Anda di halaman 1dari 25

ABSTRAK

Infeksi pada daerah genital dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, infeksi virus, infeksi jamur dan infestasi parasit, dengan penyebab paling sering adalah infeksi bakteri. Kebanyakan dari penderita tidak memiliki gejala atau memiliki gejala yang tidak spesifik, sehingga berisiko mengalami komplikasi dan menjadi sumber penularan penyakit. Manifestasi klinis dari penyakit ini bervariasi, dapat berupa discharge, dispareunia, disuria, rasa gatal, pembesaran kelenjar getah bening serta gejala sistemik seperti demam, artralgia, mual dan nyeri kepala. Dapat juga ditemui lesi yang bervariasi yang dapat berupa eritema, papul, vesikel, dan ulkus. Pengobatan penyakit-penyakit ini disesuaikan dengan penyebab.

ABSTRACT
Genital infection is caused by bacterial infection, viral infection, fungal infection, and infestation by parasites. Most of the patient have unspesific symptoms or even asymptomatic and are at risk for complications and transmission of infection to others. The clinical manifestation of genital infection varies from discharge, dyspareunia, dysuria, itching, lymphadenopathy to systemic reactions such as fever, arthralgia, malaise and headache. There can be also lesion varies from erythema, papul, vesicles, and ulcer. Treatment for these diseases depend on the etiology.

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA INFEKSI PADA DAERAH GENITAL


Infeksi bakteri
Gonore Manifestasi klinis gonore dapat bervariasi dari asimtomatik, simtomatik ringan, sampai infeksi diseminata1. Masa tunas pada pria umumnya berlangsung singkat yaitu antara 2 sampai 5 hari, sedangkan pada wanita masa tunas sulit ditentukan karena umumnya asimtomatik. Manifestasi 1

klinis gonore tersering dari infeksi simtomatik pada pria adalah gejala uretritis. Gejala berupa disuria dan discharge. Gejala disuria biasanya diikuti terjadinya gejala discharge yang purulen setelah 24 jam. Penderita juga dapat mengeluhkan adanya rasa gatal, panas di sekitar orifisium uretra eksternum, nyeri saat ereksi, nyeri tenggorok, atau nyeri rektum2. Temuan klinis yang dapat ditemukan antara lain eritema dan edema pada orifisium uretra eksternum, discharge yang mukopurulen atau purulen (didapat dengan memeras uretra sepanjang penis), pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral atau bilateral, dan edema dan nyeri epididimis unilateral.
Gambar 1. Discharge uretra yang mukopurulen dan banyak, merupakan pertanda uretritis gonokok1

Sekitar 50% penderita wanita mengalami infeksi endoserviks yang asimtomatik1. Gejala yang mungkin ditimbulkan mencakup discharge vagina, disuria, bercak darah dari vagina, dispareunia, nyeri pada abdomen bawah, nyeri tenggorok, atau nyeri rektum2. Gejala tersebut tidak spesifik karena banyak ditemukan pada berbagai infeksi menular seksual lainnya.

Gambar 2. Infeksi kelenjar Bartholin akibat gonore pada wanita1

Gambar 3. Diplokokus Gram-negatif intraselular ditemukan di dalam sel polimorfonuklear dari pewarnaan Gram sampel uretra1.

Temuan klinis yang dapat ditemukan antara lain discharge yang mukopurulen atau purulen, serviks yang mudah berdarah, nyeri serviks pada pemeriksaan serviks bimanual, nyeri adneksa, atau eritema lokal dan pus pada sepertiga posterior labia mayor (duktus kelenjar Bartholin)2. Pemeriksaan laboratorium untuk membantu diagnosis gonore adalah pewarnaan gram, kultur dan pemeriksaan molekular. Tatalaksana
Tabel 1. Rekomendasi Pengobatan Gonore Menurut US and European STD Treatment Guiidelines Infeksi tanpa komplikasi (serviks, uretra, rektum) Seftriakson atau Sefpodoksim atau Siprofloksasin atau Sefiksim 125 mg IM dosis tunggal 400 mg PO dosis tunggal 500 mg PO dosis tunggal 400 mg PO dosis tunggal

*Pertimbangan khusus : dapat digunakan juga untuk faringitis gonokokal Wanita hamil Seftriakson 125 mg IM dosis tunggal

*Pertimbangan khusus : Gunakan spektinomisin untuk wanita hamil yang tidak dapat menerima seftriakson. Pemeriksaan ulang 7 hari setelah pengobatan.

Regimen alternatif Spektinomisin atau Kanamisin atau Gentamisin 2.0 g IM dosis tunggal 2.0 g IM dosis tunggal 240 mg IM dosis tunggal

*Pertimbangan khusus : dapat digunakan juga untuk faringitis gonokokal

Infeksi gonokokus diseminata Seftriakson 1 g IM atau IV setiap 24 jam selama 7 hari

Limfogranuloma venereum Masa inkubasi limfogranuloma venereum adalah 1-4 minggu. Manifestasi klinis biasanya merupakan infeksi yang invasif, namun dapat bervariasi di mana pasien tidak mengeluhkan limfadenopati yang signifikan atau dengan gejala ringan. Infeksi asimtomatik juga dapat terjadi3. Limfogranuloma venereum terjadi sebagai beberapa sindrom klinis, yang paling umum yang ditandai dengan papul atau ulkus dengan limfadenopati inguinal, diikuti dengan proktitis.
Sindrom karakteristik terkait limfogranuloma venereum 3
Sindrom limfadenopati Tahap primer Masa inkubasi 3 30 hari Papul yang tidak nyeri di genital, dengan atau tanpa uretritis atau servisitis, dapat menjadi ulkus. Biasanya tidak disadari oleh penderita dan reda tanpa pengobatan. Tahap sekunder Terjadi 2 6 minggu setelah Satu atau lebih kelenjar getah bening yang dapat tahap primer menjadi ulkus (bubo); kelenjar getah bening inguinal atau femoral dapat menyebabkan groove sign. Sepertiga bubo dapat mengalami ruptur. Ulkus genital dapat terjadi bersamaan dengan limfadenitis. Proktitis dan proktolitis *Faktor risiko mencakup hubungan seks anal. *Gejala discharge dari rektum, pendarahan, nyeri defekasi, kolitis. Dapat muncul demam, penurunan berat badan, atau malaise.

Gambar 4 dan 5. Tanda dini inguinal limfogranuloma venereum menunjukan erosi superfisial di prepusium, limfangitis di dorsum penis, dan bubo inguinal kanan (kiri). Groove sign berupa limfadenopati kelenjar getah bening femoral dan inguinal yang terpisahkan oleh ligamen Poupart (kanan)3.

Pemeriksaan laboratorium untuk membantu diagnosis adalah pemeriksaan darah lengkap, protein total serum, pemeriksaan serologi, kultur dan pencitraan. Tatalaksana
Terapi Limfogranuloma Venereum
Kasus terdiagnosis Rekomendasi Alternatif Doksisiklin Eritromisin 2 x 100 mg perhari selama 21 hari 4 x 500 mg perhari selama 21 hari

Granuloma Inguinale Masa inkubasi dimulai dari tiga hari sampai dengan tiga bulan, biasanya dua sampai tiga minggu4. Manifestasi klinis adalah papul atau nodul soliter atau multipel yang berubah menjadi ulkus berbentuk bulat, mudah berdarah, berbau busuk dengan jaringan granulasi4. Tepi ulkus dapat meninggi. Pada pria tempat predileksi dari ulkus adalah penis, glans dan skrotum sedangkan pada wanita adalah perineum, labia, monsveneris dan fourchette4. Dapat terjadi pembengkakan inguinal berupa abses atau pseudobubo yang nantinya akan berubah menjadi ulkus4. Kelenjar getah bening jarang terlibat4.

Gambar 6. Granuloma inguinale pada pria (fitz)

Gambar 7. Granuloma inguinale pada wanita, tipe ulserovegetatif yang besar

Pemeriksaan laboratorium yang dibutuhkan adalah pewarnaan giemsa dari apusan jaringan atau biopsi, pewarnaan gram dan biakan4. Tatalaksana
Terapi granuloma inguinale4

Rekomendasi

Asitromisin

1 g PO 1x1 kemudian dilanjutkan 500 mg perhari atau 1 g seminggu sekali selama 4 6 minggu atau 500 mg 1x1 selama satu minggu

Alternatif

Doksisiklin Trimetroprim Sulfametoksazol Siprofloksasin Eritromisin

100 mg 1-2x1 selama paling sedikit 3 minggu 800 mg 2x1 selama paling sedikit 3 minggu 160 mg 2x1 selama paling sedikit 3 minggu 750 mg 2x1 selama paling sedikit 3 minggu 500 mg 4x1 selama paling sedikit 3 minggu

Vaginosis bakterial Lebih dari 50% wanita yang mengalami vaginosis bakterial tidak memiliki gejala. Vaginosis bakterial dapat memberikan gejala klinis berupa discharge dari vagina atau bau tidak sedap, atau keduanya3. Bau tidak sedap ini

biasanya dideskripsikan pasien sebagai bau amis seperti ikan dan lebih nyata setelah pasien melakukan hubungan seksual tanpa pelindung atau selama siklus haid3. Pada pemeriksaan, dapat ditemukan discharge homogen dan seperti susu menempel pada dinding vagina3. Dibentuk suatu kriteria pembantu diagnosis vaginosis bakterial yaitu kriteria Amsel3,4. Menurut kriteria Amsel, diagnosis vaginosis bakterial dapat ditegakkan apabila 3 dari temuan berikut ditemukan, yaitu :

kenaikan pH vagina (pH > 4,5) ditemukannya sel clue (sel epitel skuamosa dengan bakteri yang menempel) pada cairan vagina di dalam sediaan NaCl (>20% dari seluruh sel epitel)

discharge seperti susu, homogen, kental dan menempel tercium bau amis pada saat cairan vagina dicampur dengan KOH 10% atau tes whiff positif

Gambar 8. Sel clue4

Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk membantu penegakan diagnosis adalah pemeriksaan cairan vagina di bawah mikroskop, pewarnaan gram, pemeriksaan pH cairan vagina, pemeriksaan biakan, dan rapid colorimetric test3. Tatalaksana
Terapi vaginosis bakterial3
Terapi oral Metronidazol atau Klindamisin (alternatif) Terapi topikal Metronidazol gel atau Sebelum tidur selama 5 hari 2 x 500 mg perhari selama 7 hari 2 x 300 mg perhari selama 7 hari

Klindamisin krim

Sebelum tidur selama 5 hari

Ulkus mole Ulkus mole, disebut juga kankroid, adalah infeksi menular seksual yang disebabkan Haemophilus ducreyi. Setelah masa inkubasi 4 7 hari, terbentuk papul yang segera menjadi pustul dan kemudian menjadi ulkus4. Karakteristik ulkus adalah disertai nyeri, tidak mengeras, dengan dasar purulen dan tidak rata, dan pinggiran yang meninggi 3. Pada pria, ulkus biasa terdapat di prepusium, sulkus koronarium, frenulum, meatus uretra, atau glans penis3. Pada wanita, ulkus biasa terdapat di labia mayor, labia minor, vestibulum, atau klitoris3. Lesi dapat ditemukan selain di daerah genital, namun biasanya disebabkan autoinokulasi dan bukan oleh penyebaran hematogen.

Gambar 9. Ulkus mole pada penis

Gambar 10. Ulkus mole pada vulva, dengan pinggiran meninggi

Pemeriksaan penunjang yang tersedia antara lain pemeriksaan langsung sediaan apusan dan kultur3,4. Pemeriksaan serologi dengan PCR memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik daripada kultur, namun belum tersedia secara komersial. Tatalaksana Pengobatan ulkus mole adalah dengan azitromisin per oral 1 g dosis tunggal, seftriakson intramuskular 250 mg dosis tunggal, siprofloksasin per oral 500 mg 2x1 selama 3 hari, atau eritromisin per oral 500 mg 1x1 selama 7 hari3.

Sifilis Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan spiroseta Treponema pallidum. Sifilis dapat melibatkan hampir seluruh sistem organ, dan dapat menyebabkan kelainan kongenital. Manifestasi klinis sifilis bervariasi sesuai dengan perjalanan alami penyakit tersebut.

Gambar 11. Manifestasi klinis sifilis4

Pada sifilis primer, manifestasi awal adalah ulkus durum setelah masa inkubasi 1 minggu sampai 3 bulan 3. Ulkus durum adalah ulkus yang mengeras dan tidak nyeri, berdiameter sekitar 1 cm, dengan dasar ulkus yang mulus dan dapat dilapisi krusta kekuningan atau abu-abu4. Dapat ditemukan juga limfadenopati inguinal yang tidak nyeri5. Lesi ditemukan di lokasi inokulasi yaitu penis, perineum, vagina, serviks, anus, rektum, bibir, atau orofaring5.

Gambar 12. Ulkus durum tahap awal pada penis2

Gambar 13. Ulkus durum pada orifisium uretra wanita2

Apabila tidak mendapat pengobatan lesi sifilis primer akan reda dalam 1 6 minggu. Meskipun lesi mereda, namun terjadi spirosetemia yang menyebar awalnya ke kelenjar getah bening regional dan berlanjut ke seluruh tubuh. Bersamaan dengan redanya lesi sifilis primer atau beberapa minggu kemudian, terjadi manifestasi sifilis sekunder5. Manifestasi ini dapat sangat bervariasi, biasanya ditemukan ruam makulopapular yang difus, lesi papuloskuama yang melibatkan daerah palmar dan plantar, dan kondiloma lata di daerah lipatan5.

Gambar 14. Lesi generalisata sifilis Sekunder5

Gambar 15. Ruam di palmar sifilis sekunder


5

Gambar 16.Kondiloma lata vulva dan perineum sifilis sekunder5

Sifilis laten adalah tahapan klinis setelah hilangnya lesi sekunder dan sebelum munculnya gejala tersier5. Sifilis laten dibagi menjadi laten awal dan laten lanjut. Laten awal didefinisikan sebagai masa satu tahun setelah infeksi, di mana pada tahap ini dapat terjadi banyak relaps dengan temuan yang sama dengan sifilis sekunder5. Setelah satu tahun masa laten awal,

10

penderita digolongkan dalam laten akhir. Biasanya tidak ada manifestasi klinis, dan hanya terdapat temuan serologi positif 4. Fase laten dapat berlangsung beberapa bulan sampai seumur hidup. Sifilis tersier dapat muncul sebagai dua tipe, yaitu reaksi lokal (guma) dan reaksi inflamasi difus5. Reaksi guma umumnya menyerang kulit atau tulang panjang, memiliki onset yang cepat, dan memiliki respon yang baik terhadap terapi. Reaksi inflamasi difus menyerang sistem saraf pusat dan arteri besar, memiliki onset yang tersembunyi, dan menyebabkan kematian apabila tidak mendapat pengobatan. Diagnosis pasti sifilis adalah dengan membutikan adanya spiroset pada eksudat lesi atau jaringan, dengan menggunakan mikroskop medan gelap (dark-field microscopy) atau dengan pemeriksaan serologi. Pemeriksaan serologi dibagi menjadi pemeriksaan non-treponema dan pemeriksaan treponema4. Pemeriksaan non-treponema, yaitu VDRL (Venereal Disease Research Laboratory) dan RPR (Rapid Plasma Reagin) digunakan sebagai pemeriksaan skrining dan pemeriksaan respon terhadap terapi4. Pemeriksaan treponema, yaitu FTA-ABS (fluorescent treponemal antibody-absorption), TPHA (T pallidum hemagglutination), dan TPPA (T pallidum particle agglutination) digunakan untuk memastikan temuan positif pemeriksaan non-treponema4. Tatalaksana Terapi pilihan untuk semua tahap sifilis adalah penisilin parenteral, yaitu dengan benzatin penisilin G 2,4 juta unit intramuskular di daerah gluteal, dosis tunggal4. Apabila pasien alergi terhadap penisilin, dapat diberikan doksisiklin per oral 100 mg 2x1 selama 2 minggu, atau tetrasiklin 500 mg 4x1 selama 2 minggu4. Pasien harus diperiksa secara klinis dan serologis setelah 6 dan 12 bulan4.

11

Infeksi virus
Herpes simpleks Infeksi virus herpes simpleks (VHS) dapat dibedakan menjadi 3 kategori, yaitu infeksi primer, fase laten dan infeksi rekuren. Infeksi primer adalah infeksi yang disebabkan oleh VHS tipe I atau tipe II pada individu yang belum pernah terinfeksi oleh virus herpes simpleks 3. Setelah masa inkubasi selama 1-14 hari (masa inkubasi rata-rata adalah 4 hari), akan timbul papul yang akan berubah menjadi vesikel dalam waktu 24 jam3. Vesikel biasanya berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritem, dapat berisi cairan jernih atau seropurulen, dapat berubah menjadi krusta dan ulkus dangkal yang nyeri, yang sembuh tanpa sikatriks3. Infeksi primer sering disertai gejala sistemik, seperti demam, malaise, myalgia, anoreksia dan dapat ditemukan pembengkakan kelenjar getah bening regional3. Yang dimaksud fase laten adalah ditemukannya VHS dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis tanpa gejala klinis 4. Fase ini sering terjadi pada 6-12 bulan setelah infeksi. Infeksi rekuren mengacu kepada episode kambuhnya herpes simpleks. VHS pada ganglion dorsalis yang dalam keadaan tidak aktif, dengan faktor pencetus yang dapat berupa trauma fisik (demam, infeksi, kurang tidur, hubungan seksual, dan sebagainya), dan trauma psikis (gangguan emosional, menstruasi). Faktor pencetus menyebabkan VHS menjadi aktif kembali dan mencapai kulit sehingga menimbulkan gejala klinis. VHS tipe II lebih sering mengalami rekurensi dibandingkan VHS tipe I4. Infeksi rekuren biasanya lebih ringan dan sering tidak dikenali yang berlangsung kira-kira 7 sampai 10 hari4. Gejala yang timbul biasanya bukan gejala sistemik. Sering ditemukan gejala prodormal sebelum timbul vesikel berupa rasa panas, gatal dan nyeri. Infeksi rekuren dapat timbul pada tempat yang sama (loco) atau tempat di sekitarnya (non loco).

12

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu penegakan diagnosis adalah kultur, percobaan tzanck dengan pewarnaan giemsa dan type-spesific serologic assay. Tatalaksana
Terapi herpes simpleks3
Terapi antiviral Asiklovir atau Valasiklovir atau Famsiklovir 5 x 200 mg perhari selama 5-10 hari 2 x 1000 mg perhari selama 5-10 hari 3 x 250 mg perhari selama 5-10 hari

Infeksi jamur
Kandidiasis vulvovaginalis Gejala klinis berupa rasa gatal, keluarnya discharge dari vagina, rasa sakit pada vagina, rasa terbakar pada vulva, dispareunia dan disuria 6. Discharge tampak seperti susu yang disertai gumpalan-gumpalan putih dan berbau asam seperti susu basi. Pada pemeriksaan fisik ditemukan eritema dan pembengkakan pada labia dan vulva, juga dapat ditemukan lesi papulopustular di sekitarnya. Vagina tampak kemerahan dan membengkak dan juga terdapat plak putih yang dapat dengan mudah dilepaskan6. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan biakan jamur dan pemeriksaan pH vagina. Tatalaksana
Terapi kandidiasis vulvovaginalis6
Antimikosis topikal Butokonazol krim 2% atau Klotrimazol krim 1% atau 5g intravaginal selama 3 hari 5g intravaginal selama 7 14 hari

13

Klotrimazol tablet vagina atau

100 mg x 1 tablet selama 7 hari atau 100 mg x 2 tablet selama 3 hari atau 500 mg x 1 tablet dosis tunggal

Mikonazol krim 2% atau Mikonazol supositori vagina atau

5g intarvaginal selama 7 hari 200 mg x 1 selama 3 hari atau 100 mg x 1 selama 7 hari

Tiokonazol 6,5% ointment atau Terkonazol 0,4% krim atau Terkonazol 0,8% krim atau Terkonazol supositori vagina Antimikosis sistemik Flukonazol minggu Itrakonazol Ketokonazol

5g intravaginal dosis tunggal 5g intravaginal selama 7 hari 5g intravaginal selama 3 hari 80mg x 1 selama 3 hari

200mg x 1 hari pertama kemudian 100 mg x 1 selama 2 3

100mg x 1 atau 100mg x 2 perhari selama 14 hari 200mg x 1 atau 200 mg x 2 perhari selama 7 14 hari

Tinea kruris Gejala klinis dan keluhan pasien berupa rasa gatal hebat pada daerah kruris (lipat paha), lipat perineum, bokong dan dapat sampai ke genitalia. Ruam kulit berupa makula eritem numular hingga plakat, berbatas tegas dengan tepi lebih aktif (meninggi) terdiri dari papul atau pustul berbentuk serpiginosa dan berskuama. Bila kronik makula menjadi hiperpigmentasi disertai skuama di atasnya. Kondisi ini semakin hebat bila banyak keringat. Tempat predileksinya ialah regio inguinalis bilateral, simetris, di lipatan paha, sekitar perineum, anus, dan dapat meluas hingga ke suprapubis. Pada pria, lesi jarang mengenai skrotum.6,7,8 Untuk menegakkan diagnosis, pemeriksaan penunjang yang dilakukan ialah sediaan basah kerokan tepi lesi dengan KOH 10%, tampak elemen jamur

14

seperti hifa yang bercabang atau artrospora. Dapat juga dilakukan kultur jamur di agar Sabouraud untuk menentukan spesies jamur yang terlibat. Tatalaksana ialah dengan edukasi, topikal atau sistemik. Pasien dianjurkan untuk mengusahakan daerah lesi selalu kering, memakai pakaian dalam yang menyerap keringat, dan menggunakan handuk terpisah untuk daerah lesi dengan daerah sehat. Secara topikal, menggunakan salep atau krim antimikotis seperti krim mikonazol 2%. Secara sistemik diberikan bila lesi luas dan kronik, yaitu griseofulvin 500-1000 mg/hari selama 2-3 minggu, atau dengan ketokonazol 200 mg perhari selama 2-4 mimggu. 3, 8

Gambar 17. Makula hiperpigmentasi regional6

Gambar 18. Infeksi luas tinea kruris6

Infeksi parasit
Trikomoniasis Trikomoniasis merupakan infeksi saluran urogenital yang disebabkan oleh protozoa Trichomonas vaginalis dalam bentuk trofozoit. Trichomonas vaginalis mampu menimbulkan peradangan pada dinding saluran urogenital dengan cara invasi sampai mencapai jaringan epitel dan subepitel vagina, dengan masa inkubasi 5-28 hari. Gejala klinis pada wanita yaitu rasa gatal pada vulva, disuria, dispareunia, perdarahan paska-koitus, atau nyeri supra pubik. Tanda klinis berupa discharge vagina seropurulen berwarna kuning

15

kehijauan, berbau tidak enak atau menyengat dan berbusa. Dinding vagina tampak makula eritem dengan jaringan granulasi strawberry appearance. Sedangkan pada pria yang terutama diserang ialah uretra, prostat, preputium, vesikula seminalis, dan epididimis sehingga timbul gejala uretritis dengan discharge mukoid atau purulen, poliuria, dan prostatitis. Diagnosa pada penyakit ini ditegakkan dengan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan peningkatan pH discharge dan meningkatnya sel darah putih, serta secara mikroskopik sediaan basah, yaitu dengan apusan Papanicolau smear, tampak trofozoit berbentuk buar pih, berflagela dengan gerakan khas tersentak-sentak.3,7,9

Gambar 19. Apusan Papanicolau dari serviks6

Tatalaksana Tatalaksana yang dianjurkan yaitu dengan secara topikal dan sistemik. Untuk topikal maka dilakukan irigasi dengan hidrogen peroksida 1-2% dan larutan asam laktat 4%, pilihan lain yaitu krim metronidazol 0.1 % atau gel 0,75%. Sedangkan untuk pengobatan sistemik, pasien diberikan derivat nitromidazol yaitu metronidazol dosis tunggal 2 g selama 5 hari atau 3 x 500 mg/hari selama 7-10 hari. Partner seksual juga sebaiknya diterapi.10 Skabies Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei var. hominis betina. Kelainan kulit dapat berupa papul, vesikel, urtika, dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder. Munculnya gejala klinis terbagi menjadi empat tanda kardinal yaitu: pruritus nokturna, menyerang secara 16

kelompok, terlihat adanya kunikulus berwarna putih keabuan, serta menemukan tungau itu sendiri.3,6,7 Untuk mendiagnosis pasien dapat melalui bermacam cara mencari kunikulus, menyikat dengan sikat dan ditampung di atas selembar kertas putih dan dilihat dengan kaca pembesar, biopsi irisan dilihat dengan mikroskop cahaya dan biopsi eksisional dengan pewarnaan HE.
Gambar 20. Lesi skabies pada penis6 Gambar 23. Biopsi kulit dari lesi skabie

Tatalaksana pada pasien ini yaitu berupa: Permetrin 5% krim, selama 8-14 jam setiap 7 hari Gama benzene heksa klorida (gamexan) 1% selama 8-12 jam tiap 7 hari Krotamiton 10% krim Emulsi benzil-benzoat 20-25% diberikan setiap malam selama tiga hari Sulfur presipitatum 4-20% salep atau krim, Secara sistemik dapat diberikan Ivermektin 0,05-0,2 mg/kgBB dosis tunggal. Jika tidak membaik, diulang tiga bulan kemudian setelah pemberian pertama. Obat ini kontraindikasi bagi ibu hamil. Obat ini berpotensi paling tinggi dalam membasmi skabies, namun sediaannya belum ada di Indonesia.

17

Pedikulosis pubis Gejala klinis yang timbul yaitu rasa gatal di daerah pubis dan sekitarnya, dijumpai bercak-bercak abu-abu kebiruan yang disebut makula serulae, dapat dilihat dengan mata biasa berupa papula miliar dengan urtika. Gejala patognomonik ialah black dot pada celana dalam putih. Pemeriksaan penunjang secara mikroskopik ditemukan kutu pada pangkal rambut, telur pada rambut atau serat kapas pakaian.2,7,11 Tatalaksana Tatalaksana pasien ialah dengan krim gameksan 1% atau emulsi benzil benzoat 25% yang dioleskan sekali sehari, bulu kelamin dicukur, mitra seksual harus diperiksa dan diobati jika perlu, pakaian direndam dengan air mendidih dan disterika. Jika ada infeksi sekunder diberikan penisilin atau eritromisin.4,6 Cutaneous larva migrans Merupakan kelainan kulit berupa peradangan berbentuk linear atau berkelok-kelok, menimbul dan progresif, yang disebabkan oleh invasi larva Ancylostoma braziliense, Ancylostoma caninum. Larva ini tinggal di kulit dan dapat berjalan- jalan sepanjang dermo-epidermal. Setelah beberapa jam atau hari akan timbul gejala di kulit seperti rasa gatal dan panas. Mula-mula timbul papul yang diikuti lesi linear atau berkelok-kelok eritem dengan diameter 2-3 mm membentuk terowongan. Rasa gatal lebih hebat malam hari. Tempat predileksi tungkai, plantar, anus, bokong, paha.5

18

Gambar 24. Lesi cutaneous larva migrans7 Diagnosis ditegakkan secara klinis, yaitu berdasarkan terdapatnya bentuk khas yakni terdapat kelainan seperti benang yang lurus atau berkelok, menimbul, terdapat papul atau vesikel di atasnya. Tatalaksana pada cutaneous larva migrans adalah Albendazole dengan dosis 400 mg sebagai dosis tunggal diberikan 3 hari berturut-turut. 6 Cara lain adalah dengan cyrotherapy menggunakan liquid nitrogen atau cryoprobe dengan menembakkan ke ujung terakhir dari lesi kulit. Namun terapi ini kurang dianjurkan karena efektivitasnya rendah dan cenderung mengiritasi kulit.

19

Daftar Pustaka
1. Swygard H, Sena AC, Leone P, Cohen MS. Chapter 16. Gonorrhea. In: Klausner JD, Hook III EW, eds. CURRENT Diagnosis & Treatment of Sexually Transmitted Diseases. New York: McGraw-Hill; 2007. Diakses 7 mei 2012 dari http://www.accessmedicine.com/content.aspx?aID=3025480 http://emedicine.medscape.com/article/964220-clinical#showall Jeffrey DK, Hook III EW, eds. CURRENT Diagnosis & Treatment of Sexually Transmitted Diseases. New York: McGraw-Hill; 2007. Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editor. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine . Edisi ke-7. New York: McGraw-Hill; 2008. Stephen JM, Papadakis MA, eds. CURRENT Medical Diagnosis & Treatment 2012. New York: McGraw-Hill; 2012. Klaus W, Richard AJ. Fitzpatrick's Colour Atlas & Synopsis of Clinical Dermatology. Edisi 6. McGraw-Hill Companies, Inc. United States : 2009. Carpenter et al. Cecil Essentials of Medicine. 5th Edition. USA: Saunders. 2001 Marks J. G., Miller J.J. Principles of Dermatology. 4th Edition. USA: Saunders. 2006. Smith, D.S. Trichomoniasis. E-Medicine. 2012 www.cdc.gov/std/. Guidelines for Sexually Transmitted Diseases. CDC 2010. Siregar, R.S. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: EGC. 1996. Cooke, Robin A. Infectious Diseases. Australia: McGraw-Hill. 2008. Page 141-144.

2. 3.

4.

5.

6.

7.

8.

9. 10.

11. 12.

Contoh Kasus
Pasien dengan inisial Tn. J berusia 30 tahun datang ke poliklinik kulit kelamin Rumkital Marinir Cilandak pada tanggal 22 Mei 2012 mengeluhkan keluarnya nanah dari kelaminnya yang disertai rasa nyeri saat berkemih yang kambuh sejak 2 hari yang lalu. 24 hari yang lalu pasien datang berobat ke dokter dan diberikan obat minum amoksisilin yang diminum dua kali sehari. Keluhan pasien membaik selama beberapa hari akan tetapi keluhan yang sama kembali kambuh sehingga 14 hari yang lalu pasien berobat kembali dan menerima pengobatan lagi. Pasien merasa keluhannya membaik, namun delapan hari lalu keluhan kembali kambuh. Pasien kembali berobat tujuh hari yang lalu dan menerima pengobatan yang sama. Keluhan kambuh lagi 2 hari yang lalu sehingga pasien datang kembali pada tanggal 22 Mei 2012. Menurut pasien, keluhannya dirasakan kambuh setelah melakukan hubungan intim dengan istrinya. Pada tanggal 22 Mei 2012 cairan nanah dari kelamin pasien diambil dan dilakukan pemeriksaan pewarnaan Gram, dengan hasil bakteri gram negatif diplokokus berbentuk seperti biji kopi ditemukan di intrasel dan ekstrasel. Berdasarkan anamesis dan pemeriksaan pewarnaan Gram, pasien

didiagnosis gonore. Pengobatan pada pasien tidak berhasil. Dicurigai hal ini disebabkan karena istri pasien juga menderita gonore karena kekambuhan penyakit pasien biasanya setelah melakukan hubungan intim dengan istrinya. Pasien diberikan pengobatan berupa sefiksim 400 mg dosis tunggal dan flavoksat HCl 3x1 setelah makan selama 5 hari. Pasien juga diberikan edukasi bahwa penyakit yang diderita pasien menular melalui hubungan seksual sehingga sebaiknya istri pasien juga diperiksakan dan menerima pengobatan yang sama apabila terbukti menderita penyakit yang sama.

Berikut gambar pengambilan sampel discharge dari uretra dari pasien.

24