Anda di halaman 1dari 10

Diadakannya tugas-tugas yang lebih praktis (seperti dalam IPA), termasuk tugas yang memanfaatkan lingkungan sosial dan

alam

Anak menggunakan lebih banyak alat bantu belajar

Hasil kerja anak ditulis dengan kata-kata mereka sendiri (ini adalah hasil karya anak kelas 1)

Sudut-sudut baca/perpustakaan sekolah dibuat dan dimanfaatkan

Guru menunjukkan fleksibelitas dalam pengelolaan murid dalam pelaksanaan pembelajaran

Hasil kerja anak dipajangkan di kelas

Contoh Pembelajaran Ilmu Sains SITUBONDO: Sains Class di SDN 2 Wringin Anom
Kepala sekolah, guru, dan Komite SDN 2 Wringin Anom salah satu sekolah binaan MBE di Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo melakukan berbagai inovasi termasuk salah satu program yang namanya Sains Class. Munculnya ide Sains Class berawal dari rapat sekolah. Adanya keinginan dari Kepala Sekolah dan Guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Adanya laboratorium yang merupakan sumbangan bangunan bagi sekolah korban banjir dan juga tersedianya alat-alat praktik IPA yang merupakan hibah bagi sekolah binaan SEQIP akhirnya muncul ide mengadakan Sains Class. Sains Class ini diperuntukkan khusus mata pelajaran IPA untuk siswa kelas tiga, empat, lima dan enam dengan memanfaatkan laboratorium yang didesain menjadi sebuah kelas. Pola pelaksanaannya dengan cara Moving Class, yaitu ketika pelajaran IPA semua siswa di kelas tersebut pindah ke kelas IPA. Dengan Moving Class diharapkan memberi suasana baru kepada siswa sehingga siswa lebih termotivasi untuk belajar.

KEBUMEN: Anak Menulis Percakapan


Di SD Benerkulon, Kecamatan Ambal, Kebumen siswa kelas 6 telah menulis percakapan bersama temannya. Percakapan lalu dipraktikkan melalui telepon benang yang dibuat siswa sendiri. Kegiatan ini sederhana tetapi efektif dan menyenangkan! Kanan: Bpk Suyanto, guru kelas 6 mendengarkan siswi membacakan percakapan ke dalam telepon benang.

PURWOREJO: Anak Menceritakan Gambar


Kanan: Anak-anak kelas 2 SD 1 Kutoarjo, Purworejo sedang memotong dan mengurutkan gambar tentang hujan dan banjir. Kemudian mereka menulis cerita sesuai isi gambar.

SMPN 5 Kutoarjo: Praktik Sains


Siswa kelas 9 di SMPN 5 Kutoarjo, Purworejo biasa melakukan praktik pada saat pembelajaran sains. Pada gambar 1 mereka mengetahui bahwa daya listrik dapat dibangkitkan dari buah-buahan. Selain itu pada gambar 2 siswa kelas 9 lainnya dibantu gurunya Bpk Giono, belajar tentang seleksi alam dengan melakukan percobaan di luar kelas dengan potongan kertas kecil.

Atas: Kepala Sekolah SDN 2 Wringin Anom mensosialisasikan rencana " Sains Class " Bawah: Siswa kelas VI mengidentifikasi " Sifat - Sifat Magnet "

Dan hal tersebut benarlah ada-nya, siswa lebih senang dan termotivasi untuk belajar IPA. Tanpa di komando, ketika jam pelajaran IPA mereka bergerak sendiri ke kelas IPA dan juga produk belajar yang dihasilkan siswa lebih kreatif dan bervariatif. Hal tersebut terbukti ketika salah seorang siswa mampu menjuarai Olimpiade IPA tingkat kecamatan dan akhirnya juga lolos sebagai salah seorang wakil dari kabupaten Situbondo pada Olimpiade IPA tingkat propinsi Jawa Timur. Terlaksananya program "Sains Class" di SDN 2 Wringin Anom tidak terlepas dari dukungan Komite Sekolah. Wali murid menyediakan prasarana yang dibutuhkan, berupa meja siswa terbuat dari bahan jati sebanyak delapan buah, 35 kursi plastik, dan sebuah papan white board beroda.

Petani Tulungrejo Menjadi Mitra Guru


Pembelajaran dengan memanfaatkan ahli/pakar secara langsung telah dilakukan di SDN Tulungrejo 04, Bumiaji, Kota Batu. Model yang dikembangkan oleh Ibu Prihastutik adalah menjalin kemitraan dengan petani dalam mengelola pembelajaran tentang perkembangbiakan tumbuhan secara vegetatif di Kelas VI. Para petani, yang terdiri dari petani apel, strawberi, kentang, bawang merah, dan jamur, terlibat langsung sebagai "guru". Jadi selain ikut mengajar, para petani juga ikut memberi penilaian.

MADIUN: Anak Mencari Informasi di Atlas


Dengan kegiatan belajar mengajar yang tradisional guru bisa memberi tahu lebih banyak kepada siswa. Dengan PAKEM lebih baik anak mencari informasi sendiri, dengan memperhatikan hal berikut: keterampilan siswa mencari informasi sama penting (atau lebih penting) daripada informasinya sendiri. Kanan: siswa kelas 6 SD Kanigoro 3, Madiun mencari informasi mengenai laut-lautan di sekitar Indonesia.

PURWOREJO: Pembelajaran Praktik di SD Pacor 2


Salah satu sekolah yang semangatnya tinggi di Kecamatan Kutoarjo, Purworejo adalah sekolah pinggiran, yaitu SD Pacor 2. Yang diutamanakan adalah pembelajaran yang praktik, efektif dan menyenangkan. Di samping ada tiga contoh, salah satunya melibatkan masyarakat untuk membantu pembelajaran muatan lokal.

Tenyata dengan model ini siswa belajar sangat antusias dan penuh semangat. Mereka dapat mencapai kompetesi baik dari aspek pemahaman konsep maupun kerja ilmiah. Berikut adalah komentar para petani: "ini adalah pengalaman pertama menjadi guru", "kami sangat senang", "Setiap saat anak boleh datang ke sini", "apakah saya memberi nilai terlalu pelit?". Tentu yang paling berbahagia atas keberhasilan dari pembelajaran ini adalah Ibu Prihastutik. Karena model pembelajaran ini telah mengantarkan Ibu Tutik menjadi Juara III Lomba KREATIVITAS SAINS DAN MATEMATIK Tingkat Jawa Timur. Selamat! Siapa lagi yang akan menyusul untuk menjadi guru yang kreatif ???

1. Anak kelas 6 dipandu Nyonya Parso, anggota masyarakat setempat membuat besek dari bambu. 2. Anak kelas 6 biasa memperbaiki sepeda di bawah bimbingan Kepala Sekolah Bpk Ngadino. 3. Anak kelas 2 menyusun soal dengan menggunakan lidi.

Permainan "Puzzle Domino" Untuk Pembelajaran Pecahan


Mendengar kata DOMINO pikiran kita akan langsung tertuju pada kartu permainan dengan bulatan-bulatan merah berjumlah 1-6. Biasanya kita menggunakan domino untuk bermain sambil mengisi waktu luang. Tetapi tidak bagi ibu Juliati, Guru kelas III dari SD Songgokerto III Batu. Domino dimodifikasi dan digunakan sebagai media bagi pembelajaran pecahan pada siswa kelas III SD. Dan mengantarkan Ibu Juli sebagai JUARA I lomba KREATIVITAS GURU SAINS DAN MATEMATIK tingkat Jawa Timur. Selamat untuk Bu Juli. Layaknya permainan domino, Ibu Juli memodifikasi bulatan-bulatan domino, dan inilah contohnya:

PURWOREJO: Mencicipi Berbagai Makanan


Di SD Wonorejo Kulon, Kecamatan Butuh, Purworejo anak juga praktik sains untuk mengetahui di mana di

lidah letaknya berbagai rasa: rasa asam, manis, pahit dan asin. Mereka mencicipi berbagai bahan untuk mengetahui hal tersebut. Pada gambar di sebelah kanan perhatikanlah bahwa guru-guru, Ibu Sri Wahyuni (kiri) dan Ibu Sumarti (kanan) ikut mencoba. Hal ini memberi semangat kepada siswa!

Aturan permainan dalam pembelajaran ini adalah: 1. Pembelajaran pecahan-pecahan yang ekivalen. Siswa memasangkan gambar dengan angka atau angka dengan angka atau gambar dengan gambar yang senilai atau ekivalen. Pembelajaran perbandingan dua pecahan yang nilainya berbeda lebih besar. Siswa memasangkan suatu gambar dengan angka atau angka dengan angka atau gambar dengan gambar yang nilainya lebih besar Pembelajaran perbandingan dua pecahan yang nilainya berbeda lebih kecil. Aturan permainannya yaitu siswa memasangkan suatu gambar dengan angka atau angka dengan angka atau gambar dengan gambar yang nilainya lebih kecil.

2.

MADIUN: Anak Kelas 1 SD Menulis Tentang Bagian Tubuh


Banyak guru berpendapat bahwa pembelajaran sulit diterapkan. Padahal banyak ide yang mudah diterapkan. Yang penting anak yang aktif dengan misalnya berfikir dan menulis. Bawah: Selin, siswi kelas 1 SD Nambangan Kidul, Madiun telah menggambar dan menulis tentang bagian-bagian tubuh.

3.

Dengan menggunakan media domino yang dimodifikasi menjadi puzzle ini ternyata murid-murid kelas III menjadi lebih mudah memahami konsep pecahan. Siswa-siswa juga merasa senang karena mereka dapat belajar melalui bermain.

http://www.pendidikan.net/pakem.html

STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL


March 10, 2010 s3s3p CTL merupakan strategi yang melibatkan seswa secara penuh dalam proses pembelajarannya. Siswa didorong ntuk beraktifitas mempelajari materi pelajaran sesuai dengan topik yang akan dipelajarinya. Belajar dalam konteks CTL adalah proses pengalaman secara langsung.. A. Konsep Dasar Strategi Pembelajaran Kontekstual

Contextual teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penh ntuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Ada tiga hal yang harus dipahami. Pertama CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, kedua CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, ketiga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan. Terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL. 1. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge) 2. Pembelajaran ntuk memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge) 3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) 4. Mempraktikan pengetrahuan dan pengalaman tersebut (applying knomledge) 5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) B. Latar Belakang Filosofi dan Psikologis CTL 1. Latar belakang Filosofis CTL banyak dipengarhi oleh filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget. Piaget berpendapat, bahwa sejak kecil setiap anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan skema. Skema terbentuk karena pengalaman, dan proses penyempurnaan skema itu dinamakan asimilasi dan semakin besar pertumbuhan anak maka skema akan semakin sempurna yang kemudian disebut dengan proses akomodasi. Pendapat Piaget tentang bagaimana sebenarnya pengetahuan itu terbentuk dalam struktur kognitif anak, sangat berpengaruh terhadap beberapa model pembelajaran, diantaranya model pembelajaran kontekstual.. menurut pembelajaran kontekstual, pengetahuan itu akan bermakna manakala ditemukan dan dibangun sendiri oleh siswa. 2. Latar belakangPsikologis Dipandang dari sudut psikologis, CTL berpijak pada aliran psikologis kognitif. Menurut aliran ini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukanlah peristiwa mekanis seperti keterkaitan stimulus dan respon. Belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi, dan kemampuan atau pengalaman. Ada yang perlu dipahami tentang pbelajar dalam konteks CTL. 1. Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengkontruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki 2. Belajar bukan sekedar mengumnpulkan fakta yang lepas-lepas.

3. Belajar adalah proses pemecahan masalah 4. Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang dari yang sederhana menuju yang kompleks 5. Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan. C. Perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensioanal NO Perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensioanal CTL Pembelajaran Konvensional Siswa sebagai subjek belajar Siswa sebagai objek belajar 1 Siswa lebih banyak belajar secara individu 2. Siswa belajar melalui kegiatan kelompok Pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak 3. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata Kemampuan diperoleh dari latihan-latihan 4 Kemampuan didasarkan atas pengalaman Tujuan akhir nilai atau angka 5 Tujuan akhir kepuasan diri Prilaku dibangun atas kesadaran Prilaku dibangun oleh factor dari luar 6 7 Pengetahuan yang dimiliki individu Pengetahuan yang dimiliki bersifat absolute berkembang sesuai dengan dan final, tidak mungkin berkembang. pengalaman yang dialaminya Guru penentu jalannya proses pembelajaran 8 Siswa bertanggungjawab dalam memonitor dan mengembangkan pembelajaran Pembelajaran terjadi hanya di dalam kelas 9 Pembelajaran bisa terjadi dimana saja Keberhasilan pembelajaran hanya bisa diukur 10 Keberhasilan pembelajaran dapat diukur dengan berbagai cara dengan tes

D. Peran Guru dan Siswa dalam CTL Setiap siswa mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar. Perbedaan yang dimiliki siswa tersebut dinamakan sebagai unsure modalitas belajar. Menurut Bobbi Deporter ada tiga tipe gaya belajar siswa, yaitu tive visual, auditorial dan kinestis. Tipe visual adalah gaya belajar dengan cara melihat, sedang tipe auditorial adalah tipe belajar dengan cara menggunakan alat pendengarannya, dan tipe kinestetis adalah tipe belajar dengan cara bergerak. Sehubungan dengan hal itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan CTL. 1. Siswa harus dipandang sebagai individu yang sedang berkembang 2. setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan 3. belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara halhal yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui 4. belajar bagi anak adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada.

E. Asas-Asas CTL CTL sebagi suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 asas. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL 1. Konstruktivisme Adalah proses pembangunan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. 2. Inkuiri Adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Proses inkuiri dilakukan dalam beberapa langkah: 1. 2. 3. 4. 5. Merumuskan masalah Mengajukan hipotesis Mengumpulkan data Menguji hipnotis berdasarkan data yang ditemukan Membuat kesimpulan

3. Bertanya (Questioning) Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu; sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir. Dalam suatu pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk: a) b) c) d) e) menggali informasi dan kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran membangkitkan motvasi siswa untuk belajar merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuat memfokuskan siswa pada suatu yang diinginkan membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu

4. Masyarakat Belajar (Learning Community) Konsep Masyarakat Belajar (Learning Community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain. Dalam kelas CTL, asas ini dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. 5. Pemodelan (Modeling) Merupakan proses pembelajarn dengan memperagakan sesuatu sebagai conto yang dapat ditiru oleh setiap siswa. 6. Refleksi (Reflection)

Merupakan proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilalui. 1. 7. Penilaian Nyata (Authentic Assessment) Adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. F. Pola dan Tahapan Pembelajaran CTL a. Pola Pembelajaran Konvensional untuk mencapai tujuan kompetensi, guru menerapkan strategi pembelajaran sebagai berikut:

Siswa disuruh untuk membaca buku tentang pasar Guru menyampaikan materi pelajaran Guru memberikan kesempatan pada siswa untk bertanya Guru mengulas pokok-pokok materi pelajaran yang telah disampaikan dan dilanjutkan dengan kesimpulan Guru melakukan post-tes Guru menugaskan kepada siswa untuk membuat karangan sesuai dengan tema pasar

Model pembelajaran diatas jelas bahwa sepenhnya ada pada kendali guru. b. Pola Pembelajaran CTL untuk mencapai tujuan kompetensi, guru menerapkan strategi pembelajaran sebagai berikut: 1. Pendahuluan 2. Inti 3. Penutup Pada CTL untuk mendapatkan kemampuan pemahaman konsep, anak mengalami langsung dalam kehidupan nyata di masyarakat. Kelas bukanlah tempat untuk mencatat atau menerima informasi dari guru, akan tetapi kelas digunakan untuk saling membelajarkan. Untuk itu ada beberapa catatan dalam penerapan CTL sebagai suatu strategi pembelajaran, yaitu sebagai berikut: 1. CTL adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental. 2. CTL memandang bahwa belajar bukan menghafal, akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata. 3. Kelas dalam pembelajaran CTL bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan. Materi pelajaran ditemukan oleh siswa sendiri, bukan hasil pemberian dari orang lain
http://s3s3p.wordpress.com/2010/03/10/strategi-pembelajaran-kontekstual/