Anda di halaman 1dari 11

CONTOH LATAR BELAKANG SKRIPSI

KEEFEKTIFAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK DENGAN PENDEKATAN RASIONAL EMOTIF DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN MENTAL SISWA PANTI PAMARDI PUTRA (PEND-59) BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Setiap tingkah laku individu merupakan manifestasi dari beberapa kebutuhan dan ditunjukkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan kata lain setiap tingkah laku individu itu selalu terarah pada satu objek atau suatu tujuan pemuasan kebutuhan yang memberikan arah pada gerak aktivitasnya. Ketegangan-ketagangan dan konflik-konflik batin akan timbul pada seseorang apabila kebutuhankebutuhan hidup yang sifatnya vital terhalang atau dirinya mengalami frustrasi. Sebaliknya ketegangan atau stress akan lenyap, apabila semua kebutuhan tadi bisa terpuaskan atau terpenuhi, kebutuhan itu bisa bersifat fisis juga bisa bersifat psikis, dan sosial. Menurut Maslow dalam Hendrarno, dkk (2003:9) pada hirarki dorongan kebutuhan , disebutkan bahwa tingkat-tingkat kebutuhan manusia yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan untuk aktualisasi diri Maka demi kelancaran hidup individu, kebutuhan tersebut harus mendapatkan pemuasan atau harus dicukupi. Kebutuhan kebutuhan tersebut tidak boleh senantiasa dihalangi sebab jika orang terus menerus mengalami frustrasi , individu akan selalu diliputi oleh stress, ketegangan, dan ketakutan, sampai mengalami mental break down atau kepatahan mental. Selamaindividu masih bisa menemukan jalan keluar yang wajar untuk memecahkan kesulitan hidupnya serta pemenuhan kebutuhan, selama itu akan menjamin kesehatan jiwa dan keseimbangan mentalnya, sebab kepuasan jasmani dan kepuasan psikis dalam pemenuhan kebutuhan itu merupakan alas fundamental bagi kesehatan mentalnya, sehingga individu akan (1) dapat merasakan ketenangan dan ketentraman hidup, (2) mampu melihat dan menilai realita secara obyektif, (3) mampu untuk menerima dirinya sendidri, (4) mampu memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani, (5) mampu belajar dari pengalaman hidupnya, (6) mampu untuk mengembangkan kemampuan yang ada pada dirinya, (7) mampu menghadapi permasalahan yang muncul, serta (8) mampu untuk memahami dan menerima orang lain. Keluarga merupakan tempat persemaian bagi perkembangan kepribadian manusia. Dalam keluarga anak mengenal lingkungan sosial yang akan membentuk mental dan kedewasaannya. Begitu pentingnya peranan keluarga dalam pembentukan mentalitas anak, sehingga dimungkinkan anak yang kurang mendapatkan perawatan dan kasih sayang dari keluarga, kurang terpenuhinya kebutuhankebutuhan baik yang bersifat kejasmanian, sosial, maupun kejiwaannya. Secara ideal dalam perkembangan anak harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, dan apabila terjadi gangguan dalam usaha pemenuhan kebutuhan itu maka penyesuaian dirinya menjadi kurang lancar yang akibatnya kesehatan mental dan kepribadiannya terganggu. Anak yang tinggal di panti-panti rehabilitasi merupakan anak-anak yang berasal dari berbagai latar belakang, seperti juga anak-anak yang diasuh di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang, mereka merupakan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang terdiri dari: anak nakal, anak korban narkoba, dan anak jalanan yang khususnya berasal dari keluarga yang kurang mampu, anakanak tersebut kurang mendapat perawatan, kasih sayang atau perhatian dari keluarga. Di Panti Pamardi Putra Mandiri siswa diberikan suatu pelayanan social agar mereka mampu berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat yang meliputi pembinaan fisik, mental, social, mengubah sikap dan tingkah laku, pelatihan ketrampilan, dan resosialisasi serta pembinaan lanjut. Di sana siswa-siswa mengikuti program-program ketrampilan yang sesuai dengan bakat dan minatnya yaitu Las, R2 (Roda

2), R4 (Roda 4). Selain itu siswa mengikuti kegiatan-kegaiatn kejasmanian, keagamaan, kesehatan, maupun bimbingan baik klasikal maupun di wisma. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan pembimbing panti selama peneliti PLBK (Praktik Lapangan Bimbingan dan Konseling) di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang kurang lebih selama 2 bulan, meskipun siswa diberikan berbagai pembinaan dan ketrampilan namun tetap masih banyak siswa yang merasa kurang nyaman berada di panti, mereka merasa kurang bisa beradaptasi baik dengan temannya maupun lingkungan barunya di mana biasanya mereka hidup bebas di jalan dan bebas melakukan apa saja yang mereka mau, tetapi sekarang mereka harus mematuhi peraturan di panti, sehingga terjadi konflik dalam diri mereka antara mematuhi peraturan atau kembali ke kehidupan semula akibatnya banyak diantara mereka yang melanggar peraturan misalnya membolos mengikuti kegiatan, di panti, sering ijin pulang, mereka kurang mempunyai kesadaran diri untuk mengembangkan kemampuannya, mereka merasa tidak berguna, mereka kurang bisa menerima kenyataan yang mereka hadapi, serta kurang bisa menghadapi permasalahan- permasalahan baik yang menyangkut masalah dengan temannya, lingkungannya maupun keluarganya dengan cara negatif yaitu mereka cenderung kembali pada kebiasaannya yaitu mabuk-mabukan atau melakukan tindakan agresif pada penyebab masalah tersebut, mereka sering bertengkar dengan temannya, merasa minder dan kurang percaya diri, mereka cenderung berpikir irasional dalam menghadapi suatu masalah. Dari masalah-masalah tersebut perlu diupayakan suatu usaha untuk mengatasinya, karena apabila tidak segera diberikan penanganan akan menghambat perkembangan individu dalam mencapai perkembangan yang optimal. Dalam usaha pengentasan masalah, dalam bimbingan dan konseling ada beberapa layanan meliputi layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, bimbingan kelompok konseling kelempok, dan konseling individu. Ketujuh jenis layanan tersebut semuanya merupakan upaya untuk membantu individu dalam menghadapi dan melalui tahap perkembangannya, mengatasi hambatan yang timbul serta memperbaiki penyimpangan perkembangan agar perkembangan individu berlangsung secara wajar. Jadi secara prinsip dengan melalui layanan bimbingan dan konseling individu dapat dibantu dalam mencapai tugas-tugas perkembangan secara optimal. Salah satu jenis layanan bimbingan dan konseling yang dipandang tepat dalam membantu siswa untuk meningkatkan kesehatan mental adalah melalui layanan konseling kelompok. Layanan konseling kelompok merupakan upaya bantuan untuk dapat memecahkan masalah dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Dalam layanan konseling kelompok menggunakan pendekatan interaksional, di mana dalam pendekatan tersebut menitik beratkan interaksi atau hubungan timbal balik antar anggota, anggota dengan leader (pemimpin kelompok) dan sebaliknya, yang akan nampak dalam dinamika kelompok. Interaksi itu selain berusaha bersama untuk dapat memecahkan masalah juga setiap anggota kelompok dapat belajar untuk mendengarkan secara aktif, melakukan konfrontasi dengan tepat, memperhatikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap anggota lain. Di dalam kelompok, anggota kelompok akan saling menolong, menerima, berempati dengan tulus. Keadaan ini membutuhkan suasana yang positif antara anggota, sehingga mereka akan merasa diterima, dimengerti, dan menambah rasa positif dalam diri mereka. Konseling kelompok bersifat memberikan kemudahan dalam pertumbuhan dan perkembangan individu, dalam arti bahwa konseling kelompok memberikan dorongan dan motivasi kepada individu untuk membuat perubahan-perubahan atau bertindak dengan memanfaatkan potensi secara maksimal sehingga dapat mewujudkan diri. Pendekatan rasional emotif merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam layanan konseling kelompok, di mana dalam pendekatan rasional emotif dalam layanan konseling kelompok mempunyai tujuan membantu individu anggota kelompok agar dapat mengurangi pandangan diri yang berpusat pada perusakan diri dan bersama-sama mencapai pandangan realistis dan berpandangan toleran satu sama lain, saling mengarahkan ke perasaan pantas, dan berlatih bersama guna perubahan perilaku sebagai perwujudan pemikiran rasional dan emosi pantas, serta menghilangkan gangguangangguan emosional yang merusak diri sendiri.

Dalam konseling kelompok rasional emotif terjadi pembinaan hubungan menyehatkan yang berisi upaya-upaya penciptaan suasana psikologis yang dapat mendukung kelancaran kelompok, para klien dibantu untuk mengenali dan menjelaskan masalah termasuk konsekuensi-konsekuensi berpandangan irrasional melalui pandangan edukatif serta menekankan upaya pengubahan dan modifikasi perilaku klien. Jika dilihat dari tujuan layanan konseling kelompok dengan pendekatan rasional emotif tersebut sangatlah tepat bila dilaksanakan dalam usaha meningkatkan kesehatan mental pada anak di panti rehabilitasi karena dalam layanan konseling kelompok rasional emotif kebutuhan-kebutuhan memperoleh penghargaan, kebutuhan untuk diterima atau merasa bagian dalam kelompok, kebutuhan untuk merasa dibutuhkan orang lain, kebutuhan memperoleh prestasi dan posisi, kebutuhan hidup bersama, kebutuhan memperoleh kebebasan, kebutuhan memperoleh kasih sayang dan rasa aman, yang kesemuanya kebutuhan itu dapat terpenuhi, yang pada akhirnya individu belajar untuk berfikir secara rasional dan logis dalam sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan anggota kelompok. Telah banyak penelitan-penelitian yang sudah dilakukan berkaiatan dengan variabel di atas misalnya penelitian mengenai keefektifan layanan konseling kelompok dalam meningkatkan kepercayaan diri yang dilkaukan oleh Atik Siti, dengan diperoleh hasil bahwa layanan konseling kelompok efektif untuk meningkatkan kepercayaan diri. Selain itu ada juga penelitian mengenai keefektifan pendekatan rasional emotif dalam mengatasi siswa yang kurang percaya diri yang dilakukian oleh Slameto, dengan diperoleh hasil bahwa pendekatan rasional emotif efektif untuk meningkatkan percaya diri. Sedangkan penelitian tentang kesehatan mental juga pernah dilakukan oleh Siti Aeni yaitu mengenai kesehatan mental anak dari keluarga migrant dengan diperoleh hasil bahwa kesehatan mental anak dari keluarga migrant adalah baik. Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk untuk melakukan penelitian eksperimen tentang Keefektivan Layanan Konseling Kelompok dengan Pendekatan Rasional Emotif dalam Meningkatkan Kesehatan Mental Siswa Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang Tahun 2005/ 2006. Diposkan oleh skripsi di 17:25 http://ilmiah-pendidikan.blogspot.com/2011/04/keefektifan-layanan-konseling-kelompok.html

Peningkatan Pemahaman Tentang Kecerdasan Emosional Melalui Layanan Informasi Bimbingan Pribadi Pada Siswa Kelas Xi Ips Sma Kesatrian I Semarang (P-80)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anugerah Allah SWT yang tak ternilai harganya bagi manusia salah satunya adalah kecerdasan. Manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, membangun peradaban dan keadaban demi kesejahteraan umat manusia dengan kecerdasan akal. Kecerdasan memungkinkan manusia maju dalam bersikap, berbuat, dan berkarya secara dinamis dan konstruktif. Beberapa kecerdasan tersebut antara lain: kecerdasan intelegensi, emosi, spiritual, linguistik, bodi kinestik, dan interpersonal, kecerdasan sosial seperti yang dikemukakan oleh Wahab (Sumber: Republika Online Collected By pasarmuslim.com). Perkembangan terakhir dalam seminar Multiple Intelligence di Denpasar diperoleh hasil penelitian Goleman, bahwa keberhasilan seseorang hanya 20% dipengaruhi Intelligence Quotient (IQ), 80% dipengaruhi Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ). (http://www.mail-archive.com/ppiindia@yahoogroups.com/msg20773.html).

EQ tinggi diperlukan agar mampu mengendalikan diri sendiri dan orang lain, dengan mengutamakan kepentingan umum/ rakyat, daripada kepentingan perorangan dan golongan. Keberhasilan seseorang semata-mata tidak ditentukan oleh kecerdasan rasional yang diukur IQ, ada unsur lain yang harus diperhatikan yaitu Emotional Quotient (EQ). Unsur ini jauh lebih efektif menyokong kesuksesan dalam hidup manusia. EQ sangat menekankan aspek emosional dalam diri manusia. Aspek ini memungkinkan orang menghidupkan segala talenta yang dimiliki serta mengembangkan afeksi secara wajar. Kecerdasan emosi menggambarkan kemampuan seorang individu untuk mampu mengelola dorongandorongan dalam dirinya terutama dorongan emosinya. Perkembangan terakhir dalam bidang ilmu psikologi menunjukkan bahwa perkembangan kecerdasan emosi ini ternyata lebih penting bagi seorang individu daripada kecerdasan intelektualnya. Mengapa? Goleman (1999) menyebutkan bahwa: (1) EQ mempengaruhi prestasi anak (2) EQ mempengaruhi perilaku anak (3) EQ mempengaruhi penyesuaian sosial, konsep diri, kepribadian anak (http://multiply.com/user/join?connect=jovandc) Sumbangan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang paling berarti bagi pertumbuhan dan perkembangan siswa adalah mengarah, membimbing serta mengantar mereka menuju kepada bidang yang cocok dengan bakatnya. Adanya sumbangan sekolah sebagai lembaga pendidikan mengaktualisir segala potensi siswa sehingga diharapkan siswa puas dan berkompeten dalam pelbagai konteks kehidupan. Tujuan pengembangan kecerdasan emosional adalah agar manusia memiliki kompetensi emosional. Kompetensi emosional meliputi kompetensi individual dan sosial. Kompetensi sosial yaitu kemampuan berelasi, berempati terhadap yang lain. Peranan EQ yang disoroti tidak berarti menggantikan peran IQ. EQ dan IQ tetap dibutuhkan hanya proporsinya berbeda. (http://www.indomedia.com/poskup/2003/01/30/EDISI30/h04.htm). Seorang siswa sebagai generasi penerus bangsa, sepatutnya mampu mengelola aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang dimilikinya secara baik. Usia siswa yang tergolong remaja berkisar antara 1518 tahun. Masa remaja dikenal dengan masa storm dan stress, masa-masa terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan bervariasi. Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari bermacam-macam pengaruh, seperti lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah dan teman-teman sebaya serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupannya sehari-hari (Mutadin, 2002: 1). Hurlock (2004: 207) menyatakan bahwa masa remaja sebagai periode perubahan, yang salah satunya adalah meningginya emosi. Fenomena di SMA Kesatrian I Semarang khususnya pada kelas XI IPS, bahwa terdapat 4 siswa yang sering berselisih dengan teman, 9 siswa berperilaku kasar, 50 siswa suka berfoya-foya, 7 siswa bersikap individualis, 8 siswa tidak bisa berempati, 12 siswa belum mampu memecahkan masalahnya sendiri, 9 siswa bermalas-malasan dalam mengerjakan tugas dan suka membolos, serta 12 siswa bersikap tidak saling menghormati antar sesama. Penelitian sebelumnya juga telah dilakukan oleh Siti Uswatun, salah satu mahasiswi Universitas Negeri Semarang tentang upaya meningkatkan kecerdasan emosional melalui layanan bimbingan kelompok. Adanya penelitian tersebut juga menunjukan bahwa kecerdasan emosional siswa di SMA Kesatrian I Semarang masih perlu ditingkatkan (belum optimal). Jika perilaku demikian dibiarkan, dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi kehidupan siswa tersebut di kemudian hari. Agustian (2001: 199) menyatakan bahwa: Tingkat IQ atau kecerdasan intelegen sebagian umumnya tetap, sedangkan EQ (kecerdasan emosional) dapat terus ditingkatkan. Dalam peningkatan inilah kecerdasan emosi sangat berbeda dengan IQ, yang umumnya hampir tidak berubah selama kita hidup. Apabila kemampuan murni kognitif relatif tidak berubah, kecakapan emosi dapat dipelajari kapan saja. Tidak peduli orang yang tidak peka, pemalu, kikuk, atau sulit bergaul dengan orang lain, dengan motivasi dan usaha yang benar kita dapat mempelajari dan menguasai kecakapan emosi.

Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi (2004: 14) visi konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam pemberian dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar individu berkembang secara optimal, mandiri dan bahagia. Berdasarkan visi konseling, maka guna membantu perkembangan siswa dalam rangka pencegahan masalah tersebut, peneliti turut mengupayakan siswa agar meningkatkan pemahaman tentang kecerdasan emosional. Meningkatnya pemahaman siswa tentang kecerdasan emosional, diharapkan mampu mempengaruhi tingkat kecerdasan emosional. Peneliti pun berupaya meningkatkan pemahaman tentang kecerdasan emosional siswa melalui pemberian layanan informasi bidang bimbingan pribadi. Peneliti memilih menggunakan layanan informasi karena layanan informasi bertujuan membekali individu dengan berbagai pengetahuan tentang lingkungan yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi berkenaan dengan lingkungan sekitar, pendidikan, jabatan, maupun sosial budaya. Sukardi (2003: 33) mengungkapkan bahwa layanan informasi bertujuan untuk membekali individu dengan pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenal diri, merencanakan dan mengembangkan pola kehidupan sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat. Sedangkan alasan menggunakan bidang bimbingan pribadi adalah karena kecerdasan emosi berkaitan dengan pribadi siswa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Zulfa (2007: 43) tentang efektivitas layanan informasi karier dalam meningkatkan perencanaan karier siswa bahwa layanan informasi karier efektif dalam meningkatkan perencanaan karier siswa. Begitu juga dengan penelitian Widyastuti (2006: 29) tentang meminimalkan kenakalan remaja melalui layanan informasi bimbingan sosial bahwa layanan informasi bimbingan sosial dapat meminimalkan kenakalan remaja. Peneliti memilih judul Peningkatan Pemahaman tentang Kecerdasan Emosional Melalui Layanan Informasi Bimbingan Pribadi Pada Siswa Kelas XI IPS SMA Kesatrian I Semarang Tahun Ajaran 2008/ 2009 dengan alasan untuk mengetahui sejauh mana layanan informasi bimbingan pribadi dapat meningkatkan pemahaman tentang kecerdasan emosional pada siswa. Sedangkan alasan peneliti mengambil lokasi SMA Kesatrian I Semarang adalah karena lokasi tersebut merupakan lokasi praktikan memperoleh fenomena yang terkait dengan upaya meningkatkan pemahaman tentang kecerdasan emosional siswa. Selain itu lokasi tersebut juga dekat dengan lokasi peneliti sehingga diharapkan memudahkan kegiatan penelitian. Diposkan oleh skripsi di 07:45 http://ilmiah-pendidikan.blogspot.com/2011/04/peningkatan-pemahaman-tentang.html

Hubungan Antara Sikap Terhadap Merokok Dengan Kebiasaan Merokok Pada Remaja (Penelitian Pada Siswa Laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga .. (P-74)
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Merokok merupakan kegiatan yang masih banyak dilakukan oleh banyak orang, walaupun sering ditulis di surat-surat kabar, majalah dan media masa lain yang menyatakan bahayanya merokok. Bagi pecandunya, mereka dengan bangga menghisap rokok di tempat-tempat umum, kantor, rumah, jalanjalan, dan sebagainya. Di tempat-tempat yang telah diberi tanda dilarang merokok sebagian orang ada yang masih terus merokok. Anak-anak sekolah yang masih berpakaian seragam sekolah juga ada yang melakukan kegiatan merokok. Merokok merupakan salah satu masalah yang sulit dipecahkan. Apalagi sudah menjadi masalah nasional, dan bahkan internasional. Hal ini menjadi sulit, karena berkaitan dengan banyak faktor yang saling memicu, sehingga seolah- olah sudah menjadi lingkaran setan. Di tinjau dari segi kesehatan merokok harus dihentikan karena menyebabkan kanker dan penyumbatan pembuluh darah yang

mengakibatkan kematian, oleh karena itu merokok harus dihentikan sebagai usaha pencegahan sedini mungkin. Dari segi pemerintahan, pemerintah memperoleh pajak pemasukan rokok yang tidak sedikit jumlahnya, dan mampu banyak menyerap tenaga kerja. Jika pabrik rokok ditutup harus mencarikan pemasukan dana dari sumber lain dan mengalihkan para pekerja pabrik rokok yang tidak sedikit jumlahnya (sulit pemecahannya). Di pihak perokok sendiri, mereka merasakan nikmatnya begitu nyata, sampai dirasa memberikan rasa kesegaran dan kepuasan tersendiri sehingga setiap harinya harus menyisihkan uang untuk merokok. Kelompok lain, khususnya remaja pria, mereka menganggap bahwa merokok adalah merupakan ciri kejantanan yang membanggakan, sehingga mereka yang tidak merokok malah justru diejek. Survei yang diadakan oleh Yayasan Jantung Indonesia tahun 1990 yang dikutip oleh Mangku Sitepoe (2000: 19) menunjukkan data pada anak-anak berusia 10-16 tahun sebagai berikut : angka perokok <10 tahun (9%), 12 tahun (18%), 13 tahun (23%), 14 tahun (22%), dan 15-16 tahun (28%). Mereka yang menjadi perokok karena dipengaruhi oleh teman-temannya sejumlah 70%, 2% di antaranya hanya coba-coba. Selain itu, menurut data survei kesehatan rumah tangga 2002 seperti yang tercatatat dalam koran harian Republika tanggal 5 juni 2003, menyebutkan bahwa jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai 75% atau 141 juta orang. Sementara itu, dari data WHO jumlah perokok di dunia ada sebanyak 1,1 miliar orang, dan 4 juta orang di antaranya meninggal setiap tahun. Dewasa ini di Indonesia kegiatan merokok seringkali dilakukan individu dimulai di sekolah menengah pertama, bahkan mungkin sebelumnya. Kita sering melihat di jalan atau tempat yang biasanya dijadikan sebagai tempat nongkrong anak-anak tingkat sekolah menengah banyak siswa yang merokok. Pada saat anak duduk di sekolah menengah atas, kebanyakan pada siswa laki-laki merokok merupakan kegiatan yang menjadi kegiatan sosialnya. Menurut mereka merokok merupakan lambang pergaulan bagi mereka. Siswa SMU yang berada dalam masa remaja yang merasa dirinya harus lebih banyak menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok sebaya dari pada norma-norma orang dewasa. Dalam hal ini remaja menganggap merokok sebagai lambang pergaulannya. Khususnya siswa laki-laki bahwa merokok sebagai suatu tuntutan pergaulan bagi mereka. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Hurlock (1999: 223) bahwa bagi remaja rokok dan alkohol merupakan lambang kematangan. Hal tersebut disampaikan oleh Hurlock berdasarkan fenomena di Amerika. Tetapi menurut norma yang berlaku di Indonesia lebih memandang bahwa remaja khususnya remaja yang masih berada diusia sekolah melakukan aktivitas merokok diidentikan sebagai anak yang nakal. Hampir semua orang mulai merokok dengan alasan yang sedikit sekali kaitannya dengan kenikmatan. Dalam pikiran remaja, rokok merupakan lambang kedewasaan. Sebagai seorang remaja mereka menggunakan berbagai cara agar terlihat dewasa. Untuk membuktikannya mereka melakukan dengan sadar melakukan kebiasaan orang dewasa yakni merokok. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Hariyadi (1997: 12) bahwa remaja ingin mencoba melakukan apa yang sering dilakukan oleh orang dewasa, dengan sembunyi-sembunyi remaja pria mencoba merokok karena seringkali mereka melihat orang dewasa melakukannya. Pada masa remaja, ada sesuatu yang lain yang sama pentingnya dengan kedewasaan, yakni solidaritas kelompok, dan melakukan apa yang dilakukan oleh kelompok. Apabila dalam suatu kelompok remaja telah melakukan kegiatan merokok maka individu remaja merasa harus melakukannya juga. Individu remaja tersebut mulai merokok karena individu dalam kelompok remaja tersebut tidak ingin dianggap sebagai orang asing, bukan karena individu tersebut menyukai rokok. Sitepoe (2000: 20) menyebutkan bahwa alasan utama menjadi perokok adalah karena ajakan temanteman yang sukar ditolak, selain itu juga, ada juga pelajar pria mengatakan bahwa pria menjadi perokok setelah melihat iklan rokok. Ini berarti bahwa tindakan merokok diawali dari adanya suatu sikap, yaitu kecenderunga seseorang untuk menerima atau menolak, setuju atau tidak setuju terhadap respon yang datang dari luar dalam hal ini adalah rokok. Orang melihat rokok atau melihat orang lain merokok, lalu respon apa yang muncul di dalam pikiran atau perassaanya, bisa saja orang tertarik (setuju) atau tidak tertarik (tidak setuju), hal ini akan terjadi pada setiap orang. Orang yang setuju, ada kecenderungan akan melakukannya atau menirunya, bagi yang tidak setuju tentu kencenderungannya

akan menghindari. Namun ada kecenderungan lain, yaitu dalam hati ia tidak setuju, tetapi kenyataannya ia melakukannya (merokok). Hal ini tentu ada faktor lain yang mempengaruhinya. Di sinilah terjadinya kontradiksi antara sikap dan perbuatan. Penelitian akan dilakukan di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat. Berdasarkan hasil penelitian sementara di lapangan didapat data dari hasil penyebaran angket kebiasaan merokok pada remaja sebagai studi pendahuluan yang disebarkan kepada 404 siswa lakilaki di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat didapat bahwa 61,14% siswa laki- laki tersebut melakukan aktivitas merokok. Berkaitan dengan fenomena di atas, maka peneliti bermaksud untuk mengadakan penelitian di lapangan dengan judul Hubungan Antara Sikap Remaja Terhadap Merokok Dengan Kebiasaan Merokok Pada Remaja (Penelitian Pada Siswa Laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Pada Tahun Pelajaran 2004/2005). Diposkan oleh skripsi di 18:10 http://ilmiah-pendidikan.blogspot.com/2011/04/hubungan-antara-sikap-terhadap-merokok.html

Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Melalui Metode Latihan Terbimbing Dengan Media Teks Lagu Siswa Kelas X-7 Sma Negeri 1 Pemalang (P-73)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa merupakan alat yang sangat vital bagi manusia dalam berkomunikasi. Manusia berkomunikasi agar dapat saling belajar, berbagi pengalaman, dan dapat meningkatkan kemampuan intelektualnya. Penggunaan bahasa dalam berkomunikasi ada dua macam yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis. Bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tulis tersebut muncul dalam segala aktivitas seperti pendidikan, keagamaan, perdagangan, politik, dan sebagainya. Pengajaran keterampilan bahasa dan sastra Indonesia mencakupi keterampilan mendengarkan, keterampilan membaca, keterampilan berbicara, dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan tersebut selalu berkait satu dengan yang lain. Di antara keterampilan tersebut keterampilan mendengarkan dan keterampilan membaca merupakan keterampilan reseptif, sedangkan keterampilan berbicara dan keterampilan menulis merupakan keterampilan produktif. Suyatno (2004:6) menyatakan bahwa posisi bahasa Indonesia berada dalam dua tugas. Tugas pertama adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia tidak mengikat pemakainya untuk sesuai dengan kaidah dasar. Tugas kedua adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Sebagai bahasa negara berarti bahasa Indonesia harus digunakan sesuai dengan kaidah, tertib, cermat, dan masuk akal. Bahasa Indonesia yang dipakai harus lengkap dan baku. Tingkat kebakuannya diukur oleh aturan kebahasaan dan logika pemakaian. Dengan demikian pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah tidak hanya mempelajari bahasa yang resmi, bahasa yang sesuai dengan tata bahasa dan kaidah-kaidah penggunaannya saja tetapi juga mempelajari bahasa dalam bentuk yang tidak resmi seperti dalam bahasa sastra. Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus diajarkan pada siswa. Keterampilan menulis mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan menulis merupakan syarat untuk berkecimpung dalam berbagai macam bidang atau kegiatan. Hal ini mengandung pengertian betapa pentingnya keterampilan dan kemampuan menulis dalam kehidupan sehari-hari. Diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) oleh pemerintah menghendaki (1) peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya,

serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri; (2) guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa siswa dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar; (3) guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan siswanya; (4) orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah; (5) sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan siswa dan sumber belajar yang tersedia; (6) daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional (Depdiknas, 2005:1). Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia aspek bersastra SMA kelas X untuk subaspek menulis menyebutkan bahwa siswa harus mampu mengungkapkan pengalaman diri sendiri dan orang lain ke dalam cerpen (Depdiknas, 2005:4). Untuk mencapai standar kompetensi di atas proses pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bukan sekadar pengajaran mengenai teori-teori sastra. Di samping memperoleh pengetahuan tentang teori-teorinya siswa pun dituntut untuk dapat mengungkapkan pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaannya melalui sebuah karya sastra yang berupa cerpen. Tulisan imajinatif yang merupakan tulisan kreatif, dalam hal ini dapat berupa puisi, cerpen, novelet, dan novel. Dalam kajian ini dipilih cerpen sebagai objek penelitian. Pemilihan cerpen karena cerpen tidak memerlukan waktu yang lama untuk membuatnya karena bentuknya yang lebih pendek daripada novel, begitu pun untuk membacanya, sehingga cerpen sering disebut bacaan yang dapat dibaca sekali duduk. Bahasa yang digunakan dalam cerpen pun menggunakan bahasa yang sederhana, lebih sederhana jika dibandingkan dengan bahasa dalam puisi yang mempunyai arti lebih kompleks, serta berupa pemadatan kata yang di dalamnya menceritakan gagasan, perasaan ataupun pengalaman penulisnya. Keterampilan menulis cerpen bukanlah sesuatu yang dapat diajarkan melalui uraian atau penjelasan semata-mata. Siswa tidak akan memperoleh keterampilan menulis hanya dengan duduk, mendengarkan penjelasan guru, dan mencatat penjelasan guru. Keterampilan menulis cerpen dapat ditingkatkan dengan melakukan kegiatan menulis cerpen secara terus-menerus sehingga akan mempengaruhi hasil dan prestasi siswa dalam menulis cerpen. Hasil dan prestasi dapat meningkat apabila ada perubahan sikap dan tingkah laku siswa baik pada aspek pengetahuan, keterampilan maupun psikomotor. Tidak sedikit siswa yang mengalami hambatan dalam mengembangkan keterampilannya menulis cerpen. Hal ini juga dialami siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang, hambatan-hambatan tersebut yaitu daya imajinasi siswa masih kurang, diksi yang digunakan dalam menulis cerpen kurang bervariasi, kesulitan menentukan tema, dan kurang dapat mengembangkan ide. Proses belajar mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah-sekolah umumnya berorientasi pada teori dan pengetahuan semata-mata sehingga keterampilan berbahasa khususnya keterampilan menulis kurang dapat perhatian. Ide, gagasan, pikiran, dan perasaan mereka berlalu begitu saja, tidak diungkapkan khususnya dalam bentuk karya sastra. Keterampilan menulis cerpen yang diajarkan di sekolahsekolah selama ini menggunakan metode konvensional. Peran guru amat dominan dalam proses pembelajaran. Siswa kurang aktif dan sering kali metode ini menimbulkan kebosanan bagi siswa dalam pembelajaran menulis cerpen sehingga karya yang dihasilkan siswa kurang maksimal. Cerpen yang dibuatnya kurang menarik karena bahasa yang digunakan monoton, dan pengembangan ide atau gagasan kurang bervariasi. Hal ini dapat dilihat dari kesesuaian isi cerpen dengan tema, pengembangan topik, dan diksi yang belum mendapat perhatian dari siswa. Guru sebagai penyampai materi kepada siswa harus dapat menyampaikan materi yang akan dibahas dengan metode dan media yang tepat dan menarik. Hal tersebut akan berdampak pada keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran dan mengerjakan tugas yang diberikan guru. Keprofesionalan seorang guru dituntut demi lancarnya proses belajar mengajar. Ada tiga persyaratan utama yang harus dimiliki oleh seorang guru agar menjadi guru yang baik, yaitu menguasai (1) bahan

ajar (2) keterampilan pembelajaran, dan (3) evaluasi pembelajaran. Dalam penguasaan keterampilan pembelajaran guru dituntut untuk menggunakan berbagai strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran yang tepat dan dapat menarik perhatian siswa sehingga menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Pembelajaran menulis cerpen dalam penelitian ini menggunakan metode latihan terbimbing karena keterampilan menulis bukanlah semata-mata milik golongan orang yang berbakat menulis, melainkan dengan latihan yang sungguh- sungguh keterampilan itu dapat dimiliki oleh siapa saja. Keterampilan menulis merupakan proses belajar yang memerlukan ketekunan berlatih, semakin rajin berlatih, keterampilan menulis akan meningkat. Begitu juga dengan keterampilan menulis cerpen, untuk dapat menulisnya diperlukan usaha yang keras dan latihan terbimbing secara terus-menerus untuk menghasilkan cerpen yang baik. Peran guru sebagai motivator, fasilitator, sekaligus inspirator bagi siswa sangat diperlukan dalam hal ini yaitu memberikan latihan terbimbing kepada siswa dalam menulis kreatif cerpen. Media yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen yaitu teks lagu. Teks lagu merupakan sebuah naskah yang berisi lirik lagu yang berisi rangkaian kata yang merupakan ungkapan pikiran dan perasaan penyair. Pemilihan teks lagu sebagai media dalam pembelajaran menulis cerpen didasarkan pada alasan- alasan berikut: (1) pada usianya yang masih tergolong remaja kebanyakan siswa SMA menyukai lagu-lagu, sehingga dengan media ini diharapkan dapat menstimulus siswa untuk menghasilkan karya terbaiknya dan dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, (2) lagu merupakan sarana hiburan yang menyenangkan dan dapat menciptakan kepuasan, kebahagiaan dan keharuan bagi yang menikmatinya, (3) teks lagu berisi rangkaian kata indah yang mengisahkan sebuah cerita, baik mengenai kehidupan, pengalaman ataupun sebuah peristiwa, dengan teks lagu tersebut dapat diketahui alur dan temanya yang akan mempermudah siswa dalam menulis cerpen. Media memegang peran penting dalam pembelajaran karena dengan adanya media siswa dapat menangkap penjelasan yang disampaikan guru dengan mudah, begitu juga dengan media yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen dengan media teks lagu ini. Siswa diharapkan dapat meningkatkan kemampuannya menuangkan ide-ide atau pengalamannya ke dalam sebuah karya sastra yaitu cerita pendek dengan mudah dan dapat menghasilkan karya yang baik. Beberapa penelitian mengenai keterampilan menulis cerpen telah banyak dilakukan. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas tentang keterampilan menulis cerpen telah banyak dilakukan, namun metode-metode dan media yang digunakan berbeda-beda. Metode dan media yang telah digunakan antara lain karya wisata, pengalaman pribadi sebagai basis melalui pendekatan keterampilan proses dan pemodelan. Hal tersebut memberi kemungkinan untuk menemukan metode- metode yang lain untuk dijadikan penelitian lebih lanjut. Penelitian ini akan mencoba metode latihan terbimbing dengan media teks lagu untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis cerpen. Keterampilan menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu diasumsikan dapat mengatasi permasalahan siswa dalam pembelajaran keterampilan menulis cerpen. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian tindakan kelas sekaligus sebagai bahan penyusunan skripsi dengan judul Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen melalui Metode Latihan Terbimbing dengan Media Teks Lagu Siswa Kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang. Diposkan oleh skripsi di 18:07 http://ilmiah-pendidikan.blogspot.com/2011/04/peningkatan-keterampilan-menulis-cerpen.html

Meningkatkan Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Siswa Kelas Viii Smp Bhakti Praja Gebog Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007 Pada Materi .. (P-69)
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah SMP Bhakti Praja bukanlah pilihan pertama dari lulusan SD/MI di sekitar Gebog, walau merupakan satu-satunya SMP swasta di kecamatan Gebog. Setelah hasil seleksi SMP negeri diumumkan, siswa yang tidak diterima baru mendaftar di SMP Bhakti Praja Gebog. Dengan demikian input SMP Bhakti Praja Gebog adalah saringan atau sisa dari anak-anak terpilih, dengan motivasi orangtua yang kurang mendukung, latar belakang ekonomi orangtua kebanyakan buruh pabrik, sehingga proses belajar mengajar di SMP Bhakti Praja Gebog, terutama pada mata pelajaran matematika yang bagi sebagian siswa adalah pelajaran yang kurang menarik terasa berat. Masalah menonjol yang dihadapi oleh pendidikan matematika adalah pada umumnya hasil belajar siswa yang kurang memuaskan, hal ini dikarenakan kurangnya minat siswa terhadap pelajaran matematika sehingga tidak sedikit dari mereka yang menganggap bahwa matematika adalah ilmu yang sulit dan tidak menarik. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian khusus dari guru selaku pendidik untuk menemukan metode pengajaran yang tepat dan sesuai dengan materi dan bahan yang diberikan kepada siswa, karena suatu pembelajaran akan efektif jika metode pembelajaran yang digunakan sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa. Di samping menguasai metode pembelajarannya seorang guru juga harus menguasai teknik menerangkan, mengajarkan konsep matematika, cara membangkitkan motivasi siswa, cara menggunakan alat bantu dan teknik mengevaluasi seberapa jauh proses belajar mengajar dalam kelas telah tercapai. Oleh karena itu para pendidik matematika perlu memahami dan mengembangkan berbagai metode, keterampilan dan strategi dalam mengajarkan matematika. Tujuannya antara lain agar dapat menyusun program pengajaran yang dapat membangkitkan motivasi siswa agar mereka belajar dengan antusias. Lebih daripada itu agar siswa merasa benar-benar ikut ambil bagian dan berperan aktif dalam proses kegiatan belajar-mengajar, mengingat metode pembelajaran yang selama ini digunakan oleh guru matematika yang kebanyakan didominasi oleh guru itu sendiri. Sistem persamaan linear dua variabel adalah salah satu materi pokok matematika di kelas VIII. Materi pokok yang berkaitan dengan masalah sehari-hari ini terasa sulit dipahami siswa kelas VIII SMP Bhakti Praja Gebog. Indikatornya siswa kurang mampu menyelesaikan soal-soal tentang sistem persamaan linear dua variabel apalagi bila disajikan dalam soal cerita, akibatnya lebih dari 75% siswa belum tuntas belajar dan rata-rata nilai ulangan harian kurang dari 6,00 serta kurang dari 75% siswa yang terlibat aktif ketika proses pembelajaran berlangsung. Model pembelajaran berbasis masalah dipilih sebagai salah satu alternatif karena model ini merupakan pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah-masalah dunia nyata sebagai konteks bagi peserta didik untuk belajar berpikir kritis dan terampil memecahkan, serta mendapatkan pengetahuan dan konsep-konsep dasar. Ciri-ciri utama pembelajaran berbasis masalah meliputi suatu pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerjasama, dan menghasilkan karya dan peragaan. Guru dalam model pembelajaran berbasis masalah, berperan sebagai penyaji masalah, fasilitator, membantu siswa memecahkan masalah dan menjadi salah satu sumber belajar siswa. Selain itu, guru memberikan dukungan, motivasi dan dorongan yang dapat meningkatkan pertumbuhan inkuiri dan intelektual siswa. Dalam hal ini guru berperan sebagai pemberi rangsangan, pembimbing kegiatan siswa dan penentu arah belajar mereka. Di samping itu, kegiatan pengembangan model pembelajaran berbasis masalah dalam materi pokok sistem persamaan linear dua variabel amatlah strategis, seiring dengan implementasi KBK, sehingga kreativitas guru dapat ditingkatkan, serta ketersediaan berbagai fasilitas yang dimiliki secara terbatas dapat ditingkatkan. Diposkan oleh skripsi di 17:57 http://ilmiah-pendidikan.blogspot.com/2011/04/meningkatkan-kemampuan-menyelesaikan.html

Studi Tentang Minat Siswa Terhadap Mata Pelajaran Biologi Pada SLTP Negeri 2 Pangkajene Kabupaten Pangkep (P-67)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kualitas dan kuantitas pendidikan sampai saat ini masih merupakan suatu masalah yang paling menonjol dalam setiap usaha pembaharuan sistem pendidikan nasional. Kedua masalah tersebut sulit ditangani secara simultan sebab dalam upaya meningkatkan kualitas, masalah kuantitas terabaikan demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu tidak mengherankan bila masalah pendidikan tidak pernah tuntas dimanapun, termasuk di negara yang maju sekalipun. Sungguhpun demikian pemerintah, dalam hal ini Depdiknas telah melakukan berbagai upaya dalam mengatasi segala masalah pendidikan. Upaya tersebut hampir mencakup semua komponen pendidikan. Misalnya pembaharuan kurikulum, pembaharuan proses belajar mengajar, peningkatan kualitas guru, pengadaan buku pelajaran, pengadaan dan penyempurnaan sarana dan prasarana belajar, penyempurnaan sistem penilaian, penataan organisasi dan manajemen pendidikan, dan berbagai usaha yang mengarah pada pencapaian hasil pengajaran/pendidikan secara maksimal. Mengingat pendidikan selalu berkenan dengan upaya pembinaan manusia, maka keberhasilan pendidikan sangat bergantung pada manusianya (Nana Sudjana, 1989). Unsur manusia yang paling menentukan keberhasilan pendidikan adalah guru dan pesrta didik. Dalam hal ini guru dituntut bagaimana ia menjadi tenaga pengajar dan pendidik yang profesional. Di lain pihak peserta didik harus sadar bahwa pendidikan sangat menentukan kemajuan peradaban manusia. Dalam kegiatan pengajaran, unsur yang penting adalah bagaimana guru dapat merangsang dan mengarahkan siswa dalam belajar, yang pada gilirannya dapat mendorong siswa dalam pencapaian hasil belajar secara optimal. Mengajar dapat merangsang dan membimbing dengan berbagai pendekatan, dimana setiap pendekatan dapat mengarah pada pencapai tuain belajar yang berbeda. Tetapi apapun subyeknya mengajar pada hakekatnya adalah menolong siswa dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan sikap serta ide dan apresiasi yang mengarah pada perubahan tingkah laku dan pertumbuhan siswa. Berdasar dari uraian di atas tampaknya, masalah pendidikan yang banyak diragukan orang bisa diselesaikan dengan baik. Hal mana semua unsur yang berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar yang maksimal diperhatikan. Hanya saja kenyataan menunjukan, bahwa setiap kali evaluasi pengajaran dilakukan seringkali hasilnya tidak memuaskan, termasuk dalam pengajaran IPA-Biologi umumnya. Tentu saja banyak faktor yang berpengaruh, di antaranya adalah minat belajar siswa terhadap pelajaran yang dimaksud, pantas untuk dipertanyakan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Abu Ahmadi dkk, (1998) bahwa bilamana tidak ada minat seseorang terhadap suatu pelajaran, akan timbul kesulitan dalam belajarnya. Diposkan oleh skripsi di 17:54 http://ilmiah-pendidikan.blogspot.com/2011/04/studi-tentang-minat-siswa-terhadap-mata.html http://ilmiah-pendidikan.blogspot.com/search/label/Skripsi%20Pendidikan

http://duniaebook.net/efektifitas-pelaksanaan-layanan-bimbingan-kelompok-dalam#