Anda di halaman 1dari 6

SALAT TARAWIH NABI DAN SALAT TARAWIH PARA SAHABAT NABI SAW. Oleh : Drs.

Tasdik Abdul Wahhab A. Mukadimah Sepintas membaca judul diatas, mungkin para pembaca akan terkesan bahwa ada perbedaan tata cara pelaksanaan salat tarawih yang dilakukan Rasulullah saw dengan tata cara salat tarawih yang dilakukan para sahabat Nabi saw. Atau yang lainnya akan terkesan seolah-olah tata cara salat tarawih para sahabat telah menyimpang dari tata cara salat tarawih yang telah dicontohkan Rasulullah saw, dengan kata lain mereka melakukan bidah dhalalah (bidah yang sesat). Namun tidaklah demikian halnya. Maksud judul yang saya tulis diatas adalah agar para pembaca dapat mengetahui dasar-dasar hukum/dalil-dalil/nash-nash yang selama ini seolah-olah ada pertentangan diantara ummat Nabi saw. yang melaksanakan salat tarawih 11 (sebelas) rakaat dengan tarawih yang 23 (dua puluh tiga) rakaat seperti yang dilaksanakan oleh para sahabat Nabi saw. Dalil-dalil yang dijadikan dasar pelaksanaan tarawih baik yang 11 (sebelas) rakaat maupun yang 23 (dua puluh tiga) rakaat akan disajikan dengan lengkap dan diberi penjelasannya agar para pembaca memiliki pemahaman. Setelah membaca ini , bagi yang berbeda paham deharapkan memiliki sikap tasamuh (toleransi dan besar jiwa) sehingga tidak gampang menyalahkan orang lain, lebih-lebih menyebut dengan kata-kata bidah. Selamat menyimak. B. Pengertian Salat Tarawih Tarawih bentukan dari kata : Rowwaka Yurowwihu Tarowiihan Watarwiihatan

Artinya istirahat. Salat Tarawih berarti salat istirahat atau salat yang diselingi dengan istirahat setelah mencapai jumlah rakaat tertentu. Hal ini didapat dari kebiasaan para sahabat Nabi saw. yang senantiasa melakukan duduk istirahat setiap selesai 4 (empat) rakaat salat tarawih. Istirahat ini digunakan untuk berdzikir dan berdoa. Istilah/sebutan salat tarawih dikenal sejak zaman para sahabat Nabi saw. dan para tabiin (pengikut/murid para sahabat), bukan nama/istilah yang disebutkan oleh Rasulullah saw. Adapun Nabi saw. menyebut istilah salat tersebut dengan istilah qiyamur ramadhan sebagai nama sabda Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahat Abu Hurairah r.a.

Barang siapa yang melaksanakan qiyamur ramadhan dengan iman dan penuh perhitungan, maka Allah akan mengampuni dosanya yang lalu. (HR. Bukhari Muslim). Hadits diatas itulah yang dijadikan dasar adanya salat ramadhan/qiyamur ramadhan yang kemudian dikenal dengan sebutan salat tarawih. C. Salat Ramadhan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Rasulullah saw. amat menggemari salat pada bulan ramadhan. Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh sahabat Abu Hurairah r.a. :

Adalah Rasulullah saw. sangat menggemari salat pada bulan ramadhan dengan perintah yang tidak memberatkan, beliau bersabda : Barangsiapa yang melaksanakan qiyamur ramadhan dengan iman dan penuh perhitungan, Allah akan mengampuni dosanya yang lalu (HR. Abu Dawud). a.) Salat 3 (tiga) malam pada Bulan Ramadhan (Hadits dibawah ini dianggap sebagai dasar hukum permulaan salat tarawih yang dilakukan Rasulullah saw.) Hadits ke-1

Telah diberitahukan kepada kami Ahmad bin Sulaiman, yang diterimanya dari Zaid bin Husbab, telah berkata kepadanya, Muawiyah bin Shalih, dan menerimanya dari Nuaim bin Ziyad Abu Thalhah, saya telah mendengar dari Numan bin Basyir, diatas mimbar Himshu berkata Numan, kami berada bersama Rasulullah saw. pada bulan ramadhan pada malam 23 sampai sepertiga malam yang pertama. Kemudian kami berdiri (salat bersama Rasulullah saw). Pada malam 25 sampai tengah malam, kemudian kami salat bersama Rasulullah saw. Dan pada malam 27 sampai kami menyangka waktu sahur habis waktunya, dan kemudian kami sahur (HR. Nasai). Hadits ke-2 : berkaitan dengan hadits ke-1 Sesungguhnya Rasulullah saw. keluar pada suatu malam, di larut malam kemudian salat di masjid, dan salatlah orang-orang (sahabat-sahabatnya) mengikuti salatnya Rasulullah saw. Maka ramailah orang-orang berbicara (bahwa malam tadi kami salat bersama Rasulullah saw.), maka berkumpulah para sahabat (pada malam berikutnya dan jumlah jamaah bertambah banyak bila dibandingkan dengan malam pertama), maka salatlah sahabat-sahabat itu bersama Rasulullah saw. Kemudian pada pagi harinya berbicaralah para sahabat-sahabat itu (bahwa malam tadi kami salat bersama Rasulullah saw.) Akhirnya makin banyak lagi para sahabat yang berkumpul pada malam ketiga itu, untuk mengikuti salat bersama Rasulullah, kemudian keluarlah Rasulullah pada malam ketiga itu dan salatlah sahabat-sahabat bersama Rasulullah saw. Namun pada malam keempat, (Rasulullah saw. pada malam itu tidak datang ke lagi masjid), dan sahabat-sahabat menuggunya sampai datangnya waktu salat subuh. Maka setelah salat subuh, kemudian Rasulullah menghadap ke sahabat-

sahabat itu, kemudian Rasul mengucapkan syahadat. Dan Rasulullah bersabda Amma Badu. Maka sesungguhnya tidak ada kekhawatiran tentang apa yang dilakukan (ibadah ramadhan dan qiyamur ramadhan/tarawihmu itu). Namun yang dikhawatirkan aku itu adalah salat yang tiga malam itu, sebab kamu (sahabatsahabat) tidak akan mampu melakukannya. Sampai Rasulullah wafat aturan itu hanya sampai di situ (tidak dilakukan lagi Rasul dan sahabat-sahabatnya). (HR. Bukhari. 1:234) Hadits ke-3 : memperkuat hadits ke-2

Sesungguhnya Rasulullah saw. telah keluar, tengah malam kemudian beliau salat di masjid, maka salatlah orang-orang (sahabat-sahabat) mengikuti salatnya Rasulullah. Maka ramailah orang-orang berbicara bahwa malam tadi kami salat bersama Rasulullah. Dan berkumpulah sahabat-sahabat (makin banyak jumlahnya dibandingkan dengan malam pertama) maka salatlah sahabat-sahabat itu bersama Rasulullah. Kemudian pada pagi harinya mereka itu berbicaralah kepada para sahabat lainnya bahwa tadi malam salat berjamaah bersama Rasulullah. Pada malam ketiga makin banyaklah para sahabat-sahabat yang berkumpul apabila dibandingkan dengan malam kedua, maka salatlah sahabat-sahabat itu bersama Rasulullah. Adapun pada malam keempatnya Rasulullah tidak datang ke masjid, sedangkan sahabat-sahabat menuggunya dengan jumlah makin banyak apabila dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya, sampai datangnya salat fajar, salat subuh. Setelah selesai salat subuh kemudian Rasulullah menghadap ke sahabat-sahabat, membicarakan bahwa beliau tidak datang tadi malam. Kemudian beliau menjelaskannya sebagai berikut tidak ragu-ragu lagi bagiku tentang qiyamur ramadhan (salat tarwwih) yang dilakukan kamu wahai sahabat-sahabat, adapun yang sangat dikhawatirkan bagiku itu adalah diwajibkannya salatullail (yaitu salat yang 3 malam itu). Kamu tidak akan mampu. (HR. Muslim 1 : 305-306) Mari kita simak dan analisa ketiga hadits tersebut diatas. 1) Rasullah saw. pernah melaksanakan salat pada bulan Ramadhan yang diikuti secara berjamaah oleh para sahabat selama tiga malam, yaitu pada malam ke23,25,dan 27. 2) Salat tiga malam itu dilaksanakan tengah malam sampai menjelang waktu sahur. 3) Pelaksanaan salat malam itu hanya berjalan tiga malam. Setelah itu dihentikan oleh Rasulullah saw. dan para sahabata pun tidak melanjutkannya. 4) Pada malam berikutnya (malam keempat dan seterusnya), Rasul tidak ke masjid, akan tetapi para sahabat tetap melaksakan salat sebagaimana yang biasa dilakukan sebelumnya yaitu qiyamur ramdhan/tarawih. Hal ini sebagaimana ungkapan Nabi kepada para sahabat.

5) Tidak ada satupun penulis hadits riwayah (seperti Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hiban, Darquthi, Baihaqi) yang menyebutkan berapa jumlah rakaat salat tiga malam itu. 6) Ibnu Hibban menyebut jenis salat yang tiga malam itu sebagai salat witir yang di berjamaahkan, yang kemudian diberhentikan oleh Rasulullah karena takut akan menjadi wajib. 7) Sedangkan Imam Bukhari menyebutnya dengan salat malam. Kesimpulan : Kalau hadits tersebut diatas dijadikan dasar salat tarawih, maka kita harus melakukannya tiga malam saja, dengan waktu pelaksanaannya tengah malam sampai menjelang sahur. Tapi Rasulullah saw. sudah menghentikannya sampai akhir hayatnya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Bukhari dan Muslim dengan redaksi : (Aturan itu hanya sampai disitu, tidak lagi diteruskan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat sampai akhir hayatnya). b.) Salat 11 (sebelas) rakaat pada bulan Ramadhan Bulughul-maram Dari Aisyah r.a. ia berkata : Tidak pernah Rasulullah saw. melakukan salat (sunnat) pada bulan Ramadhan dan pada bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat, jangan engkau tanyakan bagus dan lamanya, kemudian salat lagi empat rakaat, jangan engkau tanyakan bagus dan lamanya, kemudian beliau salat tiga rakaat. Aisyah berkata, saya bertanya : Ya Rasulullah, apakah engkau tidur (dahulu) sebelum salat witir? beliau menjawab : Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, tapi hatiku tidak tidur. (HR. Bukhari Muslim). Hadits ini dijadikan dasar hokum pelaksanaan tarawih 11 rakaat dengan pola rakaat 4-4-3. Mari kita simak dan analisa hadits tersebut diatas : 1) Hadits tersebut dari riwayah Abu Salamah bin Abdurrahman, yang diawali dengan pertanyaan : Bagaimana keadaan salat Rasulullah saw.? 2) Kalimat pertanyaannya tidak menyebutkan tentang salat apa? 3) Salat ini dilakukan dengan rakaat 4-4-3. 4) Siti Aisyah menyebutnya salat witir sebagaimana pertanyaannya terhadap Rasulullah saw. :

Apakah engkau tidaur dulu sebelum salat witir itu? Dijawab oleh Rasulullah saw. :

Wahai Aisyah sesungguhnya kedua mataku ini tidur, tapi hatiku tidak. 5) Oleh karena itu, salat Rasulullah saw. yang disebutkan tadi dilakukan setelah tidur. Jadi, salat tarawih dengan pola rakaat 4-4-3 berdasarkan hadits diatas, rasanya tidak tepat, karena Nabi saw. melakukannya setelah tidur. 6) Memperhatikan jawaban Rasulullah saw. atas pertanyaan Siti Aisyah, tampak jelas bahwa salat tersebut dilaksanakan setelah tidur. 7) Imam Maliki menjelaskan bahwa hadits Siti Aisyah diatas adalah tentang salat witir Rasulullah saw. yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan dan diluar bulan Ramadhan dengan jumlah 11 rakaat dengan 3 salam dengan pola rakaat 4-4-3, sebagaimana salat witir 3 rakaat dijadikan 2 salam dengan pola 2-1. Dan ini sebagai dalil bahwa salat witir itu dilakukan minimal 1 rakaat dan paling banyak 11 rakaat. Perhatikan nash-nash tentang salat witir :

a. Riwayah : Abu Dawud, Ibnu Majah, An NasaI, yang disahkan oleh Ibnu Hiban. Dari Abu Ayub Al-Anshari r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda : Salat witir itu adalah hak bagi setiap muslim. Barangsiapa yang mau salat witir lima rakaat, laksanakan ; dan barangsiapa mau witir tiga rakaat, laksanakan; barangsiapa mau witir satu rakaat laksanakan: b. Riwayat Darquthi, Hakim, Ibnu Hiban, dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah saw. bersabda : Berwitirlah kalian, dengan lima rakaat, atau tujuh rakaat, atau Sembilan rakaat, atau sebelas rakaat. Kesimpulan : Kalau hadits dari Siti Aisyah tersebut dijadikan dasar hukum pelaksanaan salat tarawih 11 rakaat dengan pola 4-4-3, maka yang sesuai dengan contoh Rasulullah saw. adalah harus dilaksanakan setelah tidur, tidak dilaksanakan setelah salat isya. TERTULIS DALAM KITAB SUBULUSSALAAM jilid II halaman 13 (mengomentari hadits riwayah Siti Aisyah) Seakan Nabi saw. tidur dulu setelah empat rakaat (kedua/8 rakaat) lalu bangun, terus salat witir 3 rakaat (Ini tafsiran Subulussalaam)

Tanggapan : Kalau memang begitu, maka tarawih dengan hadits diatas harusnya 8 rakaat setelah isya, lalu witir tiga rakaat setelah tidur. Tapi redaksi hadits itu tidak demikian (4-4-tidur-3 rakaat). Wallahu ALam Bilmusadi.