Anda di halaman 1dari 1

Pelajaran Kelas 3 SMA dari Pak Hamam

Bodong ye!, ungkapan tersebut selalu melekat di otakku setiap aku mengingat Pak Hamam. Kata-kata tersebut merupakan kata-kata yang selalu diucapkannya untuk mengekspresikan rasa tidak mungkin, kamu nakal, dan sebagainya. Pak Hamam adalah guru kelas 3 MI (Madrasah Ibtidaiyah-setingkat SD) di MI AlMuwazanah merupakan guru kelas dan wali kelas ku pada saat itu. Dulu guru kelas merupakan guru yang bisa di semua bidang di kelas itu. Baik itu Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, Agama, dan masih banyak lagi. Bisa dibilang bahwa guru kelas harus semua bisa. Sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengan Beliau. Lebih dari 4 atau 5 tahun mungkin aku tidak bertemu beliau. Meskipun begitu, aku tidak pernah melupakannya. Bisa dibilang bahwa beliau merupakan guru paling berkesan yang aku dapat waktu MI ku dulu. Karena dari beliau inilah aku diajari untuk unggahungguh (sopan santun) dalam menuntut ilmu dan berperilaku. Mungkin dari situ pula Humility menjadi salah satu personal values yang selalu coba aku jaga. Pelajaran-pelajarn dari Pak Hamam waktu aku MI memang sepertinya jarang yang aku ingat. Aku hanya bisa mengingat hal-hal secara general saja. Tidak ada hal yang khusus, sebatas bahwa kita harus menjadi orang yang rendah ahti, tahu terimakasih, dan menghormati orang yang lebih tua. Hari ini bertepatan dengan hari raya Idul Fitri 1433 H aku kembali berkunjung ke rumah beliau. Aku dapat 3 hal esensial dari beliau. Pertama adalah: Punya cita-cita, Doa Restu Orang tua, dan Ridho dari guru. Pak Hamam bertutur kalau beliau member nasihat kepadaku karena beliau percaya bahwa bisa saja aku berhasil dan beliau memberikan tips ini kepadaku. Jika setiap orang ingin berhasil, mereka harus punya cita-cita atau tujuan hidup. Kalau mereka punya impian, otomatis mereka akan memperjuangkan impian tersebut. Tetapi kalau nggak, maka hidup mereka akan flat-flat saja. Kalau kamu ada tujuan untuk pergi ke rumah teman, otomatis kamu akan berusaha untuk sampai kesana. Entah nanti mau nebeng, naik sepeda, motor, atau mobil itu merupakan cara kita masingmasing. Yang paling penting tentu saja kita sudah punya tujuan itu. Beliau juga percaya bahwa karena dalam masalah inetelektual aku diatas rata-rata, maka beliau berpesan