenanya ada cerita menarik yang terjadi didalamnya, yaitu cerita seorang wanita hamil muda. Bila menurut Helen Creese cerita itu merupakan the story behind the story, cerita ini mengisahkan tentang perjuangan perempuan yang berada dibalik layar, mengenai istri dari salah satu keluarga penguasa di Kerajaan Bali. Dimulai dari tokoh bernama Jero Nyoman Nuraga yang merupakan istri ketiga dari Anak Agung Alit Badra. Anak Agung Alit Badra sendiri merupakan keponakan dari Cokorda Ngurah Made Pamecutan. Pada saat terjadi perang puputan Jero Nyoman Nuraga sedang mengandung dua sampai tiga bulan hingga akhirnya melahirkan anaknya pada tahun 1907. Jero Nyoman Nuraga lahir pada tahun 1890an di Mengwi. Jero Nyoman Nuraga merupakan nenek dari suami Putri Kapandyan, Anak Agung Ngurah Made Agung. Putri Kapandyan sendiri merupakan seorang perempuan yang menggali tale pregnant woman berdasarkan kisah yang diceritakan dari Jero Nyoman

Nuraga. Putri Kapandyan aslinya bukanlah sejarahwan melainkan seorang lulusan arkeologi dari universitas Udayana, ia tertarik dengan cerita dari nenek suaminya yang merupakan saksi sejarah dari perang puputan. Cerita Jero Nyoman Nuraga mengenai perang puputan merupakan gabungan dari fakta sejarah, kenangan pribadi dan terkaan. Cerita perempuan hamil muda, berkisah tentang pengalaman Jero Nyoman Nuraga saat masih muda, ketika ia menjadi keluarga istana dan memperjuangkan kelahiran anaknya sebagai penerus dari tahta kerajaan. Suami dari Jero Nyoman Nuraga sendiri yaitu, Anak Agung Alit Badra meninggal saat terjadinya perang puputan. Saat terjadi perang puputan tersebut Jero Nyoman merupakan anggota keluarga kerajaan yang berhasil selamatkan dan menjadi saksi sejarah perang puputan. Sebelum perang puputan terjadi Ida Cokorda Ngurah Pamecutan sebagai raja, memerintahkan agar seluruh keluarga kerajaan yang berada di luar istana atau di desa-desa berkumpul. Untuk menyatukan kekuatan serta mengevakuasi perempuan-perempuan yang sedang hamil serta anak-anak penerus tahta kerajan tinggal di Puri Pamecutan.

Saat terjadi perang puputan pada 20 September 1906 kerajaan Badung mengerahkan kekuatan terakhirnya untuk menyerang Belanda. Namun, sayang seperti dijelaskan ketidakseimbangan persenjataan antara pihak Belanda dengan rakyat Bali, maka akhirnya perlawananpun berhasil diredakan, Ida Cokorda sendiri meninggal dalam, usaha untuk membakar istana sebelum kekalahan sia-sia, karena Belanda berhasil mengusainya. Sebelum kekalahan tersebut Ida Cokorda Pamecutan menyuruh keluarga kerajaan untuk lari, terutama para perempuan dan anak-anak keluarga istana. Jero Nyoman yang sedang hamil menolak untuk pergi hingga akhirnya ia melihat kematian suaminya dan Ida Cokorda Pamecutan, namun beruntung Jero Nyomanpun berhasil melarikan diri bersama beberapa orang kedaerah tenggara Bali, dibantu oleh seeorang brnama Ni Buntek. Sebagian keluarga istana yang melarikan diri pada akhirnya dapa dikejar dan ditemukan. Sisa-sisa keluarga kerajaan menjadi tawanan Belanda dan mereka di pindahkan ke Lombok. Kerajaan Badung akhirnya runtuh dan berhasil dikuasai Belanda. Setelah perang puputan berlangsung, Jero Nyoman Nuraga yang berhasil tidak tertangkap, kembali ke daerah Panarungan di Mengwi, dan melahirkan anaknya Anak Agung Biang Anom pada tahun 1907, mereka dilindungi oleh orang dari Puri Belaluan. Mereka hidup sederhana dengan bisnis kecil-kecilan menjual kopi dan akhirnya berhasil dan mampu membangun Puri Anom Kajanan, dimana akhirnya mereka hidup. Jero Nyoman Nuraga akhirnya meninggal pada tahun 1962. Kisahnya baru kemudian diceritakan kembali oleh Putri Kapandyan dan Drs. I Gusti Rai Mirsha, baru pada tahun 1977. Perang puputan merupakan perang hingga darah penghabisan rakyat Bali. Perang Puputan merupakan cerita mengenai sikap heroik yang didasari keyakinan terhadap agama Hindu, dimana ketika seseorang berusaha keras menghadapi ketidakadilan maka ia akan dijamin masuk surga. Bukan hanya kaum lelaki, tapi perempuan dan anak kecilpun ikut angkat senjata dalam menghadapi militer Belanda. Mereka sama-sama beraninya seperti kaum lelaki dengan bersenjatakan kris dan tombak mereka melawan ketidakadilan yang terjadi. Perang puputan menjadi sebuah kebanggaan akan perlawanan melawan penindasan. Meskipun, perang ini sebenarnya masih bersifat kedaerahan namun, semangatnya yang tidak kenal menyerah, menjadi rujukan untuk membangkitkan kesadaran nasional pada zaman pergerakan hingga dewasa ini, demi terciptanya persatuan melawan penjajahan.