Anda di halaman 1dari 22

Pengguran kandungan

C6

BAB I PENDAHULUAN
Salah satu masalah yang dikemukakan dalam lapangan ilmu kedokteran adalah desakan berbagai pihak agar masalah saat kapan dimulainya sebuah kehidupan dan pula saat kehidupan itu dianggap tidak ada, dapat diagendakan secepatnya. Sebab ketentuan yang demikian itu, akan sangat erat kaitannya dengan kontribusi yang hendak diberikannya kepada peradilan khususnya dalam menentukan adanya tindak pidana Aborsi. Negara-negara di Eropa barat umumnya mengancam perbuatan pengguguran kandungan dengan hukuman, kecuali bila atas indikasi medis (bahaya maut atau bahaya kesehatan yang parah bagi si ibu, yang bila dilanjutkan akan membahayakan diri si ibu, atau bahaya kelainan kongenital yang hebat). Amerika melarang penguguran kandungan yang ilegal, yaitu selain yang dilakukan dokter di Rumah Sakit dengan prosedur tertentu. Sedangkan Jepang membolehkan abortus tanpa pembatasan tertentu. Bahkan di negara-negara Erope Timur, abortus diperbolehkan bila dilakukan oleh dokter di Rumah Sakit tanpa keharusan membayar biayanya. Di Jerman Barat, pengguguran kandungan usia 14 hari hingga 3 bulan, dengan izin si wanita, atas anjuran dokter dan dilakukan oleh dokter, tidak diancam hukuman.1 Kasus abortus di Indonesia jarang diajukan ke pengadilan, karena pihak si ibu yang merupakan korban juga sebagai pelaku sehingga sukar diharapkan adanya laporan abortus. Umumnya kasus abortus diajukan ke pengadilan hanya bila terjadi komplikasi (si ibu sakit berat/mati) atau bila ada pengaduan dari si ibu atau suaminya (dalam hal izin). Abortus atau pengguguran kandungan selalu menjadi permasalahan dari masa ke masa. Dari segi kesehatan secara alami terjadi keguguran pada 10 15 % kehamilan. Di lain pihak ada keadaan yang memaksa pengguguran kandungan yang harus ditempuh (provokasi) untuk menyelamatkan nyawa ibu hamil, tetapi banyak pula pengguguran dilakukan bukan untuk tujuan ini. Yang terakhir inilah yang menjadi permasalahan karena dalam pandangan masyarakat, hukum dan agama tindakan abortus bertentangan dengan kaidah yang baik.

102007152

Pengguran kandungan

C6

Dikatakan klasik karena dari dahulu sampai sekarang kehadiran kehidupan baru ini tetap menjadi permasalahan yang tak kunjung selesai, yaitu antara insan yang didambakan dengan yang tidak. Ini sama klasiknya dengan euthanasia yaitu permasalahan yang dihadapi di akhir kehidupan.

102007152

Pengguran kandungan

C6

BAB II PENGGUGURAN KANDUNGAN 2.1 Kasus


Anda kebetulan sedang berdinas jaga di laboratorium di sebuah rumah sakit tipe B. seorang anggota polisi membawa sebuah botol ukuran 2 liter yang disebutnya sebagai botol dari sebuah alat suction curret milik seorang dokter di kota anda. Masalahnya adalah bahwa dokter tersebut disangka telah melakukan pengguguran kandungan yang ilegal dan di dalam botol tersebut terdapat campuran darah dan jaringan hasil suction. Polisi menerangkan dalam surat permintaannya, bahwa darah dan jaringan dalam botol berasal dari tiga perempuan yang saat ini sedang diperiksakan ke Bagian Kebidanan di rumah sakit anda. Penyidik membutuhkan pemeriksaan laboratorium yang dapat menjelaskan apakah benar telah terjadi pengguguran kandungan dan apakah benar bahwa ketiga perempuan sedang diperiksa di kebidanan adalah perempuan yang kandungannya digugurkan oleh dokter tersebut. Hasil pemeriksaan tersebut penting agar dapat dilanjutkan ke proses hukum terhadap dokter tersebut. Anda tahu bahwa harus ada komunikasi antara anda dengan dokter kebidanan yang memeriksa perempuan-perempuan diatas, agar pemeriksaan medis dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi penyidikan dan penegakan hukum.

2.2

Pemeriksaan
Abortus provokatus merupakan jenis abortus yang sengaja dibuat/dilakukan, yaitu

dengan cara menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. Pada umumnya bayi dianggap belum dapat hidup diluar kandungan apabila usia kehamilan belum mencapai 28 minggu, atau berat badan bayi kurang dari 1000 gram, walaupun terdapat beberapa kasus bayi dengan berat dibawah 1000 gram dapat terus hidup. 2

102007152

Pengguran kandungan

C6

Pengelompokan Abortus provokatus secara lebih spesifik: Abortus Provokatus Medisinalis/Artificialis/Therapeuticusabortus yang dilakukan dengan disertai indikasi medik. Di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah demi menyelamatkan nyawa ibu. Syarat-syaratnya: 1. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya (yaitu seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan) sesuai dengan tanggung jawab profesi. 2. Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain, agama, hukum, psikologi). 3. Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau suaminya atau keluarga terdekat. 4. Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga/peralatan yang memadai, yang ditunjuk oleh pemerintah. 5. Prosedur tidak dirahasiakan. 6. Dokumen medik harus lengkap. Abortus Provokatus Kriminalis aborsi yang sengaja dilakukan tanpa adanya indikasi medik (ilegal). Biasanya pengguguran dilakukan dengan menggunakan alat-alat atau obat-obat tertentu. Ada beberapa alasan wanita tidak menginginkan kehamilannya:

Alasan kesehatan, di mana ibu tidak cukup sehat untuk hamil. Alasan psikososial, di mana ibu sendiri sudah enggan/tidak mau untuk punya anak lagi. Kehamilan di luar nikah. Masalah ekonomi, menambah anak berarti akan menambah beban ekonomi keluarga. Masalah sosial, misalnya khawatir adanya penyakit turunan, janin cacat. Kehamilan yang terjadi akibat perkosaan atau akibat incest (hubungan antar keluarga). Selain itu tidak bisa dilupakan juga bahwa kegagalan kontrasepsi juga termasuk tindakan kehamilan yang tidak diinginkan.

102007152

Pengguran kandungan

C6

Metode hisapan sering digunakan pada aborsi yang merupakan cara yang ilegal secara medis walaupun dilakukan oleh tenaga medis. Tabung suntik yang besar dilekatkan pada ujung kateter yang dapat dilakukan penghisapan yang berakibat ruptur dari chorionic sac dan mengakibatkan abortus. Cara ini aman asalkan metode aseptic dijalankan, jika penghisapan tidak lengkap dan masih ada sisa dari hasil konsepsi maka dapat mengakibatkan infeksi. Tujuan dari merobek kantong kehamilan adalah jika kantong kehamilan sudah rusak maka secara otomatis janin akan dikeluarkan oleh kontraksi uterus. Ini juga dapat mengakibatkan dilatasi saluran cerviks, yang dapat mengakhiri kehamilan. Semua alat dapat digunakan dari pembuka operasi sampai jari-jari dari ban sepeda. Paramedis yang melakukan abortus suka menggunakan kateter yang kaku. Jika digunakan oleh dokter maupun suster, yang melakukan mempunyai pengetahuan anatomi dan menggunakan alat yang steril maka resikonya semakin kecil. Bahaya dari penggunaan alat adalah pendarahan dan infeksi.
1,2

Perforasi dari dinding

vagina atau uterus dapat menyebabkan pendarahan, yang mungkin diakibatkan dari luar atau dalam. Sepsis dapat terjadi akibat penggunaan alat yang tidak steril atau kuman berasal dari vagina dan kulit. Bahaya yang lebih ringan(termasuk penggunaan jarum suntik) adalah cervical shock. Ini dapat membuat dilatasi cerviks, dalam keadaaan pasien yang tidak dibius, alat mungkin menyebabkan vagal refleks, yang melalui sistem saraf parasimpatis, yang dapat mengakibatkan cardiac arrest. Ini merupakan mekanisme yang berpotensi menimbulkan ketakutan yang dapat terjadi pada orang yang melakukan abortus kriminalis.

2.2.1 Tersangka
Akibat Abortus Provokatus Kriminalis pada ibu: Perforasi perdarahan dan peritonitis Dalam melakukan dilatasi dan kerokan harus diingat bahwa selalu ada kemungkinan terjadinya perforasi dinding uterus, yang dapat menjurus ke rongga peritoneum, ke ligamentum latum, atau ke kandung kencing. Oleh sebab itu, letak uterus harus ditetapkan lebih dahulu dengan seksama pada awal tindakan, dan pada dilatasi serviks tidak boleh digunakan tekanan berlebihan. Kerokan kuret dimasukkan dengan hati-hati, akan tetapi penarikan kuret ke luar

102007152

Pengguran kandungan

C6

dapat dilakukan dengan tekanan yang lebih besar. Bahaya perforasi ialah perdarahan dan peritonitis. Apabila terjadi perforasi atau diduga terjadi peristiwa itu, penderita harus diawasi dengan seksama dengan mengamati keadaan umum, nadi, tekanan darah, kenaikan suhu, turunnya hemoglobin, dan keadaan perut bawah. Jika keadaan meragukan atau ada tanda-tanda bahaya, sebaiknya dilakukan laparatomi percobaan dengan segera.3 Luka pada serviks uteri Apabila jaringan serviks keras dan dilatasi dipaksakan maka dapat timbul sobekan pada serviks uteri yang perlu dijahit. Apabila terjadi luka pada ostium uteri internum, maka akibat yang segera timbul ialah perdarahan yang memerlukan pemasangan tampon pada serviks dan vagina. Akibat jangka panjang ialah kemungkinan timbulnya incompetent cerviks. Pelekatan pada kavum uteri Melakukan kerokan secara sempurna memerlukan pengalaman. Sisa-sisa hasil konsepsi harus dikeluarkan, tetapi jaringan miometrium jangan sampai terkerok, karena hal itu dapat mengakibatkan terjadinya perlekatan dinding kavum uteri di beberapa tempat. Sebaiknya kerokan dihentikan pada suatu tempat apabila pada suatu tempat tersebut dirasakan bahwa jaringan tidak begitu lembut lagi. Perdarahan Kerokan pada kehamilan yang sudah agak tua atau pada mola hidatidosa terdapat bahaya perdarahan. Oleh sebab itu, jika perlu hendaknya dilakukan transfusi darah dan sesudah itu, dimasukkan tampon kasa ke dalam uterus dan vagina Infeksi Apabila syarat asepsis dan antisepsis tidak diindahkan, maka bahaya infeksi sangat besar. Infeksi kandungan yang terjadi dapat menyebar ke seluruh peredaran darah, sehingga menyebabkan kematian. Bahaya lain yang ditimbulkan abortus kriminalis antara lain infeksi pada saluran telur. Akibatnya, sangat mungkin tidak bisa terjadi kehamilan lagi.

102007152

Pengguran kandungan

C6

Lain-lain Komplikasi yang dapat timbul dengan segera pada pemberian NaCl hipertonik adalah apabila larutan garam masuk ke dalam rongga peritoneum atau ke dalam pembuluh darah dan menimbulkan gejala-gejala konvulsi, penghentian kerja jantung, penghentian pernapasan, atau hipofibrinogenemia. Sedangkan komplikasi yang dapat ditimbulkan pada pemberian

prostaglandin antara lain panas, rasa enek, muntah, dan diare. Laboratorium Darah lengkap
o

Kadar haemoglobih rendah akibat anemia haemorrhagik. LED dan jumlah leukosit meningkat tanpa adanya infeksi.

Pemeriksaan mikroskopik meliputi adanya sel trofoblas yang merupakan tanda kehamilan, kerusakan jaringan yang merupakan jejas/tanda usaha penghentian kehamilan. Ditemukan sel radang PMN menunjukkan tanda intravitalitas Tes kehamilan Tanda mungkin (probable signs) kehamilan antara lain : 1. Pembesaran perut dan uterus. 2. Perlunakan serviks dan serviks-uterus (Tanda Piscaseck) 3. Kontraksi uterus (Braxton Hicks) 4. Ballotment (palpasi kepala janin) 4. Tes hormon -HCG urine, kadar -HCG urine maksimal pada minggu 5-18. Penurunan atau level plasma yang rendah dari -hCG adalah prediktif. terjadinya kehamilan abnormal (blighted ovum, abortus spontan atau kehamilan ektopik). Tanda dugaan (Presumptive signs) kehamilan antara lain : Amenore, nausea-vomiting, malaise, polakisuria, hiperpigmentasi kulit, striae

gravidarum, kebiruan pada serviks dan vagina (Tanda Chadwick), payudara : hipertrofi mammae, hiperpigmentasi areola, hipertrofi kelenjar Montgomery, kolostrum (minggu ke 12). Tinggi fundus uteri sesuai usia kehamilan Uterus pada wanita tidak hamil kira-kira sebesar telur ayam. Pada palpasi tidak dapat diraba. Pada kehanilan uterus tumbuh secara

102007152

Pengguran kandungan

C6

teratur, kecuali jika ada gangguan pada kehamilan tersebut. Perkiraan tinggi fundus uteri sesuai usia kehamilan : Kehamilan usia 12 minggu : tepat di atas simfisis (syarat pemeriksaan vesica urinaria dikosongkan dahulu). Kehamilan usia 16 minggu : setengah jarak simfisis ke pusat. Kehamilan usia 20 minggu : tepi bawah pusat, Kehamilan usia 24 minggu : tepi atas pusat. Kehamilan usia 28 minggu : sepertiga jarak pusat ke processus xyphoideus atau 3 jari di atas pusat. Kehamilan usia 32 minggu : setengah jarak pusat ke processus xyphoideus. Kehamilan usia 36 minggu : pada 1 jari bawah processus xyphoideus. Tanda-tanda post Partus ( Masa Puperium ). Masa puerpurium atau masa nifas mulai setelah partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Akan tetapi, seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. Tanda-tanda Partus : lochia keadaan ostium uteri Golongan Darah

5. Usaha penghentian kehamilan misalnya tanda kekerasan pada genital interna/eksterna, daerah perut dan bagian bawah. Hasil darim penghentian kehamilan adalah janin IUFD, janin lahir (hidup/mati), jaringan desidua. 6. Pemeriksaan toksilogi dilakukan untuk mengetahui adanya obat atau zat yang dapat mengakibatkan abortus

2.2.2 Barang Bukti


Pemeriksaan barang bukti campuran darah dan jaringan: Pemeriksaan mikroskopik Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat morfologi sel-sel darah merah. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mencari tahu bahwa campuran darah tersebut adalah darah manusia atau hewan. Cara ini tidak dapat dilakukan bila terjadi kerusakan pada sel-sel darah tersebut. Darah yang masih basah atau baru mengering ditaruh pada kaca objek dan ditambahkan 1 liter larutan garam faal, kemudian ditutup dengan kaca penutup.
3,4

Cara lain adalah

102007152

Pengguran kandungan

C6

dengan membuat sediaan hapus dengan pewarnaan Wright atau Giemsa. Dari kedua sediaan tersebut dapat dilihat bentuk dan inti sel darah merah. Pemeriksaan mikroskopik terhadap kedua sediaan tersebut hany menentukan kelas dan bukan spesies darah tersebut. Kelas mamalia mempunyai sel darah merah berbentuk cakram dan tidak berinti, sedangkan kelas-kelas lainny berbentuk oval/elips dan berinti. Selain itu keuntungan dari sediaan hapus adalah dapat terlihat luokosit berinti banyak. Bila terlihat drum stick dalam jumlah lebih dari 0,05%, dapatlah dipastikan bahwa darah tersebut berasal dari seorang wanita. Umur janin Berdasarkan pertumbuhan bagian-bagian tubuh : Umur Kehamilan (bulan ) Ciri-ciri Pertumbuhan Hidung, telinga, jari mulai terbentuk (belum sempurna), kepala menempel ke dada, daun telinga jela, kelopak mata masih melekat, leher mulai terbentuk, belum ada deferensiasi genetalia, genetalia externa terbentuk dan dapat dikenali, kulit merah dan tipis sekali, kulit lebih tebal, kelopak mata terpisah, terbentuk alis dan bulu mata, kulit keriput, pertumbuhan lengkap/sempurna Berdasarkan inti penulangan o Calcaneus : 5 6 bulan o Talus : 7 bulan o Femur distal : 8 9 bulan o Tibia prox : 9 10 bulan

2.1.3 Hubungan janin dengan tersangaka


Untuk mengetahui hubungan antara tersangkan dengan janin tersebut dapat dilkukan pemeriksaan uji DNA Mitokondria. DNA mitokondria, berbeda dengan organel sel lainnya, mitokondria memiliki materi genetik sendiri yang karakteristiknya berbeda dengan materi genetik di inti sel. Mitokondria, sesuai dengan namanya, merupakan rantai DNA yang terletak di bagian sel yang bernama mitokondria. DNA mitokondria (mtDNA) berukuran 16.569 pasang basa dan terdapat dalam matriks mitokondria, berbentuk sirkuler serta memiliki untai ganda yang terdiri dari untai heavy (H) dan light (L). Dinamakan seperti ini karena untai H memiliki berat molekul yang lebih besar dari untai L, disebabkan oleh banyaknya kandungan basa purin. MtDNA terdiri dari daerah pengode

102007152

Pengguran kandungan

C6

(coding region)dan daerah yang tidak mengode (non-coding region). MtDNA mengandung 37 gen pengode untuk 2 rRNA, 22 tRNA, dan 13 polipeptida yang merupakan subunit kompleks enzim yang terlibat dalam fosforilasi oksidatif, yaitu: subunit 1, 2, 3, 4, 4L, 5, dan 6 dari kompleks I, subunit b (sitokrom b) dari kompleks III, subunit I, II, dan III dari kompleks IV (sitokrom oksidase) serta subunit 6 dan 8 dari kompleks V. Kebanyakan gen ini ditranskripsi dari untai H, yaitu 2 rRNA,14 dari 22 tRNA dan 12 polipeptida. MtDNA tidak memiliki intron dan semua gen pengode terletak berdampingan Sedangkan protein lainnya yang juga berfungsi dalam fosforilasi oksidatif seperti enzim-enzim metabolisme, DNA dan RNA polimerase, protein ribosom dan mtDNA regulatory factors semuanya dikode oleh gen inti, disintesis dalam sitosol dan kemudian diimpor ke organel.2,3 Daerah yang tidak mengode dari mtDNA berukuran 1122 pb, dimulai dari nukleotida 16024 hingga 576 dan terletak diantara gen tRNApro dan tRNAphe. Daerah ini mengandung daerah yang memiliki variasi tinggi yang disebut displacement loop (D-loop). D-loop merupakan daerah beruntai tiga (tripple stranded) untai ketiga lebih dikenal sebagai 7S DNA. D-loop memiliki dua daerah dengan laju polymorphism yang tinggi sehingga urutannya sangat bervariasi antar individu, yaitu Hypervariable I (HVSI) dan Hypervariable II (HVSII). Daerah non-coding juga mengandung daerah pengontrol karena mempunyai origin of replication untuk untai H (OH) dan promoter transkripsi untuk untai H dan L (PL dan PH). Selain itu, daerah noncoding juga mengandung tiga daerah lestari yang disebut dengan conserved sequence block (CSB) I, II, III. Daerah yang lestari ini diduga memiliki peranan penting dalam replikasi mtDNA.

2.3 Prosedur Medikolegal dan Etika Profesi


Medikolegal Pihak yang berwenang meminta visum et repertum Menurut KUHAP pasal 133 ayat (1) yang berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli adalah penyidik. Penyidik pembantu juga mempunyai wewenang tersebut sesuai dengan pasal 11 KUHAP. Adapun yang termasuk kategori penyidik menurut KUHAP pasal 6 ayat (1) adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia yang diberi wewenang khusus dengan

102007152

10

Pengguran kandungan

C6

pangkat serendah-rendahnya Pembantu Letnan Dua, sedangkan penyidik pembantu berpangkat serendah-rendahnya sersan dua.3 Pihak yang berwenang membuat visum et repertum Menurut KUHAP pasal 133 ayat (1), yang berwenang melakukan pemeriksaan forensik yang menyangkut tubuh manusia dan membuat Keterangan Ahli adalah dokter ahli kedokteran kehakiman (forensik), dokter dan ahli lainnya. Kewajiban dokter untuk membuat Keterangan Ahli telah diatur dalam pasal 133 KUHAP. Keterangan Ahli ini akan dijadikan sebagai alat bukti yang sah di depan sidang pengadilan (pasal 184 KUHAP). Keterangan ahli dapat diberikan secara lisan di depan sidang pengadilan (pasal 186 KUHAP), dapat pula diberikan pada masa penyidikan dalam bentuk laporan penyidik (Penjelasan Pasal 186 KUHAP), atau dapat diberikan dalam bentuk keterangan tertulis di dalam suatu surat (pasal 187 KUHAP). Prosedur permintaan visum et repertum Permintaan Keterangan Ahli oleh penyidik harus dilakukan secara tertulis, dan hal ini secara tegas telah diatur dalam KUHAP pasal 133 ayaat (2), terutama untuk korban mati. Jenasah harus diperlakukan dengan baik, diberi label identitas dan penyidik wajib memberitahukan dan menjelaskan kepada keluarga korban mengenai pemeriksaan yang akan dilaksanakan. Korban atau benda bukti yang diperiksa Tubuh manusia baik masih hidup maupun telah meninggal disertai oleh petugas kepolisian yang berwenang. Serta barang bukti yang ditemukan berada didekat korban atau tempat kejadian perkara. Penggunaan visum et repertum Kepentingan peradilan saja dan tidak boleh digunakan untuk penyelesaian klaim asuransi. Penyerahan visum visum et repertum Dengan demikian berkas Keterangan Ahli hanya boleh diserahkan kepada penyidik (instansi) yang memintanya. Pemeriksaan dilakukan dengan Pemeriksaan luar dan Pemeriksaan dalam (a) Pemeriksaan dalam (Autopsi) dilakukan dengan membuka dan memeriksa isi rongga kepala, leher, dada, perut dan panggul.

102007152

11

Pengguran kandungan

C6

(b) Pemeriksaan dengan membuka bagian tubuh lain dilakukan apabila diperlukan. Pemeriksaan tambahan adalah pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai indikasi Pembuatan visum et repertum (a).Visum et Repertum harus sudah selesai dan siap sejak pemeriksaan (b).Perpanjangan waktu pemeriksaan dapat dimintakan atau diberitahukan kepada penyidik yang bersangkutan. (c). Hasil pemeriksaan sementara dapat dibuat untuk kepentingan penyidikan. (d).Visum et Repertum dibuat dengan format dan substansi yang sesuai dengan standar yang berlaku nasional. (e).Hasil pemeriksaan harus dirahasiakan dari pihak selain penyidik peminta pemeriksaan. (f).Hasil pemeriksaan dalam bentuk terbatas dapat diberikan kepada keluarga korban, terutama apabila diduga akan terjadi obstruction of justice. Aspek Etika Kedokteran Di Indonesia, baik menurut pandangan agama, Undang-Undang Negara, maupun Etik Kedokteran, seorang dokter tidak diperbolehkan untuk melakukan tindakan pengguguran kandungan (abortus provokatus). Bahkan sejak awal seseorang yang akan menjalani profesi dokter secara resmi disumpah dengan Sumpah Dokter Indonesia yang didasarkan atas Deklarasi Jenewa yang isinya menyempurnakan Sumpah Hippokrates, di mana ia akan menyatakan diri untuk menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan. Dari aspek etika, Ikatan Dokter Indonesia telah merumuskannya dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia mengenai kewajiban umum.5,6 Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Pada pelaksanaannya, apabila ada dokter yang melakukan pelanggaran, maka penegakan implementasi etik akan dilakukan secara berjenjang dimulai dari panitia etik di masing-masing

102007152

12

Pengguran kandungan

C6

RS hingga Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK). Sanksi tertinggi dari pelanggaran etik ini berupa pengucilan anggota dari profesi tersebut dari kelompoknya. Sanksi administratif tertinggi adalah pemecatan anggota profesi dari komunitasnya. Ditinjau dari aspek hukum, pelarangan abortus justru tidak bersifat mutlak. Abortus buatan atau abortus provokatus dapat digolongkan ke dalam dua golongan yakni: 1. Abortus buatan legal Yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan menurut syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang. Populer juga disebut dengan abortus provocatus therapeticus, karena alasan yang sangat mendasar untuk melakukannya adalah untuk menyelamatkan nyawa ibu. Abortus atas indikasi medik ini diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan: PASAL 15: 1) Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu. 2) Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) hanya dapat dilakukan: a. Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut; b. Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli; c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya; d. Pada sarana kesehatan tertentu. 3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pada penjelasan UU no 23 tahun 1992 pasal 15 dinyatakan sebagai berikut: Ayat (1) : Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun, dilarang karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan dan norma kesopanan. Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu atau janin yang dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu Ayat (2) Butir a : Indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil tindakan medis tertentu sebab tanpa

102007152

13

Pengguran kandungan

C6

tindakan medis tertentu itu,ibu hamil dan janinnya terancam bahaya maut. Butir b : Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis tertentu adalah tenaga yang memiliki keahlian dan wewenang untuk melakukannya yaitu seorang dokter ahli kandungan seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan. Butir c : Hak utama untuk memberikan persetujuan ada ibu hamil yang bersangkutan kecuali dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya ,dapat diminta dari semua atau keluarganya. Butir d : Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan ditunjuk oleh pemerintah. Ayat (3) : Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanan dari pasal ini dijabarkan antara lain mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya,tenaga kesehatan mempunyai keahlian dan wewenang bentuk persetujuan, sarana kesehatan yang ditunjuk. 2. Abortus Provocatus Criminalis ( Abortus buatan illegal ) Yaitu pengguguran kandungan yang tujuannya selain untuk menyelamatkan atau menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten serta tidak memenuhi syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang. Abortus golongan ini sering juga disebut dengan abortus provocatus criminalis karena di dalamnya mengandung unsur kriminal atau kejahatan. Beberapa pasal yang mengatur abortus provocatus dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP): Etik kedokteran dan hukum kesehatan dalam obstetric ginekologi Masalah-masalah yang berhubungan dengan reproduksi manusia merupakan masalah yang sangat khusus dan paling rumit ditinjau dari segi etik, agama, hukum dan sosial, terlebih dengan begitu pesatnya perkembangan dalam bidang obstetri ginekologi dalam tiga dekade terakhir ini. Masalah-masalah kontrasepsi, aborsi, teknologi reproduksi buatan, operasi plastik selaput dara dan sebagainya, memerlukan perhatian penuh pihak profesi kedokteran, hukum, agama dan masyarakat luas. Abortus Provokatus Masalah aborsi telah dibahas di berbagai pertemuan ilmiah dalam lebih dari 3 dekade terakhir ini, baik di tingkat nasional maupun regional, namun hingga waktu ini Rancangan Pengaturan Pengguguran berdasarkan Pertimbangan Kesehatan belum terwujud. Secara umum

102007152

14

Pengguran kandungan

C6

hal ini telah dicantumkan dalam undang-undang kesehatan, namun penjabarannya belum selesai juga. Kehampaan hukum itu menyangkut pula tindakan abortus provokatus pada kasus-kasus kehamilan karena perkosaan, kehamilan pada usia remaja putri (usia kurang dari 16 tahun, yang belum mempunyai hak untuk menikah), kehamilan pada wanita dengan gangguan jiwa, kegagalan kontrasepsi dan wanita dengan grande multipara. Seorang dokter harus senantiasa mengingat akan kewajibannya melindungi hidup insani (KODEKI pasal 10). Undang-undang no.23 tahun 1992 tentang kesehatan menyatakan bahwa dalam keadaan darurat, sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medik tertentu dan ini dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian, dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya dan dilakukan pada sarana kesehatan tertentu. Dalam KUHP secara rinci terdapat pasal-pasal yang mengancam pelaku abortus ilegal sebagai berkut : a. Wanita yang sengaja menggugurkan kandungan atau menyuruh orang lain melakukannya (KUHP pasal 346, hukuman maksimum 4 tahun). b. Seseorang yang menggugurkan kandungan wanita tanpa seijinnya (KUHP pasal 347, hukuman maksimum 12 tahun dan bila wanita itu meninggal, hukuman maksimum 15 tahun). c. Seorang yang menggugurkan kandungan wanita dengan seijin wanita tersebut (KUHP pasal 348, hukuman maksimum 5 tahun 6 bulan dan bila wanita itu meninggal, hukuman maksimum 7 tahun). d. Dokter, Bidan atau Juru Obat yang melakukan kejahatan di atas (KUHP pasal 349, hukuman ditambah sepertiganya dan pencabutan hak pekerjaannya). Dalam pasal 80 UU Kesehatan tercantum, bahwa Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang tidak dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu dan atau janin yang dikandungnya, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan pidana denda paling banyak Rp.500.000.000,- (limaratus juta rupiah).

102007152

15

Pengguran kandungan

C6

2.4 Aspek Hukum


Menurut hukum, penguguran kandungan adalah tindakan penghentian kehamilan atau mematikan janin sebelum waktunya kelahiran, tanpa melihat usia kandungan. Ini terlihat dari ketentuan undang-undang sebagai berikut :3,7 KUHP Pasal 299 1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama 4 tahun, atau pidana denda paling banyak empat puluh ribu rupiah 2) Jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keuntungan atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan atau jika dia seorang tabib, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga 3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencarian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian tersebut KUHP Pasal 346 Seorang perempuan yang sengaja menggugurkan atau memastikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun KUHP Pasal 347 1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang perempuan tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun 2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya perempuan tersebut, iancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun

102007152

16

Pengguran kandungan

C6

KUHP Pasal 348 1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang perempuan dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan 2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya perempuan tersebut, diancam paling lama tujuh tahun KUHP Pasal 349 Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterapkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan. Dalam KUHP Pasal 299 terlibat tiga orang: 1) Barang siapa dengan sengaja mengobati 2) Barang siapa meyuruh supaya diobati 3) Pasien sendiri Seorang abortur adakalanya tidak bekerja sendirian, tetapi mempunyai seorang pembantu, seorang kaki tangan atau seorang calo, untuk orang inilah berlaku: barang siapa menyuruh supaya diobati. Yang penting dalam pasal ini: diberitahukan atau ditimbulkan harapan bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan. Si perempuan dalam pasal ini tidak perlu hamil, tetapi cukup bahwa dia merasa hamil. Obat yang diberikan tidak perlu harus mujarab, dapat diberikan secangkir air yang sudah diberi mantra, yang penting adalah memberikan atau menimbulkan harapan bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan.5 Yang diancam dengan hukuman adalah: 1) Si perempuan sendiri yang hamil

102007152

17

Pengguran kandungan

C6

2)

Barang siapa dengan sengaja menggugurkan Pada butir (1) si perempuan tidak perlu melakukan sendiri penguguran itu, tetapi ia dapat

menyuruh orang lain untuk itu. Untuk orang lain itu kemudian berlaku butir (2). Dalam ketiga pasal dijumpai:

Dengan sengaja mematikan kandungan Dengan sengaja menggugurkan kandungan

Mematikan kandungan berarti mematikan anak dalam kandungan yang masih hidup. Karena anak yang dikeluarkan sudah mati, maka pembuktian bahwa anak masih hidup dalam kandungan sulit dilakukan, bahkan mungkin tidak dapat dilakukan. Dengan sengaja menggugurkan kandungan yang dinilai adalah perbuatan. Di rumah sakit, bila anak dalam kandungan sudah mati, dokter tidak tergesa-gesa mengeluarkannya, kecuali ada indikasi untuk itu, seperti pendarahan yang parah, bahaya infeksi yang mengancam sang ibu. Biasanya anak yang mati dalam kandungan akan lahir sendiri, sebab anak yang mati merupakan benda asing bagi ibunya. Jarang sekali anak yang mati dalam kandungan tidak dikeluarkan, tetapi cairan dalam tubuh anak kemudian diserap, diabsorpsi, sehingga anak menjadi keras membatu: lithopedion. Dalam pasal mengenai pengguguran tidak disinggung tentang umur anak dalam kandungan, ini berarti pengguguran dapat dilakukan sejak dari saat pembuahan sampai anak hampir dilahirkan. Anak yang digugurkan tidak perlu selalu mati setelah keluar dari rahim, ini dapat terjadi bila pengguguran dilakukan pada kandungan 28 minggu.

2.5 Visum et Repertum


Contoh Visum et Repertum pada kasus ini: --------------------------------------------------------------------------------------------------------DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK&MEDIKOLEGAL RUMAH SAKIT Dr. CIPTO MANGUNKUSUMO

102007152

18

Pengguran kandungan

C6

Jl. Salemba Raya No.6, Jakarta 10430, telp:021-3106976 --------------------------------------------------------------------------------------------------------VISUM ET REPERTUM No.: 21/TU.FK/I/2011 PRO JUSTITIA Jakarta, 18 Januari 2011 Yang bertanda tangan di bawah ini: ......., dokter Rumah Sakit Umum Meloy, atas permintaan dari ........ dengan nomor: ..... tertanggal ..... dengan ini menerangkan bahwa pada tanggal ..... pukul ...., bertempat di Rumah Sakit Umum Ukrida telah melakukan pemeriksaan terhadap korban dengan nomor registrasi: ..... yang menurut surat tersebut adalah, Nama : . Jenis kelamin : . Umur : . Alamat : . Kebangsaaan : . ..HASIL PEMERIKSAAN.. Pemeriksaan Luar: Pemeriksaan Dalam : Pemeriksaan Tambahan: . ..KESIMPULAN.. Demikianlah Visum Et Repertum ini dibuat dengan sebenarnya dengan menggunakan keilmuan sebaik-baiknya, mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Dokter Pemeriksa, dr......

2.6 Kesimpulan
Penemuan botol yang berisi campuran darah dan jaringan yang diduga adalah hasil dari suction dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan sebagai barang bukti.

Pemeriksaan awal yang dilakukan adalah menentukan bahwa darah yang berada pada botol tersebut adalah darah manusia. Pada wanita yang dicurigai tersebut juga dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah campuran darah dan jaringan tersebut ada hubungannnya dengan mereka. Pemeriksaan dilakukan oleh Dokter Obstetri dan Ginekologi untuk menilai tanda-tanda pernah melakukan abortus. Tanda-tanda dilihat dari masih adakah bekas persalinan, tanda

102007152

19

Pengguran kandungan

C6

kehamilan sebelumnya, dan laboratorium HCG. Untuk menentukan adanya hubungan antara tersangka dan hasil section tersebut maka dilakukan pemeriksaan DNA mitokondria. Pengguguran kandungan di Indonesia merupakan suatu tindakan kejahatan apabila tidak memiliki indikasi khusus seperti dapat membahayakan jiwa sang ibu, oleh karena itu korban aborsi dalam hal ini adalah perempuan yang melakukan aborsi serta tenaga ahli (dokter) akan dikenakan hukuman sesuai undang-undang yang berlaku. Selain dikenakan hukuman menurut undang-undang, dokter juga melanggaran Kode Etika Profesi Dokter yang dapat dikenakan sanksi berupa pencabutan izin praktek, pengucilan dan lain-lain.

102007152

20

Pengguran kandungan

C6

BAB III PENUTUP


Salah satu masalah yang dikemukakan dalam lapangan ilmu kedokteran adalah desakan berbagai pihak agar masalah saat kapan dimulainya sebuah kehidupan dan pula saat kehidupan itu dianggap tidak ada, dapat diagendakan secepatnya. Abortus atau pengguguran kandungan selalu menjadi permasalahan dari masa ke masa. Di lain pihak ada keadaan yang memaksa pengguguran kandungan yang harus ditempuh (provokasi) untuk menyelamatkan nyawa ibu hamil, tetapi banyak pula pengguguran dilakukan bukan untuk tujuan ini. Yang terakhir inilah yang menjadi permasalahan karena dalam pandangan masyarakat, hukum dan agama tindakan abortus bertentangan dengan kaidah yang baik. Dalam pengertian medis, abortus adalah gugur kandungan atau keguguran dan keguguran itu sendiri berarti berakhirnya kehamilan, sebelum fetus dapat hidup sendiri di luar kandungan. Batas umur kandungan yang dapat diterima didalam abortus adalah sebelum 28 minggu dan berat badan fetus yang keluar kurang dari 1000 gram. Sehingga peran dokter sekarang harus sangat ditingkatkan dalam hal membantu atau menolong masyarakat, sehingga tidak ada terjadi lagi dokter yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri.

102007152

21

Pengguran kandungan

C6

DAFTAR PUSTAKA
1. Abortus dalam kaitannya dengan ilmu kedokteran forensic dan medikolegal. Unduh dari http://forensikmed.com/provokatus/papers, 18 Jan 2011. 2. Staf pengajar bagian kedokteran forensik fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran. Cetakan ke-2. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1994. h. 41-2. 3. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Munim TWA, Sidhi, Hertian S dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997: 159-64. 4. Abortus provocatus dan hukum. Unduh dari www.contohskripsitesis.com/.../abortus%20provocatus%20dan%20hukum.doc,18 2011. 5. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Munim TWA, Sidhi, Hertian S dkk. Pemeriksaan laboratorium forensic sederhana. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997: 14-5. 6. Adiraansz G, Hanafiah TM. Diagnosis kehamilan. Dalam Ilmu kebidanan, Prawirohardjo S. Jakarta: PT. Bina pustaka; 2008.p. 213 7. Abortus provocatus criminalis. Unduh dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17739/4/Chapter%20I.pdf, 18 Jan 2011. Jan

102007152

22