Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Air merupakan materi yang sangat penting dalam kehidupan, baik tanaman, hewan maupun manusia. Kehidupan manusia tentu tidak terlepas dari kebutuhan akan air bersih terutama air minum. Selama ini kebutuhan akan air dipenuhi dari berbagai sumber antara lain air tanah, air sungai, air hujan, air pegunungan dan air laut yang diolah sedemikian rupa dan ditawarkan sebagai bahan baku air. Kebutuhan akan air semakin lama semakin meningkat sesuai dengan keperluan dan taraf kehidupan penduduk (Radji, dkk, 2008). Di daerah perkotaan, pada umumnya sumber air bakunya dari sungai yang makin hari tercemar oleh ulah masyarakat sendiri dengan membuang sampah sembarangan dan juga dari banyak buangan rumah tangga, pabrik, industri, dan lainnya. Selain itu juga dihadapkan kepada perubahan lingkungan yang dilakukan oleh manusia, diantaranya rawa, kolam hingga danau dan sungai serta penggunaan daerah resapan air untuk bangunan dan banuak kawasan tadah hujan berupa hutan terganggu. Dengan keadaan yang demikian, kemudian dihadapkan kebutuhan air bersih yang meningkat karena penggunaan dan pertumbuhan penduduk (PUSLITBANG, 2005). Berdasarkan laporan UNICEF Indonesia (2012) bahwa pada dekadedekade sebelumnya, Indonesia telah menunjukkan kemajuan sifgnifikan dalam

meningkatkan akses terhadap persediaan air bersih dan pelayanan sanitasi. Air bersih dan sanitasi merupakan sasaran Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) yang ketujuh dan pada tahun 2015 diharapkan sampai dengan setengah jumlah penduduk yang tanpa mengalami penurunan dari 63% pada 2010 menjadi 28% pada tahun 2007, menurut Riskesdas. Air sebagai salah satu kebutuhan utama untuk menunjang kehidupan manusia memiliki risiko berupa adanya penyakit bawaan air (water borne disease). Oleh karena itu, salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan penyediaan air bersih/minum harus memperhatikan pencegahan terhadap penyakit bawaan air. Data dari WHO (1998) menyebutkan bahwa separuh dari populasi dunia mengalami penyakit yang berhubungan dengan kekurangan air dan air terkontaminasi yang berisiko pada timbulnya penyakit bawaan air seperti diare yang banyak mengakibatkan kematian. Pada tahun 1995 diare mengakibatkan lebih dari tiga ribu kematian dimana 80% diantaranya terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun (Desiandi, dkk, 2009). Banyaknya indikator pendukung pencemaran sungai di Makassar seperti aktivitas masyarakat yang bertempat tinggal disekitar badan sungai, serta pembuangan limbah industri di sungai melatarbelakangi praktikan untuk kegiatan percobaan pemeriksaan bakteriologi air pada Sungai Tallo di Desa Kera-Kera Makassar.

B. Tujuan Tujuan dari praktikum ini untuk mengetahui keberadaan dan jumlah bakteri coliform pada Sungai Tallo di Desa Kera-Kera Makassar. C. Prinsip Percobaan 1. Alat disterilkan untuk menghindari kontaminasi. 2. Botol sampel sebelum digunakan disterilkan terlebih dahulu di laboratorium. 3. Sebelum dan sesudah mengambil air sampel dari botol sampel, pipet ukur terlebih dahulu di Flumbir (fiksasi/dipanaskan). 4. Tabung reaksi yang telah dihomogenkan antara kaldu lactose pekat dan encer dengan sampel air diinkubator selama 2x24 jam. 5. Tabung yang bergelumbung, dilakukan uji penegasan dengan memasukkan cairan BGLB dan inkubasi selama 2x24 jam. 6. Agar tidak terjadi kontaminasi sumber-sumber yang potensial menjadi kontaminan sedapat mungkin dihindari seperti berbicara saat mengambil air sampel dari botol sampel.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Air Bersih Air adalah kebutuhan dasar untuk kehidupan manusia, terutama untuk digunakan sebagai air minum, memasaka makanan, mencuci, mandi, dan kakus. Ketersediaan sistem penyediaan air bersih merupakan bagian yang selayaknya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat baik di perkotaan maupun pedesaan. Hingga saat ini penyediaan oleh pemerintah menghadapi keterbatasan, baik sumber daya manuasia mapun sumber daya lainnya. Air bersih secara umum diartikan sebagai air yang layak untuk dijadikan air baku bagi air minum. Dengan kelayakan ini terkandung pula pengertian layak untuk diminum langsung. Penyediaan air bersih hendaknya memperhatikan sumber, kualitas, dan kuantitasnya. Sumber air bersih merupakan pemasok air bersih, oleh karena itu perlu dan harus diupayakan menjaga keberadaan dan keberlanjutannya. Sedangkan kualitas merupakan hal yang penting bagi kesehatan dan kuantitas penting bagi pencukupan jumlah pasokan air bersih

(PUSLITBANG, 2005). Air yang ada dipermukaan bumi ini dapat berasal dari berbagai sumber, berdasarkan letak sumbernya, air dapat dibagi menjadi air angkasa (hujan), air permukaan, dan air tanah. Air hujan merupakan air hasil prespitasi yang awalnya bersih, namun cenderung mengalami pencemaran ketika berada di atmosfer. Air

permukaan meliputi badan-badan air semacam sungai, danau, telaga, waduk, rawa, air terjun, dan sumur permukaan yang sebagian besar berasal dari air hujan, yang kemudian mengalami pencemaran baik oleh tanah, sampah, dan hal lainnya. Air tanah berasal dari air hujan yang mengalami penyerapan dalam tanah dan mengalami proses filtrasi secara alamiah (Chandra, 2006). Air secara bakteriologis dapat dibagi menjadi beberapa golongan berdasarkan jumlah bakteri koliform yang terkandung dalam 100 cc sampel air/MPN. Golongan-golongan air tersebut, antara lain (Chandra, 2006): 1. Air tanpa pengotoran; mata air (artesis) bebas dari kontaminasi bakteri koliform dan pathogen atau zat kimia beracun. 2. Air yang sudah mengalami proses desinfeksi; MPN<50/100 cc. 3. Air dengan penjernihan lengkap; MPN<5000/100 cc 4. Air dengan penjernihan tidak lengkap; MPN>5000/100 cc 5. Air dengan penjernihan khusus (water purification);

MPN>250.000/100 cc. MPN disini mewakili most probable number (jumlah terdekat dari bakteri koliform dalam 100 cc air). Sumber air bersih mempunyai kualitas yang berbeda, tergantung pada sifat fisik, kimiawi, dan bakteriologis serta dipengaruhi oleh kondisi lingkungan serta kegiatan manusia di sekitarnya, misalnya kegiatan pemukiman, pertanian, dan industri. Pencemaran terhadap sumber air umumnya menyebabkan turunnya kualitas air. Sedangkan kuantitas air bersih yaitu merupakan kebutuhan pelayanan

air bersih untuk masyarakat secara terukur. Kuantitas sumber air bersih, untuk pemenuhan kebutuhan air bersih dalam satuan pelayanan hunian ditetapkan dalam ukuran liter per detik. Sedangkan untuk layanan kebutuhan setiap orang ditetapkan dalam ukuran liter per orang per hari (PUSLITBANG, 2005). Penyakit yang menyerang manusia dapat ditularkan dan menyebar secara langsung maupun tidak langsung melalui air. Penyakit yang ditularkan melalui air disebut sebagai waterborne disease. Terjadinya suatu penyakit terntunya memerlukan adanya agen dan terkadang vektor. Beberapa penyakit yang ditularkan melalui air ini didalam penularannya terkadang membutuhkan hospes, biasa disebut sebagai aquatic host. Sementara penyakit-penyakit yang dikelompokkan berdasarkan cara penularannya yaitu waterborne mechanism, waterwashed mechanism, water-based mechanism, dan water-related insect vector mechanism (Chandra, 2006). Ditinjau dari sudut ilmu kesehatan masyarakat, penyediaan sumber air bersih harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat karena persediaan air bersih yang terbatas memudahkan timbulnya penyakit di masyarakat. Air yang diperuntukkan bagi konsumsi manusia harus berasal dari sumber yang bersih dan aman. Batasan-batasan sumber air yang bersih dan aman tersebut, antara lain (Chandra, 2006): 1. Bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit. 2. Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan beracun. 3. Tidak berasa dan tidak berbau.

4. Dapat dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan domestik dan rumah tangga. 5. Memenuhi standar minimal yang ditentukan oleh WHO atau Departemen Kesehatan RI. B. Tinjauan Umum Air Sungai Air permukaan meliputi badan-badan air semacam sungai, danau, telaga, waduk,, rawa, air terjun, dan sumur permukaan yang sebagian besar berasal dari air hujan yang jatuh ke permukaan bumi. Air hujan tersebut kemudian akan mengalami pencemaran baik oleh tanah, sampah, maupun lainnya (Chandra, 2006). Sungai adalah salah satu dari sumber daya alam yang bersifat mengalir (flowing resources), sehingga pemanfaatan air di hulu akan menghilangkan peluang di hilir. Pencemaran dihulu sungai akan menimbulkan biaya sosial dihilir (extematily effect) dan pelestarian di hulu memberikan manfaat di hilir. Sungai sangat bermanfaat bagi manusia, dan tidak kalah pentingnya bagi biota air (Azwir, 2006). Menurut J. Anthony Whitten (1987) dalam Baharuddin (2002) pola-pola fisik sungai yaitu debit dan tekanan geseran/kecepatan aliran. Debit hampir selalu berubah-ubah sepanjang aliran sungai dan ini tergantung lama hujan dan intensitas curah hujan sebelumnya. Sedangkan tekanan berhubungan dengan kedalaman air dan kemiringan lahan serta tekanan geseran yang dialami organisme bentuk dalam pokok aliran sungai akan jauh lebih besar daripada yang

hidup dibagian hilir sungai. Bila badan air memiliki aliran cepat akan memperkecil timbulnya pencemaran karena bahan polutan lebih cepat terdispersi. Menurut Siradz (2001) dalam Subekti (2011) bahwa air sungai yang telah mengalami pencemaran logam berat dan penurunan kualitas, apabila digunakan sebagai air konsumsi rumah tangga ataupun untuk pengairan, terutama untuk tanaman pangan akan menimbulkan dampak yang sangat berbahaya bagi konsumen. Logam-logam berat yang terdapat di dalam air tersebut, pada gilirannya akan terakumulasi pada tanaman, dan lewat tanaman ini pada akhirnya logam-logam berat tersebut akan masuk ke dalam tubuh hewan dan manusia yang dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit terutama kanker. C. Tinjauan Umum Bakteri Koliform Koliform adalah kelompok bakteri gram negatif berbentuk batang yang pada umumnya menghasilkan gas jika ditumbuhkan dalam medium laktose. Gas ini merupakan ekskret yang dihasilkan koliform. E.coli adalah organisme yang biasa hidup di dalam pencernaan manusia atau hewan yang berdarah panas. E.coli dipakai sebagai indikator organisme karena mudah ditemukan dengan cara yang sederhana, tidak berbahaya, sulit hidup lebih lama dari pada patogen yang lainnya (Sutrisno, dkk, 2006). Disamping itu, bakteri golongan coli berasal dari saluran pencemaran manusia sehingga apabila diketemukan dalam jumlah besar member petunjuk bahwa air telah mengalami pencemaran. Bakteri golongan coli paling tahan terhadap lingkungan yang kurang menguntungkan, sehingga apabila bakteri lain

sudah mati, bakteri golongan coli ini masih bertahan hidup. yang termasuk bakteri golongan coli ialah bakteri dari genus Escherchia, Ciro batter, Enterobatter, dan Klebsiella. Fardiaz (1992) dalam Merini (2006) menerangkan bahwa Escherchia coli adalah merupakan salah satu bakteri yang tergolong dalam kelompok bakteri coli yang hidup secara normal di dalam kotoran manusia maupun hewan. E.coli yang merupakan kelompok koliform mempunyai sifat dapat memfermentasikan laktosa dan memproduksi asam dengan suhu 37oC maupun pada suhu 44,5 + 0,5oC dalam waktu 48 jam, mereduksi nitrat menjadi nitrit, katalase positif dan oksidasi negatif. Escherchia coli terdapat dalam jumlah tinggi pada feses manusia, hewan, limbah cair, dan air rentan terhadap pencemaran feses. Keberadaan E.coli memberikan bukti adanya kontaminasi feses (Anonim, 2011). Namun, ditemukannya E.coli tidak berarti adanya patogen di dalam air, tetapi hanya kemungkinan ada organisme patogen di dalam air. Ada beberapa cara menentukan E.coli antara lain menggunakan Membrane Filter Technique, Multiple Tube Fermentation (MPN), dan Prosedur Presend-Absent (Sutrisno T, dkk, 2006). D. Tinjauan Umum Metode Most Probable Numbers (MPN) Metode Most Probable Numbers (MPN) adalah metode untuk menghitung jumlah mikroba dengan menggunakan medium cair dalam tabung reaksi yang

10

pada umumnya setiap pengenceran menggunakan 3 atau 5 tabung dan perhitungan yang dilakukan merupakan tahap pendekatan secara statistik. Metode MPN menggunakan larutan laktose dimana E.coli membentuk gas dan larutan keruh. Produksi gas ditentukan dengan menempatkan tabung durham terbalik kedalam tabung reaksi sehingga timbul gelembung udara. Setelah inkubasi, apabila menghasilkan gas yang ditangkap oleh tabung durham, dan terjadi kekeruhan menunjukkan infeksi E.coli (Sutrisno, T, dkk, 2006). Prinsip utama metode ini adalah mengencerkan sampel sampai tingkat tertentu sehinggadidapatkan konsentrasi mikroorganisme yang pas/sesuai dan jika ditanam dalam tabung menghasilkaan frekensi pertumbuhan tabung positif kadang-kadang tetapi tidak selalu. Semakin besar jumlah sampel yang dimasukkan (semakin rendah pengenceran yang dilakukan) maka semakin sering tabung positif yang muncul. Semakin kecil jumlah sampel

yangdimasukkan (semakin tinggi pengenceran yang dilakukan) maka semakin jarang tabung positif yang muncul. Jumlah sampel/pengenceran yang baik adalah yang menghasilkan tabung positif kadang-kadang tetapi tidak selalu. Semua tabung positif yang dihasilkan sangat tergantung dengan probabilitas sel yang terambil oleh pipet saat memasukkannya ke dalam media. Oleh karena itu homogenisasi sangat mempengaruhi metode ini (Suriaman, 2008). Pengujian air untuk jumlah bakteri golongan coli dilakukan dalam beberapa tingkatan yaitu (Ane, dkk, 2013):

11

1. Pengujian Perkiraan Pengujian perkiraan merupakan uji pendahuluan untuk menduga apakah didalam air terdapat bakteri golongan coli. Pengujian perkiraan dinyatakan positif jika terbentuk gas/gelembung pada tabung peragian. Tetapi, hasil positif pada pengujian ini belum tentu dalam sampel air tersebut mengandung bakteri golongan coli, karena itu perlu uji lanjutan. 2. Pengujian Penegasan Pengujian penegasan dilakukan dengan cara meneruskan pengujian perkiraan yang positif kedalam media Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLB). Jika dalam medium cair ini terbentuk gas, berarti pengujian dinyatakan positif. 3. Pengujian Lengkap Pengujian lengkap bertujuan untuk meyakinkan pengujian penegasan. Untuk pengawasan kualitas air cukup dilakukan analisa pengujian penegasan, akan tetapi untuk studi khusus boleh dilanjutkan sampai uji lengkap.

12

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

A. Alat Dan Bahan 1. Alat a. Botol sampel b. Tabung media laktose c. Tabung durham d. Rak tabung reaksi e. Pembakar Bunsen f. Pipet ukur g. Bulp h. Ose/Wire Loop i. Autoklaf j. Inkubator 2. Bahan a. Sampel air Sungai Tallo di Desa Kera-Kera Makassar 100 ml b. Kaldu lactose pekat c. Kaldu lactose encer d. Cairan Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLB) e. Alcohol f. Tissue 6 ml 10 ml 6 ml Secukupnya Secukupnya 1 buah 9 buah 9 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah

13

g. Kapas B. Waktu Dan Tempat

Secukupnya

Percobaan ini dilakukan pada tanggal 6 Maret 2012, saat pengambilan sampel air dilaksanakan pada pukul 10.30 WITA di Sungai Tallo di Desa KeraKera Makassar, dan pemeriksaan bakteriologi air bertempat di Laboratorium Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin pada pukul 10.45 WITA. C. Prosedur Kerja 1. Pengambilan Sampel a. Tali pengikat dari kertas pelindung botol sampel steril dilepaskan. b. Botol sampel dicelupkan kedalam air sungai sedalam 20 cm berlawanan arus air dan dari tepi sejauh 3 meter. c. Botol sampel yang telah diisi air sampel kemudian ditutup kembali menggunakan terkontaminasi. 2. Uji Perkiraan (Presumptive Test) a. Tangan dan tempat kerja disterilkan dengan menggunakan alcohol. b. Disiapkan tabung media lactose sebanyak 9 buah, 3 tabung yang berisi lakotase pekat dan 6 buah tabung berisi lactose encer. Dengan perbandingan 3x10 ml (lactose pekat 6 ml), 3x1 ml (lactose encer 10 ml), dan 3x0,1 ml (lactose encer 10 ml) air sampel. tali pengikat dan kertas pelindung agar tidak

14

c. Pipet ukur dan mulut tabung media lactose di Plumbir setiap memindahkan sampel air. d. Dengan pipet steril, sampel dipindahkan ke dalam tabung media sesuai jumlah perbandingan dan tidak jauh dari pembakar Bunsen yang menyala. e. Tabung media lactose dihomogenkan secara manual agar tercampur rata kemudian beri label dan diletakkan pada rak tabung reaksi. f. Dimasukkan kedalam inkubator dengan suhu 35oC selama 2x24 jam. 3. Uji Penegasan

15

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

16

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan B. Saran

17

DAFTAR PUSTAKA

Ane, R, dkk. 2013. Penuntun Praktikum Kesehatan Lingkungan. Bagian Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Makassar. Anonim. 2011. Pedoman mutu air bersih Edisi 3. Jakarta: Penerbit EGC. Azwir. 2006. Analisa Pencemaran Air Sungai Tapung Kiri Oleh Limbah Industri Kelapa Sawit PT. Peputra Masterindo Di Kabupaten Kampar. Tesis. Program Magister Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana, Universitas Diponegoro Semarang. Baharuddin. 2002. Studi Tentang Kualitas Air Sungai Tangka Ditinjau Dari Parameter Zat Tersuspensi, Chemical Oxygen Demand (COD), pH, dan Suhu. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar. Chandra, B. 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Penerbit EGC. Desiandi, M, dkk. 2009. Pemeriksaan Kualitas Air Minum Pada Daerah Persiapan Zona Air Minum Prima (Zamp) PDAM Tirta Musi Palembang Tahun 2009. Merini. 2006. Studi Pencemaran Air Sumur Gali Ditinjau Dari Bakteriologis Dan Kejadian Diare Di Desa Sabiano Kecamatan Undulako Kabupaten Kolaka Tahun 2006. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar. PUSLITBANG. 2005. Modul Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat Bidang Pekerjaan Umum, Penyediaan Air Bersih. [diakses pada 6 Maret 2013]. http://sosekling.pu.go.id/attachments/article/294/PENYEDIAAN%20AIR%20BERSI H.pdf. Radji, M, dkk. 2008. Pemeriksaan bakteriologis air minum isi ulang di beberapa depo air minum isi ulang di daerah Lenteng Agung dan Srengseng Sawah Jakarta Selatan. Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. V, No. 2, Agustus 2008, 101-109, ISSN 1693-9883, Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Departemen Farmasi FMIPA UI, Depok. Subekti, R, dkk. 2011. Penerapan Estimasi Kalman Filter Untuk Mengetahui Pencemaran Air Sungai Di DIY. Laporan Penelitian Bidang Studi/Ilmu/Keahlian, Universitas Negeri Yogyakarta. Suriaman, E, dkk. 2008. Penelitian Tugas Akhir Mikrobiologi Pangan Uji Kualitas Air. Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Malang. Sutrisno, T, dkk. 2006. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Jakarta: PT Rineka Cipta.

18

UNICEF Indonesia. 2012. Air Bersih, Sanitasi Dan Kebersihan. [diakses pada 6 Maret 2013] http://www.unicef.org/indonesia/id/A8__B_Ringkasan_Kajian_Air_Bersih.pdf. Wuryastuti, H. 2010. Analisis Bakteri Coliform Dalam Air Sumur Dan Kemungkinan Efek Biopatologik. [diakses pada 6 Maret 2013]. http://id.scribd.com/doc/110585979/Analisis-Bakteri-Coliform-Dalam-Air-SumurDan-Kemungkinan-Efek-Biopatologik.