Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang dilihat dari jumlah penduduknya ada pada posisi keempat di dunia, dengan laju pertumbuhan yang masih relatif tinggi. Esensi tugas program Keluarga Berencana (KB) dalam hal ini telah jelas yaitu menurunkan fertilitas agar dapat mengurangi beban pembangunan demi terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Seperti yang disebutkan dalam UU No.10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, definisi KB yakni upaya meningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, sejahtera. Berdasarkan data dari SDKI 2002 2003, angka pemakaian kontrasepsi (contraceptive prevalence rate/CPR) mengalami peningkatan dari 57,4% pada tahun 1997 menjadi 60,3% pada tahun 2003. Pada 2015 jumlah penduduk Indonesia hanya mencapai 255,5 juta jiwa. Namun, jika terjadi penurunan angka satu persen saja, jumlah penduduk mencapai 264,4 juta jiwa atau lebih. Menurut SDKI 2002-2003 Pada tahun 2003, kontrasepsi yang banyak digunakan adalah metode suntikan (49,1 persen), pil (23,3 persen), IUD/spiral (10,9 persen), implant (7,6 persen), MOW (6,5 persen), kondom (1,6 persen), dan MOP (0,7 persen) (Kusumaningrum, 2009). Alat kontrasepsi sangat berguna sekali dalam program KB namun perlu diketahui bahwa tidak semua alat kontrasepsi cocok dengan kondisi setiap orang. Untuk itu, setiap pribadi harus bisa memilih alat kontrasepsi yang cocok untuk dirinya. Pelayanan kontrasepsi (PK) adalah salah satu jenis pelayanan KB yang tersedia. Sebagian besar akseptor KB memilih dan membayar sendiri berbagai macam metode kontrasepsi yang tersedia. pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, dan peningkatan kesejahteraan keluarga guna mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan

Faktor lain yang mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi antara lain faktor pasangan (umur, gaya hidup, jumlah keluarga yang diinginkan, pengalaman dengan metode kontrasepsi yang lalu), faktor kesehatan (status kesehatan, riwayat haid, riwayat keluarga, pemeriksaan fisik, pemeriksaan panggul), faktor metode kontrasepsi (efektivitas, efek samping, biaya), tingkat pendidikan, pengetahuan, kesejahteraan keluarga, agama, dan dukungan dari suami/istri. Faktor-faktor ini nantinya juga akan mempengaruhi keberhasilan program KB. Hal ini dikarenakan setiap metode atau alat kontrasepsi yang dipilih memiliki efektivitas yang berbeda-beda.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kontrasepsi berasal dari dua kata, kontra dan konsepsi. Kontra berarti melawan atau mencegah, dan konsepsi berarti pertemuan sel sperma dengan sel ovum sebagai penyebab kehamilan. Kontrasepsi adalah usaha-usaha untuk mencegah kehamilan. Kontrasepsi merupakan metode yang dapat digunakan untuk menyelamatkan ibu dan anak akibat melahirkan pada usia muda (fase menunda atau mencegah kehamilan), jarak kelahiran yang terlalu dekat (fase menjarangkan kehamilan) dan melahirkan pada usia tua (fase menghentikan atau mengakhiri kehamilan). Kontrasepsi ideal harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. Dapat dipercaya 2. Tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan 3. Daya kerjanya dapat diatur sesuai kebutuhan 4. Tidak menimbulkan ganguan sewaktu melakukan coitus 5. Tidak memerlukan motivasi terus menerus 6. Mudah pelaksanaannya 7. Murah harganya sehingga dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat 8. Dapat diterima penggunaanya oleh pasangan bersangkutan. 2.2 Tujuan Kontrasepsi Kontrasepsi bertujuan untuk pasangan yang ingin menunda kehamilan, menjarangkan kehamilan setelah persalinan atau setelah keguguran, selain itu pemberian kontrasepsi berupa pil berguna dalam penekanan Luteinizing Hormon (LH) yang dapat mempengaruhi kadar HCG dalam kasus molahidatidosa.

Langkah-langkah yang bisa ditempuh dalam memilih metode kontrasepsi kehamilan adalah : 1. 2. 3. Percaya pada diri sendiri. Bekerjasama dengan suami Mentaati aturan metode secara tertib

2.3 Metode Sederhana 2.3.1 1. Tanpa menggunakan alat (KB Alamiah)

Metode kalender ( ogino-knaus ) Menghindari senggama pada saat subur / sekitar ovulasi. Perkiraan masa

subur : 14 hari sebelum haid + 2 hari. Sperma mampu bertahan palinglama 72 jam dalam saluran reproduksi wanita. Karakteristik masa subur Viskositas cairan vagina meningkat akibat pengaruh estrogen tinggi, uji rentang lendir vagina (Spinbarkeitt) panjang. Ovulasi dapat diketahui dengan pemeriksaan lendir cervix, suhu basal dan sitologivaginal. Menentukan masa subur isteri dipakai 3 patokan : Ovulasi terjadi 14+2 hari sebelum haid yang akan datang Sperma dalam saluran reproduksi wanita dapat hidup dan membuahi dalam 72 jam setelah ovuasi Ovum dapat bertahan hidup sampai 24 jam setelah ovulasi. Jika siklus haid tidak teratur : hati-hati dalam perhitungan. Metode suhu badan basal ( termal ) Menjelang ovulasi suhu basal badan akan turun. Kurang lebih 24 jam sesudah ovulasi suhu basal badan akan naik lagi sampai lebih tinggi daripada suhu sebelum ovulasi. Fenomena ini dapat digunakan untuk menentukan saat ovulasi. Suhu basal badan dicatat dengan teliti setiap hari. Suhu basal maksudnya adalah suhu yang diukur di waktu pagi segera sesudah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas apapun.

2.

Coitus Interuptus Cara ini merupakan cara kontrasepsi yang tertua yang dikenal oleh

manusia, dan mungkin masih merupakan cara yang banyak dilakukan sampai sekarang. Senggama terputus ialah penarikan penis dari vagina sebelum terjadi ejakulasi. Hal ini berdasarkan kenyataan, bahwa akan terjadinya ejakulasi disadari sebelumnya oleh sebagian besar pria, dan setelah itu masih ada wakru kira-kira 1 detik sebelum ejakulasi terjadi. Waktu yang singkat ini dapat digunakan untuk menarik penis keluar dari vagina. Keuntungannya cara ini tidak membutuhkan biaya, alat-alat, maupun persiapan, akan tetapi kekurangannya bahwa untuk mensukseskan cara ini dibutuhkan pengendalian diri yang besar dari pihak pria. Beberapa pria karenafaktor jasmani dan emosional tidak dapt mempergunakan cara ini. 3. Metode Amenore Laktasi Dengan menyusui, akan keluar hormon prolaktin yang menyebabkan amenore dan anovulasi infertilitas makin tinggi kadar prolaktin, makin besar kejadian anovulasi. Menyusui harus dilakukan secara penuh / full dan sering. Dengan menyusui penuh, efektifitas kontrasepsi alami akan bertahan 3-6 bulan. 2.3.2 Dengan menggunakan alat (Mekanis) 1. Kondom Prinsip kerja kondom adalah sebagai perisai dari penis sewaktu melakukan koitus, dan mencegah pengumpulan sperma dalam vagina. Bentuk kondom adalah silindris dengan pinggir yang tebal pada ujung yang terbuka, sedang ujung yang buntu berfungsi sebagai penampung sperma. Diameternya biasanya kira-kira 3136,5 mm dan panjang lebih kurang 19mm. Kondom dilapisi dengan pelicin yang bersifat spermatisid. Keuntungan kondom selain untuk memberi perlindungan terhadap penyakit kelamin, dapat juga sebagai kontrasepsi. Kekurangannya ialah ada kalanya pasangan yang mempergunakannya merasakan selaput karet tersebut sebagai peghalang dalam kenikmatan sewaktu melakukan koitus. Adapula pasangan yang tidak menyukai kondom adanya asosiasi dengan soal pelacuran.

Sebab-sebab kegagalan memakai kondom ialah bocor atau koyaknya alat tersebut atau tumpahnya seperma akibat tidak dikeluarkannya penis setelah terjadi ejakulasi. Efek samping penggunaan kondom tidak ada, kecuali ada alergi terhadap bahan untuk membuat karet. Mengenai pemakaian kondom perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: Jangan melakukan koitus sebelum kondom terpasang dengan baik. Pasanglah kondom sepanjang penis yang sedang ereksi. Pada pria yang tidak sirkumsisi, preputium harus ditarik terlebih dahulu. Tinggalkan sebagian kecil dari ujung kondom untuk menampung sperma. Pada kondom yang mempunyai kantong kecil ujungnya, keluarkanlah udara terlebih dahulu sebelum kondom dipasang. Pergunakanlah bahan pelicin secukupnya pada permukaan kondom untuk mencegah terjadinya robekan. Keluarkanlah penis dari vagina sewaktu masih dalam keadaan ereksi dan tahanlah kondom pada tempatnya ketika penis dikeluarkan dari vagina supaya sperma tidak tumpah.

Gambar 1. Kondom 2. Diafrgama Dewasa ini diafragma vaginal terdiri atas kantong karet yang berbentuk mangkuk dengan per elastis pada pinggirnya. Per ini ada yang terbuat dari logam tipis yang tidak dapat berkarat, ada pula yang dari kawat halus yang tergulung sebagai spiral dan mempunyai sifat seperti per. Ukuran diafragma vaginal yang beredar di pasaran mempunyai diameter antara 55 sampai 100mm. Tiap-tiap ukuran mempunyai perbedaan diameter
6

masing-masing 5 mm. Besarnya ukuran diafragma yang akan dipakai oleh akseptor ditentukan secara individual. Diafragma dimasukkan kedalam vagina sebelum koitus untuk menjaga sperma tidak masuk ke uterus. Untuk memperkuat efek diafragma, obat spermatisida dimasukkan ke dalam mangkuk dan dioleskan pada pinggirnya. Diafragma vaginal sering dianjurkan dalam hal: Keadaan dimana tidak tersedia cara lebih baik. Jika frekuensi koitus tidak seberapa tinggi, sehingga tidak dibutuhkan perlindungan terus menerus; Jika pemakaian pil, AKDR, atau cara lain harus dihentikan untuk sementara waktu oleh karene sesuatu sebab. Pada keadaan-keadaan tertentu pemakaian diafragma tidak dapat dibenarkan, misalnya pada: Sistokel yang berat Prolapsus uteri Fistula vagina Hiperantefleksio atau hiperretrofleksio uteri Diafragma paling cocok untuk dipakai pada wanita dengan dasar panggul yang tidak longgar dan dengan tonus dinding vagina yang baik. Umumnya diafragma vaginal tidak menimbulkan banyak efek sampingan. Efek sampingan mungkin disebabkan oleh reaksi alergik terhadap obat-obat spermatisida yang dipergunakan, atau oleh karena terjadi perkembangbiakan bakteri yang berlebihan di dalam vagina jika diafragma dibiarkan terlalu lama disitu. Kekurangan dari penggunaan diafragma vagina adalah: 1. Diperlukan motivasi yang cukup kuat;

2. Umumnya hanya cocok untuk wanita terpelajar dan tidak untuk digunakan secara massal; 3. Pemakaian yang tidak teratur dapat menimbulkan kegagalan; 4. Tingkat kegagalan lebih tinggi daripada pil atau AKDR. Manfaat dari penggunaan diafragma adalah: 1. Hampir tidak ada efek sampingan; 2. Dengan motivasi yang baik dan pemakaian yang betul, hasilnya cukup memuaskan; 3. Dapat dipakai untuk pengganti pil atau AKDR pada wanita-wanita yang tidak boleh mempergunakan pil atau AKDR karena sebab-sebab tertentu. Cara pemakaian diafragma vaginal Jika akseptor telah setuju mempergunakan cara ini, terlabih dahulu ditentukan ukuran diafragma yang akan dipakai, dengan mengukur jarak antara simfisis bagian bawah dan forniks vaginae posterior dengan menggunakan jari telunjuk dari jari tengah tangan dokter, yang dimasukkan kedalam vagina akseptor. Kemudian, kepadanya diterangkan anatomi alat-alat genitalia bagian dalam dari wanita, dan dijelaskan serta di demonstrasikan cara memasang diafragma vaginal. Pinggir mangkuk dijepit antara ibu jari dan jari telunjuk, dan diafragma dimasukkan kedalam vagina sesuai dengan sumbunya.

Gambar 2. Diafragma vaginal Cara Penyimpanan diafragma vaginal Setelah dipakai, diafragma vaginal dicuci dengan sabun dan air dingin sampai bersih, lalu dikeringkan dengan kain halus, dan kemudian diberi bedak. Diafragma vaginal harus disimpan ditempat yang tidak terkena panas. Sekalisekali diafragma vaginal harus diperiksa, apakah tidak bocor atau apakah cincin mangkuk tidak rusak. Jika dijaga dengan baik, diafragma dapat digunakan untuk selama kira-kira 1-1,5 tahun. 2.3.3 Kimiawi 1. Spermisid Sediaan berbentuk vaginal suppositoria, cream/jelly, atau film/tissue, dimasukkan ke dalam vagina 15-30 menit sebelum sanggama. Keuntungan : murah, dapat dipakai berulang-ulang, membunuh kuman. Macam-macam : Vaginal cream, Vaginal foam, Vaginal Jelly, Vaginal Suppositoria, Vaginal Tablet ( busa ), Vaginal soluble film.

Gambar 3. Spermisida

2.4 Metode Modern 2.4.1 Kontrasepsi hormonal Dibawah pengaruh hipothalamus, hipofisis mengeluarkan menurut urutan tertentu Follicle Stimulating Hormon (FSH) Luteinizing Hormone (LH). Hormon-

hormon ini dapat merangsang ovarium untuk membuat estrogen dan progesteron. Dua hormon terakhir ini menumbuhkan endometrium pada waktu daur haid, dalam keseimbangan yang tertentu, menyebabkan ovulasi, dan akhirnya penurunan kadarnya mengakibatkan disintegrasi endometrium dan haid. Penyelidikan lebih lanjut menunjukkan bahwa baik estrogen maupun progesteron dapat mencegah ovulasi. Pengetahuan ini menjadi dasar untuk menggunakan kombinasi estrogen dan progesteron sebagai cara kontrasepsi dan jalan mencegah terjadinya ovulasi. Pil-pil hormonal terdiri atas komponen estrogen dan komponen progestagen, atau oleh salah satu dari komponen itu. Hormon steroid sintetik dalam metabolismenya sangat berbeda dari hormone steroid yang dikeluarkan oleh ovarium. Umumnya dapat dikatakan bahwa komponen estrogen dalam pil dengan jalan menekan sekresi FSH menghalangi maturasi folikel dan ovarium. Karena pengaruh estrogen dari ovarium tidak ada, tidak terdapat pengeluaran LH. Ditengah-tengah daur haid kurang terdapat FSH dan tidak ada peningkatan kadar LH menyebabkan ovulasi terganggu. Pengaruh komponen progestagen dalam pil kombinasi memperkuat khasiat estrogen untuk mencegah ovulasi, sehingga dalam 95-98% tidak terjadi ovulasi. Selanjutnya, estrogen dalam dosis tinggi dapat pula mempercepat perjalanan ovum dan menyulitkan terjadinya implantasi dalam endometrium dari ovum yang sudah dibuahi. Komponen progestagen dalam pil kombinasi seperti tersebut diatas memperkuat daya estrogen untuk mencegah ovulasi. Progestagen sendiri dalam dosis tinggi dapat menghambat ovulasi, akan tetapi tidak pada dosis rendah. Selanjutnya progestagen mempunyai khasiat sebagai berikut: 1) Lendir serviks uteri menjadi lebih ketal, sehingga menghalangi penetrasi spermatosoon untuk masuk kedalam uterus. 2) Kapasitasi spermatosoon yang perlu untuk memasuki ovum terganggu. 3) Beberapa progestagen tertentu, seperti noretinodrel mempunyai efek antiestrogenik terhadap endometrium, sehingga menyulitkan mplantasi ovum yang sudah dibuahi. 1. Per-oral (pil)
10

a.

Pil oral kombinasi ( POK ) Pil kombinasi merupakan pil kontrasepsi yang saat ini dianggap paling

efektif. Selain mencegah terjadinya ovulasi, pil juga mempunya efek lain terhadap traktus genitalis, seperti menimbulkan perubahan-perubahan pada lendir cerviks, sehingga menjadi kurang banyak dan kental, yang mengakibatkan sperma tidak dapat memasuki cavum uteri. Juga terjadi perubahan-perubahan motilitas tuba fallopi dan uterus. Dewasa ini terdapat banyak macam pil kombinasi, tergantung dari jenis dan dosis estrogen serta jenis progesteron yang dipakai. Efek Samping Hormon-hormon dalam pil harus cukup kuat untuk dapat mengubah proses biologik, sehingga ovulasi tidak terjadi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kadang-kadang timbul efek samping. Efek tersebut pada umumnya ditemukan pada pil kombinasi dengan kelebihan estrogen atau peda pil dengan kelebihan progesteron. Perlu juga diketahui behwa antara jenis-jenis progestagen terdapat perbedaan mengenai efek tambahan, yakni efek estrogenik, atau efek androgenik, atau efek metabolik. Efek Karena Kelebihan Estrogen Efek-efek yang sering terdapat ialah, rasa mual, retensi cairan, sakit kepala, nyeri pada mamae, flour albus. Rasa mual kadang-kadang disertai muntah, diare, dan perut kembung. Retensi cairan disebabkan oleh kurangnya pengeluaran air dan natrium, dan dapat meningkatkan berat badan. Sakit kepala sebagian juga disebabkan oleh retensi cairan. Kepada penderita pemberian garam perlu dikurangi, dan dapat diberikan obat diuretik. Kadang-kadang efek samping demikian mengganggu akseptor, sehingga ia hendak menghentikan minum pil. Dalam keadaan demikian, ia diharuskan minum pil dengan pil kombinasi yang mengandung dosis estrogen rendah, oleh karena tidak jarang efek itu berkurang dalam beberapa bulan. Akan tetapi, kadangkadang pemakaian pil terpaksa dihentikan, dan harus dianjurkan kontrasepsi lain. Ada indikasi bahwa pemakaian pil dapat menimbulkan hipertensi pada wanita yang sebelumnya tidak menderita penyakit tersebut. Akan tetapi biasanya hipertensi tidak tinggi, mempengaruhi terutama tekanan sistolik, dan kembali
11

kepada keadaan normal setelah pil dihentikan. Akan tetapi, pengaruh kepada mereka yang sudah menderita hipertensi lebih nyata,. Ada bukti-bukti bahwa minum pil yang cukup lama dengan dosis estrogen yang tinggi dapat menyebabkan pembesaran mioma uteri, akan tetapi biasanya pembesaran itu berhenti jika pemakaian pil dihentikan. Pemakaian pil kadang-kadang dapat menyembuhkan pertumbuhan endometrium yang berlebihan dibawah pengaruh estrogen. Rendahnya dosis estrogen dalam pil dapat mengakibatkan spotting dan breaktrough bleeding dalam masa intermenstruum. Efek Karena kelebihan Progestagen Progestagen dalam dosis yang berlebihan dapat menyebabkan perdarahan tidak teratur, bertambahnya nafsu makan disertai bertambahnya berat badan, akne, alopesia, kadang-kadang mamae mengecil, flour albus hipomenorea. Bertambahnya berat badan karena progestagen kiranya disebabkan oleh bertambahnya nafsu makan dan efek metabolik hormon. Akne dan alopesia bisa timbul karena efek androgenik dari jenis progestagen yang dipakai dalam pil. Progestagen dapat menyebabkan mengecilnya mamae, jika hal ini tidak disenangi oleh akseptor, dapat diberikan kepadanya pil dengan estrogen lebih banyak. Flour albus yang kadang-kadang ditemukan pada pil dengan progestagen dalam dosis tinggi, mungkin disebabkan oleh meningkatnya infeksi dengan kandida albikans. Kadang-kadang wanita yang minum pi dengan kelebihan progestagen menderita depresi. Ada alasan kuat bahwa depresi itu timbul pada wanita yang sehat, akan tetapi pada wanita yang sebelumnya sudah secara emosional tidak stabil. Efek samping yang berat Bahaya yang dikhawatirkan dengan pil adalah trombo-emboli, termasuk tromboflebitis, emboli paru-paru, dan trombosis otak. Mengenai hal ini laporanlaporan dalam kepustakaan sering kali bertentangan. Yang dapat dipakai sebagai pegangan ialah, bahwa kemungkinan untuk terjadinya trombo emboli pada wanita yang minum pil, lebih besar apabila ada faktor-faktor yang memberikan predisposisi, seperti merokok, hipertensi, diabetes melitus, obesitas.
12

Kontraindikasi Tidak semua wanita dapat menggunakan pil kombinasi untuk kontrasepsi. Kontraindikasi terhadap penggunaannya dapat dibagi dalam kontraindikasi mutlak dan relatif. Kontraindikasi mutlak 1. Adanya tumor yang dipengaruhi estrogen 2. Penyakit-penyakit hati yang aktif, baik akut maupun menahun 3. Pernah mengalami tromboflebitis, tromboemboli, kelainan serebrovaskuler 4. Diabetes mellitus 5. Kehamilan Kontraindikasi relatif 1. Depresi 2. migrain 3. Mioma uteri 4. Hipertensi 5. Oligomenorea Pemberian pil kombinasi kepada wanita yang mempunyai kelainan tersebut harus diawasi secara teratur dan terus-menerus, sekurang-kurangnya sekali dalam tiga bulan. Kelebihan pil kombinasi 1) Efektifitasnya dapat dipercaya ( Daya guna teoritis hampir 100 %, daya guna pemakaian 95-98 % 2) Frekuensi koitus tidak perlu diatur 3) Siklus haid teratur 4) Keluhan-keluhan disminore yang primer menjadi berkurang

13

Kekurangan pil kombinasi 1) Harus diminum tiap hari sehingga kadang-kadang merepotkan 2) Motivasi harus kuat 3) Adanya efek samping walaupun sementara, seperti mual, sakit kepala, muntah, buah dada menjadi nyeri 4) Kadang-kadang setelah minum pil dapat minum amenore yang persisten Cara Pemakaian Pil Kombinasi Ada pil kombinasi yang dalam satu bungkus berisi 21 (atau 22) pil dan ada yang berisi 28 pil. Pil yang berjumlah 21-22 diminum mulai hari ke 5 haid tiap hari satu pil terus menerus, dan kemudian berhenti jika isi bungkus habis, sebaiknya pil diminum pada waktu tertentu, misalnya malam sebelum tidur. Beberapa hari setelah minum pil dihentikan, biasanya terjadi withdrawal bleeding dan pil pada bungkus kedua dimulai hari ke-5 dari permulaan perdarahan. Apabila tidak terjadi withdrawal bleeding, maka pil pada bungkus kedua mulai diminum 7 hari setelah pil pada bungkus pertama habis. Pil dalam bungkus 28 pil diminum tiap malam terus menerus. Pada hari pertama haid pil yang inaktif mulai diminum, dan dipilih pil menurut hari yang ditentukan dalam bungkus. Keuntungan minum pil berjumlah 28 biji adalah bahwa karena pil ini diminum tiap hari terus menerus, tidak mudah dilupakan. Jika lupa meminumnya, pil tersebut hendaknya diminum keesokkan paginya, sedang pil untuk hari tersebut diminum pada waktu yang biasa. Jika lupa minum pil dua hari berturut-turut, dapat diminum 2 pil keesokan harinya dan 2 pil lusanya. Selanjutnya dalam hal demikian, dipergunakan cara kontrasepsi yang lain selama sisa hari dari siklus yang bersangkutan. Demikian pula hendaknya jika mulai minum pil, digunakan cara kontrasepsi lain selama sedikitnya 2 minggu. Petunjuk umum untu hal ini ialah: Anggaplah bungkus pertama belum aman Sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan sediaan apus

(Papanicolaou smear) dan pemeriksaan mamae setahun sekali pada pemakai pil. b. Mini pil

14

Pada Tahun 1965 Rudell dkk. Menemukan bahwa pemberian progestagen (khlormadinon asetat) dalam dosis kecil (0,5 mg per hari) menyebabkan wanita tersebut menjadi infertile. Mini pill bukan merupakan penghambat ovulasi oleh karena selama memakan pil mini ini ovulasi kadang-kadang masih dapat terjadi. Efek utamanya ialah terhadap lendir serviks, dan juga terhadap endometrium, sehingga nidasi blastokista tidak dapat terjadi. Mini pill ini umumnya tidak dipakai sebagai kontrasepsi. c. Morning After pil Pada tahun 1966 Morris dan Van Wagenen ( Amerika serikat ) menemukan bahwa estrogen dalam dosis tinggi dapat mencegah kehamilan jika diberikan segera setelah coitus yang tidak dilindungi. Penyelidikan mereka lakukan pada wanita sukarelawan dan wanita yang diperkosa. Kepada sebagian wanita-wanita tersebut diberikan 50 mg dietilstilbestrol ( DES) dan kepada sebagian lagi diberikan 0,5 sampai 2 mg sehari selama 4-5 hari setelah terjadinya koitus. Kegagalan cara ini dilaporkan dalam 2,4 % dari jumlah kasus. Kiranya dengan cara ini dapat dihalangi implantasi blastokista dalam endometrium. Cara Pemberian : Bentuk pil : diminum pertama kali dalam batas waktu sampai 3 hari setelah sanggama Dosis berikutnya diminum 12 jam kemudian setelah dosis pertama Batas waktu sampai 7 hari pasca senggama, kegagalan : 0.1% - 2.0% jika dimulai dalam 72 jam pasca senggama sebelum ovulasi. Jika sudah terjadi kehamilan, tidak bermanfaat lagi. Masalahnya, umumnya pasien baru datang sesudah terlambat haid (sekitar 2-3 minggu setelah kemungkinan ovulasi / fertilisasi), dan bukannya pada hari sesudah senggama tanpa proteksi tersebut. Amenore sesudah minum pill (post pill amenorrhea)

15

Sembilan puluh delapan persen (98%) wanita yang minum pil dapat haid lagi disertai dengan ovulasi dalam 3 bulan setelah pil dihentikan. Pada 2% yang lain haid mulai lagi kadang-kadang memerlukan waktu sampai 2 tahun. Makin lama amenore berlangsung, makin kecil kemungkinan bahwa keadaan menjadi normal kembali. Walaupun lamanya mnum pil dan umur yang bersangkutan memegang peranan dalam timbulnya amenorea, namun ada juga yang menderita kelainan tersebut sesudah minum pil tidak lebih dari 3 bulan. Mengenai sebab timbulnya amenore sesudah minum pil ada 2 kemungkinan: pemakaian pil menghambat pengeluaran releasing factor dari hipotalamus, sedang kemungkinan lain ialah bahya sebabnya terletak pada ovarium. Perlu dipikirkan pula behwa amenore sekunder itu mempunyai sebab-sebab lain diluar pemakaian pil. 2. Injeksi / suntikan a. Depo Provera Depo-provera ialah 6-alfa-medroksiprogesteron yang digunakan untuk tujuan kontrasepsi parenteral, mempunyai efek progestagen yang kuat dan sangat efektif. Obat ini termasuk obat depot. Noristerat juga termasuk dalam golongan ini. Mekanisme Kerja 1. Obat ini menghalangi terjadinya ovulasi dengan jalan menekan pembentukan Releasing Factor dari hipotalamus. 2. lendir serviks bertambah kental, sehingga menghambat penetrasi sperma melalui serviks uteri. 3. Implantasi ovum dalam endometrium dihalangi 4. Kecepatan transpor ovum melalui tuba berubah Keuntungan metoda depot ialah: 1) Efektifitas tinggi 2) Sederhana pemakaiannya 3) Cukup menyenangkan bagi akseptor (injeksi hanya 4 x setahun)
16

4) Reversibel 5) Cocok untuk ibu-ibu yang menyusui anak. Kekurangan metoda depot ialah: 1) Sering menimbulkan perdarahan yang tidak tertatur (spotting,

breakthrough bleeding), dan lain-lain 2) Dapat menimbulkan amenore. Obat suntikan cocok digunakan bagi ibu-ibu yang beru saja menyusui dan sedang menyusui anaknya. Waktu Pemberian dan dosis Depo Provera sangat cocok untuk program postpartum oleh karena tidak mengganggu laktasi, dan terjadinya amenore setelah suntikan Depo Provera tidak akan mengganggu ibu-ibu yang menyusui anaknya dalam masa post partum, Depo Provera disuntikkan sebelum ibu meninggalkan Rumah Sakit, sebaiknya sesudah air susu ibu terbentuk, yaitu kira-kira hari ke-3 s/d hari ke-5. Depo Provera disuntukkan dalam dosis 150mg/cc sekali 3 bulan. Suntikan harus intramuskulus dalam. 3. Sub-kutis/bawah kulit (Implant) Norplant adalah suatu alat kontrasepsi yang mengandung levonorgestrel yang diungkus dalam kapsul silastic-silicone dan disusukkan dibawah kulit adalh sebanyak 6 kapsul dan masing-masing kapsul panjangnya 34 mm dan berisi 36 mg levonorgestrel. Setiap hari sebanyak 30 mcg levonorgestrel dilepaskan ke dalam darah secara difusi melalui dinding kapsul. Levonorgestrel adalah suatu progestin yang dipakai juga dalam pil KB seperti mini-pill atau kombinasi atau pun pada AKDR yang bioaktif. Mekanisme kerja : 1) Mengentalkan lendir serviks uteri sehingga menyulitkan penetrasi sperma. 2) Menimbulkan perubahan-perubahan pada endometrium sehingga tidak cocok untuk implantasi zygote. 3) Pada sebagian kasus dapat pula menghalangi terjadinya ovulasi.
17

4) Efek kontrasepsi norplabt merupakan gabungan dari ketiga mekanisme kerja tersebut di atas. Daya guna norplant cukup tingi. Kepustakaan melaporkan kegagalan norplant antara 0,3 0,5 perseratus tahun wanita. Kelebihan Norplant antara lain adalah 1) Cara ini cocok untuk wanita yang tidak boleh menggunakan obat yang mengandung estrogen 2) Perdarahan yang terjadi lebih ringan 3) Tidak menaikkan tekanan darah, 4) Resiko terjadinya kehamilan ektopik lebih kecil jika dibandingkan dengan pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). 5) Selain itu cara Norplant ini dapat digunakan untuk jangka panjang (5 tahun) dan bersifat reversibel. Menurut data-data klinis yang ada dalam waktu satu tahun setelah pengangkatan Norplant, 80 % sampai 90 % wanita daat menjadi hamil kembali. Efek samping Norplant 1) Gangguan pola haid, seperti terjadinya spotting, perdarahan memanjang atau lebih sering berdarah ( metrorrhagia ), 2) Amenore, 3) Mual-mual, anoreksia, pening, sakit kepala, 4) Kadang-kadang terjadi perubahan pada libido dan berat badan, 5) Timbulnya akne. 6) Oleh karena jumlah progestin yang dikeluarkan ke dalam darah sangat kecil, maka efek samping yang terjadi tidak sesering pada penggunaaan KB. Indikasi Norplant 1) Wanita-wanita yang ingin memakai kontrasepsi untuk jangka waktu yang lama tetapi tidak bersedia menjalani kontap atau menggunakan AKDR

18

2) Wanita-wanita yang tidak boleh menggunakan pil KB yang mengandung estrogen Kontraindikasi Norplant 1) Kehamilan atau disangka hamil 2) Penderita penyakit hati 3) Kanker payudara 4) Kelainan jiwa ( psikosis, neurosis ), 5) Varikosis 6) Riwayat kehamilan ektopik 7) Diabetes mellitus 8) Kelainan kardiovaskuler. Waktu pemasangan Norplant Sewaktu haid berlangsung atau masa pra-ovulasi dari siklus haid, sehingga adanya kehamilan dapat disingkirkan. Macam-macam Norplant 6 batang Norplant 2 batang Impanon /Norplant 1 batang

Prosedur Pemasangan 1. Terhadap calon akseptor dilakukan konseling dan KIE yang selengkap mungkin mengenai Norplant ini sehingga calon akseptor betul-betul mengerti dan menerimanya sebagai cara kontrasepsi yang akan dipakainya 2. Persiapan alat-alat yang diperlukan : Sabun antiseptik Kasa steril

19

Cairan antiseptik (betadine) Obat anestesi lokal Semprit dan jarum suntik Troikar no.10 Sepasang sarung tangan steril Satu set kapsul Norplant (6 buah) Scalpel yang tajam 3. Teknik pemasangan Calon akseptor dibaringkan telentang di tempat tidur dan lengan kiri diletakkan pada meja kecil di samping tempat tidur akseptor Daerah tempat pemasangan (lengan kiri bagian atas) dicuci dengan sabun antiseptik kemudian diberi cairan antiseptik Daerah tempat pemasangan Norplant ditutup dengan kain steril yang berlubang Dilakukan injeksi obat anestesi kira-kira 6-10 cm di atas lipatan siku Setelah itu dibuat insisi lebih kurang sepanjang 0,5 cm dengan skalpel yang tajam Troikar dimasukan melalui lubang insisi sehingga sampai pada jaringan bawah kulit Kemudian kapsul dimasukan ke dalam troikar dan didorong dengan plunger sampai kapsul terletak di bawah kulit Demikian dilakukan berturut-turut dengan kapsul kedua dampai ke enam, keenam kapsul di bawah kulit diletakkan demikian rupa sehingga susunannya seperti kipas Setelah semua kapsul berada di bawah kulit, troikar ditarik pelan-pelan keluar

20

Kontrol luka apakah ada perdarahan atau tidak Jika tidak ada perdarahan, tutuplah luka dengan kasa steril, kemudian diberi plester, umumnya tidak diperlukan jahitan Nasihatkan pada akseptor agar luka jangan basah selama lebih kurang 3 hari dan datang kembali jika terjadi keluhan-keluhan yang mengganggu. Pengangkatan/ekstraksi Pengangkatan Norplant dilakukan atas indikasi : 1. Atas permintaan akseptor 2. Timbulnya efek samping yang sangat mengganggu dan tidak dapat diatasi dengan pengobatan biasa 3. Sudah habis masa pakainya 4. Terjadi kehamilan Prosedur pengangkatan 1. Alat-alat yang diperlukan : selain alat-alat yang diperlukan sewaktu pemasangan kapsul Norplant diperlukan pula satu forseps lurus dan satu forseps bengkok. 2. Tentukan lokasi kapsul Norplant (kapsul 1-6), kalau perlu kapsul didorong ke arah tempat insisi akan dilakukan Daerah insisi didisinfeksi, kemudian ditutup dengan kain steril yang berlubang Lakukan anestesi lokal (infiltrasi anestesi) Kemudian lakukan insisi selebar lebih kurang 5-7 mm di tempat yang paling dekat dengan kapsul Norplant Forseps dimasukan melalui lubang insisi dan kapsul didorong dengan jari-jari lain ke arah ujung forseps Forseps dibuka lalu kapsul dijepit dengan ujung forseps

21

Kapsul yang sudah dijepit kemudian ditarik pelan-pelan. Kalau perlu dapat dibantu dengan mendorong kapsul dengan jari tangan lain.

Lakukan prosedur ini berturut-turut untuk mengeluarkan kapsul kedua sampai keenam.

Setelah semua kapsul dikeluarkan dan tidak dijumpai lagi perdarahan, tutuplah luka insisi dengan kasa steril, kemudian diplester

Nasihatkan pada akseptor agar luka tidak basah selama lebih kurang 3 hari.

2.4.2 Intra Uterine Device ( IUD ) Intrauterine Device atau biasa juga disebut spiral karena bentuknya memang seperti spiral. Teknik kontrasepsi ini adalah dengan cara memasukkan alat yang terbuat dari tembaga kedalam rahim (AKDR). Prinsip AKDR adalah menimbulkan reaksi inflamasi lokal dalam endometrium kavum uteri sehingga menghambat terjadinya implantasi. Bentuk spiral / melingkar bertujuan untuk memperluas permukaan kontak dengan dinding kavum uteri. Setelah diteliti ternyata BUKAN abortif. IUD diduga juga menghambat motilitas tuba sehingga memaksa sperma "berenang" melawan arus.

Gambar 4. Model IUD

22

Gambar 5. Gambaran IUD yang terpasang pada cavum uteri Keuntungan AKDR 1) Efektivitasnya tinggi. Sangat efektif 0,6-0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan) 2) AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan 3) Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti) 4) Tidak mempengaruhi hubungan seksual 5) Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR (CuT-380A) 6) Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI 7) Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau abortus (apabila tidak terjadi infeksi) 8) Dapat gunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir) 9) Tidak ada interaksi dengan obat-obatan 10) Membantu mencegah kehamilan ektopik Efek samping AKDR 1) Perdarahan 2) Rasa nyeri dan kejang di perut

23

3) Gangguan pada suami benang AKDR keluar dari portio uteri terlalu pendek atau terlalu panjang. Komplikasi 1) Infeksi Adanya infeksi sub akut atau menahun pada traktus genitalis sebelum pemasangan AKDR 2) Perforasi Umumnya perforasi terjadi sewaktu pemasangan AKDR walaupun bisa terjadi pula kemudian. Permulaan hanya ujung AKDR saja yang menembus dinding uterus, tetapi lama-kelamaan dengan adanya kontraksi uterus AKDR terdorong lebih jauh sehingga menembus dinding uterus sehingga akhirnya sampai ke rongga perut. Kontraindikasi Kontraindikasi relatif: Mioma uteri dengan adanya perubahan bentuk rongga uterus Insufisiensi serviks uteri Uterus dengan parut pada dindingnya, seperti pada bekas sectio sesaria, enukleasi mioma Kelainan jinak serviks uteri, seperti erotio portio uteri.

Kontraindikasi absolut: Kehamilan Adanya infeksi yang aktif pada traktus genitalis Adanya tumor ganas pada traktus genitalis Adanya metroragia yang belum disembuhkan Pasangan yang tidak lestari.

24

Pemasangan AKDR AKDR dapat dipasang dalam keadaan berikut: Sewaktu haid sedang berlangsung Post partum Post abortus Beberapa hari setelah haid berakhir

Teknik pemasangan Setelah vesica urinaria dikosongkan. Akseptor dibaringkan di atas meja ginekologik dalam posisi litotomi Dilakukan pemeriksaan bimanual untuk mengetahui letak, bentuk, dan besar uterus Spekulum dimasukan ke dalam vagina dan serviks uteri dibersihkan dengan larutan antiseptik Dengan cunam serviks dijepit pada bibir depan porsio uteri dan dimasukan sonde ke dalam uterus untuk menentukan arah poros dan panjangnya kanalis servikalis serta kavum uteri AKDR dimasukan ke dalam uterus melalui ostium uteri eksternum sambil melakukan tarikan ringan pada cunam serviks. Tabung penyalur digerakan di dalam uterus, sesuai dengan arah poros kavum uteri sampai tercapai ujung atas kavum uteri yang telah ditentukan lebih dahulu dengan sonde uterus Sambil mengeluarkan tabung penyalur perlahan-lahan, pendorong (plunger) menahan AKDR dalam posisinya Setelah tabung penyalur keluar dari uterus, pendorong juga dikeluarkan, cunam dilepaskan, benang AKDR digunting sehingga 2,5-3 cm keluar dari ostium uteri Spekulum diangkat
25

Pemeriksaan Lanjutan Pemeriksaan sesudah AKDR dipasang dilakukan 1 minggu sesudahnya, pemeriksaan kedua 3 bulan kemudian dan selanjutnya tiap 6 bulan. Cara mengeluarkan Mengeluarkan AKDR biasanya dilakukan dengan jalan menarik benang AKDR yang keluar dari ostium uteri eksternum dengan dua jari, dengan pinset atau dengan cunam. Kadang-kadang benang AKDR tidak tampak di ostium uteri eksternum. Tidak terlihatnya benang AKDR ini dapat disebabkan oleh : Akseptor menjadi hamil Perforasi uterus Ekspulsi yang tidak disadari oleh akseptor Perubahan letak AKDR sehingga AKDR tertarik ke dalam rongga uterus seperti ada mioma uterus 2.4.3 Sterilisasi 1. Vasektomi pada pria Pengikatan / pemotongan vas deferens kiri dan kanan pad pria untuk mencegah transport spermatozoa dari testis melalui vasa ke arah uretra. Dilakukan dengan cara operasi, dapat dengan operasi kecil atau (minor Surgery)

26

Gambar 6. Vasektomi Seorang yang telah mengalami vasectomy baru dapat dikatakan betul-betul steril jika dia telah mengalami 8-12 kali ejakulasi setelah vasectomy. Oleh karena itu sebelum hal tersebut diatas tercapai, yang bersangkutan dianjurkan pada saat koitus memakai kontrasepsi lain. Komplikasi vasectomy antara lain adalah infeksi pada sayatan, reasa nyari, terjadinya hematoma karena perdarahan kapiler, epididimitis dan granuloma. Kegagalan vasectomy dapat terjadi oleh karena terjadi rekanalisasi spontan, gagal mengenal dan memotong vas deferens, tidak diketahui adanya anomali vas deferns misalnya ada 2 vas deferens pada kanan atau kiri, koitus dilakukan sebelum kantong seminalnya batul-betul kosong. 2. Tubektomi Pengikatan / pemotongan tuba falopii kiri dan kanan pada wanita untuk mencegah transport ovum dari ovarium melalui tuba ke arah uterus. Dilakukan dengan cara operasi (laparotomi / laparoskopi), dengan berbagai metode. Efektifitas tinggi, reversibilitas rendah, sehingga disebut kontrasepsi mantap. Manfaat: Kontrasepsi Sangat efektif (0,2-4 kehamilan per 100 perempan selama tahun pertama penggunaan) Permanen Tidak mempengaruhi proses menyusui (breast feeding) Tidak bergantung pada faktor senggama Pembedahan sederhana dapat dilakukan dengan anastesi lokal Tidak ada efek samping dalam jangka panjang

27

Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual (tidak ada efek pada produksi hormon ovarium.

Nonkontrasepsi : Berkurangnya resiko kanker ovarium. Sebaiknya tubektomi sukarela dilakukan pada wanita yang memenuhi syarat berikut: 1. Umur termuda 25 tahun dengan 4 anak hidup 2. Umur sekitar 30 tahun dengan 3 anak hidup 3. Umur sekitar 35 tahun dengan 2 anak hidup Pada konferensi khusus perkumpulan untuk Sterilisasi Sukarela Indonesia di Medan (3-5 Juni 1976) dianjurkan umur diantara 25-40 tahun dengan jumlah anak sebagai berikut: 1. umur antara 25-30 tahun dengan 3 anak atau lebih 2. umur antara 30-35 tahun dengan 2 anak atau lebih 3. umur antara 35-40 tahun dengan 1 anak atau lebih Yang sebaiknya tidak menjalani tubektomi: 1. Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai) 2. Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan (hingga harus dievaluasi) 3. Infeksi sistemik atau pelvik yang akut (hingga masalah itu disembuhkan atau dikontrol) 4. Tidak boleh menjalani pembedahan 5. Belum memberikan persetujuan tertulis Kapan Dilakukan: Setiap waktu selama siklus menstruasi apabila diyakini secara rasional pasien tersebut tidak hamil. Hari ke-6 hingga ke-13 dari siklus menstrasi (fase proliferasi)

28

Pasca persalinan: minilap: didalam waktu 2 hari atau setelah 6 minggu atau 12 minggu laparoskopi: tidak tepat untuk klien-klien pasca persalinan

Pasca keguguran: Triwulan pertama: dalam waktu 7 hari sepanjang tidak ada bukti infeksi pelvik (minilap atau laparoskopi) Triwulan kedua: dalam waktu 7 hari sepanjang tidak ada bukti infeksi pelvik (minilap saja)

29

30

DAFTAR PUSTAKA

Sarwono, 2002. Kontrasepsi; Dalam Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka sarwono, Jakarta. Sarwono, 2002. Siklus Haid ; Dalam Ilmu Kandungan . Yayasan Bina Pustaka sarwono, Jakarta. Sarwono, 2002. Siklus Haid ; Dalam Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka sarwono, Jakarta. Kontrasepsionline, 2008. Kontrasepsi. www. Kontrasepsi.com. Diakses tanggal 19 Oktober 2008.

31