Anda di halaman 1dari 18

I.

IDENTITAS PASIEN Nama Usia Jenis Kelamin Agama Pendidikan Status Pekerjaan Alamat : Tn. D : 39 tahun : Laki-laki : Islam : STM : Menikah : Teknisi : Jauhar

II.

RIWAYAT PSIKIATRI Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 1 Aril 2013, pukul 10.45 WIB di Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan. A. Keluhan Utama Pasien datang ke Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan karena pasien merasa cemas dan panik ketika pergi meninggalkan rumah. B. Riwayat Gangguan Sekarang Pasien datang ke Poliklinik Psikiatri Persahabatan karena pasien merasa cemas dan panik ketika pasien pergi meninggalkan rumah. Pasien mengatakan hal tersebut terjadi baik pasien berperpergia kemana saja sperti pasien pergi ke kantor, ataupun pergi ke pasar hanya untuk membeli barang. Menurut pasien saat cemas dan panic itu muncul pasien merasa seperti orang yang sedang syok, seluruh badan terasa dingin, berdebar-debar, berkeringat, semua otot kaku-kaku, pasien merasa grogi, sehingga pasien tidak pernah berpergian yang jauh sekali dari rumah. Pasien mengatakan juga jika hal tersebut sedang terjadi, pasien berjalan menjadi sempoyongan dan dapat menabrak mobil-mobil yang sedang parkir. Keluhan ini dapat muncul dari awal pasien keluar rumah sampai pasien kembali kerumah dan berkisar sekitar 30 menit. Pasien mengatakan bahkan ketika pasien hanya ingin pergi ke pasar untuk membeli barang pasien takut sekali jika menaiki kendaraan angkot, pasien akan duduk terpojok diangkot, berdebar-debar, seluruh tubuh kaku dan jalan menjadi sempoyongan. Hal ini terjadi tidak hanya ketika psien menaiki kendaraan umum saja, hal ini dapat terjadi ketika pasien naik motor, naik mobil pribadi pun pasien merasakan keadaan panic dan 1

cemas. Pasien merasa jika psien keluar rumah pasien takut terjadi apa-apa dengan dirinya, pasien mengtakan jika terjadi keadaan syok tersebut seperti melihat orang yang disembelih didepan mata pasien, seperti nyawa pasien hilang dan lenyap begitu saja. Saat ini jika pasien ingin berpergian kemana saja pasien merasa harus ditemani dengan orang disebelahnya, biasanya istri pasien, pasien juga tidak bias ditemani oleh orang yang belum pasien kenal dekat. jika pasien ditemani dengan orang yang belum pasien kenal dekat, hal yang sama akan terjadi. Keluhan pasien dirasakan awalnya sejak tahun 2006, saat itu pasien pernah pergi kesuatu tempat bersama dengan anak pasien. Saat itu pasien sedang duduk menunggu di ruang tunggu bersama-sama dengan orang lain seperti hal biasanya. Pasien awalnya duduk dengan tenang bersama anaknya, kemudian didepan pasien terdapat orang yang sedang membaca koran berita utama di halaman depan koran tersebut adalah Benazir Bhutto yang Ditembak Mati, karena pasien sedang duduk didpena orang yang membaca koran tersebut dan pasien pun ikut membaca halaman depan koran tersebut dari hal itu pasien langsung merasakan seperti tubuh pasien yang merasa ditembak, sekujur tubuh pasien kaku, seperti nyawa yang sedang diambil, berdebar-debar, berkeringat dingin, sesak seperti tercekik, dan kesemutan. Kemudian pasien langsung pulang dengan jalan sempoyongan dan menggunakan ojek,pasien menggunakan ojek karena pasien merasa aman duduk dibelakang supir ojek. Sejak saat itu pasien tidak berani untuk berpergian sendiri kemana-mana apalagi berpergian jauh. Keluhan tersebut pun akan muncul tidak hanya ketika pasien berpergian saja, hal itu dapat terjadi ketika pasien melihat atau mendengar suatu keadaan menakutkan yang ekstrim, seperti melihat perkelahian atau tawuran, mendengarkan cerita-cerita menakutkan, berdiri atau berbicara didepan orang banyak. Pada tahun 2007-2009 pasien memiliki riwayat vakum dari pekerjaan psien akibat keluhan yang dirasakan pasien tersebut. Karena ketika psien mengetahui terdapat keluhan tersebut pasien berobat ke banyak dokter ( dokter umum, jantung dan lain-lain) sampai pasien pun diperikasakan general check up (endoskopi, ekg) semua hasilnya dalam batas normal tidak ada kelainan. Sehingga psein kembali ketempat tinggal asalnya di Tasikmalaya dan berobat ke paranormal, karena menurut pasien saat itu penyakitnya tidak dapat di deteksi penyebabnya dan ditemukan oleh dokter. Namun dari hasil pengobatannya pun tidak ada perkembangan yang 2

bermakna. Tahun 2008 psien pernah berobat ke poliklinik pskiatri RS Persahabatan dan mendapatkan obat selama 10 hari, pasien merasa seteelah mengkonsumsi obat tersebut pasien merasa lebih enak dan terdapat perkembangan pasien dapat lumayan berpergian jauh. Namun pasien tidak kontrol kembali dikarenakan pada saat pasien datang ke rumah sakit keadaan rumah sakit di pendaftaran penuh sehingga dapat membuat pasien uring-uringan, sehingga tahun 2009 keluahn itu kambuh dengan gejala yang lebih berat. Selama pasien mengalami keluhan mendengar suara atau bisikkan tersebut pasien menyangkal melihat adanya bayangan atau penampakan yang hanya dilihat oleh pasien. Pasien juga menyangkal orang lain seperti tetangga atau teman-teman pasien seperti membicarakan hal buruk tentang pasien . Pasien juga mengaku tidak pernah merasakan halusinasi pada indera pengecapannya. Pasien mengatakan tidak pernah merasakan menghidu bau-bauan yang hanya dihidu oleh dirinya sendiri sedangkan lingkungan sekitarnya tidak menghidu bau yang dikeluhkan pasien. Selain itu pasien juga mengungkapkan bahwa tidak pernah merasakan di sekujur tubuhnya seperti ada yang meraba atau merayapi. Pasien juga menyangkal saat menonton televisi pembawa acara mengejek atau menertawakan pasien. Pasien tidak pernah merasa seolah-olah rumah pasien menjadi lebih besar atau lebih kecil daripada biasanya. Pasien juga menyangkal adanya keluhan sulit tidur, tidur tidak tenang atau tidur yang sering terbangun pada malam hari akibat cemas atau mengkhawatirkan sesuatu. Selain itu, pasien tidak pernah merasa diri pasien adalah bukanlah seperti dirinya, dan pasien menyangkal bahwa lingkunagn tempat tinggalnya bukanlah lingkungan sperti biasanya. Saat ini pasien tidak merasakan adanya penurunan mood, kehilangan energy dan afek depresi sedih serta pasien juga tidak merasakan adanya gejala perasaan yang berlebihan, aktivitas fisik mental yang meningkat. . Menurut pengakuan pasien, di keluarga pasien ada yang mengalami keluhan serupa dengan pasien, yaitu 2 orang sepupu laki-laki pasien. Pasien juga tidak pernah mengkonsumsi atau memiliki riwayat menggunakan obat-obat terlarang atau zat psikotropik (NAPZA), minuman beralkohol dan pasien juga tidak pernah merokok hingga saat ini.

Pasien dilahirkan normal tanpa cacat bawaan dan diasuh serta dibesarkan oleh orang tuanya sendiri. Pasien juga tidak mempunyai riwayat trauma kepala seperti gegar otak ataupun memar otak sehingga kemungkinan besar tidak adanya gangguan mental organik. Masa kanak-kanak hingga remaja muda pasien memiliki kemampuan yang cukup baik untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Namun menurut penuturan pasien saat kecil pasien memang sudah memiliki sifat yang pemalu ketika bertemu orang banyak, apalagi ketika bertemu orang tua yang sedang bertamu kerumahnya. Pasien lebih memilih untuk tidak bertemu dan berhadapan dengan orang tua-orang tua tersebut, jika hal itu terjadi saat itu yang dilakukan pasien adalah langsung terdiam, tidak berani berbicara seakan-akan seluruh tubuh psien kaku. Namun walauapun begitu pasien banyak memiliki teman yang bermain dengan pasien. Riwayat pendidikan pasien sampai dengan STM setara SMA, saat itu pasien ingin melanjutkan kuliah di perguruan IKIP namun saat itu pasien ingin segera menikah sehingga pasien tidak jadi untuk mengambil keputusan untuk melanjutkan kuliah. Saat ini suasana perasaan hati pasien yaitu pasien merasa gelisah ketika memikirkan keluhan tentang penyakit pasien, pasein merasa pasien segera ingin sembuh dan dapat berpergian jauh kembali. Pasien masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari untuk menjaga higienitas dirinya sendiri seperti mandi dan makan sendiri. Aktivitas yang dilakukan pasien saat ini adalah bekerja sebagai teknisi di suatu perusahaan, menafkahi keluarga dan bermain dengan anak-anak pasien. Pekerjeaan pasien sebagai teknisi dipilih pasien agar pasien tidak perlu bertemu orang-orang banyak seperti yang dilakukan pekerjaan lainnya pasien hanya harus bekerja sendiri dengan mesin-mesin. Pasien menikah pada tahun 1995, saat usia pasien 21 tahun. Pasien merupakan anak pertama dari 5 bersaudara. Seluruh kadik-adik pasien sudah tinggal bebeda ruamh karena sudah berkeluarga seluruhnya. Riwayat pernikahan pasien denagn istri psein adalah pasein tidak pernah berpacaran sebelumnya mengingat sifat pasien yang malu, takut, dan minder ketika bertemu orang sehingga membuat pasien ketika ingin melamar istri pasien langsung saja tanpa harus berpacaran. Dari pernikahannya pasien dikaruniai 3 orang anak. Anak pertama, laki-laki yang saat ini hamper memiliki sifat yang sama dengan pasien yaitu pemalu dan minder, anak kedua perempuan dan anak 4

ketiga laki-laki. Saat ini pasien tinggal di konttrakan di daerah percetakan negara dekat tempat kerja pasien. Awlanya pasien memiliki rumah pribadi di bekasi, namun karena jauh dan mengingat keluhan pasien yang tidak dapat berpergian jauh sehingga pasien memutuskan untuk pindah rumah yang dekat dnegan tempat kerja pasien. Hubungan pasien dengan anggota keluarga dirumah terjalin dengan baik, pasien merasa senang dan bahagia ketika tinggal di rumah bersama anak- anak dan istri pasien. Pasien merupakan anak ke pertama dari lima bersaudara, dan hubungan pasien dengan saudara-saudara kandungnya cukup baik. Namun jika terdapat acara keluarga atau kumpul keluarga seperti lebaran pasien lebih memilih utuk datang sebentar, lalu pulang karena paseien tidak suka keramaian, tidak menyukai hal yang bersiafat banyak orang., kecuali dengan orang-orang yang menurut pasien sudah cukup dekat dan kenal dengan pasien Pasien merasa takut untuk berinteraksi dengan orang lain dan kurang dapat bersosialisasi dengan baik. Hubungan pasein dengan tetangga-tetangga lingkungan pun pasien jarang mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan bersama, psien lebih senang untuk menyendiri kecuali dengan orang-orang yang pasien yakin pasien akan disukai. Walaupun begitu, ditempat kerjanya pasien sempat mendapat penghargaan sebagai karyawan terbaik. Biaya untuk kesehatan dan pengobatan pasien merupakan pasien asuransi BUMN. Biaya untuk kehidupan sehari-hari pasien dari pengahsilan kerja pasien sebagi teknisi. Saat ditanyakan harapan / keinginan yang ingin dicapai pasien hanya menjawab, pasien ingin sembuh dari keluhan-keluhannya tersebut, pasien ingin dapat berpergian ajuh kembali tanpa harus merasa takut dan cemas serta pasien merasa penghasilan yang sekarang kurang mencukupi kebutuhan sehari-hari pasien sehingga pasien ingin penghasilannya jauh lebih baik dari yang sekarang. C. Riwayat Gangguan Sebelumnya 1. Riwayat Gangguan Psikiatri Tidak ada riwayat gangguan psikiatri sebelumnya. 2. Riwayat Gangguan Medik Pasien mempunayi riwayat asma sejak tahun 2006. 3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif / Alkohol /Merokok Tidak ada riwayat penggunaan zat psikoaktif, alkohol maupun merokok. 5

D. Riwayat Kehidupan Pribadi 1. Riwayat Pranatal Pasien lahir secara normal dan tidak terdapat adanya cacat atau kelainan bawaan. 2. Riwayat Masa Kanak-Kanak dan Remaja Pasien tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya dan mampu bersosialisasi. Tidak ada gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan. 3. Riwayat Pendidikan Pasien sekolah sampai tamat STM 4. Riwayat pekerjaan Pasien saat ini seorang karyawan teknisi di suatu perusahaan dia daerah percetakan negara 5. Riwayat agama Pasien merupakan seorang pemeluk agama Islam. 6. Aktivitas sosial Aktivitas sosial yang saat ini pada pasien yaitu pasien kurang dapat melakukan interaksi dan komunikasi dengan orang lain, terlebih lagi dengan orang yang belum dikenal oleh pasien. Hal ini terjadi karena pasien mempunyai sifat yang cenderung pemalu, minder dan sulit komunikasi bila dihadapan orang banyak. 7. Riwayat pernikahan Pasien menikah pada tahun 1995, saat usia pasien 21 tahun. Dari pernikahannya pasien dikaruniai 3 orang anak. Anak pertama, laki-laki yang saat ini hamper memiliki sifat yang sama dengan pasien yaitu pemalu dan minder, anak kedua perempuan dan anak ketiga laki-laki. E. Hubungan dengan keluarga Hubungan pasien dengan anggota keluarga dirumah terjalin dengan baik, pasien merasa senang dan bahagia ketika tinggal di rumah bersama anak- anak dan istri pasien. Pasien merupakan anak ke pertama dari lima bersaudara, dan hubungan pasien dengan saudara-saudara kandungnya cukup baik. Namun jika terdapat acara keluarga atau kumpul keluarga seperti lebaran pasien lebih memilih utuk datang sebentar, lalu pulang karena paseien tidak suka keramaian, tidak menyukai hal yang 6

bersiafat banyak orang., kecuali dengan orang-orang yang menurut pasien sudah cukup dekat dan kenal dengan pasien F. Riwayat Keluarga Terdapat anggota keluarga yang mempunyai keluhan yang sama dengan pasien yaitu 2 orang saudara sepupu pasien. G. Riwayat Situasi Sosial Sekarang Pasien seorang laki-laki berusia 39 tahun, berstatus menikah, Pasien dikaruniai 3 orang anak. Anak pertama, laki-laki yang saat ini hamper memiliki sifat yang sama dengan pasien yaitu pemalu dan minder, anak kedua perempuan dan anak ketiga laki-laki. Aktivitas keseharian pasien, pasien bekerja sebagai seorang teknisi di suatu perusahaan. Sosialisasi pasien dengan orang lain kurang cukup baik, pasien mengatakan pasien lebih suka tidak harus berhubungan dengan orang banyak, lebih suka sendiri, mengingat sifat pasien yang pemalu dan minder serta tidak berani untuk berhadapan dengan orang banyak. Sumber pendapatan pasien dari hasil pekerjaan pasien sebagai karyawan. H. Persepsi Pasien Terhadap Dirinya Pasien ingin sembuh dari keluhan-keluhannya tersebut, pasien ingin dapat berpergian ajuh kembali tanpa harus merasa takut dan cemas serta pasien merasa penghasilan yang sekarang kurang mencukupi kebutuhan sehari-hari pasien sehingga pasien ingin penghasilannya jauh lebih baik dari yang sekarang. STATUS MENTAL A. DESKRIPSI UMUM 1. Penampilan Pasien laki-laki,berusia 39 tahun, penampilan tampak sesuai dengan usianya, berpakaian rapi, mengenakan baju kantor berwarna putih dan celana panjang, warna kulit hitam. Kesadaran Kesadaran umum Kontak psikis : Compos Mentis. : Dapat dilakukan pasien, pasien dapat berkomunikasi dengan baik dengan pemeriksa. 7

III.

2. Perilaku dan aktivitas psikomotor Cara berjalan : Baik. Aktifitas psikomotor : Pasien kooperatif, kontak mata baik, tidak terdapat gerakan involunter, dan pasien masih dapat fokus serta menjawab pertanyaan dengan baik. 3. Pembicaraan Kuantitas : Baik, pasien dapat menjawab pertanyaan dokter dengan Kualitas baik namun pasien kurang mampu mengungkapkan isi hatinya dengan cukup jelas. : Bicara spontan, volume bicara cukup, artikulasi jelas, pembicaraan terarah dan dapat dimengerti. 4. Sikap Terhadap Pemeriksa Pasien kooperatif.

B. KEADAAN AFEKTIF 1. Mood 2. ekspresi 3. Keserasian 4. Empati : luas. : Mood dan afek serasi. : Pemeriksa dapat meraba rasakan perasaan pasien saat ini. C. FUNGSI INTELEKTUAL/KOGNITIF 1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum, dan kecerdasan Taraf pendidikan Baik, pasien bersekolah sampai dengan tamat STM Pengetahuan umum Kurang, karena pasien dapat menjawab dengan tepat ketika ditanya tentang siapa presiden RI. : pasien merasa cemas

2. Daya konsentrasi Baik, karena pasien dapat mengikuti wawancara dengan baik dari awal sampai dengan selesai. Ketika di tanya 100-7 pasien tidak dapat menjawab dengan benar, sampai pengurangan 7 sebanyak 3x 3. Orientasi Waktu Tempat Orang Situasi : Baik, pasien mengetahui tanggal, bukan dan tahun saat berobat yaitu 1 April 2013 : Baik, pasien mengetahui bahwa dia sedang berada di poliklinik psikiatri RS. Persahabatan. : Baik, pasien mengetahui bahwa pemeriksa adalah dokter. : Baik, pasien mengetahui bahwa dia sedang berobat dan berkomunikasi dan berkonsultasi dengan dokter. 4. Daya ingat Daya ingat jangka panjang Baik, pasien masih dapat mengingat riwayat pendidikannya yaitu SD di Tasikmalaya Daya ingat jangka pendek Baik, pasien datang ke RS. Persahabatan datang dengan diantar seorang istri Daya ingat segera Baik, pasien dapat mengulang kembali dengan sempurna tiga nama benda yang diberikan oleh pemeriksa secara berurutan. Akibat hendaya daya ingat pasien Tidak terdapat hendaya daya ingat pada pasien ini. 5. Pikiran abstrak Baik, pasien dapat mengerti makna dari pribahasa air susu dibalas air tuba. 6. Bakat kreatif Tidak ditemukan

7. Kemampuan menolong diri sendiri Baik, pasien dapat mengerjakan segala sesuatunya sendiri dan mampu mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. D. GANGGUAN PERSEPSI 1. Halusinasi dan ilusi Halusinasi : tidak terdapat halusinasi visual, olfaktorik, gustatorik, dan taktil. Ilusi : tidak terdapat ilusi pada pasien.

2. Depersonalisasi dan derealisasi Depersonalisasi Derealisasi E. PROSES PIKIR 1. Arus Pikir Produktivitas Kontinuitas Hendaya Preokupasi Gangguan pikiran : Baik, pasien dapat menjawab spontan bila diajukan pertanyaan. : Baik, koheren. : Tidak terdapat hendaya berbahasa pada pasien ini. : Tidak ada preokupasi. : Tidak terdapat waham pada pasien. : Tidak terdapat depersonalisasi pada pasien. : Tidak terdapat derealisasi pada pasien.

2. Isi Pikiran

F. PENGENDALIAN IMPULS Baik, pasien dapat mengendalikan dirinya sendiri serta melakukan wawancara dengan baik dan tidak terdapat gerakan involunter G. DAYA NILAI 1. Norma Sosial Kurang, pasien dapat besosialisasi dengan baik terhadap lingkungan sekitarnya.

10

2. Uji Daya Nilai Baik, karena ketika diberikan suatu permasalahan apabila pasien menemukan dompet dengan identitas lengkap dan alamat lebkap yang dilakukan adalah memberikannya kepada kantor pos. 3. Penilaian realitas Baik, tidak terdapat gangguan dalam menilai realita pada pasien ini karena tidak ditemukan adanya halusinasi atau waham. H. PERSEPSI PASIEN TERHADAP DIRI DAN KEHIDUPANNYA Berdasarkan penilaian pemeriksa terhadap pasien yaitu saat ini pasien mengetahui pasien merasa sakit dan tahu penyebabnya adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakitnya namun tidak menerapkan dalam perlaku praktisnya. Pasien ingin sembuh dari keluhan-keluhannya tersebut, pasien ingin dapat berpergian ajuh kembali tanpa harus merasa takut dan cemas serta pasien merasa penghasilan yang sekarang kurang mencukupi kebutuhan sehari-hari pasien sehingga pasien ingin penghasilannya jauh lebih baik dari yang sekarang. TILIKAN / INSIGHT Tilikan derajat 5, dimana pasien mengetahui pasien merasa sakit dan tahu penyebabnya adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakitnya namun tidak menerapkan dalam perlaku praktisnya. J. TARAF DAPAT DIPERCAYA Pemeriksa memperoleh kesan secara menyeluruh bahwa jawaban pasien kurang dapat dipercaya, karena pasien kurang dapat menilai realita dan konsisten terhadap setiap pertanyaan yang diberikan.

I.

IV.

PEMERIKSAAN FISIK A. Status Generalis 1. Keadaan umum : Baik, Compos Mentis 11

2. Tanda vital - Tekanan - Frekuensi nadi - Frekuensi napas - Suhu 3. Bentuk badan 4. Sistem kardiovaskular 5. Sistem muskuloskeletal 6. Sistem gastrointestinal 7. Sistem urogenital 8. Gangguan khusus : 130/90 mmHg : 82x/menit : 18x/menit : 36,3 : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal

B. Status Neurologis 1. Saraf Kranial 2. Saraf motorik 3. Sensibilitas 4. Susunan saraf vegetatif 5. Fungsi luhur 6. Gangguan khusus : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal

V.

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA Pasien laki-laki, berusia 39 tahun, pasien datang ke Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan karena pasien merasa cemas dan panik ketika pergi meninggalkan rumah. Pasien mengatakan hal tersebut terjadi baik pasien berperpergia kemana saja sperti pasien pergi ke kantor, ataupun pergi ke pasar hanya untuk membeli barang. Menurut pasien saat cemas dan panic itu muncul pasien merasa seperti orang yang sedang syok, seluruh badan terasa dingin, berdebar-debar, berkeringat, semua otot kaku-kaku, pasien merasa grogi, sehingga pasien tidak pernah berpergian yang jauh sekali dari rumah. Fungsi kognitif pada pasien masih cukup baik, begitu pula dengan pengendalian impuls masih baik. Orientasi waktu, tempat, orang, dan situasional masih baik. Daya ingat jangka pendek, segera, dan panjang masih baik. 12

Pasien tidak memiliki riwayat trauma kepala seperti gegar otak. Pasien tidak mengkonsumsi zat psikotropika (NAPZA) dan minuman alkohol. Tidak terdapat adanya waham atau halusinansi pada pasien ini. Pasien menyangkal adanya kehilangan mood, kehilangan energi, berlebihan dan aktivitas mental berlebihan.

dan tidak

terdapat afek depresi. Pasien menyangkal adanya gejala perasaan gembira yang Keluhan pasien dirasakan awalnya sejak tahun 2006, saat itu pasien pernah pergi kesuatu tempat bersama dengan anak pasien. Kemudian didepan pasien terdapat orang yang sedang membaca koran berita utama di halaman depan koran tersebut adalah Benazir Bhutto yang Ditembak Mati, karena pasien sedang duduk didpena orang yang membaca koran tersebut dan pasien pun ikut membaca halaman depan koran tersebut dari hal itu pasien langsung merasakan seperti tubuh pasien yang merasa ditembak, sekujur tubuh pasien kaku, seperti nyawa yang sedang diambil, berdebar-debar, berkeringat dingin, sesak seperti tercekik, dan kesemutan. Terdapat riwayat keluarga yang menderita keluhan yang sama dengan pasien yaitu 2 saudara sepupu pasien. Pasien lahir normal tanpa cacat bawaan Riwayat pendidikan pasien sampai dengan tamat STM, dan tidak melanjutkan kuliah dikarenakan pada saat itu ingin menikah. Masa kanak- kanak dan remaja hingga pasien dewasa memiliki kemampuan yang kurang cukup baik untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Pasien cenderung bersifat pemalu, minder dan enggan untuk bertemu orang banyak disekitarnya yang tidak ia kenal. Saat ini pasien biaya kehidupan sehari-hari pasien didapatkan dari hasil kerja pasien sebagai seorang teknisi di suatu perusahaan. Pada pemeriksaan status internus dan neurologis tidak didapatkan adanya kelainan, pasien memiliki riwayat asma sejak tahun 2006 Saat ini pasien tinggal di rumah kontrakan di daerah jauhar yang dekat dengan tempat kerjanya, mengingat pasien tidak bisa berpergian jauh Biaya untuk kesehatan dan pengobatan pasien merupakan pasien umum dan meng gunakan asuransi BUMN. Pasien seorang pemeluk agama islam yang taat beribadah, namun tidak sering 13

mengikuti kegiatan disekitar rumah pasien. didapatkan gejala ringan dan menetap, disabilitas dalam fungsi , secara umum masih baik. FORMULASI DIAGNOSIS Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan yang telah dilakukan pada pasien terdapat kelainan pola perilaku dan psikologis yang secara klinis bermakna sehingga dapat menyebabkan timbulnya distress dan disabilitas dalam fungsi seharihari maka pasien dikatakan menderita gangguan jiwa.

VI.

Diagnosis Aksis I Dari autoanamnesa, pemeriksaan fisik dalam batas normal, tifak ada kelainan fisik dan tidak memiliki riwayat trauma kepala ataupun penyakit yang dapat mengakibatkan disfungsi otak. Hal ini dapat dinilai dari tingkat kesadaran, daya konsentrasi, orientasi, serta fungsi kognitif pasien yang masih baik sehingga pasien ini bukan penderita gangguan mental organik (F.0). Berdasarkan anamnesis tidak didapatkan riwayat konsumsi obat psikoaktif (NAPZA) serta tidak ditemukan riwayat mengkonsumsi alkohol dan merokok sehingga pasien ini bukan menderita gangguan mental dan perilaku akibat zat psikoaktif atau alkohol (F.1). Berdasarkan autoanamnesis pada pasien ini tidak ditemukan adanya gangguan dalam menilai realita yang ditandai dengan adanya halusinasi atau waham sehingga pasien ini dapat dikatakan bukan menderita gangguan psikotik (F.2). Pasien ini tidak ditemukan mood yang meningkat, aktivitas fisik dan pembicaraan meningkat, maka pasien ini bukan pasien mania. Pasien juga tidak mengalami mood yang menurun, kehilangan minat dan kegembiraan, penurunan aktivitas fisik, maka pasien ini bukan menderita gangguan depresi. Karena pasien ini bukan menderita mania dan depresi, maka pada pasien ini bukan menderita gangguan perasaan (F.3). Dari autoanamnesis pasien memiliki kecemasan serta kegelisahan yang cukup mengganggu dalam kehidupannya sehari-hari, maka pada pasien ini terdapat gangguan neurotik, gangguan somatoform dan gangguan yang berkaitan dengan stress (F.4). 14

Pada pasien ini terdapat keluhan cemas dan panic, pasien merasa sekujur tubuhnya dingin, kaku, kesemutan dan sesak seperti tercekik jika pasien berpergian jauh dari rumah dan berhadapan dengan orang banyak didepan umum Oleh karena pasien memiliki keluhan tersebut itu pasien ini diagnosis aksis I Gangguan Panik (Anxietas Paroksismal Episodik) (F41.0) .

Diagnosis Aksis II Tumbuh kembang pasien normal. Sejak masa kanak-kanak hingga dewasa pasien tumbuh dan berkembang dengan normal sesuai usia. Namun pasien kurang mampu bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain sebagaimana orang normal lainnya. Pasien merasa takut untuk berhadapan dengan orang banyak kecuali dengan orang yang pasien sudah kenal sebelumnya. Pasien juga menhindari kegiatan aktivitas sosial atau pekerjaan yang banyak melibatkan kontak interpersonal. Maka pada pasien ini didapatkan gangguan kepribadian . .Fungsi kognitif baik maka pada pasien ini tidak ada gangguan retardasi mental. maka pada pasien ini diagnosis aksis II didapatkan Gangguan Kepribadian Cemas (Menghindar) (F60.6)

Diagnosis Aksis III Berdasarkan anamnesis didapatkan adanya asma sejak tahun 2006 Maka pada aksis III didapatkan riwayat asma tahun 2006

Diagnosis Aksis IV Pasien seorang laki-laki berusia 39 tahun, berstatus menikah, Pasien dikaruniai 3 orang anak. Anak pertama, laki-laki yang saat ini hamper memiliki sifat yang sama dengan pasien yaitu pemalu dan minder, anak kedua perempuan dan anak ketiga laki laki. Aktivitas keseharian pasien, pasien bekerja sebagai seorang teknisi di suatu perusahaan. Sosialisasi pasien dengan orang lain kurang cukup baik, pasien mengatakan pasien lebih suka tidak harus berhubungan dengan orang banyak, lebih suka sendiri, mengingat sifat pasien yang pemalu dan minder serta tidak berani untuk berhadapan dengan orang banyak. Sumber pendapatan pasien dari hasil pekerjaan pasien sebagai karyawan. Hubungan pasien dengan adik-adik pasien terjalin cukup baik, namun jika terdapat adanya perkumpulan keluarga pasien cenderung hanya akan 15

datang sebentar lalu pulang karena pasien merasa kurang nyaman dengan situasi ramai. Maka pada aksis IV terdapat masalah interaksi dengan sosial.

Diagnosis Aksis V Pada pasien pasien ini didapatkan gejala ringan dan menetap, disabilitas dalam fungsi secara umum masih baik Maka pada aksis V didapatkan GAF Scale 7061. EVALUASI MULTIAKSIAL Aksis I Aksis II Aksis III Aksis IV Aksis V : Gangguan Panik (Anxietas Paroksismal Episodik) (F41.0) : Gangguan Kepribadian Cemas (Menghindar) (F60.6) : Riwayat asma sejak tahun 2006 : masalah interaksi dengan sosial : GAF Scale 70-61

VII.

VIII. DAFTAR PROBLEM Organobiologik : Terdapat masalah organobiologik yaitu Riwayat asma sejak tahun2006 Psikologis : Terdapat masalah psikologis yaitu masalah interaksi dan komunikasi pasien dengan orang banyak Sosioekonomi : Terdapat masalah sosial dan masalah ekonomi namun tidak terdapat masalah keluarga.

IX.

PROGNOSiS Prognosis ke arah baik Pasien mempunyai keinginan yang besar untuk tetap terus sehat. Pasien mendapat support penuh dari keluarga pasien Paien rutin control dan minum obat Respon terhadap pengobatan baik.

16

Prognosis ke arah buruk Kemungkinan pasien masih terdapat adanya cemas dan panic saat harus berpergian dan berhadapan dengan orang banyak. Terdapat riwayat keluarga yang mempunyai keluhan yang sama dengan pasien yaitu 2 orang saudara sepupu pasien.

Kesimpulan Berdasarkan data-data diatas, dapat disimpulkan prognosis pasien adalah : Ad vitam Ad functionam Ad sanationam TERAPI Psikofarmaka : Alprazolam Fluoxetine 3 x mg 1 x 20 mg (pagi) : bonam : bonam : dubia

X.

Psikoterapi : Pada pasien Menyarankan pasien untuk mulai membiasakan diri sedikit demi sedikit untuk dapat berpergian sedikit lebih jauh dari rumah dengan melawan rasa takut yang dimiliki. Menyarankan agar pasien lebih aktif dalam kegiatan sosial di rumah dengan tetangga-tetangga sekitar agar dapat memulai suasana baru dan mulai terbiasa dengan keadaan sosial. Edukasi pada pasien pentingnya untuk kontrol rutin setiap bulan dan minum obat secara teratur. Sharing kepada anggota keluarga lainnya agar mendapatkan solusi terbaik dari permasalahan mengenai menantunya tersebut. Menyarankan agar pasien lebih banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan YME agar dirinya diberi kesabaran dan ketenangan dalam menghadapi masalah yang ada. 17

DAFTAR PUSTAKA
1. Maslim, Rusdi. Dr. Sp.KJ. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Cetakan pertama. PT. Nuh Jaya. Jakarta. 2001. 2. Maslim, Rusdi. Dr. Sp.KJ. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga. PT. Nuh Jaya. Jakarta. 2007.

18