Anda di halaman 1dari 2

Kompas.

Com Page 1 of 2

Print Send Close

Dita, di Manakah Kau Berada?


Rabu, 1 April 2009 | 02:36 WIB
Mulyawan Karim

Selasa (31/3) siang di sebuah tempat pengungsian korban bencana Situ Gintung, Ny Farida Sulistianingsih (24) terkulai
di kasur tipis yang terhampar di lantai. Di sampingnya, di antara barang-barangnya yang masih tersisa, terdapat pigura
berisi foto Anindita Naswa Hapsari, bayi yang kini berusia 10 bulan. Anindita atau Dita adalah anak pertama Farida, hasil
perkawinannya dengan Fahruroji (25), laki-laki yang menikahinya hampir dua tahun lalu.

Cici, begitu Farida menyebut nama panggilannya, adalah salah seorang dari 50 lebih korban jebolnya tanggul Situ
Gintung yang terpaksa menjadikan bangsal di gedung Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) di
Ciputat itu sebagai tempat berteduh sementara. Rumahnya di Kampung Gintung, Kelurahan Cirendeu, Kecamatan
Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, sudah luluh lantak diterjang air bah Situ Gintung.

”Dita belum ditemukan,” kata Cici lirih sambil menggapai pigura foto di samping kasur, dekat bantalnya. ”Moga-moga saja
ia selamat dan bisa ditemukan dalam keadaan sehat,” lanjut ibu muda itu sambil memperlihatkan gambar anak semata
wayangnya.

Jumat malam itu, saat air bah menerjang rumah yang ditinggali pasangan muda Cici-Fahruroji, Dita terlepas dari pelukan
ayahnya. Fahruroji yang mencoba menyelamatkan bayinya hanyut terbawa arus deras air limpasan dari Situ Gintung.

Usaha pencarian korban yang hilang sudah memasuki hari kelima sejak tanggul Situ Gintung rontok, Jumat dini hari,
pekan lalu. Artinya, kemungkinan masih bisa ditemukannya korban hilang dalam keadaan hidup makin tipis. Namun, Cici
mengaku masih bisa berharap karena ia mendengar kabar ada bayi korban lain yang sudah ditemukan dalam keadaan
hidup.

”Kalaupun Dita sudah tidak ada, saya ingin sekali melihat jenazahnya,” kata Cici lagi terbata-bata. Matanya mulai
berkaca-kaca. Pigura foto ia dekap makin erat.

”Kejadiannya begitu cepat. Malam itu saya tidur di kamar bersama Dita dan ibu saya yang kebetulan datang menginap.
Suami saya tidur di ruang depan. Saya sempat mendengar suara bergemuruh. Dalam sekejap, bagian dalam rumah kami
sudah digenangi air warna coklat kehitaman,” Cici menceritakan pengalamannya malam itu.

Masih kata Cici, anak kesayangannya itu awalnya digendong ibunya, tetapi kemudian diserahkan kepada Fahruroji untuk
diselamatkan. Namun, mereka semua akhirnya tak sanggup bertahan dan hanyut.

Cici tak hanya kehilangan Dita, buah hatinya. Ibunya dan Fahruroji, yang juga sempat dinyatakan hilang, bahkan sudah
ditemukan tewas. ”Saya di sini untuk menunggu Dita. Hanya itu saja. Ibu dan suami saya, kan, sudah tidak ada.”

Lelah jadi tontonan

http://cetak.kompas.com/printnews/xml/2009/04/01/02365360/dita.di.manakah.kau.berada 4/2/2009
Kompas.Com Page 2 of 2

Iwan (30), korban lain tragedi Situ Gintung, juga mengatakan, salah satu alasan kenapa ia tetap bertahan di tempat
pengungsian karena adik perempuannya, Retno Wulandari (20), yang hanyut dan hilang sejak peristiwa Jumat dini hari
itu, belum juga ditemukan tim SAR.

”Ia mungkin sudah meninggal dunia. Akan tetapi, kami ingin melihat jasadnya,” kata Iwan yang tinggal di rumah
kontrakan di RT 04 RW 08 Kelurahan Cireudeu, sekitar 500 meter dari tanggul Situ Gintung. Bersama seorang kakaknya,
Iwan menghuni rumah sewaan bertetangga dengan Retno, yang tinggal bersama suaminya.

”Saya dekat dengan adik saya itu karena bekerja membantu suaminya, Sukamto, di sebuah perusahaan konstruksi
bangunan,” kata Iwan lagi. Sukamto sudah ditemukan tewas setelah hanyut di hari bencana.

Ditemui sedang melamun di emperan gedung Fakultas Kedokteran UMJ, Iwan sendiri belum sembuh dari luka-luka
setelah terseret air bah Situ Gintung. Beberapa bagian di lengan dan ibu jari salah satu kakinya tampak terbungkus
perban.

Sakit, letih, sedih, dan syok, trauma. Itulah kondisi umum para pengungsi korban jebolnya tanggul Situ Gintung.

”Bantuan memang melimpah. Kami tak pernah kekurangan makanan,” kata Ahmad Alifudin (23), korban lain yang juga
warga RT 04 RW 08 Kelurahan Gintung. Pemuda yang rumahnya hancur dan dua adik dan keponakannya tewas kini
mengungsi di rumah seorang kerabat di Kelurahan Poncol yang selamat dari bencana.

Akan tetapi, lanjut Alifudin, ia lelah dijadikan tontonan dan ditanya-tanya pejabat yang terus berdatangan. Ia sebal melihat
orang-orang yang datang hanya untuk menonton korban dan berfoto-foto di tanggul yang jebol. ”Kami masih syok dan
trauma. Kalau terus diganggu, kami jadi mudah emosional dan marah,” kata Alifudin lagi. Dengan kata lain, ia dan korban
lain memerlukan ketenangan.

Karena itu, mari akhiri memperlakukan Situ Gintung dan para korbannya sebagai obyek wisata. Juga, stop berbagai
kunjungan pejabat, politisi, dan selebritas yang tak diperlukan.

Biarkan para relawan melayani para korban dan tim SAR mencari dan menemukan para korban yang hilang tanpa
gangguan. Itulah satu-satunya hal yang paling diharapkan para korban selamat, yang sabar menunggu di tempat-tempat
pengungsian.

Dapatkan artikel ini di URL:


http://entertainment.kompas.com/read/xml/2009/04/01/02365360/dita.di.manakah.kau.berada

http://cetak.kompas.com/printnews/xml/2009/04/01/02365360/dita.di.manakah.kau.berada 4/2/2009